1,730,841 research outputs found

    Kristologi Berdasarkan Injil Yohanes

    Full text link
    Kristologi adalah doktrin Kristus mengenai Pribadi dan Karya-Nya. Kristologi merupakan ajaran yang fundamental dalam Kekristenan. Pusat penyembahan kekristenan adalah Kristus. Alkitab merupakan sumber utama dalam memahami kebenaran yang mutlak tentang Kristologi. Dalam Alkitab dijelaskan bahwa Yesus Kristus memiliki dua natur dalam satu Pribadi yaitu ilahi dan insani. Yesus adalah Allah dan manusia sejati. Sejarah Gereja mencatat tentang persoalan mengenai Dwi natur Kristus yang bertentangan dengan Alkitab yaitu ada yang menekankan Keilahian saja dan pihak yang lain hanya menekankan kemanusiaan-Nya saja. Dan sampai saat ini pun perdebatan tentang Kristologi masih terus menerus dikumandangkan. Penulis menggunakan metode deskriptif dengan mengumpulkan literatur untuk dapat mengetahui konsep Kristologi yang benar berdasarkan Injil Yohanes dan juga mengumpulkan data-data literatur agar mengetahui fakta-fakta tentang konsep kristologi yang berkembang. Selain itu juga penulis menggunakan metode hermeneutika dengan menggunakan pendekatan kajian gramatikal, konteks, dan sejarah dalam menafsirkan ayat-ayat yang ada di Injil Yohanes terkait dwi natur Kristus. Adapun tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengajaran Kristologi berdasarkan Injil Yohanes, supaya orang percaya memiliki konsep yang benar mengenai Kristologi. Hasil penelitian yang diperoleh adalah berkenaan dengan Pra-eksistensi Yesus menyatakan: Keberadaan Yesus telah ada sejak pada mulanya, Yesus Kristus bersama-sama dengan Allah dan Dia adalah Allah, Yesus Kristus menjadikan atau menciptakan segala sesuatu dan eksistensi Yesus sudah ada sebelum Abraham ada. Yesus Kristus adalah Allah. Yesus Kristus Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Hak Prerogatif Ilahi Yesus Kristus menyatakan bahwa Yesus adalah Allah yang memberi kehidupan dan memiliki otoritas. Kesatuan Allah Bapa dan Yesus Kristus. sil penelitian karya ilmiah ini guna membentengi iman orang percaya terhadap pengajaran-pengajaran saksi Yehova, Gnostik dan polemikus-polemikus islam yang tidak meyakini akan dwi natur Kristus.Kristologi adalah doktrin Kristus mengenai Pribadi dan Karya-Nya. Kristologi merupakan ajaran yang fundamental dalam Kekristenan. Pusat penyembahan kekristenan adalah Kristus. Alkitab merupakan sumber utama dalam memahami kebenaran yang mutlak tentang Kristologi. Dalam Alkitab dijelaskan bahwa Yesus Kristus memiliki dua natur dalam satu Pribadi yaitu ilahi dan insani. Yesus adalah Allah dan manusia sejati. Sejarah Gereja mencatat tentang persoalan mengenai Dwi natur Kristus yang bertentangan dengan Alkitab yaitu ada yang menekankan Keilahian saja dan pihak yang lain hanya menekankan kemanusiaan-Nya saja. Dan sampai saat ini pun perdebatan tentang Kristologi masih terus menerus dikumandangkan. Penulis menggunakan metode deskriptif dengan mengumpulkan literatur untuk dapat mengetahui konsep Kristologi yang benar berdasarkan Injil Yohanes dan juga mengumpulkan data-data literatur agar mengetahui fakta-fakta tentang konsep kristologi yang berkembang. Selain itu juga penulis menggunakan metode hermeneutika dengan menggunakan pendekatan kajian gramatikal, konteks, dan sejarah dalam menafsirkan ayat-ayat yang ada di Injil Yohanes terkait dwi natur Kristus. Adapun tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengajaran Kristologi berdasarkan Injil Yohanes, supaya orang percaya memiliki konsep yang benar mengenai Kristologi. Hasil penelitian yang diperoleh adalah berkenaan dengan Pra-eksistensi Yesus menyatakan: Keberadaan Yesus telah ada sejak pada mulanya, Yesus Kristus bersama-sama dengan Allah dan Dia adalah Allah, Yesus Kristus menjadikan atau menciptakan segala sesuatu dan eksistensi Yesus sudah ada sebelum Abraham ada. Yesus Kristus adalah Allah. Yesus Kristus Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Hak Prerogatif Ilahi Yesus Kristus menyatakan bahwa Yesus adalah Allah yang memberi kehidupan dan memiliki otoritas. Kesatuan Allah Bapa dan Yesus Kristus. sil penelitian karya ilmiah ini guna membentengi iman orang percaya terhadap pengajaran-pengajaran saksi Yehova, Gnostik dan polemikus-polemikus islam yang tidak meyakini akan dwi natur Kristus

