363 research outputs found
Pioneers of Library Movement in Pakistan
The paper aims to describe in brief the contribution of seven leaders of Pakistan librarianship, viz. K.B. Khalifa M. Asadullah, Prof. Dr. Abdul Moid, Dr. Abdus Subuh Qasimi, Muhammad Shafi, Fazal Elahi, Khawaja Nur Elahi and S. V. Hussain. The early library developments are given for better understanding of the role of these leaders
Metode Syarah hadis dalam Kitab Adabul 'Alim Wal Muta'allim karya KH. Muhammad Hasyim Asy'ari
Salah satu kitab karya KH. Muhammad Hasyim Asy'ari yang sangat terkenal adalah kitab "Adabul Alim Wal Muta'allim". Kitab ini sangat populer dan sering dikaji di berbagai pesantren di seluruh Nusantara, zkarena isinya yang mendalam tentang adab dan etika antara guru dan murid dalam proses belajar mengajar. Latar belakang dari penelitian ini adalah adanya penggunaan syarah hadis dalam kitab "Adabul Alim Wal Muta'allim", yang menarik untuk diteliti lebih lanjut guna memahami metode dan pendekatan yang digunakan oleh penulis dalam menjelaskan hadis-hadis tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui secara mendalam metodologi syarah hadis dalam kitab "Adabul Alim Wal Muta'allim", baik dari segi sistematika penulisan kitab maupun metode syarah hadis yang diterapkan oleh KH. Muhammad Hasyim Asy'ari. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan ilmu hadis menggunakan metode deskriptif analitik, yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis metode syarah hadis secara komprehensif. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah kitab "Adabul Alim Wal Muta'allim" karya KH. Muhammad Hasyim Asy'ari, yang menjadi fokus utama analisis. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan sumber data sekunder, yang meliputi literatur-literatur pendukung seperti buku-buku tentang ilmu hadis, karya-karya keilmuan umum, serta berbagai karya tulis ilmiah termasuk skripsi, tesis, disertasi, dan artikel jurnal yang relevan dengan topik penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi kepustakaan, yang memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan dan mengkaji berbagai sumber secara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam mensyarah hadis, KH. Muhammad Hasyim Asy'ari menggunakan metode syarah ijmali, yaitu metode penjelasan hadis secara singkat dan global tanpa uraian yang panjang lebar. Metode ini diterapkan dengan tujuan agar penjelasan hadis mudah dipahami oleh berbagai kalangan, baik masyarakat awam maupun intelektual. Eksistensi hadis dalam kitab "Adabul Alim Wal Muta'allim" sebagian besar merupakan terjemahan dari hadis-hadis tanpa penjelasan yang terlalu mendalam, sehingga memudahkan pembaca untuk memahami makna inti dari hadis tersebut. Hal ini menunjukkan keahlian KH. Muhammad Hasyim Asy'ari dalam menyampaikan ilmu dengan cara yang sederhana namun tetap kaya akan makna
Tafsir sufistik tentang Nur Muhammad : studi hermeneutis terhadap penafsiran Ibnu ‘Arabi
Pembahasan Nur Muhammad telah ada sejak abad kedua Hijriyah. Tidak hanya oleh madzhab keagamaan tertentu dan para sufi, tetapi juga para mufassir. Hal ini tidak terlepas dari tafsir sufistik yang pada saat itu mulai bermunculan, karena melihat pentingnya sisi esoterik dan eksoterik dalam penafsiran al-Qur’an, sehingga hasilnya dapat menyentul wilayah hakikat sekaligus syariah. Ibnu ‘Arabi sebagai sufi sekaligus mufassir, mampu menghasilkan penafsiran tentang Nur Muhammad secara komprehensif.
