VERITAS JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
Not a member yet
95 research outputs found
Sort by
Penggalian Tulang-Belulang : Sebuah Kritik Injili terhadap Pembangunan Tugu di Tapanuli Utara
Salah satu isu teologi misi abad kedua puluh adalah masalah perbenturan injil dan kebudayaan. Ada berbagai pandangan mengenai hubungan antara injil dan kebudayaan di sepanjang sejarah gereja yang masih menjadi perdebatan sampai abad dua puluh bahkan sampai abad dua puluh satu. Injil kerap kali tidak berdampak pada kehidupan padahal injil bersifat selalu membaharui dan mengubahkan. Hal inilah yang mendorong penulis untuk menulis artikel ini, khususnya berkaitan dengan kehidupan orang Batak Toba karena suku ini kerap meninggikan adat mereka. Secara lebih sempit artikel ini akan menyoroti dampak pelayanan gereja yang terjadi di antara orang Batak Toba yang 99% beragama Kristen, yakni pada peristiwa penggalian tulang-belulang leluhur. Penggalian tulang-belulang yang dalam bahasa Batak disebut mangongkal holi, mengandung kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek agamawi yang berhubungan dengan roh-roh nenek moyang yang telah mati. Upacara ini mengandung suatu keyakinan bahwa orang yang telah mati sebenarnya masih hidup dalam bentuk lain dan mempunyai hubungan sosial dengan orang-orang yang masih hidup, serta memiliki sifat ilahi yaitu selalu memperhatikan, memelihara keturunannya dan menerima permohonan dan pelayanan dari keturunannya. Sebagian besar orang Batak Toba Kristen menganggap mereka yang telah mati bisa menolong atau mencelakakan orang-orang yang masih hidup. Dengan melakukan penggalian tulang-belulang mereka menjaga hubungan dengan keluarga yang sudah meninggal. Memang, menurut ilmu agama fenomena hubungan leluhur dengan orang yang masih hidup dianggap sebagai suatu cabang yang besar dari agama manusia, dan merupakan sebuah kenyataan agamawi yang sangat penting. Hal ini tidak hanya ditemukan pada masyarakat Batak yang dianggap terbelakang atau bangsa primitif pada umumnya, tetapi juga ditemukan pada berbagai lapisan masyarakat dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Yang terjadi di antara orang Batak Toba adalah melakukan berbagai hal penyembahan nenek moyang atau iman sinkretis melalui pembangunan tugu bagi tulang-belulang nenek moyang mereka. Secara materi hal ini telah membuat orang Batak Toba menjadi miskin karena pembangunan tugu ini menghabiskan biaya besar. Namun lepas dari masalah miskin atau kaya, pertanyaannya sekarang adalah: apakah penggalian tulang-belulang dan segala yang tersangkut di dalamnya dapat dibenarkan dari sudut pandangan Alkitab? Bagaimanakah seharusnya gereja sebagai agen pembaharu Allah menyikapi keadaan ini? Hal praktis apakah yang dapat dilakukan oleh gereja untuk memulai pembaharuan sehingga iman Kristen menjadi fondasi bagi kehidupan orang Kristen Batak Toba? Hal inilah yang akan disorot dalam artikel ini, secara khusus ditinjau dari sudut pandang teologi injili
Paulus, Hukum Taurat dan Perspektif yang Baru : Sebuah Penelitian dan Respons
