45 research outputs found
Kurva Laktasi Induk Domba Jonggol (Domba Ekor Tipis) Berdasarkan Umur Induk yang Dipelihara dengan Sistem Penggembalaan Grazing System
ABSTRACT
The objectives of this research were to know the effect of ewe’s age on curve of milk yield reared on grazing. This research was done in The Jonggol Animal Science Teaching, and Research Unit (JASTRU) located in Singasari Village, Jonggol, Bogor district. As many 100 local sheep comprises of pregnant and lactating ewes on average 1-4 years old were used in this research. The sheeps were grazed from 9 a.m. to 4 p.m. and housed on night. The result showed that ewe’s age different effect its of curve milk yield. Lactation peak is expected within 1-2 weeks of lambing, followed by a decreasing phase to the 16 weeks. Decreace of theewes 1 year age showed is not stable if comparation the ewes 3-4 year age.
Key words : ewes, curve milk yield,grazing system
PROFIL PENDAPATAN POLA KEMITRAAN AYAM BROILER DENGAN PETERNAK MANDIRI DI KOTA BENGKULU
Profil Pendapatan Pola Kemitraan Ayam Broiler dengan Peternak Mandiri di Kota Bengkulu (dibawah bimbingan Ir. Siwitri Kadarsih, MS dan Jarmuji, S. Pt. M. Si. 2014. 25 Halaman). Bertujuan untuk mendiskripsikan manajemen dan kelayakan usaha beternak ayam broiler antara pola kerjasama kemitraan dengan peternak mandiri. Industri perunggasan di Indonesia hingga saat ini berkembang sesuai dengan kemajuan perunggasan global yang mengarah kepada sasaran mencapai tingkat efisiensi usaha yang optimal, namun upaya pembangunan industri perunggasan tersebut masih menghadapi tantangan yang mencakup kesiapan daya saing produk, utamanya bila dikaitkan dengan lemahnya kinerja penyediaan bahan baku pakan yang merupakan 60-70 % dari biaya produksi, yang sebagian besar masih sangat tergantung dari impor. Salah satu komoditi perunggasan yang memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan adalah peternakan ayam ras pedaging karena didukung oleh karakteristik produknya yang dapat diterima oleh semua masyarakat Indonesia. Perkembangan sub-sektor peternakan khususnya ayam ras pedaging di Kota Bengkulu didukung oleh kebutuhan akan daging ayam yang meningkat, sementara kebutuhan daging ayam kampung belum memenuhi kebutuhan pasar. Oleh sebab itu usaha peternakan harus terus dikembangkan agar hasilnya terus menerus dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan penelitian ini diharapkan dengan adanya beternak ayam broiler pola kerjasama diharapkan dapat meningkatkan pendapatan peternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen dan kelayakan usaha beternak ayam broiler antara pola kerjasama kemitraan dengan peternak mandiri. Penelitian dilaksanakan di peternakan Kota Bengkulu. Pemilihan peternakan ditentukan secara Purposive dengan pertimbangan peternak tersebut memiliki pengalaman yang cukup lama dalam kemitraan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli - September 2013. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei pada peternak yang memiliki jumlah ternak masingmasing 5.000 ekor/periode yang menjalin kerjasama dengan kemitraan A, kemitraan B dan peternak mandiri. Sampel yang diambil sebanyak 3 peternak. Adapun data yang diambil meliputi data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh melalui wawancara langsung dengan peternak responden dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuisioner) yang telah disusun terlebih dahulu. Data primer terdiri dari manajemen budidaya ayam broiler. Sedangkan data sekunder dapat diperoleh dari rekording peternak. Data yang diperoleh dianalisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, R/C Rasio usaha ternak pola mandiri sebesar 1,22, R/C Rasio usaha ternak pola kemitraan A sebesar 1,20, sedangkan R/C Rasio usaha ternak dengan pola kemitraan B sebesar1,14. Adapun