192 research outputs found
Syaikh Abdul Muhyi: Sufi dari Priangan
The review of literature indicates that Syaikh Abdul Muhyi was regarded as one of Muslim greatest Leaders (wali). He struggled to spread Islamic teaching in West Java. In terms of implementing Islamic teachings, Syaikh Abdul Muhyi practiced Syattariyah order continuing his teacher Abdul Rauf Singkel. Thsi paper highlights the historical life of Syaikh Abdul Muhyi regarding his family and educational background, his works as well as his principles of Syattariyah order
Aspek Religiositas Masyarakat Peziarah Makam Shaykh Abdul Muhyi Pamijahan Tasikmalaya
Pamijahan as the conduct of the pilgrimage is a phenomen that deserve to be the field of research. Because in that place there are various of human activities and different cultures, beliefs and expectations of the cultural struggle that became a cultural pilgrimage. Pamijahan a mystical village that has a value that is believed to give karâmah and blessing for the visitors. Blessing is obtained from the pilgrimage performed at the tomb of Shaykh Abdul Muhyi and other tombs at the site. Confidence Pamijahan pilgrims believe that the shrine is the tomb of Shaykh Abdul Muhyi who are considered sacred by many struggles and sacrifices for the religion. Abdul Muhyi struggle to spread Islam and coupled with the value sufistik satariah orders which he got from his teacher. To analyze the motives and goals of pilgrimage Friday Pamijahan author tries to communicate with the theory Tallcot Parsons, the adaptation, goal, integration and latency. The result is there are different motives inter-pilgrims at the funeral Pamijahan. Motifs that can be concluded is the intent or purpose contained in the implementation of the pilgrimage, usually intent was inspired by science or deeds that practiced by the pilgrims, besides other requests
Situs makam Syekh Abdul Muhyi: Fungsi sosial keagamaan masyarakat Desa Pamijahan Kabupaten Tasikmalaya tahun 1980-2022
Anasir budaya yang berkaitan dengan pola tingkah laku yang diwariskan dari generasi ke generasi dalam lingkungan tertentu dikenal sebagai tradisi. Sebagai bagian dari religi, tradisi juga termasuk dalam kebudayaan. Kebudayaan
adalah hasil karya, karsa, dan cipta manusia yang dimulai dari gagasan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Jejak peninggalan Syekh Abdul Muhyi, seorang penyebar agama Islam di Priangan Timur khususnya di Desa Pamijahan Tasikmalaya membentuk aktivitas sosial keagamaan di sana. Sejak sepeninggalan Syekh Abdul Muhyi yang wafat pada tahun 1728M/1149H, masyarakat mulai datang berbondong-bondong ke makamnya. Pada saat yang sama, Ziarah dan Pengajian menjadi rutinitas yang berulang. Bersamaan dengan hal itu, tradisi
keagamaan lama bersatu untuk dilembagakan yang menjadi tonggak yang paling penting.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui biografi Syekh Abdul Muhyi, pandangan masyarakat terhadap situs Makam Syekh Abdul Muhyi Pamijahan Tahun 1980-2022. Meliputi hal-hal yang berkaitan dengan keadaan Situs Makam Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, letak geografis dan demografis serta untuk mengetahui manfaat adanya situs makam Syekh Abdul Muhyi dalam bidang sosial dan keagamaan bagi masyarakat Pamijahan tahun 1980-2022.
Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah diantaranya meliputi tahapan Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi. Heuristik ialah mencakup pengumpulan sumber sejarah baik berupa tulisan maupun lisan. Kritik ialah untuk mengolah data hasil penelitian. Interpretasi berbagai fakta dihubungkan satu sama lain untuk melakukan penafsiran. Historiografi ialah menulis temuan penelitian secara sistematis dan ilmiah.
