15 research outputs found
Pengaruh Taksiran Harga Biaya Pemeliharaan dan Kualitas Pelayanan Terhadap Minat Masyarakat Magetan Memilih Poduk Gadai Emas di BSI KCP Magetan MT Haryono 1
Retnosari, Tri. Pengaruh Taksiran Harga, Biaya Pemeliharaan dan Kualitas Pelayanan Terhadap Minat Masyarakat Menggunakan Produk Gadai Emas di BSI KCP Magetan MT Haryono 1. Skripsi. 2023. Jurusan Perbankan Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo, Pembimbing: Dr. Shinta Maharani, M.AK.
Kata Kunci : Gadai Emas Syariah, Taksiran Harga, Biaya Pemliharaan, Kualitas
Pelayanan, Minat Masyarakat.
Emas atau perhiasan menjadi salah satu benda yang hampir dimiliki semua masyarakat, karena bisa digunakan sebagai sarana investasi maupun berjaga-jaga jika ada kebutuhan yang mendesak. Produk Gadai Emas di BSI KCP Magetan MT Haryono 1, merupakan produk yang sering di tawarkan pihak bank syariah kepada masyarakat. Melihat banyaknya permintaan gadai emas dari masyarakat untuk kebutuhan finansial maupun permodalan. Hal ini akan dimanfaatkan para perusahaan bisnis dengan menyediakan jasa pegadaian emas yang nantinya akan membuat masyarakat sebagai konsumen memiliki banyak pilihan untuk menggadaikan perhiasan yang dimilikinya. Dan pada akhirnya masyarakat akan lebih mempertimbangkan kualitas produk gadai emas yang ditawarkan, seperti nilai taksiran harga emas, biaya pemeliharaan emas maupun kualitas pelayanan yang diberikan dan dirasa menguntungkan.
Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti ingin mengetahui apakah taksiran harga, biaya pemeliharaan dan kualitas pelayanan berpengaruh terhadap minat masyarakat dalam memilih produk gadai emas di BSI KCP Magetan MT Haryono 1. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui pengaruh taksiran harga, biaya pemeliharaan dan kualitas pelayanan terhadap minat masyarakat memilih produk gadai emas di BSI KCP Magetan MT Haryono 1 baik secara parsial (individu) maupun secara simultan (bersama-sama).
Jenis penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel menggunakan rumus slovin sebanyak 100 responden. Metode pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan penyebaran kusioner menggunakan teknik probability sampling dengan metode accidental sampling. Teknik pengolahan data menggunakan uji validitas dan reliabilitas, uji asumsi klasik, uji linier sederhana dan uji linier berganda dengan uji t dan uji F serta koefisien determinasi (R^2) menggunakan SPSS 23.
Hasil penelitian secara parsial menunjukan variabel taksiran harga berpengaruh signifikan terhadap minat masyarakat memilih gadai emas dengan nilai thitung > ttabel yaitu 3,442 > 1,661, variabel biaya pemeliharaan tidak berpengaruh terhadap minat masyarakat memilih gadai emas dengan nilai thitung ttabel yaitu 4,227 > 1,661. Adapun hasil penelitian secara simultan variabel taksiran harga, biaya pemeliharaan dan kualitas pelayanan berpengaruh secara simultan terhadap minat masyarakat memilih gadai emas dengan nilai Fhitung > Ftabel yaitu 19,139 > 3,090 koefisien determinasi ( R Square) sebesar 37,4% sisanya 62,6% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini
DAMPAK PEMBANGUNAN JALUR KERETA API TERHADAP KONDISI SOSIAL-EKONOMI KOTA BLITAR (1884-1919)
Abstrak Transportasi berkembang pesat setelah diterbitkanya Undang-undang Agraria (Agrarische Wet) dan Undang-undang Gula (Suiker Wet) pada 1870. Dengan adanya dua undang-undang ini menyebabkan banyaknya investor menanamkan modal dalam bentuk perkebunan yang banyak dibuka di wilayah pedalaman,termasuk Blitar. Pada awalnya pengangkutan hasil perkebunan dilakukan dengan gerobak, karena terbatasnya pengangkutan menyebabkan beberapa hasil perkebunan rusak atau tidak dapat diolah secara maksimal. Oleh karena itu dibangunlah jalur kereta api, karena kereta api dinilai lebih efektif dari sarana transportasi lain. Penelitian ini membahas faktor penyebab pembangunan jalur kereta api ke arah Blitar dan dampak yang ditimbulkan pada kondisi sosial-ekonomi di Blitar pada 1884-1919. Penulis menggunakan metode peneliian sejarah. Hasil dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa pembangunan jalur kereta api di Blitar merupakan salahsatu dampak diterbitkanya Undang-undang Agraria (Agrarische Wet) dan Undang-undang Gula (Suiker Wet) pada 1880. Adanya undang-undang ini menyebabkan pembukaan perkebunan kopi dan tebu di wilayah Blitar. Dampak dari pembangunan jalur kereta api ini Blitar menjadi terhubung baik dari jalur barat maupun timur. Kereta api juga berdampak terhadap aktivitas