1,721,048 research outputs found
A STUDY ON THE ABILITY OF THE SECOND YEAR STUDENTS OF SMA YLPI PERHENTIAN MARPOYAN PEKANBARU IN COMPLETING SENTENCES WITH CORRECT VERB FORMS
Abstract: learning English cannot be separated from learning grammar. In grammar the students learn about many things, such as sentence patterns and the combination of words and phrases. Most students faced difficulty in applying correct grammar. This study aimed to find out the students ability in selecting correct verb forms.This research was a descriptive research. This study showed that the level of students ability was at mediocre level. It was at 50.10. It also showed that the highest score obtained by the students was 75. Meanwhile, the lowest score was 32.5. The average score The error commonly occured in selecting correct “infinitive†to complete the sentences.Â
Pendekatan Ekosistem Sebagai Kerangka Pengelolaan DAS Batanghari di Jambi-Sumatera: Ecosystem Approach as a Framework for Batanghari Watershed Management in Jambi-Sumatra
Abstract
There is recently an issue; Batanghari watershed degradation and sustaining Batanghari watershed quality in Jambi Province, Indonesia. Watershed degradation and sustaining watershed quality as well as putting ecological point of view upon watershed management, which in turn emerge in term : integrated watershed management, is also a global issue. We aware of the interdependency between land and soil along with all inherent aspects in them and watershed quality and all inherent aspects in it. It has been proved that unwise measures upon land and soil gives undesired impacts on watershed quality. The first damages shall mostly be upon water quality. For the existence of human being and livelihood of most communities depend strongly on soil and water, at least true to happen in developing and under developed countries, it is true then that both soil and water should be regarded as very important natural resources. By this thought managing and sustaining watersheds need an integrated measures for both components: river, landuse-soil through an ecological approach, conditio sine qua none all efforts will end in failure. The main goal of watershed management are to integrate the use of water, soil, forest and other natural resources within watershed into a NOT CONFLICTING dynamic-ecological based management. This goal can be achieved through an implementation of interdependency concept to regional space planning.
Â
Keywords: watershed, river and interdependency
Â
Abstrak
Baru-baru ini ada masalah; Degradasi DAS Batanghari dan  Menjaga Kualitas DAS Batanghari di Provinsi Jambi, Indonesia. Degradasi DAS dan mempertahankan kualitas DAS serta menempatkan sudut pandang ekologi pada pengelolaan DAS, yang pada gilirannya muncul dalam istilah: pengelolaan DAS terpadu, juga merupakan isu global. Kami menyadari adanya saling ketergantungan antara tanah dan tanah beserta segala aspek yang melekat di dalamnya dan kualitas DAS serta segala aspek yang melekat di dalamnya. Terbukti bahwa tindakan yang tidak bijaksana terhadap tanah dan tanah memberikan dampak yang tidak diinginkan pada kualitas DAS. Kerusakan pertama sebagian besar terjadi pada kualitas air. Karena keberadaan manusia dan mata pencaharian sebagian besar masyarakat sangat bergantung pada tanah dan air, setidaknya benar terjadi di negara berkembang dan terbelakang, maka benar bahwa tanah dan air harus dianggap sebagai sumber daya alam yang sangat penting. Dengan pemikiran tersebut pengelolaan dan pelestarian DAS memerlukan langkah-langkah yang terintegrasi dari kedua komponen: sungai, tata guna lahan-tanah melalui pendekatan ekologis, conditio sine qua none semua upaya akan berakhir dengan kegagalan. Tujuan utama pengelolaan DAS adalah mengintegrasikan pemanfaatan air, tanah, hutan dan sumber daya alam lainnya di dalam DAS ke dalam suatu pengelolaan berbasis ekologis dinamis yang TIDAK BERKONFLIK. Tujuan ini dapat dicapai melalui implementasi konsep interdependensi dalam perencanaan ruang wilayah.