Penelitian ini secara spesifik akan menjawab rumusan masalah yang penulis kemukakan, di antaranya: Bagaimana penafsiran Ibnu ‘Arabi tentang Nur Muhammad dalam Tafsirnya? Dan Bagaimana implementasi penafsiran Ibnu ‘Arabi tentang Nur Muhammad dalam konteks kekinian? Oleh karena itu, penulis menggunakan content analisis sebagai metode penelitian, serta alat bantu analisis berupa hermeneutika untuk menjawab kontekstualisasi penafsiran Ibnu ‘Arabi tentang Nur Muhammad dalam konteks kekinian.
Adapun hasil penelitiannya adalah sebagai berikut: Pertama, Ibnu ‘Arabi berpendapat bahwa kata nūr di dalam al-Qur’an ada beberapa pengertian, yaitu pemberi hidayah, pemberi cahaya, penghias, yang dzahir atau tampak jelas, pemilik cahaya, dan cahaya tetapi bukan cahaya yang biasa dikenal. Di samping itu, ada pengertian lain menurut Ibnu ‘Arabi bahwa nūr di dalam al-Qur’an dalam ayat-ayat tertentu dengan istilah Nur Muhammad. Ibnu ‘Arabi juga menyebut Nur Muhammad dengan istilah rūh al-‘alam. Menurut Ibnu ‘Arabi, konsep Nur Muhammad merupakan tajalli (penampakan) Allah yang menjelma dalam Nur Muhammad, dan dari sanalah awal mula segala penciptaan di dalam semesta.
Penafsiran Ibnu ‘Arabi tentang Nur Muhammad dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya faktor historis, sosiologis, dan filosofis. Dari sisi historis, Ibnu ‘Arabi dipengaruhi oleh para guru sufinya serta ilham yang beliau dapatkan dari mimpi-mimpinya. Dari sisi sosiologis, karena Ibnu ‘Arabi ingin memadukan penafsiran secara esoterik dan eksoterik, sehingga mampu menjawab problem sosial yang terjadi di dalam masyarakat. Dari sisi filosofis, Ibnu ‘Arabi ingin memadukan trilogi ajaran Islam, yakni iman, Islam, dan ihsan. Sebab menurutnya, tasawuf tidak hanya ada di dalam al-Qur’an, tetapi seluruh ayat al-Qur’an mengandung tasawuf, aqidah, dan sekaligus syari’ah.
Kedua, dalam konteks kekinian seharusnya Nur Muhammad juga memiliki andil penting dalam kehidupan, tidak hanya menjadi pemikiran yang hanya terbukukan dalam tumpukan sejarah. Setiap manusia perlu melakukan segala daya dan upaya untuk mengimplementasikan makna Nur Muhammad, yaitu menjadi Insan Kamil, dalam pengertian yang sebaik-baiknya. Bagi orang yang menempuh jalan sufi, mereka dapat mengikuti jalan tarekat (thariqah). Tarekat diartikan sebagai sebuah metode, cara, atau jalan yang ditempuh sufi menuju pencapaian spiritual tertinggi, pensucian diri, pensucian jiwa, dalam bentuk dzikir kepada Allah. Sedangkan bagi manusia secara umum, yang harus dilakukan untuk memaksimalkan potensi Nur Muhammad adalah dengan menyembah Allah dengan sebenar-benarnya serta tidak berbuat syirik. Setiap manusia harus mampu mengontrol diri untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Sebab, menyembah atau sujud kepada Allah juga harus dibarengi dengan perbuatan yang adil dan ihsan. Hal ini berkaitan erat dengan kehidupan sosial bermasyarakat, baik itu dalam hal ekonomi, politik, dan lain sebagainya. Setiap hamba harus mengontrol diri untuk tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang menimbulkan kerugian bagi sesamanya.
ABSTRACT:
Nur Muhammad's discussion has been around since the second century Hijriyah. Not only by certain religious madzhab and Sufis, but also interpretators. This is inseparable from the sufistic interpretation that at that time began to emerge, because it saw the importance of esoteric and exotic sides in the interpretation of the Qur'an, so that the results can reflect the area of nature as well as sharia. Ibn 'Arabi as a Sufi as well as interpretator, was able to produce a comprehensive interpretation of Nur Muhammad.