ekonomi, yaitu munculnya sektor pekerjaan baru yaitu kui panggul, pedagang, dan pegawai perusahaan.Kata kunci: Kereta api, Blitar, Sosial-ekonomi Abstract Transportation developed rapidly after the promulgation of the Agrarian Law (Agrarische Wet) and the Sugar Act (Suiker Wet) in 1870. With the existence of these two laws, it caused many investors to invest in the form of plantations which were widely opened in rural areas, including Blitar. Initially transportation of plantation products was carried out by cart, due to limited transportation, some of the plantation products were damaged or could not be processed optimally. Therefore a railway line was built, because the train was considered more effective than other means of transportation. This study discusses the factors causing the development of the railroad track in the direction of Blitar and the impact caused by the socio-economic conditions in Blitar in 1884-1919. The author uses the method of historical research. The results of this study concluded that the construction of the railroad track in Blitar was one of the impacts of the issuance of the Agrarian Law (Agrarische Wet) and the Sugar Law (Wet Suiker) in 1880. The existence of this law led to the opening of coffee and sugar cane plantations in the region Blitar. The impact of the construction of this railroad line Blitar became connected both from the west and east lines. Railroad also has an impact on economic activity, namely the emergence of new employment sectors, namely the pelvis, traders, and company employees.Keywords: Train, Blitar, Socio-economi
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BERBASIS APLIKASI CONSTRUCT 2 TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS PESERTA DIDIK PADA MATERI BANGUN RUANG SISI DATAR
ABSTRAK
Media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang digunakan untuk mempermudah proses pembelajaran.
Berdasarkan pra survey yang peneliti lakukan di MTs Negeri 2 Bandar Lampung diketahui bahwa media
pembelajaran yang digunakan masih terbatas, pendidik kurang memanfaaatkan perkembangan teknologi
seperti android, laptop atau komputer untuk menunjang kegiatan pembelajaran, sehingga peserta didik
mengalami kesulitan dalam memahami materi pembelajaran. Rata-rata kemampuan pemahaman konsep
matematis pada peserta didik juga masih rendah. Tujuan diadakannya penelitian ini yaitu untuk
mengetahui bagaimana mengembangkan media pembelajaran berbasis aplikasi Construct 2 untuk
meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis peserta didik pada materi bangun ruang sisi
datar, mengetahui kelayakan media pembelajaran tersebut menurut para ahli materi dan ahli media,
dan untuk mengetahui respon peserta didik terhadap media pembelajaran tersebut. Penelitian dan
penembangan ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model pengembangan ADDIE,
yaitu Analysis (analisis), Design (perancangan), Development (pengembangan), Implementation
(implementasi), dan Evaluation (evaluasi). Validasi produk dilakukan oleh ahli materi dan ahli
materi, dengan metode pengumpulan data berupa angket penilaian untuk menguji kelayakan produk. Uji
kemenarikan produk dilakukan oleh peserta didik dalam skala kecil dan besar, kemudian uji
kemenarikan oleh pendidik. Hasil validasi ahli materi memperoleh nilai rata-rata sebesar 87% dengan
kategori sangat baik. Hasil validasi ahli media memperoleh nilai rata-rata sebesar 78% dengan
kategori baik. Hasil uji coba media pembelajaran berbasis aplikasi Construct 2 oleh peserta didik
dalam skala kecil memperoleh nilai rata-rata 87% dengan kategori sangat baik. Hasil uji coba media
pembelajaran berbasis aplikasi Construct 2 oleh peserta didik dalam skala besar memperoleh nilai
rata-rata 84% dengan kategori sangat baik. Hasil uji coba media pembelajaran berbasis aplikasi
Construct 2 oleh pendidik memperoleh nilai rata-rata 91% dengan kategori sangat baik. Media
pembelajaran berbasis aplikasi Construct 2 layak dan dapat digunakan sebagai sumber belajar
Dampak Pembangunan Jalur Kereta Api Terhadap Peruv
