107 research outputs found

    PENGARUH VARIASI PELARUT TERHADAP KADAR FLAVONOID DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN JAHE MERAH (Zingiber officinale var rubrum)

    Full text link
    Jahe merah ( Zingiber officinale var. rubrum) merupakan tanaman obat yang berpotensi sebagai antioksidan. Metabolit sekunder dengan aktivitas antioksidan yaitu seperti gingerol, flavonoid , fenolik dan shogaol. Pelarut ekstraksi merupakan faktor yang mampu menarik metabolit sekunder secara optimal. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh variasi pelarut terhadap kadar flavonoid total dan aktivitas antioksidan serta hubungan antara kadar flavonoid terhadap aktivitas antioksidan ekstrak jahe merah. Metode : Ekstraksi menggunakan metode maserasi dengan pelarut berbeda yaitu etanol 96%, etil asetat, dan n-heksan. Analisa kualitatif menggunakan uji warna, pengukuran kadar flavonoid total menggunakan kuersetin sebagai pembanding. Aktivitas antioksidan menggunakan metode ABTS dengan kontrol positif kuersetin. Hasil : Rendemen ekstrak pelarut etanol 96%, etil asetat, dan n-heksan berturut- turut yaitu 5,133% ; 6,761% ; 3,851%. Kadar flavonoid dan nilai IC 50 dari ekstrak jahe merah yaitu : etanol 96% (111,38 mgQE/g ; 20,15ppm) , etil asetat (171,14 mgQE/g ; 11,6ppm) , n-heksan (163,05 mgQE/g ; 19,48ppm). Hasil uji korelasi pearson menunjukan hasil negatif pada etanol 96%, etil asetat, dan n-heksan: - 0,9996; -0,9678; -0,9992. Terdapat hubungan antara kadar flavonoid dengan aktivitas antioksidan ekstrak Hasil korelasi menunjukan bahwa terdapat hubungan antara kadar flavonoid total dengan aktivitas antioksidan, dimana semakin besar kadar flavonoid dalam ekstrak maka aktivitas antioksidannya semakin kuat. Simpulan : Variasi pelarut mempengaruhi kadar flavonoid dan aktivitas antioksidan ekstrak jahe merah. Terdapat hubungan antara kadar flavonoid dan aktivitas antioksidan

    PERBANDINGAN TOTAL RENDEMEN DAN SKRINING ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH HIJAU (Piper betle L.) SECARA MIKRODILUSI

    Full text link
    The optimization of extraction procces for Sirih Hijau leaves (Piper betle L.) have been attempted. The aim of the research was to knowing the influence and the ratio of total yield on two different methods, that was using maceration and reflux method and followed by microbial antibacterial by microdilution test to show the qualitative value of MIC percentage of Sirih Hijau leaves extract against Escherichia coli and Staphylococcus aureus bacteria. The analysis was conducted descriptively for subsequent use as a basis to determined MIC percentage quantitatively. The result of extraction with two methods showed that the highest yield was yielded in reflux process with 18.5% rendement value with the weight ratio of 1: 5 to the maceration process. Phytochemical screening shows the ethanol extract of Sirih Hijau leaves contains flavonoid, saponins, and tannins compounds that have activated as antibacterial. The results of microbial antibacterial testing showed MIC percentage in Staphylococcus aureus at 5% and Eschericia coli at 3%. The test results indicate that Sirih HIjau leaves (Piper betle L.) have potential as an antibacterial candidate.   Keyword : Sirih Hijau, reflux, maceration, antibacterial, microdilutio

    UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN GEL FACIAL WASH EKTRAK BUAH PARIJOTO (Medinilla speciosa Blume) TERHADAP Propionibacterium acnes

