14 research outputs found
Pengembangan Modul Penyesuaian Diri di Dunia Kerja sebagai Persiapan Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) Siswa SMK.
ABSTRAK Multisari, Widya. 2014. Pengembangan Modul Penyesuaian Diri di Dunia Kerja sebagai Persiapan Pelaksanaan Praktik Kerja Industri (Prakerin) Siswa SMK. Skripsi, Jurusan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Adi Atmoko,M.Si, dan (II) Dr. Triyono, M.Pd. Kata kunci: Modul, Penyesuaian Diri di Dunia Kerja, Prakerin Program praktik kerja industri (prakerin) merupakan salah satu cara untuk mengembangkan sifat profesional siswa SMK. Sebelum mengikuti kegiatan prakerin di DU/DI, para siswa SMK akan diberi pembekalan dari pihak jurusan dan BK. Pembekalan diberikan dengan tujuan agar siswa siap untuk masuk ke DU/DI yang berbeda dengan sekolah. Hasil survei awal lapangan terhadap 16 siswa SMKN 2 Malang yang pernah melaksanakan prakerin menunjukkan hasil 43,75 % siswa menyatakan kesulitan dalam penyesuaian diri, 25 % siswa kesulitan kontrol emosi, 18,75 siswa kesulitan ketrampilan komunikasi,dan 12,5 % lainnya mengalami kesulitan dalam mawas diri. Kemudian pada tanggal 16 Desember 2013 peneliti melanjutkan pengukuran skala tingkat penyesuaian diri di dunia kerja dengan menggunakan metode purposive incidental sampling terhadap 60 siswa SMK N 2 Malang yang belum pernah melaksanakan praktik kerja industri (prakerin), hasilnya 19 siswa (31, 67%) dalam kategori rendah, 30 siswa (50%) dalam kategori sedang dan 11 (18,33%) siswa dalam kategori tinggi. Berdasarkan hasil data tersebut maka, peneliti menyusun modul untuk membantu siswa meningkatkan keterampilan penyesuaian diri di dunia kerja sebagai persiapan pelaksanaan prakerin. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan (development research) yang diadaptasi dari model Borg and Gall (1983). Produk yang dihasilkan adalah 1) modul siswa dan 2) panduan konselor. Hasil analisis data penilaian para ahli, dan calon pengguna produk serta revisi-revisi yang telah dilaksanakan sesuai saran dan masukan terhadap modul dan panduan konselor, dapat disimpulkan layak, berguna, menarik, dan tepat secara teoritis maupun praktis untuk digunakan. Penelitian dilanjutkan dengan menguji efektivitas produk yang dihasilkan menggunakan desain penelitian One-Group Pre test-Post test Design. Pada penelitian ini terdapat pre-test sebelum diberikan perlakuan dan post-test setelah diberikan perlakuan. Peneliti menggunakan instrumen skala penyesuaian diri di dunia kerja berupa angket untuk memilih 10 siswa yang memiliki tingkat penyesuaian diri di dunia kerja yang rendah dan sedang. Analisis data menggunakan uji wilcoxon dengan hasil signifikansi 0.00
EFEKTIVITAS TEKNIK MODELING UNTUK MENGEMBANGKAN KESADARAN KARIR SISWA SEKOLAH DASAR: Penelitian Eksperimen Kuasi di SD Muhammadiyah Ponorogo Tahun Ajaran 2017/ 2018
Penelitian dilaksanakan berdasarkan fenomena kurangnya kesadaran karir siswa SD. Penelitian bertujuan menguji efektivitas teknik modeling untuk mengembangkan kesadaran karir siswa SD. Metode penelitian yakni kuasi eksperimen dengan desain penelitian nonequivalent pre test and post test control group design. Partisipan penelitian adalah siswa kelas V SD Muhammadiyah Ponorogo Tahun Ajaran 2017/2018. Pengumpulan data menggunakan instrumen tingkat kesadaran karir. Pengujian efektivitas teknik modeling untuk mengembangkan kesadaran karir siswa dengan menggunakan rumus uji-t. Hasil penelitian menunjukkan : 1) kecenderungan tingkat kesadaran karir siswa SD Muhammadiyah Ponorogo Tahun Ajaran 2017/2018 berada dalam kategori sedang; 2) rumusan program layanan bimbingan karir menggunakan teknik modeling memenuhi kelayakan menurut pakar dan praktisi; 3) teknik modeling yang telah dilaksanakan terbukti dapat digunakan untuk mengembangkan kesadaran karir siswa. Teknik modeling dapat digunakan oleh Guru BK untuk mengembangkan kesadaran karir sesuai dengan prosedur pelaksanaan yang telah disusun.