434 research outputs found
PEREMPUAN PENDULANG TIMAH DALAM NOVEL PADANG BULAN KARYA ANDREA HIRATA SUATU PENDEKATAN PSIKOLOGI KEPRIBADIAN
Novel Padang Bulan merupakan salah satu karya Andrea Hirata. Novel
Padang Bulan menceritakan tentang seorang perempuan pendulang timah pertama di
dunia bernama Enong. Gadis yang berusia 14 tahun ini berusaha memperbaiki
kehidupan keluarganya menjadi lebih baik lagi. Enong merelakan dirinya menjadi
seorang pendulang timah lantaran gagal mencari kerja di Tanjong Pandan. Sejak
Ayahnya meninggal, Enong mengambil alih peran Ayahnya sebagai tulang punggung
keluarga.
Penelitian ini difokuskan untuk menjawab rumusan masalah yaitu: 1)
bagaimana keterkaitan unsur-unsur struktural yang terdapat dalam novel Padang
Bulan karya Andrea Hirata yang meliputi judul, tema, tokoh dan perwatakan,
konflik, serta latar?; 2) bagaimanakah nilai-nilai pragmatik yang menekankan pada
psikologi kepribadian terhadap tokoh Enong?. Tujuan penelitian yaitu: 1)
mendreskripsikan struktur yang terdapat dalam novel Padang Bulan karya Andrea
Hirata yang meliputi judul, tema, penokohan dan perwatakan, konflik, serta latar?; 2)
mendiskripsikan nilai-nilai psikologi kepribadian pada tokoh Enong?.
Adapun langkah-langkah metode kualitatif deskriptif dalam penelitian ini
sebagai berikut. 1) memahami novel yang akan dijadikan objek penelitian melalui
proses membaca; 2) mengklasifikasi data yang sudah didapat sesuai dengan yang
dibutuhkan dalam analisis struktural dan analisis psikologi kepribadian; 3) melakukan
analisis struktural yang meliputi unsur-unsur intrinsik dalam karya sastra tersebut
(judul, tema, penokohan dan perwatakan, konflik, serta latar); 4) melakukan analisis
pragmatik yang menekankan pada aspek psikologi dilihat dari aspek kebutuhan
antarpribadinya. Konsep psikologi yang dikaji dalam novel ini, yaitu kebutuhan
antarpribadi yang membentuk karakter Enong sebagai tokoh utama, serta tipe
kepribadiannya secara psikologi menurut masing-masing kebutuhan/kelakuan
tersebut di atas.
Judul novel Padang Bulan karya Andrea Hirata menunjukkan beberapa
pengertian; kegigihan dan semangat Enong seperti sinar bulan yang mampu
menerangi kegelapan, serta menunjukkan nama sebuah tempat yang berkaitan dengan
masa lalu Ikal atau Andrea Hirata kecil.
Tema mayor dalam novel ini adalah “pengejar mimpi besar tidak mengenal
batasan waktu”. Tema mayor ini didukung dengan beberapa tema minor yaitu pesan
Ayah terhadap anak dalam memberikan semangat juang, serta masa lalu Ikal yang
turut menyeret tokoh utama dalam cerita.
Tokoh utama dalam novel Padang Bulan karya Andrea Hirata adalah Enong.
Enong berwatak datar (flat character). Tokoh bawahan yang mendukung pergerakan
tokoh utama antara lain Zamzami, Syalimah, detektif M. Nur, dan Ikal. Dari semua
tokoh bawahan tersebut, hanya Zamzami yang memiliki watak datar (flat character).
Konflik fisik terjadi antara Enong dengan penambang timah lain. Hal itu
menyambungkan konflik fisik antara Enong dengan alam dimana dia harus jatuh
terperosok ke sungai. Konflik batin (internal) terjadi antara Enong dengan
masyarakat, Ikal dan kata hatinya.
Latar yang terdapat dalam novel Padang Bulan karya Andrea Hirata antara
lain tempat, waktu dan latar sosial. Latar tempat; tambang timah, emper toko,
Numpang Miskin, kantor POS, dan Tanjong Pandan. Latar waktu; subuh, pagi, sore
dan tengah malam. Latar sosial membahas tentang tradisi kejutan, mitos anak tertua,
logat Melayu serta kaum Tionghoa.
Analisis pragmatik menggunakan pendekatan psikologi kepribadian, yang
lebih menekankan pembahasan pada teori kebutuhan antarpribadi Williams C Schutz.