DAMPAK PEMBANGUNAN JALUR KERETA API TERHADAP PERUBAHAN FISIK KOTA BLITAR 1884-1919Tri Retnosari Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang, Jl Semarang no.5 MalangAbstract. The train is an important transportation in the colonial period. Construction of the railway line in Blitar is caused by the existence of coffee plantations in Wlingi. Trains during the colonial period were used as transporters of plantation products, population migration. Therefore, the construction of the railway line certainly affects the physical changes in the city of Blitar. The method used in this study is the historical method, which includes heuristics, criticism, and interpretation, and historiography. This study concluded that the existence of a railroad track led to the development of the Blitar region and the center of government and economy around the station.Keywords; train, Blitar, physical changes Perkembangan suatu wilayah sangat dipengaruhi dengan transportasi yang memadai pada wilayah itu. Suatu daerah yang tidak ditunjang dengan transportasi yang menghubungkan suatu daerah dengan daerah lain akan membuat suatu wilayah menjadi terkucil. Hal ini disebabkan transportasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana distribusi, transportasi, tetapi juga penyebaran informasi. Jadi dapat dikatakan bahwa transportasi merupakan kebutuhan pokok bagi masyarakat luas. Transportasi berkembang pesat setelah diterbitkanya Undang-undang agraria (agrarische wet) dan Undang-undang gula (suiker wet) pada 1870. Dengan adanya dua undang-undang ini membawa pengaruh masuknya perekonomian liberal yang ditandai dengan diadakanya perkebunan-perkebunan serta pertambangan guna mencukupi kebutuhan ekspor. Dengan kata lain kedua undang-undang ini membuat perekonomian Hindia-Belanda berkembang dengan pesat, tapi di sisi lain peran pemerintah kolonial semakin besar. Perkebunan telah menjadi awal munculnya dua basis ekonomi penduduk Jawa yaitu ekonomi modern dan tradisional. Dalam beberapa hal, ekonomi perkebunan yang menjadi pintu masuk kapitalisme ini merupakan akar dari munculnya kesenjangan sosial di Indonesia pada era-era berikutnya (Hudiyanto, 2015: 97). Perekonomian modern memiliki produksi dengan skala besar dan berorientasi pada kebutuhan pasar global. Sedangkan perekonomian tradisional hanya berorienasi pada produksi dengan skala kecil. Dengan adanya perkebunan ini tidak hanya mengubah landscape alam tetapi juga sosial masyarakat terutama pada wilyah pedalaman. Pabrik dan perkebunan mayoritas berada pada wilayah pedalaman, sehingga dalam hal pengangkutan memerlukan transportasi yang cepat. Pengunaan gerobak dan kereta kuda memang telah digunakan tetapi hanya dapat mengangkut sedikit komoditas. Selain itu, jarak yang jauh dan lingkungan geografis yang tidak memadai menyebabkan lambatnya pengiriman barang sehingga kadang setelah sampai di pelabuhan beberapa komoditi telah rusak dan berjamur. Pembangunan sarana dan prasarana transportasi tentunya juga memengaruhi keadaan fisik kota. Seperti pembangunan jalan tentunya mempertimbangkan aspek keuntungan bahkan lingkugan geografi pada suatu wilayah. Terlebih sarana transportasi seperti kereta api yang membutuhkan lintasan tersediri. Pembangunan rel ini tentunya telah melalui perhitungan yang matang agar wilayah tersebut lebih berkembang lagi.Begitu pula dengan pembagian tata ruang perkotaan, tidak akan berhenti selama kota tersebut masih ada. Hal inilah yang membuat kota menjadi objek kajian yang menarik. Terlebih lagi meski perkembangan kota telah dikelompokkan sedemikian rupa oleh Peter Nas, tetapi fenomena yang terjadi antara kota satu dengan kota yang lain tentunya berbeda.Penataan pusat pemerintahan di kota Blitar juga menganut konsep macapat. Konsep macapat menurut Ossenbruggen (1975: 8) sebenarnya berasal dari persekutuan antara sebuah desa dan empat desa tetangga yang letaknya kira-kira sesuai dengan arah mata angin: utara, selatan, timur, dan barat. Diantara perkampungan tersebut sudah terdapat kesepakatan untuk bekerjasama dalam kehidupan sehari-hari.Konsep macapat pembangunan tata ruang Jawa menjelaskan bahwa alun-alun merupakan pusat kegiatan masyarakat yang letaknya di tengah pusat pemerintahan (Lusiana, 2015: 84). Hal ini sesuai dengan pendapat Van Romond bahwa alun-alun merupakan halaman depan rumah para penguasa. Pendapat ini diperkuat dengan letak alun-alun yang berada di depan pendopo kabupaten. Peletakan alun-alun ini juga nampak di Yogyakarta yang terletak di depan keraton. Pusat kontrol pemerintahan ditempatkan disekitar alun-alun kota. Semua bangunan pemerintahan seperti kantor asisten residen, kantor bupati, penjara serta bangunan keagamaan seperti masjid dibangun mengelilingi alun-alun kota. Pada kota kolonial pemukiman orang Belanda bertempat tinggal di dekat pusat pemerintahan serta jalan-jalan yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Penduduk golongan orang Cina sebagian besar bermatapencaharian sebagai pedagang perantara yang bertempat tinggal di sekitar pasar, yang biasa disebut sebagai daerah pecinan, sedangkan orang pribumi bertempat tinggal di gang-gang di sekitar alun-alun. Penataan kota sebelum pembentukan gemeente dilakukan oleh penduduk lokal. