117,675 research outputs found

    Efektivitas Media Tanam terhadap Pertumbuhan Tapak Dara (Catharanthus roseus L.)

    No full text
    Tapak dara (C. roseus L.) merupakan semak tahunan dengan tinggi antara 20-50 cm. Tanaman ini memiliki banyak kualitas dan keunggulan yang membuatnya lebih dari sekadar bunga untuk taman. Terdapat beberapa jenis media tanam yang bisa dipakai dalam budidaya tapak dara yang paling banyak digunakan adalah tanah. Kualitas dan konsentrasi masing-masing media tanam bervariasi sehinga diperlukan penelitian untuk mengetahui media tanam yang eektif untuk pertumbuhan tapak dara. Tanah, cocopeat, sekam mentah, sekam dibakar, dan sekam fermentasi adalah beberapa jenis media tanam yang digunakan dalam penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan media tanam yang efektif untuk mendorong pertumbuhan Tapak Dara. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok yang dilakukan selama empat bulan, dari November 2022 hingga Februari 2023. Penelitian ini menggunakan 75 bibit tanaman dengan menggunakan 5 perlakuan. Hasil analisis Uji One Way ANOVA menunjukkan bahwa hasil signifikasi jumlah daun (0,0002), panjang daun (0,000), dan tinggi tanaman (0,000). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa media tanam mempengaruhi pertumbuhan tapak dara

    Pengaruh pemberian ekstrak daun tapak liman (Elephantopus scaber L.) terhadap peningkatan libido mencit jantan (Mus musculus L.)

    No full text
    Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber obat-obatan alami (tradisional). Salah satu diantaranya adalah tanaman tapak liman (Elepantopus scaber L.) yang di kalangan masyarakat, tanaman obat ini dapat digunakan untuk meningkatkan libido. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pegaruh pemberian ekstrak daun tapak liman terhadap peningkatan libido mencit putih (Mus musculus L.) . Dua puluh ekor mencit putih dibagi dalam lima kelompok yang masing-masing terdiri atas 2 ekor. Perlakuan penelitian dilakukan dengan cara Kelompok I (control) 0%, Kelompok II diberi ekstrak daun tapak liman 20% (1ml/ekor), Kelompok III diberi ekstrak daun tapak liman 30% (1 ml/ekor), Kelompok IV diberik ekstrak daun tapak liman 40% (1 ml/ekor), Kelompok V diberi ekstrak daun tapak liman 50% (1ml/ekor) mencit putih. Penentuan peningkatan libido meliputi waktu pertama kali kawin, frekuensi kawin dan lama kawin. Hasil penelitian menunjukkan adanya efek dari ekstrak daun tapak liman yang berpengaruh secara nyata terhadap peningkatan libido mencit putih, hasil terbaik dicapai pada dosis 30

    PENGHAMBATAN PEMBENTUKAN BIOFILM Staphylococcus aureus OLEH EKSTRAK ETANOL 70% DAUN TAPAK LIMAN (Elephantopus scaber L.)

    No full text
    Daun tapak liman (Elephantopus scaber L.) merupakan daun yang sering ditemui di halaman sekitar yang memiliki khasiat sebagai antibakteri terhadap Staphylococcus aureus yang mampu membentuk biofilm. Biofilm pada Staphylococcus aureus terbentuk dari polisakarida ekstraseluler yang tebal dan dapat menyebabkan terjadinya resistensi. Kandungan senyawa metabolit sekunder daun tapak liman berupa flavonoid, terpenoid, alkaloid, dan saponin yang dapat digunakan sebagai antibiofilm. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas penghambatan pembentukan biofilm Staphylococcus aureus ekstrak etanol 70% daun tapak liman (Elephantopus scaber L.). Penelitian ini dilakukan melalui metode ekstraksi dengan maserasi daun tapak liman dengan etanol 70% dilakukan uji penghambatan. Hasil persen penghambatan dibaca menggunakan iMark-Biorad Micrplate Reader panjang gelombang 595 nm. Hasil absorbansi dianalisis dengan metode regresi linear dan uji ANOVA satu arah. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol 70% daun tapak liman memiliki aktivitas penghambatan pembentukan biofilm bakteri Staphylococcus aureus sebesar 80 ppm, tetapi aktivitas penghambatannya belum sebanding dengan kloramfenikol. Kata kunci: Daun tapak liman, Staphylococcus aureus, Penghambatan Biofilm, IC50

    Pengaruh ekstrak alkaloid daun tapak dara (Catharanthus aspergillus roseus (L) (Don) terhadap pertumbuhan Aspergillus flavus (Link.

