1,272 research outputs found
Perancangan typeface lokal afri bada eksplorasi typeface motif bada mudiak
Dalam perancangan typeface afri bada menggunakan pendekatan nilai-nilai budaya lokal yang dijadikan sebagai bahan acuan dalam proses untuk perancangan dan pencitraan huruf. Budaya lokal yang dimaksud adalah motif bada modiak yang berasal dari suku Minangkabau daerah Sumatera Barat, dijadikan sebagai ide awal perancangan huruf yang berbeda dengan jenis huruf yang berkembang saat ini yakni huruf latin dengan berbagai karakter. Huruf ini tidak saja difungsikan sebagai keindahan visual saja, tetapi juga membawa pesan-pesan moral yaitu " menjunjung semangat kebersamaan"
“INTERPRETASI MOTIF ORNAMEN BADA MUDIAK DI MINANGKABAU”
Abstrak Tulisan ini bertujuan untuk memahami falsafah motif bada mudiak di Minangkabau, menafsir kembali hubungannya dengan falsafah “alam takambang jadi guru”. Tentang penciptaan motif, hubungannya dengan alam dan reinterpretasi motif yang berlandaskan doktrin adat Minangkabau yaitu Adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah. Menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data melalui studi pustaka. Orang Minangkabau menamakan tanah airnya Alam Minangkabau. Pemakaian kata alam itu mengandung makna yang tidak bertara, seperti yang diungkapkan dalam mamangannya: Alam takambang jadi guru. Penciptaan karya ornamen Bada Mudiak di Minangkabau merupakan ekspresi dari hasil interpretasi yang berasal dari pengamatan terhadap alam, seperti tumbu-tumbuhan, hewan, serta benda keperluan sehari-hari. Seni Islam menolak untuk menggambarkan manusia dan mahkluk hidup karena ada keyakinan dan kepercayaan yang mengarahkan senimannya ke arah produk kreatif tertentu, doktrin Adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah, meletakkan agama Islam sebagai sumber utama dalam pandangan hidup orang Minangkabau, sehingga visualisasinya cendrung mengarah pada seni yang abstrak (sarian) dan geometrik. Kata Kunci : Alam,Abstrak, Bada Mudiak, Hul
Pelaksanaan Kerja Praktik di Bada Studio dalam Pendekatan Arsitektur Adaptif
Program kerja praktik merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk mendalami dunia kerja arsitektur. Dalam pelaksanaan kerja praktik, mahasiswa dapat mempelajari dan mengasah profesionalitas pada bidang yang disukai. Bada Studio adalah salah satu biro arsitektur yang menjadi tempat kerja praktik penulis. Bada Studio merupakan studio arsitektur di Ubud, Bali yang menggunakan pendekatan desain arsitektur adaptif terhadap arsitektur lokal. Arsitektur adaptif yang dimaksud menitikberatkan penyesuaian desain dengan konteks sekitar, namun memenuhi kebutuhan penggunanya. Penulis menjalani kerja praktik selama 5 bulan secara offline sehingga semua proses pelaksanaan dilakukan langsung di bawah bimbingan supervisor Bada Studio selaku founder dan principal architect. Laporan magang ini berisikan proses pelaksanaan kerja praktik penulis dan hal-hal yang penulis pelajari. Penulis diberikan kepercayaan untuk memegang dua projek dari Bada Studio, yaitu sebagai arsitek junior menangani projek kantor Bada yang baru (Bada's Barn) mulai dari tahap skematik desain sampai terbangunnya dan sebagai pembuat maket projek Villa Kedungu yang memiliki detail penggunaan material kayu. Bada Studio memiliki karakter khas dalam merancang, antara lain karya desain rancangan harus memiliki cerita dari hasil pengalaman ruang yang diberikan melalui permainan material, tekstur, proporsi, skala, dan sebagainya. Visi dan misi Bada Studio adalah mengembangkan arsitektur kepada orang-orang dan memberikan cerita di setiap ruang yang didesain untuk dinikmati oleh semua orang
Kajian Rupa Arca Megalitik Lembah Bada
