1,807,348 research outputs found

    Féiniúlacht agus teanga

    No full text
    Sa chaibidil seo dírítear ar an bhféiniúlacht, an náisiún agus teanga. Cuirtear béim ar leith ar choincheap na féiniúlachta de bhrí gurb é coincheap an náisiúin fócas na caibidle. Trasnaíonn coincheap na teanga an dá choincheap eile chun an plé a chur i gcomhthéacs sochtheangeolaíochta. Tá an Ghaeilge ina fráma don phlé uilig. Tugtar eolas don léitheoir ar chuid de na príomhchoincheapa a bhaineann le féiniúlacht agus go háirithe le féiniúlacht náisiúnta, chomh maith le tuiscint ar ról na Gaeilge maidir le teacht chun cinn agus seasamh náisiún agus fhéiniúlacht náisiúnta na hÉireann.2019-10-01 JG: pdf replaced with publisher's permissio

    BAHASA INDONESIA untuk Perguruan Tinggi

    No full text
    BAB 1 PENDAHULUAN Kompetensi Dasar Mahasiswa mempunyai kemampuan untuk menjelaskan pentingnya bahasa Indonesia sebagai alat pengembangan kepribadian dan mempraktikkan bahasa tersebut baik dalam kegiatan ilmiah maupun nonilmiah. 1.1 Pengantar Bahasa Indonesia (BI) merupakan mata pelajaran yang sudah tercantum dalam kurikulum SD, SMTP, dan SMTA. Semestinya, kemampuan berbahasa Indonesia para lulusan SMTA itu sudah memadai. Pada kenyataanya, kemampuan berbahasa Indonesia para mahasiswa, rata-rata kurang memuaskan. Kekurangan yang relatif menonjol ialah kemampuan berbahasa Indonesia secara tertulis. Oleh karena itulah pada kurikulum di Perguruan Tinggi, mata kuliah bahasa Indonesia masih perlu dicantumkan. Mata kuliah bahasa Indonesia yang dalam kurikulum lama termasuk dalam kelompok Mata Kuliah Dasar Umum, dalam kurikulum baru (2006) termasuk dalam Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) (SK Dirjen Dikti Depdiknas RI No. 43/DIKTI/Kep/2006). Dengan demikian, pencantuman matakuliah bahasa Indonesia dalam kurikulum Perguruan Tinggi itu dimaksudkan sebagai: (1) media pembelajaran kemampuan berbahasa Indonesia para mahasiswa, dan (2) salah satu sarana pengembangan kepribadian para mahasiswa. 1.2 Bahasa Indonesia dan Kepribadian Bangsa Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang sudah terbentuk dalam kurun waktu kurang lebih satu abad. Dalam perjalanan sejarah itu, seluruh akal budi, pegalaman batin manusia Indonesia terdokumentasikan dalam bahasa Indonesia. Di antara yang terdokumentasikan itu ialah nilai-nilai luhur yang khas hanya dimiliki orang Indonesia. Misalnya: bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh; berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Dari ungkapan itu dapat diketahui bangsa Indonesia sebagaimana tercermin dalam bahasa Indonesia menjunjung nilai-nilai persatuan, kebersamaan, dan kesetaraan. Nilai-nilai luhur yang khas milik bangsa Indonesia itulah kepribadian Indonesia. Sebagaimana keadaan bahasa Indonesia, kepribadian itu pun senantiasa bergerak secara dinamis. Meski demikian, dinamika itu hendaknya diarahkan jangan sampai mengikis jati diri bangsa. Kiranya mudah dipahami kalau dalam pelafalan kata pinjaman disesuaikan dengan sistem pelafalan bahasa Indonesia, misalnya kata publik, bungker; huruf [u] dilafalkan /U/; demikian pula sebaliknya, kata pinjaman yang dilafalkan /j/ yang dalam ejaan aslinya ditulis dengan huruf [g] dalam bahasa Indonesia ditulis dengan huruf [j], misalnya manajer, merjer.Dalam era globalisasi, pengaruh asing tidak