    No full text
    AGUSTIEN NARYANINGSIEI J 201 91 562. Pengaruh ekstrak alkaloid daun tapak dara (Catharanthus aspergillus roseus (L) (Don) terhadap pertumbuhan Aspergillus flavus Link. Salah satu tanaman semak yaitu tapak dara (Catharanthus roseus L.) mengandung zat obat alami yang berkhasiat untuk mengobati penyakit diabetes melitus, tekanan darah tinggi (hipertensi), pendarahan, kanker dan lain-lain. Zat berkhasiat itu diantaranya leurosin, katarantia, vindolin, vindolinin, tetrahidroalstonin yang dapat menurunkan kadar gula dalam darah. Selain itu jugs. terdapat zat anti kanker seperti vinblaStin, vinkristin, vinkadiolin, leurosidin (Anonirn, 1995). Untuk itu perlu diteliti pengaruh ekstrak alkaloid daun tapak dara (C. roseus L.) terhadap pertumbuhan kapang A flavus yang diketahui dapat mengakibatkan penyakit kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak alkaloid daun tapak dara (C. roseus) terhadap pertumbuhan kapang A flavus dan untuk mengetahui konsentrasi ekstrak alkaloid daun tapak dara yang paling besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan kapang A_ flavus. Ekstraksi alkaloid daun tapak dam dilakukan dengan metode ekstraksi Sivakumaran dan Gopinath (1976) dan kapang A flavus diperoleh dui hasil isolasi kapang tanali. Perlakuan antara ekstrak alkaloid daun .tapak dara dengan kapang A flavys menggunakan Rancangan Acak .Lengkap (RAL). Parameter yang diukur adalah berat kering kapang A flavus setelah diinkubasi selama 7 Bari. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis sidik ragam dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) dan analisis regresi-korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak alkaloid daun tapak dara dapat menghambat pertumbuhan kapang A. flavus dan konsentrasi ekstrak alkaloid daun tapak dara yang paling besar penganih hambatannya terhadap pertumbuhan kapang A flavus pada konsentrasi ekstrak alkaloid 0,6% (b/v)

    BIOAKUMULASI KADMIUM PADA IKAN BANDENG DI TAMBAK DUKUH TAPAK SEMARANG

    No full text
    Dukuh Tapak merupakan muara dari Sungai Tapak yang sebagian besar wilayahnya berupa pertambakan ikan bandeng. Berkembangnya industri di daerah aliran sungai (DAS) Tapak, mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas perairan Tapak akibat adanya pencemaran limbah yang mengandung logam berat. Penurunan kualitas perairan tersebut akan mempengaruhi kualitas ikan bandeng yang dipelihara pada tambak-tambak di Dukuh Tapak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan Cd dalam air dan ikan bandeng di tambak Dukuh Tapak Semarang. Penelitian bersifat observasional analitik menggunakan analisis komparatif. Analisis kadar Cd menggunakan AAS. Kandungan Cd pada air Sungai Tapak 0,004mg/l, nilai tersebut masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan PPRI No.82 Tahun 2001 yaitu sebesar 0,01mg/l. Rerata kandungan Cd pada air tambak Tapak 0,0045mg/l, melebihi ambang batas yang ditetapkan KepMen LH No.51 Tahun 2004 yaitu sebesar 0,001mg/l. Rerata kandungan Cd pada daging ikan bandeng di ketiga stasiun adalah 0,01mg/l, masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan SNI 7287:2009 yakni sebesar 0,1 mg/kg. Simpulan dari penelitian ini adalah kandungan Cd pada air tambak Tapak melebihi ambang batas yang sudah ditentukan, namun kandungan Cd pada ikan bandeng masih berada di bawah ambang batas. Meskipun demikian, perlu diwaspadai keberadaan logam berat Cd karena logam berat bersifat toksik dan akumulatif.District Tapak is an estuary of Tapak river which most of the area is formed of milk fish aqua farming region. Tapak watershed industry growth has affected in Tapak water degradation quality. Due to waste contamination containing heavy metals. It affects the quality of breeding milk fish. This research aims to discover Cadmium (Cd) content both in watershed and milk fish in district Tapak, Semarang. This observational analytic research using comparative analysis, purposive random sampling method. Data analysis method using AAS. Cadmium (Cd) content in Tapak river is &lt;0,004mg/l, the grade is still below the qualification set by PPRI No. 82  year 2001 in the amount of 0,01mg/l. The average Cadmium (Cd) content in Tapak water pond is &lt;0.0045mg/l, the grade has exceeded the limit set by KepMen LH No. 51 year 2004 in the amount of 0,001mg/l. The average Cadmium (Cd) content in fish meat on three stations is &lt;0,01mg/l. The grade is still below the limit set by ISO 7287:2009 in amount of 0,1mg/kg. The conclusion of the research is Cadmium (Cd) content in Tapak water pond exceed the limit of the terms. However, Cadmium (Cd) content within the milk fish is below the limit of the terms, yet there should be a wary since Cadmium (Cd) is toxic and bioaccumulative heavy metal.</p