Berdasarkan dari penelitian menunjukkan bahwa tradisi sosial keagamaan di Desa Pamijahan Makam Syekh Abdul Muhyi berasal dari kebiasaan yang dibuat saat Syekh Abdul Muhyi masih hidup dan diajarkan kepada semua masyarakat, terutama keturunannya. Salah satu benetuk tradisi itu masyarakat Pamijahan patuh terhadap larangan menurut adatnya seperti di larang merokok pada area-area tertentu, dilarang memakai payung, dan tidak boleh menggunakan kendaraan jika pergi ke Makam Syekh Abdul Muhyi. Masyarakat Pamijahan dalam kehidupan sehari-harinya masih mengalamalkan apa yang diajarkan oleh Syekh Abdul Muhyi seperti bercocok tanam atau menanam padi dengan jampi-jampi supaya nanti hasilnya berkah dan juga mengajarkan ilmu fikih, ilmu tasawuf, ilmu tauhid serta masih banyak juga ilmu lainnya yang masih masyarakat amalkan hingga saat ini. Jadi, kemajuan besar terjadi karena semua tradisi sosial keagamaan itu diformalkan dan dilembagakan dalam upaya masyarakat Pamijahan untuk mendapatkan keridoan dan keberkahan yang diberikan oleh Allah SWT
MARTABAT ALAM TUJUH DALAM PERSPEKTIF SYEKH ABDUL MUHYI PAMIJAHAN
Sheikh Abdul Muhyi is a cleric who spreads Islam in the southern region of West Java. Born in Mataram in 1650 AD/1071 H and raised by his parents in the city of Gresik. As a propagator of Islam, he has written works that become a reference in his da'wah. One of his works is a manuscript entitled Martabat Kang Pitutu (dignity of the seven realms). Among researchers, this paper is still debatable, whether it is the original work or in the form of an adaptation of a previously existing work with a certain interpretation from it. This study seeks to find answers to what and how the teachings of the seven natural dignity of Sheikh Abdul Muhyi's perspectives are taught and why the seven natural dignity teachings are taught/what is its significance. This is done because the teachings of the seven natural dignity in the world of Sufism originated from the teachings of Sufism wahdatul form (unity of being) which was developed by Ibn Arabi. It is not clear when this teaching first entered Indonesia. What is clear is that before Sheikh Haji Abdul Muhyi, several Indonesian Sufi scholars had written this teaching, such as Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumatrani w. 1630 and Abdur Rauf Singkel w. 1615 with their respective derivations and variations. Based on the results of this study, it was found that the teachings of the dignity of the seven Sheikh Abdul Muhyi have conformity with the teachings of the dignity of the other seven. What distinguishes it is the written language and contextualization of teachings in accordance with the Indonesian spiri
Kasepuhan keramat situs makam Syekh H. Abdul Muhyi dalam perspektif tradisi lisan
Kasepuhan Keramat Pamijahan merupakan sebuah lembaga yang dibentuk oleh keturunan dari Syekh H. Abdul Muhyi untuk dapat menjaga dan memelihara peninggalan-peninggalan dari Syekh H. Abdul Muhyi. Lembaga ini pada awalnya bernama Panembahan yang dipimpin pertama kali oleh Sembah Dalem Bojong, putra pertama dari Syekh H. Abdul Muhyi. Kemudian berubah nama menjadi Kuncen pada masa kepengurusan K.H. Mohammad Kosim dan kemudian berganti nama lagi menjadi Kasepuhan Keramat Pamijahan pada masa kepengurusan K.H.
