15 research outputs found
Pengalaman beragama, Resiliensi dan kebahagiaan dalam perspektif psikospiritual: Studi pada pengamal Dzikrul Ghofilin
Penelitian ini membuktikan bahwa pengalaman beragama, resiliensi secara bersama-sama dapat mempengaruhi kebahagiaan, hal ini terlihat dengan adanya aspek kebahagiaan dan kelekatan hubungan dengan Tuhan, kebahagiaan dan kompetensi personal serta kebahagiaan dan pengaruh spiritual pada jamaah Dzikrul Ghōfilīn baik dilihat dari aspek lahiriah dan batiniah dapat meningkatkan ketahanan batin dan kebahagiaan hidup para pengamal Dzikrul Ghōfilīn.
Mengenai hal ini telah banyak temuan dikalangan ilmuwan, sebagian ada yang menyimpulkan bahwa pengalaman beragama dan agama sebagai irrasionalitas dan patologi, bersifat naif dan khayali, serta menampilkan kepada manusia untuk hidup dalam ketakutan-ketakutan dan frustasi yang dibangun dalam dunia bawah sadar. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Carl Gustav Jung (1990), James Leuba (1968), Sigmund Freud (1969), Derek Milne, Wilson Howard (2000), Greenberg dan Witzum (2005), Vaughan (1999), BF. Skinner, John Broadus Watson (1985) dan Canon (2013). Sebaliknya penelitian ini mendukung statemen antara lain Weatherhead (2004), Annemarie Schimmel (1993) Mohammad ?Utsmān Nājāti (2000), Ibnu Sinā (1998), Zakiah Daradjat (1991), Muhammad Iqbal (1985), William James (1958), Lynn Wilcox (2007), Abraham Maslow (1993), Rudolf Otto (1982), Robert C. Monk (2012), Glock and Stark (2007), Abu al-A‟la Afīfī (2009) Sayyed Hosein Nashr (2008) dan Robert Frager (1999). Mereka menjelaskan bahwa pengalaman beragama merupakan unsur perasaan (esensi ruhani tertinggi) dalam kesadaran beragama yang membawa keyakinan yang dihasilkan oleh tindakan amaliah melalui pendidikan dan pelatihan (tarekat/dhikir) untuk meraih kebahagiaan.
Subjek penelitian ini yaitu para jama`ah pengamal Dzikrul Ghōfilīn yang berjumlah sebanyak 170 responden, di mana teknik yang peneliti gunakan ialah non- ?probabilility sampling? karena belum bisa dipastikan terpilihnya responden. Dengan demikian teknik pengambilan sampel adalah ?accidental sampling? yaitu peneliti akan memberikan kuisioner penelitian secara langsung atau melalui google formulir kepada jama`ah pengamal Dzikrul Ghōfilīn yang sesuai untuk peneliti jadikan responden. Metode yang peneliti gunakan dalam penelitian ini metode kuantitatif - kualitatif dengan analisis data multiple regresi dan analisis deskriptif.
Hasil penelitian ini menemukan bahwa dari delapan variabel pengalaman beragama pengaruhnya terhadap resiliensi dan kebahagiaan, yaitu variabel hubungan dengan Tuhan (ß=0.036), dukungan terhadap Tuhan (ß=0.111), kelekatan hubungan dengan Tuhan (ß=0.137), kompetensi personal (ß=0.269), percaya diri (ß=0.128), menerima perubahan diri secara baik (ß=0.163), kontrol diri (ß=0.039), dan pengaruh spiritual (ß=0.199).
Beberapa penemuan dalam penelitian ini bahwa pengalaman beragama, resiliensi secara bersama-sama dapat mempengaruhi kebahagiaan, hal ini terlihat dengan adanya aspek kebahagiaan dan kelekatan hubungan dengan Tuhan, kebahagiaan dan kompetensi personal dan kebahagiaan dan pengaruh spiritual pada jamaah Dzikrul Ghōfilīn. Dimensi-dimensi ini berpengaruh memenuhi nilai signifikansi di bawah 0.05 yaitu pengalaman beragama (kelekatan hubungan dengan Tuhan) dan resiliensi (kompetensi personal dan pengaruh spiritual) berpengaruh secara positif serta signifikan terhadap kebahagiaan yang memberikan nilai R2 sebesar 66%, sedangkan 34% dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian yang peneliti lakukan.
