9,229 research outputs found

    Ayat-ayat poligami dalam perspektif Husein Muhammad Dan Amina Wadud

    No full text
    Poligami merupakan problem yang saat ini masih menjadi perbincangan dari kalangan masyarakat, ulama klasik dan modern. Praktik poligami dikampenyekan lewat berbagai media sosial dan seminar. Seminar dilakukan oleh coach Hafidin dan rekan-rekannya dengan tarif yang cukup tinggi. Seiring berjalan waktu, banyak menimbulkan pendapat dikalangan umum ada yang setuju pada poligami dan tidak setuju pada poligami. Kondisi seperti ini, peneliti tertarik untuk menganalisis tentang ayat-ayat poligami perspektif Husein Muhammad dan Amina Wadud. Pada penelitian ini penulis mengambil tiga rumusan masalah, yaitu bagaimana Husein Muhammad dan Amina Wadud dalam memahami al-Qur’an surat al-Nisa> ayat 3 dan 129, bagaimana perbandingan pemikiran Husein Muhammad dan Amina Wadud tentang poligami dan bagaimana kontekstualisasi penafsiran ayat tentang poligami di masa kini. Penelitian ini bersifat kepustakaan (library research dan sumber data yang digunakan buku Husein Muhammad “Poligami: Sebuah Kajian Kritis Kontemporer Seorang Kiai dan buku Amina Wadud “Wanita di dalam Al-Qur’an” terj. Yaziar Radianti, sedangkan sumber sekunder diperoleh dari jurnal, buku dan penelitian yang berkaitan dengan penelitian ini. Hasil dari penelitian ini yaitu, pertama, Husein Muhammad dan Amina Wadud memahami al-Qur’an surat al-Nisa> ayat 3 dan 129 yaitu tentang ketidakadilan pengasuh anak yatim. Kedua, Husein Muhammad membolehkan poligami dengan persulit persyaratan, sedangkan Amina Wadud menolak poligami. Ketiga, Husein Muhammad dan Amina Wadud sependapat bahwa keadilan tidak dapat diwujudkan oleh laki-laki yang berpoligami. Keempat, Husein Muhammad berpendapat bahwa yang dimaksud keadilan yaitu materi dan mental-psikologis, sedangkan Amina Wadud keadilan materi dan immateri. Kelima, konteks poligami masa kini, dimana laki-laki yang ingin berpoligami atas dasar mengikuti sunah Nabi, akan tetapi ada maksud tertentu dalam hal tersebut, dimana berpoligami secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan istri. Hal ini berarti poligami bukan atas dasar mengikuti Nabi, tetapi untuk mengikuti hawa nafsu

    Pioneers of Library Movement in Pakistan

    No full text
    The paper aims to describe in brief the contribution of seven leaders of Pakistan librarianship, viz. K.B. Khalifa M. Asadullah, Prof. Dr. Abdul Moid, Dr. Abdus Subuh Qasimi, Muhammad Shafi, Fazal Elahi, Khawaja Nur Elahi and S. V. Hussain. The early library developments are given for better understanding of the role of these leaders

    METODE AMINA WADUD DALAM PENAFSIRAN ALQURAN

    No full text
    Amina Wadud dalam pengantar salah satu bukunya, “Qur’an Menurut Perempuan: Membaca Kembali Kitab Suci dengan Semangat Keadilan”, menyatakan bahwa bukan tentang teks al-Qur’an yang membatasi perempuan, melainkan penafsiran terhadap teks teks keagamaan itulah yang membatasinya yang dianggap lebih penting dari pada al-Qur’an sendiri. Amina juga mengungkapkan bahwa arti penting analisis tentang konsep al-Qur’an tentang perempuan, harus diukur dari perspektif al-Qur’an sendiri, baik sebagai kekuatan dalam sejarah, politik, bahasa, budaya, kecendekiawanan, dan spiritualitas, maupun sebagai kitab suci. Kajian tentang metode Amina Wadud Muhsin dalam memahami ayat-ayat al-Qur'an berupaya menafsirkan ulang berbagai ayat al-Qur’an yang selama ini cenderung ditafsirkan secara patriarkhis oleh para mufasir klasik, maka metode yang digunakan dalam penafsiran al-Qur’an menggunakan  pendekatan holistik

