The National Research and Innovation Agency's Ejournal Portal
Not a member yet
7815 research outputs found
Sort by
DESAIN DAN IMPLEMENTASI GROUND MODEL SATELIT NANO DENGAN SUBSISTEM KOMUNIKASI PADA FREKUENSI S-BAND (DESIGN AND IMPLEMENTATION OF GROUND MODEL NANO-SATELLITE WITH S-BAND FREQUENCY COMMUNICATION SUBSYSTEM)
Makalah ini berisi desain dari ground model nano-satelit pengamat Bumi yang subsistem komunikasinya bekerja pada frekuensi S-Band. Ground model yang dibuat mengacu pada satelit GOLIAT yang memiliki ukuran sebesar 10 x 10 x 10 cm, berat satu kilogram, payload yang dibawa berupa kamera, dan daya yang dipancarkan sebesar 1 watt. Ground model satelit nano yang dibuat memiliki antena untuk transmisi berupa antena mikrostrip dengan ukuran 9,5 x 9,5 cm, frekuensi kerja 2,4 GHz, nilai parameter S11 sebesar -18,506 dB, VSWR sebesar 1,2695, dan gain sebesar 6,42 dB. Ground model yang dibuat menggunakan Seeeduino sebagai on-board computer, modul XBee untuk berkomunikasi, kamera VC0706, baterai lithium ion, solar panel, dan berbagai macam sensor. Perhitungan link budget pada jarak 300 km untuk ground model satelit nano yang dibuat yaitu Effective Isotropic Radiated Power (EIRP) yang dimilikinya sebesar 36,42 dBm, daya terima -101,18 dBm, receive power dan noise ratio ( Â sebesar 107 dBHz, dan energy bit dan noise ratio sebesar 55,02 dB, sementara untuk satelit GOLIAT memiliki EIRP sebesar 32,2 dBm, daya terimanya sebesar -82 dBm, receive power dan noise ratio sebesar 126,18 dBHz, dan energy bit dan noise ratio sebesar 86,357 dB. Sehingga dapat disimpulkan bahwa desain dan implementasi ground model satelit nano dengan subsistem komunikasi S-band berhasil dilakukan, bahkan kinerjanya lebih baik dari satelit pembanding
PENGUKURAN TURBULENSI DAN ANGULARITAS ALIRAN PADA TEROWONGAN ANGIN SUBSONIK LAPAN (THE MEASUREMENT OF TURBULENCE AND FLOW ANGULARITY IN LAPAN’S SUBSONIC WIND TUNNEL)
This paper explains the measurement of turbulence intensity and angularity in LAPAN’s Open Loop Subsonic Wind Tunnel. The objective of the research is to find out the aerodynamic characterstic of the tunnel. Turbulence intensities were measured using 200 mm and 300 mm diameter turbulence sphere. The flow angularity in the cross section of tunnel’s test section was measured using five holes probe at two different axial position i.e. 1. above internal balance turning table and 2. above external balance turning table. The number of measured points are 110 for every cross section plane and the average velocity during angular flow measurement is 15 m/s. Turbulence measurements shows wind tunnel’s turbulence intensity of 0.26% at 25.9 m/s and 0.1% at 19 m/s. Angularity measurement shows relatively large angular flow variation in the jet, i.e. pitch angle of ±3o and achieving +7o at some locations and yaw angle of ±2.5o
PENGARUH DARI POSISI PUSAT MASSA ROKET YANG TIDAK TERLETAK PADA SUMBU AXIS SIMETRI TERHADAP DINAMIKA TERBANG ROKET BALISTIK (THE DYNAMIC OF THE ROCKET DUE TO THE OFFSET OF ITS CENTER OF MASS RELATIVE TO THE SYMMETRIC AXIS)
Dalam uji terbang roket balistik kadang terjadi suatu gerakan wobbling yaitu suatu gerakan yang tidak linear menbentuk lintasan yang konus. Fenomena ini dapat terjadi dikarenakan berbagai sebab, dimana salah satu penyebabnya adalah posisi pusat massa roket yang tidak terletak pada sumbu axis simetri roket. Sehubungan roket LAPAN pada umumnya termasuk roket balistik maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui kemungkinan dapat terjadinya gerakan wobbling pada saat uji terbang yang disebabkan oleh posisi pusat massa roket yang tidak terletak pada sumbu axis simetri. Dari hasil perhitungan pada penelitian ini terlihat bahwa posisi pusat massa roket yang tidak terletak pada sumbu axis simetri roket menyebabkan terjadinya gangguan momen roll, pitch dan yaw pada roket, dimana gangguan dari momen roll, pitch dan yaw tersebut memicu gerakan wobbling
RANCANG-BANGUN SISTEM FLIGHT-RECORDER SEDERHANA UNTUK PELUNCURAN ROKET
