1,721,138 research outputs found
Syamsul Anwar dan Pemikirannya dalam Bidang Hisab-rukyat
Tulisan ini membahas pemikiran Syamsul Anwar dalam bidang ilmu falak, terutamadalam bidang hisab-rukyat. Di tengah minimnya ahli falak di Indonesia, terlebih di lingkungan Muhammadiyah, nama Syamsul Anwar terasa masih sangat asing di telinga kebanyakan orang. Akan tetapi jika kita melihat lebih saksama sesungguhnya dari tangan Syamsul Anwar-lah banyak pemikiran-pemikiran cemerlang tentang hisab- rukyat lahir dan sangat terasa kontribusinya bagi Muhammadiyah khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Tulisan ini memokuskan pada beberapa pemikiran Syamsul Anwar dalam bidang hisab-rukyat, yaitu mengenai kontekstualisasi pemahaman hadis-hadis tentang rukyat, hisab hakiki sebagai metode penentuan awal bulan dan interkoneksi studi hadis dan astronomi
PANDANGAN SYAMSUL ANWAR TENTANG JAMINAN DALAM PEMBIAYAAN AKAD MUDHARABAH PADA PERBANKAN SYARIAH
Pembiayaan akad mud}a>rabah merupakan akad kerjasama dimana pemilik dana mempercayakan hartanya kepada pengelola untuk dikelola. Akad mud}a>rabah merupakan bagian dari akad amanah dan dalam akad ini terdapat unsur “trust” atau kepercayaan. Dengan adanya jaminan dalam pembiayaan akad mud}a>rabah telah keluar dari hukum fikih klasik. Hal ini membuat tidak adanya unsur kepercayaan. Salah satu tokoh hukum Islam kontemporer yakni Syamsul Anwar mengemukakan pendapatnya mengenai jaminan dalam pembiayaan akad mud}a>rabah pada perbankan syariah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode ijtihad yang digunakan Syamsul Anwar dan implikasi terhadap pandangannya.
Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan (Library research) dengan jenis penelitian kualitatif. Dengan sumber data primer yakni melalui tulisan-tulisan Syamsul Anwar seperti dalam buku Studi Hukum Islam kontemporer dan sumber data sekunder sebagai pendukung penelitian ini seperti buku Metodologi Istinbat hukum dari Dewan Hisbah Persatuan Islam. Adapun metode pengumpulan data dengan dokumentasi dan metode yang digunakan deskriptif-analisis dengan pendekatan hukum normatif.
Penelitian metode istinbat yang digunakan oleh Syamsul Anwar tentang jaminan dalam pembiayaan akad mud}a>rabah pada perbankan syariah yaitu mas}lah}ah mursahalah. Mas}lah}ah mursahalah digunakan karena tidak ada dalil al-Qur’an maupun Sunnah yang menjelaskan boleh atau tidak jaminan dalam pembiayaan akad mud}a>rabah. Mas}lah}ah mursahalah tergolong pada tingkatan hajiyah karena tidak mengancam akan keberlangsungan kehidupan manusia dan sebagai tujuannya untuk menghilangkan kesulitan yang ada. Serta adapun implikasi dari pendapat Syamsul Anwar tentang jaminan dalam pembiayaan akad mud}a>rabah pada perbankan syariah tidak dibolehkan jaminan kecuali sebagai upaya antisipasi terjadi kecurangan oleh pengelola dan jaminan mengenai pengembalian dana tidak diperbolehkan hal ini menyerupai akad gadai pada perbankan syariah dan hal ini harus dirubah sesuai dengan prinsip syariah.
Kata Kunci : Jaminan, Mud}a>rabah, Syamsul Anwar
Analisis pemikiran awal bulan Kamariah Syamsul Anwar dalam perspektif fikih dan astronomi
Penelitian yang berupa skripsi ini mengemukakan Pemikiran Syamsul Anwar. Termasuk metode penentuan awal bulan kamariah yang digunakan dan bagaimana hisab dalam perspektif fikih astronomi. Dalam hal ini, penentuan awal bulan kamariah banyak diperbincangkan perdebatan-perdebatan termasuk persoalan hisab rukyat dan juga pembuatan kalender hijriah. Hal ini bukan dari aspek ilmu falaknya yang menjadi persoalan tetapi dari aspek fikih astronominya. Dalam penelitian ini, persoalan yang dibahas adalah: 1. Bagaimanakah penentuan awal bulan Kamariah Syamsul Anwar? 2. Bagaimanakah istinbath hukum awal bulan kamariah Syamsul Anwar dalam perspektif fikih astronomi?
Penulis tertarik untuk meneliti awal bulan Kamariah yang digunakan oleh Syamsul Anwar. Analisis terhadap perspektif fikih astronomi. Selain itu, penulis membandingkan mengenai fikih astronominya dengan metode yang berbeda, yaitu dengan madzhab fikih dan dari segi astronominya dalam penentuan awal bulan kamariah.
