68 research outputs found
Al-Mu'assasat al-Mu'niyah bi Ta'lim al-Lughah al-Arabiyah Fi Indunisiya
Indonesia tertarik pada masalah pendidikan karena berkaitan dengan negara lain dan prihatin dengan itu, tetapi telah mengambil karakter sendiri dan hampir duplikat sehingga berubah menjadi murni sekuler dan murni agama, sebagai akibat dari efek pendudukan Barat bahwa negara-negara barat tidak menduduki negara-negara timur kecuali dan meninggalkan efek buruk, yang paling penting adalah pemisahan agama. tentang hidup. Dari sini, Indonesia mengambil sistem pendidikan berdasarkan pada mereka (sekuler dan religius), dan ini terbukti melalui dua istilah untuk lembaga pendidikan dan pendidikan, baik pemerintah atau swasta, dan sebagai pemimpin Muslim dan tokoh cenderung mengambil sistem lain dalam pendidikan dan pendidikan seperti ligamen yang dikenal sebagai "Basantrin". Hal ini menghasilkan keberadaan badan-badan yang mengawasi hal-hal pendidikan yang tergantung pada dua sistem yang disebutkan di atas. Entitas ini mungkin pemerintah dan mungkin swasta. Badan pemerintah yang mengawasi proses pendidikan secara teknis, finansial dan metodis adalah: Kementerian Agama. Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Pendidikan Tinggi dan Penelitian Ilmiah. Lembaga ini dimulai dengan pelopor pertama dari Panggilan Islam di Indonesia. Lembaga ini mengandalkan al-Kayahi, yaitu syekh lembaga yang ia dirikan untuk mencari wajah Tuhan. Sebagian besar penatua institut tidak menerima biaya afiliasi atau biaya kuliah dan mendapat keuntungan dari pertanian, peternakan unggas atau perdagangan, dan ia tinggal di dalam institut dan perilakunya adalah contoh yang baik bagi para siswa
Dalil mu'assasat al lughat al Arabiyyah fi Indonesia
Tulisan ini merupakan "Indeks Lembaga Pendidikan untuk Bahasa Arab di Indonesia" yang diadakan
Mulai Agustus hingga November 2014 di Jawa Timur. Program ini
memiliki tujuan, yaitu, untuk menyiapkan database dan bank data tentang lembaga pendidikan
yang berspesialisasi dalam pengajaran bahasa Arab di Indonesia dan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan
dalam mengajar bahasa Arab dan belajar tentang keberhasilan mengembangkan kompetensi guru bahasa Arab di Indonesia, dan juga untuk belajar tentang pekerjaan yang dilakukan oleh lembaga pendidikan untuk bahasa Arab di Indonesia. Pada kesempatan ini, kuesioner dibagikan kepada lebih dari 100 universitas dan institut
yang mempelajari bahasa Arab. Kuesioner mencakup pertanyaan yang berkaitan dengan pernyataan umum tentang
Tanggal pendirian lembaga, nama-nama pendiri dan presiden saat ini selain beberapa
Informasi tentang situs web institusi, berdasarkan alamat dan online. Serta informasi umum tentang
Visi, misi dan tujuan yang ingin dicapai organisasi. Tujuan dan pesan
Kompetensi yang diberikan lembaga kepada siswa dan kuesioner menunjukkan informasi tentang kurikulum pendidikan dan staf pengajarnya. Kuisioner diakhiri dengan
Informasi tentang jumlah siswa menurut tahun masukny
Al-Ta 'bīrāt al-Siyāqiyah wa al-‘iṣṭlāḥiyah wa ḥājatuhā ‘ila mua’jimu ‘arabī lahā li ta’līmihā li ghairi al-‘arabiyah
This article discusses one of Arabic learning problems related to Contextual Expressions (Al-Ta'bīr al-Siyāqī) and Idiomatic Expression (At-Ta'bīr al-Isṭilāhī). These linguistic problems become one of Arabic learning obstacles as someone who learns Arabic-as so learning other foreign languages--will face the expressions whose meanings are different from the original meanings (lexical meanings). This obstacle is hardened by the fact that it is hard to find a dictionary which contains this kind of expressions. In this article, the writer discusses firstly about what do those expressions mean, the characters of each expression, the differentiation between the two