In the rocket launch campaign, the telemetry system is very important system in order to send various data from the sensor to the base-station. However the signal of telemetry is not usually in good condition, and the data is very dificult to analyze. In this paper described the method to backup the sensor data by use of flight-recorder. It was very useful if the recovery of payload was successful, and the data flight can be analyze. The system used 2 wire serial eeprom with 131.071 byte of memory and 6 input for analog channels. The speed recording was 10 ms or 100 data per second
DESAIN DAN IMPLEMENTASI FLIGHT CONTROLLER DENGAN IMU 6-DOF DAN METODE QUATERNION UNTUK APLIKASI AERO ROBOT (DESIGN AND IMPLEMENTATION OF FLIGHT CONTROLLER USING IMU 6-DOF AND QUATERNION METHOD FOR AERO ROBOT APPLICATION)
Aero Robot atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) semakin populer di kalangan peneliti seluruh dunia atas fleksibilitas dan kemampuan untuk melakukan sebuah misi, seperti melakukan pengawasan di daerah perbatasan, mengambil foto udara di daerah terpencil, identifikasi kerusakan daerah bencana, dan lain-lain. Keuntungan dari UAV utamanya adalah dapat menjangkau daerah yang sulit dan berbahaya tanpa membahayakan nyawa pilot. Pada UAV seperti jenis quadrotor dibutuhkan sebuah perangkat elektronik yang mengukur dan melaporkan kecepatan, orientasi, dan gaya gravitasi dengan kombinasi akselerometer dan giroskop yaitu Inertial Measurement Unit (IMU) yang minimal memiliki 6 DOF (Degree of Freedom) yaitu 3-axis akselerometer dan 3-axis giroskop. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah perangkat yang dapat digunakan untuk mengukur, melaporkan, dan melakukan umpan balik agar dapat melakukan penyeimbangan pada quadrotor. Solusinya adalah dengan mendesain dan implementasi sebuah flight controller. Pada kesempatan ini dilakukan penelitian dengan mengkombinasikan akselerometer dan giroskop untuk menyeimbangkan sikap quadrotor dengan menggunakan Quaternion untuk konsistensi kestabilan quadrotor pada parameter kemiringan sudut sikap pitch dan roll. Hasil penelitian telah menunjukkan sensor dan quaternion telah bekerja dengan baik dan sesuai
Pengaruh Waktu Kontak dan Luas Permukaan Elektroda pada Pengolahan Limbah Cair Pabrik Kelapa Sawit Menggunakan Metode EAPR (Electro-assisted Phytoremediation) dengan Tanaman Eceng Gondok (Eichhornia crassipes)
ABSTRACT
POME wastewater treatment remains a significant area of research due to the industry’s large scale and high potential for wastewater pollution. This research investigated the effect of variations in contact time and surface area of Zinc (Zn) electrodes on the parameters of pH, COD, BOD, TSS, VSS, and oil and fat values in the POME wastewater. POME wastewater treatment was conducted using the EAPR method with an electric voltage of 9 (nine) volts and utilizing 3 (three) water hyacinth plants, each with 5–8 leaves. The treatment process was terminated once the reduction in pollutant concentration reached a constant number. The results showed that the values that met quality standards were pH values in all treatments and BOD values in the 45-minute contact time variation across all electrode surface areas. As for the other analysis values, they did not meet the quality standards, with the highest COD reduction of 91.46%, the highest TSS reduction of 96.77%, the highest VSS reduction of 24.92%, and the highest oil and fat reduction of 98.89% observed in the 75 minutes contact time variation using a cathode surface area of 500 cm2 and anode 14 cm2. It can be concluded that this method is currently ineffective for POME wastewater treatment as not all parameters meet quality standards. This research is expected to provide valuable insights for future experiments in wastewater treatment. Recommendations for further research include adding a method to increase oxygen levels in wastewater or adding microorganisms to enhance organic breakdown.