----------The study was carried out based on the lack career awarness of elementary student. The study aimed to test the effectiveness of modeling techniques to develop elementary student’s career awareness. The method used quasi experimental with nonequivalent pre test and post test control group design. The participants were students of fifth grade Muhammadiyah Ponorogo Elementary School for the academic year 2017/2018. Data collection used career awareness questionaire. The effectiveness of modeling techniques to develop student’s career awareness by using t-test formula. The results showed that: 1) the tendency of career awareness level of Muhammadiyah Ponorogo elementary school in academic year 2017/2018 was at the medium category; 2) according to the expert and practitioner, modeling technique fulfilled the feasibility to be able to implemented; 3) modeling technique could develop student’s career awareness. Modeling technique could be used by guidance and counselor teacher according to procedure
Pelatihan Career Awarness: Self Knowledge, Educational And Occupational Exploration, And Career Planning Pada Anak-Anak Kelompok Belajar Singajaya Malang
Career awareness is an important thing to grow during elementary school children, before entering the middle school level through a career guidance program. The objective of Career awareness training is to increase student career awareness that includes aspects of self-understanding, education exploration and employment, and career planning. The training was held in Singajaya Learning Group, 27 students. Successful training is identified from changes in understanding, behaviour and actions demonstrated both before and after training. The results of the training provided significant changes for the trainees. Advice from the results of the training that the teachers or turor need to give a career guidance program for early career awareness can be achieved and able to provide a way of success for the future of children.Kesadaran karier merupakan hal yang penting untuk ditumbuhkan pada masa anak-anak Sekolah Dasar, sebelum memasuki jenjang Sekolah Menengah melalui program bimbingan karir. Tujuan kegiatan pelatihan career awareness yakni meningkatkan kesadaran karier siswa yang meliputi aspek pemahaman diri, eksplorasi pendidikan dan pekerjaan, dan perencanaan karier. Kegiatan pelatihan dilaksanakan di Kelompok Belajar Singajaya, sebanyak 27 siswa. Keberhasilan pelatihan diidentifikasi dari perubahan pemahaman, perilaku dan tindakan yang ditunjukkan baik sebelum dan setelah pelatihan. Hasilnya pelatihan yang diberikan memberikan perubahan yang signifikan bagi peserta pelatihan. Saran dari hasil pelatihan yakni guru atau turor perlu memberikan program bimbingan karier agar kesadaran karier sejak dini dapat tercapai dan mampu memberikan jalan kesuksesan bagi masa depan anak-anak
Pelatihan Keterampilan Esensial Konseling untuk Konselor Sekolah dengan Structured Learning Approach
Salah satu permasalahan pelik yang dialami oleh para konselor sekolah di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo adalah rendahnya keterampilan konseling. Hal ini karena sebagian besar mereka tidak berlatarbelakang pendidikan sarjana bimbingan dan konseling. Selama ini, proses konseling dilakukan dengan cara yang lebih mirip dengan pemberian nasehat daripada konseling profesional. Berdasarkan kondisi tersebut, dilakukan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan esensial konseling untuk para konselor dimaksud. Melalui pelatihan ini, diharapkan agar para konselor dapat meningkatkan: (1) keterampilan mendengarkan secara aktif; (2) keterampilan mempengaruhi; dan (3) keterampilan pemberian bantuan pemecahan masalah melalui prosedur-prosedur konseling secara umum. Kegiatan inidilaksanakan dengan menggunakan pendekatan structured learning approach (SLA) dengan sistem In, On, dan In. Secara keseluruhan, kegiatan pelatihan dilaksanakan selama tiga bulan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa terdapat peningkatanpengetahuan dan keterampilan konseling para peserta. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan skor-skor pengetahuan dan keterampilan mereka ke arah yang lebih baik.Kata Kunci:keterampilan esensial konseling; bimbingan dan konseling; structured learning approachCounseling Essential Skills Training for School Counselors with a Structured Learning Approach ABSTRACT One of the most compliacated problems of school counselors in Kementerian Agama Kabupaten Probolinggo is the lack of their counseling skills. This is because their educational background is not related to guidance and counseling. Prior to this program, their counseling service was carried out in a way that could be called advice giving rather than professional counseling. Based on the situation, the program aims to improve the essential counseling skills of the counselors. The program is expected to improve the counselors’: (1) active listening skills; (2) influencing skills; and (3) skills in providing problem solving. The program is implemented with a structured learning approach (SLA) and In-On-In procedure. Overall, the entire program was carried out in three months. The result of the program is the improvement of the counselors’ understanding and skills in giving counseling service.Keywords: essential counseling skills; guidance and counseling; structured learning approac
Pelatihan Perilaku Respek, Empati dan Asertif Melalui Metode Role Play untuk Mencegah Bullying Di Sekolah Menengah Pertama
This activity aims to test the effectiveness of respect, empathy and assertive behavioral training through the role play method as an effort to prevent bullying in Al Furqon Jombang Middle School. The dedication method used is the role playing technique that is tested for success with one group pretest-posttest design. The target of devotion is 28 students of class VII Al Furqon Jombang Middle School. The result is a change in respect for behavior based on an increase in the value of the post test from the pre test value after being treated with training with role playing techniques. Empathy and assertive behavior do not change significantly after training. So there is a need for follow-up through improvements to the development of guidelines. Kegiatan ini bertujuan untuk menguji efektivitas pelatihan perilaku respek, empati dan asertif melalui metode role play sebagai upaya pencegahan bullying di SMP Al Furqon Jombang. Metode pengabdian yang digunakan adalah teknik role playing yang diuji keberhasilannya dengan one group pretest-posttest design. Sasaran pengabdian yakni 28 siswa kelas VII SMP Al Furqon Jombang. Hasilnya terdapat perubahan pada perilaku respek berdasarkan peningkatan nilai pos tes dari nilai pre tes setelah diberikan perlakuan dengan pelatihan dengan teknik role playing. Perilaku empati dan asertif tidak mengalami perubahan nilai yang signifikan setelah pelatihan. Sehingga perlu adanya tindaklanjut melalui perbaikan pada pengembangan panduan
Analisis Self Disclosure dengan Minat Layanan Konseling Siswa SMK
Visits of counseling services for Adi Husada Health Vocational High School students have decreased for 2 last years from 44 students in 2019/2020 to 17 students in 2020/2021. The one of interest internal factors of students that encourage to participate in counseling services which is self disclosure to students. The purpose of this research is to review the relationship between a self disclosure variables and interest of counseling services. The self disclosure instrument was structured according to DeVito’s theory (1986) and the interest of counseling services was based on interest theory by Winkel’s (2010). This research method use a quantitative correlation research with simple random sampling technique with sample are 125 students. Self disclosure results obtained as much as 68% in high category and 98% in very high category. There is no relationship between two variables with correlation number of 0,068. The conclusion is a high self disclosure doesn’t determine a high interest in counseling services and a low self disclosure doesn’t determine a low interest in counseling services. As suggestion, for further research are use more variables that allow for relationship between self disclosure and interest in counseling services. And for counselors are be more active to offer the students about counseling services