    KONSEP POLIGAMI DALAM PANDANGAN MUHAMMAD SYAHRUR DAN AMINA WADUD MUHSIN

    No full text
    Ada banyak macam jenis ikatan perkawinan. Yang paling banyak dijumpai adalah perkawinan monogami, yaitu perkawinan antara satu orang laki-laki dengan satu orang perempuan. Selain itu masih ada yang dinamakan poliandri dan poligami. Poliandri adalah perkawinan antara satu orang perempuan dengan beberapa orang laki-laki. Sebaliknya, poligami adalah perkawinan antara satu orang laki-laki dengan beberapa orang perempuan Dalam hukum Islam perkawinan monogami dan poliandri tidak menimbulkan kontroversi, Sedangkan poligami masih menjadi kontroversi sampai sekarang. Secara tekstual, dalam surat an-Nisa' ayat 3 memang diungkapkan kebolehan berpoligami dengan maksimal empat orang istri. Inilah yang kemudian banyak menjadi muljah bagi ulama'-ulama' yang membolehkan adanya poligami. Di lain pihak banyak juga ulama yang menentang adanya poligami dengan dasar kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan. Untuk membahas persoalan poligami ini, penelitian ini akan menghadirkan pemikiran dua orang tokoh yaitu Muhammad Syahrur dan Amina Wadud Muhsin. Meskipun kedua tokoh ini dianggap sebagai tokoh feminis, namun keduanya mempunyai tipe pemikiran yang berbeda. Menurut A. Khudori Soleh, pemikiran Syahrur bercorak postradisionalistik sedangkan pemikiran Amina Wadud bercorak reformistik Perbedaan tipe pemikiran antara dua tokoh ini akan menjadi hal yang menarik untuk dibahas, bagaimana pemikiran Syahrur yang menganjurkan poligami dan Amina Wadud yang menolak poligami. Penelitian ini merupakan library research yang menggunakan metode kualitatif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan normatif yaitu mengkaji hukum Islam sebagai aturan, baik yang terdapat dalam nas maupun yang telah menjadi produk pemikiran Penelitian ini juga memperhatikan aspek historis dan sosiologis dalam membaca pemikiran Syahrur dan Amina Wadud Dalam memperbandingkan pemikiran Syahrur dan Amina Wadud, penelitian ini akan mencari persamaan dan perbedaan dari pemikiran kedua tokoh ini, sekaligus mencari tahu sebab-sebab yang dominan dalam melahirkan perbedaan pemikiran. Hasil dari penelitian ini adalah Syahrur menganjurkan poligami, sedangkan Amina Wadud menolak. Perbedaan pemikiran ini disebabkan: pertama, perbedaan metode yang digunakan oleh Syahrur dan Amina Wadud. Dalam menafsirkan al-Quran, Syahrur menggunakan pendekatan linguistik semantik dengan pisau analisa paradigmo-sintagmatik yang dikenal dengan istilah "lingkaran hermeneutis" (hermeneutical spiral). Sedangkan Amina Wadud menganggap bahwa untuk memahami teks al-Quran harus melacak konteks historis dan sosiologisnya. Hermeneutika Syahrur digolongkan ke dalam paradigma hermeneutika teoretis-filosofis, sedangkan hermeneutika Amina Wadud masuk ke dalam paradigma hermeneutika filosofis. Kedua, kondisi sosio politis yang melatarbelakangi Syahrur dan Amina Wadud. Syahrur dihadapkan pada realitas masyarakat Islam kontemporer yang cenderung taqlid sehingga terjadi stagnasi pemikiran. Sedangkan Amina Wadud dihadapkan pada penilaian negatif oleh kaum laki-laki terhadap perempuan yang dianggap inferio

    The Concept of Nusyûz in Syekh Muhammad Mutawalli al-Sya´râwî and Amina Wadud Muhsin’s Thought

