9 research outputs found

    Profil Pemecahan Masalah Matematika Berdasarkan Gaya Belajar Siswa Kelas VIII SMP Negeri 16 Makassar

    No full text
    ABSTRAK Penelitian bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan profil pemecahan masalah matematika siswa bergaya belajar divergen, (2) mendeskripsikan profil pemecahan masalah matematika siswa bergaya belajar asimilatif, (3) mendeskripsikan profil pemecahan masalah matematika siswa bergaya belajar konvergen, (4) mendeskripsikan profil pemecahan masalah matematika siswa bergaya belajar akomodatif. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif bersifat kualitatif. Subjek penelitian ini terdiri dari 4 orang siswa yang masing-masing mewakili gaya belajar. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai instrumen utama dan instrumen pendukung berupa tes gaya belajar, tes pemecahan masalah matematika dan pedoman wawancara. Analisis data yang digunakan meliputi menelaah data, mengkode data, mereduksi data, menyajikan data, memeriksa keabsahan data, menganalisis pemecahan masalah matematika, menganalisis temuan, dan menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Subjek divergen menggunakan keempat fase pemecahan masalah yang diungkapkan oleh Polya dalam memecahkan masalah, yaitu(a) Fase memahami masalah, subjek mampu mengutarakan apa yang diketahui dan yang ditanyakan dalam soal berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang dialami subjek. (b) Fase menyusun rencana, subjek mampu menyusun rencana dengan mengingat masalah lain yang telah berhasil diselesaikan sebelumnya yang mirip dengan masalah yang diberikan dengan merencanakan menggunakan metode eliminasi. (c) Fase melaksanakan rencana, subjek tidak konsisten dengan rencana yang telah disusun sebelumnya dengan metode campuran tetapi hanya menggunakan metode eliminasi. Adapun jawaban yang diperoleh dari metode yang digunakan sesuai dengan kunci jawaban tetapi langkah-langkah yang digunakan dalam penyelesaian soal tidak sesuai dengan rumus SPLDV. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengalaman subjek dalam menyelesaikan soal-soal SPLDV. (d) Fase memeriksa kembali, subjek memeriksa kembali jawabannya setelah menyelesaikan soal dan yakin dengan jawaban yang diperolehnya berdasarkan pengalaman dan pengamatan yang pernah ia peroleh. (2) Subjek asimilatif menggunakan keempat fase pemecahan masalah yang diungkapkan oleh Polya dalam memecahkan masalah, yaitu(a) Fase memahami masalah, subjek mampu mengutarakan apa yang diketahui dan yang ditanyakan dalam soal berdasarkan pengamatan yang dilakukan. (b) Fase menyusun rencana, subjek mampu menyusun rencana dengan mengingat masalah lain yang telah berhasil diselesaikan sebelumnya yang mirip dengan masalah yang diberikan dengan merencanakan untuk menggunakan metode campuran. (c) Fase melaksanakan rencana, subjek tidak konsisten dengan rencana yang telah disusun sebelumnya dengan metode campuran tetapi hanya menggunakan metode eliminasi. Adapun jawaban yang diperoleh dari metode yang digunakan sesuai dengan kunci jawaban tetapi langkah-langkah yang digunakan dalam penyelesaian soal tidak sesuai dengan rumus SPLDV. Hal ini disebabkan karena kurangnya pengalaman subjek dalam menyelesaikan soal-soal SPLDV. (d) Fase memeriksa kembali, subjek memeriksa kembali jawabannya setelah menyelesaikan soal dan yakin dengan jawaban yang diperolehnya berdasarkan pengamatan dan logika yang dilakukan. (3) Subjek konvergen menggunakan keempat fase pemecahan masalah yang diungkapkan oleh Polya dalam memecahkan masalah, yaitu(a) Fase memahami masalah, subjek mampu mengutarakan apa yang diketahui dan yang ditanyakan dalam soal berdasarkan penalaran dan eksperimen yang dilakukan. (b) Fase menyusun rencana, subjek mampu menyusun rencana dengan mengingat masalah lain yang telah berhasil diselesaikan sebelumnya yang mirip dengan masalah yang diberikan dengan merencanakan untuk menggunakan metode eliminasi. (c) Fase melaksanakan rencana, subjek konsisten dengan rencana yang telah disusun sebelumnya. Hal ini terlihat dari hasil pekerjaan subjek yang hanya menggunakan metode eliminasi untuk mendapatkan penyelesaian dari masalah yang diberikan berdasarkan penggunaan logika serta melakukan eksperimen secara langsung. (d) Fase memeriksa kembali, subjek memeriksa kembali jawabannya setelah menyelesaikan soal dan yakin dengan jawaban yang diperolehnya berdasarkan logika dan eksperimen yang dilakukan. (4) Subjek akomodatif menggunakan keempat fase pemecahan masalah yang diungkapkan oleh Polya dalam memecahkan masalah, yaitu (a) Fase memahami masalah, subjek mampu mengutarakan apa yang diketahui dan yang ditanyakan dalam soal berdasarkan hasil pengamatan dan kemampuan belajar subjek. (b) Fase menyusun rencana, subjek mampu menyusun rencana dengan mengingat masalah lain yang telah berhasil diselesaikan sebelumnya yang mirip dengan masalah yang diberikan dengan merencanakan untuk menggunakan metode eliminasi. (c) Fase melaksanakan rencana, subjek konsisten dengan rencana yang telah disusun sebelumnya. Hal ini terlihat dari hasil pekerjaan subjek yang hanya menggunakan metode eliminasi untuk mendapatkan penyelesaian dari masalah yang diberikan berdasarkan pengalaman yang dialami serta melakukan eksperimen secara langsung. (d) Fase memeriksa kembali, subjek memeriksa kembali jawabannya setelah menyelesaikan soal dan yakin dengan jawaban yang diperolehnya berdasarkan eksperimen dan pengalaman yang ia peroleh. Kata kunci: Pemecahan Masalah Matematika, Gaya Belajar

