1,723,088 research outputs found
STRATEGI KESANTUNAN TUTURAN TRAINER ARY GINANJAR AGUSTIAN DALAM ESQ VIRTUAL TRAINING: Kajian Pragmatik
Qonita, Rosyida. 2017. "Politeness Strategy used by a trainer Ary Ginanjar Agustian in ESQ Virtual Training: Pragmatic Analysis." Advisor Drs. Suharyo, M.Hum. and Riris Tiani, S.S., M.Hum.
The main analysis of this thesis is utterances used by Ary Ginanjar Agustian as a trainer in ESQ Virtual Training. Ary Ginanjar Agustian is a motivator and a founder of motivation training ESQ 165. As a motivator, Ary Ginanjar Agustian is necessarily required to have a good ability of public speaking so that he can motivate and influence the audience. This thesis analyzes politeness strategy used by Ary Ginanjar Agustian during the training. The purpose of this thesis is to describe politeness strategy used by Ary Ginanjar Agustian applies politeness theory by Brown and Levinson.
The method of this thesis uses an observation and writing technique. The writer makes a transcript from ten videos of ESQ Virtual Training Character Building 1 edition as data analysis. In analysis, the writer classifies the utterances which agree with politeness theory by Brown and Levinson (bald on record, positive politeness, negative politeness, dan off record).
The result presents that Ary Ginanjar Agustian uses 2 kinds of politeness strategy: on record and positive politeness. The different characteristic of politeness strategy used by Ary Ginanjar Agustian is to raise the spiritual concept. Ary Ginanjar Agustian also uses another language style and hedges as the characteristic of politeness.
Keywords: Politeness Strategy, Pragmatic Analysis, ESQ Virtual Training, Motivation Trainin
KECERDASAN SPIRITUAL MENURUT ARY GINANJAR AGUSTIAN
Kecerdasan Spiritual merupakan kemajuan kajian ilmiah tentang sesuatu
yang melampaui batas fakta rasional. Pengetahuan barat menemukan adanya titik
tuhan dalam diri manusia yang mengatasi segala sesuatu yang bersifat makna. Hal
tertinggi adalah bagaimana sesuatu tak semata bersifat material, namun juga
membuatnya bermakna.
Kajian ilmiah SQ Barat memusatkan fondasinya kepada sesuatu yang
lebih luas dan kaya, yaitu makna. SQ barat mengkritik agamawan, yang memiliki
doktrin spritualitas, namun memiliki kecerdasan rendah. Dalam hal ini penulis
tertarik meneliti pemikiran Ary Ginanjar Agustian yang mengkaji titik tersebut
melalui kacamata agama. Menurut Ary agama, dalam hal ini Islam, pada dasarnya
memuat ajaran kecerdasan spritualitas. Hanya saja bagaimana seseorang
menekuninya secara benar dan utuh. Seseorang memiliki kecerdasan rendah,
bukan karena agamanya, tapi pemahaman terhadap nilai-nilai agama itu sendiri.
Sehingga rumusan masalahnya sebagai berikut pertama, bagaimana Q menurut
Ary Ginanjar Agustian? Kedua, bagaimana unsur SQ A. Ginanjar Agustian?
Sedangkanm tujuan dan kegunaan penelitian ini adalah untuk mengetahui SQ
dalam pemikiran Ary Ginanjar A. dan mengetahui unsur-unsurnya. Sementara
metode penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat literatur.
Sumber-sumber data yang digunakan adalah sumber-sumber yang relevan dengan
permaslahan tersebut. Kemudian diolah melalui teknik deskripsi, intrepetasi dan
analisa.
Dari penelitian ini dapat dihasilkan jawaban dari rumusan masalah di atas,
bahwa SQ dalam pemikiran Ary adalah, bahwa manusia tidak bisa dilepaskan dari
kodrat hati nurani yang bersifat ketuhanan. Hati manusia menurutnya
memantulkan sifat-sifat ketuhanan, dan manusia selalu ingin meniru sifat-sifatNya.
Sementara untuk menerapkan SQ, ada dua unsur yang harus dipelajari.