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Mardiono (2014: 96) dan Bappeda (2008: 55) penataan pemerintahan desa dilakukan pada masa bupati KPH Warsoekoesmo (1869-1896) seperti pengukuhan status desa-desa. Disebutkan bahwa desa Kepanjen dibagi dua pada 1880 yaitu Kepanjen Lor dan Kepanjen Kidul. Selain itu pengukuhan desa Kauman dilakukan melalui Staadsblaad No 107 tanggal 4 Juni 1885 yang disebut sebagai ibukota kabupaten termasuk Pecinan. Banyak hal yang dapat mempengaruhi tata ruang bahkan perkembangan suatu kota. Dalam penelitian ini penulis akan membahas tentang dampak pembangunan jalur kereta api terhadap perkembangan kota Blitar pada kurun waktu 1880-1918. Jalan merupakan suatu hal yang penting, tanpa adanya jalan maka suatu tempat tidak akan dapat berhubungan dengan daerah lain dan menjadi terasing. Hal ini disebabkan jalan juga berperan dalam hal informasi, sehingga daerah yang tidak mempunyai akses jalan menjadi terasing. Penyebaran informasi pada awalnya menggunakan jasa pos kuda. Berdasarkan staadsblad No. 174 tahun 1882 (dalam Mardiono, 2014: 94; Sasmita, 2011: 5) pembangunan pos kuda di Blitar mulai ada pada 25 Juni 1882.Selain jalan hal lain yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan perkotaan adalah transportasi. Diketahui bahwa transportasi hampir dikatakan merupakan sebuah kebutuhan pokok. Karena adanya transportasi ini memungkinkan perpindahan kebutuhan pokok dengan cepat. Selain itu adanya transportasi ini menunjang mobilitas penduduk juga persebaran informasi. Kereta api merupakan moda transportasi yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan wilayah. Hal ini disebabkan jauh sebelum dikenal beberapa kendaraan seperti bus, mobil, truk, jalur kerea api menjadi sarana transportasi satu-satunya yang mampu menghubungkan daerah satu dengan daerah lainnya. Di Indonesia pembangunan jalur kereta api digagas oleh pemerintah kolonial Belanda. Adanya kereta api ini menjadi solusi dari masalah angkutan yang dibutuhkan oleh perusahaan swasta di Hindia Belanda. Masalah tersebut muncul ketika banyaknya bahan baku komoditi ekspor seperti kopi, gula, dan kapas yang terletak di wilayah pedalaman. Jalur kereta api di Hindia Belanda dimulai dari pembangunan rel pertama Semarang-Tanggung pada tanggal 17 juni 1864 di desa Kemijen, Semarang. Sedangkan jalur kereta di Jawa Timur dimulai dari jalur Surabaya-Pasuruan-Malang. Jalur ini mulai dibangun pada 16 Mei 1878 dan sampai di Malang pada 20 Juli 1879. Selanjutnya jalur Kertosono-Madiun yang dimulai pada 1 Oktober 1881 dan sampai di Madiun pada 1 Juli 1882. Jalur Sidoarjo-Blitar dibangun pada 16 Oktober 1880 dan mencapai Blitar pada 16 Juni 1884. Jalur Malang-Blitar, berbeda dengan jalur sebelumnya yang hanya dikerjakan satu arah jalur Malang-Blitar ini dilakukan dua arah. Dari arah Malang ke Kepanjen dibangun pada 15 Januari 1896. Pada arah sebaliknya dibangun jalur Blitar-Wlingi pada 10 Januari 1896. Kemudian jalur ini disatukan dengan jalur Kepanjen-Wlingi pada 30 Juni 1897 (Staatspoor en Tramwegen in Nederlands-Indie, 1904: 84-85). Oleh karena itu peneliti ingin mengkaji pengaruh jalur kereta api terhadap perubahan fisik di kota Blitar. Penulisan penelitian semacam ini pernah ditulis leh Evi Lailatul Hidayah (2016) dengan judul Dari Kota Sungai ke Kota Darat: Penataan Kota Kediri (1906-1942) dan Nilai-nilai Edukasinya. Penelitian ini berisikan bahwa sungai Brantas yang membagi dua wilayah Kediri mempunyai dampak terhadap penataan kota. penelitan lain ditulis oleh Hadinoto (1999) yang berjudul Peletakan Stasiun Kereta Api Dalam Tata Ruang Kota-kota di Jawa Timur pada Masa Kolonial. Penelitian ini hanya menekankan pada peletakan jalur kereta api yang mempengaruhi pembagian tata ruang beberapa kota di Jawa Timur. Berdasarkan penelitian diatas belum ada yang meneliti perkembangan kota Blitar apalagi yang dilihat dari adanya jalur kereta api yang ada di Blitar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa dampak yang ditimbulkan dari pembangunan jalur kereta api terhadap perubahan fisik Kota Blitar 1884-1919. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian sejarah, yang meliputi pengumpulan sumber, kritik sumber,verifikasi ,interpretasi, historiografi.Pengumpulan sumber atau heuristik merupakan tahap pencariarian data secara lengkap dan mendalam untuk mendukung penelitian. Data yang dikumpulkan oleh peneliti diperoleh dari sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer adalah sumber-sumber asli sebagai sumber pertama (Sjamsuddin, 2007: 106). Sumber primer yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu dokumen resmi dari pemerintah dan dokumen dari pihak swasta, yang meliputi koran dan majalah. Dokumen resmi dari pemerintah yang digunakan adalah Staatsblad van Nederladshe-Indie tahun 1883 no.20 yang berisikan pembagian distrik-distrik pada Karisidenan Kediri dan Madiun. Dalam staatsblad ini kota Blitar telah disebutkan sebagai onderdistrict dari Blitar. Padahal diketahui pengukuhan Blitar menjadi kota Blitar baru dilakukan pada 1 April 1906, pasca dikeluarkannya decentralie wet 1903. Dokumen pemerintah lain yang digunakan antara lain, Nederlandsch Indische Staatspoor en Tramwegen, yang berisi pembangunan kereta api dan trem di Hindia Belanda. Dalam dokumen ini pembangunan jalur kereta api menuju Blitar dibagi dalam dua fase, yaitu jalur Sidoarjo-Blitar pada 1878 dan jalur Malang-Blitar pada 1893. Selain itu digunakan adalah staatsblad van Nederladshe-Indie 1878 no 201. Dalam staatsblad ini berisikan tentang pembangunan jalur kereta api dari Sidoarjo ke Blitar beserta rincian anggarannya. Pembangunan jalur kereta api dengan arah sebaiknya tercatat dalam staatsblad van Nederlandshe-Indie 1893 no 296. Pembangunan jalur Blitar melalui Malang ini telah terhubung baik melalui arah utara maupun selatan.Dokumen swasta yang digunakan yaitu koran Niewe Amsterdam Courant, De Telegraaf, De Tidj, dan Nederlandsche State Courant tahun 1893. Masing-masing isi dari koran ini menbahas pembangunan jalur Malang-Blitar. Pada koran ini juga dibahas mengenai jumlah biaya yang disediakan oleh pemerintah Kolonial Belanda.Sedangkan sumber data sekunder adalah sesuatu yang ditulis oleh sejarawan sekarang atau sebelumnya (Sjamsuddin, 2007: 106). Sumber sekunder merupakan kesaksian dari siapapun yang bukan merupakan saksi pandangan mata yakni dari seorang yang tidak hadir dalam peristiwa yang dikisahkannya (Gottschalk, 1983: 35). Dalam penelitian ini sumber sekunder yang digunakan diantaranya buku dari karangan Mardiono yang menceritakan Blitar sejak masa kuno hingga masa kontemporer. Buku ini dinilai penting karena mengambarkan Blitar pada periodenya. Selain itu digunakan juga karya dari Peter JM Nas yang berjudul Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur Indonesia, Malang Tiga Zaman karya Reza Hudianto dan literatur lain yang relevan sebagai pembanding dengan kota Blitar.Tahapan selanjutnya adalah kritik yaitu menilai dan meneliti sumber-sumber sejarah yang telah ditemukan yang menyangkut dua macam yaitu otentisitas (keaslian dari sumber) dan kredibilitas (sesuai dan bisa tidaknya dipercaya suatu sumber) (Kuntowijoyo, 2005: 99). Dalam tahapan ini peneliti mencoba melihat keaslian dari sumber-sumber yang ditemukan misalnya berupa arsip yang sejaman dengan tahun 1880 berdasarkan jenis kertas, bahan, jenis tulisan, gaya bahasa, dan lembaga yang menyimpannya. Beberapa arsip yang ditemukan dalam penelitian telah rapuh, bahkan tak jarang sudah robek.Analisis berarti menguraikan sehingga menghasilkan fakta (Kuntowijoyo, 2005: 100). Dalam tahap ini peneliti menganalisa seluruh data dan memberikan keterkaitan antara satu fakta dengan fakta lain sehingga memilik keterkaitan yang logis.Historiografi adalah sintesis dari seluruh hasil penelitian atau penemuan dalam suatu penulisan yang utuh (Sjamsuddin, 2007: 156). Dalam tahapan ini peneliti akan merangkai fakta-fakta secara kronologis. Penulisan sejarah kota ini menggunakan teori poros dan perkembangan kota dalam pengkajiannya. Teori ini sangat dibutuhkan guna penganalisa suatu pola yang telah terbentuk di kota Blitar.Transportasi merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Terdapat hubungan erat antara transportasi dengan jangkauan lokasi kegiatan manusia, barang, jasa, bahkan uang. Selain itu transportasi berperan besar dalam aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan politik. Keberadaan sarana transportasi yang memadai menyebabkan lancarnya arus barang dan uang yang berdampak pada peningkatan aktivitas ekonomi yang memengaruhi perkembangan suatu wilayah. Pada awalnya moda transportasi berbasis perairan yang berkembang terlebih dahulu. Transportasi ini pada mulanya digunakan sebagai penghubung suatu kawasan dengan kawasan lain yang terpisahkan