    Full text link
    Latar belakang : Prevalensi Propionibacterium acnes sebagai penyebab antijerawat di Indonesia sebesar 80%-85% pada remaja dan prevalensi ini mengalami kenaikan setiap tahunnya. Tanaman buah parijoto (Medinilla speciosa Blume) merupakan tanaman yang mengandung senyawa flavonoid, tanin, saponin, yang dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri yang dibuat dalam bentuk sediaan facial wash gel. Pada penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aktivitas antibakteri facial wash gel ekstrak buah parijoto (Medinilla speciosa Blume) dan stabilitas fisik selama 5 siklus pada sediaan facial wash gel. Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimental dengan Uji stabilitas facial wash gel dilihat dari uji organoleptis dan homogenitas, uji pH, tinggi busa, uji viskositas dan metode difusi cakram terhadap bakteri Propionibacterium acnes menggunakan 5 kelompok yaitu: kontrol positif facial wash gel, kontrol negatif basis formula facial wash gel, formula I konsentrasi 0,5%, formula II konsentrasi 1%, formula III konsentrasi 1,5%. Aktivitas antibakteri dilihat berdasarkan parameter zona hambat. Hasil : Uji stabilitas fisik dari cylining test menunjukan tidak ada perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah cylining test pada parameter organoleptis dan homogenitas, pH, tinggi busa, viskositas memiliki rata-rata 5,67, 1,17, 2665,67. Hasil uji antibakteri facial wash gel menghasilkan rata-rata diamter zona hambat pada konsetrasi 0,5%, 1%, 1,5% berturut-turut adalah 9,48 mm, 12,77 mm, 17,79 mm. Kesimpulan : Facial wash gel ekstrak buah parijoto (Medinilla speciosa Blume) memiliki stabilitas organoleptis dan homogenitas, pH, viskositas, tinggi busa memiliki stabilitas facial wash yang baik. Uji aktivitas antibakteri pada Propionibacterium acnes dilihat dari diameter zona hambat memiliki aktivitas yang sedan dan kuat. Kata kunci : parijoto, antibakteri, facial wash gel, stabilitas dipercepa

    POTENSI ANTIBAKTERI HERBA MENIRAN HIJAU (Phyllanthus niruri L) TERHADAP BAKTERI Escherichia coli dan Staphylococcus aureus

    Full text link
    Latar Belakang: Penyakit infeksi banyak disebakan oleh bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Meniran hijau digunakan masyarakat sebagai obat tradisional. Penelitian yang telah dilakukan menyatakan potensi efek farmakologis meniran hijau seperti antibakteri, antivirus, anti-inflamasi. Tujuan penelitian ini untuk melihat potensi aktivitas antibakteri herba meniran hijau terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Metode: Penelitian menggunakan metode studi literatur. Studi literatur bersumber dari pustaka primer yang telah dipublikasikan selama 10 tahun terakhir mengenai aktivitas antibakteri herba meniran hijau pada Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Lima artikel yang terpilih dilakukan telaah untuk mengetahui potensi antibakteri herba meniran hijau terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Hasil: Herba meniran hijau memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureu. Senyawa aktif dari herba meniran hijau berpotensi sebagai antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus adalah fenol, saponin dan alkaloid. Daya kekuatan antibakteri ekstrak herba meniran hijau dilihat dari diameter zona hambat antibakteri yang dihasilkan terhadap Staphylococcus aureus lebih kuat dari pada Escherichia coli. Semakin besar konsentrasi ekstrak maka semakin besar pula daya antibakteri yang dihasilkan terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Simpulan: Meniran hijau memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus dengan variasi konsentrasi uji. Senyawa aktif yang berpotensi sebagai antibakteri adalah fenol, saponin dan alkaloid Kata Kunci: Meniran Hijau, Antibakteri, Stapylococcus aureus, Escherichia coli