    Kepemimpinan Yohanes Pembaptis

    No full text
    Seorang pemimpin biasanya menimbulkan dua hal yang kontradiktif. Ia bisa dikasihi atau sebaliknya, dibenci oleh orang-orang yang dipimpinnya. Ada berbagai alasan atau motivasi yang dapat menimbulkan dua hal kontradiktif sebagai akibat kepemimpinan seseorang. Namun pembahasan mengenai soal ini, meski penting, tidak dapat diuraikan di sini. Artikel ini lebih dititikberatkan pada diri seorang pemimpin ketimbang respons terhadapnya. Relasi benci-kasih terhadap seorang pemimpin akan menimbulkan pertanyaan: “Apa sebenarnya tugas dan fungsi seorang pemimpin?” Dari sekian banyak figur Alkitab, kepemimpinan Yohanes Pembaptis terkesan sangat menonjol dan dramatis. Dengan pendekatan naratif saya berupaya menyusun suatu potret Yohanes Pembaptis. Kompleks dan luasnya masalah menyebabkan data-data dasar hanya bersumber dari injil Yohanes sehingga tentu saja hasilnya bukan merupakan sebuah potret yang utuh. Namun paling sedikit sketsa ini diharapkan dapat mendorong penelitian lanjutan terhadap karakter Yohanes Pembaptis. Penelaahan dimulai dari Yohanes 1:1-18, dilanjutkan dengan bagian lain dari kitab ini. Sudah merupakan kelaziman di kalangan pakar injil Yohanes memberi label Prolog untuk 1:1-18. Melalui artikel ini saya ingin menguji apakah benar Prolog tersebut merupakan miniatur injil Yohanes? Jika bagian ini dinyatakan sebagai injil Yohanes dalam bentuk padat dan ringkas, maka kitab ini tentulah merupakan uraian lanjutan dari Prolog. Kita akan menguji tesis ini dengan melihat karakterisasi Yohanes Pembaptis dalam Prolog dan injil Yohanes. Dengan perkataan lain, pertanyaan yang akan ditelusuri adalah: Apakah Prolog merupakan bagian integral dari injil Yohanes

    Distopia Yohanes 12: Narasi Katarsis Rasul Yohanes dalam Periode Konflik

    Full text link
    This study begins by addressing compositional gaps in John 12 and its dynamic relationship with the Synoptic Gospels through an initial exegetical exploration. The findings are then developed into a narrative-historical analysis and interpreted using philosophical hermeneutics and catharsis theory to examine the internal condition of the Gospel’s author. The results indicate that John’s emotional state and underlying motives significantly influenced the structure and emphasis of chapter 12. His inner conflict as a disciple closely linked to both John the Baptist and Jesus underlies the unique features of this chapter when compared to the Synoptic parallels. Through cathartic contemplation, John is able to reimagine and narrate painful events with theological and pastoral depth. He recognises the necessity of recording these events faithfully so that his readers might perceive their profound meaning. Ultimately, the narrative conveys a striking message: the world is no longer a safe or ideal place for the followers of Christ. Rather, it has become a dystopian reality, underscoring the cost of discipleship and the enduring relevance of John's Gospel for a suffering community.  Diawali dengan beberapa gap dari masalah penyusunan Yohanes 12, dan terdapat dinamika dengan Injil Sinoptik maka peneliti mencoba menggalinya secara eksegesis terlebih dahulu. Fakta-fakta hasil eksegesis kemudian dielaborasi dan dibentuk menjadi satu kajian naratif-historis. Kemudian hasilnya digali dengan pendekatan hermeneutik filosofis dan teori katarsis untuk memahami kondisi internal Yohanes sebagai penulis. Hasil dari penerapan metode ini memperlihatkan motif dan kondisi emosional Yohanes berpengaruh terhadap penyusunan narasi pasal 12. Konflik batin sebagai murid yang dekat dengan dua gurunya Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus menjadi dasar dari kekhasan pasal ini dibanding dengan catatan yang sama di Injil Sinoptik. Yohanes harus melalui kontemplasi katarsis untuk dapat mengimajinasikan kembali kejadian-kejadian yang menyayat hatinya. Yohanes mengetahui kepentingan yang lebih besar bahwa setiap kejadian ini harus dicatat dengan baik sehingga para muridnya dapat memahami dengan baik kedalaman makna dari peristiwa-peristiwa pilu yang harus dialami Yohanes. Ia juga menyatakan bahwa dunia ini bukan lagi tempat yang ideal bagi murid Yesus. Dunia sudah berubah menjadi distopia bagi para pengikut Kristus

