VERITAS JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
Not a member yet
    95 research outputs found

    Track Record Sekolah Teologi : Anugerah Karya Allah Mulai dari Keterbatasan Mendidik Calon Rohaniwan sampai Penerimaan Lulusannya oleh Gereja dan Lembaga Kristen 

    No full text
    Trinity Evangelical Divinity School (TEDS) yang berdiri sejak tahun 1897 adalah lembaga pendidikan teologi berakreditasi yang bertaraf internasional. Track record untuk lulusan TEDS yang “terpakai” oleh lembaga-lembaga Kristen adalah: 85% dari lulusannya, dalam waktu setengah tahun, telah menduduki posisi pelayanan di gereja dan berbagai lembaga Kristen.1 TEDS yang mempunyai reputasi internasional ini, diinformasikan oleh Rick Kalal,2 mendapat kritikan dari para pendeta “gereja-gereja besar pemakai lulusan TEDS.” Kritikannya adalah: Para lulusan TEDS hanya bisa mengeksegesis Alkitab tetapi kurang mampu mengeksegesis budaya; tahu membaca bahasa Yunani dan Ibrani, tetapi kurang matang dalam spiritual, keterampilan keorganisasian dan penggembalaan untuk dapat menjadi pemimpin rohani yang efektif. Tindakan kritik tersebut dilanjutkan dengan “ancaman”: jika lulusan TEDS berikutnya tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, maka mereka akan mendirikan sekolah teologi sendiri, alias tidak akan menerima lagi “pasokan” rohaniwan lulusan TEDS. … Paparan selanjutnya akan menunjukkan catatan pelayanan para rohaniwan di lembaga-lembaga “pemakai,” khususnya gereja, yang kelemahan-kelemahannya selalu dikembalikan pada lembaga yang mendidiknya, yaitu sekolah teologi. Setelah itu akan ditunjukkan catatan keterbatasan-keterbatasan proses pendidikan mulai dari penyaringan peserta didik baru, proses pendidikan, magang, sampai kegiatan evaluasinya

    Anugerah dalam Pelayanan Penggembalaan

    No full text
    Ada hal yang mungkin sangat mengejutkan kita pada saat Tuhan Yesus bertemu dengan Petrus setelah Ia bangkit dari antara orang mati. Tuhan Yesus melakukan pendekatan penggembalaan yang sangat jitu ketika berhadapan dengan sosok seorang pengkhianat, yakni Petrus. Tuhan Yesus tahu dengan pasti apa yang terjadi di dalam diri Petrus. Beban dan pergumulan hidup, tekanan dan ketakutan, bahkan pengharapan akan masa depan yang suram, semuanya Ia kenal dengan baik. Tuhan Yesus menyapa Petrus dengan bahasa penggembalaan yang sangat halus, bahasa yang dibutuhkan setiap insan, yang menyentuh hakikat diri dalam relasi antarsesama, yaitu: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” (Yoh. 21:15). Pertanyaan Tuhan Yesus ini bukan saja menyentak seluruh sanubari Petrus, tetapi juga mendongkrak eksistensi relasi antara dirinya dengan Tuhannya. Apa yang telah diperbuat oleh Petrus dan apa yang telah dilakukan oleh Tuhan Yesus, semuanya terjawab melalui penggembalaan-Nya, dengan ungkapan dan tekad, “Benar, Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau” (Yoh. 21:15). Dari jawaban itu Tuhan Yesus memberikan wujud konkret bagaimana Petrus mengasihi-Nya, yakni: “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yoh. 21:15). Tugas dan perintah ini jelas ada dalam konteks anugerah Allah yang besar yang dialami Petrus secara pribadi, sekalipun itu merupakan wujud konkret bagaimana ia mengasihi Tuhannya melebihi mereka. Ia kemudian menjalani seluruh hidupnya dengan mempersembahkan dirinya sebagai rasul pilihan-Nya, hamba Tuhan yang menggembalakan dengan anugerah-Nya, yang belajar bersama dengan Tuhannya. Pada akhirnya ia mampu memberikan nasihat kepada para penatua untuk menggembalakan domba-domba-Nya, “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu” (1Ptr. 5:2-3). Dengan kebenaran firman Tuhan ini, kita akan belajar bersama-sama untuk memahami pelayanan pastoral yang merupakan panggilan kita bersama