This research will specifically answer the formulation of problems that the author put forward, including: How is ibn 'Arabi's interpretation of Nur Muhammad in his interpretary? And how is the implementation of Ibn 'Arabi's interpretation of Nur Muhammad in the current context? Therefore, the author uses analytical content as a research method, as well as analytical tools in the form of hermeneutics to answer the contextualization of Ibn 'Arabi's interpretation of Nur Muhammad in the current context.
The results of his research are as follows: First, Ibn 'Arabi argued that the word nūr in the Qur'an there are several meanings, namely the giver of guidance, light giver, decorator, who dzahir or clearly visible, the owner of light, and light but not the light commonly known. In addition, there is another sense according to Ibn 'Arabi that nūr in the Qur'anin certain verses with the term Nur Muhammad. Ibn 'Arabi also mentions Nur Muhammad with the term rūh al-'alam. According to Ibn 'Arabi, the concept of Nur Muhammad is the tajalli (appearance) of God incarnated in Nur Muhammad, and from there the beginning of all creation in the universe.
Ibn 'Arabi's interpretation of Nur Muhammad was influenced by several factors, including historical, sociological, and philosophical factors. Historically, Ibn 'Arabi was influenced by his Sufi teachers and the inspiration he got from his dreams. From the sociological side, because Ibn 'Arabi wanted to combine esoteric and exotic interpretations, so as to be able to answer social problems that occurred in society. Philosophically, Ibn 'Arabi wanted to combine a trilogy of Islamic teachings, namely faith, Islam, and ihsan. For according to him, Sufism is not only in the Qur'an, but all verses of the Qur'an contain Sufism, aqidah, and at the same time shari'ah.
Second, in the current context Nur Muhammad should also have an important role in life, not only be a thoughtthat is onlyburiedin the pileof history. Every human being needs to do all the power and effort to implement the meaning of Nur Muhammad, namely to be Insan Kamil, in the best sense possible. For people who follow the Sufi path, they can follow the path of order(thariqah). Tarekat is defined as a method, way, or path taken by Sufis to the highest spiritual achievement, self-purification, sanctification of the soul, in the form of dzikr to God. While bagi man in general, what must be done to maximize the potential of Nur Muhammad is to worship God in real time and notto associate. Every human being must be able to control himself not to do corruption in the earth. And who is more unjust than he who worships Allah, and is a witness against you, and turns back on you, and turns your backs on you, and turns your backs on you, and has no helper over It is closely related to social life in society, be it in economic, political, and so forth. Every servant must control himself not to fall into deeds that cause harm to others
Kinerja Pegawai Kantor Dinas Sosial, Tenaga Kerja & Transmigrasi Kabupaten Polewali Mandar (Studi Kasus Pada Bidang Tenaga Kerja)
2013MUHAMMAD NUR ALIM (E211 09 992), Kinerja Pegawai Kantor Dinas\ud
Sosial, Tenaga Kerja & Transmigrasi Kabupaten Polewali Mandar (Studi\ud
Kasus Pada Bidang Tenaga Kerja), xv + 115 Halaman + 15 Tabel + 3 Gambar\ud
+ 19 Lampiran + 36 Daftar Pustaka (1984-2012).\ud
Kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh\ud
seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya. Kinerja pegawai merupakan\ud
