1,720,979 research outputs found
ELIMINASI PMWAV PADA EKSPLAN NANAS DENGAN PERLAKUAN AIR PANAS DAN PENGARUHNYA TERHADAP VIABILITAS EKSPLAN
Penyakit layu nanas telah menjadi masalah serius dalam budidaya nanas di seluruh dunia. Penyakit layu nanas berasosiasi dengan infeksi Pineapple mealybug wilt-associated virus (PMWaV) dan ditularkan oleh vektor kutu putih. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektifitas perlakuan air panas untuk mengeliminasi PMWaV pada eksplan nanas, dan pengaruh perlakuan air panas terhadap daya tumbuh eksplan. Dalam penelitian ini eliminasi PMWaV pada dilakukan dengan perlakuan air panas pada eksplan dalam perbanyakan massal nanas dengan kultur jaringan. Perendaman crown di dalam air panas dengan suhu 35°C selama 24 jam sebagai pre-treatment, dilanjutkan dengan perlakuan air panas 56 °C selama 60 menit atau perlakuan air panas 58°C 40 menit. Selanjutnya eksplan tunas apikal dan lateral dikulturkan pada medium MS serta dipindah tanam ke medium B2N1. Eksplan tunas apikal mulai tumbuh dengan membentuk daun sejak 1 minggu setelah inisiasi (msi), sedangkan pertumbuhan eksplan tunas lateral mulai terjadi sejak 2 msi ditandai dengan terjadinya pembengkakan mata tunas dan penebalan pada mata tunas sehingga terlihat berwarna gelap. Eksplan tidak menunjukkan pertumbuhan yang signifikan hingga 12 msi namun mata tunas tetap hijau, menandakan eksplan tersebut hidup. Terhambatnya pertumbuhan tunas dan akar pada eksplan dapat disebabkan oleh perubahan keseimbangan dan konsentrasi zat pengatur tumbuh, serta penurunan viabilitas eksplan akibat perlakuan air panas pada eksplan. Dengan demikian perlakuan air panas pada eksplan belum dapat diaplikasikan bersamaan dengan teknik kultur jaringan nanas untuk mendapatkan bibit bebas PMWaV
DETEKSI SEROLOGI VIRUS PENYEBAB PENYAKIT MOSAIK PADA TANAMAN CABAI DENGAN DAS-ELISA SEROLOGYCAL DETECTION OF MOSAIC VIRUS ON CHILI CROP BY DAS-ELISA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebab penyakit mosaik pada tanaman cabai di Curup, Kab. Rejang Lebong dengan metode Double Antibody Sandwich Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (DAS-ELISA). Kegiatan penelitian diawali dengan survey lapang meliputi pengamatan gejala penyakit mosaik pada tanaman cabai, kemudian dilakukan deteksi virus dengan DAS-ELISA. Berdasarkan tipe gejala dan deteksi serologi tanaman sampel yang dikoleksi dari Curup terinfeksi cucumber mosaic virus. Tipe gejala penyakit mosaic antara lain mosaic, shoes string, dan menguning
Cowpea mild mottle virus; Keragaman Genetik, Kisaran Inang, Potensi Tular Benih pada Kedelai, dan Epidemi Penyakit.
Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan utama di Indonesia setelah
padi dan jagung. Produktivitas kedelai saat ini masih di bawah target pemerintah
untuk mencapai swasembada kedelai. Oleh karena itu sejak tahun 2015 pemerintah
melalui Kementerian Pertanian mengupayakan swasembada kedelai melalui
program Upaya Khusus Padi Jagung Kedelai (Upsus Pajale). Program tersebut
dilaksanakan dengan perluasan lahan tanam serta peningkatan produktivitas di
sentra-sentra budidaya tanaman pangan. Berbagai faktor yang dapat meningkatkan
daya hasil tanaman kedelai perlu untuk diperhatikan dan diterapkan. Penelitian
dilakukan dengan tujuan utama mempelajari sifat-sifat CPMMV dan status tular
benihnya pada kedelai di Indonesia.
Salah satu kendala dalam budidaya kedelai adalah infeksi virus yang dapat
menyebabkan penyakit penting dan menurunkan produktivitas tanaman kedelai.