    Konsep Otoritas Alkitab di Hadapan Fakta Kesalahan Tekstual: Sebuah Diskusi Teologis

    Full text link
    oai:ojs.seabs.ac.id:article/7The field of Textual Criticism of the Bible has highlighted that various OT and NT manuscripts contain textual errors in the original apographs. These errors indicate a problem: in the face of various existing textual errors, does the Bible still have authority? Opponents of Biblical authority conclude that we cannot trust the text because of the serious nature of the textual problems. Proponents of Biblical authority take the opposite view and defend the authority of the Scriptures. Proponents argue that there is certainty regarding the meaning of the Bible despite its many textual errors. This is due to the fact that the textual changes do not significantly impact the meaning of the text. Additionally, the numerous textual variants of available manuscripts provide us with an inter-verifying process to ascertain the meaning of the text. Moreover, the impossibility of scribal conspiration signifies historical reference and value within the text. The certainty of the meaning of the text has implications for the certainty of biblical authority. Finally, the author concludes that though there are textual errors within the Bible they do not negate the authority of the Bible.Studi kritik tekstual Alkitab menunjukkan bahwa berbagai salinan Alkitab, PL dan PB, memiliki banyak kesalahan tekstual. Masalah yang muncul ialah di hadapan fakta berbagai kesalahan tekstual yang ada, masihkah Alkitab memiliki otoritas? Para oponen menilai jelas tidak karena fakta kesalahan tekstual menimbulkan problematika yang serius berkaitan dengan ketidakpastian makna teks. Para proponen memiliki penilaian sebaliknya. Melalui diskusi teologis yang dilakukan, penulis mendapati bahwa terlepas dari berbagai kesalahan tekstual, Alkitab tetap memiliki kepastian makna teks. Ini dikarenakan bahwa perubahan teks tidak berdampak signifikan pada makna teks, jumlah varian yang banyak memungkinkan adanya ketersalingan dalam verifikasi makna, dan ketiadaan kemungkinan konspirasi menunjukkan adanya nilai dan rujukan historis di dalam teks. Kepastian makna teks ini memiliki implikasi kepastian otoritas dalam Alkitab. Akhirnya, penulis menyimpulkan bahwa kesalahan tekstual dalam Alkitab tidak meniadakan otoritas Alkitab

    Meneropong Teks dalam Konteks: Katekismus Heidelberg P/J 53

    Full text link
    The Heidelberg Catechism reflects a rich heritage within the Church that adheres to the Reformed tradition. It contains a rich strain of doctrine pertaining to the doctrine of the Holy Spirit. Explicitly, within the Heidelberg Catechism, the teaching regarding the doctrine of the Holy Spirit as a Member of the Godhead is found only in Question/Answer 53. Of course, this does not mean that the only teaching on the subject of the doctrine of the Holy Spirit within the Heidelberg Catechism is recorded in this section alone. The purpose of this essay is an attempt to conduct an analysis of the doctrine of the Holy Spirit, specifically Q/A 53, from three different contexts: the historical setting which reflects the historical context in which the Heidelberg Catechism was formulated, a macro and micro textual analysis of Q/A 53 within the context of the Heidelberg Catechism, and finally, the relevancy of the document for the contemporary context, especially focusing upon the Indonesian context.Katekismus Heidelberg merupakan salah satu warisan tradisi iman Reformed yang memuat pengajaran yang begitu kaya dan limpah mengenai doktrin Allah Roh Kudus. Secara eksplisit, pengajaran tentang doktrin Allah Roh Kudus dalam Katekismus Heidelberg memang hanya terdapat dalam P/J 53. Namun, hal ini tidak berarti bahwa pengajaran doktrin Allah Roh Kudus dalam Katekismus Heidelberg hanya termaktub di dalam bagian ini saja. Tulisan ini mencoba menganalisis kekayaan doktrin Allah Roh Kudus, secara khusus P/J 53, dalam tiga konteks: konteks masa lalu yang menjadi latar belakang terbentuknya Katekismus Heidelberg, konteks makro dan mikro P/J 53 secara tekstual, dan relevansinya bagi konteks masa kini, khususnya Indonesia

