Farabi (E-Journal)
Not a member yet
136 research outputs found
Sort by
a DIPLOMASI MODERNISASI DAN KEAMANAN REGIONAL: ANALISIS TERHADAP RELEVANSINYA BAGI NEGARA-NEGARA ISLAM: Negara-negara Islam
Islamic countries are currently facing two major strategic issues: modernization and regional security. This study aims to examine the relevance of diplomacy in supporting the modernization agenda and maintaining regional security in Islamic countries. The method used is a literature study with a descriptive-analytical methodology and utilizing a critical approach theoretical framework to examine issues such as diplomatic modernization and regional security. The results of the study show that Modernization and regional security are two interrelated and crucial concepts in the development of Islamic countries. Effective modernization encourages regional stability, while regional security is a prerequisite for poverty development. Diplomatic modernization focuses on access to technology, investment, and resources to accelerate economic transformation, while regional security diplomacy builds cooperation in facing threats such as terrorism and conflict. Islamic countries face challenges such as political tensions and technological change, but through this strategic diplomacy, they can turn challenges into development opportunities. Case studies in the United Arab Emirates, Turkey, Saudi Arabia, and Qatar show the effectiveness of the approach in encouraging sustainable development and maintaining regional stability.Abstract: Negara-negara Islam kini fokus pada dua isu penting: modernisasi dan keamanan regional. Modernisasi melibatkan upaya meningkatkan infrastruktur dan industri untuk bersaing global, sambil mempertahankan nilai-nilai keislaman. Keamanan regional diutamakan untuk menjaga stabilitas politik dan mengatasi tantangan seperti konflik bersenjata dan terorisme. Diplomasi dimainkan dalam kedua bidang ini, memperkuat kerja sama internasional dan regional untuk akses teknologi, investasi, serta membangun kemitraan keamanan. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk menyelidiki relevansi yang dimiliki oleh diplomasi modernisasi dan keamanan regional dalam konteks negara-negara Islam. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik studi literatur. Teknik studi literatur ini melibatkan analisis yang cermat terhadap berbagai sumber literatur yang relevan dengan topik penelitian, seperti buku, jurnal ilmiah, makalah konferensi, laporan pemerintah, dan sumber-sumber online lainnya yang terkait dengan diplomasi modernisasi dan keamanan regional, serta konteks negara-negara Islam. Modernisasi dan keamanan regional adalah dua konsep krusial yang saling terkait dalam pembangunan negara-negara Islam dan wilayah mereka. Modernisasi mencakup transformasi menuju kondisi modern dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, sementara keamanan regional menyangkut pemeliharaan stabilitas wilayah. Diplomasi modernisasi dan keamanan regional memainkan peran penting dalam mencapai tujuan pembangunan dan menjaga stabilitas. Negara-negara Islam dihadapkan pada berbagai tantangan kompleks dalam mencapai modernisasi ekonomi yang berkelanjutan dan menjaga keamanan regional, yang dapat diatasi melalui diplomasi ini. Beberapa negara Islam seperti Uni Emirat Arab, Turki, Arab Saudi, dan Qatar telah berhasil menggunakan diplomasi ini untuk mencapai tujuan- tujuan pembangunan mereka dan menjaga stabilitas wilayah
English English
Penelitian ini mengkaji secara kritis hubungan antara ma\u27rifat al-nafs (pengetahuan tentang diri) dan ma\u27rifat Allah (pengetahuan tentang Tuhan) dalam pemikiran Hasan Zadeh Amuli, seorang pemikir Iran kontemporer yang memadukan tradisi filsafat Islam, irfan, dan tafsir Al-Qur\u27an. Berdasarkan hadis “man \u27arafa nafsahu faqad \u27arafa rabbahu,” Amuli tidak hanya menjadikannya sebagai landasan spiritual, tetapi juga sebagai landasan ontologis yang menghubungkan struktur eksistensi manusia dengan manifestasi Ilahi. Melalui pendekatan hikmah ilahiyyah dan irfan teoritis, ia menjelaskan bahwa hakikat diri manusia merupakan cerminan Tuhan; dengan demikian, jalan menuju ma\u27rifatullah bukanlah melalui penyangkalan dunia, tetapi melalui penyaksian kedalaman eksistensi diri. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri argumen filosofis dan irfani yang digunakan oleh Amuli, khususnya konsep Insan kamil. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-hermeneutik dan analisis tekstual karya-karya Amuli, temuan penelitian ini menunjukkan bahwa ma\u27rifat al-nafs merupakan jalan epistemologis dan ontologis menuju Tuhan, sekaligus membuka cakrawala pemahaman baru dalam kajian irfan teoritis dan spiritualitas Islam kontemporer