oleh perairan, baik sungai maupun laut. Sungai sudah digunakan sejak masa kuno sebagai sarana transportasi. Bahkan transpotasi sungai menjadi salah satu pemicu perkembangan kota-kota di sekitar pusat kerajaan. Beberapa pusat kerajaan terletak di wilayah pedalaman.Pembangan transportasi di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perkembangan teknologi dunia. Pengaruh teknologi trasnportasi di Indonesia dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda yang bertujuan untuk mempermudah dan mempercepat proses pengawasan terhadap daerah-daerah yang jauh dari pusat kegiatan pemerintahan. Penemuan ini tampak pada pembangunan jalan pos (de grote posweg) yang dibangun pada masa Gubernur Jendral Daendels. Jalan pos ini sepanjang 1000 kilometer yang membentang dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Jawa Timur). Pembangunan jalan ini secara langsung berdampak pada jarak tempuh yang sebelumnya membutuhkan waktu berminggu-minggu menjadi dalam hitungan hari saja. Jalan pos yang dibuat oleh Gubernur Jenderal Daendels inilah yang menyebabkan kota-kota di Pulau Jawa terhubung. Sesudah itu, kemudian diadakan beberapa cabang jalan yang besar dan kecil yang dapat dilalui oleh kereta (Staatspoor en Tramwegen in Nederlandsh Indie, 1925: 8). Salah satu pertimbangan dibangunnya jalan raya pos oleh Daendels adalah strategi dan ekonomi kolonial. Di lain sisi tidak mungkin menyiapkan pertahanan di pantai utara Pulau Jawa, karena musuh bisa mendarat dimana saja. Sementara budidaya kopi tidak akan meningkat selama biaya pengangkutan yang mahal tidak dapat ditekan. Dampak dibangunnya ‘jalan raya’ tersebut tenyata jauh melampaui, perkiraan, jalan ini tidak hanya mampu menahan kedatangan Inggris tetapi juga berhasil mengubah perekonomian dan kehidupan di Jawa. Pada awalnya transportasi tidak lepas dari dari adanya peran kuda dan sapi yang digunakan sebagai tenaga penarik. Transportasi yang ditarik oleh sapi dinamakan cikar, penggunaan moda transportasi ini digunakan sebagai pengangkut hasil panen ke pasar. Oleh karena itu penggunaan kendaraan ini tidak bisa mengangkut penumpang. Hal ini disebabkan bentuk dari kendaraan yang kecil, penumpang hanya bisa duduk di sebelah kusir.Setelah itu, terdapat perkembangan moda transportasi, secara umum sebenarnya masih hampir sama dengan cikar hanya saja tenaga penariknya berupa kuda. Kereta ini disebut dos-a-dos yang berarti punggung beradu punggung. Berbeda halnya dengan cikar kereta kuda ini dapat mengangkut sampai 6 orang. Pada perkembangan selanjutnya dos-a-dos inilah yang berkembang menjadi dokart yang pada masyarakat mengalami perubahan nama menjadi dokar.Pada umumnya orang yang berpergian jauh selalu memakai kereta yang ditarik kuda. Sedangkan untuk orang biasa mereka menaiki tjikar per, dimana mereka dapat terlentang atau berbaring disana. Angkutan barang hanya bisa dilakukan dengan gerobak sapi. Di beberapa tempat juga seringkali terjadi kekurangan sapi, karena kelelahan sehingga banyak sapi yang mati. Oleh karena itu, pengangkutan menuju luar pulau Jawa dinilai sulit. Terlebih lagi jika harus keluar pulau, kapal pengangkutan seringkali menunggu musim untuk berlayar. Hal ini berdampak pada beberapa barang yang akhirnya rusak karena berjamur (Staatspoor en Tramwegen in Nederlandsh Indie, 1925: 8).Hal ini juga terjadi di desa-desa pegunungan, terutama pada daerah yang dari segi geografis tidak mendukung. Pengangkutan barang menggunakan pedati membutuhkan biaya yang besar, sedang masyarakat yang tinggal di desa mayoritas mempunyai penghasilan rendah. Hal ini disebabkan petani tidak dapat menjual hasil panennya ke kota karena kendala pengangkutan barang sehingga hanya dijual dengan harga murah, sedangkan jika mereka memakai barang dari kota membutuhkan biaya yang besar. Pada 1830-1840 keadaan transportasi sangat meragukan, sehubungan dengan hal tersebut menteri J. C. Baud mengirim 40 unta dari Tenerife dan sejumlah keledai ke Jawa. Pengiriman unta dan keledai ini dimaksudkan sebagai hewan pengangkut, tetapi tidak berhasil, hampir seluruh hewan ini mati. Kemudian dimulailah penelitian yang melatarbelakangi pembangunan jalur kereta. Kereta api menurut teri daratan dari Mc Kinder, tidak hanya berfungsi sebagai alat transportasi ekonomi, tetapi lebih difungsikan sebagai benteng stelsel. Dengan kata lain lain pembangunan jalur kereta fungsi utamanya sebagai penunjang mobilitas gerakan operasi serdadu Belanda dalam upaya mempersempit ruang gerak ulama dan santri (Suryanegara, 2014: 224).Jika