Open Journals System Universitas Ngudi Waluyo
Not a member yet
1880 research outputs found
Sort by
Penerapan Project Based Learning untuk Meningkatkan Kreativitas Peserta Didik Kelompok B1 di TK Desa Gentan: Implementation of Project Based Learning to Increase the Creativity of Group B1 Students in Gentan Village Kindergarten
This research aims to find out whether the application of the project based learning model can increase the creativity of children aged 5-6 years and how to increase the creativity of children aged 5-6 years through the project based learning model. This research was carried out at the Gentan Village Kindergarten. The method used is Classroom Action Research. Data collection is carried out through planning, action, observation and reflection. The subjects of this research were 15 children aged 5-6 years in group B1 at Gentan Village Kindergarten. From the research results, it was found that the creativity of children aged 5-6 years can be increased through the project based learning model. This was proven in cycle 1, the level of children's creativity was 39.31% and increased by 24.02% in cycle 2, namely to 63.33%, so the classroom action research was stopped at the stage of cycle 2. How to increase the creativity of children aged 5-6 years in Gentan Village Kindergarten through the application of a project based learning model with loose part media.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapam model pembelajaran project based learning dapat meningkatkan kreativitas anak usia 5-6 tahun dan bagaimana cara meningkatkan kreativitas anak usia 5-6 tahun melalui model pembelajaran project based learning. Penelitian ini dilaksanakan di TK Desa Gentan. Metode yang digunakan ialah Penelitian Tindakan Kelas. Pengumpulan data dilakukan melalui perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Subyek penelitian ini adalah anak-anak usia 5-6 tahun kelompok B1 di TK Desa Gentan sebanyak 15 anak. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kreativitas anak usia5-6 tahun dapat ditingkatkan melalui model pembelajaran project based learning. Hal ini dibuktikan pada siklus 1 tingkat kreativitas anak sebesar 39,31% dan mengalami peningkatan sebanyak 24,02% pada siklus 2 yaitu menjadi 63,33%, sehingga penelitian tindakan kelas dihentikan pada tahapann siklus 2. Cara peningkatan kreativitas anak usia 5-6 tahun di TK Desa Gentan melalui penerapan model pembelajaran project based learning dengan media loose part
Kompetensi Profesional Calon Guru PAUD dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran: Sistematis Literatur Review: Professional Competence of Prospective PAUD Teachers in Improving the Quality of Learning: Systematic Literature Review
One of the most important qualities that prospective PAUD teachers must have to encourage the development of high-quality learning is professional competence. Using a literature review study approach, this study seeks to investigate and evaluate how the professional competence of future PAUD teachers contributes to improving teaching standards. This study collects and examines various related literature, such as Google Scholar, OpenKnwledge, Sage, and ScienceDirect. Focusing on literature published in the last 10 years, namely between 2015 and 2024. This study will be conducted in three stages, starting with a literature search using the keywords "professional competence of PAUD teachers", "prospective PAUD teacher competence", and "quality PAUD learning" through predetermined literature sources, which resulted in 50 articles. In the second stage, the researcher will analyze the collected references and select 21 papers that meet the inclusion criteria. The results of the study indicate that proficiency in educational technology, the application of developmentally appropriate pedagogical approaches, and mastery of learning materials are components of the professional competence of prospective PAUD teachers. In addition, professional training, formal education, and direct experience in the field can help improve this competence. The difficulties experienced by prospective PAUD teachers, such as limited access to resources and training, were also highlighted in this study. To ensure that their professional competence can meet the demands of efficient and enjoyable learning, this study suggests improving education and training programs for prospective PAUD teachers.