expressions, and common overlapping of the expressions. Besides, the writer also investigates and evaluates how far the classical and contemporary Arabic dictionaries contain those expressions. In this discussion, the writer focuses on Contextual Expressions, their meanings, the aims of composing the expressions as well as the growth and development of the expressions in Arabic and other languages. From this investigation, it is found that the concern of classical dictionary writers in explaining the above expressions was great. This is different from contemporary dictionary writers who have a little concern to this. It is also hard to find a specific contemporary dictionary which contains the expressions. Therefore, the writer suggests Arabic linguists to write this kind of dictionary. [Tulisan ini menyoroti tentang salah satu problem pembelajaran bahasa Arab yang berkaitan dengan Al-Ta'bīir al-Siyāqī (Contextual Expression) dan Al-ta'bīr al-isṭilaḥi (idiomatic Expression). Kedua masalah kebahasaan tersebut menjadi salah satu kendala belajar bahasa Arab, karena seseorang yang belajar bahasa Arab --sebagaimana belajar bahasa yang lain-- akan dihadapkan pada ungkapan-ungkapan yang mempunyai arti yang berbeda dari arti asal suatu kata (arti lexical). Kesulitan tersebut menjadi semakin terasa ketika ternyata belum tersedia atau sangat langkanya kamus yang secara spesifik memuat kedua jenis ungkapan tersebut. Dalam artikel ini, penulis, pertama, mendiskripsikan tentang apa yang dimaksud dengan kedua ungkapan tersebut diatas, karakter masing-masing, perbedaan antara keduanya dan sering tumpang tindihnya kedua istilah tersebut. Disamping itu, penulis juga melakukan pelacakan dan penelusuran terhadap kamus bahasa Arab pada masa klasik dan kontemporer tentang sejauhmana perhatian mereka dalam mengungkap makna kedua ta'bir tersebut dengan mengambil beberapa sampel. Disini penulis memberikan penekanan secara khusus terhadap ungkapan kontektual (Al-ta'bīr al-siyāqī); pengertiannya, tujuan penyusunannya, awal kemunculan dan perkembangannya, baik dalam bahasa Arab maupun bahasa yang lain. Dari kajian ini terungkap betapa perhatian para penyusun kamus dimasa klasik cukup besar di dalam mengungkap kedua ungkapan di atas. Hanya saja para penyusun kamus kontemporer belum memberikan perhatian yang sama seperti pada masa klasik padahal kedua ungkapan tersebut terus berkembang. Apalagi kalau berkaitan dengan kamus yang secara spesifik memuat kedua ungkapan tersebut dan diperuntukkan sebagai pendukung pengajaran kedua ungkapan tersebut, maka ternyata sangat langka, kalau tidak bisa dikatakan tidak ada. Karena itu penulis sangat mengaharapkan adanya penyusunan kamus semacam ini
Keikhlasan di Balik Ramadan dan Covid-19
KATA ikhlas merupakan salah
satu kata serapan bahasa
Indonesia yang berasal dari bahasa
Arab. Dalam kajian semantic
dan sosiolinguistik, kata
ikhlas termasuk yang mengalami
pergeseran makna dari
kata asalnya dalam bahasa
Arab. Dalam kamus besar bahasa
Indonesia, kata ikhlas
mempunyai arti bersih hati; tulus
hati. Ketika dalam bentuk aktif menjadi kata
mengikhlaskan mempunyai arti memberikan
atau menyerahkan dengan tulus hati dan
merelakan. Sementara ketika dalam bentuk
kata keikhlasan mempunyai arti ketulusan hati;
kejujuran dan kerelaan.
Secara terminologi, kata ikhlas dalam bahasa
Arab berarti bersih dan jernih. Hal ini
tergambar dalam firman Allah dalam surat an-
Nahl ayat 66 "labanan khalisan, susu yang
bersih dan jernih. Sedang dalam ajaran Islam
arti ikhlas adalah ketika seseorang beramal semata-
mata hanya karena Allah, bersih dari kepentingan
duniawi, tidak terkontaminasi sedikitpun
dengan kepentingan pribadi. Keikhlasan
seperti ini adalah buah dari kesempurnaan
tauhid yang berarti mengesakan Allah dalam
setiap beribadah.
