72 research outputs found

    Penetapan kadar polimorfi B kloramfenikol palmitat secara spektrofotometri inframerah = The quantitative analysis of chloramphenicol palmitatepolymorph B using infrared spectrophotometry

    No full text
    ABSTRACT: Metode pellet kalium bromida telah digunakan untuk analisis kuantitatif polimorfi metastabil kloramfenikol palmitat secara spektroskopi inframerah. Memperpendek waktu pencampuran dengan vibrating mill, dibawah tekanan 5 ton kompresi pada waktu pembuatan pellet, perubahan bentuk kristal kloramfenikol palmitat dapat dihindari. Melalui seleksi ratio serapan dari dua puncak spetrum dengan sedikit penerapan matematik ternyata dapat diperoleh persamaan kurva baku yang linear. Kata kunci: Kloramfenikol palmitat, polimorfi, analisis spektroskopi inframerah kuantitatif

    bahasa latin untuk farmasi dan kedokteran

    No full text
    viii ,134 hlm 15,5x24 c

    Analisis polimorfi kloramfenikol palmitat dalam bahan baku dan sediaan suspensi dengan DTA = The analysis of chloramphenicol palmitate polymorphism in the raw materials and the suspensions using DTA

    No full text
    ABSTRACT: Metode analisis termal dengan differential thermal analyzer (DTA) telah digunakan untuk penentuan polimorfi kloramfenikol palmitat. Kristal baku polimorfi A dan B, dibuat seperti publikasi Tamura dan Kuwano. Metode kualitatif dan semikuantitatif dilakukan dengan menganalisis profil data termogram, sedangkan metode kuantitatif dilakukan dengan membuat kurva balm, hubungan antara berat kristal dengan Inas puncak termogram. Hash/ penelitian ini menunjukkan bahwa metode DTA dapat digunakan untuk menentukan bentuk kristal kloramfenikol palmitat, balk secara latalitatif maupun semikuantitatif, tetapi tidak dapat untuk penentuan secara kuantitatif. Metode tersebut kemudian digunakan untuk menentukan bentuk kristal kloranifenikol palmitat dalam bahan baku, serta beberapa sediaan suspensi paten. Lebih lanjut terbukti bahwa semua bahan baku kloranffenikol palmitat dan soma suspensi yang diteliti,,tidak dUumpai adanya polintotfi A. Kata kunci : Kloranrfenikol palmitat, DTA, artaliSis kualitatif, serrulatantitatif

    Bahasa Latin untuk farmasi & Kedokteran

    No full text
    viii, 134 hlm.; 24 cm

    DIMETILSULFOKSID SEBAGAI ENHANCER TRANSPOR TRANSDERMAL TEOFILIN SEDIAAN GEL

    No full text
    Dimethylsulfoxide (DMSO) has been intensively studied the 19th century. This substance is used as a medicine and solve. It can also be used as an absorption enhancer of various drugs, either synthetical or herbal medicines. This study conducted with DMSO as transdermal absorption enhancer of theophylline, which often used as an anti-cellulite dosage forms. The experiments studied in vitro transdermal absorption of theophylline in gel dosage forms, containing 7% theophylline dan various concentration of DMSO i.e. 0% , 3%, 5% and 7% DMSO respectively. These studies used skin membrane of Wistar strain male rats in a vertical type diffusion Cell. The results indicated that DMSO was very potential as a permeation enhancer theophylline, the formula containing 7% DMSO increased the theophylline transport from 17,9 µg to 139,1 µg

    PENINGKATAN PENETRASI AMINOFILIN DARI SEDIAAN GEL ANTISELULIT DENGAN ENHANCER PROPILEN GLIKOL MELALUI MEMBRAN KULIT TIKUS JANTAN