suatu kegiatan yang sangat penting karena dapat digunakan sebagai ukuran\ud
keberhasilan organisasi dalam mencapai visi dan misi organisasi. Organisasi\ud
atau instansi perlu mengetahui berbagai kelemahan dan kelebihan pegawai\ud
sebagai landasan untuk memperbaiki kelemahan dan menguatkan kelebihan\ud
dalam rangka meningkatkan produktifitas dan pengembangan pegawai sehingga\ud
kinerja pegawai pada setiap instansi harus dioptimalkan demi tercapainya tujuan\ud
instansi tersebut. Untuk itu perlu dilakukan penilaian kinerja secara periodik.\ud
Penilaian disini dimaksudkan untuk mengetahui apakah unjuk kerja dari pegawai\ud
sudah memenuhi standar kerja yang diharapkan atau belum.\ud
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana kinerja\ud
pegawai pada Dinas Sosial, Tenaga Kerja & Transmigrasi Kabupaten Polewali\ud
Mandar khususnya pada bidang tenaga kerja. Untuk mencapai tujuan tersebut,\ud
metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dan teknik analisis data\ud
yang digunakan adalah deskriptif. Unit analisis adalah individu dan pengumpulan\ud
data dilakukan dengan pengisian kuesioner, observasi, dan dokumentasi untuk\ud
memberikan informasi tentang Kinerja Pegawai. Sumber data yang digunakan\ud
berasal dari data primer dan data sekunder.\ud
Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa kinerja pegawai pada\ud
Bidang Tenaga Kerja, Dinas Sosial, Tenaga Kerja & Transmigrasi Kabupaten\ud
Polewali Mandar secara umum dapat dikatakan sudah baik, berdasarkan nilai\ud
akhir kinerja masing-masing pegawai dengan mengakumulasikan nilai Sasaran\ud
Kerja Pegawai (SKP) dan Perilaku kerja secara keseluruhan sehingga dapat\ud
disimpulkan berada pada level ???baik???. Namun terdapat beberapa kekurangan\ud
pada beberapa aspek yang perlu dibenahi.\ud
Kata kunci : Kinerja, Pegawai, Sasaran Kerja Pegawai, Perilaku Kerj
MENGHAFAL AQOID 50 SEBAGAI SYARAT AKAD NIKAH DITINJAU MENURUT HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG N0.1 TAHUN 1974 (Studi Kasus Desa Sipiongot Kecamatan Dolok Kabupaten Padang Lawas Provinsi Sumatra Utara)
ABSTRAK
Skripsi yang berjudul “MENGHAFAL AQOID 50 SEBAGAI SYARAT AKAD NIKAH DI TINJAU MENURUT HUKUM ISLAM DAN UNDANG-UNDANG NO.1 TAHUN 1974”(Studi kasus Desa Sipiongot Kecamatan Dolok Kabupaten Padang Lawas Provinsi Sumatra Utara), ditulis oleh Alim Muhammad Pazri Andi Nur Harahap, Nim 11321106120. Adapun maksud dari judul skripsi ini adalah bagaimana pelaksanaan pernikahan di desa Sipiongot ditinjau dari hukum Islam.
Pada masyarakat desa Sipiongot ada sebuah tradisi ketika akad nikah, bahwa bagi mempelai laki-laki diharuskan menyebutkan aqoid 50 sebelum ijab kabul dilaksakan dan apabila mempelai laki-laki tidak bisa menyebutkannya. Adapun aturan yang menjadi tradisi ini dibuat oleh ulama lokal di desa Sipiongot Kec. Dolok Kabupaten Padang Lawas Utara Sumatera Utara.
Berdasarkan hal tersebut, maka masalah yang akan penulis teliti adalah: Apa alasan ulama lokal desa Sipiongot Kecamatan Dolok Kabupaten Padang Lawas Utara Sumtera mengharuskan bagi mempelai lakai-laki menyebutkan aqoid 50 sebelum ijab kabul dilaksanakan, Apa akibat hukum dari pengharusan bagi mempelai laki-laki menyebutkan aqoid 50 sebelum ijab kabul dilaksanakan, Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap adatdi desa SipiongotKecamatan DolokKabupaten Padang Lawas Utara Provinsi Sumatera Utara menyebutkan aqoid 50 bagi mempelai laki-laki sebelum ijab kabul dilaksanakan.