ABSTRAK
Salah satu kualitas terpenting yang harus dimiliki oleh calon guru PAUD untuk mendorong pengembangan pembelajaran berkualitas tinggi adalah kompetensi profesional. Dengan menggunakan pendekatan studi tinjauan pustaka, penelitian ini berupaya untuk menyelidiki dan mengevaluasi bagaimana kompetensi profesional guru PAUD masa depan berkontribusi terhadap peningkatan standar pengajaran. Penelitian ini mengumpulkan dan meneliti berbagai literatur terkait, seperti Google Scholar, OpenKnwledge, Sage, dan ScienceDirect. Fokus pada literatur yang diterbitkan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir yaitu antara 2015 dan 2024. Penelitian ini akan dilakukan dalam tiga tahap, diawali dengan pencarian literatur dengan menggunakan kata kunci “kompetensi professional guru PAUD”, “kompetensi calon guru PAUD”, dan “pembelajaran PAUD berkualitas” melalui sumber literatur yang telah ditentukan, yang menghasilkan 50 artikel. Pada tahap kedua, peneliti akan menganalisis referensi yang terkumpul dan memilih 21 makalah yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemahiran dalam teknologi pendidikan, penerapan pendekatan pedagogis yang sesuai dengan perkembangan, dan penguasaan materi pembelajaran merupakan komponen kompetensi profesional calon guru PAUD. Selain itu, pelatihan profesional, pendidikan formal, dan pengalaman langsung di bidang tersebut dapat membantu meningkatkan kompetensi ini. Kesulitan yang dialami oleh calon guru PAUD, seperti keterbatasan akses terhadap sumber daya dan pelatihan, juga disorot dalam penelitian ini. Untuk menjamin bahwa kompetensi profesional mereka dapat memenuhi tuntutan pembelajaran yang efisien dan menyenangkan, penelitian ini menyarankan peningkatan program pendidikan dan pelatihan bagi calon guru PAUD
Optimalisasi Pojok Baca dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi Membaca Siswa Kelas Rendah: Optimization of Reading Corner in Improving Reading Literacy Ability of Low Grade Students
This study aims to reveal the extent to which the reading corner optimization program can improve the reading literacy skills of children aged 6-7 years at SDK Masu. Through the Classroom Action Research approach that lasted for four months, this study intensively observed changes in students' literacy skills before and after the program was implemented. The results of the study show that the optimization of the reading corner can improve the reading literacy ability of low-grade students at SDK Masu. This can be seen from the percentage of students who have low literacy skills of 31% before the optimization of the reading corner and increased to 60.5% or in the medium category after the optimization of the reading corner. These findings indicate that by creating a conducive and interesting reading environment through the reading corner, students' interest in reading can be triggered and their literacy skills can be developed optimally. This study concludes that empirical evidence regarding ef.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sejauh mana program optimalisasi pojok baca dapat meningkatkan kemampuan literasi membaca anak usia 6-7 tahun di SDK Masu. Melalui pendekatan Penelitian Tindakan Kelas yang berlangsung selama empat bulan, penelitian ini secara intensif mengamati perubahan kemampuan literasi siswa sebelum dan setelah program dilaksanakan. Hasil penelitian menunjukkan adanya optimalisasi pojok baca dapat meningkatkan kemampuan literasi membaca siswa kelas rendah di SDK Masu. Hal ini dapat dilihat dari persentase siswa yang memiliki kemampuan literasi rendah sebesar 31% sebelum adanya optimalisasi pojok baca dan meningkat menjadi 60,5% atau berada pada kategori sedang setelah optimalisasi pojok baca.Temuan ini mengindikasikan bahwa dengan menciptakan lingkungan membaca yang kondusif dan menarik melalui pojok baca, minat baca siswa dapat dipicu dan kemampuan literasi mereka dapat berkembang secara optimal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bukti empiris mengenai efektivitas program pojok baca dalam meningkatkan kualitas literasi anak usia dini dan berkontribusi pada pengembangan program literasi yang lebih komprehensif ke jenjang yang lebih tinggi
Hubungan Peran Orang Tua dengan Kemampuan Sosialisasi Anak Usia Prasekolah
Preschool children have the ability to move actively because their physical and motor development is getting better. During this period, significant biological, psychological, cognitive growth and development and socialization abilities occur. Socialization ability is a child's ability to adapt to the wider social world. One of the factors that influences the socialization abilities of preschool children is the role of parents. Meanwhile, the impact of the lack of parental role is that children become egoistic and individualistic. The purpose of this research to determine the relationship between the role of parents and the socialization abilities of preschool children. This research usesCorrelational analyticswith approachcross sectional. The population of this research was 128 respondents. The sample in this research was 97 respondents. Sampling techniquepropotionate random sampling, data collection tools using questionnaires. Test analysis using testskendall’s tau-b with p < α 0.05. The research results showed that the role of parents was in the good category as many as 66 people (68.0%). Most children's socialization abilities are in the sufficient category, namely 51 people (52.6%). Obtaining a p value = 0.000 < 0.05, it can be concluded that there is a relationship between the role of parents and the socialization abilities of preschool children. . The correlation coefficient value for socialization ability is 0.356, so it can be concluded that the relationship between the socialization ability variables is quite strong at a significance of 0.05, and the two variables have a positive relationship. There is a relationship between the role of parents and the socialization abilities of preschool children. It is hoped that parents can maintain stimulation, especially in the socialization aspect, to optimize children's socialization abilities.