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan motode kualitatif (deskriptif analisis) dengan menggunakan pendekatan fikih astronomi. Jenis data adalah field research. Sebagai sumber data primernya adalah seluruh data yang diperoleh secara langsung yaitu data yang diperoleh dari hasil wawancara (interview) kepada Syamsul Anwar. Sedangkan data sekundernya adalah seluruh dokumen berupa buku-
xi
buku, tulisan-tulisan atau makalah-makalah yang berkaitan dengan obyek penelitian. Dan dalam analisis penulis menggunakan metode komparasi yaitu dengan metode hisab rukyatnya pemerintah.
Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa hisab Syamsul Anwar dari perspektif fikih, penggunaan hisab didasari oleh hadis. Hadis-hadis tersebut memberi peluang untuk digunakannya hisab. Ini menandakan perbedaan interpretasi dalam memahami hadis tentang awal bulan kamariah. Dalam perspektif astronomi, hisab yang digunakan untuk menentukan jatuhnya awal bulan kamariah adalah hisab yang berlaku untuk semua wilayah dan perbedaan memahami hilal untuk menentukan awal bulan. Dalam hal ini kurang tepatnya memaknai matlak suatu daerah sebagai penentuan jatuhnya awal bulan kamariah
METODE HISAB DALAM RANGKA MENYELESAIKAN PERBEDAAN PUASA ARAFAH ANTARA INDONESIA DENGAN ARAB SAUDI: Telaah Atas Pemikiran Profesor Syamsul Anwar
Abstrak: Menurut Profesor Syamsul Anwar, metode rukyat ini memiliki aneka kendala, di antaranya kendala alam yakni jangkauan rukyat apalagi pada awal bulan terbatas tampakannya di muka bumi, sehingga akan berbeda antara negara yang telah melihatnya dengan daerah yang belum melihatnya, dengan kata lain rukyat adalah adalah sarana universal tapi berlaku temporal dan lokal. Karenanya menurutnya metode yang dapat menyatukan awal bulan kamariah adalah metode hisab karena metode ini lebih reliable untuk saat ini. Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah: (1) bagaimana pandangan Profesor Syamsul Anwar tentang Rukyatul hilal dalam kaitannya dengan penanggalan awal bulan kamariah, (2) bagaimana pemikiran Profesor Syamsul Anwar tentang hisab dan (3) apa upaya yang dapat dilakukan untuk menyatukan momen-momen keagamaan seperti idul fitri, idul adha termasuk perbedaan pelaksanaan puasa Arafah antara Indonesia dengan Arab Saudi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode rukyat menurut Profesor Syamsul Anwar menimbulkan banyak kendala,karena jangkauan rukyat terbatas tampakannya di muka bumi, mungkin sekali hilal terlihat di Arab Saudi, namun tidak terlihat di Indonesia.Hilal mungkin terlihat di Amerika tetapi tidak di Arab Saudi. Karena perbedaan rukyat di berbagai tempat, maka awal bulan pun jatuh berbeda, hal ini berbeda dengan hisab, karena hisab tidak mengalami kendala dengan faktor alam, karena ia ,menghitung gerak bulan yang sesungguhnya, sehingga metode hisab dapat menjatuhkan awal bulan dengan serentak di seluruh dunia.Kata Kunci: rukyah, hisab, al-maqashid asy-syari’ah, puasa Arafah, kalender Islam unifikati
Wacana Studi Interkoneksi Hadis "Telaah Ringkas Pemikiran Hadis Syamsul Anwar"
Tulisan ini mendiskusikan kemungkinan untuk mendekatkan kajian agama yang berbasis wahyu dengan keilmuan lain yang berbasis ilmu empiris, khususnya tentang kajian hadis. Dengan menelaah pemikiran Prof. Syamsul Anwar, penulis menyimpulkan bahwa pendekatan integratif-interkonektif mampu menjembatani dan saling melengkapi kedua tradisi di atas. Namun demikian, pendekatan integratif memerlukan prasyarat yang terlalu berat, seperti restrukturisasi ilmu baik dari segi paradigma, teori, dan metode, sehingga memerlukan kajian yang lebih intensi. Sedangkan pendekatan interkonektif lebih tepat dipergunakan untuk kajian hadis kontemporer saat ini, yang akan akan menghasilkan empat fungsi: komplementasi, konfirmasi, kontribusi, dan komparasi
PENDEKATAN INTERKONEKSI DALAM STUDI HADIS; (STUDI PEMIKIRAN SYAMSUL ANWAR)
This paper explains Syamsul Anwar's idea of ??the interpretive model of hadith through the interconnection approach. The interconnection model of hadith and astrononomy studies developed by Syamsul Anwar is a novelty in the reconstruction of a new way of reading and understanding in the area of ??study of Hadith studies. The analysis is done by combining the theories of classical, modern (western) hadith and the theory of astronomy (visibility of hilal) simultaneously and synergistically. Referring to the classification of Abdullah Saeed's model of thinking, the interpretation of Hadith's perspective includes the Muslim thinker in the progressive ijtihadist group. That is, traditional Islamic law requires change and reform in order to adapt to the current conditions of society, to support the need for a fressive ijtihad, to combine classical Islamic scholarly thinking with modern Western thought, to believe that social, intellectual, legal, economic and technological change must be reflected in Islamic law
The effect of my occupational engagement program (MYOCEP) on cognitive functions, social relationship, and quality of life among older people with mild dementia in institution / Syamsul Anwar Sultan Ibrahim
