VERITAS JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
Not a member yet
95 research outputs found
Sort by
Kontekstualisasi sebagai Sebuah Strategi dalam Menjalankan Misi : Sebuah Ulasan Literatur
Kata “kontekstualisasi” telah ditambahkan pada perbendaharaan kata dalam bidang misi dan teologi sejak diperkenalkan oleh Theological Education Fund (TEF) pada tahun 1972. Konteks pembicaraan tentang kontekstualisasi dalam diskusi TEF adalah pendidikan teologi di negara-negara dunia ketiga. Namun, para misiolog menyadari bahwa ide dari kontekstualisasi itu sendiri sebenarnya sudah ada jauh sebelum TEF bersidang, yaitu terdapat di Kitab Suci. Contohnya adalah inkarnasi Yesus Kristus, dan pendekatan Paulus pada waktu ia mengkomunikasikan injil kepada orang bukan Yahudi (Kis 17:16-34, 1Kor 9:19-23).
Oleh karena itu tidaklah heran apabila ada di antara para misiolog yang beranggapan bahwa kontekstualisasi hanya merupakan istilah baru dari istilah-istilah yang telah ada dan dipakai sebelumnya. Istilah-istilah itu seperti indigenisasi, inkulturasi, akomodasi dan adaptasi. Selain itu di antara para misiolog dan teolog juga berbeda pendapat tentang apa yang perlu dikontekstualisasikan. Apakah Alkitabnya, teologinya, atau berita injilnya? Mereka juga mendiskusikan tentang sejauh mana proses kontekstualisasi itu boleh dilakukan. Apakah hanya isinya, bentuknya atau keduanya? Oleh karena itu, tulisan ini akan menjabarkan pengertian kontekstualisasi dan korelasi pengertian kontekstualisasi dengan aplikasi kontekstualisasi sebagai sebuah strategi misi.
Bagian ini dibagi ke dalam tiga topik pembahasan: Pertama, pemaparan persepsi kontekstualisasi; kedua, hubungan antara kebudayaan dan worldview dengan kontekstualisasi; dan ketiga, penyajian model-model kontekstualisasi.
 
Kristologi Kosmik : Tinjauan Ulang dari Sudut Biblikal, Teologikal dan Historikal
Topik mengenai Kristologi Kosmik (Cosmic Christology) merupakan salah satu isu yang paling banyak diperdebatkan dalam disiplin teologi Kristen selama empat puluh tahun terakhir ini. Menurut Daniel L. Migliore: “Among the major challenges faced by Christology in our time is rethinking the relationship of the person and work of Christ to the cosmic process.” Sementara itu Allan Bailyes juga menunjukkan bahwa Cosmic Christ adalah satu dari lima doktrin Kristen dasar yang paling banyak diperdebatkan di kalangan orang Kristen, terutama antara kubu Injili dan Ekumenikal. Isu ini pantas dikaji dan dianalisis ulang secara teologis karena hal ini menyentuh “pusat syaraf” (the central nerve) kekristenan. Isu ini juga memiliki implikasi yang serius dan signifikan bagi perjalanan kekristenan di masa depan apabila tidak dipikirkan secara tepat-benar. Artikel ini akan mencoba menelusuri secara singkat sejarah pencetusan dan perkembangan Kristologi Kosmik dalam kaitan dengan interrelasi antara kubu Injili dan Ekumenikal. Hal-hal yang berkenaan dengan dasar biblikal, termasuk berbagai isu serta perdebatan yang berkaitan dengan lingkup teologis maupun historis, akan dibahas pada bagian selanjutnya sebelum sampai pada konklusi
Hubungan Sekolah Teologi, Rohaniwan Lulusannya dan Gereja
Setiap sekolah teologi, dari latar denominasi atau warna teologi apapun, tentu mempunyai sejumlah lulusan. Setelah para lulusan itu melalui suatu masa pelayanan terjadilah pemutusan hubungan kerja, baik yang inisiatifnya keluar dari rohaniwan itu sendiri karena tidak puas terhadap gereja atau pun yang inisiatifnya keluar dari ladang pelayanan, khususnya gereja yang tidak puas terhadap rohaniwan. (Selanjutnya penyebutan ladang pelayanan akan diwakili oleh gereja yang terbanyak memanfaatkan tenaga rohaniwan dari sekolah teologi dibandingkan lembaga Kristen non-gereja.) Dengan berjalannya waktu dan jika ketidakpuasan gereja terhadap tindakan dan unjuk kerja rohaniwan lulusan dari sekolah teologi yang sama terulang kembali, maka tidak heran jika tindakan dan unjuk kerja rohaniwan itu tidak hanya diidentifikasi gereja sebagai kelemahan dari rohaniwan yang bersangkutan, tetapi lebih dari itu sebagai hasil dari proses pendidikan sekolah teologinya. Pertanyaannya sekarang adalah tindakan dan unjuk kerja apa saja dari para rohaniwan yang tidak sesuai dengan harapan gereja dan dapat dikembalikan sebagai hasil proses pendidikan semua sekolah teologi?
Kajian tulisan mengenai masalah hubungan kedua lembaga ini, yang jika tidak ada halangan akan dilanjutkan dengan penelitian lapangan, dapat dijadikan masukan bagi pihak sekolah teologi, gereja, maupun para rohaniwan (atau calon rohaniwan) dalam kerangka tanggung jawab penyiapan para calon rohaniwan di kehidupan globalisasi kini yang kecepatan dan perubahannya tidak dapat diduga. Berdasarkan paparan latar belakang tulisan di atas, uraian tulisan ini disusun dengan urutan: Pertama, Gambaran Hasil Pengamatan dan Penelitian Terhadap Penyelenggaraan Pendidikan Sekolah Teologi Beserta Lulusannya. Kedua, Konsep Penyelenggaraan Pendidikan Sekolah Teologi: Tujuan dan Model Penyelenggaraan. Ketiga, Implikasi Konsep Penyelenggaraan Pendidikan Sekolah Teologi: Tanggung Jawab Bersama Sekolah Teologi dan Gerejauntuk Penyiapan Calon Rohaniwan
Mencari Esensi dan Misi Gereja dalam Konteks Indonesia Awal Abad 21
Memiliki identitas diri adalah sesuatu yang sangat penting bila kita ingin melakukan sesuatu yang mempunyai landasan yang kokoh dan sasaran yang jauh ke depan. Dalam kaitan dengan identitas diri tersebut, penulis mengajak kita memikirkan mengenai peran yang seharusnya dimainkan oleh Gereja Tuhan di Indonesia. Peran tersebut baru menjadi jelas apabila dibarengi dengan kesadaran yang mendalam akan jati diri serta konteks yang kita hadapi pada saat ini dan di masa mendatang. Terlebih mengingat kita akan memasuki abad baru, abad yang diharapkan memunculkan kedewasaan Gereja menjelang kedatangan sang Raja Gereja, Yesus Kristus, yang semakin mendekat. Dalam tulisan ini penulis berusaha mengetengahkan apa yang menjadi esensi dan makna keberadaan Gereja dalam dunia. Sebetulnya peran seperti apa yang seharusnya dilakukan oleh Gereja dalam dunia ini? Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia saat ini, wajah dan kiprah Gereja yang seperti apakah yang kontekstual tetapi yang sekaligus tetap Alkitabiah