Endang Adjidin pada tahun 2006 sampai dengan sekarang.Selain memiliki tugas sebagai penjaga dan pemelihara apa yang sudah Syekh H. Abdul Muhyi perjuangkan di Pamijahan, Kasepuhan juga mendapatkan tempat khusus di dalam masyarakat Pamijahan sebagai tokoh pemangku agama di Pamijahan. Kasepuhan di dalamnya terbagi ke dalam empat bagian atau disebut dengan “Pongpok”. Masing-masing Pongpok memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.Penelitian ini menggunakan metode penelitias sejarah dengan tahapan-tahapannya sebagai berikut yaitu Heuristik, Kritik (intern & ekstern), Interpretasi,
dan Historiografi. Peneliti dalam mengumpulkan sumber mengutamakan sistem pengumpulan data dengan melakukan wawancara, dengan sumber primernya yaitu K.H. Endang Adjidin sebagai Ketua Kasepuhan Keramat Pamijahan. Adapun narasumber utama lainnya yaitu Ustad Akin sebagai sesepuh Majelis Hidayatul Muhyidin dan K.H. Beben Muhammad Dabbas sebagai sesepuh Majelis Sabilul Muhtadin
STUDI KEARIFAN LOKAL (LOCAL WISDOM) LARANGAN MEROKOK DI KAWASAN PARIWISATA RELIGI SYEH ABDUL MUHYI
Pamijahan merupakan tempat pariwisata religi terbesar kedua di Jawa Barat yang setiap tahunnya tidak kurang dari 350 ribu wisatawan datang berziarah kemakam keramat Syeh Abdul Muhyi. Kearifan lokal yang diyakini dan dijaga masyarakat Pamijahan salah satunya adalah larangan merokok di kawasan keramat Pamijahan bagi seluruh masyarakat dan wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai kearifan lokal (local wisdom) larangan merokok di kawasan kawasan pariwisata Pamijahan Kabupaten Tasikmalaya. Rancangan penelitian yang digunakan yaitu menggunakan rancangan deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Instrumen dan teknik pengumpulan data natural setting (kondisi alamiah). Subjek penelitian adalah masyarakat dan wisatawan di kawasan pariwisata Pamijahan Kecamatan Pamijahan Kabupaten Tasikmalaya. Data dikumpulkan dari sumber primer dan sekunder. Sumber primer dilakukan dengan observasi langsung (natural observation), dan wawancara mendalam (in depth interview). Sumber sekunder diperoleh melalui eksplorasi jurnal, laporan penelitian serta sumber-sumber pustaka yang relevan. Analisa menggunakan pendekatan interaktif yang meliputi reduksi data (data reduction), sajian data (data display) dan penarikan kesimpulan (conclusion drawing) serta verifikasi dan validasi. Hasil penelitian Wisata religi Pamijahan memiliki kearifan lokal berupa larangan merokok dikawasan keramat Syeh Abdul Muhyi Pamijahan. Masyarakat dan Wisatawan pengunjung tempat wisata mematuhi dan memegang teguh larangan merokok walaupun motivasinya bukan karena kesehatan tetapi lebih kepada penghormatan terhadap aturan adat yang telah diyakini secara turun temurun. Kearifan lokal tersebut telah memberikan kontribusi bagi kesehatan antara lain: terbentuknya wilayah bebas rokok, terbebasnya dari punting rokok dan terciptanya kawasan bebas asap rokok, terutama di rumah rumah pendudu
Persepsi masyarakat terhadap keberadaan pengemis dilokasi wisata religi makam Syeikh Abdul Muhyi: Penelitian di Desa Pamijahan kecamatan Bantarkalong
Masalah sosial merupakan suatu kondisi yang tidak selaras dengan norma sosial di masyarakat. Salah satu masalah sosial adalah kemiskinan, masalah kemiskinan dapat terlihat dengan keberadaan pengemis di Makam Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan. Pada hari-hari tertentu kawasan ini dipenuhi oleh pengemis, bahkan terkadang mengganggu para peziarah. Berangkat dari latar belakang tersebut, pertama, penulis ingin mengetahui faktor-faktor apa saja yang mendorong munculnya pengemis. Kedua, ingin mengetahui persepsi masyarakat sekitar tentang keberadaan dan perilaku pengemis. Ketiga, ingin mengetahui upaya yang bisa dilakukan oleh pemerintahan desa Pamijahan untuk mengatasi permasalahan pengemis.
