4,835 research outputs found
Eksplorasi Protein Antimikroba dari Akar Trichosanthes Sp. melalui Sistem Kultur Akar Normal dan Akar Transgenik (Hairy Root) In Vitro
Penelitian ini dilakukan untuk menggali potensi tanaman Trichosanthes sp. sebagai sumber protein bioaktif antimikroba khususnya kitinase dan peroksidase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kultur in vitro berupa tunas dan kalus dapat dihasilkan T. tricuspidata dan T. cucumerina var. anguina, sedangkan kultur akar normal dan akar transgenik (hairy root) mengalami kendala dalam pemantapan pertumbuhan akar dan produksi biomassa yang rendah. Ekstrak kasar protein dari tunas in vitro, kalus dan akar tanaman T. tricuspidata dari lapang memiliki aktivitas kitinase lebih tinggi dibanding daun sedangkan aktivitas peroksidase paling tinggi ditemukan pada ekstrak kasar protein akar tanaman dari lapang. Pada T. cucumerina var. anguina aktivitas kitinase dan peroksidase paling tinggi ditemukan pada ekstrak kasar protein dari akar tanaman dari lapang dan kalus in vitro. Asam salisilat (SA) dapat meningkatkan aktivitas kitinase dan peroksidase pada kalus in vitro T.tricuspidata dan tidak meningkatkan aktivitas kitinase pada akar tanaman di lapang dan kalus in vitro T. cucumerina
Chemical compositions by using LC–MS/MS and GC–MS and antioxidant activities of methanolic extracts from leaf and flower parts of Scabiosa columbaria subsp. columbaria var. columbaria L.
The members of the Scabiosa genus are one of the traditional medicinal plants used in the treatment of many diseases, in particular the treatment of scabies. In this study, it was aimed to determine antioxidant activities and chemical composition of methanolic extracts of leaves and flowers of Scabiosa columbaria subsp. columbaria var. columbaria. The phenolic contents of both parts of the plant were analyzed by LC–MS/MS. A total of 6 phenolic compounds were determined and chlorogenic acid was the major compound in both flower and leaf parts of the plants, with 5936.052 µg/g and 8021.666 µg/g, respectively. 6 different methods were used to determine the antioxidant activity of the plant parts. Both leaf and flower parts of the plant showed high antioxidant activity in all tested methods and the antioxidant activity values of the leaf part were measured higher than those of the flower part for four tests. The methanol extracts of the plant parts was analyzed with GC–MS and number of the essential oil compounds in the leaf and flower parts were determined as 17 and 13, respectively. Linalool compound was also found to be common in both parts of the plant. The major compounds of the essential oils were identified as 4-Octadecenal (30.01%) in the flower and carvone (35.44%) in the leaf. In addition, terpene derivatives was determined as 90.32% of the highest essential oil group in the leaf, while this value was determined as 1.42% in the flower. For the flower, aromatics were determined as the main component group with 21.31%. © 2021The author is grateful Dr. Mutlu G?ltepe for identification of the plant. This research did not receive any specific grant from funding agencies in the public, commercial, or not-for-profit sectors.2-s2.0-8511156865
Dekomposisi Biomassa Akar Halus di Berbagai Kondisi Agroforestri Pinus dan Kopi: Penurunan Berat Massa Akar Halus dari Kantong Dekomposisi
Kondisi agroforestri pinus dan kopi di UB Forest terbagi menjadi empat berdasarkan tingkat manajemen dan dilakukanya tindakan pemngkasan (triming) cabang pohon pinus, yakni low management trimmed (LC-T), low management untrimmed (LC-UT), high management trimmed (HC-T), dan high management untrimmed (HC-UT). Pemangkasan (trimming) akan menyebabkan perbedaan tingkat tutupan kanopi pohon yang akan berpengaruh terhadap iklim mikro pada lahan. Perbedaan iklim mikro tersebut dapat berpengaruh terhadap kerapatan mikroorganisma tanah dan laju dekomposisi akar halus. Selain itu, proses dekomposisi akar bergantung pada kualitas dari akar. Kualitas akar umumnya bervariasi tergantung pada kondisi hara tanah, spesies tanaman, dan diameter akar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh pemangkasan cabang pohon pinus terhadap suhu tanah dan laju dekomposisi akar halus di berbagai kondisi agroforestri pinus dan kopi di UB Forest.
