1,721,242 research outputs found

    KONSEP PROFESIONALITAS GURU MENURUT ABUDDIN NATA

    Full text link
    ABSTRAK Rahmad S, (2021): Konsep Profesionalitas Guru Menurut Abuddin Nata Tujuan penelitian ini untuk mengetahui konsep profesionalitas guru menurut Abuddin Nata. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (library research). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan analisis isi (content analysis) yang berhubungan dengan isi yang terkandung dalam buku Pendidikan Isalm di Era Milenial dan Kapita Selekta Pendidikan Islam: Isu-isu Kontenporer tentang Pendidikan Islam karya Abuddin Nata. Teknik analisis isi dilakukan dengan cara mengkodekan kata atau istilah, mengklasifikasikan, manganalilsis, dan mendeskripsikan hasil analisis. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa konsep profesionalitas guru menurut Abuddin Nata adalah: profesionalitas guru memiliki empat kompetensi, meliputi kompetensi pedagogik yang mana ada 7 aspek yang harus dimiliki oleh guru profesional, kompetensi profesional harusm memiliki minimal 2 aspek, kompetensi sosial harus memiliki 5 aspek guru profesional, dan kompetensi kepribadian harus memiliki 13 aspek guru yang profesional. Kata Kunci: Profesionalitas Guru, Abuddin Nat

    Pemikiran pendidikan Abuddin Nata dalam konteks pendidikan islam kontemporer

    No full text
    Penelitian ini berawal dari keinginan penulis untuk memperoleh jawaban konseptual mengenai pemikiran Abuddin Nata tentang pendidikan dalam konteks pendidikan Islam kontemporer. Abuddin Nata dikenal oleh sebagian besar mahasiswa perguruan tinggi Islam di Indonesia sebagai penulis produktif. Hal ini dapat dilihat dari beberapa buku yang telah ditulisnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis secara kritis tentang pemikiran pendidikan Abuddin Nata dalam konteks pendidikan Islam kontemporer. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, dengan pendekatan filsafat. Obyek penelitian ini adalah pemikiran dan gagasan salah seorang tokoh dalam bidang pendidikan Islam kontemporer. Sumber datanya berupa sumber primer dan sekunder. Sumber data primer tersebut berupa karya ilmiah Abuddin Nata terutama yang berkaitan dengan pendidikan, sedangkan data sekundernya adalah yang berkaitan dengan ilmu lainnya, termasuk juga beberapa karya orang lain yang mengkaji tentang pendidikan. Pengolahan data dilakukan dengan memberi makna pada data yang berhasil dikumpulkan dan dianalisis secara deskripsi kualitatif, lalu ditarik kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Abuddin Nata dapat dikategorikan bukan hanya sebagai pemikir pendidikan, tetapi juga sebagai praktisi pendidikan yang konsepnya dapat diimplementasikan dalam pendidikan Islam. Abuddin Nata juga tergolong pemikir yang memiliki kontribusi dan pengaruh di bidang pendidikan, beraliran pragmatis instrumental (al-Dzara�i) dan religius rasional (al-Diniy al-�Aqlaniy). Menurut Abuddin Nata, munculnya lima macam isu-isu kontemporer: integrasi ekonomi, fragmentasi politik, high technology (teknologi canggih), interdependency (saling ketergantungan), dan new colonization in culture (penjajahan baru dalam bidang kebudayaan) telah membawa implikasi paradigma baru pada komponen pendidikan Islam, yakni visi, misi, tujuan, kurikulum, guru, peserta didik, metode, media, dan evaluasi pembelajaran

    KONSEP PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MENURUT ABUDDIN NATA