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah “Teori Dramaturgi” dimana teori tersebut memiliki dua pandangan terhadap pengemis. Pertama yaitu panggung depan (Front Stage) yang menunjukan gaya, penampilan, dan prilaku pengemis yang maksimal ketika berhadapan dengan orang lain. Kedua, panggung belakang (Back Stage), cenderung menunjukan sifat asli pengemis dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula seperti pengemis yang berkeliaran di jalanan, mereka cenderung tidak memperlihatkan sisi asli mereka, dan berperan seperti drama.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Objek dalam penelitian adalah pengemis di Makam Syeikh Abdul Muhyi. Informan dalam penelitian ini adalah para pengemis dan masyarakat sekitar Makam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang mendorong munculnya pengemis di Lokasi Wisata Religi Makam Syeikh Abdul Muhyi dilatar belakangi oleh dua faktor. Pertama, faktor internal. Seseorang memilih menjadi pengemis atas pilihannya sendiri, karena mereka malas dan tidak mau bekerja, apa lagi yang memiliki kekurangan dari segi fisik. Kedua, faktor external. Dimana di dalamnya terdapat faktor sosial. Budaya kemiskinan sudah tertanam dalam diri pengemis, faktor kultural. Pengemis di sana sudah ada sejak dahulu, sudah menjadi tradisi pengemis untuk mencari rezeki, faktor struktural. Pengemis bukan disebabkan oleh karena struktur yang tidak adil, baik struktur politik, sosial, maupun ekonomi yang tidak memungkinkan seseorang atau sekelompok orang menjangkau sumber-sumber penghidupan yang sebenarnya tersedia untuk mereka. Persepsi masyarakat terkait dengan keberadaan dan perilaku pengemis di Pamijahan adalah pengemis anak-anak yang sering mengganggu peziarah karena mereka suka menarik baju peziarah apabila belum dikasih uang. Sedangkan pengemis dewasa dan yang cacat lebih suka menunggu sampai mereka diberi uang, akan tetapi anggapan masyarakat tetap saja mengganggu. Upaya yang dilakukan oleh pemerintahan desa Pamijahan untuk mengatasi permasalahan pengemis adalah mengadakan pembinaan keluarga miskin, dengan memberikan sejumlah uang untuk modal usaha yang mereka minati
ANALISIS PROGRAM”ZIARAH MAKAM SYEKH ABDUL MUHYI” DALAM PENGEMBANGAN NILAI-KARAKTER DI SEKOLAH DASAR (Studi Kasus di SDN Pamijahan Kecamatan Bantarkalong Kabupaten Tasikmalaya)
Fenomena dekadensi moral yang meluas di kalangan siswa telah menjadi sorotan serius dalam dunia pendidikan, mendorong perlunya pengembangan nilai karakter yang menjadi perhatian utama para guru. Fokus penelitian ini adalah untuk menganalisis program ziarah makam Syekh Abdul Muhyi dalam pengembangan nilai-karakter di sekolah dasar Kecamatan Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kontribusi program ziarah ini dalam membentuk beberapa nilai-karakter yang meliputi dimensi religius, disiplin, toleransi, kepedulian lingkungan, dan tanggung jawab. Manfaat dari adanya penelitian ini adalah dapat meningkatkan sensitivitas siswa sekolah dasar terhadap kearifan lokal yang dimiliki daerah tempat tinggalnya dimana nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat dimanfaatkan sebagai upaya pengembangan nilai karakter yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif digunakan dengan cermat menganalisis data yang diperoleh dari berbagai sumber, wawancara, observasi, serta analisis dokumen yang relevan. Teknik analisis data menggunakan Teknik reduksi, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menggambarkan peran guru sebagai agen perubahan yang mendorong siswa untuk mengembangkan integritas pribadi, mempersiapkan mereka menjadi warga masyarakat yang memiliki budi pekerti yang baik. Melalui penelitian ini pula ditemukan bahwa pengembangan nilai-karakter melalui program ziarah makam Syekh Abdul Muhyi di SDN Pamijahan dilakukan dengan mengintegrasikan beberapa aktivitas seperti melakukan pembiasaan, keteladanan, pembinaan disiplin serta mengimplementasikan CTL (Contekstual Teaching and Learning). Hasil penelitian menunjukan bahwa program ziarah makam Syekh Abdul Muhyi memiliki kontribusi penting terhadap pengembangan nilai karakter di sekolah dasar Kecamatan bantarkalong Kabupaten Tasikmalaya.