Dalam kebutuhan ketermasukan, Enong lebih dominan pada tipe sosial. Dalam
kebutuhan kekuasaan, Enong cenderung pada tipe demokrat. Sedangkan dalam
kebutuhan keafektifan, Enong lebih dekat dengan tipe hiperpersonal.
Manfaat yang dapat diambil penulis adalah, penulis lebih mampu memahami
keakuan tokoh dengan konsep antarpribadi manusia. Teori ini menjelaskan tentang
bagaimana mengenal pribadi tokoh dari tokoh lain dalam karya cerita
KAJIAN PSIKOLOGI HUMANISTIK TOKOH UTAMA NOVEL DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN KARYA TERE-LIYE
Novel Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin merupakan salah
satu karya Tere-Liye. Novel ini menceritakan tentang seorang perempuan
bernama Tania yang berusaha ingin memperbaiki kehidupannya menjadi lebih
baik lagi. Tania dapat menjadi lebih baik lagi karena pertolongan Danar. Tania
selalu mendapat dorongan semangat dari Danar untuk memenuhi keinginannya.
Tania adalah anak jalanan akhirnya dia diangkat oleh Danar dan dididik sampai
dapat sekolah dan tumbuh dewasa cantik, pandai seperti yang diharapkan Danar.
Akhirnya perasaan Tania dan Danar lambat laun tumbuh. Akan tetapi perasaan
mereka tidak dapat saling memiliki karena hubungan mereka dibatasi dengan
masalah kehidupan.
Penelitian ini difokuskan untuk menjawab rumusan masalah yaitu, 1)
mendreskripsikan struktur yang terdapat dalam novel Daun yang Jatuh tak
Pernah Membenci Angin karya Tere Liye yang meliputi judul, tema, penokohan
dan perwatakan, latar, serta konflik?; 2) mendreskripsikan nilai-nilai psikologi
humanistik yang terdapat dalam novel Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci
Angin karya Tere Liye yang meliputi kebutuhan kebutuhan dasar fisiologis,
kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan cinta dan memeliki, kebutuhan akan
harga diri, kebutuhan akan aktualisasi?; Tujuan penelitian yaitu: 1) bagaimana
struktur yang terdapat dalam novel Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin
karya Tere Liye yang meliputi judul, tema, penokohan dan perwatakan, latar, serta
konflik. 2) bagaimana psikologi humanistik yang terdapat dalam novel Daun yang
Jatuh tak Pernah Membenci Angin karya Tere Liye yang meliputi kebutuhan
kebutuhan dasar fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan cinta dan
memeliki, kebutuhan akan harga diri, kebutuhan akan aktualisasi.
Adapun langkah-langkah metode kualitatif deskriptif dalam penelitian ini
sebagai berikut. 1) memahami novel yang akan dijadikan objek penelitian melalui proses membaca; 2) mengklasifikasi data yang sudah didapat sesuai dengan yang
dibutuhkan dalam analisis struktural dan analisis psikologi humanistik; 3)
melakukan analisis struktural yang meliputi unsur-unsur intrinsik dalam karya
sastra tersebut (judul, tema, penokohan dan perwatakan, latar, dan konflik); 4)
melakukan analisis pragmatik yang menekankan pada aspek psikologi humanistik
(kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan
akan cinta dan memiliki, kebutuhan akan harga diri, kebutuhan akan aktualisasi
diri).
Tema mayor dalam novel Daun yang Jatuh tak Pernah Membenci Angin
karya Tere Liye adalah mengikhlaskan perasaan cinta untuk tidak saling memiliki
sebagai tema mayor. Batasan cinta untuk saling memiliki; Prasangka buruk
menimbulkan konflik dalam keluarga merupakan uraian mengenai tema minor.
Tokoh utama adalah Tania yang berwatak bulat. Tokoh bawahan meliputi Danar
berwatak bulat, sedangkan Ratna dan Anne merupakan tokoh bawahan yang
berwatak datar. Latar yang ada meliputi dijabarkan sebagai latar tempat, latar
waktu dan latar sosial. Latar tempat meliputi kota Depok, rumah kardus, dan
Singapura. Latar waktu meliputi penyebutan , pagi, siang sore dan malam. Latar
sosial menyaran perbedaan prilaku kehidupan sehari-hari yang dialami oleh Tania
di lingkungan orang-orang baru di Singapura.