METODE ANJANGSANA PADA KOMUNITAS PEMELUK AGAMA MEMUPUK SIKAP TOLERANSI BERAGAMA BAGI KADER PEREMPUAN
Kegiatan pengabdian pada masyarakat ini merupakan penerapan metode kearifan lokal yang sudah dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam menumbuhkan sikap saling tolong menolong dan saling hormat menghormati antar sesama.. Mengingat kader perempuan antar umat beragama merupakan figure dan perwakilan dari agamanya masing-masing, maka mereka harus dibekali sikap toleransi beragama yang cukup sebelum mensosialisasikan sikap toleransi beragama kepada umat yang lain. Program kemitraan masyarakat ini ditujukan untuk kader PAUB Kota Malang. Iptek yang diterapkan berupa strategi menumbuhkan sikap toleransi beragama melalui metode anjangsana. Dengan metode anjangsana ini dapat menumbuhkan penghayatan dan praktik kegamaan tidak hanya berhenti pada tahap klaim eksklusifisme (aku) yang berujung pada hubungan personal dengan Tuhan, tidak juga pada tahap inklusifisme (kamu) dengan perhatiannya pada perekrutan dukungan teologis atau ideologis (solidaritas), melainkan juga tahap keterbukaan (kita), dimana penghayatan religius atas nilai-nilai kemanusiaan dapat mewujudkan toleransi beragama tidak hanya pada level wacana. Produk luaran yang dihasilkan berupa modul peningkatan sikap toleransi beragama bagi kader PAUB yang dapat diterapkan pada kader perempuan antar umat beragama di kota-kota lain di Jawa Timur. Kata kunci— Kader perempuan, Metode anjangsana, PAUB, Toleransi beragama.AbstractCommunity service activities are the application of local wisdom methods that have been carried out by the Indonesian people in fostering mutual assistance to help and respect each other respectfully. Considering women cadres among religious communities are figures and representatives of their respective religions, they sufficient religious tolerance must be provided before socializing the attitude of religious tolerance to other people. This community partnership program is intended for PAUB cadres in Malang. The applied science and technology in the form of strategies to foster an attitude of religious tolerance through the method of Anjangsana. With this method of Anjangsana can foster appreciation and religious practice not only stop at the stage of claims of exclusiveness (I) that lead to a personal relationship with God, not also at the stage of inclusiveism (you) with attention to the recruitment of theological or ideological support (solidarity), but also the stage of openness (us), where the religious appreciation of human values can realize religious tolerance not only at the level of discourse. The output products produced were in the form of modules to increase religious tolerance for PAUB cadres which could be applied to interfaith women cadres in other cities in East Java.Keywords— Female cadres, Anjangsana method, PAUB, religious toleranc
Implementasi Konseling Suryomentaram bagi Guru BK SMA/SMK di Kota Malang
Prokastinasi akademik yang terjadi di kalangan siswa SMA mengalami peningkatan seiring berlalunya pandemic Covid-19 dan meningkatnya perkembangan teknologi dan media sosial. Siswa lebih memilih menunda mengerjakan tugas dan mengalami kejenuhan dalam kegiatan belajar. Prokastinasi akademik menjadi masalah yang harus segera ditangani di sekolah, karena berdampak pada prestasi akademik siswa. Tujuan kegiatan pengabdian yaitu untuk meningkatkan kompetensi guru Bimbingan Konseling (BK) dalam melaksanakan konseling dengan pendekatan Suryomentaram, sehingga dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan konseling yang dilakukan Guru BK dalam membantu menyelesaikan masalah prokastinasi akademik siswa. Metode belajar melalui tindakan (learning by doing) menjadi alternatif yang akan membantu guru BK dalam mengembangkan keterampilan konseling dengan pendekatan Suryomentaram melalui penyampaian informasi dan implementasi konseling pada siswa yang mengalami prokastinasi akademik. Hasil pelaksanaan pengabdian adalah peningkatan pengetahuan guru BK dan peningkatan keterampilan guru BK di SMA dan SMK dalam melaksanakan proses konseling dengan menggunakan pandangan Suryomentaram