4,481 research outputs found

    PERBEDAAN EFEKTIVITAS GESTURE (SIBI DAN BISINDO) TERHADAP KOMUNIKASI INTERPERSONAL REMAJA TUNARUNGU DI KOTA MAKASSAR

    Get PDF
    PERBEDAAN EFEKTIVITAS GESTURE (SIBI DAN BISINDO) TERHADAP KOMUNIKASI INTERPERSONAL REMAJA TUNARUNGU DI KOTA MAKASSAR Tri Yulianti ([email protected]) Lukman ([email protected]) Nurfitriany Fakhri ([email protected]) Fakultas Psikologi, Universitas Negeri Makassar Jl. AP Pettarani Makassar, 90222 Abstrak Komunikasi interpersonal merupakan salah satu bentuk komunikasi yang selalu dilakukan dengan menggunakan gesture pada remaja penderita tunarungu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan efektivitas gestur (sibi dan bisindo) terhadap komunikasi interpersonal remaja tunarungu di kota Makassar. Subjek penelitian ini sebanyak 31 orang remaja penderita tunarungu yang berusia 12 hingga 22 tahun. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan teknik analisa data Mann-Whitney U Test dengan hasil p= 0,045 < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gesture dalam bentuk Sibi dan Bisindo dapat memberikan pengaruh yang efektif terhadap komunikasi interpersonal remaja tunarungu kepada remaja normal. Penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk bidang pengetahuan pada komunikasi verbal dan nonverbal. Kata kunci: komunikasi interpersonal, Gesture, Sibi dan Bisindo, Remaja, Tunarungu

    RELEVANSI KURIKULUM 2013 DAN EFIKASI DIRI DALAM MEMPERSIAPKAN TUNTUTAN PENDIDIKAN ABAD 21

    Get PDF
    The implementation of the 2013 curriculum is to develop character and equip learners in the era of global competition. One of the important competencies is self-efficacy. The purpose of the research is to find a hypothesis that self-efficacy can serve as the basis to meet the demands of the 21st century and self-efficacy can develop through the curriculum 2013. The research method is literature study using research and book journals. The results of the self-efficacy study equip students to foster confidence in him that he is able to act and solve problems. Self-efficacy can be developed with a scientific approach that includes observing, questioning, trying, declaring, and communicating. The influence of self-efficacy in the individual is enormous, the individual can plan goals and design the process and there is self-confidence to achieve its goals. Long-term goal is to choose a career according to ability and belief so that can compete in the 21st century

    Improvement of customer satisfaction through OTAs website: Tri Giao Hotel, Vietnam

    Get PDF
    This thesis aims to, first and foremost, gain a more in-depth understanding of customer rates and reviews of Tri Giao Hotel on OTA websites. The author selected six leading OTA websites to conduct the research, i.e. TripAdvisor, Booking, Expedia, Agoda, Facebook, and Google. In addition, the study compared the Tri Giao Hotel with other four hotels, which are also local brand hotel and have 4-star international standard, in a competitive set. Finally, this thesis explored satisfaction and dissatisfaction determinants of service quality can affect customer satisfaction.    Since the main customers of Tri Giao Hotel are charters and from travel agencies, the customers from OTA have not been focused. Therefore, this research-oriented thesis selected Tri Giao Hotel as the commissioning company. This study used qualitative methods such as observation, interview with FOM, data collection on OTA websites, and content analysis. These methods are based on conceptual framework and theoretical framework, especially SERVQUAL model. After that, decisive factors that affect customers’ decisions to book a hotel room online were discovered. Hence, some suggestions on how to improve customer satisfaction through the OTA website were given.    The results revealed that the service quality of Tri Giao Hotel has a significant impact on customer satisfaction. Combining all the reviews on six main OTA websites, the hotel received 301 customer reviews and 199 written comments. The hotel review index was 90.6% and the management response was 58.8%. The service, staff, and value of the hotel makes the customer the most satisfied. However, the location of hotel and quality of the food were the main weaknesses that need to be improved. Besides, some other factors also affected customer satisfaction. Suggestions and new ideas were briefly discussed to improve customers’ satisfaction to Tri Giao Hotel

