The National Research and Innovation Agency's Ejournal Portal
Not a member yet
7815 research outputs found
Sort by
KARAKTERISTIK BUTIR AIR HUJAN PERMUKAAN DAN LAPISAN ATAS ATMOSFER PADA PUNCAK MUSIM HUJAN DI TANGERANG SELATAN
Beberapa penelitian terkait kejadian hujan menggunakan beberapa jenis alat seperti Micro Rain Radar (MRR) dan Disdrometer. Kombinasi kedua instrument tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kejadian hujan mulai dari lapisan atas atmosfer hingga permukaan. Penelitian ini mengamati beberapa kejadian hujan pada puncak musim hujan tahun 2017 dan pergantian tahun 2019/2020 di Kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan dengan menggunakan instrumen MRR dan Disdrometer untuk mengetahui karakteristik distribusi ukuran butir air hujan. Hasil penelitian ini menunjukkan pola sebaran butir air hujan yang berbeda, antara kejadian hujan dengan intensitas sangat lebat dan sangat ringan hingga lebat, baik pada lapisan atas atmosfer maupun permukaan. Selain itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kejadian hujan sangat lebat berasal dari kumpulan awan konvektif dengan durasi hujan selama 15-60 menit. Sedangkan, kejadian hujan ringan hingga sedang pada umumnya berasal dari kumpulan awan nimbostratus di level menengah atmosfer dengan durasi hujan sekitar 2-3 jam
UJI PERFORMA WRF DENGAN DATA ASIMILASI RADAR, SATELIT DAN SYNOP UNTUK PREDIKSI HUJAN DI JAKARTA
Asimilasi data merupakan suatu metode estimasi yang diperoleh dari penggabungan antara output model NWP dan data-data pengukuran. Dalam beberapa tahun terakhir, model mesoscale resolusi tinggi diinisialisasi dengan menggunakan teknik data asimilasi (3DVAR/4DVAR) yang diterapkan untuk mempelajari fenomena meteorologi. Penelitian ini dilakukan di wilayah Jakarta dengan memanfaatkan data observasi sinoptik, data radiance satelit dan data radar Doppler C-Band EEC (Enterprise Electronics Corporation) di Jakarta. Penelitian ini menggunakan model numerik Weather Research and Forecasting (WRF) untuk menjalankan model tanpa asimilasi dan model dengan asimilasi data radar, satelit dan sinoptik menggunakan sistem 3DVAR. Analisis dilakukan secara kuantitatif untuk menguji performa model terhadap data observasi dan analisis spasial dengan mencari nilai selisih curah hujan dengan data GSMaP melalui metode overlay. Hasil membuktikan performa terbaik dari hasil prediksi distribusi hujan spasial adalah model asimilasi satelit kemudian model asimilasi radar dan terakhir model asimilasi synoptic. Uji performa melalui tabel kontingensi untuk mengetahui nilai PC, TS, FAR, dan POD. Model asimilasi satelit memiliki performa paling baik daripada model asimilasi lain. Untuk prediksi sesuai kategori hujan ringan model asimilasi satelit yang terbaik, sementara untuk kategori hujan sangat lebat model asimilasi synop adalah yang paling unggul
KARAKTERISTIK TEMPORAL DAN SPASIAL CURAH HUJAN PENYEBAB BANJIR DI WILAYAH DKI JAKARTA DAN SEKITARNYA
Curah hujan merupakan faktor utama penyebab banjir, tidak terkecuali banjir di wilayah DKI Jakarta. Oleh karena itu, karakteristik curah hujan perlu dipelajari untuk tujuan mitigasi bencana banjir di wilayah Ibukota. Kegiatan riset IOP (Intensive Observation Period) yang telah dilaksanakan oleh BPPT dan BMKG pada tanggal 18 Januari 2016 hingga 16 Februari 2016 bertujuan untuk mengetahui karakteristik atmosfer yang menyebabkan cuaca ekstrim di sekitar wilayah DKI Jakarta. Tulisan ini secara lebih spesifik membahas karakteristik curah hujan dari data satelit TRMM JAXA (Tropical Rainfall Measuring Mission) di Wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, untuk mengetahui bagaimana distribusinya baik secara temporal maupun spasial. Dari hasil pengamatan selama periode kegiatan IOP dapat diketahui bahwa secara temporal distribusi curah hujan yang memiliki intensitas tinggi terjadi pada siang hari (mulai pukul 13.00 WIB) hingga malam hari (pukul 24.00 WIB) dengan intensitas tertinggi terjadi pada rentang waktu antara pukul 13.00 sampai dengan 18.00 WIB. Secara spasial total hujan tertinggi selama periode IOP terpusat di daerah sekitar perbatasan antara Provinsi DKI Jakarta (Jakarta Selatan), Provinsi Jawa Barat (Depok), dan Provinsi Banten (Kota Tangerang Selatan) dengan total curah hujan berkisar antara 600 mm hingga lebih dari 650 mm. Suplai utama curah hujan terbesar adalah hujan-hujan yang terjadi di daerah Selatan hingga bagian tengah Provinsi DKI Jakarta
