VERITAS JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
Not a member yet
    95 research outputs found

    Kritik terhadap Teologi Proses dan Pembelaan terhadap Pandangan “Greater Good” dalam Menanggapi Masalah Kejahatan

    Full text link
      Kata-kata kunci: Teodisi, Soft-determinism, Kompatibilisme, Kedaulatan Allah, Masalah Kejahatan, Holocaust, Auschwitz, Teologi Proses, Pembelaan Kehendak Bebas, Teodisi Pembentukan Jiwa, Greater Good Theodicy, John Calvin, John Feinberg   English: Throughout the ages Christian theologians have attempted to understand, from a philosophical vantagepoint, the problem of evil. The Church Fathers as well as theologians during the era of the Reformation have offered a solution that argues from the basis of the greater good. However, solutions of that nature seem to ring hollow when one considers the magnitude and scope of the Holocaust (Auschwitz). In light of that historical reality traditional solutions to the problem of evil seem inadequate. Process theology attempts to overcome the impasse by restricting the attributes of God. The purpose of this article is to critically evaluate contemporary solutions to the problem of evil, especially process theology, as inadequate solutions. Further, to argue for the traditional positional argument of the greater good as offering a tenable solution. Keywords: Theodicy, Soft-determinism, Compatibilism, Sovereignty of God, Problem of Evil, Holocaust, Auschwitz, Process Theology, Free Will Defense, Soul-shaping Theodicy, Greater Good Theodicy, John Calvin, John FeinbergSelama berabad-abad, para teolog Kristen mencoba menanggapi pergumulan filosofis mengenai masalah kejahatan. Bapa-bapa Gereja dan tokoh-tokoh reformasi di masa lalu telah mencoba menanggapi permasalahan ini dengan argumen kebaikan yang lebih tinggi (greater good). Tetapi solusi-solusi semacam itu ditolak mentah-mentah setelah peristiwa Holocaust (Auschwitz), yang merupakan peristiwa kejahatan sangat dahsyat dan mengakibatkan penderitaan banyak sekali orang. Solusi tradisional dianggap sudah tidak relevan dalam menanggapi masalah kejahatan. Teologi proses kemudian mencoba menanggapi masalah ini dengan cara mereduksi atribut-atribut Allah. Tujuan karya tulis ini adalah untuk mengkritik pandangan kontemporer khususnya teologi proses dalam menanggapi masalah kejahatan, dan juga membela pandangan greater good sebagai solusi yang masih tetap dapat dipertahankan walaupun dengan beberapa penyesuaian

    Mencari Jejak-jejak Autograf Perjanjian Lama di dalam Septuaginta

    Full text link
    For too long the Septuagint, the first translation of the Hebrew Old Testament, has been sidelined and not given a credible hearing in seeking to discern the text of the original autographs of the Old Testament which have been lost in antiquity. Even though that has been the case, the new direction in recent textual studies, which has focused on the meaning of the original autographs of the Old Testament, has recognized that the Septuagint has a significant contribution to make within this field of study. This position has been supported by Biblical scholars who have employed the Text Critical method in determining the authoritative text of the Old Testament. They employ the Text Critical method in their comparison of the Masoretic Text, the Samaritan Pentateuch, The Dead Sea Scrolls and most recently, the Septuagint to find traces of the original OT autographs.Untuk sekian lama, Septuaginta sebagai terjemahan Kitab Suci Ibrani yang pertama telah dipinggirkan dan tidak memperoleh tempat dalam usaha untuk mencari autograf (naskah asli Alkitab) Perjanjian Lama yang telah lama hilang itu. Namun demikian, perkembangan terbaru dalam studi terhadap naskah-naskah kuno Alkitab justru menunjukkan bahwa Septuaginta memiliki sumbangsih besar dalam pencarian autograf Perjanjian Lama. Hal ini dibuktikan melalui penggunaan metode kritik tekstual oleh para sarjana Alkitab, yakni dengan melakukan penelitian dan perbandingan terhadap naskah-naskah kuno Alkitab Perjanjian Lama, seperti Teks Masoret, Pentateukh Samaria, Gulungan Laut Mati, dan Septuaginta