Konflik yang terdapat dalam novel Daun yang Jatuh tak Pernah
Membenci Angin karya Tere Liye ialah Konflik fisik meliputi konflik manusia
dengan manusia yakni perilaku yang dilakukan Danar terhadap Tania; konflik
manusia dengan alam terjadi ketika Tania di timpa hujan deras; konflik manusia
dengan masyarakat Tania mengalami konflik dengan Masyarakat ketika beberapa
teman Tania yang berasal dari berbagai Negara itu usil, Tania merasa terganggu
dengan tingkah laku teman-temannya. Teman Tania yang berasal dari berbagai
Negara salah satunya yaitu Jhoni Chan dan beberapa orang melayu yang terus
mencoba mendekati Tania. Konflik batin ditandai dengan konflik antara ide satu
dengan ide yang lain yakni ketika Tania bingung dengan dirinya ketika Danar dan
Ratna akan menikah; konflik seseorang dengan kata hatinya lebih dialami oleh Tani
Morphological and Physiological Characteristics of Shading Tolerant and Sensitive Mungbean Genotypes
Study of morphological and physiological characteristics of the tolerant and sensitive mungbean genotypes to shading was carried out in the Station Research of the Indonesian Legume and Tuber Crops Research Institute (ILETRI) from September to December 2004. Nine tolerant genotypes (MMC 87 D-KP-2, MLG 369, MLG 310, MLG 424, MLG 336, MLG 428, MLG 237, MLG 429, and VC2768B) and three sensitive genotypes to shading (Nuri, MLG 460, and MLG 330) were tested in two shading levels, that were without shading and shading of 52%. The randomized complete block design with three replications analysis. The results showed that leaf characters of shading tolerant and sensitive genotypes were different. The shading tolerant mungbean genotypes had good response to light stress so that the growth and development of the leaves were better than that of sensitive genotypes. The shading tolerant mungbean genotypes had bigger and thicker leaves than that of sensitive genotypes. The shading treatments caused reducing rate of PAR absorption, transpiration, photosynthesis, and CO2 stomata conductance. The reduction of all parameters in tolerant genotype was smaller than that of sensitive genotype. The specific leaf area at four weeks after planting could be used as shading tolerant indicator of mungbeans
Penggunaan BSE IPS sebagai Bahan Ajar dalam Pembelajaran Sejarah di SMP Negeri 4 Malang
ABSTRAK Sundari, T. 2012. Penggunaan BSE IPS sebagai Bahan Ajar dalam Pembelajaran Sejarah di SMP Negeri 4 Malang. Skripsi, Jurusan Sejarah Program Studi Pendidikan Sejarah, FIS, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Dra. Hj. Siti Malikhah Towaf M.A, Ph.D (2) Drs. Marsudi M.Hum Kata kunci: BSE IPS, Bahan Ajar, Pembelajaran Sejarah. Penggunan Buku Sekolah Elektronik secara umum di Indonesia mulai tahun 2010, seiring dengan adanya program BOS Buku dari pemerintah. Pemerintah membeli hak cipta buku kemudian semuanya diberi nama Buku Sekolah Elektronik (BSE). Buku Sekolah Elektronik tersebut kemudian direkomendasikan ke sekolah-sekolah. SMP Negeri 4 Malang termasuk yang mendapatkan rekomendasi BSE dari Depdiknas Kota Malang. Alasan pemilihan BSE IPS sebagai judul adalah karena BSE dierbitkan dalam berbagai versi yaitu dalam bentuk file, CD, serta dicetak menjadi buku teks. Sedangkan alasan dipilihnya SMP Negeri 4 Malang sebagai tempat penelitian karena SMP Negeri 4 Malang merupakan salah satu sekolah yang mendapatkan rekomendasi BSE dari Depdiknas Kota Malang. Alasan lain adalah adanya perbedaan diantara masing-masing guru sejarah di SMP Negeri 4 Malang dalam menggunakan BSE IPS dalam pembelajaran. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini yaitu: (1) Persepsi guru sejarah SMP Negeri 4 Malang terhadap BSE IPS yang digunakan di SMP Negeri 4 Malang unsur yang dikaji khususnya tentang materi, grafika atau layout dan bahsa yang digunakan;(2) Penggunaan BSE IPS cetak karangan Nanang Herjunanto dan Muh Nurdin dalam Pembelajaran Sejarah di SMP Negeri 4 Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dan jenis penelitiannya adalah deskriptif. Subjek penelitiannya adalah Guru Sejarah SMPN 4 Malang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan tahapan berikut: (a) pengumpulan data; (b) reduksi data dan penyajian data, (c) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) persepsi guru terhadap BSE IPS yang digunakan di SMP Negeri 4 Malang khususnya tentang tiga aspek materi, layout dan bahasa yang digunakan dalam BSE IPS adalah kurang bagus, materi yang ada kurang detail penjelasannya namun susunannya tetap sesuai dengan SK dan KD, layoutnya kurang menarik, bahasa yang digunakan agak sulit dipahami; (2) BSE IPS yang digunakan di SMP Negeri 4 Malang adalah BSE cetak karangan Nanang Herjunanto untuk kelas VIII dan IX serta karangan Muh Nurdin untuk kelas VII, BSE IPS juga digunakan oleh guru sebagai bahan acuan untuk memberikan tugas siswa, metode yang digunakan oleh guru saat mengajar menggunakan BSE IPS yang dominan adalah metode ceramah, guru menggunakan pendamping buku lain untuk menunjang materi yang ada di BSE IPS, siswa mendapat tugas membuat kliping, membuat makalah, membaca buku lain di perpustakaan, mencari bahan materi di internet, bertujuan untuk menunjang kekurangan materi dalam BSE IPS. Untuk saran dalam penelitian ini yaitu: (1) Bagi lembaga fakultas hendaknya hasil penelitian ini bisa dijadikan untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan berkaitan dengan penggunaan bahan ajar di sekolah; (2) Bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang hendaknya lebih selektif lagi dalam merekomendasikan buku teks untuk sekolah-sekolah, serta benar-benar memperhatikan kualitas buku yang direkomendasikan; (3) Bagi guru hendaknya terus berupaya memberikan pengajaran yang terbaik untuk siswa-siswanya serta selektif dalam menggunakan bahan ajar; (4) Bagi peneliti hendaknya mampu mengambil pelajaran dari apa yang diperoleh serta lebih memaksimalkan pengetahuan sebalum terjun ke lapangan untuk menjai pendidik yang profesional; (5) Bagi peneliti lain hendaknya bisa lebih luas lagi dalam meneliti tantang Buku Sekolah Elektronik, karena penelitian ini masih dalam lingkup yang masih terlalu sempit satu sekolah saja serta aspek yang dikaji juga masih teralalu sempit sehingga untuk peneliti selanjutnya lebih bagus jika penelitian ini dilakukan lebih dari satu lokasi untuk mengetahui apakah BSE yang direkomendasikan Depdiknas sudah maksimal penggunaannya di kota Malang atau sebaliknya
Titik Dan Garis Sebagai Simbol Ekspresi Dalam Berkarya Seni Lukis
Titik dan garis bukan hanya sekedar komponen dasar bagi seni-seni visual, akan tetapi juga sumber dari ekspresi itu sendiri, hal ini lah yang menjadi tujuan utama dari penelitian ini. Penulis memperlakukan titik dan garis tidak sebagai komponen visual akan tetapi sebagai media utama pembentuk karya lukis itu sendiri. Metode dan teknik penelitian yang penulis gunakan adalah eksperimentasi, dimana idiom-idiom seperti titik dan garis menjadi sumber dimulainya sebuah penciptaan karya lukis, sementara itu, konsep visual dari karya adalah kemunculan-kemunculan spontan. Artinya, penulis bergantung kepada potensi-potensi dari titik dan garis untuk membentuk sesuatu yang bersumber pada kesadaran spontan. Hasil dari penelitian ini adalah, titik dan garis ternyata mampu merepresentasikan simbol-simbol tertentu yang mengandung ekspresi murni, karena penulis menggunakan pendekatan abstrak. Kata Kunci : Titik Dan Garis; Simbol; Ekspresi; Seni Lukis ABSTRACTDots and lines are not only basic components for visual arts, but also the source of expression itself, this is the main goal of this research. The author treats dots and lines not as visual components but as the main media forming the painting itself. The research method and technique that the author uses is experimentation, where idioms such as dots and lines are the source of the start of a painting creation, meanwhile, the visual concept of the work is spontaneous occurrences. That is, the author relies on the potentials of points and lines to form something that is rooted in spontaneous awareness. The result of this research is that points and lines are able to represent certain symbols that contain pure expressions, because the author uses an abstract approach
