1,724,470 research outputs found
PIWULANG MORAL SAJRONE SERAT YUSUP
Abstrak Jawa
Serat Yusup mujudake reriptan sastra Jawa kang awujud naskah. Serat Yusup nggunakake metrum tebang macapat, kaserat kanthi basa Jawa kuna lan isih ana pengaruh basa Jawa lumrah. Serat Yusup ngandhut piwulang moral kang akeh banget, mula saka kuwi panliti nintingi unsure moral kanthi irah-irahan “Piwulang moral sajrone serat Yusup”. Kanggo nintingi aspek moral saka serat Yusup, panliti nggunakake tintingan struktural. Undheran panaliten yaiku: (1)kepriye isine serat Yusup, (2) kepriye struktur kang ana ing serat Yusup, (3) piwulang moral apa wae kang bisa dituladhani saka serat Yusup. Ancas panaliten yaiku: (1) Njlentrehake kepriye isine serat Yusup, (2) Njlentrehake struktur kang ana ing Serat Yusup, (3) Njlentrehake piwulang moral apa wae kang bisa dituladhani saka serat Yusup. Paedah saka panliten iki yaiku (1) Bisa kanggo acuan pamaca ngenani piwulang moral kang bisa dicakake marang panguripan saben dinane, (2) Bisa kanggo nambah paedah tumrap pangaribawane ilmu kang ana gandheng cenenge karo naskah kuna, mligine isi lan uga piwulang morale, (3) Bisa menehi paedah ngenani gegambarane serat Yusup marang masyarakat, mligine mahasiswa jurusan Basa Jawa.
Kanggo nliti serat yusup panliti nggunakake metode dheskriptif kualitatif. Sumber data panliten yaiku naskah serat Yusup kang kasimpen ing museum Mpu Tantular sidoarjo. Kaserat tahun 1897 nganggo tulisan tangan (manuscript) aksara Jawa lan uga nggunakake basa Jawa Kuna. Dene dhata kang bakal ditliti ing kene yaiku sakabehe tetembungan lan uga ukara kang ana ing serat Yusup mligine tetembungan kang gegayutan karo piwulang moral. Sajrone nganalisis karya sastra ora bisa uwal saka struktur karya sastra kasebut. Adhedhasar analisis struktural serat Yusup bisa dimangerteni yen nduweni isi yaiku lakone nabi Yusup wiwit dheweke cilik tumekane dhewasa, nganti dheweke dadi patih ing kerajaan arab lan bisa mulyakake wong tuane. Nilai moral kang ana ing serat Yusup dibedakake dadi telu (1) moral kang sesambungan karo dhiri pribadine (moral individu), (2) moral kang sesambungan antarane wong siji karo wong liyane (moral sosial), (3) moral sing sesambungan antarane manungsa karo gustine (moral religi). Moral individu ing desat Yusup iki kayata: kendel, sregep sinau, resikan lsp. Moral sosial kayata: seneng tetulung, tresna, tanggung jawab, welas asih, lan aja ngremehke liyan. Dene moral religi kayata: ndedonga, sholat, niat, lan uga tirakat. Kabeh kuwi mau mujudake perangan moral kang ana ing serat Yusup sing didudut saka struktur kang ana ing cerita.  
