1,728,970 research outputs found

    Eksistensi jiwa menurut Al Kindi

    Get PDF
    Skripsi ini meneliti tentang eksistensi jiwa menurut Al Kindi (185-152 H). Al Kindi lahir di kufah, irak. Al Kindi merupakan filosof muslim pertama yang membahas hakikat roh secara terperinci. Menurut al kindi, jiwa (roh) tida tersusun, tersusun, tetapi mempunyai arti penting sempurna, mulia. Substansinya berasal dari substansi Tuhan dan hubungannya dengan Tuhan sama seperti hubungan cahaya dengan matahari. Jiwa menempati badan, namun jiwa tidak satu dengannya. Pada penelitian ini akan dibahas sejauh mana pemikiran al kindi apakah dia mendapatkan pengaruh dari filosof yunani? dan kecenderungan yang dianut al kindi apakah pada akal atau al quran. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa pemikiran al kindi banyak mendapat pengaruh dari filosof yunani selain dari pandangannya sendiri. Eksistensi jiwa menurut al kindi cenderung terletak pada akal. Pandangan al kindi terhadap jiwa sudah sesuai dengan al-quran

    Pemikiran Filsafat Al-kindi

    Get PDF
    Al-Kindi is the first Muslim philosopher to construct Islamic philosophical thoughts in a systematic and clear way. Philosophical thoughts of Al-Kindi are reflection of doctrines that he received from classic Greece sources and the legacy of Neo-Platonic thoughts combined with Islamic faith. Al-Kindi opens the room of dialogue to combine philosophical doctrines and religion. Knowledge about God, according to Al-Kindi, is early philosophy or the first philosophy; philosophy that states al-Haqq as telos that will end the overall works of philosophy. Al-Kindi divides intelligence based on several stages as follows: active intelligence (intelligence that guarantees the ability of human beings to understand rational matters that needs external stimuli), actual intelligence (potential intelligence that escaped potential boundary when soul started to understand rational and abstract matters), and physical intelligence (intelligence that seriously comprehend rational matters and seeks to transform potential matter into actual thing)

    PEMIKIRAN FILSAFAT AL-KINDI

    Get PDF
    Al-Kindi is the first Muslim philosopher to construct Islamic philosophical thoughts in a systematic and clear way. Philosophical thoughts of Al-Kindi are reflection of doctrines that he received from classic Greece sources and the legacy of Neo-Platonic thoughts combined with Islamic faith. Al-Kindi opens the room of dialogue to combine philosophical doctrines and religion. Knowledge about God, according to Al-Kindi, is early philosophy or the first philosophy; philosophy that states al-Haqq as telos that will end the overall works of philosophy. Al-Kindi divides intelligence based on several stages as follows: active intelligence (intelligence that guarantees the ability of human beings to understand rational matters that needs external stimuli), actual intelligence (potential intelligence that escaped potential boundary when soul started to understand rational and abstract matters), and physical intelligence (intelligence that seriously comprehend rational matters and seeks to transform potential matter into actual thing).Keywords: Philosophical Thought, al-Kind