    KAJIAN FORMULASI NANOPARTIKEL EKSTRAK MENGGUNAKAN ENKAPSULAN KITOSAN DENGAN METODE GELASI IONIK

    Full text link
    Latar Belakang : Enkapsulasi merupakan salah satu proses formulasi yang dapat dibentuk untuk membantu pembentukan partikel nano dari suatu ekstrak atau bahan alam. Penyalut basa yang digunakan dalam teknologi nanopartikel dengan bahan aktif dari alam adalah kitosan. Sintesis nanopartikel kitosan dapat dilakukan dengan metode gelasi ionik dan menggunakan crosslinker natrium tripolifosfat (Na-TPP). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh rasio enkapsulan kitosan terhadap formulasi nanopartikel beberapa ekstrak menggunakan metode gelasi ionik serta karakteristik nanopartikelnya. Metode : Penelitian dilakukan dengan metode literatur review dengan menggunakan 5 artikel yang terdiri dari 2 artikel nasional dan 3 artikel internasional sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan. Hasil : Rasio kitosan sebagai enkapsulan dengan perbandingan tertentu mempengaruhi pembentukan nanopartikel beberapa ekstrak dengan metode gelasi ionik. Nanopartikel ekstrak dengan enkapsulan kitosan menghasilkan karakteristik ukuran partikel dibawah 1000 nm yaitu 532-716 nm, indeks polidispersitas kurang dari 1, zeta potensial +/- 30 mV dan efisiensi enkapsulasi mendekati 100% yaitu 88%. Kesimpulan : pengaruh rasio enkapsulasi kitosan menggunakan ekstrak dari alam dengan gelasi ionik menghasilkan ukuran partikel dibawah 1000 nm yaitu 532- 716 nm, indeks polidispersitas kurang dari 1, zeta potensial +/-30 mV dan efisiensi enkapsulasi mendekati 100% yaitu 88% Kata kunci : Nanopartikel, Enkapsulasi, Kitosan, Gelasi Ioni

    KAJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULIT DAN DAGING BUAH JERUK PAMELO (Citrus maxima) DENGAN METODE DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil)

    Full text link
    Latar Belakang : Radikal bebas adalah atom yang memiliki elektron bebas atau elektron yang tidak berpasangan, radikal bebas dapat memicu reaksi berantai yang dapat merusak sel tubuh, dan untuk menghentikan kerusakan tersebut dibutuhkan antioksidan. Kulit dan daging buah jeruk pamelo (Citrus maxima) merupakan tanaman yang mengandung senyawa metabolit sekunder yang bersifat sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa metabolit sekunder dan aktivitas antioksidan pada kulit dan daging buah jeruk pamelo (Citrus maxima) dengan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) Metode : Penelitian dilakukan dengan metode literature review menggunakan lima artikel yang terdiri dari dua artikel internasional dan tiga artikel nasional. Hasil : Hasil aktivitas antioksidan pada kulit dan daging buah jeruk pamelo (Citrus maxima) dilihat dari parameter IC50, persen inhibisi, dan AAI (Antioxidant Activity Index). Antioksidan kategori sangat kuat terdapat pada ekstrak kulit buah jeruk pamelo menggunakan pelarut etanol dengan nilai IC50 sebesar 44,96 ppm dan antioksidan kategori sangat lemah memberikan hasil nilai IC50 sebesar 574,02 ppm. Nilai terbesar persen inhibisi terdapat pada ekstrak daging buah jeruk pamelo dengan nilai sebesar 60,933, sedangkan nilai AAI (Antioxidant Activity Index) pada ekstrak kulit buah jeruk pamelo tergolong lemah dengan nilai sebesar 0,06. Kulit dan daging buah jeruk pamelo mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu Flavonoid, saponin, alkaloid, triterpenoid dan steroid, tanin, karotenoid. Kesimpulan : Kulit dan daging buah jeruk pamelo mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu Flavonoid, saponin, alkaloid, triterpenoid dan steroid, tanin, karotenoid. Kulit buah jeruk pamelo memiliki potensi aktivitas antioksidan kategori sangat kuat dengan nilai IC50 <50 ppm, sedangkan pada daging buah jeruk pamelo memiliki potensi aktivitas antioksidan kategori sangat lemah dengan nilaiIC50 >200 ppm. Kata kunci : Antioksidan, IC50, DPPH, Citrus maxima Kepustakaan : 47 (1973-2020

    PENGARUH ULTRASONIKASI TERHADAP KARAKTERISTIK DAN NILAI IC₅₀ NANO EKSTRAK BUAH PARIJOTO (Medinilla speciosa Blume) DENGAN ENKAPSULAN ALGINAT