Cowpea mild mottle virus (CPMMV) merupakan salah satu virus yang dilaporkan
menjadi penyakit endemik di pertanaman kedelai di Jawa dan Sumatera. Survei
telah dilakukan untuk memperbaharui status daerah sebar CPMMV pada kedelai di
Indonesia. Selain itu dilakukan juga penelitian untuk mendapatkan karakter
molekuler, serta variasi genetik CPMMV dari beberapa daerah budidaya kedelai di
Indonesia. Hasil survei tahun 2014-2015 mengonfirmasi CPMMV sebagai virus
yang paling banyak dideteksi dari sampel tanaman kedelai asal Jawa Barat
(Cirebon, Cianjur, Bogor), Daerah Istimewa Yogyakarta (Bantul), Jawa Timur
(Ngawi), Sumatera Selatan (Musi Banyuasin), Bengkulu (Sungai Hitam), Jambi
(Kota Baru), dan Sulawesi Tenggara (Kendari). Selain CPMMV, juga berhasil
dideteksi Cucumber mosaic virus (CMV), Soybean mosaic virus (SMV), dan
Mungbean yellow mosaic India virus (MYMIV) pada sampel hasil survei. Lima
klon DNA coat protein CPMMV asal Bantul, Musi Banyuasin, Cirebon, Kendari
dan Cianjur berhasil diperoleh dan sudah dilakukan sikuensing. Homologi sikuen
diantara CPMMV isolat Indonesia berkisar antara 88.2-99.8%; sedangkan
homologinya dengan CPMMV isolat Taiwan dan China berkisar 88.2-98.6%.
Berdasarkan analisis filogenetik diketahui bahwa CPMMV isolat Bantul, Cirebon,
Musi Banyuasin (Palembang) membentuk satu kelompok dengan CPMMV isolat
Taiwan (nomor aksesi JX020701); sedangkan CPMMV isolat Cianjur lebih dekat
dengan isolat China (nomor aksesi KX534092); dan CPMMV isolat Kendari lebih
dekat dengan isolat Puerto Rico (nomor aksesi GU191840), Brazil (nomor aksesi
KC884247), dan USA (nomor aksesi KC774020).
Perbedaan kisaran inang, dan keragaman gejala infeksi CPMMV telah
banyak dilaporkan. Namun, CPMMV belum pernah dilaporkan menyebabkan
infeksi alami pada tanaman lain selain kedelai di Indonesia. Pengujian kisaran
inang telah dilakukan pada beberapa tanaman Leguminoceae (Vigna unguiculata
subsp. sesquipedalis, V. radiata, Phaseolus vulgaris, Arachis hypogaea, dan
Glycine max), Solanaceae (Lycopersicum esculentum, Solanum melongena,
Nicotiana tabacum, dan N. benthamiana), Amaranthaceae (Gomphrena globosa),
dan Chenopodiaceae (Chenopodium amaranticolor) menggunakan dua isolat
CPMMV, yaitu isolat CR16 (asal Cirebon) dan KN10 (asal Kendari). Selain itu
juga diuji respons 10 varietas kedelai terhadap infeksi CPMMV. Metode inokulasi
CPMMV pada tanaman uji adalah secara mekanis. Infeksi CPMMV pada tanaman
uji dikonfirmasi dengan metode dot immunobinding assay (DIBA) menggunakan
antiserum spesifik CPMMV. Hasil pengujian kisaran inang menunjukkan bahwa
diantara 11 tanaman uji, gejala lokal hanya muncul pada C. amaranticolor dan
G.globosa; sedangkan gejala sistemik ditemukan pada 9 tanaman uji lainnya.
Semua tanaman uji yang menunjukkan gejala sistemik dapat menimbulkan infeksi
CPMMV saat diinokulasi kembali pada tanaman kedelai. Hal ini menunjukkan
potensi tanaman Leguminoceae dan Solanaceae sebagai sumber inokulum
CPMMV pada tanaman kedelai. Varietas ‘Argomulyo’, dan ‘Grobogan’ tahan
CPMMV isolat CR16; namun, tidak ada varietas kedelai uji yang tahan terhadap
CPMMV isolat KN10. Varietas ‘Detam1’, ‘Detam2’, ‘Detam3’, dan ‘Wilis’ rentan
terhadap kedua isolat CPMMV; sedangkan ‘Detam4’ dan ‘Dena1’ menunjukkan
respons moderat terhadap kedua isolat CPMMV. Varietas ‘Malika’ menunjukkan
respons moderat terhadap CR16 namun rentan terhadap KN10. Hasil pengujian
kisaran inang dan respons beberapa varietas kedelai dapat digunakan sebagai
pertimbangan menentukan pola tanam di daerah sentra tanaman kedelai.