Pandangan Paulus tentang hukum Taurat tidak diragukan lagi merupakan salah satu tantangan hermeneutikal yang paling kompleks yang ditemukan dalam semua tulisannya. Tidak sedikit monograf dan artikel mengenai teologi Paulus tentang hukum Taurat secara mengherankan terus muncul di sepanjang zaman. Barangkali, sepantasnyalah demikian mengingat kompleksitas dan sulitnya isu-isu yang terlibat di dalamnya. Salah satu contohnya, apakah Paulus berargumentasi tentang penghapusan hukum Musa ataukah validitas hukum tersebut tetap berkesinambungan namun berada di bawah pelaksanaan ikatan perjanjian yang baru? Dalam pengertian apa dan sampai sejauh mana hukum Taurat tetap berlaku, dan sebaliknya, dalam pengertian apa serta sejauh mana hukum itu tidak lagi valid? Jika hukum itu tidak lagi berlaku, apakah kegunaannya bagi orang percaya zaman Perjanjian Baru, mengingat bahwa hukum tersebut adalah bagian dari firman yang diinspirasikan? Ini hanya beberapa contoh pertanyaan yang dihadapi oleh mereka yang mempelajari teologi biblika dan sistematika. Studi kontemporer belakangan ini juga makin mempertanyakan validitas pandangan injili tentang pembenaran hanya oleh iman melalui Kristus sehubungan dengan “perspektif baru” terhadap Paulus. Apakah perspektif baru ini? Pusat dari pendekatan ini adalah pengakuan bahwa Yudaisme periode Bait Allah kedua bukanlah agama pembenaran-diri yang melaluinya seseorang memperoleh keselamatan dari Allah berdasarkan perbuatan atau jasanya. Perdebatan Paulus dengan penganut Yudaisme bukanlah tentang anugerah Kristen melawan legalisme Yahudi tetapi lebih ke status orang-orang kafir di dalam gereja. Doktrin pembenaran Paulus, karena itu, jauh lebih berkaitan dengan isu-isu Yahudi-kafir daripada dengan pertanyaan-pertanyaan tentang status seseorang di hadapan Allah. Memang “perspektif baru” ini diakui sebagai terobosan revolusioner dalam studi PB, yang tidak terhindarkan lagi telah menghasilkan analisa-analisa baru dan interpretasi-interpretasi yang berbeda secara radikal tentang teologi hukum Taurat Paulus yang, jika diterima, akan memaksa kaum injili untuk merevisi, jika tidak mengabaikan, pengertian tradisional mereka tentang Yudaisme Palestina dan doktrin pembenaran. Artikel ini akan berusaha menguji perspektif baru Paulus berkaitan dengan isu-isu yang dimunculkan di atas dan menawarkan respons injili terhadap pendekatan baru ini. Penelitian akan dilakukan dengan cara berikut: Pertama akan disajikan suatu ulasan pandangan tradisional tentang teologi hukum Taurat Paulus yang diketengahkan oleh para Reformator seperti Martin Luther dan John Calvin. Ini akan berfungsi sebagai latar belakang diskusi tentang perspektif baru. Kedua, perspektif baru terhadap Paulus akan diuji. Bagian ini juga akan memperkenalkan penganjur-penganjur utama serta prinsip-prinsip yang dianut oleh kebanyakan, jika tidak mau dikatakan semua, sarjana perspektif baru. Ketiga, menawarkan respons injili yang akan menyelidiki kemungkinan adanya kesempatan untuk memberikan respons dan memberikan kritik terhadap perspektif baru. Sudah tentu keterbatasan ruang tidak memungkinkan untuk melakukan studi komprehensif atas perspektif baru terhadap studi-studi tentang Paulus ini, khususnya penyelidikan eksegetikal terhadap materi-materi biblikal yang relevan
Doktrin dan Penggunaan Kitab Suci Menurut C. S. Lewis