ABSTRAK
Penelitian mengenai pengolahan limbah cair industri minyak kelapa sawit terus dilakukan karena industri ini merupakan industri yang besar dan menghasilkan banyak limbah cair dengan potensi pencemaran yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh waktu kontak dan luas permukaan elektroda seng (Zn) terhadap konsentrasi nilai pH, COD, BOD, TSS, VSS, serta minyak dan lemak. Pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit dilakukan dengan menggunakan metode EAPR bertegangan 9 volt dengan 3 tanaman eceng gondok berdaun 5–8 helai. Perlakuan dihentikan jika penurunan sudah mencapai angka yang konstan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai yang memenuhi baku mutu yaitu nilai pH pada seluruh perlakuan dan nilai BOD pada variasi waktu kontak 45 menit di seluruh variasi luas area permukaan elektroda. Sedangkan untuk nilai analisis yang lain masih belum sesuai dengan baku mutu, dengan penurunan COD tertinggi sebesar 91,46%, penurunan TSS tertinggi sebesar 96,77%, penurunan VSS tertinggi sebesar 24,92%, serta penurunan minyak dan lemak tertinggi sebesar 98,89% pada variasi waktu kontak 75 menit dengan luas permukaan katoda 500 cm2 dan anoda 14 cm2. Dapat disimpulkan bahwa metode ini belum efektif untuk pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit karena belum seluruh analisis memenuhi baku mutu. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk dikaji lebih lanjut untuk pengolahan limbah cair. Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu menambahkan metode aerasi supaya dapat meningkatkan kandungan oksigen dalam air limbah atau menambahkan mikroorganisme untuk mengurai kandungan organik.
Analisis Perubahan Garis Pantai Menggunakan Digital Shoreline Analysis System untuk Mendukung Mitigasi Pesisir Kota Pekalongan, Jawa Tengah
ABSTRACT
Shoreline changes in the form of abrasion or accretion often occur in coastal area due to dynamic natural processes. The northern coastal area of Pekalongan City is one the areas that has been facing significant abrasion, resulting in land loss along the coast. This abrasion process gradually damages the coastal embankments, allowing seawater to inundate inland areas so that tidal flood area expands and begins to encroach on residential areas. Therefore, research about shoreline changes is necessary as one of the mitigation approaches. This study aims to map shoreline changes in Pekalongan City from 2016 to 2022, analyze the values of these changes, and identify the causes in order to determine appropriate mitigation. Monitoring of these changes is conducted through remote sensing methods using Sentinel-2 images by applying threshold values to extract coastlines. The rate of shoreline change is subsequently calculated using Digital Shoreline Analysis System (DSAS) and validated with field conditions through direct observation surveys. The results showed that Pekalongan City experienced significant shoreline changes from 2016 to 2022. Maximum abrasion occurred in Bandengan with an average erosion of 79.5 m, while maximum accretion occurred in Panjang Wetan with an average addition of 3.88 m. Abrasion is the dominant process with a rate of change of 3.95 to 4.02 m/year. The main factor causing abrasion is the interaction between sedimentation with waves, ocean currents and wind. The construction of appropriate types of coastal protection can reduce wave energy and control ocean currents, protecting the coast from abrasion caused by sedimentation.