Untuk menjawab permasalahan di atas, penulis menggunakan metode penelitian lapangan (field research), di mana penulis mengumpulkan data dengan memproritaskan teknik wawancara. Kemudian data tersebut diolah dan dibahas dengan menggunakan dua teknik, yaitu induktif dan deduktif.
Berdasarkan dari hasil penelitian yang penulis lakukan, maka penulis mnyimpulkan, bahwa alasan ulama lokal mengharuskan mempelai laki-laki menyebutkan aqoid 50 sebelum ijab kabul, Pertama:Mereka beranggapan bahwa aqoid 50 merupakan akidah pokok untuk beriman kepada Allah, sebagai penegasan terhadapap mempelai laki-laki, memastikan apakah dia mengerti dengan akidah dan syari’at, maksudnya, kalau akidah tidak tahu maka syari’at Islam tidak akan terlaksana dengan sempurna, sudah menjadi tradisi secara turun temurun sejak masuknya Islam ke desa Sipiongot, di samping itu masyarakat berkeyakinan bahwa kelanggengan dan kehancuran dalam sebuah rumah tangga tergantung pada penyebutan aqoid 50 oleh mempelai laki-laki saat pelaksanaan ijab kabul. Kedua, akibat hukum dari pengharusan menyebutkan aqoid 50 sebelum ijab kabul dilaksanakan, (1). Apabila mempelai laki-laki tidak bisa menyebutkannya maka akad nikahnya ditunda sampai ia bisa menyebutkannya, karena merasa malu sehingga banyak yang nekad kawin lari. (2) Membuat malu di depan umum bahkan mendapat cemoohan dari sebahagian orang, “seperti itu saja tidak bisa bagaiman mau menjadi seorang suami. Ketiga, tinjauan hukum Islam terhadap tradisi mengharuskan mempelai laki-laki menyebutkan aqoid 50 sebelum ijab kabul dilaksanakan, apabila hal tersebut hanya sebagai sebatas tradisi tanpa dikaitkan dengan pernikahan itu dibolehkan dalam Islam, maka hukum aqoid 50 adalah Mubah atau boleh
Islamic sustainable finance: experiences of African countries
This study provides an overview of Islamic sustainable finance (ISF) and its current practice in Africa, documenting that one of the objectives of Islamic sustainable finance is to help improve the economic development of a country as well as the well-being of the community. Additionally, it is discovered that the most suitable and relevant instruments in the ISF space are waqf, zakat, microfinance, and sukuk, among others. Furthermore, policies related to sustainable Islamic finance are expected to be optimized by regulators to reduce poverty, maintain environmental sustainability, and increase economic growth. This study suggests that other ISF instruments for sustainable development are to be discussed in future research in the context of African nations
REFORMULASI USHUL FIKIH (Studi Metodologi Ijtihad Muhammad Syahrur)
ABSTRAK
Disertasi dengan judul “Reformulasi Ushul Fikih, Studi Metodologi Ijtihad Muhammad Syahrur” ini ditulis oleh M. Alim Khoiri dengan Promotor Prof. Dr. Maftukhin, M.Ag. dan Prof. Dr. Iffatin Nur, M.Ag.
Kata Kunci: Reformulasi, Muhammad Syahrur, Ushul Fikih
Dr. Ir. Muhammad Syahrur, pemikir liberal kontroversial berkebangsaan Syiria yang dijuluki sebagai “Immanuel Kant”-nya dunia Arab dan “Marthin Luther”-nya dunia Islam adalah salah seorang intelektual yang memiliki kesadaran kritis untuk melakukan pembaruan terhadap pemahaman agama. Menurut Syahrur, al-Qur’an merupakan Subject of Interpretation di mana dalam melakukan aktifitas eksegetik umat Islam saat ini tidak harus terkungkung oleh produk pemikiran ulama klasik yang saat ini mungkin sudah tidak relevan lagi, khususnya di bidang ushul fikih dan karenanya ia menganjurkan untuk memperlakukan al-Qur’an sebagai sumber utama hukum Islam- seolah-olah baru saja turun. Asumsi ini di samping pengejawantahan dari jargon yang selama ini sering terdengar bahwa al-Qur’an senantiasa selaras dengan setiap tempat dan kondisi, juga karena usaha Syahrur untuk membongkar dan mereformasi berbagai epistemologi hukum Islam klasik yang sudah mapan dan baku sehingga pada akhirnya akan mampu menjawab problem kekinian.