    Full text link
    Parijoto (Medinilla speciosa Blume) memiliki aktivitas farmakologis sebagai antioksidan. Ekstrak buah parijoto memiliki ukuran partikel besar dan menyebabkan bioavailabilitasnya rendah. Sehingga perlu diubah dalam bentuk nanopartikel untuk meningkatkan bioavailabilitas dan aktivitas senyawa aktifnya. Nanopartikel dibentuk menggunakan bantuan metode gelasi ionik, dimodifikasi dengan metode ultrasonikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi dan IC₅₀ nanopartikel buah parijoto terenkapsulasi alginat menggunakan metode ultrasonikasi. Metode: Eksperimental pembuatan ekstrak menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%, nano ekstrak buah parijoto menggunakan metode gelasi ionik alginat dan CaCl₂ (0,05% b/v : 0,05% b/v). Pengecilan ukuran nano ekstrak menggunakan ultrasonikasi dengan frekuensi 45 Hz dan 80 Hz dengan waktu 15, 30, 45, 60 dan 75 menit. Karakterisasi nanopartikel dilakukan dengan melihat ukuran partikel, indeks polidispersitas, dan persen transmitan (%T). Uji aktivitas antioksidan pada nanopartikel dilakukan dengan metode FRAP. Hasil: Rendemen ekstrak sebesar 10,13%, karakterisasi nano ekstrak pre sonikasi diperoleh ukuran dan distribusi partikel 265 nm, PdI 0,472, % transmitan 98,285%, post sonikasi diperoleh ukuran dan distribusi partikel sebesar 218 nm, PdI 0.415 dan %transmitan 99.559%. IC₅₀ yang didapat pada nano ekstrak setelah sonikasi sebesar 1,696 ppm. Simpulan: Perlakuan ultrasonikasi nano ekstrak dengan waktu 15 menit dan besar frekuensi 45 Hz memperoleh hasil lebih baik dari nano ekstrak sebelum sonikasi

    Alginate-Based Nanoencapsulation on Ultrasonic-Assisted Extraction of Parijoto Fruit (Medinilla Speciosa Blume) and Its Antioxidant Activity

    Full text link
    Parijoto (Medinilla speciosa Blume) has very strong antioxidant activity, but the bioavailability was low. Therefore, Parijoto should be formed into a nanoparticle. The research aimed to determine the characterization and IC₅₀ value of nanoencapsulated Parijoto. Encapsulation was done using ionic gelation with alginate: CaCl₂ ratio 0.05%:0.05% (b/v). The ultrasonication was modified by a variation in frequency and sonication time. The characterization of nanoparticles was carried out using PSA to show the particle size and polydispersity index (pdI), and UV-Vis Spectrophotometer to show the percent of transmittance. The antioxidant activity was determined using FRAP assay. The characterization of pre-sonicated nanoextract was 265 nm of particle size, 0,472 of PdI, and 98,29% of transmittance. The best condition of sonication effect is given from 45 Hz of frequency and 15 minutes in time. The lower particle size from sonicated nanoextract was 218 nm, 0,415 of PdI, 99,56% percent of transmittance, and IC50 value obtained 1.696±0,014 ppm with a very strong category

    STUDI IN VITRO POTENSI ANTIOKSIDAN DAN AKTIFITAS ANTIDIABETES FRAKSI ETIL ASETAT BUAH PARIJOTO (Medinilla speciosa B.)