    No full text
    Banyak sediaan antiselulit yang beredar di pasaran menggunakan zat aktif aminofilin dalam berbagai bentuk sediaan topikal. Penetrasi aminofilin ke dalam kulit perlu ditingkatkan untuk meningkatkan penetrasi aminofilin dengan penambahan enhancer. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh konsentrasi propilen glikol sebagai enhancer terhadap transpor aminofilin menembus membran kulit tikus. Sediaan dibuat dalam empat formula, yaitu formula gel tanpa propilen glikol (kontrol), formula gel aminofilin dengan propilen glikol; 7%; 10%; 12% b/b. Semua formula dievaluasi sifat fisiknya, meliputi organoleptis, pH, daya sebar, dan daya lekat. Uji transpor dilakukan dengan menggunakan alat uji difusi tegak dengan medium reseptor (larutan Phospat Bufer Salin 0,1 M pH 7,4), medium donor (sediaan gel aminofilin), Suhu 35°C dan kecepatan pengadukan ± 300 rpm. Kadar aminofilin dalam kompartemen donor yang tertranspor ke kompartemen reseptor pada jam ke- 0; 0,5; 1; 1,5; 2; 2,5; 3; 4; 5; 6; 7; dan 8 jam ditentukan dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Data transpor dianalisis untuk ditentukan fluks dan efisiensinya. Dapat disimpulkan bahwa penambahan propilen glikol dapat mempengaruhi daya sebar dan daya lekat, akan tetapi tidak mempengaruhi pH sediaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan enhancer propilen glikol memberikan pengaruh yang signifikan (

    Bahasa latin untuk farmasi dan kedokteran

    No full text
    Bahasa Latin sering digunakan dalam terminologi dan tata nama di bidang Farmasi dan Kedokteran. Selain itu, beberapa bidang ilmu juga menggunakan bahasa bahasa Latin dalam pembentukan istilah dan tata nama

    PENGARUH SUHU TERHADAP PERUBAHAN KOEFISIEN PARTISI TEOFILIN DALAM PELARUT n-OKTANOL-AIR

    No full text
    Teofilin merupakan alkoloida yang terdapat dalam daun teh. Zat tersebut memiliki khasiat sebagai obat asma (vasodilator). Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh suhu terhadap perubahan koefisien partisi teofilin dalam pelarut oktanol-air. Fase air yang digunakan adalah larutan dapar fosfat pH 7,4, sedangkan variasi suhu yang digunakan untuk mencapai kesetimbangan distribusi solut diantara kedua pelarut adalah 30 °C, 37 °C dan 40 °C. Penetapan kadar obat dalam fase air dilakukan secara spektrofotometri pada panjang gelombang 295 nm. Harga koefisien partisi teofilin dalam pelarut oktanol- air pada suhu 30 °C, 37 °C dan 40 °C diperoleh hasil berturut-turut 4,93 ; 5,34 dan 5,46. Hasil uji t pada P = 0,95 untuk pengaruh suhu terhadap perubahan koefisien partisi teofilin dalam pelarut oktanol-air menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna

    Kebaya: Inspiration of Batik Semarang

    No full text
    Sebagai warisan budaya, proses membatik telah menjadi bagian dari kehidupan sekelompok orang yang menetap di pusat-pusat batik Indonesia. Sebut saja kota Solo, Yogyakarta, Lasem, Cirebon, Pekalongan, Madura, Garut, dan Riau. Sayangnya, meskipun banyak pengrajin batik berkiprah di kota Semarang, tapi nama batik Semarang tidak dikenal. Dalam buku ini, Sanggar Batik Semarang 16 mengenalkan dan mempopulerkan batik Semarang yang memiliki cirri khas berupa motif khas khasanah budaya Semarang. Para perancang busana yang tergabung dalam APPMI, yaitu Agustienna Siswanto, Christine Wibowo, Devy Rose, Elkana Gunawan Tanuwidjaja, Kesdik Tur Wiyono, Lily Yuwono, Pinky Hendarto, Rio by Rio, Soese Asmadhi, dan Tedjo Laksono. Mereka menciptakan koleksi kebaya yang bersanding selaras dengan keunikan batik Semarang.Kata kunci: batik, Semarang, kebay
    corecore