Dari latar belakang di atas, muncul persoalan-persoalan berikut ini: (1)Bagaimanakah epistemologi dan paradigma Syahrur? (2)Mengapa Syahrur melakukan reformulasi ushul fikih? (3) Bagaimanakah gagasan baru Syahrur tentang teori batas? (4)Bagaimanakah reformulasi sumber hukum Islam dan metodologi ijtihad yang ditawarkan Syahrur?
Jenis penelitian ini adalah library research (penelitian pustaka) yaitu, meneliti data yang berkaitan dengan pembahasan dengan cara menelaah dua kitab primer yang ditulis oleh M. Syahrur yakni al-Kitāb wa al-Qur’ān Qirā’ah Mu’āshirah dan Nahwa al-Ushul Jadīdah li al-Fiqh al-Islāmī.yang membahas tentang konsep-konsep istinbath hukum yang benar benar baru dan sangat kontroversial. Untuk melengkapi data-data penelitian ini, penulis juga menggunakan data-data sekunder yang berkaitan dengan pembahasan konsep ushul fikih secara umum.
Berdasarkan kajian yang dilakukan, maka didapatkan beberapa kesimpulan di antaranya adalah: (1) Syahrur menyatakan bahwa sumber pengetahuan (epistemologi) manusia adalah kalām Allah (al-Qur’an) dan kalimāt Allah (realitas kealaman dan kemanusiaan). Dalam menafsirkan ayat-ayat Allah, Syahrur menggunakan pendekatan linguistis-historis-ilmiah. Ia juga menolak adanya sinonimitas dalam bahasa Arab, yang juga diakui dalam linguistik modern (2) Syahrur berpendapat bahwa dunia Arab sesungguhnya masih terjangkit penyakit “Bapakisme” atau disebut juga Dā’ al-Abāiyyah yang mendewakan produk dan pemikiran masa lalu. Hal ini menjadi penghalang bagi proses perkembangan historis-saintifik, karena itu diperlukan upaya penyelematan dengan merumuskan kembali pondasi hukum Islam secara total. (3)Syahrur merumuskan gagasan berupa Naẓāriyāt al-hudūd atau teori limit. Syahrur mengibaratkannya sebagai garis-garis lurus dan konstan (ats-tsawābit), sementara pada saat yang sama memberi ruang pada manusia untuk bergerak dinamis (at-taghayyur) dalam hukum. Teori batas ini adalah sebuah teori baru hasil kreatifitas ijtihad Syahrur yang belum pernah digunakan oleh ulama ushul fikih sebelumnya. (4) Syahrur melakukan reformulasi terhadap konsep al-Qur’an, Sunah, Ijma’ dan Qiyas. Upayanya ini dalam beberapa bagian tertentu adalah murni berasal dari ijtihadnya tersendiri, namun dalam beberapa konsep lain yang ditawarkannya terdapat substansi yang sama dengan rumusan ulama ushul fikih tradisional, seperti rumusannya tentang ijma’ yang sejatinya adalah sebuah fatwa dan rumusannya tentang qiyas tak lebih dari sebuah pengembangan dari teori sadd adz-dzari’ah dan fatḥ adz-dzari’ah
Strategi Pembentukan Karakter Keagamaan Peserta Didik di SMA Kota Tenggarong
This study departs from the low religious character of learners is one of the problems that occur in schools. This is due to two factors, namely, internal and external. To overcome these obstacles required a strategy in the formation of a systematic religious character that can be ”ammunition” in shaping the religious character of learners so that it can make learners become our human beings. The purpose of this study wanted to know about the strategy of character formation, the implementation of character formation and inhibiting factors and solutions in the formation of religious character of learners in high school Tenggarong. Research method in this research use field research type (field work research) with qualitative approach. The data collection is observation, semi-structured interviews and documentation. While the technique of data analysis using data reduction, data presentation and conclusion. The result of research strategy of religious character formation of learners in Tenggarong High School is 1) Self-development which is not programmed include routine activity, spontaneous activity and exemplary already compatible with document of Ministry of National Education about character design of character education. 