nilai Break Event Point (Rupiah) pada peternakan mandiri sebesar Rp. 1.307.245 peternak pola kemitraan A sebesar Rp. 1.305.417, sedangkan pada peternak pola kemitraan B sebesar Rp. 1.332.989. Berdasarkan data hasil penilitian dapat disimpulkan bahwa usaha peternakan ayam broiler peternak kemitraan A lebih menguntungkan dibandingkan dengan peternak kemitraan. Hal ini dapat dilihat dari besarnya pendapatan peternak. Dimana peternak kemitraan A pendapatannya yaitu Rp. 24.936.690, pendapatan peternak kemitraan B yaitu sebesar Rp. 13.797.869. Sedangkan pendapatan peternak mandiri yaitu sebesar Rp. 22.170.912
Peningkatan Kualitas Sakura Blok sebagai pakan suplemen terhadap Performa Sapi Kaur yang Dipelihara Terintegrasi dengan Kelapa Sawit
Pertumbuhan industri kelapa sawit saat ini yang mencapai 14,3 juta ha berpotensi menghasilkan hasil samping berupa pelepah sawit cukup besar yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ruminansia. Pelepah sawit tidak dapat diberikan kepada ternak ruminansia dalam bentuk tunggal karena memiliki beberapa kelemahan yaitu kandungan protein kasar rendah yaitu 1.32-4.80% dan terdapat kandungan lignin hingga 30.18% yang dapat menghambat sistesis mikrobia rumen. Oleh karena itu, pemanfaatan pelepah sawit sebagai ransum ruminansia harus ditingkatkan kualitasnya dengan perlakuan seperti amoniasi dan penambahan pakan kosentrat atau pakan suplemen. Sakura blok merupakan pakan suplemen hasil modifikasi Urea Molases Blok (UMB) dengan formulasi campuran bahan baku utama limbah gula kelapa, dedak, jagung, sagu, urea dan mineral yang mampu menyediakan keseimbangan energi, nitrogen dan nutrien lainnya yang mudah larut yang dibutuhkan pertumbuhan mikroba dan produksi ternak ruminansia. Sakura blok telah diproduksi secara komersil dan digunakan secara luas baik pada ternak pedaging maupun ternak perah di Propinsi Bengkulu. Namun demikian, sebagai pakan suplemen, kandungan zat nutrisi sakura blok tergolong rendah terutama protein kasar yang hanya 17.83%. Cacing tanah merupakan bahan pakan sumber protein yang berpotensi untuk meningkatkan kualitas sakura blok. Kandungan protein kasar cacing tanah cukup besar, yaitu 75% dan merupakan sumber utama asam amino bercabang seperti valin, leusin dan isoleusin yang diperlukan untuk pertumbuhan mikroba rumen. Keunggulan lain, cacing tanah dapat hidup dan berkembang dengan baik pada media kotoran ternak sapi untuk menghasilkan pupuk organik bagi tanaman kelapa sawit. Oleh karena itu dilakukan serangkaian penelitian:
1. Penelitian Tahap 1
Tujuan penelitian untuk mendapatkan formula terbaik dari penggunaan level cacing tanah dan bungkil sawit sebagai subtitusi jagung dalam sakura blok komersil dalam meningkatkan produk fermentasi rumen dan kecernaan zat makanan secara in vitro. Bahan yang diuji adalah penggunaan tepung cacing tanah pada level 0, 2, 4, 6, dan 8 % pada formula sakura blok plus dan sakura blok komersial sebagai kontrol. Bungkil sawit sebagai subtitusi bahan jagung diberikan dalam jumlah sama yaitu 15% pada masing masing perlakuan sakura blok plus. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 6 perlakuan (5 perlakuan level cacing tanah pada sakura blok plus dan 1 sakura blok komersil sebagai kontrol), diulang sebanyak 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi penggunaan level cacing tanah maka semakin meningkat kandungan protein kasar dan Total digestible Nuutrien pada sakura blok plus. Namun demikian, hasil analisa secara in vitro menunjukkan konsentrasi amonia (NH3), asam lemak terbang (VFA: Volatile Fatty Acid ), asam lemak bercabang (BCFA: Branched Fatty Acid) dan populasi bakteri teringgi dihasilkan pada perlakuan cacing tanah dengan level 6%. Konsentrasi pH rumen dan kecernaan nutrisi (bahan kering, bahan organik dan protein) tidak berbeda antar perlakuan.