ABSTRAK
Anak prasekolah mempunyai kemampuan untuk bergerak aktif karena perkembangan fisik – motoriknya sudah semakin baik. Pada masa ini, terjadi pertumbuhan dan perkembangan biologis, psikologis, kognitif, dan kemampuan sosialisasi yang begitu signifikan. Kemampuan sosialisasi merupakan kemampuan anak dalam beradaptasi dengan dunia sosial yang lebih luas. Salah satu faktor yang mempengaruhi kemampuan sosialisasi anak usia prasekolah adalah peran orang tua. Sementara itu, dampak dari kurangnya peran orang tua adalah anak-anak menjadi egoisme dan individualisme. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan peran orang tua dengan kemampuan sosialisasi anak usia prasekolah. Penelitian ini menggunakan Analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi peneltian ini adalah 128 responden. Sampel dalam peneltian ini 97 responden Teknik pengambilan sampel propotionate random sampling, alat pengumpulan data menggunakan kuesioner Uji analisis menggunakan uji kendall’s tau-b dengan p < α 0,05 Hasil penelitian menunjukkan peran orang tua dalam kategori baik sebanyak 66 orang (68,0%). Kemampuan sosialisasi anak paling banyak pada kategori cukup yaitu 51 orang (52,6%). Diperoleh nilai p value = 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara peran orang tua dengan kemampuan sosialisasi anak usia prasekolah. . Nilai koefisiensi korelasi kemampuan sosialisasi sebesar 0,356 maka dapat disimpulkan bahwa hubungan anatara variable kemampuan sosialisasi cukup kuat pada signifikansi 0,05, dan kedua variable memiliki hubungan yang positif. Ada hubungan peran orang tua dengan kemampuan sosialisasi anak usia prasekolah. Diharapkan orang tua dapat mempertahankan stimulasi terutama pada aspek sosialisasi untuk mengoptimalkan kemampuan sosialisasi anak
Gambaran Pemilihan Bahan dan Higienitas Pengolahan Makanan Balita di Posyandu Wonotingal Kecamatan Candisari Semarang
Nutritional problems in Indonesia occur due to various factors, such as food intake, environment including hygiene and sanitation, socio-economic, family characteristics, and the presence of infection. Children who have poor nutritional status are susceptible to infection, because children were lack of immunity. Conversely, children who suffer from infections do not have sufficient appetite, resulting in children being malnourished and falling into poor nutritional status. So, infection and nutritional status were correlated. Malnutrition in children is influenced by the level of knowledge, attitudes and behavior of mothers in choosing the right food ingredients. The practice of selecting ingredients and hygiene of food processing is closely related to the emergence of certain diseases or infections, so further research is needed. This descriptive study focused on the description of the selection of ingredients and processing of toddler food by mothers, which wass carried out using a research instrument in the form of a questionnaire. The results of the study of 20 respondents (mothers of toddlers) conducted at the Posyandu of Wonotingal Village regarding the practice of mothers in preparing food for children (toddlers) were classified as "Defficient" in terms of the aspect of selecting ingredients and hygiene aspects of food processing, namely with indicators of selecting types of spices and toddler snacks, as well as the implementation of Clean and Healthy Living Behavior.