    Meneropong Makna Penderitaan Manusia Menurut Konsep Teodise C.S. Lewis

    Full text link
    When faced with the phenomena of human suffering the default of the evangelical community is to examine human suffering through the lens of God’s sovereignty and providence which are inevitable forces faced by human beings. An attitude of fate, which arises as a direct response to God’s absolute sovereignty, actually leads to a concept of practical fatalism. The close relationship between natural law and human responsibility is ultimately neglected. It is hoped that a study of C. S. Lewis’ concept of theodicy can provide a new paradigm for the Indonesian evangelical community as it pertains to the problem of human suffering. This new paradigm proffers an active and positive estimation of the role of natural law as general revelation underlying the phenomena of suffering by positing the idea about the natural context of human life and the idea of fixed and uniform natural laws as a key to understanding the phenomena of human suffering.Ketika berhadapan dengan fenomena penderitaan manusia, kecenderungan yang dilakukan oleh kaum injili adalah meneropong penderitaan manusia tersebut berdasarkan kacamata kedaulatan dan providensia Allah yang tidak terelakkan atas diri manusia. Sikap pasrah berkaitan dengan kedaulatan Allah yang mutlak tersebut, tanpa disadari sebenarnya telah memunculkan konsep “fatalisme praktis.” Akibatnya, relasi erat antara hukum alam dan tanggung jawab manusia pada akhirnya menjadi hal yang terabaikan. Studi tentang konsep teodise C.S. Lewis ini diharapkan mampu memberikan paradigma baru bagi kaum injili di Indonesia dalam memandang masalah penderitaan manusia. Paradigma baru tersebut adalah cara pandang yang aktif dan positif terhadap peran hukum-hukum alam sebagai wahyu umum di balik fenomena penderitaan tersebut. Konteks natural kehidupan manusia dengan hukum-hukum alam yang tetap dan beraturan diharapkan dapat menjadi “kunci” untuk membuka “pintu rahasia” fenomena penderitaan manusia

    The Apostles and the Apostolic Church

    Full text link
    How should a contemporary reader understand the complexities of the early church? Many scholars utilize a religious studies perspective to understand the early church concluding that the church grew as a direct result (synthesis) of group conflicts (in particular, the Pauline and Petrine communities). This essay approaches the early church from a different paradigm. Using theological analysis, the author concludes that although the early church contained elements of diversity, she exhibits significant unity. The Catholic Epistles (the letters of James, Peter, John, and Jude) are independent letters that are interconnected by the Jerusalem tradition, and the theologies of these letters reflect the unique character of the early church. Therefore, it is important that NT scholars should give more attention to the Catholic Epistles so that the early church can be understood from a more constructive perspective.Bagaimanakah pembaca masa kini memahami kompleksitas gereja mula-mula? Banyak ahli percaya bahwa gereja mula-mula, seperti pada umumnya perkembangan sebuah agama, bertumbuh melalui proses sintesis dari pertentangan antarkelompok dalamnya, yakni kelompok orang Kristen bukan Yahudi (yang diwakili oleh Paulus) dan kelompok orang Kristen, Yahudi (yang diwakili oleh Petrus dan Yakobus). Dalam artikel ini, penulis berupaya menunjukkan bahwa dalam komplesitasnya, gereja mula-mula tetap harmonis. Di sisi yang lain, artikel ini berusaha memperlihatkan pentingnya surat-surat umum dalam memahami gereja mula-mula. Surat-surat dari Yakobus, Petrus, Yohanes, dan Yudas memuat warisan ajaran dari para rasul, yakni para pemimpin gereja Yerusalem, yang menjadi pusat dari pergerakan gereja mula-mula. Pembaca modern perlu menggali surat-surat umum lebih lanjut untuk dapat lebih memahami ajaran dan pemikiran gereja mula-mula