Penelitian dilaksanakan pada bulan April hingga Juni 2019 di UB Forest, Dusun Sumbersari, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pengaturan perlakuan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan sumber keragaman (SK) 1 adalah jenis akar, yakni: (a) akar kopi (K), (b) akar pinus (P), dan (c) akar pinus+kopi (PK). SK 2 adalah lokasi penempatan kantong dekomposisi, yakni di plot LC-T (Low management coffee, dipangkas), LC-UT (tidak dipangkas), dan HC-T (High management coffee, dipangkas), HC-UT (tidak dipangkas). Pengukuran diulang sebanyak 5 kali dan diamati pada minggu ke-1, 2, 4, 8, dan 12 setelah aplikasi (msa). Variabel yang diamati yakni kehilangan massa akar, iklim mikro (suhu udara dan tanah) yang diamati setiap hari, tutupan kanopi (diamati di minggu ke-0), kandungan kimia akar (nisbah C/N, kadar lignin dan polifenol) yang diamati pada minggu ke-0 dan 12.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dilakukannya pemangkasan dapat meningkatkan suhu tanah dan laju dekomposisi akar halus. Suhu tanah di plot yang dilakukan pemangkasan (trimmed) lebih tinggi dari pada di plot yang tidak dipangkas (untrimmed), suhu tanah paling tinggi di plot HC Trimmed (20,37ºC), dan paling rendah di plot LC Untrimmed (19,18ºC). Laju dekomposisi akar paling cepat terjadi pada akar kopi (k= 0,020 dengan t50= 35 minggu) di plot HC Trimmed (dipangkas), dan paling lambat terdekomposisi akar pinus+kopi (k= 0,009 dengan t50= 77 minggu) di plot HC Untrimmed (tidak dipangkas). Peningkatan laju dekomposisi akar halus lebih berhubungan erat dengan faktor internal yakni nisbah C/N (R2= 0,5242; n= 12) dibandingkan dengan faktor eksternal yakni suhu tanah (R2= 0,0242; n= 4)
Adaptation de l'algorithme SOM à l'analyse de données temporelles et spatiales: application à l'étude de l'évolution des performances en matière d'emploi
Cet article étudie l'évolution des performances européennes en matiére d'emploi depuis le début des années quatre vingt dix, en utilisant l'algorithme SOM adapté au traitement de données qui sont à la fois temporelles et spatiales.La carte de Kohonen ainsi obtenue permet d'établir une classification des pays de l'Union Européenne qui tient compte simultanément de l'ordonnancement temporel et spatial des données, et permet alors de comparer les trajectoires des différents pays dans le temps. Nous comparons les résultats obtenus par cette méthode à ceux reposant sur une carte de Kohonen traditionnelle.Classification ; Algorithme SOM ; Emploi ; Union Européenne
ANALISIS KECEPATAN ALIRAN HIDROGEN PEROKSIDA (H2O2) PADA STERILISASI SALURAN AKAR GIGI MENGGUNAKAN METODE NUMERIK VOLUME HINGGA
Hasil penelitian disimpulkan sebagai berikut, pertama, model matematika
sterilisasi saluran akar gigi adalah persamaan yang diselesaikan dengan metode vo-
lume hingga dimana persamaan tersebut adalah merupakan persamaan yang diny-
atakan pada persamaan momentum dan kontinuitas massa. Berikut ini adalah
persamaannya.
Áe(¡½¢y¢t ¡ ½u cos µ¢y¢t) + Áw(½¢y¢t + ½u cos µ ¢y¢t)
+Án(¡½¢x¢t ¡ ½v sin µ¢x¢t) + Ás(½¢x¢t + ½v sin µ¢x¢t)
= ¡p¢y¢t ¡ p¢x¢t + ½g¢y¢t + ½g¢x¢t + 2¹
u
¢x
¢y¢t
+¹
v
¢x
¢y¢t + ¹u¢t + ¹v¢t + ¹
u
¢y
¢x¢t + 2¹
v
¢y
¢x¢t (1)
Kedua, pada proses sterilisasi saluran akar gigi semakin besar sudut sem-
protan jarum suntik kecepatannya akan semakin kecil, semakin kecil sudut sem-
protan jarum suntik maka kecepatannya akan semakin besar. Sudut semprotan
yang ideal untuk sterilisasi saluran akar gigi yaitu sudutnya tidak terlalu besar
dan tidak terlalu kecil agar penyebarannya merata serta kecepatannya sedang.
Ketiga, pada proses sterilisasi saluran akar gigi semakin nilai tekanan pen-
dorongnya lebih besar dari 6 Pa maka nilai kecepatannya semakin besar, semakin
nilai tekanan pendorongnya kurang dari 6 Pa maka nilai kecepatannya negatif. Se-
dangkan untuk tekanan pendorong 6 Pa, kecepatan sedang serta perubahan tiap
panjang domainnya yaitu saluran akar gigi tidak terlalu besar, sehingga kecepatan
penyebarannya merata. Maka dapat disimpulkan tekanan pendorong yang paling
ideal untuk proses sterilisasi saluran akar gigi adalah tekanan 6 Pa.