Kontra dari ikhlas adalah riyaa', yaitu beramal
dengan tujuan untuk mendapatkan pengakuan
orang lain di mana hal ini termasuk dalam kategori
perbuatan syirik (menyekutukan Tuhan),
sebagaimana dikatakan oleh sahabat Syadad
bin Aus bahwa kami pada zaman Rasulullah
SAW menganggap bahwa riyaa' adalah syirik
kecil, yang dampaknya menghilangkan semua
pahala dari suatu ibadah tersebut.
Di antara tanda keikhlasan seseorang dalam
beramal adalah lebih senang beramal secara
diam-diam daripada beramal dengan
hiruk-pikuk publikasi dan gegap gempitanya
popularitas. Puasa Ramadan yang dilakukan
selama satu bulan merupakan sarana yang
disediakan Allah untuk meraih derajat ikhlas
yang paling efektif, karena puasa seseorang
hakekatnya tidak ada yang tahu kecuali Allah
dan dirinya dan karena karakteristik puasa
yang demikianlah ibadah puasa mempunyai
posisi yang istimewa di hadapan Allah SWT dibanding
dengan amal yang lainnya.
Jika pahala amal kebaikan pada umumnya
berlipat sepuluh sampai tujuh ratus lipatan, maka
pahala puasa unlimited tanpa
batas sebagaimana disebutkan
dalam hadits qudsi bahwa:
ÓPuasa itu untukKU dan AKU
yang akan membalasnyaÓ.
Dalam suasana pandemic
Covid-19 di mana beberapa ibadah
di bulan Ramadan yang dalam
kondisi normal biasanya dilakukan
bersama-sama di jid
seperti salat tarawih, buka puasa
bersama, tadarus Alquran, saat ini tidak bisa dilakukan.
Sebenarnya ini juga peluang untuk
memperkuat keikhlasan dalam beribadah.
Pembatasan sementara ibadah bersamasama
di masjid seharusnya tidak mengurangi
semangat ibadah dengan tetap melakukannya
di rumah masing-masing, bahkan mempunyai
nilai tambah dengan menguatkan kekokohan
keluarga dalam beribadah bersama yang selama
ini mungkin jarang dilakukan, maka orang
Islam sebenarnya sedang diberi peluang besar
melebihi peluang pada Ramadan-Ramadan
sebelumnya dalam meraih ketakwaan yang
intinya pada keikhlasan.
Akan tetapi jika hanya karena terhalang sementara
melakukan ibadah bersama-sama di
masjid mengendorkan melaksanakannya di rumah
masing-masing dan tidak memanfaatkannya
untuk memperkokoh ketahanan keluarga,
maka peluang emas ini menjadi sia-sia, tidak
jauh berbeda dengan sebagian masyarakat
muslim yang semangat beribadah di masjid
ketika dalam kondisi normal hanya beberapa
hari di awal Ramadan atau semangat beribadah
sepanjang bulan Ramadan. Begitu Ramadan
berlalu, berlalu pula kegiatan beribadah.
Dengan demikian Ramadan dalam pandemi
Covid-19 hakekatnya peluang terbaik untuk
mendapatkan ketinggian keikhlasan seseorang
dalam beribadah bukan sebaliknya.
Bangsa ini telah berhutang budi dengan
para pahlawan yang dalam berjuang penuh
keikhlasan, hanya mengharap pahala dari
Allah , maka saat ini bangsa ini sangat membutuhkan
model manusia yang juga selalu
berjuang dengan keikhlasan yang tinggi juga
hanya mengharap pahala dari Allah lulusan
madrasah Ramadan. Semoga. Amien. (*)-f
Dr Tulus Musthofa Lc MA
Ketua MUI DIY Bidang Dakwah, SDM,
Budaya dan Seni, Dosen UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta
STRATEGI KOMUNIKASI DALAM AKTIVITAS DAKWAH (STUDI KASUS MAJELIS SYUBBANUL MUSTHOFA SUKARAME BANDAR LAMPUNG)
ABSTRAK
Komunikasi merupakan hal yang sangat penting bagi
kelancaran suatu lembaga, kelancaran suatu lembaga tanpa adanya
komunikasi maka lembaga tidak akan berjalan. Komunikasi penting
bagi Majelis Syubbanul Musthofa karena komunikasi membuat
program Majelis Syubbanul Musthofa dikenal oleh masyarakat. Selain
itu Majelis Syubbanul Musthofa yang merupakan bagian dari
organisasi masyarakat yang menjalankan perintah Allah untuk
mengajak umat Nabi Muhammad agar dapat meningkatkan diri dalam
memahami, dan mengamalkan ajaran Islam yang benar menurut
syari’at Islam. Oleh karena itu sekarang ini banyak masyarakat yang
belum mengenal lebih siapa itu sosok Nabi Muhammad dan di majelis
inilah masyarakat dikenalkan kepribadian Rasulullah sehingga dapat
melahirkan kecintaan masyarakat kepada Rasulullah.