The phenomenon of widespread moral decadence among students has become a serious concern in the world of education, encouraging the need for the development of character values which is the main concern of teachers. The focus of this research is to analyze the pilgrimage program of Syekh Abdul Muhyi's grave in the development of character values in elementary schools in Bantarkalong District, Tasikmalaya Regency. The purpose of this research is to examine the contribution of this pilgrimage program in forming several character values which include religious dimensions, discipline, tolerance, environmental concern, and responsibility. The benefit of this research is that it can increase the sensitivity of elementary school students to local wisdom that belongs to the area where they live where the values contained in it can be utilized as an effort to develop character values that can be implemented in their daily lives. Qualitative research methods with a descriptive approach are used to carefully analyze data obtained from various sources, interviews, observations, and analysis of relevant documents. Data analysis techniques using reduction techniques, data presentation and conclusion. This study describes the role of the teacher as an agent of change who encourages students to develop personal integrity, preparing them to become citizens who have good character. Through this research it was also found that the development of character values through the Syekh Abdul Muhyi grave pilgrimage program at SDN Pamijahan was carried out by integrating several activities such as habituation, exemplary, discipline coaching and implementing CTL (Contextual Teaching and Learning). The results showed that the Syekh Abdul Muhyi grave pilgrimage program had an important contribution to the development of character values in elementary schools, Bantarkalong District, Tasikmalaya Regency
The studies on dumping babies among the community of UiTM in Lendu, Alor Gajah Melaka / Nor Azura Abdul Latif and Abdul Muhyi Samsudin
This study sought to examine the reason on why baby dumping issue is occurred, the effect of the action and how to curb or avoid this issue from bad to worse and widely spread in the future generation and could even damage our image as a Muslim. This research was carried out by the study of quantitative research based on primary data. The questionnaires are randomly distributed to the community of UiTM that have been divided into non-academic staff. Non-academic staffs are the Hal Ehwal Akademik (HEA), Hal Ehwal Pelajar (HEP), UiTM librarians, security guards and also cleaners in Alor Gajah Melaka campus. A self-administered questionnaire was used as the data collection method and the data have been analyzed by using SPSS 16.0 version. Four main causes was identified that lead to dumping baby issues which are lack of education of religion, moral and ethic, media, society behaviours or perception towards pregnant teenagers and individual itself. All of those causes mostly will contribute the baby dumping issues because the lack of education in religion make the teenagers fell not guilty to dump their baby, lack of social support also make them feel afraid to get the help. In this research also we identified the effects of this issues and certain solutions to reduce this baby dumping issues happened
Implementation of FinTech technology in Islamic banking: challenges and opportunities at Maybank Wakaf Siku / Abdul Muhyi Al Haq Halim
This study aims to explore the issue of customer acceptance of FinTech technology in the context of Islamic banking and challenges related to the implementation of FinTech technology in Islamic banking at Maybank Wakaf Siku. The background of this study starts from the challenges faced by Islamic banking institutions in adapting to the rapidly developing financial technology, while ensuring compliance with Shariah principles. The main objective of this study is to investigate customer perceptions, barriers to adoption of FinTech-enabled banking services, identify challenges and opportunities offered by the integration of FinTech in the Islamic banking domain, as well as propose appropriate strategies to overcome these challenges and take advantage of the opportunities available. This qualitative study involves in-depth interviews with 5 respondents who are Maybank Wakaf Siku customers. The findings of this study show some key challenges such as security concerns and Shariah compliance, but there are also great opportunities to improve customer satisfaction and trust through more efficient use of FinTech. Through this study, it is hoped to contribute in strengthening the integration of FinTech in Islamic banking by complying with Shariah principles
- …