    Filsafat al-Kindi

    Get PDF
    Al-Falsafah al-Ula adalah judul buku filsafat yang ditulis dan dipersembahkan al-Kindi untuk khalifah al-Mu`tashim (833-842 M) dari dinasti Bani Abbas (750-1258 M); sekaligus juga istilah untuk pemikiran metafsikanya yang didasarkan atas konsep-konsep filsafat Aristoteles (384–322 SM). Pemikiran metafisika al-Kindi, menurut George N Atiyeh (1923-2008 M), diinspirasikan dari gagasan Aristoteles tentang Kebenaran Pertama, tidak didasarkan atas ide-ide Plotinus (204–270 M) sebagaimana kebanyakan filosof muslim sesudahnya. Kebenaran pertama adalah penggerak pertama yang merupakan sebab dari semua kebenaran. Karena itu, al-Kindi mengambarkan metafisika sebagai pengetahuan yang paling mulia, karena subjek kajiannya adalah sesuatu yang paling mulia dari semua realitas. Berdasarkan hal ini, al-Kindi kemudian mendefinisikan metafisika sebagai pengetahuan tentang hal-hal yang Ilahiyah yang dalam konsep Aristoteles disebut sebagai penggerak yang tidak bergerak. Namun, cakupan kajiannya tidak meliputi segala yang wujud sebagai wujud (being qua being) sebagaimana dalam pemikiran Aristoteles melainkan terbatas hanya pada masalah Tuhan, perbuatan-perbuatan kreatif-Nya, dan hubungan-Nya dengan alam ciptaan. Artinya, al-Kindi mengikuti Aristoteles tetapi tidak sama dengan gurunya, dan di sinilah orisinalitas al-Kindi

    Pemikiran Ketuhanan Al-Kindi

    No full text
    Al-Kindi, nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Ya’cub bin Ishaq Ashabbah bin Imran bin Ismail bin Al Asy'ats bin Qoya Al-Kindi. Dilahirkan di kufah pada tahun 185 H (801 M).  Ayahnya bernama Ishaq Ashshabah, Gubernur Kufah pada masa pemerintahan Al-Mahdi dan Harun Ar-Rasyid dari Bani Abbas. Al-Kindi hidup pada zaman kejayaan khalifah Harun Ar-Rasyid wafat 252 H (861 M). Nama Al-Kindi dikenal di kemudian hari melalui kitab-kitabnya yang berjudul tidak kurang dari 241 buah dalam bidang filsafat, logica, arithmatika, kedokteran, ilmu jiwa, politik, music, matematika dan lain-lain. Pada masa hidup Al-Kindi penterjemahan buku-buku Yunani sangat pesat dan ia turut aktif dalam kegiatan itu. Ia mencoba mempertemukan atau memadukan agama dan filsafat. Menurut Al-Kindi filsafat adalah pengetahuan yang benar. Sedang agama menerangkan tentang apa yang benar. Jelas ada perbedaan antara filsafat dan agama keduanya bertujuan untuk menerangkan apa yang benar dan yang baik. Agama di samping mempergunakan Wahyu juga mempergunakan akal dan filsafat mempergunakan akal. Wahyu tidak bertentangan dengan filsafat. Hanya argumentasi yang dikemukakan Wahyu lebih meyakinkan daripada argumentasi filsafat

    FILSAFAT KETUHANAN AL-KINDI

    No full text
    Filsafat dan agama merupakan dua hal yang saling beriringan. Filsafat yang berangkat dari pemikiran dan agama yang dari keyakinan, mengakibatkan tak sedikit orang mengecam adanya filsafat yang dapat menggoyahkan keimanan seseorang. Sebaliknya para filosof muslim justru memahami agama secara filosofis untuk memperoleh pemahaman luas serta memperteguh keimanan. Pada abad ke VIII M al-Kindi hadir sebagai filosof muslim pertama yang menggagas tentang kesinambungan antara filsafat dan agama, bahwa antara filsafat dan agama sama-sama menjunjung kebenaran. Filsafat yang paling mulia bagi al-Kindi adalah Filsafat Pertama, yaitu usaha mengetahui 'illahi pertama, yakni Tuhan. Filsafat ketuhanan al-Kindi masuk pada lingkup metafisika. Dalam hal membuktikan adanya Tuhan, al-Kindi mengemukakan dalil empiris yaitu: Dalil barunya alam (Hudutsil alam), dalil keanekaragaman dalam wujud (Kastrah fil Maujudat) dan dalil pengendalian alam (Ibda'fil Alam)