TIPOLOGI UMAT ISLAM DI BUMI NGAPAK: TIPOLOGI UMAT ISLAM DI BUMI NGAPAK (Kajian Fenomenologi Umat Islam di Purwokerto)
Purwokerto is known as a city with a distinct cultural identity. Nicknamed the “Ngapak City,” it is characterized by the straightforward and unpretentious dialect of its people, reflecting an open and egalitarian social character. The acculturation between Islam and local culture in this region has given rise to a unique expression of religiosity. Islam did not arrive as a dominating force seeking to replace existing traditions but rather merged harmoniously with long-standing local values. This study aims to explore the dynamics of Islam in Purwokerto using a phenomenological approach to understand religious practices in a deep and holistic manner. The findings reveal that Islam has become an integral part of daily life, evolving through a process of acculturation that fosters diverse yet respectful expressions of faith. At least five typologies of Islamic expression can be identified: Kejawen Islam, Kampung Islam, Sufi Islam (Tarekat), Moderate Islam, and Puritan Islam. This diversity reflects a dynamic and pluralistic face of Islam, yet one that remains harmonious. These typologies represent a contextualized, grounded, and culturally rooted form of Islam in the Ngapak City.Purwokerto merupakan salah satu daerah di Jawa Tengah yang memiliki keunikan dalam dialek bahasa sehari-hari. Walaupun masih dalam wilayah Jawa, namun dialek percakapan sehari-hari justru berbeda dengan daerah yang dianggap sebagai pusat bahasa Jawa, seperti Solo atau Yogyakarta. Bila bahasa Jawa di Solo atau Yogyakarta disuarakan dengan dialek yang terkesan lembut dan halus, maka berbanding terbalik dengan dialek masyaarkat Purwokerto yang terlihat sangat tebal, seakan kasar dan jauh dari kesan halus atau lembut. DIalek inilah yang sering disebut “ngapak” bagi masyarakat Purwokerto dan sekitarnya. Di samping bahasa yang sangat unik, Purwokerto juga memiliki banyak tradisi-tradisi lokal yang tetap bertahan hingga saat ini.
Perkembangan Islam di Purwokerto terus berjalan di tengah kuatnya budaya dan tradisi lokal yang juga tetap bertahan. Keunikan dan kuarnya tersebut menyebabkan terjadinya akulturasi antara Islam dan budaya setempat. Tuliasan ini mengungkapkan bagaimana perkenbangan dan kondisi Islam di Purwokerto yang sarat dengan budaya lokal yang kuat. Islam dan budaya mengalami pergeseran, di mana saling mengisi hingga membentuk budaya baru. Dengan pendekatan fenomenologi, penelitian ini akan mengemukakan gambaran dan pemahaman secara komprehensif holistik secara deskriptif terhadap diinamika, perkembanan dan perubahan umat Islam di Purwokerto.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Islam dan budaya di Purwokerto saling bersinergi dan saling mengisi dalam kehidupan masyarakat. Hasil dari akulturasi membentuk tipologi umat Islam di Purwokerto terbagi dalam beberapa kelompok, yaitu: a) Islam Kejawen, b) Islam Kampung, c) Islam Tarekat, d) Islam Moderat, e) Islam Puritan
Esensi Nilai-Nilai Sosial Pada Tradisi Nganta Petuloh (Studi Living Qur’an-Hadist di Desa Koto Petai Kerinci-Indonesia)
This research aims to explore the essence of social values contained in the Nganta Petuloh tradition in the community of Koto Petai, Kerinci Regency. This tradition, which is a form of mutual cooperation and mutual assistance in the context of celebrations or celebrations, has strong roots in local culture and serves to strengthen social relations between citizens. Through interviews with local communities, the study identified values such as empathy, solidarity, and help that are internalized in daily life. The results of the study show that Nganta Petuloh plays an important role in strengthening social ties, even though it is currently facing challenges due to social changes and declining interest of the younger generation. The influence of Qur\u27anic teachings is also evident in this practice, reflecting how religious values are manifested in community life. To ensure the sustainability of this tradition, this study recommends preservation efforts through education and innovation that can attract the interest of new generations. Thus, Nganta Petuloh is not only a tradition, but also a vital means in building a community that is in solidarity and supporting each other.