    PENGARUH PESTISIDA NABATI TAPAK LIMAN (Elephantopus scaber L.) TERHADAP PENGENDALIAN HAMA ULAT TRITIP (Plutella xylostella) TANAMAN SAWI (Brassica juncea L.)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi dosis penyemprotan ekstrak daun tapak liman terhadap mortalitas hama ulat tritip, pemendekan fase larva menjadi pupa, tingkat kerusakan tanaman sawi, berat basah tanaman sawi, dan dosis pestisida nabati yang paling efektif untuk pengendalian hama ulat tritip. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari kelompok kontrol dan kelompok perlakuan ekstrak tapak liman. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali, dengan rincian P0 (kontrol air), P1 (ekstrak tapak liman 2,5%), P2 (ekstrak tapak liman 5%), P3 (ekstrak tapak liman 7,5%), P4 (ekstrak tapak liman 10%), dan P5 (pestisida sintetik). Analisis data menggunakan uji Anova dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Berdasarkan data pengamatan, aplikasi ekstrak tapak liman berpengaruh terhadap mortalitas hama ulat tritip, rata-rata mortalitas tertinggi pada dosis 10%. Aplikasi ekstrak tapak liman berpengaruh nyata terhadap pemendekan fase larva instar IV, dengan rata-rata persentase tertinggi 56% pada dosis 2,5%. Aplikasi ekstrak tapak liman menyebabkan penurunan persentase kerusakan tanaman sawi, kerusakan terendah pada dosis 10%. Aplikasi ekstrak tapak liman juga berakibat pada peningkatan berat basah tanaman sawi sebesar 40,24 gram. Kata Kunci: Ekstrak Tapak Liman (Elephantopus scaber L.), Ulat Tritip (Plutella xylostella), mortalitas, pupa, kerusakan daun, berat basah

    PENGARUH PESTISIDA NABATI TAPAK LIMAN (Elephantopus scaber L.) TERHADAP PENGENDALIAN HAMA ULAT TRITIP (Plutella xylostella) TANAMAN SAWI (Brassica juncea L.)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi dosis penyemprotan ekstrak daun tapak liman terhadap mortalitas hama ulat tritip, pemendekan fase larva menjadi pupa, tingkat kerusakan tanaman sawi, berat basah tanaman sawi, dan dosis pestisida nabati yang paling efektif untuk pengendalian hama ulat tritip. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari kelompok kontrol dan kelompok perlakuan ekstrak tapak liman. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali, dengan rincian P0 (kontrol air), P1 (ekstrak tapak liman 2,5%), P2 (ekstrak tapak liman 5%), P3 (ekstrak tapak liman 7,5%), P4 (ekstrak tapak liman 10%), dan P5 (pestisida sintetik). Analisis data menggunakan uji Anova dan dilanjutkan dengan uji Duncan. Berdasarkan data pengamatan, aplikasi ekstrak tapak liman berpengaruh terhadap mortalitas hama ulat tritip, rata-rata mortalitas tertinggi pada dosis 10%. Aplikasi ekstrak tapak liman berpengaruh nyata terhadap pemendekan fase larva instar IV, dengan rata-rata persentase tertinggi 56% pada dosis 2,5%. Aplikasi ekstrak tapak liman menyebabkan penurunan persentase kerusakan tanaman sawi, kerusakan terendah pada dosis 10%. Aplikasi ekstrak tapak liman juga berakibat pada peningkatan berat basah tanaman sawi sebesar 40,24 gram. Kata Kunci: Ekstrak Tapak Liman (Elephantopus scaber L.), Ulat Tritip (Plutella xylostella), mortalitas, pupa, kerusakan daun, berat basah

    Profil Kromatografi Lapis Tipis Dan Uji Aktivitas Antivirus Ekstrak Etanol Daun Tapak Liman (Elephantopus Scaber L.) Terhadap Virus Avian Influenza