    No full text
    There are two things that will be studied in this undergraduate thesis, that is : 1). How is the concept of nusyûz from Syekh Muhammad Mutawalli al-Sya´râwî and Amina Wadud Muhsin. 2). What are the similarities and differences of their understanding on the nusyûz. The Purpose of this research is to know : 1). The concept of nusyûz from Syekh Muhammad Mutawalli al-Sya´râwî and Amina Wadud Muhsin. 2). The similarities and differences of their understanding on the nusyûz. In answering this research, researcher use qualitative methods (library research) with desciptive-analytical-comparative method in reading the data that have been obtained. The researcher raises the concept of nusyûz because it is one of the gender issues that is still being discussed as one of the causes of divorce that we know is very frequent, and it is important to know how the alquran actually talks about this nusyûz. As an intellectual must present facts from the thinking male and female interpreters about it. So, the researcher compares Syekh Muhammad Mutawalli al-Sya´râwî and Amina Wadud Muhsin. Representing from male interpreters who pay more attantion to women’s issues and from among the woman themselves who claimed to be a feminist. Based on the research that has been done, of course found the similarities and differences between al-Sya'râwî and Amina Wadud in interpreting this verse of nusyûz., there are some words that are the focus of this verse of nusyûz, firstly, both al-Sya'râwî and Amina Wadud gave the definition of nusyûz is disharmony in the household. Similarities and differences the interpretation of the two figures can also be seen from the resolution of the nusyûz, from both these interpreter acknowledge that the solution of nusyûz wife in the household there are three stages, firstly, advise, secondly, separating bed and the thirdly is being hit. Between al-Sya'râwî and Amina Wadud has a different opinion about these solution. Firstly, al-Sya'râwî interpret faidzûhunna by giving advice from husband to wife while Amina Wadud interpret with verbal solution (communication between husband and wife). Secondly, al-Sya'râwî interpreted wahjurûhunna fî al-madhâji'i not with original meaning which meant separating bed, but he interpreted only with his back to his wife while Amina did interpret it as separating bed. Thirdly, al-Sya'râwî interpreted wadhribûhunna by beating on condition not to bleed and cracking the bones and exemplifying the settlement of nusyûz wife from the story of the prophet Ayyub as, hit his wife with 100 grass in one tie with one blow soft, so awaken his wife. Then from Amina interpreted this waḍribûhunna as troublesome, on the other hand she cannot deny that the meaning of the origin of this word is indeed hit, but Amina said, this verse is not justification of men do violence but a prohibition to violence. The solution for nusyûz husband is peace. Here al-Sya’râwî indeed advocated so, because according to him someone who releases his rights to others with the willingness is more important than justice itself. While Amina refused this solution because, she considers the necessity of the wife to always receive the husband's treatment is the remains of a single marriage

    Poligami dalam perspektif pemikir modern: studi komparatif pemikiran Muhammad Syahrur dengan Pemikiran Amina Wadud Muhsin Dalam Q.S. An-Nisa Ayat 3 dan 129

    No full text
    Poligami merupakan masalah yang masih marak diperbincangkan dalam masyarakat, hal ini berdasarkan perbedaan penafsiran terhadap ayat poligami, sehingga terdapat perbedaan dalam menghasilkan konsep tentang poligami khususnya pada poin syarat istri kedua, ketiga dan keempat serta terkait dengan kebolehan berpoligami. Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah bagaimana konsep perkawinan poligami menurut Muhammad Syahrur dan Amina Wadud. Adapun tujuannya adalah untuk mengetahui konsep berpoligami menurut Muhammad Syahrur dan Amina Wadud. Penelitian ini ermasuk jenis penelitian kepustakaan (library research) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analistis. Dengan metode tersebut diharpkan dapat mendeskripsikan atau menguraikan unsur-unsur yang berkaitan dengan tema yang dimaksud. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa menurut Muhammad Syahrur, ada dua syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang ketika ingin melakukan poligami. Petama, istri kedua, ketiga dan keempat itu haruslah seorang janda yang memiliki anak yatim. Kedua, seseorang yang ingin melakukan poligami harus memiliki kekhawatiran tidak dapat berlaku adil kepada anak yatim. Sedangkan menurut Amina Wadud, pernikahan yang ideal menurut Islam adalah pernikahan monogami. Amina menolak alasanalasan yang biasa dilontarkan oleh para pelaku poligami yang jarang sekali membicarakan poligami dalam konteks perlakuan adil terhadap anak yatim. Maka dari itu, Amina menekankan persyaratan untuk melakukan poligami pada sisi keadilan terhadap anak yatim. Metode yang dipakai Syahrur yakni langsung mengacu pada al-Qur?an dengan menggunakan dua pendekatan yaitu lingustik semantik dan prafigmasintagmatik. Syahrur juga menggukan metode Nazariyyah al-hudud dalam memahami ayat-ayat hukum. Adapun Amina Wadud, secara umum menggunakan pendekatan linguistik hermeneutik dengan analisa filologi atau kontent analisis secara holistik. Amina menggunakan teori hermeneutik ganda dan pendekatan tematik dari Fazlur Rahman untuk menjelaskan ayat-ayat tentang perempuan. Amina juga menggunakan metode tafsir al-Qur?an bil al-Qur?an untuk menganalisa ayat-ayat yang memberikan petunjuk khusus bagi perempuan, baik yang disebutkan secara terpisah ataupun disebutkan bersamaan dengan laki-laki. Sehingga menetapkan bahwa salah satu syarat dibolehkan poligami adalah mampu berlaku adil kepada anak yatim

