1,721,113 research outputs found

    Gerakan Beli Indonesia Pemberdayaan Masyarakat Menurut Heppy Trenggono

    Get PDF
    Gerakan Beli Indonesia adalah gerakan kesadaran dan penyadaran dari, oleh dan untuk seluruh komponen bangsa Indonesia untuk membeli produk Indonesia. Tiga sikap kejuangan Gerakan Beli Indonesia, antara lain : 1. Membeli produk Indonesia. 2. Membela bangsa Indonesia.3. Menghidupkan semangat persaudaraan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik analisis deskriptif. Data primer dikumpulkan dengan wawancara dan observasi. Narasumber adalah Heppy Trenggono Inisiator Gerakan Beli Indonesia dan Hasto Wardoyo Mantan Bupati Kabupaten Kulon Progo. Hasil dalam penelitian ini ditemukan Gerakan Beli Indonesia lahir karena 2 (dua) hal dari Heppy Trenggono. Pertama perspektif kebangsaan merupakan keresahan akan kondisi ekonomi bangsa dimana membanjirnya produk asing masuk ke Indonesia. Kedua perspektif pribadi merupakan perjalanan Heppy Trenggono ke Los Anggeles Amerika Serikat tahun 2008. Ketika berbelanja ditoko, ditemukan merk hasil belanja semuanya merupakan produk dan milik perusahaan Yahudi. Heppy Trenggono berfikir kenapa bangsa Yahudi bisa maju. Karena mereka bisa menyeleksi produk yang masuk ke negaranya dan memprioritaskan produk dalam negerinya. Hasil penelitian ini juga ditemukan bahwa Program Bela Beli Kulon Progo yang dicanangkan oleh Hasto Wardoyo Bupati Kabupaten Kulon Progo merupakan program turunan dari Gerakan Beli Indonesia. Program tersebut bertujuan untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran di Kabupaten Kulon Progo

    Kajian Perubahan Makna Dalam Naskah Drama Monument Karya Indra Trenggono

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk perubahan makna yang ada dalam naskah drama Monument karya Indra Trenggono dan mendeskripsikan penggunaan eufemisme dalam naskah drama Monument karya Indra Trenggono. Masalah yang akan digali dalam penelitian ini adalah: (1) Apakah faktor-faktor perubahan makna yang ada dalam naskah drama Monument karya Indra Trenggono?, dan (2) Bagaimanakah penggunaan eufemisme dalam naskah drama Monument karya Indra Trenggono? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Penelitian ini mengamati data kalimat-kalimat yang mengandung eufemisme pada naskah drama Monument karya Indra Trenggono. Sumber data yang dipakai yaitu naskah drama Monument karya Indra Trenggono dengan tebal 28 halaman. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik kepustakaan, teknik simak, dan catat. Teknik pengumpulan data dengan cara membaca berulang-ulang kemudian menggolongkan dalam beberapa bagian yang sesuai dengan yang dicari. Penelitian ini menemukan bahwa Dalam naskah drama Monument karya Indra Trenggono, maka ditemukan jumlah keseluruhan data adalah 25 data yang terdiri dari 19 data perubahan makna dan 6 data eufemisme. Pada bentuk perubahan makna tidak didapati data untuk faktor kejiwaan sehingga dari ke 6 faktor hanya di dapati 5 faktor saja yaitu perubahan makna kebahasaan, perubahan makna kesejarahan, perubahan makna kesosialan, perubahan makna bahasa asing dan perubahan makna kata baru. Berdasarkan tabel persentase didapati menurut kebahasaan tersebut di atas didapati jumlah data adalah 5 data dengan persentase penggunaan adalah 20%, menurut kesejarahan tersebut di atas didapati jumlahnya hanya 1 data dengan persentase penggunaan adalah 4%, menurut kesosialan tersebut di atas didapati jumlah data adalah 3 data dengan persentase penggunaan adalah 12%, perubahan makna bahasa asing tersebut di atas didapati jumlah data adalah 5 data dengan persentase penggunaan adalah 20%, menurut perubahan makna kata baru tersebut di atas didapati jumlah data adalah 5 data dengan persentase penggunaan adalah 20%, dan yang terakhir penggunaan eufemisme terlihat paling dominan digunakan dalam naskah Monument dengan jumlah data sebanyak 6 data data yang dibagi untuk eufimisme kata tabu dengan jumlah data 3 data dengan presentase penggunaan adalah 12%, untuk kata tidak baku dengan jumlah data adalah 3 data dengan presentase penggunaan adalah 12%