Â
Kata kunci: DAS, sungai dan interdependens
IMPROVING STUDENTS’ READING COMPREHENSION OF BUSINESS TEXT BY USING “TELLS” STRATEGY AT FIRST YEAR STUDENTS OF STATE POLYTECHNIC OF BENGKALIS
Reading comprehension of business texts is necessary for students. However, many students, especially D3- Business Administration department of state polytechnic of Bengkalis faced dificulties in comprehending the business texts. Therefore, TELLS Strategy was proposed. TELLS strategy is a strategy which stands for Study the title; Examine for clues; Look for Important words; Look for hard words, and identify the setting. This article aimed at finding out to what extent the strategy to improve the students reading comprehension of business text and the factors that influence the changes. This classroom action research was conducted in two cycles. The result found that the students’ score in reading comprehension of business texts test increased. The average score of students in cycle 1 was 64 and in cycle 2 was 70. Then, the factors that influence the improvement of students’ reading comprehension of business texts were interesting teaching material, teacher’s role, and students’ willingness to do all procedures of the strategy. In conclusion, the implementation of TELLS strategy could improve the students’ reading comprehension of business texts majoring Business Administration improved both students’ score in reading tests and their interest in reading activities
The Application of Matching Game to Improve Students' English Vocabulary Mastery
Based on the problem found in the classroom, mastering English vocabulary is one of the weekness for the student. It seemed difficult for them to understand some words which are unfamiliar with them or even memorizing them. The use of learning media can be more effective and interesting way in learning.Therefore the researcher decided to solve these problems by applying a matching game which can be used as an alternative learning medium in learning Vocabulary. The participanst of this research were 20 Students of English Depatment. Tihis game was conducted in two cycles. Each cycle consisted of four meetings; three meetings for teaching the vocabulary by using this media, and one of them was for the test. The research findings showed that matching game could improve the students' vocabulary mastery. It could be seen from the improvement of the students score in test. The average score of students in cycle 1 was 63 and in cycle 2 was 66. In conclusion, the implementation of matching game could improve the students' Vocabulary mastery at first year Students of English Department at State Polytechnic of Bengkalis
PENEGAKAN HUKUM DALAM KASUS KEBAKARAN HUTAN YANG DILAKUKAN OLEH KORPORASI DI AREAL HTI DAN HPH DI KALIMANTAN BARAT
Tekad pemerintah untuk menghadapkan perusahaan-perusahaan (korporasi seperti HTI dan HPH) yang melakukan kegiatan pembakaran hutan seperti tahun 1997 ke pengadilan guna diadili dan dijatuhi sanksi yang keras hingga sekarang tidak ada realisasinya. Melainkan terhadap kasus kebakaran hutan tersebut hanya diselesaikan secara persuasif belaka dan terhadap korporasi yang bersangkutan hanya diberi tindakan administratif dengan alasan demi untuk pembangunan.
Bekerjanya birokrasi pemerintah dalam hal ini instansi Kehutanan beserta jajarannya di yang ditandai dengan aktivitas Polisi khusus (Polsus) Kehutanan dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Departemen Kehutanan di Kal-Bar di dalam proses penegakan hukum terhadap kasus kebakaran hutan yang dilakukan oleh korporasi, dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, politik, ekonomi, teknologi; pengaruh tersebut bisa pula dilihat dari manusianya baik sebagai pribadi maupun sebagai penegak hukum dimana is menjadi anggota dari lembaganya. Dalam menghadapi kebakaran hutan seperti tahun 1997, birokrasi pemerintah hanya berupaya memadamkan api belaka, dan ini-pun tidak membawa hasil yang maksimal.
Penegakan hukum terhadap kasus kebakaran hutan yang dilakukan oleh korporasi tahun 1997 di Kalbar tidak terlaksana sebagaimana mestinya, dikarenakan : Tidak adanya kemauan atau tidak bekerjanya secara sungguh-sungguh aparat penegak hukum terutama birokrasi pemerintah yang ada di daerah ini untuk melaksanakan penyelidikan dan penyidikan terhadap perusahaan HTI dan HPH (Korporasi) yang melakukan pembakaran hutan; Selama ini penguasa/pemerintah selalu menganggap bahwa masyarakat peladang berpindahlah yang mengakibatkan kebakaran hutan dan penegakan hukum selalu ditujukan kepada mereka.