    ANALISIS PERAWATAN LABORATORIUM BUSANA DI SMK N 3 MAGELANG

    Get PDF
    ANALISIS PERAWATAN LABORATORIUM BUSANA DI SMK N 3 MAGELANG Oleh : Ana Tri Yulianti 11513241010 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis: (1) Perawatan sarana laboratorium busana ditinjau dari segi perawatan preventif dan perawatan korektif yang dilakukan di SMK N 3 Magelang. (2) Perawatan Prasarana laboratorium busana ditinjau dari segi perawatan preventif dan perawatan korektif yang dilakukan di SMK N 3 Magelang. Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan survei. Subjek penelitian yaitu Guru Produktif Tata Busana dan siswa kelas X Busana 2 yang berjumlah 36 orang, ditentukan secara purposive dan insidental. Objek penelitian yaitu laboratorium busana yang meliputi sarana dan prasarana. Teknik pengambilan data adalah observasi, wawancara, dan angket. Validitas menggunakan Judgment Expert dan reliabilitas instrumen penelitian menggunakan rumus koefisien alpha cronbach dibantu dengan progam spss 20. Teknik analisis data dengan menggunakan statistik deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis deskriptif kualitatif dilakukan dengan langkah-langah: (1) reduksi data; (2) penyajian data dalam bentuk tabel; dan (3) penarikan kesimpulan. Analisis data kuantitatif dilakukan dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan : (1) Perawatan sarana laboratorium busana di SMK N 3 Magelang yang belum dilakukan perawatan preventif adalah meja potong dan mesin obras. Perawatan preventif yang dilakukan meliputi perawatan inspeksi, pelumasan, perencanaan dan penjadwalan, pengadministrasian dan penyimpanan suku cadang. Sarana laboratorium busana yang belum dilakukan perawatan secara korektif adalah mesin obras. Perawatan korektif dilakukan ketika terjadi kerusakan secara insidental . (2) Prasarana laboratorium busana di SMK N 3 Magelang sudah dilakukan perawatan secara preventif dan korektif. Perawatan preventif yang dilakukan meliputi perencanaan dan penjadwalan, pengadministrasian, dan penyimpanan suku cadang. Perawatan korektif dilakukan ketika terjadi kerusakan secara insidental pada prasarana laboratorium busana. Kata kunci : Perawatan, Laboratorium Busana, SMK N 3 Magelan

    Dave and Dottie Seibold : founding members of the Grand Haven Area Historical Society

    No full text
    Grand Haven historian, author, and dentist Dave Seibold has a passionate interest in community heritage. Prior to relocating to Grand Haven, Dr. Seibold served in Hawaii at a dental clinic for children. In this interview, Dr. Seibold and his wife Dottie discuss the founding of the Grand Haven Area Historical Society, which began its existence as the Tri-Cities Historical Society in 1959, and the Tri-Cities Historical Museum. Dr. Seibold explains the efforts to save the Grand Haven railroad depot from demolition for possible use as a museum and his project to write a history of northern Ottawa County to continue the work of historian Leo C. Lillie. In 1990, Dr. Seibold authored and published Coast Guard City, U.S.A: A History of the Port of Grand Haven. The Seibolds also recall how they met in their hometown of Jackson, Michigan, married, and chose Grand Haven as their home in 1955

    Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruh iImplementasi Bidan Praktik Mandiri Sesuai Aturan Kredensialing BPJS Kesehatan Kota Cirebon Tahun 2015