mungkin dihindari, namun perlu di arahkan, dipilah dan dipilih mana yang bernilai positif bagi bangsa Indonesia. Dari uraian di atas mungkin timbul pertanyaan, “Mengapa para mahasiswa masih harus mencermati masalah-masalah kebahasaan?” Dalam mencermati aspek kebahasaan, khususnya pada ragam bahasa ilmiah, seorang penulis akan dihadapkan pada masalah-masalah yang renik-renik. Misalnya masalah ketepatan ejaan: asas, kualitas, efektivitas, jadwal bukan azas, kwalitas, efektifitas, jadual, atau ketepatan tanda baca: Rumah itu kecil, tetapi indah; Meskipun di pinggiran kota, lokasinya bebas banjir, bukan Rumah itu kecil tapi indah; Meskipun di pinggiran kota, namun lokasinya bebas banjir. Sebagaimana telah diketahui, karya ilmiah berhubungan terutama dengan bahasa tulis, dan merupakan hasil olah pikir yang memerlukan kecerdasan dan kecermatan. Kecerdasan dan kecermatan berpikir itu hendaknya juga tercermin dalam pemakaian bahasanya. Dalam proses belajar mengajar bahasa Indonesia, sikap dan perilaku cerdas, cermat, teliti diharapkan tertanam dalam diri para mahasiswa. Perilaku cerdas, cermat dan teliti merupakan salah satu cerminan pribadi manusia profesional yang sangat dibutuhkan dalam era globalisasi dewasa ini. 1.3 Bahasa Indonesia dan Nasionalisme Bangsa Indonesia sudah selayaknya bersyukur karena sejak sebelum merdeka, para pendahulu kita telah mempersiapkan sebuah bahasa nasional. Para pemuda dari bebagai suku bangsa dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 bersepakat menobatkan bahasa Melayu Tinggi menjadi bahasa Indonesia. Jadi, bangsa Indonesia telah memiliki bahasa Indonesia sejak sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI, yang kemudaian berkedudukan sebagai bahasa nasional. Jika dalam ungkapan lama mengatakan, “Bahasa adalah jiwa bangsa”, dapat pula dikatakan bahwa bahasa merupakan salah satu identitas bangsa pemiliknya. Bahkan kita merasa satu bangsa karena memiliki bahasa yang sama, yaitu bahasa Indonesia. Bagi bangsa Indonesia, bahasa Indonesia merupakan salah satu identitas nasional. Pembelajaran bahasa Indonesia di tingkat Perguruan Tinggi di samping dimaksudkan untuk memupuk rasa memiliki, mencitai, dan bangga menggunakannya, juga agar para mahasiswa sampai dengan setelah menjadi sarjana memiliki tanggung jawab untuk terus membina bahasa Indonesiana dan mengembangkan kemampuan dirinya dalam menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini perlu dilakukan karena bahasa Indonesia terus mengalami perkembangan, dan perkembangan yang mencolok ialah dalam bidang kosa kata. Pesatnya pertambahan kosa kata bahasa Indonesia menuntut para pemakainya untuk terus mengikuti perkembangan. Di pihak lain, adanya perkembangan itu menuntut semua pihak, termasuk para akademisi untuk ikut berperan dalam pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia. Dengan peran para akademisi ini diharapkan arah perkembangan bahasa Indonesia tetap konsisten dengan ciri khas bahasa Indonesia. Dapat dikatakan pembelajaran bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi, memang difokuskan agar mahasiswa memiliki kemahiran berbahasa Indonesia baik secara tertulis maupun lisan, namun (di masa depan) juga diharapkan adanya kepedulian terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Bangga menggunakan bahasa Indonesia dan peduli terhadap perkembangannya adalah sebagian dari nasionalisme. 