    Homoseksualitas Masa Kini: Suatu Tinjauan Menurut Etika Kristen

    Full text link
    Homosexuality, in this day and age, is not understood as a kind of behavior, but as a sexual orientation that emerges out of human identity and is beyond human will. As a result, people consider homosexuality to be a normal lifestyle and do not perceive of it as sinful behaviour. Evaluations, garnered from both biblical and theological perspectives, are examined to answer the complicated questions related to this topic and conclude that homosexuality is sin.Homoseksualitas kini tidak lagi hanya dipahami sebagai bentuk perilaku melainkan sebagai suatu bentuk orientasi seksual yang muncul di luar kehendak manusia. Implikasinya, homoseksual dianggap sebagai suatu hal yang wajar dan tidak berdosa. Evaluasi terhadap konsep ini dijelaskan dari sudut pandang biblika dan teologis untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang sulit mengenai keberdosaan homoseksual

    Persahabatan: Sumbangsih Moralitas Tradisi Kristen bagi Moralitas Bangsa Indonesia

    Full text link
    Christians in Indonesia are often depicted as free riders who don’t contribute much to Indonesian’s independence and life as nation. This is a false claim. However, Christianity does need to offer a greater contribution, especially in the area of moral thought of Indonesia which is dominated by Islamic theology and secular ideas. Using the framework of Alasdair MacIntyre and Alister McGrath, this article constructs a theological and philosophical basis for Christianity’s contribution for the nation’s morality discussions. In the later part of this article, a Christian conception of friendship will be offered as an example of a Christian contribution.Untuk betul-betul menjadi terang, kekristenan perlu menggumulkan sumbangsihnya bagi moralitas bangsa. Menggunakan ide tradisi Alasdair MacIntyre dan teologi natural Alister McGrath, penulis menawarkan sebuah konstruksi teologi yang membuka kemungkinan ide moralitas Kristen diperhitungkan dalam pembicaraan moralitas bangsa. Penulis kemudian menawarkan konsep persahabatan dalam kekristenan sebagai contoh nyata sumbangsih kekristenan bagi moralitas bangsa

    Misiologi Regnosentris Paul Knitter : Sebuah Kritik dan Koreksi

    No full text
    Tujuan artikel ini adalah untuk meneliti teologi misi (misiologi regnosentris atau misiologi yang berpusatkan pada kerajaan Allah) dari Paul Knitter dan untuk mengajukan kritik dan koreksi terhadap misiologi regnosentris dari perspektif seorang ekslusivis. Untuk melakukan hal ini, sebuah gambaran tentang Kristologi Knitter (dengan acuan utama tentang keselamatan) akan secara singkat diutarakan untuk menyediakan latar belakang yang dibutuhkan bagi misiologinya. Unsur utama atau unsur-unsur utama dari misiologi regnosentris Knitter akan diidentifikasi dan dibahas, kemudian pengungkapan arti teologis dan implikasi praktisnya akan menjadi dasar untuk kritik dan koreksi. Yang terutama, interaksi saya didasarkan pada karya-karya tulisnya, terutama buku Jesus and the Other Names karena buku ini berisi tentang pandangan pluralisnya yang paling mutakhir dan yang telah direvisi. Tentu saja, karena keterbatasan tempat, tidak mungkin untuk membahas semua isu-isu tentang pluralisme keagamaan atau misi