2. Penelitian Tahap 2
Penelitian tahap kedua bertujuan mendapatkan dosis optimal suplementasi sakura blok plus pada ransum sapi pelepah sawit amoniasi. Pada penelitian tahap II ini diambil 3 peringkat terbaik dosis sakura blok plus yang optimal pada ransum pelepah sawit amoniasi dalam meningkatkan produk fermentasi dan kecernaan zat makanan secara in vitro. Suplementasi sakura blok plus pada perlakuan ransum pelepah sawit amoniasi diberikan sebanyak 8,10,12 dan 14 % pada masing-masing perlakuan. Perlakuan ransum pelepah sawit amoniasi kontrol digunakan 10% sakura blok komersil pada ransum pelepah sawit amoniasi. Hasil penelitian menunjukkan tiga terbaik perlakuan pemberian sakura blok plus pada tahap 2 adalah level 10%, 12% dan 14%. Meskipun demikian, perlakuan sakura blok plus pada dosis 12% adalah yang paling optimal dalam meningkatkan NH3, VFA total, VFA parsial (asetat), kecernaan serat (neutral detergen fiber, hemiselulosa dan selulosa) dan total bakteri. Meskipun total gas terbanyak pada perlakuan level 12% dan 14% sakura blok plus dalam ransum berbasis pelepah sawit amoniasi, tetapi persentasi gas methan terkecil dihasilkan pada level 12% sakura blok plus, hal ini disebabkan proporsi antara asam asetat dan propionat yang rendah.
3. Penelitian Tahap 3
Tujuan penelitian dari penelitian tahap 3 ini adalah menguji 3 formula ransum Pelepah Sawit Amoniasi (PSA) terbaik hasil penelitian tahap 2 yang disuplemen sakura blok plus dalam meningkatkan performa ternak sapi kaur. Hasil penelitian secara in vivo pada tahap 3 diperoleh pertambahan bobot badan yang tinggi diperoleh perlakuan 12% dan 14% sakura blok plus. Namun secara ekonomi perlakuan suplementasi 12% sakura blok plus yang menghasilkan pendapatan paling besar, hal ini ditunjukan pada efisiensi ransum yang tinggi, feed cos per gain yang rendah, Income Over Feed Cost (IOFC) dan Reveune per cost (R/C) yang tinggi.