    The Complete Muhammad Ali

    No full text
    Including material and photographs not included in most of the 100 other books about the champion, Ishmael Reed's The Complete Muhammad Ali is more than just a biography-it is a fascinating portrait of the 20th century and the beginning of the 21st. An honest, balanced portrayal of Ali, the book includes voices that have been omitted from other books. It charts Ali's evolution from Black Nationalism to a universalism, but does not discount the Nation of Islam and Black Nationalism's important influence on his intellectual development. Filipino American author Emil Guillermo speaks about how "The Thrilla' In Manila" brought the Philippines into the 20th century. Fans of Muhammad Ali, boxing fans, and those interested in modern African American history and the Nation of Islam will be fascinated by this biography by an accomplished American author.Intro -- DEDICATION -- INTRODUCTION -- The Curious History of an Icon -- CHAPTER 1 -- CHAPTER 2 -- CHAPTER 3 -- CHAPTER 4 -- CHAPTER 5 -- CHAPTER 6 -- CHAPTER 7 -- Did the Secret Government Fear a U.S. Muslim/Overseas Muslim Alliance? -- CHAPTER 8 -- CHAPTER 9 -- The Break Between the Prophet and his Disciple -- CHAPTER 10 -- CHAPTER 11 -- CHAPTER 12 -- The GOAT (Greatest Of All Time): Ali or Louis? -- CHAPTER 13 -- The Nation of Islam, the Mob, Showdowns in Canada and Sonny Liston -- CHAPTER 14 -- CHAPTER 15 -- The Taunts: Marketing or Racism? -- CHAPTER 16 -- CHAPTER 17 -- CHAPTER 18 -- CHAPTER 19 -- Boxing and the Brain -- CHAPTER 20 -- Ali's Feet -- CHAPTER 21 -- Mr. Dick -- CHAPTER 22 -- CHAPTER 23 -- The Opening Ceremonies, November 2005 -- CHAPTER 24 -- December 2005, Las Vegas -- CHAPTER 25 -- CHAPTER 26 -- June 16, 2004 -- CHAPTER 27 -- CHAPTER 28 -- CHAPTER 29 -- Aix-en-Provence -- CHAPTER 30 -- Ali as a Black Nationalist -- San Francisco, January 2004 Black Liberation Book Fair -- CHAPTER 31 -- January 31, 2004 -- CHAPTER 32 -- October 2005, Chicago -- CHAPTER 33 -- Why Ali remained with Elijah instead of following Malcolm -- CHAPTER 34 -- CHAPTER 35 -- February 4, 2006, Oakland, California -- CHAPTER 36 -- Like Zeus Descending from Mount Olympus -- CHAPTER 37 -- CHAPTER 38 -- Tuesday, February 28, 2006, New York -- CHAPTER 39 -- Bigger Than Boxing -- CHAPTER 40 -- Tribes Gallery, New York, April 2006 -- CHAPTER 41 -- June 2006, Louisville, Kentucky -- CHAPTER 42 -- CHAPTER 43 -- CHAPTER 45 -- Bad Company -- CHAPTER 46 -- Coxson, A Very Charming Rogue -- CHAPTER 47 -- Ali and the largest embezzlement scheme in Wells Fargo history -- CHAPTER 48 -- CHAPTER 49 -- "Lonnie is a stabilizing force."-Harry Belafonte -- October 29, 2006 -- CHAPTER 50 -- Abdul Rahman -- CHAPTER 51 -- CHAPTER 52 -- CHAPTER 53How Will Ali Be Remembered? New York, January 8, 2005 -- CHAPTER 54 -- CONCLUSION -- AFTERWORD -- Boxers' Rights? -- BIBLIOGRAPHY -- MUHAMMAD ALI -- ISLAM AND NATION OF ISLAM -- BOXING -- RELATED SUBJECTS -- ALSO AVAILABLE FROM BARAKA BOOKSIncluding material and photographs not included in most of the 100 other books about the champion, Ishmael Reed's The Complete Muhammad Ali is more than just a biography-it is a fascinating portrait of the 20th century and the beginning of the 21st. An honest, balanced portrayal of Ali, the book includes voices that have been omitted from other books. It charts Ali's evolution from Black Nationalism to a universalism, but does not discount the Nation of Islam and Black Nationalism's important influence on his intellectual development. Filipino American author Emil Guillermo speaks about how "The Thrilla' In Manila" brought the Philippines into the 20th century. Fans of Muhammad Ali, boxing fans, and those interested in modern African American history and the Nation of Islam will be fascinated by this biography by an accomplished American author.Description based on publisher supplied metadata and other sources.Electronic reproduction. Ann Arbor, Michigan : ProQuest Ebook Central, YYYY. Available via World Wide Web. Access may be limited to ProQuest Ebook Central affiliated libraries