ABSTRAK
Perubahan garis pantai dalam bentuk abrasi maupun akresi sering terjadi di lingkungan pesisir yang disebabkan oleh adanya proses alam yang dinamis. Daerah pesisir utara Kota Pekalongan merupakan salah satu daerah yang mengalami abrasi signifikan yang berdampak pada hilangnya lahan di sekitar pantai. Proses abrasi tersebut perlahan menyebabkan kerusakan tanggul pantai yang membuat air laut masuk ke daratan sehingga area genangan banjir rob semakin meluas dan mulai merambah ke permukiman. Oleh sebab itu, penelitian tentang perubahan garis pantai penting dilakukan sebagai salah satu upaya mitigasi bencana abrasi. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan perubahan garis pantai di Kota Pekalongan tahun 2016–2022, menganalisis nilai perubahan garis pantai, dan mengidentifikasi penyebab perubahan garis pantai sehingga dapat diketahui langkah mitigasi yang tepat. Pemantauan perubahan ini dilakukan dengan metode penginderaan jauh menggunakan citra Sentinel-2 yang dilakukan thresholding untuk mengekstrasi garis pantai. Laju perubahan garis pantai tersebut selanjutnya dihitung menggunakan Digital Shoreline Analysis System (DSAS) dan divalidasi dengan kondisi lapangan melalui survei pengamatan langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Pekalongan mengalami perubahan garis pantai cukup signifikan pada tahun 2016–2022. Abrasi maksimum terjadi di Kelurahan Bandengan dengan pengikisan rata-rata 79,5 m, sementara akresi maksimum terjadi di Kelurahan Panjang Wetan dengan penambahan daratan rata-rata 3,88 m. Abrasi menjadi proses dominan dengan laju perubahan 3,95 hingga 4,02 m/tahun. Faktor utama penyebab terjadinya abrasi adalah interaksi antara sedimentasi dengan gelombang, arus laut, dan angin. Pembangunan jenis pelindung pantai yang sesuai dapat mengurangi energi gelombang dan mengendalikan arus laut sehingga dapat melindungi pantai dari abrasi yang disebabkan oleh sedimentasi
Fitoremediasi Logam Berat Sistem Lahan Basah Terapung Menggunakan Tanaman Akar Wangi (Chryzophogon zizanioides (L.) Roberty) sebagai Hiperakumulator
ABSTRACT
Pollution in the water environment is becoming increasingly massive. Rivers are polluted by industrial and household waste, which results in natural systems no longer being able to process pollutant materials that enter water bodies, so technological breakthroughs are needed that can come into direct contact with the surface of the water and be used in rivers and lakes. Phytoremediation is a waste processing method using plants grown in polluted environments. Floating wetland systems (constructed floating wetlands) provide a practical solution for dealing with pollution in the aquatic environment because they are directly in contact with polluted water bodies. Also, selecting plant species for floating wetlands determines the system's success in processing waste. The vetiver plant (Chryzopogon zizanioides (L.) Roberty) is a heavy metal hyperaccumulator plant that can grow well in aquatic and terrestrial environments. Still, it needs to be considered because not all cultivars can grow well in standing water, so they are unsuitable for processing liquid waste. Vetiver plants have several advantages compared to other aquatic plant species for floating wetland applications, such as being non-invasive and having no rhizomes, a root system extending downwards, and a massive root system to be used as a biofilter. Floating wetland systems are not widely used in natural systems or for final waste processing. The research is a literary study of floating wetlands, which has been implemented in several countries. The benefit of this research is to examine the ability of the vetiver plant as a hyperaccumulator plant from several studies that have been carried out so that it can be applied in natural environments.
ABSTRAK
Pencemaran di lingkungan perairan semakin masif terjadi. Sungai tercemar oleh limbah buangan industri dan rumah tangga, yang mengakibatkan sistem alami tidak mampu lagi mengolah bahan pencemar yang masuk ke dalam badan air sehingga diperlukan terobosan teknologi yang dapat langsung bersentuhan di permukaan air dan dipergunakan di sungai maupun danau. Fitoremediasi merupakan metode pengolahan limbah dengan menggunakan tanaman yang ditumbuhkan pada lingkungan tercemar. Sistem lahan basah terapung (constructed floating wetlands) memberikan solusi praktis untuk mengatasi pencemaran di lingkungan perairan, karena langsung bersentuhan dengan badan air yang tercemar. Selain itu pemilihan spesies tanaman yang akan digunakan dalam lahan basah terapung menentukan keberhasilan dari sistem untuk menolah limbah. Tanaman vetiver (Chryzopogon zizanioides (L) Roberty) merupakan tanaman hiperakumulator logam berat dapat tumbuh baik dalam lingkungan perairan dan daratan, namun perlu diperhatikan karena tidak semua kultivar mampu tumbuh dengan baik pada genangan air, sehingga tidak cocok untuk pengolahan limbah cair. Tanaman vetiver memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan spesies tanaman air lainnya untuk penerapan lahan basah terapung, seperti sifatnya yang non-invasif dan tidak memiliki rimpang, memiliki sistem perakaran yang menjulur ke bawah, sistem perakarannya yang masif, sehingga dapat digunakan sebagai biofilter. Sistem Lahan basah terapung belum banyak digunakan, baik dalam sistem alami maupun bertujuan pengolahan limbah akhir. Penelitian ini merupakan studi literatur mengenai lahan basah terapung yang sudah diterapkan di beberapa negara. Manfaat dari penelitian ini untuk menelaah kemampuan tanaman vetiver sebagai tanaman hiperakumulator dari beberapa penelitian yang sudah dilakukan untuk selanjutnya bisa diterapkan di lingkungan alami