Potensi tular benih CPMMV hingga saat ini masih belum pasti. Beberapa
peneliti melaporkan CPMMV dapat tular benih pada kedelai, kacang panjang, dan
buncis. Namun, beberapa peneliti lainnya membuktikan bahwa CPMMV tidak tular
benih pada kedelai. Pengujian potensi tular benih CPMMV pada kedelai perlu
dilakukan, terutama terkait penyediaan benih kedelai untuk program upaya
swasembada kedelai di seluruh Indonesia. Penelitian telah dilakukan untuk
menentukan potensi tular benih CPMMV melalui uji kesehatan benih pada 10
varietas kedelai dan metode DIBA untuk mengonfirmasi infeksi CPMMV.
Percobaan lapangan juga dilakukan untuk mengevaluasi efisiensi CPMMV terbawa
benih kedelai sebagai sumber inokulum awal di lahan, mempelajari perkembangan
penyakit belang dengan beberapa tingkat inokulum awal (0%, 10%, 30%, dan
50%), dan mempelajari pengaruh infeksi CPMMV terhadap pertumbuhan dan daya
hasil kedelai. Infeksi CPMMV berhasil dideteksi pada benih kedelai var. 'Detam
2', 'Detam 3', 'Malika', 'Anjasmoro', dan 'Argomulyo'; tetapi tidak ditemukan di
'Detam 1', 'Detam 4', 'Wilis', 'Grobogan', dan 'Dena 1'. Percobaan lapangan
menunjukkan bahwa insidensi infeksi CPMMV pada benih kedelai var. 'Anjasmoro'
yang berasal dari sumber yang berbeda (Bogor, Cianjur, Cirebon) adalah 32-75%,
dan menyebabkan insidensi penyakit belang berkisar 56-81%. Potensi CPMMV
tular benih melalui benih kedelai var. 'Anjasmoro' menjelaskan insidensi penyakit
belang yang tinggi pada sentra pertanaman kedelai di Indonesia. Analisis regresi
antara insidensi penyakit di lapangan (Y) dan insidensi penyakit pada benih di
rumah kaca (X) menunjukkan persamaan linier Y= 41.24 + 0.54 X (n=3, R2= 0.98)
berbeda nyata pada α=8%. Penggunaan benih dengan infestasi virus tersebut
terbukti berpotensi sebagai sumber inokulum awal di lapangan yang berada di lahan
sejak awal pertumbuhan tanaman.
Data dari percobaan lapangan menunjukkan juga bahwa semakin tinggi
tingkat inokulum awal, semakin tinggi pula insidensi penyakit pada akhir
pengamatan. Insidensi penyakit belang pada perlakuan inokulum awal 10%, 30%,
dan 50% berbeda nyata dengan pada perlakuan kontrol (0%). Penggunaan benih
kedelai yang bebas virus, seperti ‘Wilis’, akan menekan perkembangan penyakit;
sebaliknya benih kedelai yang membawa virus akan meningkatkan laju
perkembangan penyakit. Infeksi CPMMV pada tanaman kedelai tidak hanya
menyebabkan gejala mosaik tetapi juga menurunkan jumlah daun, polong dan
jumlah biji.
Sehubungan dengan perluasan daerah penanaman kedelai di Indonesia,
pemantauan daerah sebar penyakit belang yang disebabkan oleh CPMMV perlu
dilakukan secara teratur. Hal ini penting untuk mengidentifikasi daerah-daerah
yang berpeluang menjadi daerah epidemi CPMMV. Pengetahuan tentang kisaran
inang, respons ketahanan beberapa varietas kedelai dan potensi tular benih
CPMMV dapat menjadi dasar pertimbangan penentuan teknik budidaya dan pola
tanam kedelai
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
PENGEMASAN VAKUM PADA GURAMI PRESTO UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PRODUK DI KOPERASI PRODUKSI AMANAH SEJATI KOTA BENGKULU
Gourami fish has been cultivated and marketed by the Amanah Sejati cooperative located in Bengkulu city. Gurami is sold as fresh product. The price is not comparable with the cost of gurami cultivation. Therefore, it is necessary to make an effort to increase the economic value of the gourami fish. One of the solutions is to make it into presto gourami products. The gourami fish is then vacuum-packed to improve the quality and extend its shelf life. Community service aims to (1) provide knowledge about the type of packages, and (2) provide knowledge about how to vacuum packaging on presto gourami. These community services are coordination and socialization, counseling, and practice. These services were going well. The participants were enthusiastic about the counseling and practice.