    Konsep Kebahagiaan Al-Kindi

    No full text
    Kebahagiaan merupakan impian bagi setiap manusia, akan tetapi masih banyak manusia yang tidak berhasil mencapai kebahagiaan, hal ini disebabkan karena belum memahami arti dan cara mencapai kebahagiaan. Tulisan ini akan membahas bagaimana mencapai kebahagiaan dalam bimbingan rasionalitas menurut pemikiran al-Kindi. Kajian ini menggunakan metode verstehen. Hasil kajian menunjukkan bahwa bagi al-Kindi, berfikir rasional adalah keutamaan, yang berarti meneladani perbuatan-perbuatan Tuhan. sehingga kebahagiaan dapat dicapai dengan cara mengetahui keutamaan dan bertingkah laku sesuai dengan tuntutan keutamaan tersebut

    Menguak Hal-Hal Penting Dalam Pemikiran Filsafat al-Kindi

    Get PDF
    AbstractThe history of Islamic thought is inseparable from the transformation of knowledge from cultural thoughts outside of Islam, including Greek philosophy. The project was initiated by the Abbasids and reached its peak when power was held by the Caliph al-Harun Ar-Rasyid and al-Makmun. The most meritorious person and considered the first philosopher in the Islamic world was al-Kindi. This article discusses important matters in al-Kindi\u27s philosophical thinking. With the aim to find out how the philosophical thinking of al-Kindi. This article uses library-based qualitative research with a qualitative descriptive approach and technical descriptive analysis and content analysis. The results of this study show that al-Kindi was a philosopher who brought philosophy into the Islamic world. The things in al-Kindi\u27s thinking are the relationship between Religion and Philosophy, divinity philosophy, philosophy of soul, mind, and spirit, infinity to the concept of reason.Keywords: al-Kindi, Philosophy, God, Spirit, and Intellect. AbstrakSejarah pemikiran Islam tidak lepas dari transformasi ilmu dari pemikiran-pemikiran kebudayaan di luar agama Islam, termasuk filsafat Yunani. Proyek tersebut digagas oleh Bani Abbasiyyah dan mencapai puncaknya ketika kekuasaan dipegang oleh Khalifah al-Harun Ar-Rasyid dan al-Makmun. Orang yang paling berjasa dan dianggap filosof pertama dalam dunia Islam adalah al-Kindi. Artikel ini membahas tentang hal-hal penting dalam pemikiran filsafat al-Kindi. Dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana pemikiran filsafat al-Kindi. Artikel ini menggunakan penelitian kualitatif berbasis kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan teknis analisis deskriptif dan content analysis. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa al-Kindi merupakan seorang filosof yang membawa filsafat ke dalam dunia Islam. Hal-hal dalam pemikiran al-Kindi adalah hubungan Agama dan Filsafat, filsafat ketuhanan, filsafat jiwa, akal dan ruh, ketakterhinggaan sampai konsep akal.Kata Kunci: al-Kindi, Filsafat, Tuhan, Ruh dan Akal

    Konsep Epistemologi Perspektif Al-Kindi: Modifikasi Epistemologi Yunani

    Get PDF
    Al-Kindi was the first Arab thinker who paid great attention to epistemology. Although al-Kindi adopted many of the epistemological theories of earlier Greek philosophers, al-Kindi\u27s epistemology has fundamental differences and more values due to his belief in Islamic principles. Based on that, this research will discuss the epistemological concept of al-Kindi\u27s perspective. Through a library research study with a descriptive-analytical approach, it can be concluded, first: al-Kindi\u27s epistemological concept is different from the epistemological concept of the Greek philosophers who negate the role of revelation in it. Second, al-Kindi is very concerned with \u27illah or the cause of the nature of a science, which includes material, formal, efficient and final causes, all of which begin and end in the cause of al-haq or God. Third, there are three sources of al-Kindi\u27s knowledge, namely the five senses, rational and divine knowledge which is the highest science

    Al-Kindi, Cinq épîtres

    No full text
    Reix André. Al-Kindi, Cinq épîtres. In: Revue Philosophique de Louvain. Quatrième série, tome 78, n°38, 1980. pp. 296-297
    corecore