9 research outputs found
KEEFEKTIFAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI SISWA SMP
Latar belakang penelitian ini adalah untuk meningkatkan minat belajar siswa dalam keterampilan menulis puisi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) dalam peningkatan kemampuan menulis puisi siswa SMP. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi (quasi experimental design). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP sebanyak 10 kelas berjumlah 318 siswa, sedangkan pengambilan sampel dilakukan dengan cara pengambilan teknik simple random sampling, sehingga mendapatkan kelas VIII.3 yang berjumlah 39 siswa sebagai kelas kontrol dan kelas VIII.4 yang berjumlah 40 siswa sebagai kelas eksperimen. Data penelitian ini diperoleh melalui tes siswa, angket siswa, dan wawancara terhadap guru Bahasa Indonesia yang mengajar di kelas VIII. Data hasil tes yang telah terkumpul dianalisis menggunakan analisis data tes, angket, dan wawancara. Berdasarkan hasil deskripsi penelitian, dapat disimpulkan bahwa Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) efektif digunakan dalam pembelajaran keterampilan menulis puisi siswa kelas. Keefektifan terbukti bahwa t hitung lebih besar daripada t tabel pada taraf signifikan 5% yaitu 6,96 ? 1,9913, dengan DK (Derajat Kebebasan) 77. Oleh karna itu, disarankan kepada guru, hasil penelitian dapat dijadikan sebagai informasi bagaimana kemampuan menulis puisi setelah diajarkan Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning), serta dapat menjadi evaluasi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia
INTERFERENSI LEKSIKAL BAHASA MELAYU PALEMBANG DALAM PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA RAGAM TULIS
Tidak ada abstra
THE LEARNING MODEL ANALOGY IN IMPROVING THE MULTICULTURAL WRITING CREATIVITY
The learning model analogy in linguistics was the similarities between the forms which became thebasis of other forms. Analogy was one of the morphology processes, where there was a formulation ofthe new words from the existed word. Analogy was done because from something that has beencompared and its comparation has the same function and role. By doing analogy, a person couldexplain something which was abstract or complicated to be something that easy to be understood(inductive and logic analogy). Multicultural was a term that used to describe someone’s point of viewabout the life on this earth, or the policy which focused on different culture acceptance, citizen,system, culture, customs, and politics they have. At least, main thing that need to be planted by themwas done by teacher or lecturer, will be disturb by the literature management, finding information,practice the dialogue, and create a creative outside and multicultural. This study was qualitativeresearch, which had to test the language learning model affectivity. The objective of this study was tocreate creative multicultural learning method. In order to reach the objective, the method used in thisstudy was research and development system from Gall and Borg (2003). The specific target of thisresearch was the learning method, analogy. For all the students of Bahasa Indonesia study program insome university in Palembang with this specification : (1) the objective of learning based oncurriculum 2013; (2). Could be done with or without the lecturer; and (3 ) could develop creativelearning for students. Based on the method , (1) teaching and learning observation in quasyexperiment classroom. (2) selecting short story to be a material for teaching; (3). Learning modelcomposition; (4) learning models tested; (5). Result evaluation; and (6). Learning model revisio
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI
Abstrak: Model pembelajaran cooperative learning merupakan strategi yang dikembangkan dengan mengacu pada berbagai pendekatan pembelajaran yang diasumsikan mampu meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Penerapan ini diharapkan dapat menantang para mahasiswa untuk menghasilkan sesuatu secara bekerja kelompok. Karenanya, disana sini diperlukan gerilya pengajaran sastra dan perjuangan mati-matian untuk merombak model yang telah lekat dibenak para mahasis. Paling tidak, dikhwal yang perlu ditanamkan pada mereka bahwa melalui model pembelajaran cooperative learning ini, baik pengajar atau pun mahasiswa, akan terusik untuk, menentukan informasi, mendialogkan, dan menciptakan karya sastra. Penelitian ini merupak ranah kuantitatif yang bertujuan untuk menguji cobakan keefektifan sebuah model pembelajaran. Manfaat penelitian ini untuk menciptakan model pembelajaran cooperative learning dalam menulis sebuah karya sastra. Untuk mencapai tujuan itu, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penerapan