    No full text
    Virus is the microscopic of measured parasite, to infection the organism cell, and only reproducing in material life. The purpose of this research is to know is there antiviral activity or not from the ethanol extract of tapak liman leaves (Elephantopus scaber L.) to Avian Influenza virus including thin layer chromatography profile. The extract was made by maceration method with using ethanol of 96%. Test antiviral activity of ethanol extract tapak liman leaves (Elephantopus scaber L.) using hemaglutinasi test, the test is `performed to determine hemaglutinasi inhibit the ethanol extract of tapak liman leaves (Elephantopus scaber L.) against Avian influenza virus. This research was analyze with the T test with 95% confidence level. The results of group analyse the ethanol extract of tapak liman leaves (Elephantopus scaber L.) compounds tapak liman using thin layer chromatography (KLT). Antiviral activity of test results against Avian influenza virus at the dose concentration of 100μg/ml, 10μg/ml, 1μg/ml shows the average drag each concentration, the concentration of 100μg/ml is 96,737%%, the concentration of 10μg/ml is -700%, and the concentration of 1μg/ml is -775%. The results of thin layer chromatography test (KLT) showed that the ethanol extract of tapak liman leaves (Elephantopus scaber L.) contains a group of flavonoids compound, seskuiterpen lactone and steroid. Keyword: antiviral, ethanol extract, tapak liman, Avian Influenza, thin laye

    Tapak Liman (

    No full text
    This study investigates the impact of induction time and concentration of Tapak Liman (Elephantopus scaber) crude extract on the effectiveness of polyploidy in shallot root (Allium cepa var ascalonium (L). Several parameters were observed, including the mitotic index of cells, the type of polyploidy, percentages of polyploidy cells, and the morphological changes in the polyploid shallot root (Allium cepa var ascalonium (L)) cell. Variations in the concentration of Elephantopus scaber extract were used namely 0% (control), 10%, 20%, and 30% in 100 ml of distilled water. The response variable was the percentages mitotic index formed. Control variables were the type of onion, the size of the onion, the extracted E. scaber variety, the extract volume, and the environmental conditions of the experiment. All parts of Tapak Liman as extracted using the water crude extraction method on all aspects of Tapak Liman. Red onion cell root preparations were squashed and dyed using hematoxylin dyes. The data obtained were mitotic index, % of polyploidy cell counts, polyploidy types, and morphological changes in the polyploid cell onion roots. Data are presented in tabular and graphical form and interpreted using quantitative descriptive and qualitative descriptive methods. From the research results, the best concentration to induce polyploidy in shallot root was 30% of Tapak Liman extract with a polyploid cell percentage of 58.65%. The best polyploid was 45 hours, with the percentage of polyploid-induced cells being 37.1%. The best combination of concentration and length of induction of crude extract of Tapak Liman was a concentration of 30% 45 hours induction time resulting in 87,35% polyploid cells

    Respon pertumbuhan dan peningkatan hasil tanaman bawang merah (allium ascalonicum l.) terhadap konsentrasi dan lama perendaman ekstrak etanolik daun tapak dara (catharanthus roseus (l.) d. don)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons pertumbuhan dan peningkatan hasil tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) terhadap konsentrasi dan lama perendaman ekstrak etanolik daun tapak dara (Catharanthus roseus (L). D. Donn). Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muria Kudus yang dilaksanakan pada bulan April-Juni 2018. Dengan ketinggian tempat 17 mdpl dan jenis tanah latosol dengan pH 7. Penelitian faktorial berpola dasar Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) yang terdiri dari dua faktor dan diulang 3 kali (blok sebagai ulangan). Faktor pertama yaitu konsentrasi ekstrak etanolik daun Tapak Dara terdiri dari tiga aras : K₁ (0,05%), K₂ (0,10%) dan K₃ (0,15%), sedangkan faktor kedua yaitu lama perendaman ekstrak etanolik daun tapak dara terdiri dari tiga aras : L₁ (12 jam), L₂ (24 jam) dan L₃ (36 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak etanolik daun tapak dara (Catharanthus roseus (L.)) D. Don) berpengaruh nyata dan sangat nyata pada pertumbuhan yang ditunjukkan pada parameter tinggi tanaman (29,81 cm) dan jumlah daun (24,19 helai). Sedangkan pada peningkatan hasil tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) konsentrasi ekstrak etanolik daun tapak dara tidak berpengaruh nyata. Lama perendaman ekstrak etanolik daun tapak dara (Catharanthus roseus (L.)) berpengaruh nyata pada pertumbuhan yang ditunjukkan pada parameter jumlah daun (16,67 helai) dan pada peningkatan hasil tanaman bawang merah (Allium ascalonicum L.) konsentrasi tidak berpengaruh nyata. Terdapat interaksi antara perlakuan konsentrasi dan lama perendaman ekstrak etanolik daun tapak dara (Catharanthus roseus (L.)) terhadap parameter bobot brangkasan segar per rumpun. Jika dibandingkan dengan kontrol, perlakuan konsentrasi dan lama perendaman ekstrak etanolik daun tapak dara berpengaruh nyata pada peningkatan hasil tanaman bawang merah yang ditunjukkan pada parameter bobot umbi kering konsumsi, dengan peningkatan hasil mencapai 52,3%-78,8%
    corecore