Pertama, tauhid. Kedua, suara hati dan suara emosi. Dari unsur ketauhidan
seseorang bisa memperoleh pemahaman tentang hakikat diri dan tuhan sebagai
pusat diri atau SQ. Sementara suara hati berperan sebagai penanda bagaimana
mengenal dan membedakan antara suara hati dan membedakannya dengan emosi.
Pengenalan suara hati yang mencerminkan sifat-sifat ketuhanan dan suara emosi
yang mencerminkan sifat-sifat ego manusia, membuat seseorang mampu
memiliki kecerdasan spritualitas tinggi. Yaitu bagaimana memilih antara dimensi
kebaikan dan sesuatu yang bersifat keburukan dan tak memiliki makna
PENDIDIKAN SPIRITUAL DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM MENURUT JALALUDDIN RAKHMAT DAN ARY GINANJAR AGUSTIAN
ABSTRAK
PENDIDIKAN SPIRITUAL DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM
MENURUT JALALUDDIN RAKHMAT DAN
ARY GINANJAR AGUSTIAN
Oleh: Siti Rohma
Pendidikan spiritual memegang peranan penting di tengah-tengah prilaku
masyarakat yang majemuk, plural dan heterogen. Dengan adanya pendidikan spiritual,
manusia akan lebih terarah kepada tujuan hidup yang sesungguhnya.Seseorang yang
memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi dapat dipastikan memiliki akhlak yang baik,
mampu memaknai penderitaan hidup dan mampu berpikir positif dan melakukan
perbuatan atau tindakan positif di setiap masalah yang tengah dihadapinya.
Penelitian ini untuk mengetahui 1) Bagaimana tujuan pendidikan spiritual
menurut Jalaluddin Rakhmat dan Ary Ginanjar Agustian? 2) Bagaimana materi
pendidikan spiritual menurut Jalaluddin Rakhmat dan Ary Ginanjar Agustian? 3)
Bagaimana metode pendidikan spiritual menurut Jalaluddin Rakhmat dan Ary Ginanjar
Agustian?
Penelitian ini adalah, penelitian kepustakaan, adapun yang dimaksud library
research yaitu proses kegiatan menelaah dan membaca bahan-bahan pustaka, seperti
buku-buku atau dokumen-dokumen yang ada diperpustakaan. Metode penelitian yang
digunakan adalah penelitian deskriptif analisis kualitatif, karena bertujuan membuat
secara sistematis dan akurat mengenai fakta-fakta. Berdasarkan sifat penelitian ini penulis
akan menggali data dari buku-buku yang berkaitan dengan judul penulis. Selanjutnya di
analisis dengan menggunakan teknik analisis isi (content analysis). teknik analisis ini
merupakan suatu kesimpulan yang benar adanya dari sebuah buku atau dokumen, dan
juga merupakan teknik untuk menemukan karakteristik pesan, yang dilakukan secara
objektif dan sistematis.
Dari hasil penelitian yang diproleh bahwa (1) Tujuan pendidikan spiritual
menurut Jalaluddin Rakhmat dan Ary Ginanjar Agustian. Tujuan pendidikan spiritual
menurut Jalaluddin Rakhmat adalah melatih diri anak untuk menemukan kebahagiaan
dunia dan akhirat. Dan menurut Ary Ginanjar pendidikan spiritual adalah pendidikan
yang mengajarkan kepada kita untuk selalu berfikir positif. (2) Materi pendidikan
spiritual menurut Jalaluddin rakhmat dan Ary Ginanjar. materi Jalaluddin Rakhmat yaitu:
Al-qur’an, kisah-kisah teladan, puisi dan lagu spiritual, alam, kehidupan sosial dalam
masyarakat, dan ibadah ritual. Materi Ary Ginanjar Agustian, yaitu: 1 Ihsan, 6 Rukun
Iman, 5 Rukun Islam. (3) Metode pendidikan spiritual menurut jalaluddin Rakhmat dan
Ary Ginanjar, Metode Jalaluddin Rakhmat yaitu: menjadi spiritual yang baik untuk anak,
membantu anak merumuskan misi hidupnya, mengajarkan anak membaca Al-qur’an dan
maknanya, menceritakan kisah agung spiritual, mendiskusikan persoalan secara ruhaniah,
melibatkan anak dalam ritual keagamaan, membacakan puisi atau lagu spiritual,
menikmati keindahan alam, membawa anak ketempat orang-orang menderita, mengikut
sertakan anak dalamkegiatan sosial. Metode Ary Ginanjar: syahadat, puasa, sholat, zakat
dan haji.