    No full text
    Pendidikan merupakan pondasi peradaban suatu bangsa. Bangsa yang maju akan selalu beriringan dengan pendidikan yang berkualitas. Perkembangan zaman mengalami beragam modernisasi. Karakter generasi milenial diantaranya adalah menganggap benda elektronik adalah jembatan dalam menuntaskan segala pekerjaannya. Salah satu untuk menghadapi masa depan yang cerah adalah dengan mengutamakan aspek pendidikan. Kedepannya, perjalanan pendidikan akan semakin sulit dikarenakan mesti menyesuaikan dengan karakter generasi milenial. Generasi milenial yaitu ia yang kini berusia sekitar 17-37 tahun atau kelahiran 1980-2000. Abuddin Nata memandang pendidikan sebagai proses yang menggali, mengarahkan, membina, menempa segenap potensi manusia agar peserta didik mampu  menghadapi era milenial. Sebab, era milenial membutuhkan kualitas pendidikan dalam menghadapi pendidikan digital dan beragam kemajuan teknologi. Tujuan penelitian ini adalah; 1.Mengetahui konsep pendidikan Islam dalam perspektif Abuddin Nata,  dan 2. Mengetahui relevansi pendidikan Islam dengan era milenial menurut Abuddin Nata. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode studi pustaka atau penelitian kepustakaan (library research). Sedangkan pendekatan penelitian ini yakni kualitatif yang sifatnya deskriptif komparatif. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini yakni dilakukan dalam tiga tahap, yaitu : Tahap Orientasi, Tahap Eksplorasi  dan Tahap Studi Terfokus. Dalam perspektif Abuddin Nata, ilmu pendidikan Islam mempunyai 2 corak; filosofis dan historis. Ilmu pendidikan Islam yang bercorak filosofis adalah ilmu pendidikan Islam yang memfokuskan kajiannya pada pemikiran filsafat Islam. Sedangkan ilmu pendidikan Islam yang bercorak historis adalah ilmu pendidikan Islam yang memfokuskan kajiannya pada data-data empiris. Dalam menghadapi era milenial, guru yang dibutuhkan di era digital adalah guru yang memiliki kemahiran dalam menilai penggunaan teknologi yang edukatif dan noneduktif. Guru hendaknya terus mengevaluasi kemampuan siswa yang dibutuhkan untuk bersaing dalam ekonomi global. Kemajuan teknologi dalam pendidikan era milenial ini mesti diawasi para orangtua siswa dalam mengontrol anak mereka dalam memeroleh sumber pendidikan.           

    Konsep Pendidik dan Peserta Didik Menurut Abuddin Nata

    No full text
    Konsep Pendidik dan Peserta Didik Menurut Abuddin Nata Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui konsep pendidik dan peserta didik menurut Abuddin Nata. Beliau merupakan salah satu cendikiawan Islam yang aktif dalam dunia pendidikan Banyak dari karya-karyanya yang membicarakan tentang perkembangan pendidikan di Indonesia. Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan library research yaitu lebih menitikberatkan pada pengumpulan data dari berbagai sumber yang relevan. Sumber primer yang digunakan ialah wawancara langsung dengan Prof. Dr. H. Abuddin Nata, MA. dan juga buku-buku karya beliau. Hasil penelitian menunjukkan bahwasannya menurut Abuddin Nata, pendidik ialah seseorang yang melakukan kegiatan dan meberikan pengetahuan, keterampilan, pendidikan, pengalaman, dan sebagainya, yang harus memiliki sifat dan akhlak yang baik, dan juga pendidik harus memiliki niat yang ikhlas karena Allah SWT. Akhlak pendidik menjadi elemen yang vital dimiliki seorang pendidik, karena bagimanapun pendidik harus bisa menjadi ?uswatun hasanah? murid-muridnya. Pendidik harus menguasai ilmu yang akan diajarkannya, oleh sebab itu Abuddin Nata menilai bahwa pendidik harus terus menerus belajar. Kemampuan mempersipakan dan menyampaikan sebuah pelajaran juga harus dikuasai oleh seorang pendidik. Mengenai peserta didik, mereka harus ikhlas dalam belajar, mencari ilmu karena Allah, rendah hati kepada teman dan guru, memiliki akhlak kepada guru, bersungguh-sungguh dan tekun dalam belajar, serta sabar dalam menuntut ilmu. Seorang peserta perlu menjaga dan merawat kesehatan tubuh dan mentalnya dengan cara menjaga pola hidup sehat agar bisa belajar terus menerus