    Pendidikan Multikultural untuk Anak melalui Belajar Injil Yohanes supaya Terbangun Semangat Penerimaan dalam Kehidupan Berbangsa

    Full text link
    Indonesia adalah negara dengan keragaman yang kaya sehingga ajaran yang paling diterima di Indonesia adalah ajaran yang multikultural. Persoalan masa kini adalah pendidikan multikultural belum dijalankan secara maksimal. Hal ini dikarenakan ajaran-ajaran agama konsisten dengan dogma atau ketetapan mengenai yang benar dan tidak benar. Setiap pemeluk agama di Indonesia akan merasa tidak aman tinggal dengan pemikiran yang tidak bersahabat atau humanis. Di sini kita mendapati anak-anak Indonesia memiliki jiwa yang kental dengan kelompok daripada bangsanya sendiri dan negara kita akan menjadi negara yang kacau dalam bertoleransi. Pendidikan Kristen perlu berbenah dan perlu membuat ulang atau direkontruksi ajaran yang kurang berfokus kepada keragaman. Keragaman penting diajarkan demi nilai kemanusiaan dan kebersamaan berbangsa di Indonesia. Salah satu dari solusi untuk rekontruksi pendidikan kristen atau ajaran kristen adalah dengan mendidik anak belajar dari narasi Injil Yohanes di mana pembahasannya berfokus kepada menemukan nilainilai multikultural. Injil Yohanes yang berisi ajaran tentang Tuhan itu Esa, Pemberi Kehidupan, Allah yang bersuara dan menyatakan diriNya hendak menekankan ajaran humanis melalui kehidupan yang dipraktikan Tuhan Yesus sebagai manusia yang penuh dengan kasih. Pemahaman ini diajarkan dalam sebuah penyajian mengenai pandangan tentang Logos. Logos adalah istilah sentral dan multikultural. Dogma dari agama tanpa visi yang jelas membuat benturan ajaran agama di Indonesia yang berideologi Pancasila yaitu menerima semua keyakinan seperti yang didengungkan di sila pertama. Belajar Injil Yohanes secara konsep multikultural akan mampu membangun pemahaman kepada nara didik untuk menjalankan ajaran agama di dalam konteks situasi hidupnya, memiliki perasaan kuat untuk amalkan nilai Pancasila dan menerima isi budaya yang berbeda serta meresponi ajaran tentang Tuhan yang bersuara di berbagai macam budaya dengan berdoa dan bersikap baik kepada semua orang. Kata Kunci: Rekontruksi Ajaran, Pendidikan Multikultural, Belajar Injil Yohane

    Inkarnasi Yesus sebagai Logos dalam Injil Yohanes

    No full text
    Inkarnasi berasal dari umat Kristen yang mereka kenal di dalam Allah Tritunggal melalui kelahiran Yesus sebagai manusia. Kehadiran Yesus di dunia seringkali ditolak. Salah satu bangsa atau budaya yang menolak inkarnasi melalui Yesus, yaitu bangsa Yahudi atau budaya Helenisme. Mereka menolak karena latar belakang keluarga Yesus (seorang anak tukang kayu). Mereka mengharapkan Mesias yang agung dan penuh kuasa serta kemuliaan. Inkarnasi Yesus dituliskan dalam kitab Injil Sinoptik, salah satunya yaitu, Injil Yohanes. Dalam Injil Yohanes dapat dilihat bahwa Anak Allah ekuivalen dengan Mesias. Injil Yohanes juga merupakan satu-satunya Injil yang menekankan bahwa Yesus merupakan Logos atau Firman itu sendiri. Ungkapan Rasul Yohanes yang paling terkenal mengenai logos ada dalam Injil Yohanes 1:1; 14. Yohanes meluncur dari Logos dalam Yohanes 1:1 ke “yang ini” atau “ia” (houtos), dan sekali lagi menekankan identitas pribadi Logos, sebab Logos bukanlah entitas abstrak. Bagi Yohanes, logos bukan sekadar personifikasi melainkan person (pribadi), bukan sekadar pribadi yang bersama Allah sejak kekekalan, melainkan seorang yang telah memasuki sejarah sebagai manusi

