198 research outputs found

    KONTRIBUSI PEMIKIRAN QASIM AMIN DALAM PEMBARUAN HUKUM KELUARGA ISLAM

    No full text
    This paper attempts to discuss two things. First, the history of family law reform in the Muslim world. Second, Qasim Amin thoughtful contributions to the process of family law reform happening in the Muslim world. The process of family law reform in the Muslim world is not born out naturally. The reform was born due to the fact that the conventional family law is not in accordance with the challenges of the times. The fundamental purpose of Islamic family law reform is to raise the status of women. Even so, the contribution of Qasim Amin in the process of family law reform happening in the Muslim world can be traced from his idea of social reform project (al-Is}la>h} al-ijtima>i). For Amin, the process of social reform would only be successful if there is a family law has been updated and brought in line with the demands of the times. The ideas of family law reform, primarily on three crucial themes, marriage, polygamy, and divorce, have been said in Amin’s first work, Tah}ri>r al-mar’ah (1899). [Tulisan ini mencoba mendiskusikan dua hal. Pertama, sejarah pembaruan hukum keluarga di dunia Muslim. Kedua, kontribusi pemikiran Qasim Amin terhadap proses pembaruan hukum keluarga yang terjadi di dunia Muslim. Proses pembaruan hukum keluarga di dunia Muslim tidak lahir dari ruang kosong. Pembaruan tersebut lahir atas adanya kenyataan bahwa hukum keluarga konvensional sudah tidak sesuai dengan tantangan zaman. Sedang tujuan fundamental dari pembaruan hukum keluarga Islam adalah untuk mengangkat status perempuan. Pun demikian, kontribusi Qasim Amin dalam proses pembaruan hukum keluarga yang terjadi di dunia Muslim bisa dilacak dari proyek reformasi sosial (al-Is}la>h} al-Ijtima>’i) yang beliau gagas. Bagi Amin, proses reformasi sosial hanya akan berhasil jika hukum keluarga yang ada sudah diperbarui dan diselaraskan dengan tuntutan zaman. Ide-ide pembaruan dalam hukum keluarga, utamanya terhadap tiga tema krusial, perkawinan, poligami, dan perceraian, sudah Amin cetuskan dalam karya pertamanya, Tah}ri>r al-Mar‘ah (1899).

    RANCANG BANGUN SISTEM KENDALI MOTOR ALAT PERAJANG REBUNG OTOMATIS BERBASIS ARDUINO UNO

    No full text
    ”RANCANG BANGUN SISTEM KENDALI MOTOR ALAT PERAJANG REBUNG OTOMATIS BERBASIS ARDUINO UNO” (Syaiful Amin 1652005 Teknik Listrik DIII) (Dosen pembimbing 1 : Ir. Eko Nurcahyo, MT) (Dosen pembimbing 2 : Ir. Taufik Hidayat, MT) Program Studi Teknik Listrik DIII Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Nasional Malang ABSTRAK Rebung merupakan salah satu makanan ciri khas masyarakat indonesia, banyak manfaat serta nutrisi yang terkandung didalamnya, dan tentunya sangat baik bagi kesehatan tubuh. Saat ini banyak wirausahawan yang memanfaatkan rebung sebagai produk olahan utamannya. Salah satu makanan tersebut ialah lumpia, namun dalam proses perajangan rebung tersebut masih menggunakan cara yang manual (konvensional). Sehingga dalam proses produksinya membutuhkan waktu yang lama, tidak efektif serta kualitas yang kurang baik. Oleh sebab itu muncullah suatu ide untuk membuat suatu alat perajang rebung otomatis. Alat tersebut menggunakan Arduino Uno sebagai sistem kontrol utamanya. motor listrik induksi 3 fasa digunakan sebagai prime mover mata pisau perajangan dan untuk kendalinya menggunakan VFD (Variable Frequency Drive). Untuk sistem pressingnya menggunakan pegas serta untuk buka tutup tabung pressingnya menggunakan motor servo, dan buzzer sebagai media pantaunya. Pengujian yang dilakukan yakni dengan menggunakan VFD untuk mengatur kecepatan putar dari motor listik tersebut. Hasil pengujian yang telah dilakukan menunjukkan bahwasanya pada frekuensi 20 Hz yang bekerja pada kecepatan 175 Rpm menghasilkan rajangan sepanjang 3 cm serta memerlukan waktu selama 2 menit 54 detik. Pada frekuensi 35 Hz yang bekerja pada kecepatan 221 Rpm menghasilkan rajangan sepanjang 2 cm dengan waktu 1 menit 53 detik. Sedangkan pada frekuensi 50 Hz yang bekerja pada kecepatan 260 Rpm menghasilkan rajangan sepanjang 1 cm serta memerlukan waktu selama 1 menit 5 detik. Tentunya hasil perajangan dengan menggunakan alat tersebut lebih efisien serta produktivitas yang dihasilkan sangat baik. Kata Kunci : Rebung, Arduino UNO, VFD (Variable Frequency Drive), Motor Listrik Induksi 3 Fasa, Motor Servo, Buzze