Kesimpulan sakura blok plus merupakan modifikasi sakura blok komersil dengan menggunakan 6% cacing tanah dan bungkil sawit sebagai pengganti jagung. Suplementasi 10%, 12% dan 14% sakura blok plus pada ransum berbasis pelepah sawit amoniasi merupakan dosis yang optimal dalam meningkatkan produk fermentasi rumen, kecernaan dan total bakteri secara invitro. Meskipun demikian, suplementasi 12% sakura blok plus pada ransum berbasis pelepah sawit meberikan hasil yang terbaik dalam meningkatkan performa sapi kaur dan pedapatan yang dihitung berdasarkan biaya pakan
Produksi Susu Induk terhadap Pengaruh Pertambahan Bobot Badan, Bobot Sapih dan Daya Hidup Anak Domba Ekor Tipis Jawa Periode Prasapih
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh produksi susu induk terhadap pertambahan bobot badan, bobot sapih dan daya hidup anak domba ekor tipis Jawa periode pra-sapih. Penelitian dilakukan di UnitPenelitian dan Pengajaran Ternak Jonggol (JASTRU), Desa Singasari, Jonggol Bogor tahun 2007. Domba yang digunakan adalah sebanyak 100 ekor dalam keadaan bunting dan laktasi yang berumur rata-rata 3-5 tahun. Domba dilepas untuk grazing dari pukul 9 hingga 16 dan malamnya dikandangkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi susu secara nyata berpengaruh terhadap pertambahan berat badan, berat sapih pada 2 bulan dan daya hidup pra-sapih. Domba jantan memiliki rata-rata pertambahan berat badan, berat sapih dan daya hidup yang lebih tinggi dari pada betina
THE EFFECTS OF MILK PRODUCTION OF THE JAVANESE THIN TAIL ON AVERAGE DAILY GAIN, WEANING WEIGHT AND SURVIVAL OF PRE-WEANING LAMB
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh produksi susu induk terhadap pertambahan bobot badan, bobot sapih dan daya hidup anak domba ekor tipis Jawa periode pra-sapih. Penelitian dilakukan di Unit Penelitian dan Pengajaran Ternak Jonggol (JASTRU), Desa Singasari, Jonggol Bogor tahun 2007. Domba yang digunakan adalah sebanyak 100 ekor dalam keadaan bunting dan laktasi yang berumur rata-rata 3-5 tahun. Domba dilepas untuk grazing dari pukul 9 hingga 16 dan malamnya dikandangkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi susu secara nyata berpengaruh terhadap pertambahan berat badan, berat sapih pada 2 bulan dan daya hidup pra-sapih. Domba jantan memiliki rata-rata pertambahan berat badan, berat sapih dan daya hidup yang lebih tinggi dari pada betina
Produksi Susu Induk Terhadap Pengaruh Pertambahan Bobot Badan, Bobot Sapih Dan Daya Hidup Anak Domba Ekor Tipis Jawa Periode Prasapih
Effectiveness of Replacing Rice Bran with Palm Oil Processing Solid by-products (Solid) on the Performance of Kaur Cattle
Sakura Block Plus is a feed supplement designed to enhance cattle performance, with rice bran accounting for 22% of its total ingredients. However, due to the increasing scarcity and rising prices of rice bran, palm oil processing solid by-products offer a potential alternative. This study aimed to assess the effect of Sakura Block Plus supplemented with solid at different levels as a substitute for rice bran on dry matter intake and body weight gain in Kaur cows fed a natural grass diet. A Latin Square Design (LSD) was employed, involving four treatments and four replications. The treatments consisted of wild grass plus a sakura block, with 5.5% (P1), 11% (P2), 16.5% (P3), and 22% (P4) of the solid as rice bran replacement. The results indicated that replacing rice bran with solid up to 22% did not significantly affect dry matter intake (P>0.05). Still, there was a trend toward