First Report of Banana Bunchy Top Disease on Banana in Bengkulu.
Banana is a horticulture crop that has economic value and is widely cultivated in tropical countries. Banana production in Bengkulu province reached 259,748 quintals, then durian (110,387 quintals), tangerines (94,396 quintals) (BPS 2015). Banana bunchy top disease caused by Banana bunchy top virus (BBTV) infection is considered the most crucial virus disease affecting yield losses of a banana plantation in Asia, Africa, and the South Pacific. However, the incidence and molecular characters of BBTV has never been reported in Bengkulu. This research aims to characterize symptom variations, disease incidence, and disease severity of BBTV infection in Bengkulu and virus detection using molecular methods by polymerase chain reaction (PCR). Disease incidence of BBTV was measured based on field symptoms. The disease survey was conducted in Bengkulu city, Bengkulu Utara district, and Rejang Lebong district. The study showed that the incidence of BBTV in Bengkulu City, Bengkulu Utara, and Rejang Lebong ranged from 0% to 100%. The most common symptoms observed in the field involved vein clearing, upturned leaf, chlorotic, and ragged margins, reducing petiole length, distance, lamina width, and stunting. Banana crops that are infected with BBTV in the vegetative phase will not produce fruit. In contrast, viral infection in the generative phase causes the formation of stunted fruit that is not suitable for harvesting. Thus, the potential loss of yield due to stunted disease can reach 100%. This study's results are the first reports of BBTV infection in banana crops in Bengkulu. Disease diagnosis will form the basis of disease control strategies in banana crops
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PRODUKSI DAN PEMASARAN SUSU KEDELAI
Kegiatan pengabdian pada masyarakat (PPM) ini dilakukan dengan pemberdayaan masyarakat kelompok Tani Pelita Kusuma di Desa Bumi Harjo, Kecamatan Pinang Raya Kabupaten Bengkulu Utara. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengaktifkan kembali produksi susu kedelai yang sebelumnya terhenti karena beberapa kendala. Melalui kegiatan PPM ini diharapkan dapat memperbaiki kinerja kelompok Tani Pelita Kusuma dalam produksi, tata kelola keuangan, dan pemasaran. Program ini dilakukan melalui beberapa tahap, yakni 1) produksi susu kedelai siap saji; 2) transfer teknologi pengemasan susu kedelai; 3) Pemasaran produk dan aspek manajemen keuangan. Program kerja ini terlaksana dengan baik dengan pelatihan dan pendampingan anggota kelompok tani. Setelah kegiatan ini terjadi peningkatan kuantitas dan kualitas produksi olahan susu kedelai di kelompok Tani Pelita Kusuma. Pemasaran produk dan manajemen keuangan sangat penting untuk keberlanjutan usaha ini di masa yang akan datang. COMMUNITY EMPOWERMENT EFFORT THROUGH SOYMILK PRODUCTION AND MARKETING. This community service activity (PPM) is carried out by empowering the Pelita Kusuma farmer group community in Bumi Harjo Village, Pinang Raya District, North Bengkulu Regency. The purpose of this activity is to reactivate the production of soymilk which was previously stopped due to several obstacles. Through this PPM activity, it is expected to improve the performance of the Pelita Kusuma farmer group in production, financial management, and marketing. This program is carried out through several stages, namely 1) the production of ready-to-eat soy milk; 2) transfer of soy milk packaging technology; 3) Product marketing and financial management aspects. This work program is well implemented with the training and mentoring of farmer group members. After this activity, there was an increase in the quantity and quality of processed soymilk production in the Pelita Kusuma Farmer group
- …