Bekerjanya birokrasi pemerintah dalam hal ini instansi Kehutanan beserta jajarannya di Kalbar dalam proses penegakan hukum terhadap kasus kebakaran hutan yang dilakukan oleh korporasi terdapat kendala-kendala yang mempengaruhinya, seperti: Minimnya jumlah aparat Polsus dan PPNS Departemen Kehutanan, dan kurangnya pemahaman tentang penyelidikan dan penyidikan tentang tata cara pengumpulan bukti awal yang berkaitan dengan perusakan dan pencemaran lingkungan akibat kebakaran hutan, apalagi yang dilakukan oleh korporasi; Tidak adanya soling berkoordinasi antara instansi Kehutanan dengan Kepolisian/penyidik; Adanya penyalahgunaan diskresi yang ada padanya sehingga tidak dilakukannya penyelidikan dan penyidikan; Mengenai pembentukan, substansi dan penerapan hukum/Undang-Undang yang berkaitan dengan perlindungan hutan dari perusakan/ kebakaran ataupun mengenai lingkungan hidup mengandung cacat atau tidak adil, tidak demokratis, serta diskriminatif; Adanya kebijakan pembangunan di bidang ekonomi dengan pertumbuhan yang setinggi-tingginya, mendorong penguasa/ pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakannya yang hanya mementingkan kepentingan politik pemerintah dan keuntungan yang besar bagi elit penguasa/pejabat pemerintah beserta kelompoknya semata (korporasi/ konglomerat); Penyelenggaraan pemerintahan yang lebih menggunakan pendekatan kekuasaan dan pada hukum, birokrasi yang kuat (sentalistik) dan tidak netral serta tidak profesional serta adanya intervensi penguasa/pemerintah terhadap penegakan hukum (kemandirian dan kebabasan) di negeri ini; Di Kal-bar, bekerjanya birokrasi pemerintah hanya mengikuti/menunggu petunjuk atau kebijakan dari penguasa/ pemerintah Pusat dan telah terkooptasi dengan kebijakan dan tindakan yang diambil penguasa/pemerintah (Orde Baru) yang terkenal otoriter, birokrasi yang sudah dilanda krisis moral dan di tubuh birokrasi yang masih menguat dengan nepotisme, kolusi, dan korupsi (NICK), dimana hingga sekarang ini pengaruhnya masih sulit untuk dihilangkan; Persepsi aparat pemerintah (birokrat) dari instansi kehutanan dan jajarannya di Kalbar terhadap terjadinya kebakaran hutan tahun 1997, bahwa kebakaran hutan pada umumnya sebagai akibat dari adanya kegiatan perladangan berpindah yang dilakukan dengan pembakaran oleh masyarakat di sekitar hutan; Persepsinya aparat pemerintah (birokrat) terhadap penegakan hukum dalam kasus kebakaran hutan yang dilakukan oleh korporasi, bahwa hendaknya penegakan hukum tersebut dilaksanakan secara persuasif yakni demi alasan pembangunan, jadi tidak mesti selesaikan secara pidana; Namun demikian, persepsi aparat pemerintah (birokrat) tersebut akan menjadi negatif, jika terhadap kasus kebakaran hutan 1997 yang dilakukan oleh korporasi tersebut dilaksanakan penyelidikan dan penyidikan, penuntutan dan diadili di depan Pengadilan, apalagi terhadap pihak perusahaan (korporasi) yang bersangkutan dijatuhi hukuman (pidana penjara). Oleh karena di balik terjadinya kebakaran hutan tahun 1997 yang dilakukan oleh korporasi tersebut bukan tidak mungkin terdapat tindakan kejahatan nepotisme, kolusi dan korupsi yang tersangkut atau terlibat di dalamnya para oknum penguasa/pejabat pemerintah bersama-lama dengan pihak perusahaan (korporasi) yang bersangkutan. Jadi hal tersebut sedikit banyak akan berhubungan dengan psikologis pejabat pemerintah yang bersangkutan yakni terutama sekali menyangkut citra atau nama baik aparat dan organisasi instansi kehutanan yang bersangkutan.