increased body weight gain at the highest solid level. Dry matter intake averaged 7.22-7.96 kg/head/day (2.80-3.06% of body weight), while body weight gain ranged from 0.41-0.52 kg/head/day. These findings suggest that solid can replace up to 100% of rice bran in sakura block plus formulations without adversely affecting cattle performance.Sakura Block Plus merupakan suplemen pakan untuk meningkatkan performa ternak. Berdasarkan komposisi bahan penyusunnya, penggunaan dedak sebagai bahan baku dalam Sakura Block Plus mencapai 22% dari total bahan. Namun, dedak saat ini sulit didapatkan di pasaran dengan harga yang terus meningkat. Padatan hasil pengolahan kelapa sawit berpotensi menjadi alternatif pengganti bekatul karena ketersediaannya yang melimpah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suplementasi sakura block plus yang mengandung solid pada berbagai level sebagai substitusi dedak terhadap konsumsi bahan kering dan pertambahan bobot badan sapi kaur yang diberi pakan basal rumput alam. Penelitian ini menggunakan Rancangan Bujur Sangkar Lengkap (RBSL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan ransum dibagi menjadi: Rumput alam + sakura block plus yang mengandung 5,5% solid (P1), 11% solid (P2), 16,5% solid (P3) dan 22% solid (P4) sebagai pengganti dedak. Penggunaan solid sampai level 22% sebagai pengganti dedak pada sakura block plus tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap konsumsi bahan kering, namun terdapat kecenderungan pertambahan bobot badan pada level solid yang paling tinggi. Rataan konsumsi bahan kering berkisar antara 7,22-7,96 kg/ekor/hari (2,80-3,06% dari bobot badan), sedangkan pertambahan bobot badan berkisar antara 0,41-0,52 kg/ekor/hari. Solid dapat menggantikan hingga 100% dedak padi dalam formulasi sakura block plus tanpa mempengaruhi kinerja sapi kaur yang diberi pakan basal rumput alami
PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG DAUN KATUK (Sauropus androgynus) DAN RAGI TAPE (Saccharomyces cereviciae) DALAM RANSUM TERHADAP PRODUKSI TELUR PUYUH (Coturnix-coturnix japonica)
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemberian tepung daun katuk (Sauropus androgynus) dan ragi tape (Saccharomyces cereviciae) dalam ransum pada level yang berbeda terhadap produksi telur puyuh (Coturnix coturnix japonica). Penelitian dilaksanakan dari tanggal 19 Desember - 29 Januari 2014 di Comersial Zona of Animal Laboratory (CZAL) Universitas Bengkulu dengan menggunakan kombinasi tepung daun katuk dan ragi tape. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang digunakan adalah tepung daun katuk (2,5% dan 5%) serta ragi tape (0,25%, 0,5% dan 0,75%). Kombinasi perlakuan yang digunakan dalam penelitian adalah K1R1 (2,5% tepung daun katuk dan 0,25% ragi tape), K1R2 (2,5% tepung daun katuk dan 0,5% ragi tape), K1R3 (2,5% tepung daun katuk dan 0,75% ragi tape), K2R1 (5% tepung daun katuk dan 0,25% ragi tape), K2R2 ( 5% tepung daun katuk dan 0,5% ragi tape), K2R3 ( 5% tepung daun katuk dan 0,75% ragi tape). Hasil penelitian dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) menunjukkan bahwa pemberian kombinasi K1R1 (2,5% tepung daun katuk dan 0,25% ragi tape) mampu meningkatkan produksi telur puyuh serta menurunkan konversi ransum sedangkan K2R3 (5% tepung daun katuk dan 0,75% ragi tape) nyata menurunkan produksi telur puyuh
Identifikasi Produktivitas Induk Domba yang Digembalakan sebagai Dasar Kriteria Seleksi di Unit Pendidikan Penelitian dan Peternakan Jonggol Institut Pertanian Bogor (UP3J-IPB).