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi esensi nilai-nilai sosial yang terkandung dalam tradisi Nganta Petuloh di masyarakat Koto Petai, Kabupaten Kerinci. Tradisi ini, yang merupakan bentuk gotong royong dan saling membantu dalam konteks hajatan atau perayaan, memiliki akar yang kuat dalam budaya lokal dan berfungsi untuk mempererat hubungan sosial antarwarga. Melalui wawancara dengan masyarakat setempat, penelitian ini mengidentifikasi nilai-nilai seperti empati, solidaritas, dan tolong-menolong yang terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nganta Petuloh berperan penting dalam memperkuat ikatan sosial, meskipun saat ini menghadapi tantangan akibat perubahan sosial dan penurunan minat generasi muda. Pengaruh ajaran Qur\u27an juga tampak dalam praktik ini, mencerminkan bagaimana nilai-nilai agama terwujud dalam kehidupan komunitas. Untuk memastikan keberlangsungan tradisi ini, penelitian ini merekomendasikan upaya pelestarian melalui edukasi dan inovasi yang dapat menarik minat generasi baru. Dengan demikian, Nganta Petuloh tidak hanya menjadi tradisi, tetapi juga sarana vital dalam membangun komunitas yang solidaritas dan saling mendukung
Eco-literasi PENINGKATAN ECOLITERACY SISWA SEKOLAH DASAR MELALUI PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT : -
The development process around the world is faced with a dilemma, namely whether development keep going continued, consider the impact it causes, namely damaging environment. One proof is and more it\u27s hot earth\u27s temperature as a result of clearing forests for the sake of generating development various crisis environments is one of them is global warming. This is thought to be caused by the "ignorance" factor of world leaders about concepts-based ecology. Therefore, giving knowledge and understanding since early to generation young people, especially students, about concepts based on “eco-literacy,” is urgent to do. Based on this thought, it is necessary to implement the activity in the form of devotion in society (P2M), especially for students in Elementary School, to improve eco-literacy through delivery in the form instructional pack. One of the methods to evaluate the success of a service program public is based on the evaluation initial (before the program is implemented) compared to the results end (after the program is done), so it looks at whether there is improvement in a way significant or not. If there is, then can it be said that the P2M program was successful? The methods applied are, at the beginning of activities, visiting the school, then the team giving an explanation and then giving test pre-test to the students, and then sharing a small book called learning package about eco-literacy. After around one-half month, with the students\u27 estimates already reading the learning package contents, the team came back to class and provided a post-test. The difference between the two tests found there was an improvement in students\u27 eco-literacy significantly, so it can be concluded that the P2M program implemented was successful. Based on this activity, recommendations could be delivered that in every learning, teachers are asked to always tuck in basic concepts, for early use to improve students’ eco-literacy, therefore, in the future, they are the ones who will become national leaders.Perkembangan pembangunan di seluruh dunia dihadapkan pada dilema yakni apakah pembangunan terus dilanjutkan, mengingat dampak yang ditimbulkannya yakni kerusakan lingkungan. Salah satu bukti adalah makin panasnya temperatur bumi sebagai akibat dari pembabatan hutan demi pembangunan yang menimbulkan berbagai krisis lingkungan salah satunya adalah pemanasan global. Hal ini diduga disebabkan oleh faktor “ignorance” para pemimpin dunia tentang konsep-konsep dasar ekologi. Karena itu, memberikan pengetahuan dan pemahaman sejak dini kepada generasi muda, khususnya para siswa, tentang konsep-konsep dasar tersebut melalui “ecoliteracy,” mendesak untuk dilakukan. Atas dasar pemikiran ini, perlu dilaksanakan kegiatan dalam bentuk pengabdian pada masyarakat (P2M), terutama bagi siswa-siswa Sekolah Dasar, guna meningkatkan