pada masa Daendels sistem pertahanan fisiknya dengan membangun jalan raya pos juga yang disebut sebagai pos kuda. Penyebutan ini disebabkan hubungan antar kota berjarak 60 kilometer atau setara dengan kemampuan kuda berjalan. Berbeda halnya dengan masa kolonial yang dalam rangka mengurangi perlawanan dengan dibangunnya jalur kereta api. Untuk kepentingan benteng stelsel ini jalur kereta ini dibangun di seluruh Pulau Jawa yang membentang dari Batavia hingga Banyuwangi dan Batavia hingga Merak. Dengan demikian Pulau Jawa terhubung baik dari arah utara maupun dari arah selatan.Ide pembangunan kereta api dikemukakan oleh Kolonel Van der Wick, seorang insinyur militer Belanda pada 15 Agustus 1840. Usul ini menekankan pada aspek pertahanan keamanan di Jawa. Selain itu usul ini juga mengandung aspek politik, yaitu pembangunan pertahanan untuk meredam sisa laskar Pangeran Diponegoro setelah Perang Jawa (Wardojo, 2013: 56).Ide pembangunan kereta api dikemukakan oleh Kolonel Van der Wick, seorang insinyur militer Belanda pada 15 Agustus 1840. Usul ini menekankan pada aspek pertahanan keamanan di Jawa. Selain itu usul ini juga mengandung aspek politik, yaitu pembangunan pertahanan untuk meredam sisa laskar Pangeran Diponegoro setelah Perang Jawa (Wardojo, 2013: 56).Jalur kereta api di Jawa yang diresmikan pertama adalah jalur antara Semarang dan Kedung Jati pada 1871. Kemudian disusul dengan jalur Batavia-Buitenzorg atau Jakarta-Bogor yang dibuka pada 1873. Selanjutnya pada 1884 jalur antara Buitenzorg-Bandung (Bogor-Bandung) berhasil diselesaikan, yang kemudian dilanjutkan dengan jalur Surabaya-Solo dan Semarang. Pada 1894 jalur Surabaya-Batavia melalui Maos, Yogyakarta berhasil diselesaikan. Jalur alternative kedua antara Surabaya-Batavia melalui Cirebon dan Semarang diselesaikan pada 1912. Setelah itu jalur sekunder mulai dibangun, termasuk jalur yang melewati. Di sebelah Barat diselesaikan jalur dari Anyer ke Labuan, sedangkan di sebelah Timur sampai Panji dan Banyuwangi.Pada 1926 terlihat bahwa Jawa sudah terhubung dari Jawa bagian Barat hingga Jawa bagian Timur. Selain itu beberapa jalur sekunder juga mulai dibangun, sehingga Jawa dapat dilalui melalui jalur utara maupun selatan. Bahkan mennrut Lombard (2005: 139) pembangunan jaringan kereta api yang dibangun pada tiga dasawarsa terakhir abad ke-19 dan dua dasawarsa pertama abad ke-20 merupakan salah satu jaringan yang telengkap dan terpadat di Asia. Bahkan pada peresmian jalur pertama yaitu Semarang Kedung Jati raja Siam Chulangkrorn datang ke Jawa untuk menggaguminya.Pembangunan jalur kereta api yang pertama di Jawa Timur adalah jalur Surabaya-Pasuruan-Malang yang dimulai pada 6 April 1875. Anggaran dana yang dialokasikan untuk pembangunan jalur ini adalah 10 milyar gulden. Proyek ini berada dibawah pimpinan Kolonel-titulair der Genie, David Maarshalk. Pada hari Kamis 16 Mei 1878 perjalanan kereta api Surabaya (kota)- Pasuruan diresmikan dengan upacara oleh Gubernur Jenderal J. W. van Lansberge. Pada 20 Juli 1879 jalur Bangil-Malang juga telah selesai dibangun. Adapun biaya yang digunakan dalam pembangunan jalur ini ialah sebesar 91/2 milyar rupiah, jadi anggaran kurang ½ miliyar (?) (Staatspoor en Tramwegen in Nederlandsh Indie, 1925: 11).Mulai saat itulah kereta api di wilayah Jawa Timur mulai beroperasi, penumpang pertamanya merupakan pegawai yang dijadikan sebagai uji coba. Sejak saat itulah perusaan kereta api mulai menghas
KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU MADRASAH IBTIDAIYAH MA’ARIF NU 1 PAGERAJI CILONGOK BANYUMAS SKRIPSI
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara obyektif tentang kompetensi pedagogik guru Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif NU 1 Pageraji.
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan penelitian kuantitatif. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, angket, dan dokumentasi. Metode observasi dalam penelitian ini menggunakan observasi langsung,metode ini penulis gunakan untuk menggali data dan informasi dari lapangan serta untuk mengetahui kegiatan pembelajaran di MI Ma’arif NU 1 Pageraji. Metode wawancara metode ini penulis gunakan untuk mendapatkan informasi dari informan lebih lanjut terkait kompetensi pedagogik guru atau kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran. Metode angket metode ini penulis gunakan untuk mencari hasil prosentase kompetensi pedagogik guru MI Ma’arif NU 1 Pageraji. Metode dokumentasi metode ini penulis gunakan untuk mendapatkan profil Madrasah.