Keberhasilan sebuah organisasi dalam berdakwah sangat
ditentukan oleh strategi yang digunakan. Maka rumusan dari latar
belakang masalah adalah: Bagaimana tahapan strategi komunikasi
dalam aktivitas dakwah Majelis Syubbanul Musthofa di Sukarame
Bandar Lampung? Faktor apasaja yang menjadi pedukung dan
penghambat dakwah Majelis Syubbanul Musthofa?
Dalam penelitian skripsi ini, penulis menggunakan metode
penelitian kualitatif deskriptif, yaitu dengan cara memahami fenomena
tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya prilaku,
persepsi, motivasi, dan tindakan. Metode penelitian deskriptif
merupakan proses pencarian fakta, gambaran atau lukisan secara
sistematis, faktual, dan akurat mengenai sifat-sifat serta hubungan
antara fenomena yang diteliti. Sedangkan tekhnik pengumpulan
datanya menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Hasil temuan pada skripsi ini adalah: Strategi komunikasi
dalam aktivitas dakwah Majelis Syubbanul Musthofa di Sukarame
Bandar Lampung dengan Strategi komunikasi dalam aktivitas dakwah
Majelis Syubbanul Musthofa dimulai dari perumusan strategi,
implementasi strategi, dan evaluasi strategi, Faktor pendukung
dakwah Majelis Syubbanul Musthofa yaitu, memiliki pemimpin yang
kharismatik, banyaknya donasi dari para jama’ah, Loyalitas dan
komitmen pengurus dan anggota untuk menjaga, membangun, dan
melestarikan Majelis Syubbanul Mustofa, Kefanatikan para jama’ah
terhadap Majelis Rasulullah dan Banyaknya Infokus disetiap
pengadaan acara. Serta Faktor Penghambat dakwah Majelis
Syubbanul Mustofa antara lain, Kesibukkan anggota Majelis
iii
Syubbanul Musthofa, Kurangnya Kepercayaan Orang Tua dan secara
keuangan tidak didukung oleh pemerintah.
Kata Kunci : Strategi Komunikasi Dan Aktivitas Dakwah
iv
ABSTRAK
Communication is very important for the smooth running of
an institution, the smooth running of an institution without
communication, the institution will not run. Communication is
important for the Syubbanul Musthofa Assembly because
communication makes the Syubbanul Musthofa Assembly program
known to the public. In addition, the Syubbanul Musthofa Assembly
which is part of a community organization that carries out Allah's
commands to invite the people of the Prophet Muhammad to improve
themselves in understanding and practicing the true teachings of Islam
according to Islamic law. Therefore, nowadays many people do not
know more about who the figure of the Prophet Muhammad is and in
this assembly the community is introduced to the personality of the
Prophet so that it can give birth to people's love for the Prophet.
The success of an organization in preaching is largely
determined by the strategy used. So the formulation of the background
of the problem is: What are the stages of the communication strategy
in the da'wah activity of the Syubbanul Musthofa Assembly in
Sukarame, Bandar Lampung? What are the factors that support and
hinder the da'wah of the Syubbanul Musthof
In this thesis research, the author uses descriptive
qualitative research methods, namely by understanding the
phenomena about what is experienced by the research subjects such as
behavior, perception, motivation, and action. Descriptive research
method is a systematic, factual, and accurate fact-finding process,
picture or painting regarding the properties and relationships between
the phenomena studied. While the data collection techniques using
observation, interviews, and documentation.