    Religious Affections Jonathan Edwards dan Relevansinya bagi Ibadah Komunal

    Full text link
    This article attempts to discuss one of the important writings of Jonathan Edwards, A Treatise Concerning Religious Affections, and its contribution to corporate worship. Since this work has been helpful in evaluating one’s spirituality and in formulating what the authentic spirituality is, this treatise can be also useful in evaluating and designing corporate worship. Focusing on the first three signs of gracious affections according to Edwards, this paper suggests that this treatise can serve as an antidote for three distorted notions in corporate worship, namely legalistic, narcissistic, and therapeutic worship.Artikel ini mencoba untuk membahas kontribusi dari salah satu tulisan penting Jonathan Edwards, yaitu A Treatise Concerning Religious Affections, bagi ibadah komunal. Sebagaimana karya ini bermanfaat dalam mengevaluasi kerohanian seseorang dan merumuskan apa itu spiritualitas yang autentik, risalah ini juga dapat bermanfaat di dalam mengevaluasi dan merancang ibadah komunal. Berfokus pada tiga tanda pertama dari dua belas indikator spiritualitas yang sejati menurut Edwards, tulisan ini mengusulkan bahwa risalah ini dapat berfungsi sebagai penawar dari tiga pemahaman menyimpang dalam ibadah komunal: ibadah yang legalistik, narsisistik, dan terapeutik

    Khotbah yang “Diurapi” oleh Roh Kudus

    Full text link
    On the one hand, every preacher who desires to experience the power of the Holy Spirit in the sermon will struggle to see “the anointing” of the Spirit. On the other, there are preachers who even afraid of experiencing that power in their sermon. What is a Spirit-anointed sermon? Why also are there preachers who are even afraid of that anointing power? And how does a preacher nurture his/her faith in the Holy Spirit to empower a sermon? This article attempts to answer those question.Pada satu sisi, setiap pengkhotbah yang rindu kuasa Roh Kudus nyata melalui khotbahnya akan bergumul untuk melihat “urapan” Roh Kudus itu. Di sisi lain, ada juga pengkhotbah-pengkhotbah yang malah takut untuk mengalami kuasa Roh Kudus dalam khotbah mereka. Seperti apakah khotbah yang “diurapi” oleh Roh Kudus itu? Mengapa juga ada para pengkhotbah malah sepertinya takut untuk mengalami kuasa Roh Kudus dalam khotbah mereka? Dan bagaimanakah menumbuhkembangkan keyakinan atau iman seseorang kepada Roh Kudus untuk berkarya melalui khotbahnya? Artikel ini berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut

    Ethics in the Message of Isaiah

    Full text link
    Form-critical studies in the ethical basis of Isaiah has reached an impasse. Many ethical injunctions in Isaiah 1-39 does not fit into either wisdom or legal categories according to form-critical approaches. This article will re-examine the ethical basis of Isaiah 1-39 by employing a literary-canonical approach.Studi kritik bentuk mengenai dasar etika dalam kitab Yesaya telah mencapai kebuntuan. Banyak perintah etis dalam Yesaya 1-39 tidak dapat digolongkan baik ke dalam kategori hikmat atau hukum menurut pendekatan-pendekatan kritik bentuk. Artikel ini akan meninjau ulang dasar etis dalam Yesaya 1-39 dengan menggunakan pendekatan literer-kanonis

    Apakah yang Cape Town Perlu Katakan pada [Kaum Injili di] Indonesia?: Suatu Tinjauan dan Refleksi terhadap Komitmen Cape Town dan Implikasinya pada Kaum Injili di Indonesia

    Full text link
    The Cape Town Commitment is one of the important documents pertaining to the history of evangelicals today. Even though this document is important rarely is it discussed in the Indonesia context. Thus, this article will discuss the Cape Town Commitment within two social contexts in Indonesia; multiculturalism and the multicultural condition and with respect to the evident poverty and economic gap. This study results in ten specific suggestions (in both the indicative and the imperative) that can function as guidelines for evangelicals in the Indonesia context.Dokumen Komitmen Cape Town merupakan salah satu dokumen yang sangat penting di dalam sejarah kaum injili. Namun, penulis melihat bahwa dokumen ini jarang sekali dibahas di dalam kancah perteologian di Indonesia. Dengan demikian, artikel ini akan membahas butir-butir pemikiran dari Komitmen Cape Town dan mengontekskannya ke dalam dua konteks sosial di Indonesia, yaitu kondisi multikultur dan multikulturalisme dan juga kemiskinan dan ketimpangan. Hasil akhir dari pembahasan ini adalah sepuluh buah saran (dalam bentuk indikatif dan imperatif) yang dapat menjadi acuan bagi kaum injili di Indonesia

    13

    full texts

    95

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    VERITAS JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