ABSTRAK
Masalah gizi di Indonesia terjadi karena beragam faktor, seperti asupan makanan, lingkungan termasuk higiene dan sanitasi, sosial ekonomi, karakteristik keluarga, adanya infeksi. Anak yang mempunyai status gizi kurang mudah terkena infeksi, karena anak tidak mempunyai daya tahan tubuh yang cukup. Sebaliknya, anak yang menderita infeksi tidak mempunyai nafsu makan yang cukup, akibatnya anak kekurangan gizi dan jatuh pada status gizi kurang, sehingga keterkaitan infeksi dengan status gizi mempunyai hubungan timbal balik yang kuat. Kurangnya gizi pada anak dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku ibu dalam memilih bahan makanan yang benar. Praktik pemilihan bahan dan higienitas pengolahan bahan pangan erat kaitannya dengan munculnya penyakit atau infeksi tertentu, sehingga dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Penelitian deskriptif ini berfokus pada gambaran pemilihan bahan dan pengolahan bahan makanan balita oleh Ibu, yang dilakukan dengan instrumen penelitian berupa kuisioner. Hasil penelitian terhadap sejumlah 20 responden (ibu balita) yang dilaksanakan di Posyandu Kelurahan Wonotingal terkait praktik ibu dalam penyiapan makanan anak (balita) tergolong “Kurang Baik” ditinjau dari aspek pemilihan bahan dan aspek higienitas pengolahan pangan, yaitu dengan indikator pemilihan jenis bumbu dan makanan selingan balita, serta penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Efektivitas Model Problem Based Learning Berbantuan Komik terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas IV
Abstract
This research aims to test the effectiveness of the comic-assisted Problem Based Learning model on the critical thinking skills of grade IV students of SD Negeri Bandungan 01. The research carried out was quantitative using a quasi-experimental method, in the form of a one-group pretest–posttest design. Data collection techniques to measure the learning outcomes of students' critical thinking skills with assessments in the form of pretest and posttest. The research sample was 28 students in grade IV A SD Negeri Bandungan 01. The results of the study showed that there was an increase in student learning outcomes as evidenced by the comparison of pretest and posttest results, the posttest score was much higher with an average of 64.57 compared to the pretest score with an average of 39.57. So it can be concluded that the comic-assisted Problem Based Learning model is effective on the critical thinking skills of grade IV students of SD Negeri Bandungan 01. Based on the results of this study, suggestions can be given so that teachers can implement the comic-assisted Problem Based Learning model to create effective and fun learning for students.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan model Problem Based Learning berbantuan komik terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV SD Negeri Bandungan 01. Penelitian yang dilaksanakan berjenis kuantitatif menggunakan metode quasi eksperimen, dengan bentuk desain one-group pretest–posttest design. Teknik pengumpulan data untuk mengukur hasil belajar kemampuan berpikir kritis siswa dengan penilaian berupa pretest dan posttest. Sampel penelitian adalah siswa kelas IV A SD Negeri Bandungan 01 sebanyak 28 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar siswa dibuktikan dengan perbandingan hasil pretest dan posttest, nilai posttest jauh lebih tinggi dengan rata-rata 64,57 dibandingkan nilai pretest dengan rata-rata 39,57. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa model Problem Based Learning berbantuan komik efektif terhadap kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV SD Negeri Bandungan 01. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat diberikan saran agar guru bisa mengimplementasikan model Problem Based Learning berbantuan komik agar tercipta pembelajaran efektif serta menyenangkan untuk siswa
Pemanfaatan Botol Kaca sebagai Alat Bantu Pengembangan Keterampilan Membidik Notasi Angka
Abstract
This study aims to improve the skills of grade VI students in targeting number notation using glass bottles as a music learning aid. The background of this study is based on the low ability of grade VI students of UPTD SDI Malamude in reading number notation, where during the implementation of the initial learning test in targeting number notation, there Were 4 students who had poor criteria, and 13 students were still in the poor criteria. This is due to the lack of special assistance in targeting good number notation caused by the teacher's limited experience in teaching music arts and the lack of effective learning media. The research method used is Classroom Action Research (CAR) through 4 main stages, namely planning, action, observation, and reflection. Data was taken through observasion and tests of the ability to target number notation before and after the use of glass bottles. The results of the study obtained before the intervention showed that the majority of students had low ability to target number notation, with most students in the poor and poor categories. After the implementation of glass bottle-based learning, there was a significant increase, with many students reaching the fairly good to very good categories. The use of glass bottles has been shown to help students understand the high and low notes more concretely, while increasing their creativity and interaction in music learning.