    The Cultural Meaning of Ma’kombongan as A Form of Local Wisdom of The Toraja Community

    No full text
    Local wisdom is the originality of an area that distinguishes it from other regions both in terms of meaning and the value it contains. The Toraja tribe, which is located in the province of South Sulawesi, has a strong oral culture so that information is passed down by word of mouth, not in the form of writing or inscriptions. One of the local wisdoms of Toraja culture that is rarely written about is Ma’kombongan . Ma' Kombongan culture as a local wisdom has a strong enough role in the existence of the Tana Toraja people. Ma’kombongan  can be said as a form of democratic government of the Toraja people before the current system of government. Therefore, it is important to write articles to see the role of ma’kombongan  in creating harmony in Toraja society. This study uses a qualitative research method with data collection through observation and interviews with traditional shops, religious shops, indigenous peoples, and the government. The results of the research illustrate that the ma’kombongan  process is carried out in customary areas in various ways such as Rambu solo, rambu tuka', a place to solve problems, resolve conflicts, and as a place for customary justice. The implications of the research provide insight into how important ma’kombongan  is in forming harmonization in Toraja society. The research also has implications for the development of social knowledge, especially for creating social integration in society

    OPTIMIZING MATHEMATICS LEARNING OUTCOMES USING ARTIFICIAL INTELLIGENCE TECHNOLOGY: OPTIMALISASI HASIL PEMBELAJARAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN TEKNOLOGI ARTIFICIAL INTELLIGENCE

    No full text
    The use of technology in learning has become inevitable in modern education. It plays an important role in optimizing the learning process, including in the context of mathematics learning. This study aims to describe the optimization of mathematics learning outcomes using Artificial Intelligence technology. This research uses a qualitative method with a descriptive approach. The instruments used were tests and interviews. The data collected was then analyzed using the interactive model analysis flow developed by Miles and Huberman, namely reducing data, presenting data, and verifying/concluding. The results showed that by using Artificial Intelligence (AI) technology in the learning process, lecturers can provide experiences tailored to students' individual needs, improve their understanding of mathematical concepts, and provide fast and precise feedback. Thus, the use of AI technology can optimize mathematics learning.Penggunaan teknologi dalam pembelajaran telah menjadi suatu hal yang tak terhindarkan dalam pendidikan modern. Pendekatan ini memainkan peran penting dalam mengoptimalkan proses pembelajaran, termasuk dalam konteks pembelajaran matematika. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan optimalisasi hasil pembelajaran matematika menggunakan teknologi Artificial Intelligence. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Instrumen yang digunakan berupa tes dan wawancara. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis dengan menggunakan alur analisis model interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman, yaitu mereduksi data, menyajikan data, dan verifikasi/menyimpulkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam proses pembelajaran, dosen dapat memberikan pengalaman yang disesuaikan dengan kebutuhan individual mahasiswa, meningkatkan pemahaman konsep matematika, serta menyediakan umpan balik yang cepat dan tepat. Dengan demikian, penggunaan teknologi AI dapat mengoptimalkan pembelajaran matematika