    Get PDF
    Universitas Diponegoro Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat Konsentrasi Kesehatan Ibu dan Anak 2015 ABSTRAK Ria Yulianti Tri Wahyuningsih Analisis Faktor-Faktor Implementasi Bidan Praktik Mandiri sesuai Aturan Kredensialing BPJS Kesehatan Kota CirebonTahun 2015. xviii + 92 halaman + 21 tabel + 3 gambar + 10 lampiran BPJS kesehatan merupakan perlindungan berupa jaminan social untuk melindungi masyarakat dan tenaga kerja Indonesia dari masalah kesehatan. Sampai dengan tahun 2010. BPM dalam kerjasama dengan BPJS kesehatan dengan menjadi jejaring banyak ditemukan kekurangan diantaranya pada sumberdaya, komunikasi yang berkaitan dengan syarat kredensialing, SOP serta sikap bidan dalam memberikan pelayanan bagi peserta BPJS kesehatan. Jenis penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Instrument penelitian menggunakan kuesioner pada 51 BPM dan bidan sebagai responden.Data penelitian diolah dengan uji univariat, bivariat dan multivariate dengan uji regresi linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumberdaya responden tentang implementasi BPM Sesuai aturan kredensialing BPJS kesehatan di Kota Cirebon dimana responden yang memiliki sumberdaya baik (54,9%). Responden dengan komunikasi tidak baik sebesar (56,9,%). Responden dengan saluran komunikasi kategori baik sebesar (52,2%). Resonden dengan disposisi kategori tidak baik sebesar (51%). Responden dengan struktur birokrasi kategori tidak baik sebesar (53%). Responden dengan kategori Baik sebesar (54,9%).Variabel independen Sumberdaya p = 0,0010 (< 0,05); t = 3.463, Komunikasi p = 0,0003 (< 0,05); t = 1.912 , Disposisi p = 0,0001 (< 0,05); t = 4.033, Hal ini berarti variabel Sumberdaya, Komunikasi, Disposis iberpengaruh secara.hasil uji F ( ujiAnova) = 5.352 dengan p value = 0,0001 maka ketiga variabel Sumberdaya, Komunikasi dan Disposisi bersama-sama mempengaruhi implementasi BPM Sesuai aturan kredensialing BPJS Kesehatan Disarankan untuk melakukan sosialisasi aturan pada BPM. Didalam penyampaian informasi dengan komunikasi interpersonal. Pendekatan interpersonal dengan para bidan mengenai disposisi atau sikap bidan dalam menghadapi peserta BPJS tidak membedakan dalam pelayanan,. Kata kunci : Sumberdaya, Komunikasi, Disposisi, Struktur Birokrasi, Implementasi BPM Sesuai Aturan Kredensialing Kepustakaan : 36 (1982-2014) Diponegoro University Faculty of Public Health Master’s Study Program in Public Health Majoring in Maternal and Child Health 2015 ABSTRACT Ria Yulianti Tri Wahyuningsih Analysis of Implementation Factors of Independent Practice Midwives based on the Credentialing Regulation of Health BPJS in Cirebon City in 2015. xviii + 92 pages + 21 tables + 3 figures + 10 appendices Health BPJS is a social insurance program to protect a community and Indonesian workers from health problems. Until 2010, some problems such as resource, communication relating to credentialing requirements, Standard Operating Procedure, and midwives’ attitudes in providing services for health BPJS members were found in cooperation between Independent Practice Midwives (IPM) and health BPJS. This was an analytic survey using a cross-sectional approach. Data were collected by conducting interview using a questionnaire to 51 IPM. Data were analysed using methods of univariate, bivariate, and multivariate (Logistic Regression test). The results of this research showed that more than half of the respondents had good resource (54.9%), bad communication (56.9%), good communication channel (52.2%), bad disposition (51%), bad bureaucracy structure (53%), and good attitude (54.9%). Variables of resource (p=0.0010<0.05; t=3.463), communication (p=0.0003<0.05; t=1.912), and disposition (p=0.0001<0.05); t=4.033) were statistically significant. This means that these variables jointly influenced the implementation of IPM in accordance with the credentialing regulation of health BPJS (F=5.352; p=0.0001). Socialisation of the regulation in implementing IPM needs to be conducted. Interpersonal communication in conveying information needs to be implemented. Interpersonal approach of midwives regarding disposition or their attitudes in providing services to health BPJS members needs to be improved. Keywords : Resource, Communication, Disposition, Bureaucracy Structure, IPM Implementation in Accordance with the Credentialing Regulation Bibliography: 36 (1982-2014