1.4 Bahasa Indonesia dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Telah diketahui peran bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam dunia pendidikan. Di tingkat Perguruan Tinggi, bahasa Indonesia bukan hanya sebagai bahasa pengantar dalam kegiatan akademis saja, melainkan juga sebagai alat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (ipteks). Dengan peran ini, para akademisi didorong untuk memberdayakan semaksimal mungkin seluruh potensi bahasa Indonesia dalam pergulatannya di dunia ipteks. Di samping itu karena tuntutan perkembangan ipteks, para akademisi diharapkan ikut berperan dalam pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia. Dengan peran aktif para akademisi itu, pada satu sisi perkembangan ipteks bahasa Indonesiasa berjalan seiring dengan perkembangan bahasa Indonesia; pada sisi yang lain para akademisi sebagai kaum terpelajar benar-benar menjadi panutan, khususnya dalam berbahasa Indonesia. 1.5 Visi dan Misi Pendidikan Bahasa Indonesia (1) Visi Menjadikan bahasa Indonesia sebagai salah satu instrumen pengembangan kepribadian mahasiswa menuju terbentuknya insan akademis yang mahir berkomunikasi secara tertulis ataupun secara lisan dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. (2) Misi Tercapainya kemahiran mahasiswa berbahasa Indonesia untuk menguasai, menerapkan dan mengembangkan ipteks dengan penuh rasa tanggung jawab dalam kedudukannya sebagai kaum terpelajar dan warga negara Indonesia yang berbudi pekerti mulia. 1.6 Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar MK BI (1) Satandar Kompetensi Mahasiswa memiliki kemampuan berikut ini. a. Menggunakan bahasa Indonesia untuk mengungkapkan pikiran, gagasan, dan sikap ilmiah ke dalam karya ilmiah yang berkualitas. b. Memanfaatkan kemahiran berbahasa Indonesia untuk pengembangan diri sepanjang hayat. (2) Kompetensi Dasar Mahasiswa memiliki kemampuan berikut ini. a. Menunjukkan pengetahuan yang baik tentang sejarah, kedudukan, dan fungsi bahasa Indonesia serta menunjukkan kebanggaan mereka menggunakan bahasa Indonesia. b. Mengenali dan menjelaskan ciri-ciri bahasa Indonesia ragam ilmiah serta mewujudkannya dalam berbahasa Indonesia secara tertulis ataupun lisan dalam kinerja akademik. c. Membaca kritis berbagai ragam wacana untuk keperluan menyusun karya ilmiah. d. Menerapkan kriteria penulisan karya ilmiah dalam menyusun berbagai bentuk karya ilmiah. e. Mererapkan kriteria penulisan proposal akademik (ilmiah) untuk menghasilkan proposal yang bermutu , lengkap dengan perangkat administratifnya. f. Mepresentasikan karya ilmiah yang ditulisnya di depan forum diskusi kelas sesuai dengan kriteria presentasi yang baik. g. Menyusun teks pidato dan menyampaikannya sesuai dengan kriteria teks dan berpidato yang baik. h. Menyusun teks surat sesuai dengan kriteria surat yang baik. 1.7 Materi, Status Materi, dan Bobot Materi No Materi Status Bobot 1 Sejarah, kedudukan, dan fungsi bahasa Indonesia Komponen penunjang 7,5% 2 Bahasa Indonesia Ragam Ilmiah Komponen penunjang 7,5% 3 Membaca kritis untuk menulis Komponen utama 10% 4 Menulis adakemik Komponen utama 30% 5 Menyusun proposal Komponen utama 15% 6 Presentasi ilmiah Komponen utama 10% 7 Berpidato dalam situasi akademik Komponen utama 10% 8 Menulis surat dinas Komponen penunjang 10% Total 100

