1,724,511 research outputs found

    KAJIAN FILOLOGI DAN SASMITA DALAM SÊRAT SASMITARASA

    Full text link
    KAJIAN FILOLOGI DAN SASMITA DALAM SÊRAT SASMITARASA Oleh Sya’ban Hidayah NIM 07205241072 ABSTRAK Penelitian ini adalah penelitian deskriptif filologi modern. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan naskah, mentransliterasikan teks, menyunting teks dan menerjemahkan teks Sêrat Sasmitarasa. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mendeskripsikan macam-macam sasmita dan laku yang terdapat dalam naskah Sêrat Sasmitarasa. Objek penelitian ini adalah Sêrat Sasmitarasa. Pengumpulan data dilakukan dengan inventarisasi naskah, deskripsi naskah, transliterasi teks dengan metode transliterasi ortografi, suntingan teks edisi standar disertai aparat kritik, terjemahan teks dengan metode harfiah, isi, dan terjemahan bebas, dan pemaknaan dengan pembacaan heuristik dan hermeneutik. Instrumen penelitian menggunakan alat bantu kartu data. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis deskriptif. Keabsahan data diperoleh melalui validitas semantik dan reliabilitas intraratter dan interater Hasil penelitian terdiri dari lima macam, yaitu sebagai berikut. Pertama, deskripsi naskah Sêrat Sasmitarasa masih baik dan terbaca jelas. Kedua, proses transliterasi dilakukan dengan pembetulan-pembetulan teks yang dinilai kurang tepat dan tidak sesuai dengan ejaan bahasa Jawa yang berlaku. Ketiga, proses penyuntingan dilakukan dengan perubahan bacaan, yaitu penambahan, pengurangan, dan penggantian huruf maupun bacaan yang tidak sesuai dengan konteks kalimat dan tidak mempunyai makna yang jelas. Keempat, terjemahan disesuaikan dengan konteks kalimat yang terdapat di dalam teks Sêrat Sasmitarasa. Kelima, hasil penelitian ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama terdiri atas macam-macam sasmita yaitu 1) sasmita seseorang mendapat kesusahan dan kemurkaan Tuhan, meliputi air mata keluar tanpa sebab, bicara berlebihan tanpa sebab, tercium bau busuk tanpa sebab, hati berdegup tanpa sebab, badan tidak tentram tanpa sebab, tertawa berlebihan, nafsu yang berlebihan, rasa kantuk yang berlebihan, dan keinginan yang berlebihan; 2) sasmita seseorang mendapat pertolongan Tuhan, meliputi ingatan yang menimbulkan air mata, ketenangan yang menimbulkan kesusahan, kesadaran yang menimbulkan kesabaran, dan rasa syukur yang menimbulkan penerimaan. Bagian kedua terdiri atas macam-macam laku atau sikap dalam menghadapi sasmita, yaitu bersikap patut, paham, pandai bertindak, ksatria, memiliki kelebihan, dan bersikap waspada

    Analisis Seleksi Karyawan pada PT. Sejahtera Bersama Sasmita

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses seleksi karyawan dalam perusahaan PT. Sejahtera Bersama Sasmita, mengetahui masalah-masalah yang mungkin terjadi dalam menyeleksi karyawan, dan faktor apa saja yang dipertimbangkan dalam proses seleksi pada PT. Sejahtera Bersama Sasmita. Hasil analisis menunjukkan bahwa PT. Sejahtera Bersama Sasmita sudah menyediakan sarana yang berfungsi sebagai wahana praktik mata kuliah pemasaran dan kewirausahaan bagi mahasiswa. Dapat disimpulkan bahwa seleksi karyawan pada PT. Sejahtera Bersama Sasmita sudah sesuai dengan prosedur. Hal ini dapat dilihat dari caranya memilih dan mendapatkan karyawan atau tenaga kerja yang sesuai dengan keinginan perusahaan. Proses seleksi ini merupakan proses yang terjadi dari dua arah di mana perusahaan menawarkan pekerjaan dengan kompensasi yang layak

    PERUBAHAN PENGGUNAAN PENANDA SASMITA GENDHING PADA PERTUNJUKAN WAYANG KULIT PURWA GAYA SURAKARTA

    Full text link
    Tujuan utama penelitian ini, yaitu mengetahui perubahan penggunaan sasmita gendhing dalam pertunjukan wayang kulit gaya Surakarta berdasarkan penanda yang digunakan oleh dalang. Target penelitian, yaitu: (1) teridentifikasinya penanda sasmita gendhing yang digunakan di dalam pertunjukan wayang kulit purwa gaya Surakarta; (2) ditemukannya perubahan penggunaan penanda sasmita gendhing; dan (3) diterbitkannya satu artikel ilmiah dalam jurnal nasional. Metode analisis, yaitu: (1) identifikasi untuk menentukan materi sasmita gendhing dalam lakon-lakon wayang kulit purwa gaya Surakarta; (2) identifikasi untuk menentukan jenis-jenis penanda yang digunakan dalam sasmita gendhing; (3) menganalisis kaitan antara penanda dan jenis-jenis penanda sasmita gendhing; (4) menganalisis perubahan penggunaan sasmita gendhing; (5) evaluasi hasil analisis; dan (6) menyajikan dalam bentuk laporan sebagai pertanggungjawaban ilmiah