dalam mengatasi prokastinasi akademik siswa. Kata kunci—Konseling Suryomentaram, Guru Bimbingan Konseling, Pendampingan Guru Abstract Academic procrastination that occurs among high school students has increased along with the passing of the Covid-19 pandemic and the increasing development of technology and social media. Students prefer to postpone doing assignments and experience boredom in learning activities. Academic procastination is a problem that must be addressed immediately in schools, because it has an impact on students’ academic achievement. The aim of the service activity is to increase the competency of Counseling Guidance (BK) teachers in carrying out counseling using the Suryomentaram approach, so that they can improve the quality of counseling carried out by BK teachers in helping to solve students’ academic procrastination problems. The learning by doing method is an alternative that will help guidance and counseling teachers in developing counseling skills using the Suryomentaram approach through conveying information and implementing counseling for students who experience academic procrastination. The results of the implementation of the service are an increase in the knowledge of guidance and counseling teachers and an increase in the skills of guidance and counseling teachers in high schools and vocational schools in carrying out the counseling process using Suryomentaram’s views in overcoming students' academic procrastination. Keywords—Suryomentaram Counseling, Teacher Guidance Counseling, Teacher Mentorin
TRAINING OF TRAINER KETERAMPILAN SOSIAL PADA KOMUNITAS INSAN GENERASI BERENCANA (GENRE) KABUPATEN MALANG
Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Malang meluncurkan Program Generasi Berencana (GENRE) yang bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada remaja tentang kehidupan pernikahan, kehidupan keluarga, pendidikan, serta pembentukan karakter generasi muda untuk membangun bangsa. Namun Ketua Insan GENRE Kabupaten Malang mengungkapkan bahwa para anggota Insan GENRE masih kurang memahami metode atau cara penyampaian yang efektif ketika mengedukasi terkait isu-isu psikologis. Oleh karena itu, pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan peserta dalam menyampaikan informasi, konseling, dan penyelesaian masalah yang kerap dijumpai anggota GENRE. Pengabdian masyarakat dilaksanakan melalui Workshop Keterampilan Sosial Training of Trainee yang terbagi ke dalam tujuh sesi. Kegiatan workshop dilakukan pada hari sabtu tanggal 10 Agustus 2024 pukul 07.00 hingga pukul 15.00. Pada kegiatan ini, terdapat 29 peserta yang hadir yang juga merupakan anggota GENRE Kabupaten Malang. Pada akhir pelaksanaan, peserta diminta untuk memberikan penilaian dan feedback terhadap kegiatan yang telah dilakukan. Dari beberapa penilaian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pelatihan keterampilan sosial merupakan kegiatan yang memang dibutuhkan bagi anggota GENRE. Selain itu berdasarkan penilaian tersebut, peneliti juga dapat melihat beberapa faktor pendukung kegiatan serta faktor yang menghambat kegiatan ini.
 
Prevalence of academic resilience of social science students in facing the industry 5.0 era
Academic resilience is an individual's academic resilience in facing academic pressure. In fact, in the industry 5.0 era resilience is needed by individuals to face various challenges in the future. This study determined the prevalence of academic resilience of Social Science students in facing the industry 5.0 era. This research employed survey design. The sample was 116 students of Social Sciences who were selected using proportional stratified random sampling technique. The data collection used academic resilience questionnaire. It was tested for validity and reliability with a KMO and Bartlett's Test value of 0.741. The data was analyzed descriptively. Students' academic resilience was shown by having competence, self-confidence, character, commitment, interest, and self-control to overcome difficult situations at hand. Commitment is an important aspect for individuals to be tough in academic situations
