VERITAS JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
Not a member yet
    95 research outputs found

    Mengapa Ajaran Teologi Seseorang Dapat Berubah?

    No full text
    Selesai mengisi tiga kali kebaktian Minggu di sebuah gereja di Surabaya, saya ditemani makan malam oleh dua orang majelis dari gereja tersebut. Di tengah-tengah santap malam tersebut salah seorang majelis bertanya kepada saya, “Pak Daniel, tahu tidak bahwa si anu (ia menyebut nama seorang hamba Tuhan) sekarang ikut ajaran yang aneh-aneh (ia juga menyebut nama ajaran atau lebih tepatnya sebuah aliran yang belakangan ini agak santer)?” Setelah saya menjawab, ya saya tahu, majelis itu bertanya lebih lanjut, “Lho, kok bisa ya? Hamba Tuhan yang studi baik-baik dan setahu saya orang itu punya pengajaran yang cukup baik kok bisa ikut pengajaran yang sumbang seperti itu?” Pertanyaan seperti ini bukan pertama kalinya dialamatkan kepada saya; sudah berkali-kali, di berbagai tempat, oleh segala macam orang, baik yang hamba Tuhan, majelis, mahasiswa teologi bahkan awam. Mereka umumnya menjadi bingung ketika mendengar adanya pendeta atau lulusan teologi yang terbina dengan baik-baik mengalami pergeseran dalam ajarannya. Sekalipun menghebohkan dan membingungkan, sebenarnya perubahan ajaran teologi seseorang bukanlah hal yang baru. Perubahan itu juga bukan disebabkan pendidikan teologi seseorang hanya strata satu atau kurang mendalam. Sebab misalnya orang yang terdidik sampai gelar doktoral seperti Clark H. Pinnock dan yang sudah menulis banyak buku juga mengalami pergeseran dalam pengajarannya. Demikian pula apa yang terjadi pada Donald G. Bloesch, Norman Geisler, Jack Deere dan seterusnya. Walaupun ada juga orang yang berubah dari teologi yang tidak baik (misalnya dari teologi Liberalisme) menjadi teologi yang ortodoks (sebagai contoh apa yang terjadi pada Thomas C. Oden ), namun demikian agaknya orang yang teologinya berubah menjadi ngawur jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang berubah menjadi baik. Karena itu artikel ini mencoba melihat beberapa kemungkinan sebab-sebab seseorang dapat bergeser ajarannya. Saya memakai kata “kemungkinan” dengan pengertian walaupun ada beberapa sebab yang akan ditulis dalam artikel ini tetapi sebab-sebab itu belum tentu persis salah satu saja yang menyebabkan seseorang menjadi berubah. Ada kemungkinan beberapa sebab terjadi sekaligus, atau bisa juga ada sebab yang terselubung yang sulit dianalisis kecuali orang yang mengalaminya menulis buku, artikel, atau paling sedikit dapat dianalisis khotbah atau kesaksiannya. Jadi, istilah “kemungkinan” tidak berarti penulis ragu-ragu mengenai poin yang akan dibahas berikut ini, tetapi lebih kepada adanya kasus variabel yang berbeda-beda pada setiap orang

    Dasar-Dasar Alkitabiah Pengembangan Kepemimpinan

    No full text
    Alkitab merupakan buku yang mengagumkan. Bukan hanya karena buku ini meliputi rencana keselamatan, tetapi juga menjadi buku pegangan bagi kepemimpinan, terutama kepemimpinan Kristen. Saya berani mengatakan, sekalipun kita telah mempelajari berbagai teori kepemimpinan sekuler, kita tidak akan menjadi pemimpin yang efektif sebelum mempelajari prinsip-prinsip kepemimpinan dari Alkitab,. Alkitab bukan hanya merupakan kisah tentang karya Allah yang luar biasa, melainkan juga kisah para pemimpin pilihan Allah. Dalam Perjanjian Lama kita mengenal lusinan pemimpin besar seperti Abraham, Yusuf, Musa, Yosua, Gideon, Samuel, Elia, Elisa, Daud, Salomo, Daniel, Nehemia dan lain-lain. Jika kita menyelidiki Perjanjian Lama dengan sungguh-sungguh kita akan menemukan pada hampir setiap halamannya menampilkan biografi, karakter, kepribadian, pelayanan, karya dan tulisan para pemimpin tersebut. Kitab-kitab injil tidak kurang menariknya dibandingkan dengan PL sebab kitab-kitab ini menggambarkan kehidupan Sang Pemimpin Agung, yaitu Yesus Kristus. Siapa pun yang ingin berhasil dalam kepemimpinan-hamba, yang sangat dibutuhkan gereja, ia mutlak harus belajar dengan rendah hati dari Tuhan sendiri. Dalam kitab Kisah Para Rasul kita melihat karya-karya para pemimpin gereja mula-mula seperti Petrus dan Paulus yang mengikuti setiap langkah Tuhan kita dalam kepemimpinan. Kemudian dalam kitab-kitab PB selanjutnya, terutama surat-surat, tidak dapat disangkal tulisan para rasul memperlihatkan karakter, kemampuan dan keterampilan mereka sebagai pemimpin gereja dalam mengatasi segala permasalahan yang terjadi pada jemaat mula-mula. Artikel ini akan membahas secara singkat pola pengembangan kepemimpinan dalam Alkitab