    Sebuah Kritik untuk Kritik Alkitab Modern 

    No full text
    Fokus utama proyek ini adalah presuposisi dasar metode kritik Alkitab modern, atau dengan kata lain asumsi dasar para sarjana Alkitab modern, yang telah mengarahkan pola pikir mereka sedemikian rupa, sehingga mereka percaya bahwa metode pendekatan terhadap Alkitab yang benar adalah seperti apa yang mereka yakini, sehingga mereka mengabaikan sama sekali proses-proses pendekatan terhadap Alkitab yang sifatnya “tradisional”atau “re-critical.” Dengan demikian, sasaran yang hendak saya capai melalui tulisan ini ada dua: pertama, saya akan menunjukkan bahwa asumsi dasar yang melandasi pola pikir sarjana Alkitab modern pada hakekatnya tidak konsisten pada dirinya sendiri. Kedua, sebagai akibatnya, saya akan mencoba untuk berargumen bahwa pola pendekatan tradisional atau konservatif terhadap Alkitab yang selama ini diterima oleh gereja-gereja mainline di sepanjang sejarah tidak sepenuhnya salah, bahkan sebenarnya tidak ada alasan yang kuat bagi orang-orang Kristen untuk dengan begitu saja mengabaikan pendekatan tradisional dan mengikuti kritik Alkitab modern tanpa pertimbangan yang jeli dan matang. Dengan berkata demikian, saya bukan sedang menegaskan bahwa jika begitu kita lebih baik menolak sepenuhnya segala bentuk modernitas dan tetap berpegang teguh pada pola pendekatan tradisional. Yang saya maksudkan adalah: kita boleh dan harus terbuka terhadap sumbangsih positif penemuan-penemuan studi Alkitab modern tanpa harus mengorbankan dasar iman yang sejati

    Reinkarnasi : Pandangan Dunia yang Melatarbelakanginya dan Bagaimana Orang Percaya Menyikapinya

    No full text
    Artikel ini bertujuan untuk memahami ajaran reinkarnasi, latar belakang pemikirannya dan apa yang membuatnya begitu populer. Dari situ hendak ditangkap pandangan dunia yang melatarbelakanginya, kuasa kegelapan yang mendorongnya dan pengharapan apa yang sesungguhnya ditawarkannya. Dan pada bagian terakhir secara ringkas akan dibahas bagaimana kita sebagai orang percaya menyikapinya, karena gereja akan banyak berhadapan dan harus menjawab jemaat atau keluarganya yang punya latar belakang kepercayaan ini. Dalam menulis artikel, penulis akan dibahas secara terbatas kasus-kasus yang dianggap “fenomena reinkarnasi” dalam Alkitab yang sering dipakai oleh penganut reinkarnasi untuk “mengesahkan” pernyataan mereka bahwa didalam Kekristenan juga ada, bahkan membenarkan ajaran reinkarnasi. Dengan pembahasan itu diharapkan menjadi jelas bahwa Alkitab sama sekali tidak mengajarkan reinkarnasi. Dalam keseluruhan pembahasan penulis berusaha untuk tetap mengacu kepada Alkitab untuk semua argumentasi yang menyangkut iman Kristen. Namun bagian Alkitab yang akan menjadi acuan pembahasan utama tentang kehidupan sesudah kematian menurut iman Kristen adalah 1 Korintus 15: 1-58. Bagian ini dipilih karena di dalamnya dibahas secara utuh konsep kebangkitan orang mati di dalam Kristus yang menjadi dasar pengharapan orang-orang percaya. Dari pemahaman ini akan ditarik kesimpulan bagaimana sikap kita sebagai orang percaya menanggapi ajaran reinkarnasi, dan lebih jauh bagaimana bersikap bijaksana kepada mereka yang terpikat oleh pengharapan yang ditawarkan ajaran ini tentang masa depan manusia. &nbsp

    Karakteristik Pelayanan dalam Idealisme Kesempurnaan (Wahyu 7:9-17)

    No full text
    Naskah khotba

    Mencermati Perjalanan Integrasi Psikologi dan Teologi : Lajang, Nikah, Cerai? 

    No full text
    Mencermati relasi antara psikologi dan teologi, tidak bisa tidak, saya teringat akan relasi suami-istri pada umumnya: ada yang mesra dan penuh perhatian, ada yang berseteru bak musuh bebuyutan, dan ada yang tidak acuh satu sama lain. Ironisnya, sesungguhnya keduanya merupakan “sumber hikmat dan pengertian tentang kehidupan manusia,” yang mempunyai cukup banyak kesamaan. … Sampai pada abad 19, psikologi masih dipandang sebagai ilmu yang berdampingan dengan agama, namun mulai abad 20 sekularisme sudah mendominasi psikologi. Tampaknya ini adalah titik awal ketidakpastian relasi antara dua ilmu ini dan upaya integrasi mengemuka dari relasi yang ambivalen ini

    Kemurahan Allah kepada Kita (Matius 20:1-16) 

    No full text
    Naskah Khotba

    13

    full texts

    95

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    VERITAS JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