Dalam penelitian ini melalui analisis deskriptif-kualitatif, menegaskan bahwa kelekatan hubungan dengan Tuhan, kompetensi personal dan pengaruh spiritual sangat berpengaruh dalam kehidupan responden dalam meraih kebahagiaan yang hakiki
Radicalism, Jihad and Terror
As an issue of complexity, radicalism does not stand alone. It has a political and ideological basis. Like an ideology that continues to bind, radicalism takes the path of religion to be able to justify all actions of anarchy. The case of today’s Islam as being synonymous with radicalism is apart of the complexcity of the issue. Religious radicalism is a prevalent phenomenon in the history religions. Radicalism is closely related to fundamentalism, which is marked by the return of society to the fundamentals of religion. Fundamentalism is a kind of ideology that makes religion the principle of life by society and individuals. Fundamentalism usually comes along with radicalism and violence when the freedom to return to religion is hindered by social and political circumstances surrounding the society. Islam recognizes jihad that is in some cases misunderstood. Jihad is different from radicalism and its derivatives of terrorism. Radicalism and terrorism tend to be destructive, uncompromising and closely related to violent behavior in the name of religion. Meanwhile jihad is a form of the totality of a Muslim's devotion to God, which is concerned not only with self-defense efforts, but a battle that has a theological legitimacy in which the martyrs are promised by God with various virtues and advantages. The association of jihad with terrorism today cannot be justified due to the fact that jihad in the sense of war (Qitâl) involves elements of violence that can be categorized as terrorism. It is the case that the use of violence in the name of religion in contemporary times is, in fact, due to political factors, which then seeks its legitimacy in religious teachings
Pengalaman traumatik dan gangguan kepribadian : studi kasus pada anak Punk Muslim Pulo Gadung
Penelitian ini membuktikan bahwa traumatik berakibat terhadap gangguan kepribadian pada anak punk muslim. Hal ini ditunjukkan dengan adanya gangguan kepribadian dan faktor-faktor yang menyebabkannya, yaitu : menyalahkan diri sendiri (self blame), ketidakberdayaan, perasaan kehilangan dan dikhianati, fragmentasi pengalaman badani, perilaku merusak, gangguan kepribadian ganda, dan gangguan hubungan interpersonal intim
Analisis Metode AHP dan Promethee pada Sistem Pendukung Keputusan Penilaian Kompetensi Soft Skills Karyawan
Perusahaan sangat membutuhkan karyawan yang mempunyai kompetensi (soft skills) sikap dan perilaku yang baik untuk menghadapi orang lain dalam menyelesaikan pekerjaan, contohnya komunikasi, kejujuran, kerjasama dan interpersonal. Untuk melakukan penilaian kompetensi soft skills membutuhkan berbagai kriteria yang sangat beragam. Kriteria-kriteria yang terkait untuk menilai sikap dan perilaku sangat banyak, sehingga untuk melakukan penilaian kompetensi soft skills ini dengan hasil yang tepat dan cepat perusahaan mengalami kesulitan. Kondisi tersebut menunjukan bahwa perusahaan membutuhkan sebuah sistem yang dapat digunakan untuk penilaian kompetensi soft skills karyawan menggunakan alat bantu berupa komputer. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan dengan berbagai kriteria di antaranya AHP dan Promethee. Maka fokus dalam penelitian ini adalah menggunakan metode AHP untuk menentukan pembobotan dan Promethee untuk pemeringkatan penilaian soft skills karyawan. Hasil pembobotan yang diperoleh untuk kriteria komunikasi 41%, kejujuran 38%, kerjasama 14% dan interpersonal 7%. Dengan rasio indeks konsistensi 6%. Dari jawaban responden diperoleh 58 % karyawan mempunyai kompetensi soft skills baik dan 42 % karyawan kurang baik.AbstractCompanies that really need employees who need competencies (soft skills) Good attitudes and relationships to complete other people\u27s work, for example communication, honesty, cooperation and interpersonal. To evaluate soft skills competencies requires a variety of criteria that are very diverse. The related criteria to assess attitudes and behavior are very many, so to evaluate this soft skills competency with the right and quick results the company has difficulties. This condition shows that companies need a system that can be used to assess the competency of employees\u27 soft skills using computer-assisted tools. There are several methods that can be used for decision making with various criteria including AHP and Promethee. So the focus in this study is to use the AHP method to determine weighting and Promethee to rank the assessment of employee soft skills. The weighting results obtained for communication criteria were 41%, honesty 38%, cooperation 14% and interpersonal 7%. With a consistency index ratio of 6%. From the respondents\u27 answers obtained 58% of employees have good soft skills competency and 42% of employees are not good
The Dynamics of Sunni and Shia Relationship: Majority and Minority Conflicts, in Psychological Perspective
Rekomendasi Paket Mata Pelajaran Pilihan (MPP) pada SMA Negeri 1 Kebumen Menggunakan Algoritma K-means