STUDI HIDROLOGI BERDASARKAN CLIMATE CHANGES MENGGUNAKAN MODEL SWAT DI DAERAH TANGKAPAN AIR WADUK JATILUHUR
Daerah Tangkapan waduk Jatiluhur berada diantara 107011'36†- 107032'36" BT and 6029'50" - 6040'45" LS di Jawa Barat, Indonesia. Area dengan luas 380 km2 merupakan 8% dari seluruh total area Hulu Sungai Citarum seluas 4500 km2. Fungsi dari daerah ini untuk memenuhi kebutuhan air untuk pertanian di Karawang dan Bekasi dan memenuhi kebutuhan air di Jakarta. Tujuan dari penelitian ini untuk meneliti dampak dari perubahan ik (Climate Changes) terhadap hasil hidrologi di daerah tangkapan. Perubahan iklim ditentukan oleh beberapa scenario perubahan iklim yang disiapkan sebagai input dalam SWAT hidrologi model. Simulasi dilakukan sesudah model dikalibrasi untuk mendapatkan parameter model yang sesuai dengan model hidrologi. Setelah itu model divalidasi untuk mengetahui bahwa model menggambarkan keadaan lapangan. hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai limpasan dan hasil air yang bervariasi berdasarkan perubahan iklim. Oleh karena itu, perlu adanya untuk mempertimbangkan faktor-faktor perubahan iklim untuk mempelajari proses hidrologi di Daerah Tangkapan Air.Kata Kunci: SWAT, hidrologi, skenario perubahan iklim dan area tangkapan=
Jatiluhur Reservoir Catchment Area is located between 107011'36†- 107032'36" BT and 6029'50" - 6040'45" LS in West Java, Indonesia. The catchment area embraces 380 km2, which is 8% of the total coverage area in the upstream of Citarum River with the total area of 4500 km2. The functions of this catchment are essential for meeting the needs of water for agriculture in Karawang and Bekasi area, and drinking water needs for Jakarta area. The purpose of this study was to investigate the impact of climate change on hydrology yield in the catchment. Changes in climate are discovered by several different climate changes scenarios, prepared as input for hydrological model SWAT. Simulation scenarios conducted after the model is calibrated in order to obtain model parameters that are sensitive to the hydrological response. Afterwards models are validated to find out that the model has described the state of the field. The result showed that the values of runoff and water yield are varies based on climate change. Therefore, there is a need to consider the factors of climate change in order to study hydrological process of a watershed.Keywords: SWAT, hydrology, climate changes scenarios and catchment areas
PENGEMBANGAN GALUR Pichia kudriavzevii TOLERAN CEKAMAN OSMOTIK GLUKOSA MELALUI EVOLUSI LABORATORIUM ADAPTIF
Bioetanol merupakan salah satu komoditas energi terbarukan terbesar di dunia di samping biodiesel. Efisiensi proses fermentasi etanol dapat dilakukan melalui penggunaan khamir fermentatif yang toleran cekaman fermentasi di antaranya cekaman osmotik yang dapat terjadi akibat penggunaan konsentrasi glukosa tinggi sebagai substrat fermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkonstruksi khamir mutan Pichia kudriavzevii galur RWT yang toleran cekaman osmotik glukosa melalui teknik evolusi laboratorium adaptif. Khamir P. kudriavzevii toleran cekaman omostik glukosa 35% berhasil diperoleh dan diberi kode isolat P. kudriavzevii RM. Namun, P. kudriavzevii RM tumbuh optimum pada kadar glukosa 20% dan tidak memiliki perbedaan morfologi dengan isolat tipe liarnya (RWT). Isolat khamir mutan memiliki fase log yang lebih lama dibandingkan isolat tipe liarnya (RWT) dan khamir etanologenik Saccharomyces cerevisiae. Hal ini mengindikasikan potensinya sebagai agen fermentasi bioetanol, karena bioetanol diproduksi pada fase pertumbuhan ini. Melalui pengamatan aktivitas mitokondria diketahui terjadi pergeseran sistem metabolisme dari respirasi aerobik menjadi fermentatif terlihat pada khamir P. kudriavzevii mutan ketika ditumbuhkan pada medium dengan kadar glukosa 20%. Penelitian lebih lanjut terkait produktivitas khamir mutan P. kudriavzevii mutan osmotoleran dalam memproduksi etanol perlu dilakukan untuk pemanfaatannya sebagai agen fermentasi