ecoliteracy melalui penyampaian dalam bentuk paket instruksional. Salah satu cara mengevaluasi keberhasilan suatu program pengabdian masyarakat adalah berdasarkan penilaian awal (sebelum program diterapkan) dibandingkan dengan hasil akhir (setelah program dilakukan), sehingga tampak apakah terdapat peningkatan secara signifikan atau tidak. Apabila ada, maka dapat dikatakan bahwa program P2M berhasil. Metode yang diterapkan adalah, pada awal kegiatan, mendatangi sekolah, lalu tim memberikan penjelasan dan kemudian memberikan tes awal (pre-test) kepada para siswa, lalu membagikan buku kecil yang disebut paket pembelajaran ecoliteracy. Setelah sekitar satu setengah bulan, dengan perkiraan para siswa sudah membaca isi paket pembelajaran tersebut, kemudian tim mendatnagi lagi kelas tersebut untuk memberikan tes akhir (post-test). Kedua selisih hasil tes tersebut diuji dan ditemukan terdapat peningkatan ecoliteracy siswa secara signifikan, sehingga dapat disimpulkan bahwa program P2M yang dilaksanakan telah berhasil. Berdasarkan kegiatan ini dapat disampaikan rekomendasi agar dalam setiap pembelajaran apa pun, para guru diminta untuk selalu menyelipkan konsep-konsep dasar secara dini, sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan ecoliteracy para siswa, demi merekalah yang akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan.
Kata Kunci: Eco-literacy, P2M, pre dan post-test, dan pemimpin bangsa
 
Islamic Mysticism of Wali Songo
This research explores the mystical dimension in the da\u27wah (Islamic missionary) strategy of Wali Songo, a group of prominent Islamic figures in the history of Islamization in Java. The study investigates how Sufi elements and mysticism were integrated into cultural expressions to support the dissemination of Islamic teachings. The research was motivated by the need to understand the success of Wali Songo\u27s inclusive approach, especially in engaging local belief systems and cultural traditions. This study employed a qualitative approach using descriptive-analytical methods. Data were collected from classical texts, folklore, and previous research on Wali Songo. The findings show that Wali Songo\u27s da\u27wah extensively adopted Sufi practices such as dhikr, wirid, and the use of spiritual symbols. They reinterpreted local cultural expressions—like wayang performances, gamelan, and traditional ceremonies—as Islamic mediums. The cultural accommodation strategy, especially by figures such as Sunan Kalijaga, reveals a sophisticated understanding of local wisdom and the effective contextualization of Islamic teachings.Penelitian ini mengeksplorasi dimensi mistik dalam strategi dakwah Wali Songo, sekelompok tokoh Islam terkemuka dalam sejarah Islamisasi di Jawa. Studi ini menelusuri bagaimana unsur-unsur tasawuf dan mistisisme diintegrasikan ke dalam ekspresi budaya guna mendukung penyebaran ajaran Islam. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk memahami keberhasilan pendekatan inklusif Wali Songo, khususnya dalam merangkul sistem kepercayaan lokal dan tradisi budaya masyarakat. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data dikumpulkan dari teks-teks klasik, folklor, dan hasil-hasil penelitian terdahulu mengenai Wali Songo. Temuan menunjukkan bahwa dakwah Wali Songo secara luas mengadopsi praktik sufistik seperti dzikir, wirid, serta penggunaan simbol-simbol spiritual. Mereka mereinterpretasi ekspresi budaya lokal—seperti pertunjukan wayang, gamelan, dan upacara tradisional—sebagai medium dakwah Islam. Strategi akomodasi budaya, khususnya yang dilakukan oleh tokoh seperti Sunan Kalijaga, mencerminkan pemahaman yang mendalam terhadap kearifan lokal dan kontekstualisasi ajaran Islam yang efektif
Dialektika Maddah Dalam Bencana Alam Gorontalo