    Epistemologi Pendidikan Islam Perspektif Abuddin Nata

    Full text link
    Epistemologi pendidikan Islam Abuddin Nata mengandung muatan humanis yaitu sebuah rumusan pendidikan Islam yang memaksimalkan potensi dan kemampuan akal manusia sebagai makhluk yang sempurna dengan tetap bersandar dan berpijak pada al-Qur‟an dan Sunnah. Pola pendidikan Islam  yang humanis  tersebut menghendaki pola theo-antropho- centries yaitu memadukan usaha manusia dengan izin dan kehendak Allah swt. Selain itu, Abuddin Nata menginginkan sebuah model pendidikan Islam yaitu pendidikan Islam yang integralistik-konvergensi. Pendidikan Islam integralistik-konvergensi yang dimaksud adalah keterpaduan   dan      kesatuan   antara   konsep   al-Qur‟an   dan   Sunnah   dengan   konteks keindonesiaan sehingga mengarah pada satu tujuan mewujudkan kehidupan yang madani

    PENDEKATAN PEMBELAJARAN BERDASARKAN KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK MENURUT ABUDDIN NATA

    Full text link
    ABSTRAK Rahmad Hidayat (2024): Pendekatan Pembelajaran Berdasarkan Karakteristik Peserta Didik Menurut Abuddin Nata Pendidikan merupakan kunci dalam membentuk karakter dan kualitas sumber daya manusia. Guru sebagai agen utama pembelajaran dihadapkan pada tantangan meningkatkan mutu pendidikan nasional. Guru harus menggunakan pendekatan pembelajaran yang efektif dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Eksplorasi pendekatan pembelajaran dan karakteristik peserta didik menurut Abuddin Nata dapat memberikan landasan yang kuat untuk peningkatan kualitas pembelajaran di ruang kelas. Penelitian ini bertujuan mengkaji pendekatan pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik menurut Abuddin Nata. Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan (library research). Teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setiap pendekatan pembelajaran yang digunakan harus sesuai dengan karakteristik peserta didik, karena peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Abuddin Nata mengatakan ada tiga karakteristik peserta didik, yaitu mulai dari tingkat usia, fitrah, dan kecerdasan. Sedangkan pendekatan pembelajaran yang muncul dari perbedaan karakteristik peserta didik meliputi pendekatan pembelajaran individualis, pendekatan pembelajaran kelompok, dan pendekatan pembelajaran campuran. Dengan eksplorasi pendekatan pembelajaran dan karakteristik peserta didik menurut Abuddin Nata, penelitian ini menegaskan pentingnya mengadopsi pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Kata Kunci: Pendekatan Pembelajaran, Karakteristik, Abuddin Nat

    Pemikiran filosofis pendidikan multikultural Azyumardi Azra dan Abuddin Nata

    Full text link
    Pendidikan multikultural menjadi blessing in disguise atas kemajemukan di Indonesia melalui preferensi menyulam ragam, merajut harmoni. Aktualisasi nilai humanistis dan demokratis di dalamnya akan mengarah pada konsistensi penyemaian kesalehan sosial, kearifan universal, dan kehidupan yang berkeadaban. Tujuan penelitian ini menakar secara filosofis pemikiran pendidikan multikultural Azyumardi Azra dan Abuddin Nata, sehingga menggradasikan persamaan dan perbedaan pemikiran keduanya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, library research, dengan menggunakan pendekatan filosofis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Azyumardi Azra memandang pendidikan multikultural ialah kesadaran mengakui dan penerimaan keragaman sebagai sunnatullāh yang patut dirawat sebagai tonggak persatuan. Sedangkan Abuddin Nata mengamini pendidikan multultural sebagai spektrum pemerataan pendidikan nasional. Adapun persamaan pemikiran Azyumardi Azra dan Abuddin Nata ialah sikap optimistis memperjuangkan kesetaraan, keadilan sosial, demokrasi, toleransi, inklusifisme, egalitarianisme, pluraslisme, dan supremasi hukum bagi bangsa Indonesia. Sedangkan perbedaannya, secara ontologi, Azyumardi Azra melihat utilitas realisasi pendidikan multikultural dari sejarah bangsa Indonesia yang mengalami disintegrasi akibat monokulturalisme; secara epistemologi, pendidikan multikultural diaktualkan sejalan dengan civic education–civil society; secara aksiologi, sebagai pemecahan konflik, pencegahan disrupsi sosial dan eskapisme. Sedangkan Abuddin Nata, secara ontologi, realisasi pendidikan multikultural berlandaskan amanat Undang-Undang No 20 tahun 2003; secara epistemologi, sebagai eklektikus kalimatun sawā’ dan pengayaan spiritual melalui pengamalan ajaran agama; secara aksiologi, sebagai akupunktur kurikulum pendidikan nasional. Penelitian ini secara positivistik dan optimistis mengarah pada simplifikasi reciprocal action or influence antara nilai multikultural, nilai keindonesiaan, dan nilai keislaman atas inferiority complex pendidikan di Indonesia