C. S. Lewis dalam salah satu bukunya menulis demikian: Bagi saya kitab Ayub nampak bukan kisah historis. Hal ini disebabkan kitab Ayub dimulai dengan kisah tentang seorang laki-laki yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan semua sejarah, bahkan semua legenda. Laki-laki itu tinggal di sebuah negara di mana negara itu tidak pernah disebutkan di bagian lain di Alkitab; kelihatannya, penulis dengan sangat jelas menulis sebagai seorang pendongeng bukan sebagai seorang sejarawan. Selanjutnya ia mengatakan, “Oleh karena itu, saya tidak mengalami kesulitan dalam menerima, misalnya, pandangan dari para sarjana yang mengatakan kepada kita bahwa kisah tentang penciptaan di kitab Kejadian berasal dari cerita-cerita bangsa Semit zaman dahulu yang bersifat politeisme dan mistis.” Ada beberapa pertanyaan yang mungkin muncul dalam pikiran kita sesudah membaca pernyataan-pernyataan di atas, misalnya: Apakah Lewis percaya kepada inspirasi Alkitab, ataukah tidak? Apakah ia berpikir bahwa Alkitab merupakan sebuah mitos dan bukan sebuah fakta historis? Bagaimana dengan kisah Yesus Kristus di dalam Perjanjian Baru, apakah ia juga berpikir bahwa kisah tersebut merupakan sebuah mitos? Lewis sendiri menyatakan bahwa ia dituduh sebagai seorang fundamentalis. Di lain pihak, pemahamannya terhadap Kitab Suci dituduh oleh kaum fundamentalis sebagai pemahaman yang liberal. Jadi, dalam isu kontroversial ini di sisi manakah ia sebenarnya berada? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut kita harus mengerti terlebih dahulu apa sebenarnya arti semua istilah yang ia gunakan yang berkaitan dengan masalah ini, misalnya wahyu Allah, inspirasi, mitos, otoritas, ineransi dan infalibilitas Alkitab. Sesudah itu penulis akan membandingkannya dengan pengertian yang dianut kaum liberal dan fundamentalis. Artikel ini tidak hanya menjelaskan pandangan Lewis terhadap Kitab Suci dan bagaimana ia telah menggunakannya, tetapi juga bagaimana pandangannya dapat memberikan pencerahan kepada kita dalam melihat ilmu pengetahuan dan pandangan orang lain dalam perspektif yang berbeda dari yang mungkin telah kita miliki sebelumnya. Ini tidak berarti kita harus setuju dengan semua yang ia katakan, namun tidak ada salahnya kita memikirkan dan mempertimbangkannya sebagai bahan evaluasi untuk apa yang kita percaya selama ini. Siapa tahu pandangan tersebut dapat mempertajam apa yang kita percayai selama ini dan bergeser dari “asal percaya” menjadi “aku tahu apa yang kupercaya dan aku tahu mengapa aku percaya.
Sebuah Tinjauan terhadap Teologi Feminisme Kristen
Apakah sebenarnya teologi feminis itu? Mengapa teologi ini mendapat banyak kritik di sana-sini? Apakah teologi ini mendapat dukungan yang cukup dari Alkitab sebagai sumber teologi Kristen yang berotoritas? Untuk menjawab pertanyaan ini pada halaman-halaman berikut secara singkat kita akan mencoba mendefinisikan feminisme Kristen kemudian mempelajari bagaimana pandangan feminisme terhadap Alkitab serta metode berteologinya. Mengingatnya luasnya lingkup feminis maka pembahasan difokuskan pada teologi feminis Kristen liberal yang diwakili oleh Rosemary Radford Ruether, Letty M. Russell dan Elizabeth Schüssler Fiorenza. Namun sebelum masuk ke dalam pembahasan tersebut pada bagian berikut akan kita telusuri lebih dahulu latar belakang historisnya guna lebih memahami pandangan ini
Membangun Gereja Secara Integratif-Ilahi-Insani Selaku Umat Allah-Tubuh Kristus-Bait Roh Kudus : Suatu Analisis terhadap Teologi O. E. Costas mengenai Pertumbuhan Holistik Gereja