    PEMIKIRAN QASIM AMIN TENTANG PEREMPUAN DAN RELEVANSINYA TERHADAP PERAN ISTERI DALAM KELUARGA

    No full text
    Sudah menjadi fakta sejarah bahwa penindasan terhadap perempuan memang banyak terjadi. Penindasan yang dilakukan dengan cara memarginalisasi dan mengsubordinasi perempuan memang banyak ditemukan. Pembagian yang tidak seimbang dalam peran adalah salah satu contoh dari penindasan tersebut. Adalah Qasim Amin, seorang pemikir Mesir merupakan salah satu tokoh feminis terkemuka di dunia Arab yang menyuarakan pembebasan terhadap perempuan dari belenggu budaya patriarkhi yang berkembang. Dengan teori reformasi sosial (al-Is}la>h} al-Ijtima’i) yang digagasnya, Amin berupaya mereformasi posisi perempuan dalam struktur sosial kemasyarakatan. Bagi Amin, reformasi sosial terhadap perempuan hanya bisa dilakukan dengan cara memberi ruang yang sama kepada perempuan untuk mengenyam pendidikan. Selain itu, menyempurnakan aturaaturan yang ada dalam wilayah keluarga juga menjadi sesuatu yang wajib dilakukan. Karena, dari wilayah keluargalah praktek penindasan terhadap perempuan banyak terjadi. Amin menginginkan posisi perempuan dalam wilayah keluarga bisa setara dengan laki-laki. Hubungan antara keduanya bersifat mitra-sejajar. Dalam penelitian ini penulis menfokuskan pada penelitian pustaka (library reseach) terutama terhadap karya Qasim Amin. Dalam mengulas pemikirannya, penulis menyajikan secara deskriptif-analitis terutama mengenai pemikiran Qasim Amin tentang perempuan tanpa mengurangi apa yang dimaksud oleh beliau. Untuk memudahkan dalam penelitian ini, penulis menggunakan pendekatan normatif dan gender. Pendekatan ini digunakan untuk melihat ide Qasim Amin tentang perempuan dilihat dari ajaran normatif (ideal) Islam dan atas dasar pendekatan gender. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Qasim Amin tentang perempuan lebih mengarah pada paham kesetaraan gender. Amin menyatakan bahwa antara laki-laki dan perempuan diciptakan dengan hak dan kewajiban yang sama. Tidak ada klaim superioritas bagi laki-laki dan inferioritas bagi perempuan. Dengan demikian, realitas yang banyak terjadi di kalangan masyarakat, utamanya masyarakat patriarkhi, bagi Amin harus dirubah. Ketimpangan harus diganti dengan kesetaraan. Pun demikian, pembebasan yang diingankan Amin bukannya pembebasan tanpa batas, melainkan pembebasan yang masih berada dalam bingkai agama dan syari’a

    Manajemen Pengelolaan Keuangan Dalam Meningkatkan Mutu Pelayanan Di Masjid Al-Amin Desa Bandar Setia Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang

    No full text
    Masjid Al-Amin Kabupaten Deli Serdang Kecamatan Percut Sei Tuan Desa Bandar Setia merupakan masjid yang sangat banyak peminatnya di Desa Bandar Setia. Masjid ini memiliki kas sebesar Rp.138.321.987 pada bulan maret 2019. Dengan jumlah kas yang besar Masjid Al-Amin Kabupaten Deli Serdang Kecamatan Percut Sei Tuan Desa Bandar Setia sangat membutuhkan pembukuan yang baik dan transparan keuangan kepada masyarakat serta alokasi keuangan yang tepat sesuai kebutuhan masjid. Akan tetapi pelayanan yang ada di Masjid Al-Amin Kabupaten Deli Serdang Kecamatan Percut Sei Tuan Desa Bandar Setia saat ini dinilai sebagian jamaah masih kurang mendukung terpenuhinya pelayanan yang baik. ii Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian kualitatif deskriptif adalah menggunakan metode observasi, interview atau wawancara dan dokumentasi Masjid Al-Amin Kabupaten Deli Serdang Kecamatan Percut Sei Tuan Desa Bandar Setia. Sedangkan subyek penelitian ini adalah Ketua Umum Masjid AlAmin, Ta’mir Masjid Al-Amin dan jamaah Masjid Al-Amin. Hasil dari penelitian ini adalah Masjid Al-Amin Kecamatan Percut Sei Tuan Desa Bandar Setia telah melaksanakan pengelolaan keuangan dengan baik. Indikator penilaian ini adalah terpenuhinya sumber dana dan alokasi pembelanjaan keuangan di Masjid Al-Amin telah terpenuhi berupa pembangunan fisik Masjid, kegiatan-kegiatan ibadah harian, pendidikan dan juga kegiatan sosial di Masjid Al-Amin

    EPISTEMOLOGI ISLAM: STUDI KOMPARATIF ISLAMISASI ILMU ISMAIL RAJI AL-FARUQI DAN INTEGRASI-INTERKONEKSI M. AMIN ABDULLAH

    No full text
    Dikotomi keilmuan modern dan keilmuan Islam merupakan pembahasan yang belum usai diperbincangkan di kalangan intelektual muslim. Beberapa pemikir muslim seperti Ismail Raji al-Faruqi dan M. Amin Abdullah merespons dan berupaya menyelesaikan problem keilmuan yang dikotomis ini. Paradigma integrasi-interkoneksi yang ditawarkan Amin Abdullah mengandaikan terbukanya dialog antara ilmu-ilmu modern dan ilmu-ilmu Islam sehingga peluang dikotomi keilmuan tertutup rapat. Begitu juga Ismail Raji al-Faruqi yang mengupayakan penyatuan ilmu-ilmu modern dan ilmu-ilmu keislaman. Lalu, bagaimana struktur pemikiran Ismail Raji al-Faruqi tentang Islamisasi ilmu? Bagaimana struktur pemikiran Amin Abdullah tentang Integrasi-Interkoneksi? Dan bagaimana persamaan dan perbedaan antara pemikiran Amin Abdullah dan Ismail Raji alFaruqi? Penelitian ini adalah jenis penelitian pustaka. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan epistemologi. Ada dua sumber dalam penelitian ini; sumber primer diperoleh dari karya-karya Ismail Raji al-Faruqi dan M. Amin Abdullah. Sedangkan sumber sekunder diambil dari data pustaka yang berkaitan dengan objek material maupun formal dalam kajian ini. Adapun metode yang digunakan dalam analisis data ini adalah deskriptif, analitik, komparatif. Hasil penelitian ini menunjukkan ada persamaan dan perbedaan antara spirit pemikiran Ismail Raji al-Faruqi dan Amin Abdullah. Keduanya sama-sama memiliki spirit pemikiran dalam menjawab dikotomi keilmuan. Namun keduanya berbeda dalam penekanan yang harus dilakukan. Ismail Raji al-Faruqi dengan gagasan islamisasi ilmunya menekankan penguasaan terhadap keilmuan modern untuk kemudian diislamisasikan. Sedangkan Amin Abdullah dengan gagasan integrasi-interkoneksi menekankan penguasaan terhadap keilmuan umum (modern) dan keilmuan Islam. Sehingga masing-masing rumpun keilmuan sadar akan keterbatasan dan kekurangan yang dimiliki, untuk kemudian saling mengisi dan melengkapi satu sama lain