    MENYUSUN STRATEGI BAURAN PEMASARAN PT. JOEY SASMITA LENCANA

    Full text link
    MENYUSUN STRATEGI BAURAN PEMASARAN PT. JOEY SASMITA LENCAN

    [Kuliah Tamu] Solar Panel di Residential - Ilham Rizqi Sasmita

    No full text
    Kuliah tamu mengenai Proyek PLTS Residential untuk Arsitek ang dibawakan oleh Ilham Rizqi Sasmita dari PT. Batara Energi Indonesi

    Kreativitas dan Pola Pikir Masyarakat Jawa dalam Sasmita Tembang Macapat (Sebuah Kajian Pragmatik)

    Full text link
    Penelitian ini berjudul: Kreativitas dan Pola Pikir Masyarakat Jawa dalam Sasmita Tembang Macapat (Sebuah Kajian Pragmatik). Masalah penelitian ini adalah (1) bagaimanakah bentuk sasmita tembang macapat (STM) dalam bahasa Jawa? (2) apakah fungsi STM bahasa Jawa? (3) apakah maksud STM bahasa Jawa? Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mendeskripsikan bentuk STM dalam bahasa Jawa, baik yang berbentuk kata, frase, dan sinonim, (2) mendeskripsikan fungsi STM bahasa Jawa, baik yang berfungsi sebagai pengasah pikiran, (3) mendeskripsikan maksud STM bahasa Jawa, baik yang ditunjukkan oleh ko-teks (tuturan) maupun konteks (hal-hal di luar teks). Penelitian ini mengambil lokasi di Kota Surakarta. Penyediaan data penelitian ini dengan menggunakan teknik pustaka. Analisis data ini menyangkut analisis penentuan bentuk sasmita tembang, fungsi sasmita tembang, dan maksud sasmita tembang. Penentuan bentuk STM ini dengan metode deskriptif. Teknik dasarnya dengan teknik pilah, yaitu semua bentuk STM yang diperoleh dari pustaka dipilahkan, dan teknik lanjutannya dengan teknik catat. Penentuan fungsi ini dilakukan dengan deskriptif fungsional. Penentuan maksud ini dengan menggunakan analisis pragmatik. Teknik dasarnya adalah dengan teknik pilah yaitu dengan cara memilah maksud (jawaban) sasmita tembang berdasarkan koteks (berdasarkan tuturan semata) dan maksud (jawaban) sasmita tembang berdarkan konteks (hal-hal yang ada di luar teks). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat ditarik simpulan: (1) bentuk STM bahasa Jawa terdiri atas berbentuk suku kata (misalnya: -kur- untuk tembang Pangkur, kata dudukwuluhe untuk tembang Megatruh, frase megat nyawa untuk tembang Megatruh, klausa lir mas timbul ing warih untuk tembang Maskumambang, dan brangtaa untuk tembang Asmaradana); (2) fungsi STM bahasa Jawa adalah untuk memberikan informasi kepada para pembaca atau penikmat tembang untuk mengetahui jenis tembang yang dibaca (awal pada ’bait’ atau pupuh ’kesatuan pada’); memberikan informasi jenis tembang pada pupuh berikutnya; estetis pada tembang macapat dengan ditunjukkan oleh adanya diksi, misalnya: brangtaa untuk menyebut tembang Asmaradana; dan (3) secara pragmatis STM bahasa Jawa dapat diketahui maksudnya bahwa sasmita tembang berdasarkan ko-teks (berdasarkan tuturan semata) dan maksud (jawaban) sasmita tembang berdarkan konteks (hal-hal yang ada di luar teks). Berdasarkan kajian pragmatik ini menujukkan adanya salah satu bentuk kreativitas dan pola pikir masyarakat Jawa melalui sasmita tembang, dan dalam menyampaikan maksud dilakukan secara langsung dan tidak langsung

    PENDIDIKAN SEKSUALITAS KOMPREHENSIF PADA LUKISAN KARYA CITRA SASMITA

    Full text link
    Kekerasan berbasis gender terus terjadi di tengah masyarakat. Salah satu tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan memberi edukasi kepada masyarakat, yaitu dengan Pendidikan Seksualitas Komprehensif yang menggunakan pendekatan berbasis hak dan kesetaraan-keadilan gender. Proses edukasi ini dapat dilaksanakan di bangku pendidikan maupun di luar sekolah/universitas. Dengan begitu, proses pendidikan dapat dilakukan dimana saja, salah satunya di ruang pamer dengan media karya seni. Salah satu seniman yang merespon permasalahan kekerasan berbasis gender sebagai ide penciptaan karyanya adalah Citra Sasmita. Ia mengungkapkan permasalahan kekerasan berbasis gender sebagai konsep penciptaan karyanya yang tentunya sangat menarik untuk dikaji. Penelitian ini menggunakan metode kritik seni dan Components of Comprehensive Sexuality Education menurut International Planned Parenthood Association (IPPF) untuk mengetahui bagaimana deskripsi Lukisan karya Citra Sasmita dan bagaimana nilai-nilai pendidikan seksual komprehensif yang terkandung dalam lukisan karya Citra Sasmita. Penelitian ini menemukan bahwa dalam karya-karyanya Citra mencoba menampilkan realita-realita yang ia lihat dan alami sebagai perempuan dalam budaya patriarki. Selain itu, pada konsep-konsep lukisan karya Citra Sasmita juga terdapat nilai-nilai pendidikan seksualitas komprehensif diantaranya gender; kesehatan reproduksi dan HIV; hak sesksual dan hak asasi manusia; kepuasan; kekerasan; keragaman; dan hubungan manusia. Kata kunci: Kekerasan, Pendidikan, Lukisan, Citra Sasmit