Studi Kasus Pengajaran Remedial Biologi Kelas XI A1 dan XI A6 SMAK Kolese Santo Yusup Malang
ABSTRAK Larasati, Indah Nurvita. 2016. Studi Kasus Pengajaran Remedial Biologi Kelas XI A1 dan XI A6 SMAK Kolese Santo Yusup Malang. Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc. Ph.D (II)Drs. Triastono Imam Prasetyo, M.Pd Kata Kunci: diagnosis, prognosis, rekomendasi, pengajaran remedial Pendidikan erat hubungannya dengan proses belajar, karena dengan proses belajar yang berkualitas maka pendidikan yang sudah direncanakan dapat terlaksana dengan optimal. Proses belajar yang telah dilakukan akan dievaluasi sehingga diperoleh hasil belajar. Hasil belajar setiap siswa tidak sama karena dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Hasil belajar ini yang menentukan tindak lanjut untuk siswa. Siswa yang hasil belajarnya di bawah kriteria ketuntasan minimal memerlukan tindak lanjut berupa pengajaran remedial. Pengajaran remedial merupakan lanjutan dari tahap diagnosis kesulitan belajar siswa, prognosis, dan rekomendasi cara mengatasi kesulitan belajar siswa. Berdasarkan hasil observasi di beberapa sekolah,remedial hanya dilakukan dalam bentuk tugas dan tes tanpa adanya penguatan konsep. SMAK Kosayu dipilih menjadi lokasi penelitian melalui wawancara. Pemilihan 2 kelas dalam penelitian bertujuan untuk membandingkan pembelajaran oleh kedua guru Biologi. Berdasarkan hal tersebut dilakukan studi kasus yang bertujuan untuk menganalisis pengajaran remedial secara rinci dan mendalam di SMAK Kosayu. Penelitian ini dilaksanakan selama 5 bulan. Sumber data berasal dari wawancara, observasi, dan dokumentasi. Peneliti bertindak sebagai instrumen kunci. Instrumen lainnya berupa pedoman wawancara serta lembar observasi pembelajaran. Analisis data berupa analisis deskriptif kualitatif terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pengecekan keabsahan data terdiri dari kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Hasil penelitian ini menunjukkan pada tahap diagnosis bahwa faktor eksternal secara keseluruhan tidak mempengaruhi kesulitan belajar siswa, sedangkan faktor internal yang berpengaruh berupa sikap siswa. Tahap ini hanya dilakukan oleh salah satu guru Biologi selaku wali kelas. Tahap prognosis belum dilakukan oleh guru Biologi karena langsung memilih bentuk remedial. Tahap rekomendasi sudah dilakukan dengan memilih bentuk remedial karena alasan sistem sekolah. Remedial dilakukan dalam bentuk tes dan tugas tanpa penguatan konsep. Materi pembelajaran dalam semester pendek belum sesuai dengan teori pengajaran remedial, tetapi teknik dan evaluasinya sesuai dengan teori. Berdasarkan hasil penelitian tersebut guru dan sekolah sebaiknya menerapkan tahapan diagnosis, prognosis, rekomendasi, dan pengajaran remedial agar semua siswa dapat tuntas dalam pembelajaran. Kesimpulannya serangkaian tahapan pengajaran remedial oleh guru Biologi belum terlaksana sesuai dengan teori, karena adanya sistem SKS sehingga pengajaran remedial dilakukan di semester pendek.
Mazar (shrine) of Yusup Has Hajip, Kashgar
The Mazar of Yusup Has Hajip, on the outskirts of Kashgar. The Mazar is the tomb of Yusup Has Hajip, a philosopher and poet of the 11th century.Medium resolution jpeg derived from raw digital photograph.Original file format: DCRCamera: Kodak, DCS Pro 14nx.</div
GEREJA PAROKI SANTO YUSUP BATANG
Indonesia sebagai negara yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, menghargai dan melindungi hak warga negaranya dalam beragama. Hak beragama tersebut dijamin dalam UUD 1945 pasal 29 Ayat 2. pemerintah Indonesia mengakui 5 agama yang berkembang di Indonesia. Salah satu ajaran agama yang diakui adalah Agama Katolik.
Pusat kehidupan umat Katolik adalah Kristus yang kehadiran-Nya diwujudkan dalam sakramen. Sakramen merupakan inti kehidupan iman Katolik. Untuk mewujudkan Gereja sebagai tanda dan sarana persatuan dengan Allah dan sarana persatuan seluruh umat manusia melalui penerimaan sakramen-sakramen maka dibutuhkan tempat ibadah yang disebut ‘gereja’.
Gereja merupakan tempat beribadah bagi umat Katolik yang berfungsi sebagai wadah kegiatan peribadatan umatnya yang biasa dilakukan pada hari minggu. Selain untuk mewadahi kegiatan peribadatan, gereja diharapkan dapat menghadirkan suasana yang mendukung umatnya menjalani ibadah misa, karena itu gereja sebaiknya juga melengkapi dirinya dengan prasarana pendukung kehidupan rohani umatnya, seperti ruang tempat sekolah minggu, ruang berkumpul untuk kegiatan-kegiatan kerohanian dan sosial lainnya di luar misa perayaan Ekaristi.