This qualitative research seeks to examine the relation and implicaton of maddah (da’wah teaching materials) to discover new understandings of Islamic teachings especially on the issues of natural disaster occured in Gorontalo. Data were collected through observation and in-depth interviews to the preachers, natural disaster victims, and the members of Indonesian Ulema Council of Gorontalo (MUI). This research reveals that there ara at least two main argument of maddah in responding natural disasters. In the first stream, there is maddah that focuses on how natural disaster should be coped with human repentances to the God due to their exploitative actions toward the natural balances; while on the other hand, a madah that moves beyond boundaries of doctrines and ask for direct actions to save the earth. Built on the scholarship of dialectical framework, this paper argues that the difference between maddah teachings can be explained by contextualizing the issues of natural disaster through three primary principles: akidah, sharia and akhlaq. In praxis, this maddah’s vision then manifests in the spirit of natural disaster advocacy such as mutual aid, climate awareness and justice, caring and other collective actions that can guarantee safety as a serious devotion to the God.This qualitative research seeks to examine the relation and implicaton of maddah (da’wah teaching materials) to discover new understandings of Islamic teachings especially on the issues of natural disaster occured in Gorontalo. Data were collected through observation and in-depth interviews to the preachers, natural disaster victims, and the members of Indonesian Ulema Council of Gorontalo (MUI). This research reveals that there ara at least two main argument of maddah in responding natural disasters. In the first stream, there is maddah that focuses on how natural disaster should be coped with human repentances to the God due to their exploitative actions toward the natural balances; while on the other hand, a madah that moves beyond boundaries of doctrines and ask for direct actions to save the earth. Built on the scholarship of dialectical framework, this paper argues that the difference between maddah teachings can be explained by contextualizing the issues of natural disaster through three primary principles: akidah, sharia and akhlaq. In praxis, this maddah’s vision then manifests in the spirit of natural disaster advocacy such as mutual aid, climate awareness and justice, caring and other collective actions that can guarantee safety as a serious devotion to the God
Hubungan Agama dan Negara dalam Perspektif Dr. Yusuf Al-Qaradhawi
This article examines the political thought of Yusuf Al-Qaradhawi, including the relationship between religion and the state in the context of Muslim society. Al-Qaradhawi is an Islamic scholar who has influenced considerable contributions in contemporary Islamic thought, particularly in issues related to politics and Islamic law. This article presents Al-Qaradhawi\u27s understanding of key concepts such as sharia, democracy, human rights, and the role of religion in the political order. In addition, it examines Al-Qaradhawi\u27s views on how religion and the state can interact in a pluralistic and modern society. This research outlines the impact of Al-Qaradhawi\u27s thought in the context of political development in the Islamic world and its relevance in facing current social and political challenges.This article discusses Dr Yusuf Al-Qaradhawi's views on the relationship betweenreligion and the state in the context of Muslim societies. Al-Qaradhawi is an Islamic scholarwho has had a major influence on contemporary Islamic thought, particularly on issues relatedto politics and Islamic law. This article presents Al-Qaradhawi's understanding of key conceptssuch as sharia, democracy, human rights, and the role of religion in the political order. It alsoexamines Al-Qaradhawi's views on how religion and the state can interact in a pluralistic andmodern society. This research outlines the impact of Al-Qaradhawi's thought in the context ofpolitical development in the Islamic world and its relevance in facing current social and politicalchallenges
Dari Ulama Ke Internet: Pergeseran Sumber Dakwah di Era Digital
This article discusses the transformation of dakwah (Islamic preaching) from conventional methods to digital, known as cyberdakwah, in the modern era. Digital dakwah has become a global phenomenon by leveraging internet technology, allowing Islamic messages to be spread more widely and efficiently. Society now has easier access to religious information through social media and search engines like Google, which has replaced the traditional role of scholars in providing religious knowledge. This phenomenon leads to a paradigm shift in acquiring dakwah knowledge, moving from religious scholars and institutions to digital platforms. The article examines the impact of this shift, including the incommensurability between knowledge from scholars and Google, as well as the sudden change