Temuan penelitian ini adalah kompetensi pedagogik guru yang menggunakan teknik analisis data kualitatif dan kuantitatif. Dari hasil analisis data kualitatif, penelitian yang telah penulis lakukan, maka penulis mengambil kesimpulan bahwa guru berusaha membantu peserta didik semaksimal mungkin dalam proses pembelajaran. Guru MI Ma’arif NU 1 Pageraji dalam mengelola pembelajaran dari awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran sudah cukup baik karena sebagian indikator penilaian telah terpenuhi. Berdasarkan hasil analisis kuantitatif, pada pengolahan angket kompetensi pedagogik guru dapat diketahui dengan nilai rata-rata 3,0 dan tingkat prosentase75,2% yang artinya cukup kompeten atau cukup baik
Pemulihan Utsubyou pada Tokoh Tsure dalam Film `Tsure ga Utsu ni Narimashite`
Skripsi ini meneliti pemulihan penderita utsubyou. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara pemulihan penderita utsubyou. Data penelitian ini berupa film, Tsure ga Utsu ni Narimashite yang disutradarai oleh Takeshi Aoshima pada tahun 2011. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan cara deskriptif kualitatif. Didukung dengan teori-teori yang meneliti utsubyou. Kesimpulan yang dapat diambil dalam penelitian ini adalah untuk memulihkan kondisi utsubyou digunakan cara: 1. Terapi biologis yang dilakukan dengan terapi pengobatan; 2. Terapi pasangan yang dilakukan oleh orang yang paling dekat dengan si penderita utsubyou. Pada?terapi yang dilakukan oleh pasangan yaitu orang yang akan membantu proses pemulihan, pasangan berusaha menciptakan hubungan yang harmonis dan menciptakan lingkungan dimana si penderita dapat kembali pada kehidupan sehari-hari; 3. Terapi ATODE yang dilakukan oleh si penderita itu sendiri
PENALARAN DALAM ESAI MAHASISWA UNIPA SURABAYA
This article aims at describing reasoning essay in paragraph of the students of PGSD2015 Unipa Surabaya. The approach used in this article is descriptive qualitative in which the data collection used library and documentation methods. The data collection procedures in this research are (1) essay collection, (2) codification of students’ names, (3) categorization of the students’ data using reasoning paragraph, (4) data management, (5) calculation of the result percentage. The data analysis of this research uses qualitative descriptive. It means that it only describes the reasoning paragraph. The stages used in this analysis are (1) data collection, (2) data classification, and (3) interpretation. The validity of this research usesobservation perseverance technique, triangulation, and peer review. The result of this analysis is found the use of deductive and inductive reasoning. In using both reasonings, the students of PGSD 2015 are good
Misconception of pre-service chemistry teachers about the concept of resonances in organic chemistry course
related Factors of complete basic Immunization on children and Vaccine Management at Primary Health care and Health Post in X Subdistrict Depok city
background:Immunization is an effective primary prevention against infectious diseases on children. The purpose of this study was to determine the related factors to the completeness of basic immunization on children and vaccine management at primary health care and posyandu in X Subdistric, Depok City. Methods:The study used a cross-sectional design with a sample of 140 mothers of children aged at least 11 months, and qualitatif study about vaccines management. Mother and child data collection using questionnaires and child health card (Kartu Menuju Sehat) in December 2012–May 2013. Vaccine management data was collected at 2 primary health care and 2 posyandu with interview and observation. Data analysis was performed with Chi-square test. result:The largest percentage of mothers who have children under the age of at least 11 months of age <30 years, at least graduated from junior high school education, no work, have a low knowledge about immunization. Vaccine management in clinics and neighborhood health center for storage after use of vaccines in posyandu not be returned to the community health center, recording and reporting is not done on the book of the records so that the possibility of scattered or lost, and the person in charge of managing the vaccine instead of pharmacy personnel. Residual use of the vaccine in posyandu not directly returned to the health center. Recording the use of vaccines in posyandu not carried on the books, so it is probable scattered or lost. Manager vaccine at primary health care should a technical pharmacy in accordance with Government Regulation No. 51 of 2009 conclusion: Completeness of basic immunization of children under one years old (82,9%), incomplete biggest measles immunization (15,0%). Factors parental characteristics (age, education, occupation, knowledge) and the availability of the vaccine were not significantly associated with children complete basic immunization. recommendation: Improving health promotion to increase the parents knowledge on immunizations beneficial
KEEFEKTIFAN KALIMAT DALAM PARAGRAF EKSPOSISI PADA KARANGAN PESERTA PLPG UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
Effective sentence is a sentence that can represent and give rise to back the idea of ​​the author as easy, clear, and complete exactly the same in the reader\u27s mind as to what the author intended. This research will describe the effectiveness of sentences within paragraphs exposition.
This study appliesa qualitative approach. The data source of this study is expository paragraph participants of teachers sertification program region 142 and the data of this study are the sentences contained in expository paragraph. Collecting data in this research is done through documentation method. The data collection technique was (1) the data collection, (2) copying tasks, (3) readings expository paragraph, (4) marking with highlighter, (5) classification, (6) coding, and (7) making cards. The data analysis used descriptive method. The stages of data analysis process include (1) the data collection, (2) classification of data, (3) the determination of errors frequency, (4) explanation.
This result of this journal was expository paragraph written by participants of teachers sertification program ineffective. The ineffectiveness was found in (1) the unclearness of the idea, (2) the carelesness, and (3) the errors inusing spelling.
This study is expected to provide motivation to teachers and other interested parties to pay more attention in writing. Writing effective sentences, the ideas submitted will be understood the reader and the write