Gereja Santo Yusup Batang telah berdiri cukup lama, ±37 tahun, diwilayah kota Batang sebagai gereja stasi dan diresmikan sebagai gereja paroki tiga tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 17 Juli 2002.
Sejalan dengan bertambahnya umat dan banyaknya kegiatan lain yang muncul, gedung gereja mengalami perkembangan. Bangunan gereja yang semula cukup untuk menampung sekelompok kecil umat, tidak cukup untuk menampung jumlah umat yang semakin bertambah, seluruh umat paroki Santo Yusup Batang sangat mengharapkan adanya gedung gereja yang baru yang cukup untuk mewadahi kegiatan peribadatan dan kegiatan kerohanian lainnya, karena bangunan yang sekarang tidak mungkin lagi dipugar ataupun ditambah luasnya, selain itu perlu adanya fasilitas lain sebagai petugas gereja dalam melayani masyarakat.
Berdasarkan deskripsi tersebut maka perlu suatu perencanaan dan perancangan komplek Gereja Paroki Santo Yusup Batang yang representative dimana dalam kompleks tersebut direncanakan akan dilengkapi dengan ruang-ruang penunjang seperti : rumah pastor, ruang pengurus dan seksi-seksi dan ruang-ruang pelengkap (balai kesehatan, ruang pelatihan, rumah pelengkap, dll). Dengan demikian diharapkan pembangunan komplek gereja ini akan menampung segala kegiatan gereja sesuai dengan kebijakan, strategi, misi dan visi dari gereja tersebut.
B. Tujuan dan Sasaran
Tujuan yang ingin dicapai adalah merencanakan Gereja Paroki Santo Yusup Batang sebagai wadah yang ideal bagi umat Paroki Santo Yusup Batang untuk melaksanakan ibadat dan juga sebagai sarana persatuan dan saling melayani diantara umat serta sarana pelayanan sosial umat kepada masyarakat sekitar.
Sasaran yang ingin dicapai adalah mendapatkan dasar-dasar perencanaan dan perancangan Gereja Paroki Santo Yusup Batang sebagai sarana peribadatan dan aktivitas sosial.
C. Lingkup Pembahasan
Lingkup pembahasan subtansial dalam LP3A ini adalah ilmu arsitektur, terutama bangunan massa banyak yang berkaitan dengan perencanaan Gereja Paroki Santo Yusup Batang. Hal-hal di luar ilmu arsitektur akan dibahas seperlunya sejauh masih berkaitan dan mendukung permasalahan utama.
D. Metode Pembahasan
Metode pembahasan yang digunakan adalah metode deskriptif-analitis, yaitu dengan menggali dan mengkaji data-data yang ada, baik data primer yang diperoleh melalui survey lapangan dan wawancara maupun data sekunder yang diperoleh melalui studi literature, kemudian data yang ada dianalisa untuk mendapatkan suatu program sebagai landasan perencanaan dan perancangan.
Data primer diperoleh melalui survey lapangan ke Gereja Paroki Santo Yusup Batang, wilayah Kota Batang, ke obyek studi banding serta ke pihak yang terkait. Selin itu juga melakukan wawancara dengan pengurus paroki Santo Yusup Batang, pengurus Keuskupan Agung Purwokerto, dan pengurus obyek studi banding.
Data sekunder diperoleh melalui studi literature, yaitu yang berkaitan dengan tinjauan umum Agama dan Gereja Katolik Paroki, penekanan desain, tinjauan lokasi, dan standar besaran ruang.
E. Sistematika Pembahasan
Sistematika yang digunakan dalam Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur ini adalah :
BAB I PENDAHULUAN
Berisi latar belakang, tujuan dan sasaran, lingkup pembahasan, metode dan sistematika pembahasan
BAB II TINJAUAN UMUM GEREJA PAROKI
Berisi pengertian, falsafah dan perkembangan Agama dan Gereja Katolik di dunia dan di Indonesia. Juga berisi sifat dan ciri gereja, hierarki, hierarki structural, kegiatan liturgy, perkembangan bentuk gereja, tinjauan umum gereja Katolik Paroki dan studi banding Gereja St. Petrus Pekalongan dan Gereja St. Athanasius Agung Semarang.