    WACANA PEMBEBASAN PEREMPUAN; Studi Kritis Pemikiran Qasim Amin dan Jamal al-Banna

    No full text
    Women\u27s liberation movement (feminism) rose up when the practice of marginalization and subordination occurs. They were Qasim Amin and Jamal al-Banna, the two Muslim feminist from different generations, who tried to decipher the discourse of liberation against women. This paper concerns to discuss the idea of the two figures. To analyze this problem, the authors conducted a literature study to assess the work of both of which relate to the problems of women, Tahrir al-Mar‘ah by Qasim Amin and Al-Mar‘ah al-Muslimah bayna Tahrir Al-Qur’an wa Taqyid al-Fuqaha’ by Jamal al-Banna. These studies lead to the conclusion that the discourse of women\u27s liberation initiated by Amin and Jamal cannot be separated from the paradigm of feminism owned by each figure. Both Amin and Jamal stated that the practice of marginalization and subordination of women is not from the nature of religion, but it was from the culture and misunderstanding on religious teachings.Â

    Integrasi Agama dan Sains: Dari Tokoh Pembaharuan M. Amin Abdullah

    No full text
    Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui integrasi agama dan sains dalam sudut pandang M. Amin Abdullah. Metode penelitian yang penulis lakukan ialah penelitian kualitatif dengan pendekatan library research (studi pustaka). Sumber data berasal dari buku dan jurnal ilmiah yang membahas tentang integrasi agama dan sains dalam sudut pandang M. Amin Abdullah. Berdasarkan hasil kesimpulan bahwa pemikirannya memberikan kontribusi signifikan dalam menghapus dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Melalui konsep "interkoneksi keilmuan", ia menekankan pentingnya pendekatan multidisipliner dan transdisipliner dalam membangun pemahaman ilmu yang lebih komprehensif. Konsep ini tidak hanya berorientasi pada aspek rasional dan empiris, tetapi juga memperhitungkan dimensi etika dan spiritual. Implementasi gagasan integrasi agama dan sains telah diterapkan dalam sistem pendidikan tinggi Islam di Indonesia, khususnya dalam pengembangan kurikulum dan metode pembelajaran yang lebih interdisipliner. Namun, penerapan konsep ini masih menghadapi berbagai tantangan, seperti paradigma dikotomis yang masih kuat, resistensi terhadap perubahan, serta keterbatasan metodologi dan sumber daya. Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan strategi yang mencakup penguatan kurikulum berbasis integrasi, peningkatan kapasitas dosen, kolaborasi antar lembaga pendidikan, serta pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Secara keseluruhan, pemikiran M. Amin Abdullah mengenai integrasi agama dan sains memiliki dampak luas dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan masyarakat. Dengan menerapkan pendekatan ini, diharapkan dapat tercipta sistem pendidikan yang lebih holistik, inklusif, dan berorientasi pada kemajuan peradaban yang berlandaskan nilai-nilai keislaman. Meskipun masih menghadapi tantangan, konsep ini memberikan arah baru bagi perkembangan ilmu yang lebih harmonis antara aspek spiritual dan rasional, sehingga mampu menjawab tantangan globalisasi dan modernisasi secara lebih bijaksana

    KEBIJAKAN BELT AND ROAD INITIATIVE (BRI) TIONGKOK PADA MASA PEMERINTAHAN XI JINPING. AUTHOR: Syaiful Anam, Ristiyani Ristiyani

    No full text
    KEBIJAKAN BELT AND ROAD INITIATIVE (BRI) TIONGKOK PADA MASA PEMERINTAHAN XI JINPING Syaiful Anam, Ristiyani Ristiyan