    MENGGEREJA DI ASIA: MEMBANGUN PERSEKUTUAN DAN DIALOG MENURUT ANJURAN APOSTOLIK ECCLESIA IN ASIA DARI PAUS YOHANES PAULUS II

    Full text link
    Konsili Vatikan II mengubah wajah Gereja Katolik di seluruh dunia. Gereja dipanggil untuk membuka diri dan menghadirkan misi keselamatan Allah. Paus Yohanes Paulus II, melalui Anjuran Apostoliknya Ecclesia in Asia mengajak seluruh umat Katolik di Asia dalam kesatuan dengan para Uskup Asia untuk mewujudkan misi keselamatan itu sesuai dengan konteks Asia. Bapa suci Yohanes Paulus II menekankan dimensi persekutuan (communio) Gereja sebagai landasan dasar untuk Gereja Asia. Oleh sebab itu Gereja Asia harus membangun kesadaran akan dirinya sebagai persekutuan umat beriman yang kokoh. Persekutuan gerejawi yang kokoh akan memantapkan semangat dialog untuk mewujudkan misi Gereja di Asia. Persekutuan dan dialog merupakan salah satu pendekatan pastoral bagi Gereja di Asia

    Potret Yesus Menurut Injil Yohanes Sebagai Simbol Resistansi Terhadap Imperialisme Roma dan Implikasinya Terhadap Studi Kristologi Injil Yohanes

    Full text link
    Sejak pendekatan kritisisme literaris dan pengaruh religionsgeschicte (history of religions) yang menghubungkan Injil Yohanes dengan gnostisisme semakin melemah, para sarjana mulai menyelidiki alternatif latar belakang penulisan Injil Yohanes. Beberapa sarjana meyakini konflik antara komunitas Yohanes dan komunitas Yahudi di Asia Kecil sebagai pemicu lahirnya Injil Yohanes. Namun seiring maraknya tren studi biblika yang membaca teks-teks Perjanjian Baru dari kacamata Greco-Roman, para sarjana terdorong untuk mengaitkan penulisan Injil Yohanes dengan isu sosial, politik, dan religius terkait konteks imperialisme Roma pada dekade terakhir abad pertama. Penyelidikan latar belakang Greco-Roman di dalam Injil Yohanes menghasilkan potret Yesus yang resisten terhadap imperialisme Roma. Yesus yang digambarkan di dalam Injil Yohanes merupakan sosok yang melakukan tindakan-tindakan provokatif yang secara aktif mengecam bahkan menentang pemerintah Roma dan para petinggi agama Yahudi yang merupakan bagian integral di dalam konspirasi politik imperialisme Roma. Penulis Injil Yohanes juga mengenakan gelar-gelar mesianik untuk melukiskan Yesus yang anti-imperialisme Roma. Gelar-gelar Yesus seperti Raja, Anak Allah, Tuhan, dan Allah tidak hanya bermuatan teologis, tapi juga bermuatan politik. Gelar-gelar yang sama juga dipakai oleh Kaisar Roma sehingga kelihatannya Yesus dikisahkan sebagai tokoh tandingan Kaisar Roma. Selain itu, dengan menggunakan gelar-gelar ini Yesus dianggap sebagai tokoh pembebasan bangsa Israel dari penjajah Romawi. Penulis Injil Yohanes menghadirkan tokoh Yesus yang resisten terhadap imperialisme Roma untuk menjawab pergumulan komunitas Yohanes yang pada waktu penulisan Injil Yohanes sedang ditekan oleh pemerintah Roma dan komunitas Yahudi. Pemerintah Roma menindas komunitas Yohanes karena mereka tidak mau menyembah Kaisar Roma, sedangkan komunitas Yahudi mengusir mereka selain karena alasan teologis juga karena mereka takut komunitas Yohanes yang adalah musuh kekaisaran Roma menjadi masalah buat mereka. Melalui penyelidikan ini, penulis yakin bahwa bahwa konflik antara komunitas Yohanes dengan pemerintah Romawi dan komunitas Yahudi merupakan pergumulan komunitas Yohanes yang saling terkait dan melatarbelakangi penulisan Injil Yohanes. Implikasi lain dari penyelidikan ini membuktikan bahwa kesamaan potret Yesus anti-imperialisme Roma antara Injil Yohanes dan injil sinoptik merupakan petunjuk bahwa penulis Injil Yohanes memperhatikan keakuratan sejarah dan merupakan langkah maju bagi penggunaan Injil Yohanes di dalam rekonstruksi Yesus Sejara