Kata Kunci: Pendidikan Spiritual, Tujuan, Materi dan Metode Pendidikan
Glutathione utilization in lactobacillus fermentum CECT 5716
Glutathione, a tripeptide antioxidant, has recently been shown to be either utilized or synthesized by gram-positive bacteria, such as Lactic Acid Bacteria. Glutathione plays an important role in countering environmental stress, such as oxidative stress. In this study, cellular activity regarding glutathione in Lactobacillus fermentum CECT 5716 is characterized. We demonstrate that L. fermentum CECT 5716 has a better survival rate in the presence of glutathione under both oxidative and metal stress. As L. fermentum CECT 5716 does not possess the ability to synthesize glutathione, it shows the ability to uptake both reduced and oxidized glutathione from the environment, regenerate reduced glutathione from oxidized glutathione, and perform secretion of glutathione to the environment.Submission published under a 24 month embargo labeled 'U of I Access', the embargo will last until 2020-08-01The student, Agustian Surya, accepted the attached license on 2018-07-13 at 15:01.The student, Agustian Surya, submitted this Thesis for approval on 2018-07-13 at 15:06.This Thesis was approved for publication on 2018-07-17 at 14:39.DSpace SAF Submission Ingestion Package generated from Vireo submission #12872 on 2018-09-27 at 11:19:20Made available in DSpace on 2018-09-27T16:34:21Z (GMT). No. of bitstreams: 2
SURYA-THESIS-2018.pdf: 536163 bytes, checksum: f67889f0f690440818899ddad5c34016 (MD5)
LICENSE.txt: 4211 bytes, checksum: e6f4f495211f8d058bb891f963bbef9e (MD5)
Previous issue date: 2018-07-17Embargo set by: Seth Robbins for item 107817
Lift date: 2020-09-27T16:34:29Z
Reason: Author requested U of Illinois access only (OA after 2yrs) in Vireo ETD systemU of I Only Restriction Lifted for Item 107817 on 2020-09-28T09:15:13Z
Emotional Spiritual Quotient (ESQ) menurut Ary Ginanjar Agustian dan relevansinya dengan pengembangan kompetensi spiritual dan kompetensi sosial kurikulum 2013
Menurut Ary Ginanjar Agustian untuk membangun kecerdasan harus adanya sinergi antara kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosinal (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Sedangkan hal yang paling krusial dalam kurikulum 2013 adalah membangun sikap spiritual dan sikap sosial peserta didik. Untuk itu tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah memperoleh pemahaman makna konsep emotional spiritual quotient (ESQ) menurut Ary Ginanjar Agustian. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab permasalahan; pertama, bagaimana konsep emotional spiritual quotient (ESQ) menurut Ary Ginanjar Agustian? Kedua, bagaimana relevansi konsep emotional spiritual quotient (ESQ) menurut Ary Ginanjar Agustian dengan pengembangan kompetensi spiritual dan kompetensi sosial kurikulum 2013? Permasalahan tersebut dibahas melalui penelitian kepustakaan menggunakan pendekatan historis faktual mengenai naskah atau buku yang datanya diperoleh dari dokumentasi buku Ary Ginanjar Agustian yang berhubungan dengan emotional spiritual quotient (ESQ) serta data pengembangan kompetensi spiritual dan kompetensi sosial dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Kurikulum 2013. Semua data tersebut dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa; Pertama, konsep ESQ Ary Ginanjar Agustian memadukan integrasi IQ, EQ, dan SQ melalui prinsip tauhid. Dengan kesadaran tauhid, maka emosi akan terkendali, sehingga akan timbul rasa tenang dan damai, sehingga bisikan-bisikan Ilahiah yang mengajak kepada sifat-sifat keadilan, kasih sayang, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, kreativitas, komitmen, kebersamaan, perdamaian dan bisikan hati mulia lainnya akan terdengar sehingga potensi kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional bekerja dengan optimal. Kedua, relevansi konsep ESQ Ary Gianjar Agustian dengan pengembangan kompetensi spiritual dan kompetensi sosial kurikulum 2013 yaitu sama-sama menggunakan dasar spiritual dalam pembangunan emosi atau sikap sosial, serta penjelasan semua isi dan strategi pengembangan kompetensi spiritual dan kompetensi sosial yang sama-sama bertujuan untuk membentuk pribadi manusia yang baik di mata manusia dan baik di hadapan sang Khalik (secara vertikal dan horizontal)
Dialog Peradaban Anis Matta-Ary Ginanjar Agustian
Buku yang menarik ini ditulis oleh dua tokoh masa kini yang menjadi dua ikon perubahan, yaitu Anis Matta dan Ary Ginanjar Agustian. Kedua tokoh ini sepakat dalam harapan dan angan-angan mereka, bahwa dalam kurun sejarah yang berikutnya, umat manusia akan berhasil mencapai kesatuan politis dan spiritual.