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan siswa kelas VI dalam membidik notasi angka menggunakan media botol kaca sebagai alat bantu pembelajaran musik. Latar belakang penelitian ini berangkat dari rendahnya kemampuan siswa kelas IV UPTD SDI Malamude dalam membaca notasi angka, dimana pada saat pelaksanaan tes awal pembelajaran dalam membidik notasi angka, terdapat 4 siswa yang memiliki kriteria kurang baik, dan 13 siswa masih berada pada kriteria tidak baik. Hal ini dikarenakan kurangnya pendamping khusus dalam membidik notasi angka baik yang disebabkan oleh keterbatasan pengalaman guru dalam mengajarkan seni musik serta kurangnya media pembelajaran yang efektif. Metode Penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) melalui 4 tahapan utama yaitu perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Data diambil melalui observasi dan tes kemampuan membidik notasi angka sebelum dan sesudah penggunaan media botol kaca. Hasil penelitian yang diperoleh sebelum intervensi, menunjukkan mayoritas siswa memiliki kemampuan membidik notasi angka yang rendah, dengan sebagian besar siswa berada pada kategori tidak baik dan kurang baik. Setelah penerapan pembelajaran berbasis botol kaca, terjadi peningkatan signifikan, dengan banyak siswa mencapai kategori cukup baik hingga sangat baik. Penggunaan botol kaca terbukti membantu siswa dalam memahami tinggi rendahnya nada secara lebih konkret, sekaligus meningkatkan kreativitas dan interaksi mereka dalam pembelajaran musik
Skrining Risiko Kehamilan dengan Kartu Skoring Poedji Rochjati: Pregnancy Risk Screening Based on Poedji Rochjati Scoring Card
The Poedji Rochjati scoring card is used to carry out early detection of risks in pregnant women. By knowing the category of light-risk pregnancy (KRR), high-risk pregnancy (KRT) or very high-risk pregnancy (KRST), it is able to prevent one of the causes of maternal death, such as delay in making a referral to a complete facility due to an emergency that is late in knowing during pregnancy. The purpose of this study is to determine the risk of pregnancy based on the Poedji Rochjati scoring card. The research methods used are quantitative with a descriptive analytical approach. The population in this study were 159 pregnant-women who came for a pregnancy check-up at the Puskesmas Abadi Jaya in the period August-December 2024, the sample used total sampling. The results showed that 79.2% of pregnant women were in a healthy reproductive age (20-35 years), more than 50% of pregnant women had multigravida pregnancy status with a pregnancy interval of more than 2 years and there were 91 (57,2%) pregnant women who were detected to have high-risk pregnancy (KRT) and very high-risk pregnancy (KRST).
Abstrak
Kartu skoring Poedji Rochjati digunakan untuk melakukan deteksi dini risiko pada ibu hamil. Dengan mengetahui kategori kehamilan berisiko ringan (KRR), kehamilan risiko tinggi (KRT) atau kehamilan risiko sangat tinggi (KRST) mampu mencegah salah satu penyebab kematian ibu seperti keterlambatan melakukan rujukan ke fasilitas lengkap akibat kegawatdaruratan yang terlambat diketahui selama masa kehamilan. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui risiko kehamilan menggunakan skoring Poedji Rochjati. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analitik. Populasi sebanyak 159 orang ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Abadijaya periode Agustus-Desember 2024, sampel yang digunakan adalah total sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa 79,2% ibu hamil berada dalam usia reproduksi sehat (20-35 tahun), lebih dari 50% ibu hamil memiliki status kehamilan multigravida dengan jarak kehamilan lebih dari 2 tahun dan terdapat 91 (57,2%) orang ibu hamil yang terdeteksi memiliki kehamilan risiko tinggi (KRT) dan kehamilan risiko sangat tinggi (KRST)
Korelasi Antara Pengetahuan dan Tindakan Pencarian Perawatan Gangguan Menstruasi pada Remaja Putri di Kabupaten Semarang: Correlation between Knowledge and Actions to Seek Treatment for Menstrual Disorders among Adolescent Girls in Semarang Regency
Menstruation is a physiological process experienced by adolescent girls, but common menstrual disorders often occur in adolescence, menstrual disorders such as dysmenorrhea and irregular cycles are common. These disorders can interfere with daily activities and quality of life. In Semarang Regency, the average age of menarche was reported to be 11.4 years. These menstrual disorders are often ignored, resulting in negative impacts on health. This study aimed to analyze the relationship between knowledge level and treatment-seeking actions for menstrual disorders among adolescent girls in Semarang Regency. This study used a cross-sectional design with an analytic observational approach. This study used a cross-sectional design with an analytic observational approach. A sample of 30 adolescent girls in Semarang Regency was selected using a total sampling technique, which met the criteria of already having menstruation and experiencing menstrual disorders. Data collection used a closed questionnaire that measured the level of knowledge (good/lack) and the type of care-seeking action (independent non-medical/medical self). Data were analyzed univariately for frequency distribution and bivariately using the Chi-Square test with a significance level of α=0.05. The results showed 77% of respondents had good knowledge and 67% performed non-medical self-care. There was a significant relationship between knowledge level and care-seeking behavior (p=0.011). Conclusion: Adolescents with good knowledge tend to choose more appropriate treatment actions.Reproductive health education, especially in better care-seeking behavior among adolescent girls, needs to be improved through school and family approaches.