Karena birokrasi pemerintah Departemen Kehutanan beserta jajarannya telah diberi kewenangan bersama Kepolisian untuk melaksanakan tugas penyelidikan dan penyidikan di bidang Kehutanan, dan keberadaannya atau tempatnya berada di tengah-tengah masyarakat, maka sudah semestinya memiliki kesadaran moral, kemauan, perhatian, merasakan, serta memahami kondisi dan tuntutan masyarakat mengenai pentingnya penegakan hukum secara sungguh-sungguh terhadap kasus kebaran hiitan yang dilakukan oleh korporasi. Bekerjanya birokrasi pemerintah dalam hal ini instansi Kehutanan beserta jajarannya di bidang Kehutanan, hendaknya bertindak sesuai dengan kapasitas atau tujuan yang telah ditetapkan, yang didukung sarana dan prasarana yang memadai, struktur organisasi, administrasi atau manajemen yang baik dan terbuka serta mampu berkoordinasi dengan instansi yang terkait dengan baik. Karena itu perlu memberdayakan masyarakat seperti Lembaga Swadaya masyarakat (LSM) untuk ikut mengawasi. Selain itu hendaknya setiap persepsi aparat pemerintah (birokrat) terutama dari instansi Kehutanan dan jajarannya tidak lagi berpandangan bahwa pengertian hutan adalah hanya berupa kayu yang dapat dieksploitasi dan dieksport ke luar negeri secara besar-besaran demi pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi yang setinggi-tingginya, namun merusak dan mencemari lingkungan akibat rusak atau terbakamya hutan yang meresahkan dan merugikan rakyat banyak
UPAYA HUKUM DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PERDANGAN EMAS BERJANGKA PADA PT. RIFAN FINANCINDO BERJANGKA PEKANBARU
ABSTRACT
Gold futures trading is very vulnerable to disputes. Therefore, understanding the efforts to resolve futures trade disputes is very important to know. This research was conducted empirically, the nature of descriptive analysis research with qualitative data analysis. Futures trading dispute at PT. Rifan Financindo Berjangka Pekanbaru is caused by customer misunderstanding about the process and legal aspects of futures trading. This was made worse by the lack of education conducted by futures brokers and the existence of unlawful acts committed by sales marketing and futures broker representatives. Gold futures trade dispute settlement can only be done by litigation in the South Jakarta District Court or non-litigation through the Commodity Futures Trading Arbitration Board. Constraints encountered in resolving disputes are; disproportionate choice of dispute resolution forums, lack of customer understanding of legal aspects in resolving disputes and violations of Standard Dispute Resolution Operational Procedures.
Keywords: Gold futures, Dispute resolution, Litigation, Non-litigation
ABSTRAK
Perdagangan emas berjangka sangat rawan dengan sengketa.Karena itu, pemahaman terhadap upaya penyelesaian sengketa perdagangan berjangka sangat penting untuk diketahui.Penelitian ini dilakukan secara yuridis empiris, sifat penelitian deskriptif analisis dengan analisa data secara kualitatif. Sengketa perdagangan berjangka pada PT. Rifan Financindo Berjangka Pekanbaru disebabkan karena ketidakpahaman nasabah tentang proses dan aspek hukum perdagangan berjangka. Hal itu diperparah lagi dengan tidak maksimalnya edukasi yang dilakukan pialang berjangka serta adanya tindakan melanggar hukum yang dilakukan sales marketing dan wakil pialang berjangka.Penyelesaian sengketa perdagangan emas berjangka hanya dapat dilakukan secara litigasi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan atau secara non-litigasi melalui Badan Arbitrase Perdagangan Berjangka Komoditi.Kendala yang ditemui dalam penyelesaian sengketa, adalah; pilihan forum penyelesaian sengketa yang tidak proporsional, kurangnya pemahaman nasabah terhadap aspek hukum dalam penyelesaian sengketa dan pelanggaran Prosedur Operasional Standar penyelesaian sengketa.