2) Implementation of religious character formation in routine activity shows significant similarity that is, class picket, worship, pray before and after learning in class and social service. As for spontaneous activity, that is, visiting the sick, throwing the garbage in its place, engulfing the argument. While the exemplary activities that is, by speaking polite, obey the order, dressed neatly and clean, and behave courteously. Although the spontaneous and exemplary activities have been implemented but not yet optimal. Due to the unavailability of all indicators on spontaneous and exemplary activities. 3) Factors inhibiting the formation of religious character that is, coming from the educators and education, the people who live around the school environment and the control of the competent. The solution in overcoming obstacles in the implementation of the formation of religious character is, by improving the quality of principals, educators and education, improvement of facilities and infrastructure, study appeal and cooperate with the competent
ETIKA PELAJAR TERHADAP PENDIDIK DALAM KITAB ADAB AL-‘ALIM WA AL-MUTA’ALLIM KARYA KH. M. HASYIM ASY’ARI DAN RELEVANSINYA DENGAN MATERI AKIDAH AKHLAK DI MADRASAH IBTIDAIYAH
Permasalahan yang diangkat pada penelitian ini ada dua adalah (1) bagaimana etika pelajar
terhadap pendidik dalam kitab Adab Al-‘Alim wa Al-Muta’allim karya KH. M. Hasyim Asy’ari, (2)
bagaimana relevansi etika pelajar terhadap pendidik dalam kitab Adab Al-‘Alim wa Al-Muta’allim dengan
materi akidah akhlak di Madrasah Ibtidaiyah.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui etika
pelajar terhadap pendidik dalam kitab Adab Al-‘Alim wa Al-Muta’allim karya KH. M. Hasyim Asy’ari
dan untuk mengetahui relevansi etika pelajar terhadap pendidik dalam kitab Adab Al-‘Alim wa Al-
Muta’allim karya KH. M. Hasyim Asy’ari dengan materi akidah akhlak di Madrasah Ibtidaiyah.
Jenis penelitian ini termasuk studi kepustakaan (library research). Sumber primernya didapat dari
kitab Adab Al-‘Alim wa Al-Muta’allim karya KH. M. Hasyim Asy’ari dan materi akidah akhlak yang ada
di Madrasah Ibtidaiyah sedangkan sumber sekunder diantaranya adalah terjemah kitab Adab Al-‘Alim wa
Al-Muta’allim, KMA Nomor 183 Tahun 2019 serta sumber pendukung lainnya. Teknik pengumpulan
data menggunakan teknik dokumentasi sedangkan untuk teknik analisis data menggunakan teknik analisis
isi (content analysis).
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah menurut KH. M. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adab
Al-‘Alim wa Al-Muta’allim etika pelajar terhadap pendidik ada dua belas poin yaitu (a) Memilih pendidik
dengan beristikharah, (b) Memilih pendidik yang paham ilmu syari’at, (c) Pelajar mematuhi perintah
pendidik, (d) Memandang pendidik dengan penuh keagungan, (e) Mengetahui hak-hak pendidik, (f)
Bersabar atas kekasaran pendidik, (g) Tidak memasuki ruangan pendidik tanpa seizinnya, (h) Bertata
krama saat duduk dihadapan pendidik, (i) Berbicara dengan baik terhadap pendidik, (j) Mendengarkan
pendidik dengan serius, (k) Tidak mendahului, membersamai dan memotong penjelasan maupun
pembicaraan pendidik, (l) Aspek menjaga etika saat menerima ataupun memberi sesuatu kepada pendidik.