model cooperative learning. rancangan penelitian ini sangat tepat digunakan di bidang pengetahuan sosial dan bahsa karena bidang-bidang tersebut beradaptasi dengan berbagai tingkah laku manusia, pembelajaran bahasa, dan perilaku bahasa. Target khusus yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah terciptanya model pembelajaran cooperative learning bagi mahasiswa program studi Bahasa Indonesia di berbagai Universitas di kota Palembang dengan sfesifikasi sebagai berikut: (1)tujuan pembelajaran sesuai dengan kurikulum; (2) dapat dilakukan dengan atau tanpa dosen; dan (3) dapat mengembangkan keterampilan menulis. Relevan dengan metode yang digunakn dalam penelitian ini, kegiatan yang dilakukan mencakup (1) pengamatan kegiatan belajar-mengajar di kelas Quasi eksperimen: (2) penyeleksian puisi yang menjadi materi ajar; (3) penyusunan model pembelajaran; (4) uji coba model pembelajaran (5) evaluasi hasil uji coba; dan (6) revisi model pembelajaran. Kata kunci: pembelajaran, menulis, puisi, model, cooperative, learnin
Politeness in the Podcast of Shireen Sungkar and Oki Setiana Dewi Episode "The In-Law Story Makes You Cry"
The research aims to describe variations in language politeness when interactions occur between speakers and speech partners in the Shireen Sungkar and Oki Setiana Dewi Podcast Episode "Cerita Mertua Makes Me Nangis". The method used in this research is a descriptive qualitative method which in principle describes the manifestation of compliance with the principles of language politeness in the Shireen Sungkar and Oki Setiana Dewi podcast Episode of the Story of My Mother-in-law Makes Me Nangis. The data source for this research is the Shireen Sungkar and Oki Setiana Dewi Podcast on the YouTube channel The Sungkars. The data collection technique in this research is the viewing and writing technique, namely watching the podcast or object being studied and then recording all the conversations in the podcast dialogue that is spoken. The results of this research show politeness in language and contain 10 maxims of Geoffrey Leech's theory in the podcast between Shireen Sungkars and Oki Setiana Dewi, totaling 47 utterances. The podcast has been analyzed based on indicators of language politeness, so it is concluded that all the speech is included in compliance with language politeness, there is not a single speech that is a violation of language politeness because all the speech is included in the polite and very polite categories, of which there are 41 speeches and categories in the polite category. very polite there are 6 utterances. Not a single utterance was found that fell into the category of impolite or very impolite
LEARNING MODULE DEVELOPMENT ON COMPILING EXPOSITION AND ARGUMENTATION TEXT USING PROJECT-BASED LEARNING
This development research aims to develop and produce a learning module to compile an exposition text. Besides, this research and development also aim to describe the process of developing a material learning module, compiling an exposition text with a Project-Based Learning (PJBL) model for grade VIII SMP students, describing the feasibility of the module based on assessment and validation by media experts, material experts, linguists, and student trials. This research is included in the research category utilizing descriptive quantitative. The resulting quantitative data will be converted into qualitative data to describe the feasibility of the product being developed. The results of the research and development of the module show that the module developed is based on Tessmer's development with two main stages, namely the Preliminary stage which consists of the analysis and design stages, the Formative Evolution stage which consists of Self Evaluation, Prototyping, and Export Review. (Expert Test), One-To-One, Small Group, and Field Test. The validity of the learning module is seen based on the validation test, the results of the validation of media experts reach 75%, material experts 90%, and linguists 75% which can be categorized as valid. Based on product testing at the field test stage, the average score of students was 83.00 which could be categorized as good, while the results of the student response questionnaire obtained a score of 96% which could be categorized as very feasible. Based on the validation test, it can be concluded that the developed learning module can be used both in the student learning process independently and in the Indonesian language learning process, especially in the exposition text material of class VIII students in the class
KEMAMPUAN MENGEMBANGKAN KARANGAN NARASI BERDASARKAN TEKS DRAMA OLEH SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 SUNGAI ARE OKU SELATAN