Seiring dengan merebaknya isu pertumbuhan gereja, salah satu wujud tanggung jawab kita sebagai saksi Kristus dan pelayan injil adalah mengenali, menilai serta menyikapi berbagai konsep pertumbuhan gereja yang ada. Melalui tulisan ini kita akan mencermati konsep pertumbuhan holistik gereja dari Orlando E. Costas yang tertuang dalam buku-bukunya, The Church and Its Mission: A Shattering Critique from the Third World, The Integrity of Mission dan sebuah artikel berjudul “A Wholistic Concept of Church Growth.” Konsep ini menarik, baik dan layak dicermati karena dinilai kritis, kontekstual dan injili-integral-aplikatif. “Kritis” berarti bahwa ia juga mengkritisi atau menyoroti secara tajam isu kekinian pertumbuhan gereja. Yang dimaksud kontekstualk adalah pemikirannya “mengena” bagi gereja Indonesia. Sedangkan “injili-holistik-aplikatif” menunjuk pada jiwa misi injili (pendekatan misiologis yang alkitabiah menurut penekanan Kristen injili), berupaya melihat isu secara utuh-padu-antero, dan bisa diterapkan hingga tingkat lokal. Riwayat Costas akan mendahului penyajian garis besar teologinya. Pada bagian selanjutnya akan dibahas analisis pemikirannya untuk membantu kita lebih menghayati konsep pandangannya
Communio, Communicatio, Communitas : Teologi Trinitaris sebagai Acuan Berteologi di Era Pascamodern
Bagaimanakah wajah teologi di era pascamodern? Tulisan ini berusaha menjawab pertanyaan tersebut. Teologi—yang adalah perbincangan atau pembicaraan mengenai Allah dan relevansinya bagi keberlangsungan kehidupan seisi dunia—selalu mengalami pergeseran, perenungan ulang bahkan perevisian secara radikal. Munculnya Reformasi di abad enam belas merupakan contoh pergeseran signifikan dari teologi yang diterima secara umum. Merekahnya fajar pascamodern tentu menyebabkan pergeseran yang signifikan dalam teologi. ... Pertama-tama penulis akan meninjau tiga masalah utama dalam pascamodernisme dan dampaknya bagi teologi Kristen. Sebuah titik terang disediakan oleh “teori tindak-wicara” (speech-act theory) yang digagas oleh filsuf bahasa dari Oxford, John L. Austin (1911-1960). Teori-teori ini yang akan mendasari gagasan communio, communicatio dan communitas sebagai acuan berteologi di era pascamodern. Pada bagian terakhir penulis mencoba untuk melihat relevansi teologi trinitaris bagi konteks Indonesia dan praksis-praksis gereja pada umumnya
Doa Yabes: Diabaikan dan Dieksploitasi
Akhir-akhir ini doa Yabes dipopulerkan lewat Bruce H. Wilkinson dan pelayanannya. Bukunya, Doa Yabes: Menerobos ke Hidup Penuh Berkat, amat laris, demikian juga bermacam-macam aplikasi dari buku tersebut, seperti doa Yabes untuk remaja, pemuda, untuk bahan renungan setiap hari dalam sebulan. Padahal kisah tentang Yabes di seluruh Alkitab hanya tercatat dalam dua ayat. Selain itu, banyak tokoh lain dalam Alkitab yang doanya dikabulkan. Namun belakangan ini tokoh Yabes diekspos besar-besaran meskipun banyak juga orang beranggapan bahwa doa Yabes terlalu dibesar-besarkan. Ron Gleason bahkan tidak merekomendasikan orang lain untuk membaca buku Wilkinson. Daripada kita masuk ke dalam pro-kontra yang membingungkan tentang doa Yabes, baiklah kita mempelajari teks Alkitabnya
Martin Luther dan Penginjilan terhadap Orang Yahudi