Keempat, persamaan sterilisasi saluran akar gigi adalah model yang akurat
dalam menyelesaikan kasus pengaruh arah semprotan pada lubang jarum suntik
dan tekanan pendorong pada proses sterilisasi saluran akar gigi karena persamaan
ini error relatifnya kurang dari 1% yaitu sebesar 0,0410790682%
PENINGKATAN BIOMASSA DAN KADAR SAPONIN AKAR RAMBUT TANAMAN GINSENG JAWA (Talinum paniculatum Gaertn.) DALAM KULTUR CAIR
Ginseng jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) banyak dimanfaatkan sebagai sumber penyedia senyawa saponin, flavonoid, tanin, triterpen/sterol, dan polifenol. Saponin ginseng jawa diakumulasi di dalam umbi akarnya. Sayangnya untuk mendapatkan akar tanaman tersebut dibutuhkan waktu yang cukup lama yaitu 3-4 tahun. Karena senyawa berkhasiat pada tanaman ginseng Jawa terakumulasi pada organ akar, maka teknologi kultur akar sangatlah penting untuk dikembangkan agar kelestarian tanaman ini dapat terjaga dan senyawa berkhasiat, terutama senyawa saponin yang diakumulasi di organ akar dapat ditingkatkan.Metode transformasi T-DNA Agrobacterium rhizogenes merupakan alternatif untuk mempercepat produksi akar, karena A. rhizogenes mempunyai kemampuan mengintegrasikan T-DNA yang terdapat pada plasmid Ri ke dalam kromosom tanaman yang akan mengekspresikan gen-gen untuk mensintesis senyawa opin. Disamping itu T-DNA juga mengandung onkogen yaitu gen-gen yang berperan menyandi hormon pertumbuhan auksin dan sitokinin. Ekspresi onkogen pada plasmid Ri mencirikan pembentukan akar adventif secara besar-besaran pada tempat yang diinfeksi dan dikenal dengan "hairy root" (akar rambut)
PENINGKATAN BIOMASSA DAN KADAR SAPONIN AKAR RAMBUT TANAMAN GINSENG JAWA (Talinum paniculatum Gaertn.) DALAM KULTUR CAIR
Ginseng jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) banyak dimanfaatkan sebagai sumber penyedia senyawa saponin, flavonoid, tanin, triterpen/sterol, dan polifenol. Saponin ginseng jawa diakumulasi di dalam umbi akarnya. Sayangnya untuk mendapatkan akar tanaman tersebut dibutuhkan waktu yang cukup lama yaitu 3-4 tahun. Karena senyawa berkhasiat pada tanaman ginseng Jawa terakumulasi pada organ akar, maka teknologi kultur akar sangatlah penting untuk dikembangkan agar kelestarian tanaman ini dapat terjaga dan senyawa berkhasiat, terutama senyawa saponin yang diakumulasi di organ akar dapat ditingkatkan.Metode transformasi T-DNA Agrobacterium rhizogenes merupakan alternatif untuk mempercepat produksi akar, karena A. rhizogenes mempunyai kemampuan mengintegrasikan T-DNA yang terdapat pada plasmid Ri ke dalam kromosom tanaman yang akan mengekspresikan gen-gen untuk mensintesis senyawa opin. Disamping itu T-DNA juga mengandung onkogen yaitu gen-gen yang berperan menyandi hormon pertumbuhan auksin dan sitokinin. Ekspresi onkogen pada plasmid Ri mencirikan pembentukan akar adventif secara besar-besaran pada tempat yang diinfeksi dan dikenal dengan ’hairy root’ (akar rambut)
Analisis Regresi Linier Berganda dengan Prosedur Akar
Regresi Linier Berganda dapat diselesaikan dengan menggunakan prosedur akar.
Di dalam Prosedur akar ini selain dapat mencari nilai penduga titik dan/atau penduga
interval parameter β, juga dapat mencari nilai penduga titik dan/atau penduga interval
kombinasi linier parameter β, menguji pengaruh peubah bebas terhadap peubah tak
bebas dengan menggunakan analisis keragaman parsial dan sekuensial, serta dapat
menguji pengaruh kombinasi linier parameter β. Penelitian ini bertujuan untuk
mengkaji prosedur akar dalam menyelesaikan persoalan regresi linier berganda.