Latar belakang penelitian ini adalah penggunaan teks drama sebagai alat bantu dalam mengembangkan karangan narasi. Penggunaan teks drama akan membantu siswa berusaha untuk menggambarkan sesuatu hal sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Kegiatan seperti ini menumbuhkan sifat kreatif bagi siswa dalam menampilkan gagasan dan keahlian memilih kata serta merangkainya menjadi kalimat. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah kemampuan mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks drama oleh siswa kelas X SMA Negeri 1 Sungai Are OKU Selatan? Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memperoleh gambaran mengenai pengetahuan dan kemampuan mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks drama oleh siswa kelas X SMA Negeri 1 Sungai Are OKU Selatan sehingga dengan adanya gambaran tersebut maka penulis akan mendapat informasi yang jelas tentang tingkat kemampuan siswa kelas X menulis karangan narasi berdasarkan teks drama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Data dikumpulkan melalui tes, angket, dan wawancara. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Sungai Are OKU Selatan yang berjumlah 153 siswa. Sampel dari penelitian ini adalah 20% dari populasi berjumlah 31 siswa. Berdasarkan hasil pembahasan data tes dari penelitian dapat disimpulkan bahwa siswa kelas X SMA Negeri 1 Sungai Are OKU Selatan dari sampel 31 siswa yang mendapat nilai ≥70 sebanyak 31 siswa (100%) dan yang mendapat nilai ≤70 tidakada, maka siswa kelas X SMA Negeri 1 Sungai Are OKU Selatan digolongkan mampu dalam mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks drama. Dengan demikian hipotesis yang berbunyi siswa kelas X SMA Negeri 1 Sungai Are OKU Selatan mampu mengembangkan karangan narasi berdasarkan teks drama terbukti kebenarannya. Saran dalam penelitian ini adalah hendaknya siswa lebih giat dan lebih sungguh-sungguh mempelajari materi pembelajaran mangembangkan karangan narasi
Implementing E-learning Training toward English Virtual Lecturers: The Process, Perspectives, Challenges and Solutions
This study was aimed to know the e-learning training implementation which involved the lecturers’ perspective, the barriers and its solution. This study involved 50 postgraduate lecturers, however only 9 Master of English education lecturers who participated in this training. The research design of this study was qualitative research which applied observation checklist, interview and note taking as the instruments to collect the data. The data analysis of this study used qualitatively which comprise several steps, such as collect the data, think about the data, code the data, did reflection on data, organizing the data, and interpreting the data. The findings showed that the implementation of e-learning has been done by the trainer, however, there were problems that occurred during the implementation of this training, such as discipline of time, the understanding of the material, electricity, internet connection, module and the age. These problems had been solved by the trainer. The trainer provided the assistant to help them in handling this training. Another finding was most the lecturers had positive perspective about e-learning training because this e-learning training could assist them in teaching, but there were still two until four participants who gave negative perspective about the training
PENGEMBANGAN KETERAMPILAN MENYIMAK TEKS PIDATO DENGAN MENGGUNAKAN ARTICULATE STORYLINE PADA KELAS VIII SMP
Penelitian ini berfokus pada perlunya media pembelajaran yang efektif
dalam pengajaran keterampilan menyimak teks pidato di tingkat sekolah
menengah pertama. Media pembelajaran articulate storyline menjadi salah satu
media pembelajaran yang digunakan untuk menunjang proses belajar siswa,
sehingga siswa dapat fokus belajar tanpa merasa bosan apabila hanya
menggunakan buku cetak biasa. Articulate storyline dalam penelitian ini
mencakup materi menyimak, tidak hanya itu dalam media pembelajaran articulate
storyline ini juga bisa digunakan untuk melihat contoh-contoh pidato dengan cara
menyimak dan menyaksikan sehingga terdapat gambaran langsung contoh
berpidato yang baik dan benar.
Media pembelajaran seharusnya disesuaikan dengan perkembangan
zaman dan dapat memberikan dampak yang baik bagi peserta didik, sehingga
selain unggul dalam akademik peserta didik juga kuat dalam perkembangan media
pembelajaran. Untuk itu, dibutuhkan pengembangan media pembelajaran untuk
memperdalam materi menyimak teks pidato untuk kelas VIII SMP.
Tujuan yang dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk mengembangkan dan
mengevaluasi kefeektifan media pembelajaran berbasis Articulate storyline dalam
meningkatkan kemampuan menyimak teks pidato siswa.