Penampilan Karakter Kuantitatif Genotipe Kedelai di Bawah Naungan (Quantitative Characters of Soybean Genotype Performance Under The Shade)
Cahaya matahari merupakan sumber energi utama dalam proses fotosintesis. Di setiap habitat, intensitas
cahaya bervariasi secara temporal dan spasial. Tanaman mengembangkan daya aklimatisasi dan plastisitasnya
untuk mengatasi permasalahan tersebut. Setiap tanaman memberikan respon berbeda terhadap naungan dan
mengekspresikannya melalui penampilan karakter yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
kemampuan genotipe kedelai dalam menghadapi naungan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan (KP)
Kendalpayak, Malang pada tahun 2013. Penelitian menggunakan rancangan percobaan faktorial, dengan dua
faktor. Faktor pertama adalah naungan, terdiri dari tanpa naungan (N0) dan naungan 50% (N1). Faktor kedua
adalah genotipe kedelai, terdiri dari tiga varietas peka naungan (Grobogan, Argopuro, dan Panderman), dua
varietas tahan (Dena 1 dan Dena 2), dan dua galur hasil persilangan (IBM-10-75 dan K-13). Penempatan
perlakuaan didasarkan pada rancangan acak kelompok lengkap, diulang tiga kali. Pengamatan meliputi: tinggi
tanaman, jumlah daun, luas daun, diameter batang, bobot biji per tanaman, bobot 100 biji dan bobot kering:
total, akar, batang, daun, dan polong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan naungan 50%
menyebabkan cekaman kekurangan cahaya, dengan intensitas 30,31%. Intensitas cekaman tersebut,
menyebabkan perbedaan penampilan karakter kuantitatif diantara genotipe yang diuji. Dena 1, Dena 2, dan K13
sesuai untuk lingkungan naungan, karena mampu mempertahankan atau meningkatkan hasil biji, sedangkan
Argopuro, IBM-10-75, Grobogan, dan Panderman tidak sesuai untuk lingkungan naungan, karena tidak mampu
mempertahankan hasilnya. Dena 1 dan Dena 2 mengembangkan mekanisme penghindaran untuk menghadapi
naungan, melalui peningkatan tinggi tanaman, jumlah dan luas daun, sedangkan K-13 menghadapi cekaman
naungan melalui kemampuannya dalam memanfaatkan cahaya terserap untuk pembentukan biji secara efisien
Kestabilan Model Penyebaran Hepatitis B
Pada skripsi ini dikaji kestabilan titik ekuilibrium model penyebaran virus hepatitis B dan pengaruh pengobatan dalam menghambat penyebaran virus. Terdapat dua titik ekuilibrium, yaitu titik ekuilibrium bebas penyakit dan titik ekuilbrium endemik. Kestabilan kedua titik ditentukan dengan nilai eigen dan Kriteria Routh- Hurwitz. Penyelesaian numerik dilakukan menggunakan Metode Runge Kutta Orde 4 untuk menunjukkan pengaruh dari pemberian obat dalam menghambat penyebaran virus.
Kata Kunci : Model Penyebaran Virus Hepatitis B, Kestabilan Titik Ekuilibrium, Metode Runge Kutt
Sistem Pembelian Bahan Operasional dan Persediaan pada PT. Sucofindo Indonesia (Persero) Cabang Medan
Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi
menyebabkan peranan bidang akuntansi tidak hanya dianggap sebagai suatu ilmu
yang digunakan untuk membantu dalam hal keuangan saja. Akuntansi juga diperluas
agar pemakaiannya dapat dipahami dan memiliki kemampuan manajemen untuk :
memperluas wawasan pekerjaan maupun untuk manajemen bidang pekerjaannya.
Perkembangan ekonomi indonesia yang semakin pesat akhir-akhir ini, menuntut
manajer memiliki kemampuan dalam penyusunan informasi akuntansi dengan dasar pengambilan keputusan alokasi sumber ekonomi. Untuk dapat mencapai tujuan
tersebut diperlukan penguasaan dan kemampuan perancangan sistem alokasi72 HalamanKertas Karya Diplom
Interaksi genotipe x lingkungan dan stabilitas karakter agronomi kedelai (Glycine max (L.) Merrill)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh interaksi genotipe x lingkungan terhadap karakter agronomi dan stabilitas hasil genotipe kedelai. Penelitian ini dilaksanakan di 8 lokas
- …