Langkah penelitian skripsi ini adalah mempelajari teori tentang prosedur akar dalam
regresi linier berganda dengan menggunakan bantuan paket program Microsoft Excel.
Dari analisis yang didapat, diperoleh kesimpulan bahwa, dilihat dari uji sekuensial,
model yang didapat setiap kombinasi berbeda. Dilihat dari uji parsial, nilai
hitung
t
yang
didapat jika dikuadratkan akan sama nilainya dengan nilai
hitung
F
pada uji sekuensial
untuk parameter terakhir yang dimasukkan dalam model
Akar Adventif Kedelai Teriradiasi pada Cekaman Genangan
Kedelai (Glycine max L.) merupakan komoditas pangan utama selain padi dan jagung yang mengandung protein, minyak, dan karbohidrat tinggi. Kebutuhan yang meningkat tidak diimbangi dengan peningkatan produksinya. Salah satunya karena pengaruh faktor cekaman genangan. Pada penelitian ini, induksi variasi dilakukan dengan metode iradiasi sinar Gamma dengan dosis penyinaran 25Gy, 50Gy, 75Gy, dan 100Gy. Varian hasil iradiasi kemudian diseleksi pada kondisi tergenang dengan konsentrasi air sebesar 100%, 150%, 200%, dan 250%. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengaruh interaksi antrara cekaman genangan dan iradiasi terhadap jumlah akar adventif pada kedelai. Karakter morfologi yang diamati yang parameter jumlah akar adventif.. Parameter jumlah akar adventif mengalami peningkatan secara signifikan seiring dengan peningkatan konsentrasi penggenangan sedangkan untuk dosis iradiasi tidak memberikan pengaruh terhadap jumlah akar adventif sehingga dapat diketahui bahwa interaksi antara Iradiasi dan Genangan memberikan pengaruh yang tidak signifikan pada parameter akar adventif. Peningkatan jumlah akar adventif tertinggi terjadi pada genangan 250% dan iradiasi 75 Gy dengan nilai tertinggi 7 , sedangkan untuk rata-rata jumlah akar yang paling rendah dengan pemberian dosis iradiasi 25 Gy pada konsentrasi penggenangan 100%, yaitu 1
Senyawa Bioaktif Ekstrak Akar Lamun (Thalassia hemprichii) sebagai Antibakteri Alami Terhadap Bakteri Aeromonas hydrophila dan Vibrio harveyi
Lamun Thalassia hemprichii merupakan lamun yang paling melimpah dan tersebar luas di Indonesia. Spesies lamun ini memiliki potensi sebagai sumber antibakteri alami, akan tetapi pemanfaatannya sebagai antibakteri masih belum optimal. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui senyawa bioaktif yang ada pada akar lamun T. hemprichii dan potensinya sebagai antibakteri alami terhadap bakteri A. hydrophila dan V. harveyi. Metode yang digunakan untuk mengetahui senyawa bioaktif akar lamun T. hemprichii yaitu dengan uji kualitatif skrining fitokimia pada senyawa tanin, flavonoid, dan saponin. Metode yang digunakan untuk mengetahui potensi antibakteri ekstrak akar lamun T. hemprichii terhadap bakteri A. hydrophila dan V. harveyi yaitu dengan melakukan pengujian antibakteri berdasarkan zona hambat yang terbentuk dengan pemberian konsentrasi ekstrak yang berbeda. Terdapat 5 perlakuan yang diuji cobakan pada 2 kelompok bakteri, yaitu ekstrak akar lamun T. hemprichii 10000 ppm, ekstrak akar lamun T. hemprichii 5000 ppm, ekstrak akar lamun T. hemprichii 2500 ppm, kontrol positif (Amphicilin) dan kontrol negatif (aquades) dengan 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak akar lamun secara kualitatif mengandung senyawa bioaktif berupa tanin, flavonoid, dan saponin. Potensi antibakteri ekstrak akar lamun T. hemprichii terhadap bakteri Aeromonas hydrophila dan Vibrio harveyi berdasarkan diameter zona hambatnya termasuk kategori zona hambat lemah. Rentang zona hambat yang terbentuk terhadap bakteri Aeromonas hydrophila pada waktu pengamatan 24 dan 48 jam yaitu 1,66–2,80 mm. Rentang zona hambat yang terbentuk terhadap bakteri Vibrio harveyi pada waktu pengamatan 24 dan 48 jam yaitu 1,41-4,89 mm.
Kata kunci : Thalassia hemprichii; senyawa bioaktif; antibakteri; Aeromonas hydrophila; Vibrio harveyi
- …