Penelitian ini dilaksanakan menggunakan jenis penelitian Research and
Development yang terdiri atas 10 langkah, namun dalam penelitian ini hanya
dilaksanakan sampai dengan langkah ke 6, hal tersebut karena penelitian ini hanya
dilaksanakan sampai uji coba produk secara terbatas. Langkah tersebut yaitu (1)
potensi dan masalah, (2) pengumpulan data, (3) desain produk, (4) validasi desain,
(5) revisi desain, dan (6) uji coba produk. Data dan sumber data pada penelitian
ini terdiri atas empat. Pertama data kecenderungan kebutuhan media pembelajaran
articulate storyline yang diperoleh dari pendidik dan peserta didik dari SMP
Negeri 2 Bringin, SMP Negeri 2 Brangsong, dan SMP Ibu Kartini. Kedua data
kecenderungan kebutuhan media pembelajaran articulate storyline yang dipilih
yang diperoleh dari pendidik dan peserta didik dari SMP Negeri 2 Bringin, SMP
Negeri 2 Brangsong, dan SMP Ibu kartini. Ketiga skor penilaian kualitas produk
yang diperoleh dari dua ahli yaitu Alif Yudistira,S.Kom., sebagai ahli media dan
ahli materi pembelajaran kebahasaan dan Dr. Sakdiah Wati M.Pd. Keempat data
skor keefektifan produk diperoleh dari peserta didik.
ix
Hasil penelitian menjelasakan bahwa kebutuhan media pembelajaran
articculate storyline menyimak teks pidato kelas VIII SMP menunjukan bahwa
media articulate storyline yang telah diperbaiki berdasarkan masukan para ahli
terbukti efektif meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan dari pretest
hingga posttest. Uji normalitas mengkonfirmasi distribusi data yang normal, dan
uji T sampel berpasangan menunjukan perbedaan yang subtansual antara pretest
dan posttest, mendukung hipotesis bahwa media ini berdampak postif terhadap
kemampuan siswa dalam mendengarkan teks pidato. Penelitian ini dapat di
simpulkan bahwa media articulate storyline merupakan alat pembelajaran yang
efektif dan berharga untuk meningkatkan keterampilan menyimak teks pidato
pada siswa SMP.
Berdasarkan hasil dan pembahasan berkaitan dengan pengembangaan
media articulate storyline menyimak teks pidato, dapat disimpulkan sebagai
berikut. (1) Kebutuhan media articulate storyline menyimak teks pidato untuk
kelas VIII SMP dari peserta didik dan pendidik terdiri atas 6 aspek yaitu,aspek
materi, aspek penyajian, aspek kebahasaan, aspek grafika, aspek berpikir kreatif
dan aspek muatan nilai kemanusiaan. (2) Prototipe media articulate storyline
menyimak teks pidato yaitu, cover slide, pada bagian tampilan depan media
articulate storyline berisi tema, ilustrasi, dan pada slide akhir berisi mengenai
rangkuman materi dan soal evaluasi, bagian isi memuat materi mengenai contoh
teks pidato, mengenal teks pidato, tahapan penting sebelum menyimak, dan cara
mengemabangkan kerangka teks pidato serta cara menyimak teks pidato. (3) Hasil
uji validasi menunjukan perolehan nilai pada isi materi memperoleh nilai rata�rata 93,1 dengan kategori sangat baik. Pada penyajian materi memperoleh rata�rata 84,09 dengan kategori sangat baik. Pada aspek grafika memperoleh rata-rata
90,90 dengan kategori sangat baik. Pada aspek kebahasaan memperoleh rata-rata
90 dengan kategori sangat baik. Pada aspek berpikir kreatif memperoleh rata-rata
96,4 dengan kategori sangat baik. Pada kategori nilai kemanusiaan memperoleh
rata-rata nilai 100 dengan kategori sangat baik. (4) Hasil uji coba secara terbatas
terkait pemakaian media articulate storyline menyimak teks pidato memberikan
dampak postif terhadap pembelajaran menyimak teks pidato, hal tersebut dapat
dilihat dari perolehan hasil pretest memperoleh rata-rata 71,5 dan posttest
memperoleh rata-rata 83,5.
Berdasarkan hasil tersebut menunjukan adanyanya kenaikan antara hasil
prestest dan posttest. Tidak hanya itu, berdasarkan hasil uji-t paired sample T-test
menunjukanperolehan Sig (2-Tailed) 0,000 < 0,05. Artinya terdapat kenaikan
yang signifikan dan media articulate storyline terbukti efektif untuk diterapkan
pada pembelajaran teks pidato.
Saran yang disampaikan dalam penelitian ini berdasarkan hasil dan
simpulan sebagai berikut. (1) Pendidik dan peserta didik sebaiknya menggunakan
media articulate storyline ini untuk dijadikan referensi sebagai bahan pendalaman
materi menyimak teks pidato di kelas VIII SMP. (2) Peneliti lain hendaknya
melanjutkan penelitian ini pada tahap selanjutnya sehingga dapat memperbaiki
kualitas media articulate storyline agar dapat lebih baik dan berkualitas