Patung Megalitik Lembah Bada terletak di Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Sebagai karya seni, patung megalitik Lembah Bada dikaji dengan metode ikonografi yang disusun oleh Erwin Panofsky. Hasil penelitian pada tahap deskripsi praikonografi bahwa wujud arca megalitik Lembah Bada memiliki ciri-ciri patung arca tipe Polinesia dengan ukuran yang tidak proporsional. Patung-patung ini deperkirakan dibuat oleh para migran yang datang dari kepulauan Formosa tahun 4000 BC yang merupakan ras Mongoloid yang kemudian menciptakan akulturasi dengan ras Negrito yang menduduki kepulauan Asia Tenggara dan Pasifik. Analisis ikonografi menghasilkan makna yang ditunjukan oleh tema keabadian. Hal ini dikarenakan Arca megalitik tersebut dibuat dari batu yang dianggap sebagai awal mula kehidupan manusia dalam kepercayaan kuno suku Bada. Sesuai dengan kepercayaan Animisme, patung arca ini digunakan untuk upacara kematian. Semua orang yang dikuburkan sesuai adat telah menjadi nenek moyang, akan tetapi tidak semua nenek moyang bisa dibuatkan patungnya. Ada nenek moyang yang tidak hanya berarti bagi sanak saudaranya tetapi berarti bagi seluruh masyarakat, dialah yang disebut Onintu. Onintu berhak dibuatkan patungnya karena nasehatnya sangat berati bagi masyarakat sehingga rohnya diabadikan dalam sebuah patung arca yang melalui arca tersebut orang-orang masih bisa berhubungan dengan roh Onintu dan meminta petunjuk
Hikayat Raja Bada
Buku ini merupakan salah satu karya sastra lama Indonesia yang berasal dari daerah Aceh. Naskah tulisan tangan huruf Arab ini, kami peroleh dari Pusat Dokumentasi dan Inforrnasi Aceh bulan September tahun 1981 . Ukurannya 20 x 14 em, tebal 79 halaman dan tiap halaman terdiri dari rata-rata dua puluh satu baris. Seperti halnya dengan beberapa hikayat lain yang sudah kami sunting atau alih aksarakan ke dalam huruf Latin, hik.ayat ini pun telah kami pengga-penggal menjadi enam anak judul
“Interpretasi Motif Ornamen Bada Mudiak Di Minangkabau”
Tulisan ini bertujuan untuk memahami falsafah motif bada mudiak di Minangkabau, menafsir kembali hubungannya dengan falsafah “alam takambang jadi guru”. Tentang penciptaan motif, hubungannya dengan alam dan reinterpretasi motif yang berlandaskan doktrin adat Minangkabau yaitu Adat bersendi syara', syara' bersendi Kitabullah. Menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data melalui studi pustaka. Orang Minangkabau menamakan tanah airnya Alam Minangkabau. Pemakaian kata alam itu mengandung makna yang tidak bertara, seperti yang diungkapkan dalam mamangannya: Alam takambang jadi guru. Penciptaan karya ornamen Bada Mudiak di Minangkabau merupakan ekspresi dari hasil interpretasi yang berasal dari pengamatan terhadap alam, seperti tumbu-tumbuhan, hewan, serta benda keperluan sehari-hari. Seni Islam menolak untuk menggambarkan manusia dan mahkluk hidup karena ada keyakinan dan kepercayaan yang mengarahkan senimannya ke arah produk kreatif tertentu, doktrin Adat bersendi syara', syara' bersendi Kitabullah, meletakkan agama Islam sebagai sumber utama dalam pandangan hidup orang Minangkabau, sehingga visualisasinya cendrung mengarah pada seni yang abstrak (sarian) dan geometrik
STUDI PENGEMBANGAN GALANGAN KAPAL PERIKANAN DI KECAMATAN PEUKAN BADA ACEH BESAR DENGAN MENGGUNAKAN ANALISIS FISHBONE
Masyarakat Peukan Bada pada umumnya berprofesi sebagai nelayan dan menggunakan kapal kayu. Sektor perikanan tangkap di wilayah Peukan Bada saat ini masih berskala kecil. Hal tersebut dilihat dari dari jenis alat tangkap yang digunakan oleh kapal-kapal yang beroperasi di perairan Peukan Bada. Permasalahannya adalah Industri galangan kapal yang ada di Peukan Bada saat ini belum berkembang sesuai dengan tantangan yang dihadapi. Sehingga perlu adanya pengembangan galangan kapal perikanan di daerah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui parameteryang perlu diperhatikan dalam proses pengembangan galangan.Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode survei dan wawancara menggunakan kuisioner. Survei yang dilakukan yaitu dengan mengamati secara langsung kondisi serta mengkaji faktor-faktor yang berkaitan dengan pengembangan galangan kapal perikanan di Kecamatan Peukan Bada, Aceh Besar. Data yang diperlukan untuk mendukung metode penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer tersebut diperoleh dari pengamatan langsung terhadap berbagai aktivitas yang dilakukan di galangan kapal Peukan Bada dan wawancara yang menggunakan kuisioner. Data sekunder diperoleh dari literatur, jurnal, dan buku. Analisa data yang digunakan adalah Analisis Fishbone hasil dari penelitian ini adalah Industri galangan kapal ini memiliki perkembangan yang masih jauh ditinjau dari aspek kapasitas, potensi, kebutuhan serta perlu adanya pengembangan dari parameter lahan, SDM, mesin, material, metode atau cara kerja, alur pelayaran dan kapasitas produksi.Kata Kunci:Nelayan, Galangan Kapal, Fishbone, SDM, Material, Potensi, Peukan Bad
ANALISIS INTERPRETASI PADA KARYA LUKIS SABRI MARBA YANG BERJUDUL ‘BADA MUDIAK’
Art is a teaching of how humans construct an object into artwork. An artwork tries to present the problems in the environment that have meaning and significance. The type of artwork that will be analyzed by an aesthetic approach is a painting created by Sabri Marba that called bada mudiak. Bada mudiak (fish mudiak) the cluster of small fish into upstream river, bada motion always tidy and orderly, when the fish was suprised and move than the others fish will be follow it. All sides on the canvas depicted of bada mudiak. The artist exspresses the reality by means of symbolically to be conveyed. The analysis interpretation used to determine the meaning of symbol that might be hidden in displayed of the artwork. Keywords: an analysis, interpretation, esthetic, painting
PERANCANGAN JALUR EVAKUASI BENCANA TSUNAMI MENGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS KECAMATAN PEUKAN BADA) ACEH BESAR
ABSTRAKKabupaten Aceh Besar kecamatan Peukan Bada termasuk wilayah yang terkena bencana gempa dan tsunami pada tahun 2004. Pada gempa dan Tsunami 26 Desember 2004 yang lalu, masyarakat setempat umumnya melakukan evakuasi melewati jalur menurut persepsi masing-masing. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi yang dapat menjadi tempat evakuasi bila tsunami terjadi, mengidentifikasi jaringan jalan/arah evakuasi untuk dituju oleh setiap warga di Kecamatan Peukan Bada yang berada pada zona rawan Tsunami, serta merancang dan membuat peta evakuasi Tsunami Kecamatan Peukan Bada untuk mempermudah proses penanggulangan evakuasi bencana Tsunami. Penelitian tempat evakuasi dilakukan melalui survey lapangan dan data elevasi. Rute evakuasi dibuat menggunakan analisa fasilitas terdekat (Closest Facilities Analysis). Hasil dari penelitian ini berupa jalur evakuasi yang dapat digunakan oleh masyarakat Peukan Bada dan sekitarnya dalam mengembangkan rencana jalur evakuasi dari bencana tsunami. Jalur evakuasi ini dapat memberikan manfaat dan pengetahuan terhadap masyarakat dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana Tsunami.Kata Kunci : Closest facility, network analyst, sistem informasi geografis, bencana alam, evakuasi, tsunamiABSTRACTNatural disasters are an inevitable phenomena. One of the areas affected by the earthquake and tsunami in 2004 was Peukan Bada, which is a coastal area in Aceh Besar district. When the earthquake and Tsunami hit the are on December 26, 2004, the majority of citizen of Peukan Bada evacuated through the path according to their perceptions. The purpose of this study was to identify the locations of evacuation route when a tsunami occurred as well as to design and construct a Tsunami evacuation map of Peukan Bada for facilitating the process of evacuation during Tsunami disaster. Peukan Bada research of evacuation sites was conducted through field survey and analysis of elevation data. The evacuation route was generated using the closest facilities analysis (Closest Facilities Analysis). The result of this research is evacuation routes that can be used by citizen of Peukan Bada and its surrounding in developing evacuation route plan from tsunami disaster. The evacuation route can provide benefits and knowledge to the citizen to increase awareness of tsunami disaster.Keywords: Closest facility, network analyst, geographic information system, natural disaster, evacuation, tsunam
KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN RUMAB TANGGA MASYARAKAT DESA DI KECAMATAN PEUKAN BADA KABUPATEN ACED BESAR
Kharisma Jayanthi "Ketimpangan Distribusi Pendapatan Rumah Tangga Masyarakat Desa Di Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar"di bimbing oleh Bapak Ir.T. Makmur. M.Si sebagai pembimbing pertama dan lbu Dr. Ir. Safrida, M.Si sebagai pembimbing kedua.Permasalahan yang dapal dirumuskan dalam penelitian ini adalah bagaimana dan seberapa besar tingkat ketimpangan distribusi pendapatan rumah tangga masyarakat desa di Kecamalan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui seberapa besar ketimpangan distribusi pendapatan rumah tangga masyarakat desa di Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar.Dari hasil analisis menggunakan koefisien Gini (Gini Ratio) dapat disimpulkan bahwa ketimpangan yang terjadi di Kecamatan Peukan Bada adalah ketimpangan sedang dan rendah. Adapun hasil koefisien Gini menunjukkan bahwa pada sampel petani mempunyai indeks gini 0.370 dan buruh mempunyai indeks gini sebesar 0,3624, angka ini menunjukkan bahwa petani memiliki distribusi ketimpangan sedang, dikarenakan bila koefisien Gini berkisar antara 0,36-0.50 maka ketimpangan sedang. Dan untuk pedagang mempunyai indeks Gini sebesar 0, 1396 dan PNS mempunyai indek.s Gini sebesar 0.294, ini menunjukkan bahwa pedagang mempunyai ketimpangan rendah. dikarenakan bila koefisien Gini lebih kecil dari 0,35 maka distribusi ketimpangan rendah. Dan pada total keseluruhan sampel diperoleh indeks gini sebesar 0,386, ini artinya pada Kabupaten Peukan Bada mempunyai nilai ketimpangan distribusi pendapatannya sedang.Berdasar kan kriteria Bank Dunia, tingkat ketimpangan diukur dengan ketentuan apabila 40% penduduk pcndapatan rendah menerima lebih kecil dari I 2% dari jumlah pendapatan maka digolongkan ketimpangan tinggi atau kurang merata, kelompok rumah tangga yang berada pada kategori ini adalah petani yaitu sebesar 10,I %. Dan kelompok rumah tangga pedagang sebesar 32 %. PNS sebesar 16 % dan buruh sebesar 14.1 % berada pada kategori sedang karena menerima lebih dari 12% pendapatan. Dan untuk secara keseluruhan Kecamatan Peukan Bada dapat dilihat bahwa 40% penduduk pendapatan rendah menerima 114% pendapatan per tahun, itu artinya ketimpangan di Kecamatan Peukan Bada masih kurang merata atau ketimpangannya tinggi. Dari hasil analisis menggunakan koefisiean Gini (Gini Ratio) dan berdasarkan kriteria Bank Dunia diperoleh hasil yang berbeda. Untuk koefisien Gini nilai ketimpangan pendapatannya sedang dan untuk kriteria Bank Dunia ketimpangannya tinggi. Dari dua analisis tersebut maka dapat disimpulkan bahwa dengan hasil yang diperoleh dari kriteria Bank Duni jauh lebih mendekati, karena kriteria Bank Ounia ini mencakup secara global.Disarankan bagi pemerintah hendaknya melakukan kebijakan yang berdarnpak langsung kepada ekonomi rakyat kecil khususnya daerah pedesaan dalam membuat arah pembangunan sub sektor pertanian, dengan membuka lapangan kerja baru di Kecamatan Peukan Bada, seperti bantuan bibit dan benih, agar lebih banyak masyarakat memperoleh pekerjaan.Mempermudah dalam memberikan pinjaman modal untuk para masyarakat yang kekurangan modal yang ingin membuka usaha, seperti membuka koperasi simpan pinjam. serta memberikan pelatihan secara cuma-cuma untuk masyarakat desa antara lain, membuat kerajinan, menjahit, membuat kue agar lebih terampil dan mandiri, serta dapat meningkatkan pendapatan rumah tangga
- …