in the patterns of seeking religious information. While cyberdakwah holds great potential, challenges arise regarding the superficiality of messages and the lack of personal connection between the preacher and the audience. Therefore, integrating digital and conventional dakwah is seen as essential to ensure that dakwah messages are received more deeply and responsibly.Dakwah Islam telah mengalami transformasi signifikan dalam era digital saat ini, di mana media sosial dan teknologi informasi memainkan peran penting dalam penyebaran pesan agama. Artikel ini membahas pergeseran paradigma dari dakwah konvensional menuju dakwah digital, serta dampaknya terhadap perolehan sumber ilmu dakwah oleh masyarakat. Kajian ini menunjukkan bahwa dakwah digital memungkinkan pesan-pesan agama disebarkan secara massif dan efisien melalui berbagai platform online, termasuk media sosial dan situs web. Fenomena ini memperlihatkan adaptasi dakwah terhadap kemajuan teknologi, dengan cyberdakwah menjadi bagian integral dari kegiatan berdakwah saat ini. Namun, perubahan ini juga menimbulkan tantangan baru, terutama terkait kredibilitas dan kebenaran informasi dakwah yang disampaikan melalui internet. Pergeseran paradigma sumber ilmu dakwah dari ulama dan dai ke mesin pencarian utama seperti Google menghasilkan ketidakberbandingan antara ilmu dakwah tradisional dan informasi yang tersedia secara online. Hal ini dapat mengubah pola perolehan ilmu dakwah masyarakat, dengan lebih banyak orang beralih mencari informasi melalui internet daripada menghadiri dakwah konvensional. Meskipun dakwah digital menawarkan akses yang lebih mudah dan luas bagi masyarakat, penting untuk mempertimbangkan kualitas dan kebenaran informasi yang disampaikan agar dapat menghindari kontroversi dan kebingungan di masyarakat. Oleh karena itu, artikel ini menyoroti urgensi untuk menghadapi pergeseran paradigma dalam berdakwah dengan bijaksana dan bertanggung jawab dalam mengelola pesan agama Islam di era digital ini
Tradisi Cin Peddis Pada Bulan Muharram di Lingkungan Etnis Madura di Kalimantan Barat
The tradition of cin peddis in the madurese community has become a symbolic tradition in West Kalimantan. This tradition was inherited by the ancestors of the madurese tribe in the tradition of local community customs. Those who carry out the cin peddis tradition perform customs as a form of local knowledge in the community. Uniquely, the cin peddis tradition is carried out in the month of Muharram to preserve the local traditions of the madurese community. This research formulates the question of how the symbolic interpretation of the cin peddis tradition in Muharram month in the environment of the madura ethnic group in West Kalimantan. This research uses ethnographic method with the theory of symbolic interpretative approach. The results of this study show that: (1) the existence of morality values in the cin pendis tradition symbol; (2) the existence of religious values in the spirituality of the community performing the cin pendis tradition; (3) the existence of kinship values in the madura ethnic community. Thus, interpretative symbol tradition appears in the cin peddis tradition in the Madurese community of West Kalimantan.Tradisi cin pedis merupakan sesuatu yang telah diwariskan oleh orang-orang terdahulu di Pulau Madura. Tradisi cin peddis dilaksanakan selama bulan Muharram atau pada saat Tahun Baru Islam. Selama sebulan penuh warga masyarakat di setiap rumah harus membuat tacin peddis atau bubur pedas dengan rempah-rempah yang sesuai dengan cita rasa etnis Madura. Hingga saat ini tradisi cin pedis masih tetap dijaga dan dilestarikan oleh etnis Madura, termasuk di Kalimantan Barat. Adapun prosesi pelaksanaan tradisi cin peddis terdiri dari tiga proses, yaitu : pertama pembuatan tacin peddis; kedua pembacaan doa selamat; ketiga pengantaran tacin peddis ke rumahrumah tetangga. Riset ini bertujuan mendeskripsikan interpretasi simbolik yang muncul pada tradisi cin peddis etnis Madura di Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan metode etnografi dengan toeri interpretatif simbolik karya Clifford Geertz. Partisipan yang terlibat dalam riset ini berjumalah tiga orang, yaitu : tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat. Hasil riset ini menunjukkan bahwa ada tiga nilai budaya yang terkandung dalam tradisi cin peddis yaitu nilai moral, nilai religius dan nilai kekerabatan