BAB III TINJAUAN KHUSUS GEREJA PAROKI SANTO YUSUP BATANG
Berisi Tinjauan Umum Kabupaten Batang dan Gereja Paroki Santo Yusup Batang beserta fasilitas yang ada.
BAB IV BATASAN DAN ANGGAPAN
Berisi batasan dan anggapan yang akan digunakan dalam perencanaan dan perancangan Gereja Paroki Santo Yusup Batang.
BAB V PENDEKATAN PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
Berisi tentang pendekatan perencanaan dan perancangan Gereja Paroki Santo Yusup Batang yang mencakup pendekatan aktivitas, pendekatan pelaku, standar besaran ruang serta struktur dan utilitas.
BAB VI LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR
Berisi tentang tinjauan konsep dasar perancanan dan factor-faktor penentu perancangan dengan pendekatan arsitektural Tadao Ando
DINAMIKA GEREJA KATOLIK SANTO YUSUP JEMBER 1927-2008
Gereja Katolik Santo Yusup adalah tempat ibadah umat Katolik yang terletak
di Jalan Kartini 26 Jember, Kabupaten Jember. Rumusan permasalahan penelitian ini
adalah bagaimana latar belakang berdirinya Gereja Katolik Santo Yusup Jember dan
bagaimana perkembangan, kesinambungan dan perubahan sosial yang terjadi di
Gereja Katolik Santo Yusup Jember dari tahun 1927-2008. Tujuan dan manfaat dari
penelitian ini dapat mengaplikasikan semua rumusan masalah dan memberi manfaat
bagi ilmu pengetahuan, masyarakat luas dan pemerintah. Metode penelitian yang
digunakan adalah metode sejarah dengan pendekatan sosiologi agama dengan teori
konflik dan teori simbolisme.
Pada awal abad 20 banyak orang Belanda yang menetap di Jember, karena
Jember menjadi pusat kegiatan untuk mengembangkan usaha perekonomian orang
Belanda, terutama pengusaha tembakau. Orang-orang Belanda yang menetap di
Jember sebagian besar menganut agama Kristen dan Katolik. Banyaknya orang
Belanda yang bermukim dan mengembangkan usaha di Jember, menyebabkan
mereka membutuhkan berbagai sarana tambahan atau pelengkap yang mendukung
kepentingannya, termasuk sarana untuk beribadah. Pada tahun 1927, dibangunlah
Gereja Katolik Santo Yusup Jember, sebagai sarana peribadatan untuk umat Katolik
yang berada di Jember.
Dalam kurun waktu 82 tahun, Gereja Katolik Santo Yusup Jember mengalami
pasang surut. Bangunan Gereja Katolik Santo Yusup Jember pernah mengalami kerusakan yang cukup parah pada masa pemerintahan Jepang, karena bangunan
gereja digunakan sebagai markas perang tentara Jepang.
Perkembangan Gereja Katolik Santo Yusup Jember sejak awal berdiri, tahun
1927 hingga tahun 2008 mengalami peningkatan yang cukup signifikan, terutama
setelah kemerdekaan Indonesia. Perkembangan tersebut dapat dilihat dari bentuk
bangunan, umat yang datang, aktivitas keagamaan hingga kegiatan sosial. Dalam
melaksanakan pelayanan cinta kasih, Gereja Katolik Santo Yusup tidak pernah
membeda-bedakan agama, suku maupun ras. Pelayanan cinta kasih dituangkan dalam
pendirian lembaga sosial seperti sekolah dan rumah sakit yang untuk semua umat
manusia.
Berdasarkan analisis hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Gereja
Katolik Santo Yusup Jember tetap mampu berdiri kokoh meskipun pernah mengalami
hambatan, terutama pada masa penjajahan Jepang. Gereja Katolik Santo Yusup
Jember ini juga mempunyai keunikan, yaitu Gereja ini didirikan di dalam komunitas
orang muslim yang ditandai letaknya berdekatan dengan masjid. Akan tetapi,
perbedaan adat, budaya dan agama yang mereka miliki dapat menimbulkan toleransi
keagamaan dan keragaman sosial budaya masyarakat Jember
DINAMIKA GEREJA KATOLIK SANTO YUSUP JEMBER 1927-2008
Gereja Katolik Santo Yusup adalah tempat ibadah umat Katolik yang terletak
di Jalan Kartini 26 Jember, Kabupaten Jember. Rumusan permasalahan penelitian ini
adalah bagaimana latar belakang berdirinya Gereja Katolik Santo Yusup Jember dan
bagaimana perkembangan, kesinambungan dan perubahan sosial yang terjadi di
Gereja Katolik Santo Yusup Jember dari tahun 1927-2008. Tujuan dan manfaat dari
penelitian ini dapat mengaplikasikan semua rumusan masalah dan memberi manfaat
bagi ilmu pengetahuan, masyarakat luas dan pemerintah. Metode penelitian yang
digunakan adalah metode sejarah dengan pendekatan sosiologi agama dengan teori
konflik dan teori simbolisme.