    KONSTRUKSI PASANGAN CALON DALAM PILGUB JATENG 2008 OLEH MEDIA MASSA (KASUS PEMBERITAAN JAWA POS RADAR SEMARANG DAN SUARA MERDEKA)

    No full text
    Pilgub Jateng 2008 adalah pemilihan kepala daerah langsung pertama yang terjadi di Jawa Tengah. Ada lima pasangan yang mencalonkan diri sebagai gubernur-wakil gubernur. Mereka adalah Bambang Sadono-M. Adnan (Partai Golkar), Agus Soeyitno-Kholiq Arif (PKB), Sukawi Sutarip-Sudharto (Partai Demokrat-PKS), Bibit Waluyo-Rustriningsih (PDI-P) dan HM. Tamzil-Rozaq Rais (PPP-PAN). Mekanisme pemilihan langsung berakibat jarak antara pasangan calon dengan pemilih menjadi semakin dekat sehingga setiap pasangan calon dituntut untuk memanfaatkan media dalam membangun citra positif. Dalam hal ini peran media sebagai sarana komunikasi politik menjadi cukup vital. Bagi pasangan calon, media adalah sarana strategis untuk menyebarluaskan pesan politik kepada khalayak. Media sebagai salah satu sumber informasi bagi masyarakat harus mampu menjalankan fungsinya dengan baik dengan berpegang pada netralitas. Namun, dalam operasionalnya media selalu dipengaruhi faktor internal dan eksternal yang membuat mereka tidak dapat sepenuhnya objektif. Media bukanlah institusi yang bebas nilai. Isi media tidaklah merefleksikan realitas yang ada namun mengkonstruksikan serangkaian fakta yang terjadi. Metode triangulasi digunakan untuk mengetahui bagaimana harian Jawa Pos Radar Semarang dan Suara Merdeka mengkonstruksikan masing-masing pasangan calon. Juga untuk mengetahui kecenderungan pemberitaan serta politik redaksional masing-masing media. Objek penelitian yang dipilih adalah beritaberita tentang pasangan calon di harian Jawa Pos Radar Semarang dan Suara Merdeka pada halaman satu dan rubrik khusus selama 26 Maret-22 Juni 2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harian Jawa Pos Radar Semarang berusaha responsif dengan isu-isu politik memberikan konstruksi yang favorable kepada pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif, Bibit Waluyo-Rustriningsih dan HM. Tamzil-Rozaq Rais. Sebaliknya, mereka memberikan konstruksi unfavorable kepada pasangan Bambang Sadono-M. Adnan dan Sukawi Sutarip- Sudharto. Sedangkan Suara Merdeka memilih gaya pemberitaan yang aman dan tidak tendesius kepada masing-masing pasangan calon. Hasilnya, mereka cenderung mengkonstruksikan pasangan Bambang Sadono-M. Adnan, Bibit Waluyo-Rustriningsih dan HM. Tamzil-Rozaq Rais dengan bingkai yang favorable. Sedangkan pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif dan Sukawi Sutarip- Sudharto dalam bingkai unfavorable. Pilgub Jateng 2008 adalah pemilihan kepala daerah langsung pertama yang terjadi di Jawa Tengah. Ada lima pasangan yang mencalonkan diri sebagai gubernur-wakil gubernur. Mereka adalah Bambang Sadono-M. Adnan (Partai Golkar), Agus Soeyitno-Kholiq Arif (PKB), Sukawi Sutarip-Sudharto (Partai Demokrat-PKS), Bibit Waluyo-Rustriningsih (PDI-P) dan HM. Tamzil-Rozaq Rais (PPP-PAN). Mekanisme pemilihan langsung berakibat jarak antara pasangan calon dengan pemilih menjadi semakin dekat sehingga setiap pasangan calon dituntut untuk memanfaatkan media dalam membangun citra positif. Dalam hal ini peran media sebagai sarana komunikasi politik menjadi cukup vital. Bagi pasangan calon, media adalah sarana strategis untuk menyebarluaskan pesan politik kepada khalayak. Media sebagai salah satu sumber informasi bagi masyarakat harus mampu menjalankan fungsinya dengan baik dengan berpegang pada netralitas. Namun, dalam operasionalnya media selalu dipengaruhi faktor internal dan eksternal yang membuat mereka tidak dapat sepenuhnya objektif. Media bukanlah institusi yang bebas nilai. Isi media tidaklah merefleksikan realitas yang ada namun mengkonstruksikan serangkaian fakta yang terjadi. Metode triangulasi digunakan untuk mengetahui bagaimana harian Jawa Pos Radar Semarang dan Suara Merdeka mengkonstruksikan masing-masing pasangan calon. Juga untuk mengetahui kecenderungan pemberitaan serta politik redaksional masing-masing media. Objek penelitian yang dipilih adalah beritaberita tentang pasangan calon di harian Jawa Pos Radar Semarang dan Suara Merdeka pada halaman satu dan rubrik khusus selama 26 Maret-22 Juni 2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harian Jawa Pos Radar Semarang berusaha responsif dengan isu-isu politik memberikan konstruksi yang favorable kepada pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif, Bibit Waluyo-Rustriningsih dan HM. Tamzil-Rozaq Rais. Sebaliknya, mereka memberikan konstruksi unfavorable kepada pasangan Bambang Sadono-M. Adnan dan Sukawi Sutarip- Sudharto. Sedangkan Suara Merdeka memilih gaya pemberitaan yang aman dan tidak tendesius kepada masing-masing pasangan calon. Hasilnya, mereka cenderung mengkonstruksikan pasangan Bambang Sadono-M. Adnan, Bibit Waluyo-Rustriningsih dan HM. Tamzil-Rozaq Rais dengan bingkai yang favorable. Sedangkan pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif dan Sukawi Sutarip- Sudharto dalam bingkai unfavorable

    Litearthacht aosach sa nGaeltacht: staidéar ar riachtanais agus ar chumas aosach maidir le litearthacht i nGaeilge

    No full text
    Ba í aidhm an staidéar taighde seo ná tuiscint a fháil ar dhearcadh, chumas agus riachtanais lucht labhartha na Gaeilge sa nGaeltacht maidir le litearthacht sa teanga sin i gcúinsí an tsíorbhrú atá ar an nGaeilge mar theanga phobail. Cuireadh agallamh ar sholáthraithe sheirbhís litearthachta d’aosaigh sa nGaeltacht (ochtar) agus ar chainteoirí Gaeilge (16 duine) a bhí ag úsáid na seirbhíse sin agus seirbhís oideachais aosaigh eile. Ceistíodh rannpháirtithe maidir lena mbraistintí faoin nGaeilge i gcleachtais litearthachta an phobail, agus faoi na tosca a bhí ag spreagadh foghlaimeoirí chun cúnamh a fháil. Trascríobhadh na hagallaimh agus rinneadh anailís théamach orthu le NVIVO. Forbraíodh ionstraim shuirbhé chun scileanna litearthachta Gaeilge a mheas agus chun eolas a bhailiú maidir le cleachtais agus riachtanais litearthachta Gaeilge. Bailíodh faisnéis ó 247 freagróir i dtrí thoghroinn i nGaeltacht Chonamara. Ba é leibhéal an oideachais fhoirmiúil an deitéarmanant ba shuntasaí maidir le leibhéal na scileanna agus inniúlacht a bhí ionann le leibhéal NFQ 3 (ar a laghad) ag formhór na ndaoine a chríochnaigh an mheánscolaíocht. Ba é an t-oideachas an deitéarmanant ba thábhachtaí freisin maidir le minice an Ghaeilge a úsáid ina gcleachtais litearthachta. Tugadh le fios go mbraitheann chuid mhór de mhuintir na Gaeltachta go bhfuil a gcuid scileanna litearthachta níos fearr i mBéarla ná i nGaeilge, ach go háirithe nuair a bhíonn scileanna ísle acu, agus go raibh an éagothroime sin ina toradh ar an ról ceannasach atá ag an mBéarla i gcleachtais litearthachta phobal na Gaeltachta. Cé go bhfuil litearthacht sa nGaeilge tábhachtach dá bhféiniúlacht mar phobal Gaeltachta, tá a feidhmiúlacht theoranta i gcleachtais litearthachta an phobail ag cur le cúngú feidhm na teanga agus leis an aistriú teanga go Béarla. Moltar seirbhís litearthachta Gaeilge d’aosaigh sa nGaeltacht a sholáthar go príomha mar thaca don phróiseas reachtúil pleanála teanga

    Haji Agus Salim: karya dan pengabdiannya

    No full text
    Buku ini berisikan tentang biografi haji Agus Salim dari masa kanak-kanak sampai akhir hayatnya. Buku ini juga menceritakan kisah-kisah perjuangannya untuk memperoleh kemerdekaan RI dan juga menceritakan perjuangan di masa tuanya

