12,583 research outputs found

    Waste to Wealth: sisa buangan dalam penghasilan kaca seramik / Rabiatul Adawiyah Abdul Wahab

    No full text
    Pada tanggal 29 Mei 2023 yang lepas, Fakulti Sains Gunaan UiTM Cawangan Perak Kampus Tapah telah mengorak langkah untuk mendekati warga Perak melalui saluran Radio Malaysia PerakFM. Sebuah sesibual bicara secara atas talian telah berjalan menggunakan mekanisma panggilan telefon di antarajuruhebah PerakFM, Dj Nasreeq dan juga jurubicara jemputan, pensyarah Fakulti Sains Gunaan iaitu Puan Rabiatul Adawiyah binti Abdul Wahab. Sebuah bual bicara yang bertajuk “Waste to Wealth: Sisa Buangan dalam Penghasilan Kaca Seramik” ini telah berjalan di dalam Slot Prihatin bermula pada 10.15 pagi selama 30 minit

    Penerapan Koperasi Menurut KH Abdul Wahab Chasbullah

    Full text link
    This study aims to reveal the role of KH. Abdul Wahab Chasbullah as a figure who played a role in realizing Nadlatul Tujjar and also the Al-inan Syirkah Cooperative. The problems investigated in these writings are in several ways, namely the background of KH\u27s life. Abdul Wahab Chasbullah, the efforts of KH. Abdul Wahab Chasbullah in the Nadlatul whatan, Nadlatul Afkar and Nadlatul Tujjar organizations and the influence of KH. Abdul Wahab Chasbullah towards society in economic, political and social terms. To examine these problems, this study uses a literature review method to reveal historical facts about the role of KH. Abdul Wahab Chasbullah in Nadhlatul Tujjar. To analyze these facts, the researcher used an observational approach, interviewed historians and also looked at existing books and journal articles. This study found that KH. Abdul Wahab Chasbullah was born in Tambakrejo Village, Jombang in March 1888 and died on December 29, 1971. Based on his lineage, Kiai Wahab Hasbullah, namely Kiai Said, is a kiai who is still a descendant of Sunan Pandan Arang Semarang. Born and raised in a pesantren environment, Mbah Wahab did grow up with strong pesantren values and character. Even at the age of 13, he has started his odyssey from one pesantren to another. Even after being satisfied with studying in Indonesia, he settled in Mecca to study knowledge from various well-known kiai. Nahdhatut Tujjar was founded by KH. Wahab Chasbullah in 1918 to fix the economy of Muslims on greed and monopolized by the Colonialism. The spirit of the Nahdhatul Tujjar movement is that Muslims do not always depend on their economy under the pressure of colonialism, besides that Muslims are also taught to be independent in the economy

    TAREKAT NAQSYABANDIYAH SYAIKH ABDUL WAHAB ROKAN: Sejarah, Ajaran, Amalan, dan Dinamika Perubahan

    Full text link
    Abstract:Tarekat Naqsyabandiyah Syaikh Abdul Wahab Rokan: history, teachings, practice and its dynamics of change. The Tarekat Naqsyabandiyah in North Sumatra was first developed by Syaikh Abdul Wahab Rokan. In reality, such teaching of tarekat developed by him has changed the lives of its followers in Babussalam socially to a more prosperous course. In this article, the writer traces the history, teaching and practice of tarekat Naqsyabandiyah Syaikh Abdul Wahab Rokan in Babussalam as well as analyzes the dynamics of change there in. The author argues that the application of the teaching of tarekat Naqsyabandiyah Syaikh Abdul Wahab Rokan which emphasizes that the material world is not the only matter in life has become an avenue for creating a balance between the profane and eternal dimensions of life.Kata Kunci: Tarekat, Naqsyabandiyah, Syaikh Abdul Wahab Roka

    Sumbangsih Syekh Ismail Abdul Wahab Dalam Pengembangan Dakwah Di Kota Tanjung Balai

    Full text link
    Syekh Ismail Abdul Wahab adalah salah seorang tokoh Islam yang sangat besar pengaruhnya di Kota Tanjung Balai dan Kabupaten Asahan pada masa-masa perjuangan kemerdekaan. Beliau termasuk tokoh yang banyak gagasannya dalam memperjuangkan kemerdekaan dan pembela tanah Air Republik Indonesia. Syekh Ismail Abdul Wahab salah seorang ulama besar di Sumatera Utara, beliau dikenal sebagai seorang ulama yang sangat berani dan teguh pendirian dalam menentang penjajahan disaat merebut kemerdekaan Republik Indonesia. Oleh karena itu pengaruh Syekh Ismail Abdul Wahab sangat besar dalam sejarah hidupnya, khususnya bagi masyarakat Tanjung Balai, bahkan sampai pada saat sekarangpun masih nampak. Salah satu diantaranya adalah nama beliau ini dibuat nama salah satu jalan di Kota Tanjung Balai. Hal itu menunjukkan bahwa Syekh Ismail Abdul Wahab tetap tercatat sebagai pahlawan yang tidak terlupakan bagi masyarakat Tanjung Balai, bahkan sampai saat sekarang bekas pengaruh dan sumbangsih beliau masih nampak di Tanjung Balai. Oleh karena melihat pengaruh beliau yang sangat besar di mata masyarakat Kota madya Tanjung Balai dan sekitarnya maka penulis merasa perlu membuat sebuah penelitian ilmia seberapa jauh kontribusi  dakwah yang dilakukan Syeikh Ismail Abdul Wahab dalam mengembangkan ajaran Islam di Kota Tanjung Balai Penulis ingin memakai pendekatan penelitian kualitatip Penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, seperti perilaku, persepsi, motivasi tindakan, secara holistik, dengan cara mendeskripsikan dalam bentuk kata-katadan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah, serta dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah menliti tentang Sejauh manakah pengaruh Syekh Ismail Abdul Wahab, dalam merintis kemerdekaan, dan sejauh mana pula pergerakan yang dibentuk beliau dalam menentang penjajah di Kota Tanjung Balai, sehingga dihati masyarakat tercatat sebagai pahlawan yang tidak terlupaka