    Pelatihan Pemasaran dan Penjualan Online pada Marketplace untuk Meningkatkan Ketrampilan Technopreneurship Guru dan Siswa di SMK Sultan Trenggono

    Get PDF
    SMK Sultan Trenggono adalah sekolah berbasis pondok pesantren dan terintegrasi dengan perusahaan yang sesuai dengan konsentrasi keahlian yang ada di SMK Sultan Trenggono, dengan luas sekolah 6870 M memungkinkan siswa untuk dapat melaksanakan pembelajaran didalam sekolah dengan leluasa. SMK Sultan Trenggono memiliki siswa sebanyak 130 siswa yang terbagi menjadi 3 (Tiga) konsentrasi keahlian yaitu Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim, Agribisnis Tanaman dan Teknik Otomotif. SMK Sultan Trenggono juga memiliki konsentrasi keahlian Agribisnis Tanaman pertama di Kota Semarang yang menghasilkan pupuk cair Bernama POC, pupuk cair ini terbuat dari urin kelinci dengan berbagai macam pupuk tambahan yang berfungsi membantu menyuburkan tanaman atau membantu fotosintesis tanaman sehingga perkembangan tumbuhan menjadi lebih baik. Pada konsentrasi keahlian Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim juga memiliki unit produksi seperti jasa perbaikan computer dan Pesanan running text untuk media promosi di toko ataupun di jalan-jalan dan tempat lain yang membutuhkan. Tetapi dari banyaknya produk yang dihasilkan di unit usaha SMK Sultan Trenggono masih belum memiliki pasar yang mendukung terserapnya produk secara maksimal, sehingga proses produksi sering kali menemui hambatan. SMK Sultan Trenggono sangat memerlukan sebuah fasilitas atau tempat yang dapat membantu menyerap hasil produksi dari unit usaha yang ada, sehingga hambatan terkait dengan pengadaan bahan baku produk dapat teratasi dengan baik melalui hasil yang didapat dari penjualan produk jad

    KONFLIK KERAJAAN DEMAK PASCA MENINGGALNYA SULTAN TRENGGONO (1546-1549)

    Get PDF
    Skripsi ini merupakan hasil penelitian literature yang berjudul “Konflik Kerajaan Demak Pasca Meninggalnya Sultan Trenggono 1546-1549 M“ Permasalahan yang akan dibahas yaitu, (1) Bagaimana latar belakang dan proses terjadinya konflik di kerajaan Demak? (2) Bagaimana akhir dari konflik yang terjadi di kerajaan Demak? (3) Siapa saja yang terlibat dalam konflik yang terjadi di kerajaan Demak? Untuk menjawab permasalahan di atas, penulis menggunakan metode historis, yaitu suatu langkah atau cara merekontruksi masa lampau secara sistemtis dan objektif. Penelitian ini menggunakan pendekatan historis (sejarah) dan bersifat kualitatif.Sedangkan teori yang digunakan adalah teori konflik. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa, (1) Konflik yang terjadi di kerajaan Demak berawal dari beberapa sebab, antara lain adalah kematian ayah Arya Penangsang yaitu Pangeran Sedo Lepen dan pelantian Sunan Prawata menjadi raja keempat kerajaan Demak sebagai pengganti Sultan Trenggono. Setelah pelantikan itu, Sunan Prawata di bunuh oleh utusan Arya Penangsang yang bernama Rangkud.Tidak lama berselang, Sunan Hadiri juga dibunuh oleh utusan Arya Penangsang.Setelah orang-orang yang disayanginya terbunuh, Ratu Kalinyamat meminta bantuan kepada Jaka Tingkir untuk membunuh Arya Penangsang sebagai bentuk pembalasan atas kematian orang-orang yang dia sayang. (2) Kematian Arya Penangsang menjadi akhir dari konflik yang terjadi di kerajaan Demak, dan setelah itu, tampilah Jaka Tingkir sebagai raja penerus kerajaan Demak dengan gelar Hadiwijaya dan pusat kerajaan di pindah ke Pajang. (3) Dalam konflik yang terjadi di kerajaan Demak, beberapa tokoh yang terlibat didalamnya adalah Sunan Prawata, Jaka Tingkir, Arya Penangsang, Ratu Kalinymata, Sunan Kudus, dan Sunan Kalijaga