Curriculum changes are needed to adapt education to the times. Since the covid-19 pandemic, face-to-face learning has been suspended. Online learning is an alternative used during a pandemic. This has an impact on learning loss so that the quality of learning decreases. Recovery of learning during the pandemic and post-pandemic Covid-19 is important to reduce the impact of learning loss on students. After the pandemic, the independent curriculum was launched which was a refinement of the 2013 curriculum which had only been implemented in several schools. The subject structure of the Merdeka curriculum for SMA level in Fese E or grade 10, all students get the same subjects. While in Phase F (grades 11 and 12), the subject structure is divided into 2 main groups, namely general subjects and elective subjects. Based on the provisions of the SMKA 2021-2022 curriculum structure, SMA Negeri 1 Kebumen prepares elective subjects (MPP) which are made up of 7 MPP packages. This study uses a clustering technique of student scores using the K-Means algorithm to obtain MPP package recommendations that suit student abilities. For each MPP package, clustering is carried out into 2 clusters with features in the form of predetermined subject scores. The result of this clustering is that each student gets a "yes" or "no" recommendation for each MPP package
The Unity of Existence and the Fundamentality of Existence: A Comparative study of the Thought of Ibn ‘Arabī dan Mullā Ṣadrā
This article seeks to clarify the meaning of wujūd (existence) through a focused comparison of key terminological pairs in the thought of Ibn ‘Arabī and Mullā Ṣadrā, with the aim of elucidating how unity and multiplicity can be understood without lapsing into pantheism. The study employs a qualitative, library-based approach that draws upon both primary and secondary sources. It is conducted through conceptual analysis, comparative examination of terminology, and the mapping of functional correspondences between ideas. The main findings indicate that wujūd constitutes the most concrete reality, while multiplicity appears as a gradation of intensity. At the level of functional correspondence, a‘yān ṯābitah operate as archetypal patterns that determine tajallī (divine manifestation), whereas in Ṣadrā’s framework, wujūd rābiṭ explains existential dependency as non-autonomous existence. Tajaddud al-khalq (the continual renewal of creation) is shown to align with al-ḥarakah al-jawhariyyah (substantial motion), and the ‘ālam al-mithāl (imaginal world) functions as a barzakh mediating knowledge and stitching together the spiritual and material realms. The implications of this study the purification of terminology from pantheistic reduction, the provision of a working matrix for hermeneutics, ethics, and spiritual cultivation, and the establishment of a conceptual foundation for employing imaginal epistemology. The novelty of this research lies in its limitation of scope to two pairs of terms and in the formulation of a functional correspondence between a‘yān ṯābitah and wujūd rābiṭ without conceptual identification, thereby providing an explicit and applicable map of correspondence for the dialogue between philosophy and ‘irfā
Penerapan Metode Waterfall pada Sistem Informasi Pendaftaran Kursus di LKP Indo Jaya Kebumen
Proses pendaftaran khususnya di Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) dilaksanakan setiap saat, oleh karena itu dibutuhkan suatu sistem informasi yang mudah dan lengkap untuk melakukan pendaftaran. Kondisi tersebut yang peneliti gunakan sebagai dasar dalam melakukan penelitian ini.
Penelitian ini bertujuan untuk membuat website pendaftaran kursus di LKP Indo Jaya Kebumen. Metode pengembangan sistem informasi ini menerapkan metode waterfall. Website yang dibuat memiliki Fasilitas untuk memberikan informasi secara lengkap dan cepat tentang LKP Indo Jaya Kebumen kepada user atau pendaftar serta mempermudah proses pendaftaran. Kemudian untuk administrator atau admin dapat melakukan pengolahan data yang mudah.
Berdasarkan hasil uji coba yang telah dilakukan, website sistem informasi pendaftaran kursus ini dapat berjalan dengan baik dan menghasilkan informasi pendaftaran kursus secara cepat dan akurat.
Kata kunci : metode waterfall, sistem informasi, pendaftaran kursus, website
KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM ISLAM
Terjadinya kontroversi dalam masalah kepemimpinan perempuan dalam Islam berasal dari perbedaan ulama dalam menafsiri sejumlah ayat dan hadis Nabi. Secara umum jika dianalisa kualitas hadis riwayat al-Bukhârî, al-Turmuzî, dan al-Nasâ`î serta Imam Ahmad tentang kepemimpinan perempuan secara umum adalah shahîh li dzâtihi. Sanadnya memenuhi kaidah kesahihan sanad hadis, yaitu sanadnya bersambung, periwayatnya bersifat tsiqah, dan terhindar dari syudzûdz dan ‘illah. Matannya juga memenuhi kaidah kesahihan matan hadis, yakni terhindar dari syudzûdz dan ‘illah.Secara tekstual, hadis tersebut menunjukkan larangan bagi perempuan menjadi pemimpin dalam urusan umum. Oleh karena itu, mayoritas ulama secara tegas menyatakan kepemimpinan perempuan dalam urusan umum dilarang. Namun secara kontekstual hadis tersebut dapat dipahami bahwa Islam tidak melarang perempuan menduduki suatu jabatan atau menjadi pemimpin dalam urusan umum. Bahkan menjadi kepala negara, dengan syarat sesuai dengan kriteria dan sanggup melaksanakan tugas tersebut. Oleh karena itu, hadis tersebut harus dipahami secara kontekstual, karena kandungan petunjuknya bersifat temporal