    Libya, Abdul Wahab Mosque in Tripoli

    No full text
    View across road to Abdul Wahab Mosque.GrayscaleSorensen Safety Negatives, Binder: Africa

    Lawatan Pro Canselor UiTM ke Galeri Tun Abdul Razak (GTAR)

    No full text
    Galeri Tun Abdul Razak (GTAR) berbesar hati menerima kunjungan rasmi YBhg. Datuk Haji Abdul Wahab Aziz, Pro Canselor Universiti Teknologi MARA (UiTM), bersama isteri tercinta, YBhg. Datin Dayang Rosnah Abang Drashid pada 9 Mei 2025. Lawatan yang berlangsung dalam suasana mesra ini turut disertai oleh warga GTAR dan beberapa wakil pentadbiran UiTM

    Syekh Abdul Wahab Bugis dan Perjuangan Dakwahnya 1722-1786 M

    Full text link
    Nama lengkap ulama ini adalah Syekh Abdul Wahab Bugis al-Banjari dengan gelar kebangsawanannya Sadenreng Bunga Wariyah. Sebagai salah satu figure sentral dari jaringan ulama Nusantara, Syekh Abdul Wahab Bugis memiliki jasa, peranan, dan perjuangan yang besar terhadap perkembangan dakwah, terutama di Banjarmasin. Walau pun beliau bukan orang Banjar, tetapi ilmu, amal, dan perjuangan hidupnya, telah dibaktikan untuk kejayaan Islam di Tanah Banjar. Beliau dikenali sebagai salah seorang ahli daripada „Empat Serangkai‟ Ulama Nusantara yang hidup sezaman dan mengkaji ilmu di Tanah Haramain; iaitu, Syekh Abdul Shamad al-Palimbangi, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, dan Syekh Abdurrahman al-Misri al-Betawi. Setelah keempat-empat ulama ini balik ke Indonesia, Syekh Abdul Wahab Bugis yang telah dikahwinkan dengan Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, ikut ke Banjarmasin. Di Banjarmasin, beliau yang diiktiraf sebagai sebagai ulama besar telah berkongsi dengan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari untuk mendakwahkan Islam di Banjarmasin. Oleh Sultan Banjar waktu itu, beliau diangkat menjadi penasihat dan guru spiritual istana, beliau juga mengkader umat, dan ikut membantu membuka kawasan kosong bersama-sama dengan Al-Banjari untuk dijadikan sentral pendidikan agama. Namun, terbatasnya data-data dan maklumat bertulis ataupun catatan-catatan tertentu yang mengungkap biografi atau riwayat, dan tidak adanya karya tulis pasti yang ditinggalkan, menjadi punca apabila ketokohan Syekh Abdul Wahab Bugis tidak begitu popular dikenal oleh masyarakat Melayu dan masyarakat Banjar khasnya atau pun disinggung oleh para sarjana dan sejarawan. Oleh itu, untuk mengenalpasti siapa beliau, patut untuk diterokai sejarah hidup Syekh Abdul Wahab Bugis dan peranan dakwahnya di Tanah Banja

    MODERNISME PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM, TAMBAK BERAS-JOMBANG, PADA MASA KEPEMIMPINAN K.H. ABDUL WAHAB CHASBULLAH (1926 – 1972)

    Full text link
    Abstrak   Penelitian ini bertujuan utuk mengetahui proses modernisme pendidikan pondok pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang yang dimulai sejak tahun 1926-1971 ketika Abdul Wahab Chasbullah menjadi pimpinan pondok pesantren tersebut. Awalnya memang mendapat tantangan dari Ayahnya sendiri yang sebagai pimpinan pondok sebelumnya menolak metode pengajaran pondok yang dianggap mirip dengan metode pengajaran colonial yang kafir. Perjuangan yang gigih dan pantang menyerah akhirnya restu dari sang ayah yaitu Chasbullah datang dan bahkan mendukung penuh. Proses modernism pondok pesantren semakin nyata terlihat ketika madrasah pertamakali berhasil didirikan yang diberi nama Mubdilfan pada tahun 1915. Kejeniusan dan kedalaman ilmu pengetahuan Abdul Wahab Chasbullah membuat pondok pesantren Bahrul Ulum semkin maju pesat, hal itu dapat dibuktikan dengan banyaknya santri yang belajar disana dan lulusannya banyak yang menjadi Alim Ulama besar dalam Ilmu pengetahuan agamanya dan mantap Ilmu pengetahuan umumnya.   Kata kunci: K.H. Abdul Wahab Chasbullah dan modernisme pesantre

    Kad Hari Raya

    No full text
    Kad ucapan hari raya yang diutuskan kepada Profesor Diraja Ungku Abdul Aziz daripada Datuk Paduka Dr. Abdul Wahab dan Dati
    corecore