Dalam buku ini Ary Ginanjar menguraikan tahap-tahap membangun masyarakat Madani, dengan bercermin pada sirah Nabi Muhammad SAW. Pertama, tahap spiritualitas ketika manusia dibentuk untuk menyadari siapa dirinya. Kedua, tahap mentalitas ketika manusia dibangun mentalnya. Ketiga, tahap pembangunan social ekonomi.
Sementara itu Anis Matta mempunyai sebuah gagasan cemerlang, mengatur Indonesia agar sesuai dengan desain Allah SWT. Anis menyebutkan langkah-langkah dalam buku ini dengan formulasi strategi Tiga Langkah Peradaban, yaitu afiliasi, partisipasi, dan kontribusi. Dengan tiga langkah tersebut, seorang muslim menggabungkan tiga kekuatan sekaligus. Kekuatan pribadi, sosial, dan professional
STUDI KOMPARASI KONSEP PEMBENTUKAN KARAKTER MENURUT STEPHEN R. COVEY DAN ARY GINANJAR AGUSTIAN
Latar belakang dari penelitian ini adalah idealnya Pendidikan Agama Islam
dapat membentuk peserta didik yang berkarakter atau berakhlak mulia. Namun
dalam kenyataannya masih banyak pelajar yang melakukan tindakan yang tidak
bermoral. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengkaji konsep pembentukan
karakter menurut Stephen R. Covey dan Ary Ginanjar Agustian, karena telah
diaplikasikan dalam berbagai lembaga maupun organisasi dan terbukti efektif
untuk membentuk karakter pada diri seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk
mengkomparasikan kedua konsep tersebut serta mencari implikasinya dalam
Pendidikan Agama Islam.
Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research).
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan pedagogi dan filsafat. Metode
pengumpulan data yang digunakan adalah dokumentasi. Analisis data
menggunakan metode deskriptif analisis.