THE ANATOMY OF STIPULES: CASE STUDIES IN DIFFERENT TYPES OF STIPULES
Stipule is an organs in plants that are small in size and usually located at the base of leaf. This research aims to determine the anatomical characteristics of stipules in seven plants with different types of stipules. The study was conducted using descriptive qualitative method. The anatomical preparations of stipules were made using two techniques: the free-hand section method to obtain paradermal sections and the paraffin method to obtain transverse sections. Based on the observation of anatomical structure, it is known that the types of constituent tissues in stipules resemble the types of constituent tissues in leaves, namely: cuticle, upper epidermis, palisade parenchyma, spongy parenchyma, vascular bundles, and lower epidermis Breadfruit (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg), Cempedak (Artocarpus integer (Thunb.) Merr.), and Rubber Plant (Ficus elastica Roxb. ex Hornem). The parenchyma is found in homogen arrangement in The Noni/Morinda citrifolia L.) and Roses (Rosa indica L.) plants, whereas in Coffee (Coffea canephora Pierre ex A. Froehner) and Sandbox Tree (Hura crepitans L.) plants no vascular bundles were found.
IDENTIFICATION OF KEY NITROGEN USE EFFICIENCY-RELATED GENES IN OIL PALM USING BIOINFORMATICS APPROACHES
Efficient nitrogen use is crucial for maximizing oil palm yield while reducing environmental impact. Poor nitrogen utilization causes excessive growth and nutrient loss. This study uses bioinformatics to identify key genes linked to nitrogen use efficiency, providing insights for genetic improvement and sustainable cultivation.Protein-protein interaction (PPI) networks, functional enrichment, and structural modeling were employed to uncover candidate genes regulating nitrogen uptake and metabolism. Sixty-two nitrogen use efficiency associated genes from rice (Oryza sativa) were analyzed via BLASTp against the E. guineensis genome (NCBI), selecting those with >80% similarity. PPI networks were constructed using STRING-db and analyzed in Cytoscape v3.7.1. Functional enrichment (Gene Ontology) and structural analysis (AlphaFold, PyMol v2.5.4) were performed. Twelve nitrogen use efficiency related genes were identified, with CESA4, CESA7, and CESA9 emerging as key regulators based on high degree and betweenness values in PPI analysis. These genes are linked to plant cell wall biosynthesis. Structural analysis showed high similarity to rice homologs, with RMSD values of 0.338 Å (CESA4) and 0.396 Å (CESA9), indicating strong conservation area. Their structural relevance suggests they are promising targets for molecular breeding marker to enhance nitrogen utilization and sustainability in oil palm
REVIEW- INDONESIAN FLYING FOXES: RESEARCH AND CONSERVATION STATUS UPDATE
Flying foxes are important ecological keystone species on many archipelagoes, and Indonesia is home to over a third of all flying fox species globally. However, the amount of research on this clade belies their importance to natural systems, particularly as they are increasingly threatened by anthropogenic development and hunting. Here, we provide a review of the literature since the publication of the Old World Fruit Bat Action Plan and categorize research priorities as high, medium, or low based on the number of studies conducted. A majority of the research priorities for Indonesian endemics are categorized as medium or high priority. Low priority ratings were in multiple categories for widespread flying fox species found throughout Southeast Asia, though much of the data were from outside of the Indonesian extent of the species range. These research gaps tend to highlight broader patterns of research biases towards western Indonesia, whereas significant research effort is still needed in eastern Indonesia, particularly for vulnerable island taxa