    Makna Simbolik dan Relevansi Tradisi Napak Tilas Raden Trenggono Kusumo dengan Nilai-Nilai Brahma Vihara (Studi Kasus di Desa Giyono Kecamatan Jumo Kabupaten Temanggung)

    Get PDF
    Berdasarkan hasil penelitian mengenai Relevansi Tradisi Napak Tilas Raden Trenggono Kusumo dengan Nilai-Nilai Brahma Vihara yang dilakukan Di Desa Giyono Kecamatan Jumo Kabupaten Temanggung dapat disimpulkan sebagai berikut: Tradisi Napak Tilas Raden Trenggono Kusomo memiliki relevansi dengan nilai-nilai Brahma Vihara. Metta (cinta kasih) teraplikasi melalui Melepas 1 ekor ayam putih, wayang kulit, memakai pakaian jawa; karuna (belas kasih) Sesepuh desa membacakan mantra; mudita (simpati) Melakukan ritual di bilik kecil untuk berdoa, pakaian jawa, gunungan hasil bumi, tumpeng rombyong, wayang kuli; upekha (hati seimbang) Cuci muka di sendang Ayu Bonggedhe, ritual di bilik kecil untuk berdoa, berjalan kaki dari desa menuju sendang

    Pengaruh Project Based Learning Materi Kepemimpinan Sultan Trenggono terhadap Kognitif Siswa Kelas X

    Get PDF
    The objective of this study is to analyze the effect of implementing the Project Based Learning (PjBL) model on the cognitive learning outcomes of Grade X students at MA Asy-Syarifah on the topic of the Leadership of Sultan Trenggono in the Demak Sultanate. This research employed a quasi-experimental method with a pretest-posttest control group design. The sample consisted of two classes, namely an experimental class that implemented the Project Based Learning (PjBL) model and a control class that used conventional teaching methods. The instrument used for data collection was a learning achievement test. The results of this study indicate a significant increase in students’ learning outcomes in the experimental class compared to the control class. The paired t-test showed that both classes experienced a significant increase in scores (p < 0.001), but the experimental class achieved a higher gain. In addition, the independent t-test revealed a significant difference between the posttest scores of the two classes (p < 0.001). Based on these findings, it can be concluded that the implementation of the Project Based Learning (PjBL) model is effective in improving students’ cognitive learning outcomes in history lessons. Keyword: Project-Based Learning, Student Cognitive Ability, Sultan Trenggono\u27s Leadership

    Gerakan korektif tradisi baru gerakan mahasiswa Indonesia

    No full text
    Buku Sosial dan Politik berjudul Buku Gerakan Korektif Tradisi Baru Gerakan Mahasiswa Indonesia merupakan karya Nanang Trenggono. Fenomena gerakan mahasiswa tahun 1990-an sampai dengan terjadinya peristiwa reformasi 21 Mei 1998 perlu diabadikan dalam sebuah karya studi yang mengandung perspektif komunikasi politik, agar tidak mudah dilupakan sebab menyimpan aspek pendidikan politik bagi perjalanan bangsa ini. Dimensi komunikasi politik dari aktivitas mahasiswa adalah upaya untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai momentum perubahan menuju keterbukaan, kebebasan, dan demokratisasi.Buku ini memuat uraian mengenai gerakan mahasiswa sejak tahun 1980-an. Gerakan mahasiswa merupakan bentuk aksi atau pergerakan yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi, memperjuangkan hak, dan mengkritisi kebijakan pemerintah atau kondisi sosial-politik yang terjadi di masyarakat. Gerakan ini sering kali berfokus pada isu-isu seperti demokrasi, keadilan sosial, hak asasi manusia, pendidikan, dan keputusan-keputusan yang dibuat oleh pemerintahan yang sedang berjalan. Gerakan mahasiswa sering kali memanfaatkan aksi unjuk rasa, diskusi publik, dan media untuk menyampaikan pesan mereka. Di Indonesia, gerakan mahasiswa memiliki sejarah yang amat penting, terutama dalam peristiwa seperti Reformasi 1998 yang berhasil menggulingkan rezim Orde Baru

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
    corecore