    Tanggung jawab PT Pelayaran Pelita Samudera Indonesia atas rusak dan basahnya barang muatan milik ekspeditur PT X / oleh Yohanes

    No full text
    abstrak (A) Nama : Yohanes (NIM : 205010150). (B) Judul Skripsi : Tanggung Jawab PT.Pelayaran Pelita Samudera Indonesia Atas Rusak dan Basahnya Barang Muatan Milik Ekspeditur PT.X. (C) Halaman : viii + 107 + 14 +2008. (D) Kata Kunci : Tanggung Jawab Pengangkut. (E) Isi : Dalam perjanjian pengangkutan,pengguna jasa yaitu PT.X telah membayar sejumlah uang tertentu agar barang miliknya diangkut sampai ke tempat tujuan dengan selamat oleh pengangkut yaitu PT.Pelayaran Pelita Samudera Indonesia.Namun dalam melaksanakan pengangkutan tersebut,kapal milik pengangkut mengalami kebocoran sehingga barang muatan milik PT.X menjadi rusak dan basah.Timbul permasalahan bagaimana tanggung jawab pengangkut terhadap barang muatan yang dipercayakan untuk diangkut ke tempat tujuan dengan selamat?Penulis meneliti masalah tersebut dengan melakukan metode normatif.Dari Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa tanggung jawab yang diterapkan kepada pengangkut adalah tanggung jawab praduga untuk selalu bertanggung jawab (Presumption of Liability), jadi tanggung jawab pengangkut dalam masalah kebocoran kapal tersebut adalah harus membuktikan bahwa kebocoran kapal tersebut bukan disebabkan karena kesalahannya,sehingga pengangkut sebaiknya membawa permasalahan tersebut kepada pihak yang berwenang untuk di teliti dan di periksa mengenai penyebab kapal tersebut dapat mengalami kebocoran. (F) Acuan : 21(1973-2005) (G) Pembimbing Bapak Ahmad Sudiro,SH,MH,M.Hum (H) Penulis Yohane

    Naskah Kisah Rasul Yohanes dan Liturgi Tarian Koptik

    No full text
    Kitab Kisah Rasul Yohanes merupakan koleksi cerita-cerita dan tradisi-tradisi Yohanes yang berasal dari awal abad ke-2, yang sejak lama diketahui dalam bentuk fragmentaris. Dokumen ini menggambarkan tentang suatu malam sebelum penyaliban-Nya, Yesus memerintahkan murid-murid untuk membentuk sebuah lingkaran mengelilingi-Nya dan untuk menari selama Dia menyanyikan sebuah himne serta untuk memberikan respon terhadap nyanyian itu dengan pernyataan “Amin.” Kisah ini membuat kitab Kisah Rasul Yohanes menjadi sebuah dokumen yang sangat penting untuk mengetahui visi dan dasar-dasar Gnostik dalam tradisi Yohanes. Publikasi penting pada manuskrip Koptik yang berasal dari abad ke-10 yang disebut dengan Kodeks Qasr el-Wizz dari sebuah biara di Nubia memperlihatkan sebuah tarian yang mirip dengan yang digambarkan dalam kitab Kisah Rasul Yohanes. Keberadaan adegan tarian pada Kodeks Qasr el-Wizz memberikan kesan, bahwa ritus tarian terus dilestarikan pada jemaat Kristen Ortodoks dari awal abad ke-2 sampai ke-10
    corecore