Abstrak
Menstruasi merupakan proses fisiologis yang dialami remaja putri, namun gangguan menstruasi yang umum terjadi seringkali pada usia remaja, gangguan menstruasi seperti dismenore dan siklus tidak teratur banyak terjadi. Gangguan ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan kualitas hidup. Di Kabupaten Semarang, usia rata-rata menarche dilaporkan 11,4 tahun. Gangguan menstruasi ini seringkali diabaikan sehingga berdampak negatif pada kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dan tindakan pencarian perawatan gangguan menstruasi pada remaja putri di Kabupaten Semarang. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan observasional analitik. Sampel sebanyak 30 remaja putri di Kabupaten Semarang dipilih dengan teknik total sampling, yang memenuhi kriteria sudah mengalami menstruasi dan mengalami gangguan menstruasi.Pengumpulan data menggunakan kuesioner tertutup yang mengukur tingkat pengetahuan (baik/kurang) dan jenis tindakan pencarian perawatan (mandiri nonmedis/mandiri medis). Data dianalisis secara univariat untuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α=0,05. Hasil penelitian menunjukkan 77% responden memiliki pengetahuan baik dan 67% melakukan perawatan mandiri nonmedis. Terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dan tindakan pencarian perawatan (p=0,011). Kesimpulan: Remaja dengan pengetahuan baik cenderung memilih tindakan perawatan yang lebih tepat. Edukasi kesehatan reproduksi khususnya dalam perilaku pencarian perawatan yang lebih baik di kalangan remaja putri perlu terus ditingkatkan melalui pendekatan sekolah maupun keluarga
Identifikasi Pola Konsumsi Remaja Putri NonAnemia di Kota Padang: Identification of Consumption Patterns of Non-Anemic Adolescent Girls in Padang City
Adolescent girls are at risk of anemia. This study aims to identify the eating patterns of non-anemic adolescent girls. This analytical survey study employed a cross-sectional approach. Samples were selected using a purposive sampling technique and included adolescent girls who met the inclusion criteria. Hemoglobin levels were measured using a digital hemoglobin meter, and eating patterns were assessed using the Food Frequency Questionnaire (FFQ). The results indicate that the majority of 57 teenage girls (67.9%) consumed a higher energy intake. The mean protein intake for adolescent girls was 74.99 grams, while the mean protein requirement is 65 grams. Approximately 72.6% of respondents consumed above the required protein intake, while 27.4% met the requirements adequately. Most adolescents met their energy and macronutrient needs, including protein and carbohydrates, and consumed sufficient vitamin C. Based on the study results, respondents generally had adequate macronutrient intake. However, intake of some micronutrients did not meet the required levels. The study showed that adolescents with normal hemoglobin levels had sufficient protein and vitamin C intake.
Abstrak
Remaja putri berisiko mengalami anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola makan remaja putri yang tidak anemia. Penelitian survei analitis ini menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling dan mencakup remaja putri yang memenuhi kriteria inklusi. Kadar hemoglobin diukur menggunakan meteran hemoglobin digital, dan pola makan dinilai menggunakan Food Frequency Questionnaire (FFQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas dari 57 remaja putri (67,9%) mengonsumsi asupan energi yang lebih tinggi. Asupan protein rata-rata untuk remaja putri adalah 74,99 gram, sedangkan kebutuhan protein rata-rata adalah 65 gram. Sekitar 72,6% responden mengonsumsi lebih dari asupan protein yang dibutuhkan, sementara 27,4% memenuhi kebutuhan secara memadai. Sebagian besar remaja memenuhi kebutuhan energi dan makronutrien mereka, termasuk protein dan karbohidrat, dan mengonsumsi vitamin C yang cukup.Berdasarkan hasil penelitian, responden secara umum memiliki asupan makronutrien yang cukup. Namun, asupan beberapa mikronutrien tidak memenuhi kadar yang dibutuhkan. Penelitian menunjukkan bahwa remaja dengan kadar hemoglobin normal memiliki asupan protein dan vitamin C yang cukup