    PELATIHAN PENYUSUNAN PERANGKAT PENILAIAN PEMBELAJARAN UNTUK GURU SMK SASMITA JAYA 1 DAN SMK SASMITA JAYA 2, TANGERANG SELATAN, BANTEN

    Full text link
    Salah satu tugas guru sebagai pendidik professional adalah menilai hasil belajar siswa. Guru harus mampu menyusun perangkat penilaian pembelajaran dengan tepat. Perangkat penilaian pembelajaran berupa kisi-kisi penilaian, item butir soal tes berbasis HOTS (high order thinking skills), pedoman peskoran, dan pedoman penilaian. Berdasarkan realita di lapangan dan hasil survey awal di SMK Sasmita Jaya 1 dan SMK Sasmita Jaya 2, Tangerang Selatan, Banten, terdapat beberapa permasalahan terkait penilaian pembelajaran tersebut. Adapun permasalahan penilaian pembelajaran antara lain guru hanya fokus terhadap penilaian ranah kognitif saja, kemampuan guru dalam menyusun perangkat penilaian masih rendah, guru belum mampu menyusun item butir soal yang berkualitas, penilaian hanya berfokus pada hasil tanpa mempertimbangkan penilaian proses, dan penilaian yang dilakukan masih mengandung unsur subjektivitas. Berdasarkan  hasil survei awal di SMK Sasmita Jaya 1 dan SMK Sasmita Jaya 2, Tangerang Selatan, Banten, guru-guru belum mampu menyusun perangkat penilaian pembelajaran dengan tepat. Banyak guru yang masih melakukan penilaian pada ranah kognitif saja dan mengabaikan penilaian afektif dan psikomotorik. Penyusunan item butir soal sebagai instrument penilaian ranah kognitif siswa juga belum tepat. Soal yang disusun guru sebagian besar masih menggunakan soal low order thinking skill (keterampilan berpikir rendah). Atas dasar itu dilakukan Pengabdian kepada Masyarakat dengan tujuan menyusun perangkat penilaian pembelajaran dengan tepat. PkM ini dilaksanakan pada 4-6 Oktober 2021 menggunakan media aplikasi Zoom Meeting. Hasil yang diperoleh yaitu adanya peningkatan pemahaman dan ketrampilan guru terkait menyusun perangkat penilaian pembelajaran dengan tepat. Sebelum adanya pelatihan, rata-rata pemahaman guru tentang penyusunan perangkat penilaian pembelajaran memperoleh nilai 68, sedangkan setelah diberi pelatihan menjadi 84. Keterampilan guru dalam membuat menyusun perangkat penilaian pembelajaran juga meningkat dibuktikan dengan produk berupa kisi-kisi penilaian, item butir soal tes berbasis HOTS (high order thinking skills), pedoman peskoran, dan pedoman penilaian yang wajib dibuat oleh peserta pelatihan.Kata Kunci: Perangkat Penilaian Pembelajaran, Guru SMK, High Order Thingking Skill (HOTS

    MENDOBRAK NILAI-NILAI PATRIARKI MELALUI KARYA SENI: ANALISIS TERHADAP LUKISAN CITRA SASMITA

    No full text
    Patriarki merupakan simbol dari kekuasaan, perangkap, dan hegemoni yang menciptakan wacana-wacana meminggirkan keberadaan perempuan. Dalam dunia seni rupa, subaltern perempuan membutuhkan upaya mengungkapkan di bagian mana perempuan berbicara dan tidak berbicara. Perupa perempuan menarik untuk diungkap sebagai subaltern. Partisipasi perempuan sebagai perupa diharapkan menghilangkan gambaran perempuan yang selama ini diciptakan oleh perupa laki-laki. Dominasi perupa laki-laki menunjukkan minimnya perempuan perupa, seolah dunia perupa tidak memberi tempat bagi perempuan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, yaitu, dengan wawancara terstruktur, observasi, mengkaji dokumen dan arsip. Hasil yang dicapai dari karya Citra Sasmita adalah lukisan dengan figur perempuan dan simbol- simbol yang berkaitan dengan konsep purusa dan pradanapada budaya Hindu Bali, misalnya seperti tumbuhan kaktus sebagai simbol purusa. Warna-warna yang sering digunakan yaitu warna hijau, biru, hitam, putih, coklat, merah.</jats:p
    corecore