    Masail al-fiqhiyah/ edit.: Abuddin Nata

    No full text
    xi, 237 hal.; 20 cm

    Konsep pendidikan Islam : Studi perbandingan pemikiran Ahmad Tafsir dan Abuddin Nata

    Full text link
    Ahmad Tafsir dan Abuddin Nata merupakan pakar pendidikan Islam dan tokoh cendekiawan muslim juga penulis yang aktif dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Kedua tokoh tersebut memiliki pengalaman, pergaulan lingkungan, dan gagasan tentang pendidikan Islam yang sangat luas, sehingga pemikiran-pemikirannya sangat berpengaruh terhadap pendidikan Islam dan dapat digunakan sebagai tambahan pengetahuan mengenai ilmu pendidikan Islam oleh insan pembelajar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana konsep pendidikan Islam menurut pemikiran Ahmad Tafsir dan Abuddin Nata, perbandingan konsep pendidikan Islam menurut pemikiran Ahmad Tafsir dan Abuddin Nata berdasarkan aspek tujuan, kurikulum, metode, dan evaluasi, serta implikasi pemikiran pendidikan Islam Ahmad Tafsir dan Abuddin Nata terhadap eksistensi pendidikan Islam. Penelitian ini berdasarkan pada suatu pemikiran Ahmad Tafsir dan Abuddin Nata mengenai konsep pendidikan Islam. Menurut Ahmad Tafsir, pendidikan Islam adalah bimbingan yang diberikan kepada seseorang agar ia dapat berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam. Sedangkan menurut Abuddin Nata, pendidikan Islam adalah proses pembentukan individu berdasarkan ajaran Islam untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Sehingga dapat diketahui perbandingan pemikiran pendidikan Islam yang meliputi perbedaan dan persamaan berdasarkan aspek tujuan, kurikulum, metode, dan evaluasi, serta implikasi pemikiran pendidikan Islam Ahmad Tafsir dan Abuddin Nata terhadap eksistensi pendidikan Islam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode deskriptif komparatif dengan pendekatan kualitatif. Selanjutnya dalam pengumpulan datanya menggunakan studi pustaka, dan teknik analisis datanya menggunakan teknik analisis deskriptif dan interpretatif. Hasil penelitian menunjukkan, menurut Ahmad Tafsir, pendidikan Islam adalah bimbingan yang diberikan kepada seseorang sesuai ajaran Islam yang bertujuan untuk menjadikan pribadi manusia sempurna (insan kamil) melalui proses pembelajaran yang konsep kurikulumnya berintikan pada keimanan dan akhlak dengan metode yang digunakan bersifat Rabbaniyah, yakni berdasarkan Al-Qur’an dan hadits, serta evaluasi yang dilakukan bertujuan untuk mengukur target yang akan dicapai. Sedangkan menurut Abuddin Nata, pendidikan Islam adalah proses pembentukan individu berdasarkan ajaran Islam yang bertujuan untuk mencapai kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat melalui proses pembelajaran dengan konsep kurikulum yang berintikan pada bagaimana membina akhlak, dan metode yang digunakan terbagi menjadi tiga, yakni metode yang berpusat pada guru, metode yang berpusat pada siswa, dan metode yang berpusat pada guru dan siswa, serta evaluasi yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui keberhasilan pendidikan dari berbagai aspek yang saling berkaita

    Masail al-fiqhiyah/ edit.: Abuddin Nata

    No full text
    xi, 237 hal.; 20 cm
    corecore