    Generation Z: Understanding the Moral Characteristics of The Current Generation

    No full text
    Generation Z, which is currently dominated by students and college students, is a generation that has experienced growth in line with technological advances. The large number of media interventions and easy access to detrimental information can hinder efforts to instill positive moral values. One of the first steps in designing and developing moral learning strategies that suit students' needs is to understand their moral characteristics. Therefore, the aim of this research is to reveal the characteristics of Generation Z in terms of their moral considerations. This research involved 63 generation Z students and used descriptive methods, with data collection carried out through a test technique known as the "moral reasoning test". The research results indicate that the moral development of generation Z students tends to be at a conventional level, dominated by stage 4 followed by stage 3. In this stage, good actions are carried out by obeying obligations and respecting authority. This reflects social conformity, where individuals tend to act in accordance with social norms to gain positive recognition from friends or other adults

    Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas IV pada Pembelajaran IPA Tema 9 Kayanya Negeriku di SDN 4 Tallunglipu

    No full text
    Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas IV Pada Pembelajaran IPA Tema 9 Kaya Negeriku Di SDN 4 Tallunglipu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa kelas IV pada pembelajaran IPA Tema 9 Kayanya Negeriku di SDN 4 Tallunglipu melalui model pembelajarn inkuiri. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN 4 Tallunglipu, pada semester genap tahun ajaran 2021/2022 yang berjumlah 23 orang. Metode penelitian yang digunakan yaitu Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian dilaksanakan sebanyak dua siklus, siklus I sebanyak 2 kali pertemuan dan siklus II sebanyak 2 kali pertemuan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan Teknik angket dalam motivasi belajar pada akhir siklus I dan Siklus II serta data hasil Observasi. Hasil penelitian dengan menggunakan metode inkuiri menunjukkan bahwa motivasi dan hasil belajar siswa mengalami peningkatan. Peningkatan motivasi belajar siswa dari kondisi awal sebesar 43,48% atau 10 siswa meningkat menjadi 15 siswa atau 65,22% dan mencapai angka 91,30% dari 75% batasan minimal yang telah ditentukan pada kriteria keberhasilan proses perbaikan pembelajaran pada siklus kedua, penerapan model pembelajaran inkuiri mampu meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IV pada pembelajaran IPA Tema 9 Kayanya Negeriku di SDN 4 Tallunglipu

    Analysis of Misconception of Elementary School Teacher Study Program UKI Toraja Lectures about Fraction

    No full text
    . As a result of misconceptions, new knowledge will not be properly integrated into students' cognitive structures. If a student learns a new concept and processes it into the student's cognitive structure, which mixes with the concept, it can lead to improper understanding. Therefore, it is the misconception that needs to be understood before it can be acted upon. Understanding mathematical concepts is an important foundation for solving mathematical problems and everyday problems. With a good understanding of mathematical concepts, students will easily remember, use, and rearrange a concept that has been learned and can solve various variations of mathematics. Therefore, understanding the concept is used as one of the three aspects of assessment in learning mathematics. Fractions are basic mathematics material that must be reached by prospective elementary school teacher students. The complexity of this material sometimes results in errors that not only occur to students, but also occur to teachers. This research was conducted with the hope that after knowing the misconceptions of prospective elementary school teacher students, it can be considered for mathematics lecturers in designing and managing the learning process so that later it can improve the understanding of prospective elementary school teacher students in terms of concepts and strategies before teaching in elementary schools

    Analysis of Learning Style Characteristics of UKI Toraja Elementary School Teacher Education Students Class of 2022