Local sheep is one of the animal genetic resources which is potential to be developed in supporting national meat supply. Local sheep has some superiorities such as twinning birth, early mature age and non seasonally breeding. Nevertheless, instead of these superiority, some problem still occurred as lacking of lamb survivability rate, low carcass percentage and high variances both genotype and phenotype parameters. The objectives of this study were to find the relationship between ewe age and its productivity, and ewe body measurements and its milk yield on grazing system. This study was conducted in the Jonggol Animal Science Teaching and Research Unit (JASTRU), Singasari Village, Bogor District, from June up to November 2007. As many 100 lactating ewes, on 1 to 4 years of age, were used in this study. Sheep were reared on grazing system from 9 a.m. to 4 p.m. and housed at night. The results showed that ewe age highly significant affected the body weight after lambing (p<0,01), milk yield (p<0,01), total birth weight (p<0,01) and total weaning weight (P<0,01) but did not significant for litter size. Breast circle, udder base circle, and udder height showed strong relationship in predicting 3 to 5 year ewe milk yield (p<0,01). The most productive ewes was 3 to 4 year ewes group
PENGARUH PEMBERIAN SAKURA BLOK PLUS YANG MENGANDUNG SOLID TERHADAP KONSUMSI DAN PERTAMBAHAN BERAT BADAN SAPI POTONG YANG DIBERI PAKAN RUMPUT ALAM
Ternak ruminansia merupakan salah satu jenis ternak yang mampu memberikan
kontribusi yang besar dalam kesejahteraan manusia dengan memberikan protein hewani
yang paling potensial melalui daging dan susu. Rumput alam memiliki keunggulan tersendiri
kandungan nutrisi yang tersusun jenis rumput alam spesies Axonopus compresus
mengandung BK 29,6%., PK 7,5%., LK 30,8%, Fosfor (P) 0,05%, Kalsium 0,39%, dan ME
(Mj/Kg) 8,7%. penggunaan sakura blok pada sapi bali dapat meningkatkan pertambahan
berat badan sebanyak 0,3 kg/ekor/hari jika dibandingkan dengan sapi yang hanya diberikan
pakan basal rumput alam. Lumpur sawit merupakan salah satu limbah hasil pengolahan sawit
yang tidak termanfaatkan. Solid mengandung BK 91,57%, BO 89,32%, PK 13,74% dan SK
22,68%.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi Pemberian lumpur sawit (solid) dengan
sakura blok plus Terhadap konsumsi dan Pertambahan Berat Badan (PBB) sapi kaur yang
diberi pakan rumput alam. Penelitian ini sudah dilaksanakan selama 60 hari di Commercial
Zone Animal Laboatory (CZAL) jurusan Peternakan dan Laboratorium Jurusan Peternakan
Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu. Penelitian menggunakan Rancangan Bujur
sangkar Latin (RBSL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Konsumsi Ransum merupakan
selisih antara jumlah pakan yang diberi dengan jumlah sisa pakan. Pengukuran pertambahan
bobot badan dilakukan selama ±2 bulan dengan cara menimbang berat badan ternak setiap
periode. Pertambahan bobot badan dihitung dengan cara mengurangi bobot badan akhir
dengan berat badan awal. Semua data yang diperoleh diolah dan dianalisis keragaman
menggunakan Analysis of Variance (ANOVA). Jika perlakuan berpengaruh signifikan maka
dilanjutkan dengan uji Duncan multiple range test (DMRT). Hasil sidik ragam didapatkan
bahwa suplementasi sakura blok plus dengan penambahan berbagai level solid berpengaruh
tidak nyata (P>0.05). Konsumsi BK ransum pada P3 memiliki nilai paling rendah dari semua
perlakuan yaitu 7,23 kg/ekor/hari. Secara angka konsumsi BK ransum P4 menunjukkan hasil
tertinggi yaitu 7,41 kg/ekor/hari. Pertambahan bobot badan merupakan salah satu peristiwa
perubahan bentuk tubuhyang mengalami pembesaran karena kualitas pemberian pakan yang
bagus. Perlakuan pemberian pakan blok dari masing-masing formula tidak berpengaruh
nyata (P>0,05) terhadap pertambahan bobot badan. Pertumbuhan sapi potong yang di
suplementasikan pakan blok berbasis lumpur sawit (solid) berkisar antara 0,22 – 0,38
kg/ekor/hari. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa suplementasi sakura
blok plus yang mengandung solid sebagai pengganti dedak tidak dapat memberikan
pengaruh yang signifikan pada konsumsi BK ransum dan pertambahan bobot badan.
Penggunaan solid 22% (P4) menghasilkan nilai konsumsi BK ransum tertinggi dibandingkan
perlakuan yang lainnya solid tidak menurunkan konsumsi BK ransum dan belum mampu
untuk menambah bobot badan pada sapi potong sehingga penggantian dedak padi
menggunakan solid 100% pada P4 (22% solid) dapat digunakan.
(Program Studi Peternakan, Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas
Bengkulu, 2024