Kata kunci :Emas berjangka, Penyelesaian sengketa, Litigasi, Non-litigas
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM IAIN PALOPO ANGKATAN 2013 MEMILIH PRODI EKONOMI SYARIAH
EFEKTIFITAS METODE ABA (APPLIED BEHAVIOUR ANALYSIS) DALAM MENINGKATKAN KOMUNIKASI EKSPRESIF PADA ANAK GANGGUAN AUTISME: (Kasus Anak Gangguan Autisme di Sekolah Luar Biasa (SLB) Autiscare, Batusangkar, Sumatera Barat)
ABSTRAK
Nama: Aswandi
Judul: EFEKTIVITAS METODE APPLIED BEHAVIOUR ANALYSIS (ABA) DALAM MENINGKATKAN KOMUNIKASI EKSPRESIF PADA ANAK GANGGUAN AUTISME: Kasus Anak Gangguan Autisme di Sekolah Luar Biasa (SLB) Autiscare, Batusangkar, Sumatera Barat.
Ketergantungan anak autis pada komunikasi primitif (penggunaan bahasa isyarat) adalah masalah utama yang membuat anak autis seringkali dipandang rendah. Sehingganya instansi pendidikan luar biasa dituntut juga untuk meningkatkan kemampuan komunikasi ekspresif mereka, salah satunya dengan metode Applied Behavior Analysis (ABA). Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas metode ABA dalam meningkatkan komunikasi ekspresif pada siswa autis SLB autiscare Batusangkar? Penelitian ini merupakan eksperimen Single Subject Research (SSR) dengan pendekatan kuantitatif. Kemampuan komunikasi ekspresif anak autis di SLB Autiscare Batusangkar terbukti meningkat setelah dilakukan terapi dengan Metode ABA yang terencana dengan matang. Kemampuan komunikasi ekspresif dapat ditingkatkan dengan menggunakan teknik Discrete Trial Training (DTT) dan teknik Prompt, penggunaan teknik hanya dapat dilakukan oleh terapis yang mempunyai kemampuan komunikasi yang baik dalam mengahadapi anak autis. Fluktuasi kemampuan komunikasi ekspresif yang dialami anak autis menurun setelah diterapi, inilah yang menjadi bukti bahwa metode ABA terbukti efektif. Bahkan peningkatan kemampuan komunikasi eksrepsif anak autis juga terlihat jelas pada fase ke fase.
Kata kunci: Komunikasi Ekspresif, Metode ABA, Auti
Implementasi Alat Pendeteksi Ketinggian Air Radiator Otomatis di Mesin EGS 1200 Pada PT Mega Power TBk Menggunakan Sensor Berbasis (IoT)
In this research, a design will be made for a Radiator Water Level Detector Device on a Kamtsu EGS Engine Using Sensor Based (IoT), this automation technology is used to detect water levels, and can carry out regular Radator water replacement on Komatsu EGS Engine Radiators. Methods in the height detection system radiator water which is integrated into the WhatsApp application is carried out using study sources, supporting theoretical basis, data or information as a reference in carrying out experiments, creating and preparing the final project. At this stage using data flow diagrams (flowcharts), block diagrams , and discusses the working system of the radiator water level detection system to describe the stages of problem solving along with the data flow with symbols that are easy to understand. The results of the overall tool testing were carried out to determine whether the tool made was successful or not. After testing each component and the assembly process, the entire tool testing process is carried out. From the test results, the ESP8266 Node MCU which is connected to the WhatsApp application using a tethering network is in good condition. The water level switch sensor connected to the ESP8266 Node MCU successfully communicated to WhatsApp. Based on the results of the tool testing carried out, this tool at a distance of 85 meters is no longer connected to Wi-Fi with the NodeMCU ESP8266 has been working with data such as a distance of 80 meters is still connected to Wi-Fi, meanwhile. This automatic radiator water level detection tool has been tested 10 times with a success rate of 100%
- …