    No full text
    Gaya belajar merupakan cara khas seseorang mengamati dan berproses dalam aspek kognitif, yang sifatnya individu yang kadang-kadang tidak disadari dan dapat bertahan menjadi ciri khasnya dalam belajar. Selain itu, gaya belajar merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran. Pada umumnya semua orang bisa belajar, namun cara belajarnya berbeda-beda. Memahami gaya belajar sangat besar manfaatnya bagi mahasiswa, di antaranya dapat membuat keadaan belajar jadi lebih menyenangkan, motivasi belajar jadi meningkat, serta meminimalisir masalah dalam belajar. Kunci keberhasilan seseorang dalam belajar yaitu menggunakan gaya belajar yang tepat sehingga pada aktivitas belajar seseorang perlu mendapat arahan dalam mengenali gaya belajar yang pas sehingga tujuan belajar tercapai. Untuk meningkatkan kemampuan yang dimiliki oleh mahasiswa, dibutuhkan dosen untuk mendampingi dan mengarahkan sehingga mahasiswa dapat dikatakan manusia yang dewasa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa PGSD UKI Toraja angkatan 2022. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner gaya belajar. Pemberian kuesioner ini bertujuan untuk mengetahui gaya belajar bagi seluruh mahasiswa PGSD angkatan 2022. Kesimpulan dari penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) angkatan 2022 kebanyakan memiliki gaya belajar kinestetik dibanding yang lain kecuali kelas D yang cenderung ke gaya belajar visual. Identifikasi gaya belajar mahasiswa PGSD kelas A didominasi oleh gaya belajar kinestetik yaitu sebanyak 44%, mahasiswa kelas B didominasi oleh gaya belajar kinestetik yaitu sebanyak 71%, mahasiswa kelas C didominasi oleh gaya belajar kinestetik yaitu sebanyak 55%, mahasiswa kelas D didominasi oleh gaya belajar visual yaitu sebanyak 43%, mahasiswa kelas E didominasi oleh gaya belajar kinestetik yaitu sebanyak 46%, dan mahasiswa kelas F didominasi oleh gaya belajar kinestetik yaitu sebanyak 37%. Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat memberikan informasi kepada tenaga pendidik bahwa dalam mengajar diharapkan dosen bisa membagi mahasiswa dalam beberapa kelompok dalam satu kelas sesuai dengan gaya belajarnya. Dalam hal ini dosen dapat menyampaikan materi dan memberikan tugas yang bervariasi sesuai gaya belajar yg ada dalam setiap kelompok sehingga mahasiswa mampu memaksimalkan potensi mereka tentang apa yang diajarkan dan mampu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan berdasarkan gaya belajarnya masing-masing

    PEMBERDAYAAN KOMUNITAS LOKAL DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN OBJEK WISATA BUNTU ASA SECARA BERKELANJUTAN

    No full text
    Pemberdayaan masyarakat lokal dalam pengelolaan wisata, serta pengembangan yang mengedepankan keberlanjutan merupakan konsep utama kegiatan pengabdian ini. Pembenahan dan pengembangan objek wisata Buntu Asa yang terletak di Lembang La'bo', Kecamatan Sanggalangi', Kabupaten Toraja Utara bertujuan untuk menghidupkan kembali serta meningkatkan daya tarik wisata di lokasi tersebut, sekaligus menyediakan berbagai fasilitas guna mendukung keberlanjutan pariwisata. Metode yang digunakan melibatkan observasi dan partisipasi aktif dalam pembuatan fasilitas wisata. Hasilnya menunjukkan bahwa kolaborasi antara tim pengabdian dan komunitas lokal dapat menciptakan perubahan positif dalam pengelolaan objek wisat

    PEMANFAATAN BONGGOL PISANG SEBAGAI BAHAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK

    No full text
    Pertanian organik merupakan sistem pertanian yang holistik dan terpadu, tanpa menggunakan bahan kimia dan hanya menggunakan pupuk oraganik yang berasal dari bahan-bahan alami. Salah satu sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan pupuk organik adalah bonggol pisang. Bonggol pisang adalah batang tanaman pisang yang berupa umbi batang yang mengandung unsur-unsur penting yang dibutuhkan tanaman. Meskipun sistem pertanian organik memberikan keuntungan kepada pembangunan pertanian masyarakat namun penerapannya tidak mudah. Beberapa hal yang menjadi kendalanya adalah masyarakat belum paham sistem pertanian terpadu, tanah yang butuh perawatan lama, tingkat hasil dan produktivitas belum meyakinkan petani pada umumnya, belum adanya insentif harga yang memadai untuk produsen produk pertanian organik, dan permodalan yang belum menyentuh semua petani.  Kegiatan ini dilaksanakan sekitar bulan Juli hingga Agustus 2023 di Lembang (desa) Batu Tiakka’. Metode yang digunakan adalah metode demonstrasi yaitu menjelaskan teori tentang manfaat bonggol pisang sebagai pupuk organik. Kemudian mempraktikkan bagaimana cara membuat pupuk dari bonggol pisang. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi. Berdasarkan hasil kegiatan pembuatan pupuk kompos sangat membantu masyarakat dalam memahami bagaimana manfaat bahan organik, mengenal bahaya pestisida, masyarakat dapat membuat pupuk organik dengan bahan yang mudah diperoleh di daerah sekitar yaitu bonggol pisang dan mengetahui bagaimana mengelola lahan dengan baik
    corecore