    Gambaran Faktor yang Mempengaruhi Need dan Demand Masyarakat Lanjut Usia terhadap Posyandu Lansia (Studi di Desa Klampokarum Kecamatan Tekung Kabupaten Lumajang)

    No full text
    RINGKASAN Gambaran Faktor yang Mempengaruhi Need dan Demand Masyarakat Lanjut Usia terhadap Posyandu Lansia (Studi di Desa Klampokarum Kecamatan Tekung Kabupaten Lumajang); Tri Yulianti; 092110101133; 2011; 84 halaman; Bagian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember. Meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut menimbulkan masalah terutama bagi kesehatan dan kesejahteraan lansia. Masalah tersebut jika tidak ditangani akan berkembang menjadi masalah yang kompleks. Posyandu lansia merupakan wahana pelayanan bagi kaum lanjut usia yang menitikberatkan pada pelayanan promotif dan preventif, tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. Kabupaten Lumajang memiliki jumlah penduduk lanjut usia sebesar 360.324 jiwa dari 1.053.425 jiwa jumlah penduduk Kabupaten Lumajang. Sedangkan jumlah lansia yang dibina oleh Dinas Kesehatan melalui program posyandu lansia hanya 115.303 jiwa dan sisanya belum dibina. Puskesmas Tekung merupakan salah satu puskesmas dengan cakupan pemanfaatan pelayanan posyandu lansia yang cenderung mengalami penurunan dibandingkan dengan target Renstra yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui need dan demand lansia terhadap posyandu lansia. Penelitian ini merupakan jenis penelitian suvey deskriptif, sedangkan jenis rancangan penelitian ini adalah cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua lansia yang mengikuti posyandu lansia yang bertempat tinggal di wilayah Desa Klampokarum Kecamatan Tekung Kabupaten Lumajang sebanyak 1.534 jiwa. Sampel penelitian diambil sebanyak 97 lansia yang terdiri atas 329 lansia di RW 1, 312 lansia di RW 2, 302 lansia di RW3, 306 lansia di RW 4 dan 285 lansia di RW 5. Sampel diambil menggunakan teknik proportional random sampling. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa karakteristik responden sebagian besar berumur 60 – 69 tahun, berjenis kelamin perempuan, tingkat pendidikan rendah, dan status pekerjaan umumnya bekerja, menjawab benar untuk persepsi Sakit, serta mengalami kejadian penyakit yang rendah. Kemampuan membayar (ATP) responden sebagian besar mempunyai jumlah pendapatan lebih dari UMK, pendapatan sendiri, dan masih mempunyai sisa akhir dari pendapatan, serta mampu membayar iuran untuk posyandu lansia. Kemamuan membayar (WTP) responden sebagian besar mau menggunakan posyandu lansia sebagai tempat pelayanan kesehatan dengan alasan pelayanan mudah dan cepat. Akses informasi yang diperoleh responden tentang keberadaan posyandu lansia sebagian besar diperoleh dari kader, dan penting untuk dilakukan promosi, serta tempat pelaksanaan yang mudah dijangkau, nyaman dan bersih. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka peneliti menyarankan agar Dinas Kesehatan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan bagi petugas pemegang Program Lansia Puskesmas melalui kegiatan pelatihan, sehingga petugas lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan program lansia di wilayahnya serta petugas kesehatan secara proaktif dapat mengupayakan peningkatan pengetahuan lansia tentang manfaat dari diadakannya posyandu lansia dengan cara memberikan penyuluhan dan konseling pada saat pelaksanaan hari buka posyandu. Iuran untuk menunjang pelaksanaan posyandu lansia bisa ditambah yang diimbangi dengan peningkatan pelayanan dan kegiatan inovatif lainnya sehingga lansia semakin tertarik dan semangat untuk mengunjungi posyandu lansia. Untuk keberlanjutan program dan kebersamaan antar lansia, sebaiknya perlu dibentuk wadah bagi para lansia melalui perkumpulan informal semacam Paguyuban Lansia, dengan berbagai program, misal: senam lansia, pemeriksaan kesehatan, pendalaman keagamaan, pembinaan aneka ketrampilan yang bertujuan mengasah otak, kegiatan kesenian, rekreasi serta hal positif lainnya untuk menciptakan keseimbangan mental dan spiritual lansia di sisa hidupnya

    ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA PADA TN. S DAN TN. M DENGAN STROKE NON HEMORAGIK DENGAN FOKUS STUDI PENGELOLAAN PERUBAHAN PERFUSI JARINGAN SEREBRAL DI RSUD dr. LOEKMONO HADI KUDUS

    No full text
    PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN BLORA POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG 2020ABSTRAKAsuhan Keperawatan Pada Lansia Tn.S Dan Tn.M Dengan Stroke Non Hemoragik Dengan Fokus Studi Perubahan Perfusi Jaringan Serebral Di Rsud Dr. Loekmono Hadi KudusTri Wahyu Yulianti (2020)M Zainal Abidin., S.Kep., Ners., M.Kes., Agus Prasetyo, SKM, M.Kes dan Teguh Wahyudi, MNKata kunci: Stroke non hemoragik. Perfusi jaringan serebral. Lansia. Hampir 85% pasien stroke merupakan stroke non hemorogik, stroke non heorogik disebabkan suplay darah ke jaringan otak berkurang , yang disebabkan karena obstruksi total atau sebagian pembuluh darah otak. KTI ini bertujuan agar penulis mampu memeberikan asuhan keperawatan pada pasien yang mengalami stroke non hemoagik dengan fokus studi perubahan perfusi jaringan serebral Metode penelitian dalam bentuk studi kasus, penulis mendiskipsikan dengan cara menganalisa pelaksanaan asuhan keperawatan pada lansia dengan perubahan perfusi jaringan serebral. Penelitian menggunakan dua lansia dan dirawat di RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus. Pengambilan data dilakukan selama 2 minggu pada bulan oktober 2019 saat praktik klinik keperawatan medikal bedah 2.Hasil pengkajian dilakukan secara anamnesa pada 2 lansia hingga muncul masalah perubahan perfusi jaringan serebral. Intervensi masalah tersebut menggunakan delapan intervensi dan implementasi dilakukan selama 3 hari sesuai dengan tujuan yang sudah dibuat, setelah itu dilakukan evaluasi dengan hasil masalah teratasi sebagian.Kesimpulan, lansia yang mengalami perubahan perfusi jaringan serebral dapat diberikan asuhan keperawatan sesuai intervens

    Tri-State High School student report, Usui, Teruko

    No full text
    A mid-quarter student repot on physical education for Teruko Usui, 7th grade at Tri-State High School at the Tule Lake camp, California.The Usui Family Papers consist of documents pertaining to the family's experiences of the forced evacuation and incarceration during World War II. The Usui Family was incarcerated in the Tule Lake camp, California, and transferred to the Minidoka camp, Idaho. Included are correspondence, gate pass, receipts, census conducted among Issei incarcerees, student report cards, lists of transfers from Tule Lake to Minidoka, a directory of the incarcerees in the Minidoka camp, and publications. All items originally belonged to the Donald Teruo Hata and Nadine Ishitani Hata Asian Pacific Studies Collection

    Tri-State High School student's report, Usui, Teruko

    No full text
    A student repot for Teruko Usui, 7th grade at Tri-State High School at the Tule Lake camp, California.The Usui Family Papers consist of documents pertaining to the family's experiences of the forced evacuation and incarceration during World War II. The Usui Family was incarcerated in the Tule Lake camp, California, and transferred to the Minidoka camp, Idaho. Included are correspondence, gate pass, receipts, census conducted among Issei incarcerees, student report cards, lists of transfers from Tule Lake to Minidoka, a directory of the incarcerees in the Minidoka camp, and publications. All items originally belonged to the Donald Teruo Hata and Nadine Ishitani Hata Asian Pacific Studies Collection
    corecore