Jasa Martin Luther baik sebagai seorang teolog maupun sebagai reformator tidak bisa kita pungkiri. Semua orang Kristen yang mempelajari sejarah gereja pasti akan bertemu dengan tokoh Jerman ini yang dilahirkan pada 1483 dan meninggal pada 1546 di Jerman. Sikap Luther terhadap penginjilan dan misi dalam sejarah teologi menjadi perdebatan yang seru. Para sarjana pada abad-abad yang lalu tidak melihat bahwa Luther memiliki sikap positif terhadap penginjilan, namun sejak Karl Holl menulis makalah berjudul Luther und die Mission (Luther dan Misi) pada 1924, tanggapan para teolog dan misiolog tentang Luther dan misi sedunia mulai lebih positif. Sikap Luther terhadap penginjilan kepada orang Yahudi lebih hangat lagi didiskusikan dalam ilmu teologi oleh karena ia mengalami satu perkembangan dalam pemikiran tentang penginjilan terhadap orang Yahudi. Perkembangan itulah yang akan saya selidiki melalui artikel ini. Seumur hidupnya Luther menganggap orang Yahudi sebagai sebuah ladang misi yang hadir di tengah-tengah orang Kristen. Kita tidak boleh lupa bahwa ia dilahirkan dan dibesarkan pada abad pertengahan di Jerman yang hanya mengenal satu agama yaitu agama Kristen Katolik. Seluruh lingkungannya dipengaruhi hanya oleh satu agama yang diikuti dan dihayati oleh rakyat di bawah pimpinan gereja dan raja. Orang Eropa pada zaman itu bertemu dengan penganut agama lain hanya ketika mereka berperang dengan orang Turki yang beragama Islam dan yang mengancam negara-negara Kristen Katolik di Eropa. Itu sebabnya sering kali agama Islam dipandang sebagai agama musuh negara dan agama Kristen di Eropa, serta tidak disukai dan dipahami oleh orang Eropa. Selain orang Turki yang jarang dijumpai rakyat Eropa kecuali waktu perang, mereka bertemu dengan orang Yahudi yang tinggal di tengah-tengah mereka. Biasanya orang Yahudi berkiprah di bidang ekonomi dan perbankan dan banyak di antara mereka yang kaya. Sebelum Luther, orang Yahudi dipandang sebagai “pembunuh” Kristus dan musuh Allah. Gereja Katolik pun sudah merasa berkewajiban untuk mencapai orang Yahudi dengan Injil, apalagi orang “kafir” ini tinggal di tengah-tengah umat Kristiani. Seumur hidup Luther tidak pernah berhenti mendoakan keselamatan abadi orang Yahudi. Walaupun pada akhir hidupnya ia merasa sangat kecewa terhadap orang Yahudi, reformator Jerman ini tidak pernah lupa mendoakan bangsa pilihan Allah tersebut. Tulisannya yang paling tajam melawan orang Yahudi adalah Wider die Juden und ihre Lugen (Melawan Orang Yahudi dan Kebohongan Mereka) dan Von Schem Hamphoras und vom Geschlecht Christi (Tentang Schem Hamphoras dan Tentang Keturunan Kristus), yang diakhiri dengan doa syafaat bagi bangsa Allah
Prinsip Dasar Etika Kristen tentang Perang : Sebuah Tinjauan terhadap Pacifism dan Just War Theory
Adakah perang yang dapat dibenarkan (justified)? Pertanyaan ini bukan sedang diarahkan kepada perang tertentu, entah yang pernah atau sedang terjadi, tetapi lebih sebagai pertanyaan yang bersifat prinsip. Artinya, berdasarkan prinsip etika Kristen, adakah dasar-dasar pertimbangan untuk membenarkan perang atau penggunaan kekerasan demi mencapai suatu sasaran kemanusiaan yang lebih mulia? Sebagai orang Kristen yang lekat dengan prinsip kasih, sudah pasti kita bukanlah orang-orang yang terpanggil untuk mengobarkan semangat perang. Namun demikian, di tengah dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa di mana kekerasan merupakan isu moral yang tidak pernah dapat dihindari, sering kali kita harus mengakui bahwa perang atau penggunaan kekerasan demi alasan kemanusiaan dengan segala etika yang terkandung di dalamnya, adalah pilihan yang harus kita pertimbangkan. ... Artikel ini merupakan sebuah usaha untuk memberikan landasan biblika dan