Hasil penelitian yaitu: (1) Konsep pembentukan karakter menurut Stephen
R. Covey adalah dengan The 7 Habits of Highly Effective People. (2) Konsep
pembentukan karakter menurut Ary Ginanjar Agustian adalah dengan Emotional
Spiritual Quotient. (3) Persamaan konsep tersebut terletak pada tujuan,
komponen-komponen pembentuk karakter, dan nilai-nilai karakter yang
terbentuk. Perbedaannya terletak pada latar belakang konsep, dasar konsep, sifat
konsep, dan langkah-langkah pembentukan karakter. Konsep pembentukan
karakter Stephen R. Covey mempunyai kelebihan, yaitu: menjelaskan pembaruan
diri pada empat dimensi manusia dan terdapat mekanisme manajemen waktu,
sedangkan kekurangannya adalah cenderung hanya berorientasi kepada kehidupan
di dunia dan tidak menjelaskan suara hati secara lengkap. Sementara itu konsep
pembentukan karakter Ary Ginanjar Agustian mempunyai kelebihan yaitu
berorientasi kepada kehidupan di dunia maupun di akhirat dan menjelaskan suara
hati secara lengkap, sedangkan kelemahannya adalah tidak menjelaskan
pembaruan diri pada dimensi fisik manusia dan tidak terdapat mekanisme
manajemen waktu. (4) Implikasinya dalam Pendidikan Agama Islam, konsep
pembentukan karakter dari Stephen R. Covey yang menyajikan mekanisme
aplikatif dalam membentuk karakter seseorang bisa di gabungkan dengan konsep
pembentukan karakter dari Ary Ginanjar Agustian yang lebih bersifat religiusfilosofis
sehingga menjadi alternatif baru untuk membentuk karakter peserta
didik
EMOSIONAL SPIRITUAL QOUTIENT DAN RELEVASINYA TERHADAP TANGGUNG JAWAB PENDIDIK PADA ANAK (ANALISIS PANDANGAN ARY GINANJAR AGUSTIAN DAN ABDULLAH NASIH ULWAN)
Penelitian ini menjelaskan tentang konsep Emotional Spiritual Qoutient (ESQ) menurut pemikiran Ary Ginanjar Agustian dan konsep tanggung jawab pendidik pada anak menurut pemikiran Abdullah Nasih Ulwan serta relevansi Emotional Spiritual Qoutient (ESQ) menurut Ary Ginanjar Agustian terhadap Tanggungjawab Pendidik pada anak menurut Abdullah Nasih Ulwan. Dalam penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif atau penelitian kepustakaan (library research. Hasil penelitian didapati bahwa 1) Emotional Spiritual Qoutient (ESQ) menurut pemikiran Ary Ginanjar Agustian bahwa Emotional Spiritual Quotient (ESQ) adalah sebuah mekanisme sistematis untuk mengatur ketiga dimensi kecerdasan manusia, yaitu body, mind dan soul atau dimensi fisik, mental dan spiritual dalam satu kesatuan yang integral. 2) Konsep tanggung jawab pendidik menurut Abdullah Nasih Ulwan bahwa seorang pendidik mempunyai tanggungjawab sebagai pendidikan iman, pendidikan moral/akhlak, pendidikan fisik, pendidikan intelektual, pendidikan psikhis, pendidikan sosial dan tanggung jawab pendidikan seksual. 3) Emotional Spiritual Qoutient (ESQ) dalam pemikiran Ary Ginanjar Agustian terhadap tanggungjawab pendidik menurut pemikiran Abdullah Nasih Ulwan mempunyai hubungan yang sangat erat seorang pendidik harus menanakan nilai-nilai religi ke dalam jiwa anak, agar seorang anak itu bisa menjadi anak sholeh dan sholehah serta lebih bisa memfokuskan dirinya mengerjakan amal-amal yang telah diperintahkan Allah, dan menjauhi larangan Allah
Spiritual Motivation in the Quran: Insights from ESQ 165 by Ary Ginanjar Agustian
Religion and spirituality are intertwined, with spirituality at the core of religious experience. Recent studies highlight the connection between spirituality and mental health, self-efficacy, and self-respect. In 2001, Ary Ginanjar Agustian introduced ESQ 165, a religious phenomenon aimed at enhancing human resources through spirituality. However, this concept faced criticism from some Islamic scholars, including Malaysian mufti Datuk Hj. Wan Zahidi bin Wan Teh, who argued it contradicts Islamic teachings. Conversely, research by Daromir Rudnyckij links ESQ 165 to "Spiritual Economy," merging Islamic principles with neoliberal economic practices to boost productivity. This qualitative study employs library research to analyze Agustian\u27s interpretations of the Quran in his work "Secrets of Success in Building Spiritual Emotional Intelligence ESQ 165." Findings reveal that ESQ 165 integrates intellectual (IQ), emotional (EQ), and spiritual intelligence (SQ) with Islamic values of Faith, Islam, and Ihsan. Agustian\u27s interpretations differ from traditional ulama due to methodological influences and a psychological approach, positioning them outside conventional interpretation rules. Despite critiques, his insights resonate with Gadamer\u27s understanding of interpretation shaped by personal horizons, aligning ESQ 165 with Quranic spiritual motivation and Danah Zohar\u27s God Spot theory
- …