    SK Mengajar Genap 2022/2023 Agus S

    No full text
    SK Mengajar Genap 2022/2023 Agus

    SILANG GAYA DALAM PERTUNJUKAN WAYANG KULIT PURWA LAKON WAHYU WIJAYA KUSUMA SAJIAN SURONO GONDO TARUNO

    No full text
    ABSTRAK Penelitian berjudul “Silang Gaya Dalam Pertunjukan Wayang Kulit Purwa Lakon Wahyu Wijaya Kusuma Sajian Surono Gondo Taruno” bertujuan menjawab permasalahan tentang; (1) Bagaimana unsur garap pakeliran gaya Surakarta, Jawatimuran (Porongan) dan Yogyakarta sajian Surono (2) Bagaimana bentuk/wujud silang gaya pakeliran sajian Surono dalam lakon Wahyu Wijaya Kusuma. (3) Mengapa terjadi silang gaya pakeliran dalam pertunjukan wayang kulit lakon Wahyu Wijaya Kusuma sajian Surono. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari konsep silang gaya yang dikemukakan oleh Sunardi dan Umar Kayam. Analisis penelitian ini bersifat deskriptif dengan model analisis kualitatif yang menggunakan teknik pengumpulan data melalui langkah-langkah observasi, studi pustaka, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur adegan Wahyu Wijaya Kusuma, wujud silang gaya ditunjukkan dengan adanya unsur garap pakeliran gaya Surakarta, Jawatimuran (Porongan) dan Yogyakarta. Silang gaya yang dilakukan Surono dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor eksternal yang terdiri dari silang gaya pedalangan dalam perspektif perubahan budaya, pengaruh media massa. Internal terdiri dari memudarnya lokalitas dalang, kreativitas dalang, pengaruh pakeliran padat dan faktor penanggap

    Studi tentang tema lukis Agus Kamal

    No full text
    Tujuan penelitian untuk mengetahui tema-tema lukisan Agus Kamal dari tahun 1983 sampai dengan 1990 melalui obyek pelukisannya dan untuk mendapatkan deskripsi mengenai konsep seni lukis dan proses visualisasinya.Tema lukisan dalam kurun waktu tertentu dapat berubah-ubah dari satu tema ke tema yang lain, tema lukisan Agus Kamal berdasarkan obyek pelukisnya digolongkan menjadi empat macam yaitu religius, manuisa dengan kebudayaannya, manusia dan alam seta tema alam itu sendiri

    Anggaran pendapatan dan belanja keluarga/ Surono

    No full text
    viii, 103 hal.; 23 cm

    Teagasc agus Foghlaim na Gaeilge i Scoileanna Meán-Bhéarla. Dearcthaí na bPáistí, na nDaoine Óga, na dTuismitheoirí, na Múinteoirí, na bPríomhoidí agus na Múinteoirí faoi Oiliúint. Tuarascáil 2: I dTreo Plean Gnímh don Ghaeilge i Scoileanna Meán-Bhéarla

    No full text
    Reáchtáladh comhairliúchán fairsing chun léargas a fháil ar thuairimí réimse rannpháirtithe i leith theagasc agus foghlaim na Gaeilge i mbunscoileanna agus in iarbhunscoileanna meán-Bhéarla. Sa tuarascáil seo, déantar iniúchadh ar thuairimí agus ar eispéiris páistí, daoine óga, múinteoirí, múinteoirí faoi oiliúint agus príomhoidí a bhfuil baint acu leis an oideachas bunscoile nó leis an oideachas iar-bhunscoile. Ar an iomlán, chuir na rannpháirtithe in iúl gur mhaith leo an Ghaeilge a fhoghlaim, ar bhonn prionsabail, ach dhírigh siad aird chomh maith ar réimse dúshlán a chuireann bac ar fhoghlaim na Gaeilge agus ar dul chun cinn sa Ghaeilge sa chóras i gcoitinne. Roinn na rannpháirtithe neart moltaí a rachadh chun sochair do thimpeallacht níos rathúla, níos ionchuimsithí agus níos spreagúla a chruthú d’fhoghlaim, do theagasc agus do mheasúnú na Gaeilge
    corecore