Pada awal abad 20 banyak orang Belanda yang menetap di Jember, karena
Jember menjadi pusat kegiatan untuk mengembangkan usaha perekonomian orang
Belanda, terutama pengusaha tembakau. Orang-orang Belanda yang menetap di
Jember sebagian besar menganut agama Kristen dan Katolik. Banyaknya orang
Belanda yang bermukim dan mengembangkan usaha di Jember, menyebabkan
mereka membutuhkan berbagai sarana tambahan atau pelengkap yang mendukung
kepentingannya, termasuk sarana untuk beribadah. Pada tahun 1927, dibangunlah
Gereja Katolik Santo Yusup Jember, sebagai sarana peribadatan untuk umat Katolik
yang berada di Jember.
Dalam kurun waktu 82 tahun, Gereja Katolik Santo Yusup Jember mengalami
pasang surut. Bangunan Gereja Katolik Santo Yusup Jember pernah mengalami kerusakan yang cukup parah pada masa pemerintahan Jepang, karena bangunan
gereja digunakan sebagai markas perang tentara Jepang.
Perkembangan Gereja Katolik Santo Yusup Jember sejak awal berdiri, tahun
1927 hingga tahun 2008 mengalami peningkatan yang cukup signifikan, terutama
setelah kemerdekaan Indonesia. Perkembangan tersebut dapat dilihat dari bentuk
bangunan, umat yang datang, aktivitas keagamaan hingga kegiatan sosial. Dalam
melaksanakan pelayanan cinta kasih, Gereja Katolik Santo Yusup tidak pernah
membeda-bedakan agama, suku maupun ras. Pelayanan cinta kasih dituangkan dalam
pendirian lembaga sosial seperti sekolah dan rumah sakit yang untuk semua umat
manusia.
Berdasarkan analisis hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Gereja
Katolik Santo Yusup Jember tetap mampu berdiri kokoh meskipun pernah mengalami
hambatan, terutama pada masa penjajahan Jepang. Gereja Katolik Santo Yusup
Jember ini juga mempunyai keunikan, yaitu Gereja ini didirikan di dalam komunitas
orang muslim yang ditandai letaknya berdekatan dengan masjid. Akan tetapi,
perbedaan adat, budaya dan agama yang mereka miliki dapat menimbulkan toleransi
keagamaan dan keragaman sosial budaya masyarakat Jember
PERANCANGAN ENTERPRISE ARCHITECTURE MENGGUNAKAN TOGAF ADM PADA FUNGSI RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT SANTO YUSUP BANDUNG
Rumah Sakit Santo Yusup merupakan rumah sakit umum kelas C di Bandung, yang sudah berdiri sejak tahun 1932. Rumah Sakit Santo Yusup mempunyai visi sebagai rumah sakit umum pilihan masyarakat Bandung timur. Demi terwujudnya visi tersebut, Rumah Sakit Santo Yusup harus selalu meningkatkan pelayanannya terutama dalam fungsi rawat jalan. Rawat jalan merupakan pelayanan medis yang bertujuan dalam mengobati tanpa mengharuskan pasien untuk rawat inap. Untuk meningkatkan pelayanan dari rawat jalan, maka diperlukan sistem informasi sebagai penunjang layanan rawat jalan. Dalam pembentukan sistem informasi, sering kali terjadi kendala dimana sistem informasi yang telah dibuat tidak memenuhi kebutuhan perusahaan. Maka, sebelum masuk pada tahap pengembangan sistem, diperlukan perancangan enterprise architecture.
Perancangan enterprise architecture untuk sistem informasi Rumah Sakit Santo Yusup (I-HOSST) pada fungsi pelayanan rawat jalan menggunakan TOGAF ADM, karena selain fleksibel, dan iteratif, TOGAF ADM dapat memenuhi seluruh kebutuhan pengembangan enterprise architecture. Dalam penelitian kali ini akan menggunakan TOGAF ADM dalam merancang enterprise architecture, yaitu fase Premilinary Architecture Vision, Business Architecture, Information System Architecture, Technology Architecture, Opportunities and Solutions dan Migration Planning dengan membandingkan keadaan existing dan keadaan target. Keluaran pada penelitian ini yaitu berupa blueprint arsitektur dan IT Roadmap sebagai dasar pengembangan I-HOSST pada fungsi rawat jalan di Rumah Sakit Santo Yusup, dimana Rumah Sakit Santo Yusup belum memiliki blueprint dan IT Roadmap.
Kata kunci: Rawat Jalan, enterprise architecture, TOGAF ADM, Rumah Sakit Santo Yusup, I-HOSST
Tradisi Mocoan Lontar Yusup dalam Acara Pernikahan Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi (Tintingan Folklor Setengah Lisan)
Dasar dari penelitian ini adalah tradisi yang dilestarikan di Banyuwangi khususnya Desa Kemiren yaitu Tradisi Mocoan Lontar Yusup yang merupakan seni tradisi pelantunan tembang yang digunakan sebagai sarana dengan ritual dalam sebuah tradisi. Sebagai salah satu warisan budaya yang ada, Mocoan Lontar Yusup sangat istimewa karena tidak hanya warisan manuskrip namun juga mewariskan dengan cara ritual dan tradisi dengan cara penembangan, di tahun 2020 dimana Mocoan Lontar Yusup ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak enda (WBTB) nasional oleh pemerintah pusat. Lontar Yusup dapat menarik perhatian peneliti karena satu-satunya naskah kuno yang sampai saat ini masih dijaga oleh masyarakat lokal utamanya di wilayah perdesaan seperti di Desa Kemiren dimana Tradisi Mocoan lontar Yusup, puisi yang ditembangkan di masyarakat untuk melengkapi selamatan yang menggambarkan jalannya kehidupan seperti kelahiran, sunatan, maupun ritual bersih desa, dalam hal tertentu Tradisi Mocoan Lontar Yusup juga bisa dilaksanakan untuk sebuah acara pemenuhan nadar seseorang dan alah satunya adalah yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah Tradisi Mocoan Lontar Yusup dalam acara pernikahan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitataif dengan teknik observasi penelitian secara langsung. Maka hasil dari penelitian ini berdasarkan rumusan masalah yang diangkat yaitu mengenai bagaimana asal muasal, proses pelaksanaan serta fungsi dalam Tradisi Mocoan Lontar Yusup ini.
Kata kunci: Tradisi Mocoan Lontar Yusup, pernikahan, folklor
 
Efektivitas Media Komunikasi Internal SMAK Kolese Santo Yusup
Salah satu sarana yang digunakan Humas SMAK Kolese Santo Yusup untuk menyampaikan pesan kepada para siswanya adalah melalui media komunikasi internal yang berupa Majalah Padma dan Buletin Cyber. Kedua media tersebut memiliki ciri yang berbeda namun pada isi media tersebut hampir sama. Karena hal tersebut, peneliti tertarik untuk mengetahui efektivitas media komunikasi internal yang digunakan oleh SMAK Kolese Santo Yusup Malang, Majalah Padma ataukah Buletin Cyber. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah Purposive Sampling. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner dengan responden sebanyak 100 orang. Sedangkan teknik analisa data menggunakan statistik deskriptif. Hasil dari penelitian adalah efektivitas media komunikasi internal yang digunakan oleh SMAK Kolese Santo Yusup dikatakan efektif pada Majalah Padm
Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru Menggunakan Algoritma Haversine Zonasi pada SD Santo Yusup
Hasil wawancara menunjukkan pentingnya dimensi komunikasi dalam implementasi kebijakan zonasi di SD Santo Yusup, Kecamatan Tarumajaya. Integrasi website dengan Algoritma Haversine diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan kualitas penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah, termasuk SD Santo Yusup, merespon secara efektif tantangan dalam penerimaan siswa baru
- …