Dari dua belas poin di atas terdapat sepuluh poin yang relevan dengan materi akidah akhlak di Madrasah
Ibtidaiyah yaitu (a) Aspek mematuhi perintah pendidik relevan dengan materi adab belajar, adab bersin
dan menguap, adab makan dan minum, amanah, disiplin, (b) Aspek mengetahui hak-hak pendidik relevan
dengan materi kisah teladan Nabi Nuh As dan Nabi Musa As dan sikap dermawan, (c) Aspek bersabar
atas kekasaran pendidik relevan dengan materi sikap tabah dan sabar dan kisah teladan Nabi Ayyub As,
(d) Aspek memandang pendidik dengan penuh keagungan materi yang relevan adalah adab belajar dan
sikap hormat, kasih sayang dan sopan santun, (e) Aspek tidak memasuki ruangan pendidik tanpa seizinnya
relevan dengan materi adab bertamu, (f) Aspek bertata krama saat duduk dihadapan pendidik relevan
dengan materi sikap hormat, kasih sayang dan sopan santun, (g) Aspek berbicara dengan baik terhadap
pendidik relevan dengan materi berkata baik, berperilaku jujur dan berbudaya antri, akhlak tercela egois,
berkata kasar dan berbohong, (h) Aspek mendengarkan pendidik dengan serius relevan dengan materi
kisah teladan Nabi Muhammad Saw dan akhlak terpuji rendah diri, (i) Aspek tidak mendahului,
membersamai dan memotong penjelasan maupun pembicaraan pendidik relevan dengan materi akhlak
terpuji hormat dan patuh kepada guru, (j) Aspek menjaga etika saat menerima ataupun memberi sesuatu
kepada pendidik relevan dengan materi akhlak terpuji tolong menolong dan terdapat dua poin etika pelajar
terhadap pendidik dalam kitab Adab Al-‘Alim wa Al-Muta’allim karya KH. M. Hasyim Asy’ari yang tidak
revelan dengan materi akidah akhlak di Madrasah Ibtidaiyah yaitu (a) Aspek memilih pendidik dengan
beristikharah dan (b) Aspek memilih pendidik yang paham ilmu syari’at
Konsep Pendidikan Akhlak Perspektif Hadratus-Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari
The goal of moral education in Islam is to develop positive traits in humans so that their morality will develop, so that they are always open to doing good and able to distance themselves from all forms of evil. Thus, a person can become a human being who has good morals and is responsible. Meanwhile, according to the concept of Hadratus-Shaykh KH. Hasyim Asy'ari in the book Adabul Alim Wal Muta'alim has provided an educational treatise that talks a lot about the moral education of teachers and students so that in the book we can understand and know in depth about the content of moral education properly. And he also colored education in Indonesia and among Islamic boarding schools. This research is a library research (Library Research) which is included in qualitative research. Data was collected through primary and secondary data sources after which the data was analyzed using a descriptive approach. This study states that in the book Adabul Alim wal Muta'alim, moral education is thoroughly integrated into the learning process. KH. Hasyim Asy'ari emphasized the importance of being calm and gentle for a teacher in interacting with his students. Likewise, students are expected to have morals that sincerely respect their teachers. In the context of learning, morality for students means always prioritizing learning by starting from the most important things to the depth of the discussion. The moral relationship between teacher and student actually reflects mutual respect and trust, which is built on awareness and respect between the two during the learning process. Ethics in interacting between teachers and students is considered as a real form of obedience to Allah and His Messenger. All of this shows that the harmonious relationship between the two parties cannot be separated from the spiritual values that are upheld in Islamic teaching
- …