The proportion of older people in Malaysia is increasing and it is anticipated that Malaysia will become an ageing country by the year 2030. Increased in age often associated with increase in disability or risk of diseases. In addition to the changes in health status, there are also changes in socio-demographic and socio-fabric characteristics of Malaysian society that could lead to the influx of older population in older people institutions. On top of that, several studies also indicated that the health status amongst older people in institutions are deteriorating. There is a decline in functional abilities and health statuses such as musculoskeletal related conditions, and cognitive related disease such as dementia. Older people with dementia will experience the cognitive difficulties that are believed to have a significant impact their daily life. There are several approaches which can be classified as either pharmacological or non-pharmacological interventions for people with dementia. Currently, the non-pharmacological interventions for dementia are increasingly considered as the alternative treatment in providing a positive benefits in delaying the disease’s progression and improving the quality of life. However, the information regarding the intervention toward dementia in institution is inconclusive and lack of integration between approaches as medium of intervention. Therefore, this study intended to identify the effect of a newly developed intervention known as MyOCEP to improve cognitive functions, social relationship, and quality of life among older people in institution. There are two phases in this study. Phase one described the development process of the intervention in four different stages. In phase two, randomized controlled trial study has been conducted two identify the effectiveness of the intervention. Thirty two older people with mild dementia who fit into the inclusion criteria were randomly allocated to the intervention and control groups. Participants in the intervention group received fourteen sessions of intervention program conducted by trained occupational therapists while participants in the control group only received standard occupational therapy intervention. Lowenstein Occupational Therapy Cognitive Assessment – Geriatric (LOTCA-G), Location Learning Test (LLT), Friendship Scale (FS), and WHOQOL-BREF were used to measure the cognitive functions, social relationship, and quality of life. Independent occupational therapists administered all outcome measures before and immediately after the program. At the end of seven weeks, participants in the experimental group improved significantly in cognitive functions in the subtest of orientation for time (orientation domain), object constancy (perception domain), block design and drawing a clock (visuomotor organization domain), categorization (thinking operations domain), everyday objects (memory domain), and attention and concentration domain, social relationship, and the domains of quality of life (physical, psychological, social, and environment) in comparison to the participants in the control group on a between group analysis. These results provide evidence to support the use of multi approaches intervention in improving cognitive functions, social relationship and quality of life for older people with mild dementia in institution. Findings from this study suggest that engagement in occupational activities is beneficial in the milder stages of dementia, potentially in delaying the progress of the disease as well as minimizing the risk of further deterioration thus improving the quality of life. This research is confined to an elderly institution and also limited to the category of older people with mild dementia. Therefore, a wide scale of randomized testing together with the evaluation on functional aspect in daily living might be necessary in the future
Using art for older persons with dementia / Akehsan Dahlan, Syamsul Anwar Sultan Ibrahim and Nur Atiqah Azman
Ageing is a phenomenon experienced by every country in the world. It is projected that 1 in 6 people in the world will be 60 years and over with 1.4 billion older populations by 2030. Malaysia is no exception with expected 15% older adult population in 2030. The growth of older populations, from 3.5 million (10.7%) in 2021 to 3.6 million (11.1%) in 2022 (as in Figure 1) indicated the increased life expectancy of the baby boomer’s generation, from 63.6 years (2011) to 75.6 years in 2021. Malaysia provides the best treatment for their older adult population. Although older populations are mostly affected with bad health conditions, Malaysia holds its promise to prepare for super ageing nation so the elders can live with comfort and dignity through provision of better healthcare services. The country aims to prepare the older adults to be healthy, independent and live a quality life, physically, psychologically and socially
Psychological distress among the B40 population in Selangor / Dini Hazwani Zailani, Syamsul Anwar Sultan Ibrahim and Rosilah Wahab
Mental illness affects one-fourth of people worldwide, making it one of the significant contributors to the disease burden in today's fast urbanizing society. Psychological distress is always accompanying mental health; according to various researchers, depression and anxiety are indicators of a condition of emotional suffering. The severity of the symptoms and their influence on the person's everyday life determine the level of distress. This study aimed to determine the prevalence of psychological distress among the B40 adult population in Selangor and to identify any differences between psychological distress and demographic characteristics. A cross-sectional study was conducted online with 181 participants from the B40 group in Selangor. Findings revealed that more than half of the respondents for this study have a high risk of developing mental health problems where demographic data such as age, marital status, occupation, ethnicity and educational status can influence developing psychological distress. Therefore, it is essential to prevent or reduce the risk of psychological distress among this group by recommending them to seek treatment with the related parties
Translation and psychometric properties of attitudes questionnaire into Malay version / Nurul Asheera Alimin, Syamsul Anwar Sultan Ibrahim and Dr. Akehsan Dahlan
There are several major reviews on studies of demographic variables associated with negative attitudes toward disabled people
- …