    Latar Belakang dan Tujuan Penulisan Kitab Wahyu

    No full text
    Latar Belakang dan Tujuan Penulisan Kitab Wahy

    Perspektif Alkitab untuk Kehidupan Remaja Kristen 

    No full text
    Agustinus, salah seorang bapak gereja, dilahirkan di Tagaste (sekarang di wilayah Algeria) pada tahun 354. Ibunya yang bernama Monika adalah seorang Kristen yang saleh sedangkan Patrik, ayahnya, adalah seorang kafir yang mempunyai sifat pemarah dan pemabuk. Agustinus dipengaruhi oleh kehidupan ayahnya dan menjadi seorang remaja yang hidup menuruti hawa nafsunya. Pada masa mudanya, selain pandai menghafal Agustinus juga pandai berdusta, berkelahi, mencuri dan main perempuan. Ia pernah hidup bersama seorang wanita muda selama 13 tahun di luar nikah, dan dari hubungan asusila ini lahirlah seorang anak laki-laki. Namun syukur kepada Tuhan karena melalui pembacaan surat Roma 13:13-14 yang berkata: “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya,” Agustinus bertobat. Agustinus yang belum bertobat adalah Agustinus yang hidup mengikuti hawa nafsu sendiri, merugikan orang lain, hanyut dalam kenikmatan dunia dan tidak takut Tuhan. Agustinus yang sudah bertobat adalah Agustinus yang hidup dalam kekudusan, menjadi berkat bagi orang lain, meninggalkan kenikmatan dunia dan takut akan Tuhan serta mengasihi firman-Nya. Jika Tuhan sudah menyatakan kemurahan-Nya terhadap Agustinus melalui firman Tuhan yang dibacanya di kitab Roma 13:13-14, biarlah Tuhan juga menyatakan kemurahan-Nya pada kita melalui topik “Perspektif Alkitab untuk Kehidupan Remaja Kristen.” Apakah perspektif Alkitab untuk kehidupan remaja Kristen

    Tujuan Pengajaran Gereja dan Implikasinya

    No full text
    Penelitian menunjukkan adanya penurunan jumlah kehadiran jemaat dalam kelas-kelas pembinaan seperti Sekolah Minggu. Kurang tertariknya jemaat terhadap kelas-kelas tersebut membawa dampak terhadap kehidupan, pertumbuhan iman dan kesaksian jemaat. Hal yang hampir serupa juga dihadapi oleh gereja-gereja di Indonesia. Paulus Lie, dalam prawacana bukunya, mengatakan banyak guru yang mengeluhkan kurang menariknya acara yang digelar di Sekolah Minggu sehingga minat anak untuk datang ke Sekolah Minggu menurun. Masalah ini coba dijawab oleh banyak gereja dengan menggunakan metode yang kreatif. Oleh karena itu banyak gereja berupaya untuk men-training guru-guru Sekolah Minggu agar dapat mengajar dengan lebih kreatif. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah, apakah metode yang kurang kreatif menjadi dasar permasalahannya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, artikel ini mencoba untuk memaparkan apa yang terjadi di dalam kelas, menganalisa apa yang menjadi dasar permasalahannya, serta mengajukan hal-hal yang perlu diperhatikan gereja di dalam mengemban tugas pengajaran

    Anugerah dan Disiplin Gerejawi 

    No full text

    Perkembangan Doktrin Alkitab Clark Pinnock dan Pengaruhnya terhadap Jangkauan Keselamatan

    No full text
    Perhatian utama artikel ini adalah memperlihatkan bagaimana melalui perjalanan karier Pinnock sebagai seorang teolog, pergeseran doktrin Alkitabnya—khususnya pandangan mengenai ineransi, mempengaruhi pandangannya tentang jangkauan keselamatan. Karena itu doktrin Alkitab Pinnock akan dibahas lebih dahulu kemudian diikuti dengan membahas pandangannya tentang jangkauan keselamatan. Setelah itu saya akan memberikan evaluasi dan konstruksi paralel antara longgarnya doktrin Alkitab Pinnock dan luasnya pandangannya tentang “belas kasihan” Allah serta mengamati bagaimana yang pertama mempengaruhi yang belakangan. Dalam bagian kesimpulan saya akan menyajikan secara ringkas cara pendekatan saya sendiri terhadap isu ini