    Full text link
    ABSTRACT Parijoto fruit (Medinilla speciosa B) contains the flavonoid which is one of the phenolic groups compounnd. Flavonoids has biological activities as anti free radical and antionxidants. The aim of this research was to evaluate the potency of ethyl acetat fraction of M.speciosa B. Extract as an antioxidants and antidiabetic. Evaluation of antioxidants activity was carried out by in vitro assay using the ABTS method (2.2 azinobis (3-ethylbenzotiazolin) -6-sulfonic acid), while the antidiabetic assay was carried out using the Nelson-Somogyi method. Research begins with the process of determination, extraction, fravtionation and contiunued by examination of each variable. The parameters of antioxidants activity was determined by IC50&nbsp;values, while antidiabetic activity was measured by percentage of decreasing of glucoce levels. The results of antioxidants activity showed that ethyl acetate fraction of M. Speciosa B. had antioxidants activity with an IC50 value of 4,246 ppm with a very strong category. In line with these results, ethyl acetate fraction of M. speciosa B. had reduced glucoce levels with an optimal decrease of 50.21% a concentration of 40 ppm. &nbsp; ABSTRAK Buah Parijoto (Medinilla speciosa B.) mengandung senyawa aktif flavonoid yang merupakan salah satu golongan fenolik. Flavonoid memiliki aktifitas biologis sebagai antiradikal bebas dan antioksidan. Penelitian dilakukan dengan tujuan mengetahui kemampuan fraksi etil asetat M. speciosa B sebagai antioksidan dan antidiabetes. Pengujian aktifitas antioksidan dilakukan secara in vitro dengan metode ABTS (2,2 azinobis (3-etilbenzotiazolin)-6-asam sulfonat), sedangkan uji antidiabetes dilakukan menggunakan metode Nelson-Somogyi. Penelitian diawali dengan proses determinasi, ekstraksi, fraksinasi, dan dilanjutkan dengan pengujian pada masing-masing variabel. Parameter aktifitas antioksidan diwujudkan dengan nilai IC50, sedangkan aktiftas antidiabetes diukur dengan persen penurunan kadar glukosa. Hasil pengujian aktifitas antioksidan menunjukkan bahwa fraksi etil asetat memiliki aktifitas antioksidan dengan nilai IC50 sebesar 4.14±0.08 ppm dengan kategori sangat kuat. Sejalan dengan hasil tersebut, fraksi etil asetat Buah Parijoto (M. speciosa B.) memilili kemampuan dalam menurunkan kadar glukosa dengan penurunan secara optimal sebesar 50.21±0.47% pada konsentrasi 40 ppm. &nbsp; &nbsp

    PENENTUAN KADAR FLAVONOID TOTAL EKSTRAK DAUN RAMBAI LAUT DENGAN VARIASI PELARUT EKSTRAKSI (Sonneratia caseolaris L.)

    Full text link
     ABSTRAK Daun rambai laut (Sonneratia caseolaris L.) diketahui  mempunyai kandungan senyawa flavonoid yang memiliki aktivitas farmakologis. Perbedaan jenis pelarut mempengaruhi kandungan metabolit skunder yang dihasilkan daun  rambai laut. Hal ini menunjukan membutuhkan pengendalian mutu kualitas simplisia dan jenis pelarut, sehingga bisa mendapatkan metabolite sekunder yang berkualitas/baik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui nilai rendemen dan kadar flavonoid total ekstrak daun rambai laut menggunakan variasi pelarut yaitu etanol 70%, etil asetat dan N-hexane. Daun rambai laut segar diperoleh dari kota semarang dengan spesifikasi daun yang berwarna hijau tua. Ekstraksi daun rambai laut dilakukan menggunakan metode sokhletasi dan dilanjutkan perhitungan rendemen. Ekstrak daun rambai laut didentifikasi secara kualitatif dan ditentukan kadar flavonoid totalnya. Pengujian flavonoid total secara kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil rendemen ekstrak daun rambai laut dengan menggunakan variasi pelarut yaitu ekstrak etanol 70% sebesar 3.4%, ekstrak etil asetat 7.87% dan n-heksan 4.07%. Kadar flavonoid total ekstrak daun rambai laut dengan menggunakan variasi pelarut adalah etanol 70% sebesar 64.05mgQE/g, etil asetat 164.50 mgQE/g dan n-heksan 141.97 mgQE/g. Ekstrak daun rambai laut terdapat pengaruh suatu perbedaan terhadap nilai rendemen dan kadar flavonoid total yang tertinggi menggunakan pelarut etil asetat dibandingkan dengan menggunakan pelarut n-heksan dan etanol 70%.Kata Kunci    : Rambai Laut, Flavonoid, Etanol, Etil asetat, n-heksanÂ
    corecore