    Karakteristik Majelis Taklim Dhiya’ul Amin Desa Pamangkih, Kecamatan Labuan Amas Utarakabupaten Hulu Sungai Tengah

    No full text
    Penelitian ini dilandasi pemikiran bahwa masyarakat Labuan Amas Utara yang dikenal sebagai lingkungan masyarakat yang kental akan nilai-nilai religiusnya, hal ini terbukti dengan banyak dilaksanakannya majelis taklim sebagai wadah menimba ilmu dan ajang silaturahmi masyarakat secara rutin. meski masyarakat disibukkan dengan kebun dan usaha lainnya akan tetapi mereka masih gemar meluangkan waktu untuk mengikuti majelis taklim atau pengajian di masjid terdekat. Kegemaran masyarakat ke majelis taklim tersebut tentu saja tidak lepas dari peran guru-guru agama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik majelis taklim Dhiya’ul Amin Desa Pamangkih Kecamatan Labuan Amas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang meliputi pengajar, materi, metode dan jemaah. Skripsi ini menggunakan penelitian kualitatif, dengan jenis penelitian lapangan. Objek penelitian ini adalah karakteristik majelis taklim Dhiya’ul Amin Desa Pamangkih, Kecamatan Labuan Amas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah yang meliputi pengajar, materi, metode dan jemaah. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah pengajar, pengurus serta jemaah majelis taklim Dhiya’ul Amin Desa Pamangkih, Kecamatan Labuan Amas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu, wawancara, dokumentasi dan observasi. Untuk analisis data penulis menggunakan analisis kualitatif dengan mendeskripsikan kejadian yang sesungguhnya dalam bentuk kalimat kemudian diambil kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik majelis taklim Dhiya’ul Amin Desa Pamangkih Kecamatan Labuan Amas Utara Kabupaten Hulu Sungai Tengah antara lain, dari segi pengajar memang hanya berfokus pada sosok K.H. Ahmad Junaidi, akan tetapi dibeberapa kesempatan juga sering mengundang guru atau ulama yang ada di sekitar Hulu Sungai Tengah atau bahkan di luar pulau. Materi yang sering disampaikan mulai dari masalah ibadah sehari-hari, fiqih, tauhid, akhlak, dan sampai dengan masalah kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan yaitu metode ceramah, halaqah, mudzakarah dan metode campuran, akan tetapi yang sering di pakai adalah metode ceramah. Jemaah yang hadir berkisar di angka 1000 orang yang terdiri dari berbagai usia dan datang dari berbagai desa, bahkan ada juga yang berasal dari luar kecamatan dan luar kot

    Etika Tasawuf Guru: Studi Pemikiran Imam al-Ghazali dan Syekh Muhammad Amin al-Kurdi

    No full text
    This study aims: (1) to identify how the ethics of teacher Sufism according to Imam al-Ghazali and Sheikh Muhammad Amin al-Kurdi; and (2) To find out how the teacher's Sufism ethical thinking compared between the two. This research method includes the type of library research. The main data sources are the book Ihya 'Ulumiddin, Ayyuhal Walad by Imam al-Ghazali, and the book Tanwirul Qulub by Sheikh Muhammad Amin al-Kurdi. The analysis uses content analysis and comparison methods. As a result, the ethics of teachers from the Sufism perspective according to Imam al-Ghazali and Sheikh Muhammad Amin al-Kurdi are in the form of ethical-religious so that the ethics of teachers are more directed at the Sufism behavior of a mursyid to his students. Second, the similarity of the teacher’ ethic based on Sufism perspective according to Imam al-Ghazali and Sheikh Muhammad Amin al-Kurdi is that the teacher must be care to their students and know their students’ intellectual competence. The difference, Imam al-Ghazali recommends that the teachers guide their students to be real human through an exemplary approach. Meanwhile, Sheikh Muhammad Amin al-Kurdi also emphasized compassion in interacting with students, but in internalizing values it ​​uses a verbal approach, namely giving advice. &nbsp
    corecore