    Tim Kerja Menunjang Pemenuhan Pelayanan Gerejawi

    No full text
    Ketika kita memasuki sebuah gereja, sadar atau tidak sadar kita melihat bahwa gereja hadir di tengah kehidupan jemaat dan masyarakat yang kompleks. Gereja sebagai ‘umat Allah,’ kemanusiaan yang baru, mencakup orang Yunani, orang Romawi, hamba dan orang merdeka. Gereja sebagai umat Allah tanpa batas etnis, bahkan tanpa batas nasional, tanpa strata sosial. Gereja sebagai umat Allah bukan produk dari sekelompok orang demi menghormati nama Tuhan. Gereja adalah ciptaan Tuhan sendiri melalui panggilan, kehidupan, kematian dan kebangkitan Kristus dan dalam kuasa Roh Kudus. Dalam kuasa Roh Kudus itulah tembok-tembok etnis dan tembok-tembok pemisah yang lain dirobohkan. Jika gereja dipahami demikian, maka jelas kehadirannya di tengah situasi dan kondisi yang multikompleks menuntut pemenuhan-pemenuhan kebutuhan baik untuk kehidupan berjemaat maupun bermasyarakat. Bagaimana gereja bisa berperan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu agar kehadirannya menjadi berkat? Hal ini berkaitan dengan cara kerja kita dalam mengelola gereja. Dengan cara apa kita menggarap pekerjaan yang sangat kompleks itu? Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh para pemimpin gereja. “Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mengetahui bahwa tugasnya adalah membangun tim efektif yang akan melestarikan mereka.” Karena itu cara kerja yang individual akan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan gereja. Kerja tim jauh lebih efektif ketimbang kerja secara individu

    Anugerah Demi Anugerah dalam Spiritualitas Kristen yang Sejati 

    No full text
    Kehidupan spiritualitas seseorang bukan hanya merupakan topik perbincangan di kalangan orang beragama atau para teolog saja. Pada waktu buku Daniel Goleman—seorang doktor psikologi dari Harvard—yang berjudul Emotional Intelligence terbit pada 1995, para pakar pendidikan dan bidang lain, maupun orang awam mulai ramai membahas dan menulis tentang kepentingan dan peran kecerdasan emosi yang dikaitkan dengan keefektifan kecerdasan intelektual. Beberapa tahun kemudian, yaitu tahun 2000, buku berjudul SQ: Spiritual Intelligence—The Ultimate Intelligence karya Danah Zohar, seorang psikolog, dan fisikawan Ian Marshall, menambah, atau dapat dikatakan, menggeser topik pembahasan dan penulisan mengenai EI. Kecerdasan spiritual dianggap sebagai faktor penentu bagi keefektifan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi. … Pembahasan berikut akan diawali dengan definisi spiritualitas Kristen yang dilanjutkan dengan titik tolak spiritualitas Kristen, dan kriteria serta proses pertumbuhannya. Keseluruhan pembahasan akan mengacu pada kebenaran firman Tuhan yang dibandingkan pula dengan pemikiranpemikiran dari teolog-teolog yang sudah membahas mengenai hal ini

    Penderitaan dan Kesaksian : Sebuah Perspektif Misiologis dari 1 Petrus

    No full text
    Penderitaan yang disebabkan oleh penganiayaan karena agama bukanlah pengalaman yang asing bagi gereja. Sejak abad-abad pertama bahkan pada sepanjang zaman, banyak orang Kristen telah menderita hanya karena mereka adalah orang Kristen. Penganiayaan terhadap orang Kristen berkaitan dengan kesalahpahaman tentang kekristenan. Banyak orang non- Kristen belum melupakan masa lalu ketika kekristenan bertumbuh dan tersebar luas di bawah kolonialisme dan imperialisme. Hingga kini, para misionaris Kristen dianggap sebagai perusak kebudayaan-kebudayaan pribumi. Dalam artikel ini saya tidak bermaksud menguji anggapan-anggapan ini, dan menurut saya juga tidak ada gunanya untuk menyangkalnya. Penganiayaan terhadap orang Kristen saat ini jauh lebih komplikatif dari yang disadari kebanyakan orang. Pemikiran bahwa karena orang Kristen berbagian dalam gerakan-gerakan nasional dan pertumbuhan kekristenan di kalangan penduduk pribumi dunia ketiga yang fenomenal belakangan ini akan serta-merta menyingkirkan ancaman terhadap kekristenan, menurut saya, adalah pemikiran yang naif. Sementara gereja seharusnya berjuang keras untuk menghindari kesalahan pada masa lampau dan ikut serta secara positif dan konstruktif dalam membangun bangsa, harus disadari bahwa penderitaan adalah bagian dari eksistensi gereja, dan penderitaan bukanlah pengalaman yang asing dalam kehidupan gereja (1Ptr. 4:12). … Dalam artikel ini saya mencoba memberikan beberapa refleksi tentang pengalaman penderitaan gereja yang diakibatkan oleh penganiayaan. Saya memilih 1 Petrus karena saya yakin situasi penerima surat ini pada saat itu serupa dengan situasi gereja sekarang. Dalam 1 Petrus firman Allah berbicara tentang perjuangan gereja dalam menjalani kehidupan dan kesaksiannya dalam lingkungan yang bermusuhan. Saya percaya pesan 1 Petrus tidak saja dapat menguatkan gereja saat ini dalam menahan penganiayaan, tetapi juga dapat memperdalam pemahaman gereja tentang dirinya sendiri, hidup dan panggilannya

    13

    full texts

    95

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    VERITAS JURNAL TEOLOGI DAN PELAYANAN
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