36 research outputs found
Penetapan kadar polimorfi B kloramfenikol palmitat secara spektrofotometri inframerah = The quantitative analysis of chloramphenicol palmitatepolymorph B using infrared spectrophotometry
ABSTRACT:
Metode pellet kalium bromida telah digunakan untuk analisis kuantitatif polimorfi metastabil kloramfenikol palmitat secara spektroskopi inframerah. Memperpendek waktu pencampuran dengan vibrating mill, dibawah tekanan 5 ton kompresi pada waktu pembuatan pellet, perubahan bentuk kristal kloramfenikol palmitat dapat dihindari. Melalui seleksi ratio serapan dari dua puncak spetrum dengan sedikit penerapan matematik ternyata dapat diperoleh persamaan kurva baku yang linear.
Kata kunci: Kloramfenikol palmitat, polimorfi, analisis spektroskopi inframerah kuantitatif
Analisis polimorfi kloramfenikol palmitat dalam bahan baku dan sediaan suspensi dengan DTA = The analysis of chloramphenicol palmitate polymorphism in the raw materials and the suspensions using DTA
ABSTRACT:
Metode analisis termal dengan differential thermal analyzer (DTA) telah digunakan untuk penentuan polimorfi kloramfenikol palmitat. Kristal baku polimorfi A dan B, dibuat seperti publikasi Tamura dan Kuwano. Metode kualitatif dan semikuantitatif dilakukan dengan menganalisis profil data termogram, sedangkan metode kuantitatif dilakukan dengan membuat kurva balm, hubungan antara berat kristal dengan Inas puncak termogram.
Hash/ penelitian ini menunjukkan bahwa metode DTA dapat digunakan untuk menentukan bentuk kristal kloramfenikol palmitat, balk secara latalitatif maupun semikuantitatif, tetapi tidak dapat untuk penentuan secara kuantitatif. Metode tersebut kemudian digunakan untuk menentukan bentuk kristal kloranifenikol palmitat dalam bahan baku, serta beberapa sediaan suspensi paten. Lebih lanjut terbukti bahwa semua bahan baku kloranffenikol palmitat dan soma suspensi yang diteliti,,tidak dUumpai adanya polintotfi A.
Kata kunci : Kloranrfenikol palmitat, DTA, artaliSis kualitatif, serrulatantitatif
Pengaruh kofeina terhadap kelarutan dan ketersediaan hayati O-Etoksibenzamida pada tikus jantan :: Ringkasan disertasi
DIMETILSULFOKSID SEBAGAI ENHANCER TRANSPOR TRANSDERMAL TEOFILIN SEDIAAN GEL
Dimethylsulfoxide (DMSO) has been intensively studied the 19th century. This
substance is used as a medicine and solve. It can also be used as an absorption
enhancer of various drugs, either synthetical or herbal medicines. This study conducted
with DMSO as transdermal absorption enhancer of theophylline, which often used as
an anti-cellulite dosage forms. The experiments studied in vitro transdermal
absorption of theophylline in gel dosage forms, containing 7% theophylline dan
various concentration of DMSO i.e. 0% , 3%, 5% and 7% DMSO respectively. These
studies used skin membrane of Wistar strain male rats in a vertical type diffusion Cell.
The results indicated that DMSO was very potential as a permeation enhancer
theophylline, the formula containing 7% DMSO increased the theophylline transport
from 17,9 µg to 139,1 µg
PENINGKATAN PENETRASI AMINOFILIN DARI SEDIAAN GEL ANTISELULIT DENGAN ENHANCER PROPILEN GLIKOL MELALUI MEMBRAN KULIT TIKUS JANTAN
Banyak sediaan antiselulit yang beredar di pasaran menggunakan zat aktif aminofilin dalam berbagai bentuk sediaan topikal. Penetrasi aminofilin ke dalam kulit perlu ditingkatkan untuk meningkatkan penetrasi aminofilin dengan penambahan enhancer. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh konsentrasi propilen glikol sebagai enhancer terhadap transpor aminofilin menembus membran kulit tikus. Sediaan dibuat dalam empat formula, yaitu formula gel tanpa propilen glikol (kontrol), formula gel aminofilin dengan propilen glikol; 7%; 10%; 12% b/b. Semua formula dievaluasi sifat fisiknya, meliputi organoleptis, pH, daya sebar, dan daya lekat. Uji transpor dilakukan dengan menggunakan alat uji difusi tegak dengan medium reseptor (larutan Phospat Bufer Salin 0,1 M pH 7,4), medium donor (sediaan gel aminofilin), Suhu 35°C dan kecepatan pengadukan ± 300 rpm. Kadar aminofilin dalam kompartemen donor yang tertranspor ke kompartemen reseptor pada jam ke- 0; 0,5; 1; 1,5; 2; 2,5; 3; 4; 5; 6; 7; dan 8 jam ditentukan dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Data transpor dianalisis untuk ditentukan fluks dan efisiensinya. Dapat disimpulkan bahwa penambahan propilen glikol dapat mempengaruhi daya sebar dan daya lekat, akan tetapi tidak mempengaruhi pH sediaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan enhancer propilen glikol memberikan pengaruh yang signifikan (
MAKNA TEOLOGI DALAM NOVEL TUHAN MAHA ASYIK SUDJIWO TEDJO DAN DR. MN. KAMBA
AbstractGod, with its various mysteries, has given man the element that the search for Him for a search which - apart from being a continuous and unending activity - also gives pleasure. That is why God is most fun: either as an object of study, or as the goal of the entire axis of human activity. The author\u27s understanding of God is very interesting to know, because this book of God is Most Fun is very different from other Theology books. The thinking method used is hermeneutics. The results of research on the novel Tuhan Maha Asik written by Sudjiwo Tedjo and DR. M N. Kamba, shows a direction in unique stories, starting from the discussion of wayang, marhain, worms, self and so on, which is presented with analogies in the style of children. The theological meaning contained in this book is theology of authentic self. Where we can know God through each human being, the self that is meant here is a natural self, not a self that has been entered by concepts formed from society or from outside
Bahasa latin untuk farmasi dan kedokteran
Bahasa Latin sering digunakan dalam terminologi dan tata nama di bidang Farmasi dan Kedokteran. Selain itu, beberapa bidang ilmu juga menggunakan bahasa bahasa Latin dalam pembentukan istilah dan tata nama
PENGARUH SUHU TERHADAP PERUBAHAN KOEFISIEN PARTISI TEOFILIN DALAM PELARUT n-OKTANOL-AIR
Teofilin merupakan alkoloida yang terdapat dalam daun teh. Zat tersebut memiliki khasiat sebagai
obat asma (vasodilator). Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh suhu terhadap perubahan koefisien
partisi teofilin dalam pelarut oktanol-air. Fase air yang digunakan adalah larutan dapar fosfat pH 7,4,
sedangkan variasi suhu yang digunakan untuk mencapai kesetimbangan distribusi solut diantara kedua
pelarut adalah 30 °C, 37 °C dan 40 °C. Penetapan kadar obat dalam fase air dilakukan secara
spektrofotometri pada panjang gelombang 295 nm. Harga koefisien partisi teofilin dalam pelarut oktanol-
air pada suhu 30 °C, 37 °C dan 40 °C diperoleh hasil berturut-turut 4,93 ; 5,34 dan 5,46. Hasil uji t pada
P = 0,95 untuk pengaruh suhu terhadap perubahan koefisien partisi teofilin dalam pelarut oktanol-air
menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna
