31 research outputs found

    KODE ETIK JURNALISTIK DALAM PRAKTIK FOTOJURNALISME: KASUS KAMPANYE PEMILIHAN PRESIDEN 2009 DI INDONESIA

    Full text link
    Journalistic photos appear in newspapers for news purposes. In many cases, many parties are interested in using the mass media for their own vested interests. The photos of the Presidential and Vice-Presidential candidates in the 2009 Indonesian election were examples of such uses. These photos contained symbols which were manipulated and presented in the public sphere. Hence, these photos also reflected power relations within Indonesian society, a society which is full of individual interests. This study attempts to show how the photojournalism appearing in the media during the 2009 election time was intensively used by the candidates, who were also the capital backers. The photos were not presented as they were, but rather composed upon the candidates’ request for the purposes of image building. For several reasons, including media survival in the global era and its heavy competition and pragmatic motivations, some media have shown a loss of “independency.” This study also shows that journalistic photos record the existence of values and interests of those appearing on newspaper. The 2009 Presidential and Vice Presidential campaign in Indonesia, one framed in photojournalism, is a social reality analogous to social theatre or a theatrical performance

    Harmoni dalam keanekaragaman Potret etnisitas di kalimantan barat

    No full text
    Buku ini memberikan gambaran pada masyakat mengenai keharmonisan kehidupan masyarakat di kalimantan barat dimana ada etnis tionghoa, dayak dan melayu

    Ideologi, nilai & simbol dalam konstruksi realitas politik foto foto jurnalistik. Kampanye pemilihan presiden 2009 di Indonesia

    No full text
    Buku ini menyajikan penelitian terhadap foto yang mendokumentasikan tentang kampanye pemilu tahun 2009. Dari foto ini menjadi sebuah social drama tentang performance politik dalam kehidupan berbangsa di tahun 200

    Nilai-nilai Pancasila sebagai Inspirasi Seni Kajian Performance Studies dalam perspektif Komunikasi

    Full text link
    Generasi nasionalis, mengutamakan kepentingan bangsa Negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Artinya generasi yang taat hukum; disiplin; cinta tanah air; menghormati keragaman suku, agama, budaya; rela berkorban; mampu mengapresiasi budaya bangsa sendiri; menjaga kekayaan budaya bangsa; unggul dan berprestasi; serta mampu menjaga lingkungan. Sekolah, masyarakat, dan keluarga menjadi ekosistem pendidikan yang harus bersinergi. Terciptan karya seni kreatif dan inovatif yang memuat kelima sila beserta butir-butir Pancasila sebagai sebuah nilai luhur, keberagaman dan Kebhinekaan di Indonesia menjadi salah satu solusi alternatif bagi terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini sejalan dengan Visi Misi ISI Yogyakarta, yaitu adanya penerapan dan pengoptimalan nilai-nilai Pancasila dalam konsep dan karyanya dengan memegang teguh konsep ideal bangsa Indonesia guna mewujudkan penciptaan seni maupun mengkaderisasi pendidik seni secara efektif juga menjadi tujuan utama tulisan ini. Teori strategi komunikasi (mengenal khalayak, merancang pesan, menetapkan metode, dan proses seleksi dalam penggunaan media) sangat relevan jika diterapkan oleh kreator seni dengan menggunakan pendekatan performance studies sebagai sebuah metode guna meningkatkan kualitas dan kreativitas para kreator seni yang lebih mengutamakan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman berkarya. Nilai-nilai Pancasila diimplementasikan melalui karya seni yang “borderless” artinya tidak terbatas lintas ruang dan waktu dalam konsep dan praktiknya. How to karya itu diciptakan, diproduksi, ditampilkan, dilestarikan, oleh para seniman, serta penikmat seni lainnya. Melalui pendidikan karakter yang berintegritas karya seringkali memuat substansi pesan moral di dalamnya. Nilai-nilai Pancasila raw-material yang fundamental dan terinternalisasi dalam kehidupan keseharian melalui berbagai profesi. The nationalist generation prioritizes the interests of the nation and state above personal and group interests. It means the law-abiding generation; discipline; love for the homeland; respecting ethnic, religious, cultural diversity; willing to sacrifice; able to appreciate the nation's culture; maintain the nation's cultural wealth; excel and achieve; and able to protect the environment. Schools, communities, and families become educational ecosystems that must work together. The creation of creative and innovative works of art containing the five precepts and the points of Pancasila as a noble value, diversity and diversity in Indonesia is one of the alternative solutions for realizing the Unitary State of the Republic of Indonesia (NKRI). This is in line with the Vision and Mission of ISI Yogyakarta, namely the application and optimization of Pancasila values in their concepts and works by upholding the ideal concept of the Indonesian nation in order to realize the creation of art well as to regenerate art educators effectively. The theory of communication strategy (knowing the audience, designing messages, determining methods, and selection processes in media used) is very relevant if applied by art creators using a performance studies approach as a method. This approach is to improve the quality and creativity of art creators who prioritize the values of Pancasila as a working guide. Pancasila values are implemented through borderless artwork, meaning they are not limited across space and time in concept and practice. How to work it was created, produced, displayed, preserved by artists and other art connoisseurs. Through character education with integrity, the work often contains the substance of the moral message in it. The values of Pancasila are raw materials that are fundamental and internalized in daily life through various professions.

    Jembatan emas ketahanan pangan perspektif komunikasi

    No full text
    Pangan merupakan hal yang strategis dan menjadi prioritas untuk dikaji lebih mendalam. Setiap calon Presiden selalu mempunyai visi misi untuk memperkuat Indonesia dalam ketahanan Pangan. Buku ini alangkah lebih menarik jika ditambahkan buku saku yang memberikan solusi praktis dan strategis terhadap dinamika pangan sebagai salah satu cadangan logistik demi mewujudkan kedaulatan pangan. Letjen TNI (Purn) Dr. Ida Bagus Purwalaksana, S.I.P., M.M Ketua Badan Cadangan Logistik Strategis Kementrian Pertahanan RI

    Pilpres & Jurnalistik Hitam Putih

    No full text
    Foto mewakili kata-kata yang memberikan banyak makna. Para jurnalis bercerita tentang suatu peristiwa dalam sebuah foto Foto memiliki kekuatan dalam menyampaikan fakta tentang sebuah peristiwa. Fotografi jurnalistik pada dasarnya adalah sebuah pemberitaan melalui visualisasi.. Proses penciptaannya mengacu pada syarat-syarat yang terkait dengan dnia pers atau pemberitaan. Dalam buku ini penulis mencoba merefleksikan perspektifnya tentang situasi carutmarut pilpres dan kompleksitas narasi politiknya via beragam media sosial yang ada, khususnya dalam ranah tekstual dan visual jurnalistik. Isinya mencoba menganalisis tampilan jurnalisme foto dalam kaitannya dengan mesin kampanye politik. Media yang diteliti adalah lima surat kabar terkemuka di Indonesia, yaitu Kompas, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, dan The Jakarta Post

    Potret Masyarakat Perbatasan Papua: Interaksi, dan Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan Analisis Komunikasi

    Full text link
    Nasionalisme yang dimiliki oleh masyarakat perbatasan, khususnya di Papua (Skouw) perlu mendapatkan perhatian khusus, akibat interaksi yang intensif dengan negara tetangga. Interaksi tersebut berupa aktivitas ekonomi, sosial, maupun budaya sebagai negara yang berdampingan dengan Papua Nugini menjadi faktor penting untuk dianalisis, ditinjau dari keuletan dan ketangguhan masyarakat. Interaksi sosial dapat melalui perkembangan teknologi, sosial, budaya, yang menjadi penyebab tergerusnya kearifan lokal di daerah tersebut jika tidak mengoptimalkan filternya sebagai salah satu bentuk kewaspadaan terhadap potensi ancaman. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi interaksi dan persebaran budaya masyarakat perbatasan dengan negara tetangga yang perlu diwaspadai dengan arif dan bijaksana menggunakan strategi penanganan yang efektif dan efisien. Strategi penanganan yang dimaksud memberikan kontribusi pada bidang ilmu komunikasi yang berlandaskan teori model komunikasi SMCR. Mix-metode digunakan untuk pengambilan data melalui penyebaran angket, wawancara mendalam serta observasi yang dilakukan secara langsung di Skouw, Jayapura, Papua, Indonesia. Hasil penelitian ini, menunjukan masyarakat Skouw memiliki nasionalisme dan toleransi yang tinggi. Meskipun mereka sering berinteraksi dengan negara tetangga, akan tetapi, masih mempertahanan keutuhan NKRI dengan menghormati budaya asing yang masuk tanpa meninggalkan budaya asli yang dimilikinya. Penguatan dan peningkatan nilai-nilai kebangsaan perlu menjadi sebuah Gerakan Nasional guna memperkokoh keuletan dan ketangguhan bangsa dalam mewujudkan Ketahanan Nasional

    PENERAPAN PENDIDIKAN CERDAS BERKARAKTER DI MERAUKE (PERSPEKTIF KOMUNIKASI)

    Full text link
    Education is the most important factor in order to increase the people's intelligence which is in accordance to the value of Pancasila, the basis of the Indonesian state, since character is the most important aspect in the nation's social life. Unfortunately, some parts (provinces) of Indonesia - especially Merauke for the example - doesn't receive quite education for the character-building and enrichment to happen. This is fatal enough considering good character equals good standards of living. This research aims to persuade all layers of society and the local government in order to initiate a great character-building education in Merauke, meanwhile it is also testing how much the government's intelligent character policy has been applied in Merauke. This research uses a qualitative and descriptive approach, along with the constructivist's paradigm. The results of the research have been concluded that the Merauke is still experiencing a crisis character in terms of education. It's about time that the local government, all layers of society, and all of those who are involved to assist one another to resolve the issue of character-building education - especially in Merauke. The conclusion of the research is that a strategic communication and social interactions in the form of awareness-raising can be the bridge for implementing a great character-building policy in Merauke. Keywords: education, character, standard of living, Merauk
    corecore