    Konsep Adil dalam Poligami Perspektif Muhammad Quraish Shihab dan Amina Wadud

    No full text
    This article aims to analyze the differences and similarities between Muhammad Quraih Shihab and Aminah Wadud in terms of fair application in polygamy, namely M. Quraish Shibab, argues that polygamy is neither a recommendation nor an obligation to practice polygamy, but an alternative to resolve family problems. Meanwhile, Amina Wadud's opinion about polygamy is not allowed because the reasons that have been believed so far have never been found in the Qur'an. Thus, an important point that can be drawn from Amina Wadud's thinking is an attempt to dismantle old thoughts and old myths built by patriarchal culture. This research is a library research (Library Research). The approach used is descriptive-comparative. Techniques in analyzing data deductively, namely the pattern of studies discussed and studied are general-specific

    Konsistensi Amina Wadud dalam Menafsirkan Ayat Kesetaraan Gender

    No full text
    Amina Wadud dapat dikatakan sebagai penafsir yang mengundang perhatian zaman sekarang, tafsir-tafsirnya kebanyakan menyorot masalah keadilan dan subordinasi perempuan dalam ruang publik maupun privat. Namun dari sekian banyaknya penafsiran Amina Wadud ditemukan beberapa inkonsistensi. Skripsi ini bertujuan untuk mengungkap tentang: 1) Penafsiran Al-Qur’an menurut Amina Wadud pada ayat-ayat relasi laki-laki dan perempuan, 2) Inkonsistensi penafsiran bercorak feminis terhadap Al-Qur’an. Penelitian ini adalah penelitian pustaka. Dalam mengumpulkan bahan dari sejumlah literatur, peneliti menggunakan teknik pengumpulan dari buku-buku karangan Amina Wadud yang berkaitan dengan feminisme. Analisis data menggunakan analisis isi (conten analisis) dan komparasi dengan pendapat ulama yang lain. Hasil temuan dari penelitian ini yaitu: pertama, penafsiran Amina Wadud terhadap ayat-ayat feminis beserta argumentasinya berkaitan dengan Sûrah alBaqarah ayat 228 mengenai perceraian, ayat 231 mengenai hak talak ditemukan ketidakkonsistenan. Kedua, Inkonsistensi Amina Wadud terlihat dari metode yang dia gunakan sendiri, misalnya dalam menafsirkan Sûrah al-Baqarah ayat 228 Amina Wadud menekankan kata darajah itu harus ada campur tangan hakim atau lembaga yang berwenang, dan menyatakan bahwa sebelum ayat darajat tersebut ada penyelesaian masalah dengan cara yang baik (ma’ruf). Pandangannya dalam hal ini, masih dirasakan keadilan yang di yakini oleh Amina Wadud. Akan tetapi, Amina Wadud hanya mengistimewakan tema-tema tertentu dan menyembunyikan aspek-aspek lain dalam Al-Qur’an. Ini adalah salah satu bentuk inkonsistensi dalam penafsiran Amina Wadud

    PENDEKATAN HERMENEUTIKA TERHADAP GERAKAN GENDER (INTERPRETASI AMINA WADUD)

    No full text
    Inequality regarding gender bias is a rather complicated problem. This happens because the problem is a product of the social construction of a patriarchal society. Worse yet, this is supported by the interpretation of the Qur'an which in fact is only done by men. This has an impact on interpretations that are gender biased, without glancing at the perceptions, goals, and characteristics of women. This problem initiated Amina Wadud to reconstruct the interpretation of the Koran so that there would be a product of interpretation that was female in style and seemed fair or equal. In interpreting the Qur'an, Amina Wadud uses the hermeneutic approach offered by Fazlur Rahman. So Amina Wadud views that the origins and potentials of men and women are the same regardless of gender differences. The purpose of this study is to find out what Amina Wadud's view of the creation of man and the Koran's view of women are like. The research method that the author uses is qualitative research with a library research approach that is relevant to the object of discussion. Data collection technique in this research is documentation technique. Documentation technique is data collection by selecting data that correlates with the research title
    corecore