The findings in this thesis are: The communication strategy
in the da'wah activity of the Syubbanul Musthofa Assembly in
Sukarame Bandar Lampung with the communication strategy in the
da'wah activity of the Syubbanul Musthofa Assembly starting from
strategy formulation, strategy implementation, and strategy
evaluation. the charismatic, the many donations from the
congregation, the loyalty and commitment of the management and
members to maintain, build, and preserve the Syubbanul Mustofa
Assembly, the fanaticism of the congregation towards the Prophet's
Assembly and the number of Infocus in every event procurement. As
well as the factors that hinder the da'wah of the Syubbanul Mustofa
Assembly, among others, the busyness of the members of the
v
Syubbanul Musthofa Assembly, the lack of parental trust and
financially not supported by the government.
Keywords: Communication Strategy and Da'wah Activitie
PERILAKU PENGGUNA TIKTOK DALAM INTERAKSI LAWAN JENIS PERSPEKTIF AL-QURAN (KAJIAN QS. AL-AHZAB AYAT 32, 33, DAN 59)
Negative characters have been displayed by the Indonesian people under the pretext of being right to do including Muslim women who began to show their expertise in swaying to the audience through the Tik Tok application, this is certainly far from the Muslimah character contained in the Qur'an, especially QS. AL-Ahzab verses 32, 33, and 59. So as to invite the creation of interaction of the opposite sex that should not be. This research is a literature study or library research conducted through review and analysis of data relevant to books, e-books, journals, and other literature as data sources. The results of the study are that the use of Tik Tok applications without purpose and just follow the trend so that it always looks current has a less good and detrimental impact. The impact of the dance causes Muslimah aurat to be seen easily, especially curves, encrusted, to invite slander that can harm themselves. While men must always keep their views in order to analyze the emergence of interactions that should not be done between the opposite sex. To stay away from these things as Muslims need to understand the values contained in the teachings of Islam
Reading Skills Learning in the "Arabic-Online.net" Application by Saudi Electronic University Based on the Common European Framework of Reference for Languages (CEFR)
This research focuses on analyzing learning qira’ah (reading) skill in the Arabic-Online.net program within the learning assessment evaluation framework, especially the Common European Framework of Reference for Languages (CEFR) as one of the international standards in foreign language learning. This research is a qualitative research, which the primary data in this research is reading text in qira'ah material from the all 16 levels in Arabic-Online.net. In the analysis, the researchers focused on the reading texts provided at each level in the program through CEFR framework. Data analysis in this research used data reduction, data presentation, and drawing conclusions based on Miles and Huberman’s method. The research findings indicate that the reading skills instruction in the "Arabic-Online.net" application offers a diverse range of instructional materials. These materials are designed to help participants comprehensively master reading skills. The content, vocabulary, and exercises within this program align with the CEFR standards. This is demonstrated not only in the selection of themes with higher levels of difficulty but also through the inclusion of more complex questions and exercises. The chosen themes are systematically organized, starting from topics closely related to the participants' experiences progressing to subjects further removed from daily life, such as transportation, administration, and legal issues. These diverse themes not only require a strong language proficiency with a command of vocabulary related to the themes but also demand critical and exploratory thinking from learners to grasp the discourse and main points of the reading materials
The Phenomenon of Bullying in Schools during the COVID-19 Pandemic: A Quranic Perspective
Bullying is still common in the education sector, especially in online learning during the COVID-19 pandemic. Bullying between students in online learning occurs verbally through social media. In contrast, in offline learning, bullying is carried out as evasion and exclusion in the school environment, such as canteens, toilets, classrooms, and parking lots. This study aims to discuss bullying in schools from the perspective of the Qurán. This study uses a qualitative method, with the type of library research, the historical approach, and the descriptive approach used. Bullying from the perspective of the Qur'an can be seen from the prohibition of bullying behavior in surah Al-Hujurat verse 13 and surah Yusuf verses 8-10. Meanwhile, solutions for victims and bullying behavior can be seen in the Al-Qur'an surah Al-Luqman verses 13-19, At-Thaha verses 132, and Ash-Shura verses 39-43
- …