teologis dalam mengambil posisi etika antara kedua paham tersebut. Untuk itu pada bagian berikut akan dibahas terlebih dahulu pandangan masing-masing posisi. Selanjutnya, dengan menggunakan pendekatan hermeneutik dan teologis, kita akan mencoba untuk pada bagian terakhir mengambil kesimpulan tentang posisi etika yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya di hadapan Tuhan. Penulis menyadari bahwa semua kategori pembahasan dalam tulisan ini adalah topik-topik diskusi yang sangat luas, karena itu melalui artikel yang tidak terlalu panjang ini, rasanya berlebihan jika seseorang mengharapkan pembahasan secara detail dan menyeluruh. Penulis hanya berharap artikel ini dapat memberikan sedikit sumbangsih bagi pergumulan etika, khususnya isu tentang perang
Di Manakah Orang-Orang yang Telah Meninggal Dunia Berada ? : Sebuah Studi Mengenai Intermediate State
Perjanjian Baru mengajarkan bahwa orang-orang yang telah mati akan dibangkitkan pada waktu kedatangan Kristus kedua kali. Pertanyaan yang segera muncul atas pengajaran Alkitab ini adalah, “Di manakah mereka selama kurun waktu antara kematian mereka dan kedatangan Tuhan Yesus kedua kali?” Dengan perkataan lain, “Di manakah jiwa mereka menunggu selama waktu itu?” Wajar bila kita berpikir bahwa mereka ada di suatu tempat di dalam periode antara kematian dan kebangkitan mereka. Masa atau keadaan itu disebut dengan istilah “intermediate state.” Istilah ini diciptakan oleh para teolog untuk menjelaskan dengan tepat ruang dan waktu yang bersifat sebagai antara dan sementara. Kata sifat “intermediate” mengacu pada suatu kurun waktu tertentu sedangkan kata benda “state” berarti suatu kondisi manusia di bawah keadaan tertentu. Jadi, konsepsi ini secara keseluruhan menyatakan keadaan orang-orang mati dalam masa antara kematian dan kebangkitan mereka, dalam hal ini juga mencakup pertanyaan-pertanyaan yang timbul seperti: Dalam kurun waktu itu, di manakah orang-orang yang sudah meninggal dunia menunggu? Apakah mereka masih hidup? Apakah mereka sadar dan tahu siapa diri mereka? Apa yang mereka lakukan? Apakah mereka sudah menerima hukuman atau pahala, atau masih dalam keadaan netral: tanpa hukuman atau pahala? Lalu bagaimana dengan roh mereka? Jiwa mereka? Pertanyaan-pertanyaan yang penting ini dapat muncul begitu saja dalam diri kita. Tentu jawaban pertanyaan ini dapat memberikan kepada kita suatu pengharapan yang besar atau sebaliknya, kekecewaan yang mendalam. Sayangnya, kebanyakan kita tidak mempunyai pengertian yang jelas tentang doktrin ini. ... Artikel ini adalah suatu usaha untuk menyelidiki apa yang sesungguhnya Alkitab katakan tentang pengajaran intermediate state. Tujuannya adalah guna mendapatkan pengertian yang lebih jelas tentang hal tersebut sehingga kita mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan penting yang datang dari mereka yang memerlukan kepastian dan kekuatan di tengah-tengah dukacita mereka. Alur penulisan artikel ini adalah sebagai berikut: Pertama kita akan melihat beberapa pandangan tentang doktrin intermediate state, tanpa memberi komentar apa pun terhadap pandangan-pandangan itu. Kemudian, kita akan mencoba mengerti beberapa bagian Alkitab yang sering disebut-sebut sebagai dasar pengajaran intermediate state. Terakhir, kita akan melihat kesimpulan dan komentar atas beberapa pandangan tentang intermediate state yang akan menutup tulisan ini