1,724,589 research outputs found

    Lintas Waktu: A Solo Exhibition by Edi Sunaryo

    No full text
    Katalog pameran tunggal dari perupa Indonesia yakni Edi Sunaryo, katalog ini memuat lukisan-lukisannya yang dipamerkan di Moom Gallery Jakarta pada tahun 2000. Pada awalnya Edi Sunaryo dikenal sebagai pelukis dekoratif yang khas. Namun dalam perkembangannya, ia tidak ingin terjebak dengan pola dekoratif saja. Dengan gabungan teknik seni grafis dan seni lukis ia mampu menghadirkan suatu perkembangan yang unik serta kreatif dengan abstraksi objek yang esensial dalam ruang kosong

    SELASAR SENI INSTALASI SUNARYO SEMARANG

    Full text link
    A. LATAR BELAKANG Aktualitas Pameran seni rupa yang banyak diadakan di galeri – galeri seni dan di lobby – lobby hotel saat ini masih bersifat komersial, sehingga sulit ditarik benang merahnya terhadap perkembangan dan asresiasi seni rupa di Indonesia. Karya – karya seni rupa akan lebih memasyarakat bila dikenalkan pada masyarakat, misalnya melalui pameran. Tetapi belakangan ini pameran tersebut sering mengambil tempat di lobby – lobby hotel ataupun di lobby – lobby mall, bukan disebuah galeri seni atau di sebuah ruang pamer, seperti pada pameran seni Contempo Art ’98 yang diadakan kafe Mirota gedung Aspac Semarang. Hal ini mengakibatkan sisi komersial kegiatan ini lebih dominant disbanding memberi kontribusi pada dunia seni rupa karena biaya penyewaan tempat yang relative tinggi. Sejalan dengan hal ini Sunaryo mewujudkan wadah yang dapat menampung kegiatan yang sekitarnya berguna bagi perkembangan dan aspirasi seni rupa di masyarakat. Snaryo adalah seorang perupa Indonesia yang telah diakui dunia internasional karena karyanya yang inspiratif dengan prinsip – prinsip kontemporer serta senantiasa menggali kebudayaan tradional Indonesia. Originalitas Setelah dicanagkannya seni rupa kontemporer Indonesia masuk frum dunia yang juga didukung oleh dana yang begitu besar dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada awal delapan puluhan, membuat Sunaryo sangat konsern akan hal ini, maka Sunaryo mewujudkan sebuah galeri yang tidak bersifat komersial yaitu galeri yang merupakan hasil sinergi antara sang perupa dengan sang arsitek sebagai penerjemah konsep – konsep dan filosofi Sunaryokedalam bangunan arsitektur Selasar Seni Sunaryo di Bandung. Selasar Seni Sunaryo di Bandung sebagai sebuah galeri yang menurut Sunaryo merupakan sebuah jembatan yang paling konkret bagi pengabdiannya kepada dunia seni rupa, bangsa – Negara dan generasi yang akan dating. Selasar Seni adalah sebuah tempat menyimpan serta memamerkan karya – karya seni rupa Sunaryo yang juga dapat menampung kegiatan – kegiatan yang berhubungan dengan apresiasi seni rupa di Indonesia khususnya seni kontemporer. Urgensi Dewasa ini perupa Indonesia sudah punya kedudukan tersendiri, namun demikian dalam dalam perjalanan seni rupa modern pada umumnya tampak seni likes mendominasi arena seni Indonesia. Hal ini dikarenakan pameran seni lukis dan galeri seni lukis lebih banyak dibandingkan dengan cabang seni rupa lain baik seni patung, seni keramik, seni grafis maupun seni instalasi. Melihat kenyataan ketimpangan antara cabang seni lukis dibanding cabang seni rupa lain khususnya seni instalasi serta makna sebuah selasar seni bagi Sunaryo yang menunjukan bahwa Sunaryo masih mempunyai banyak gagasan/pikiran dan keinginannya untuk terus berkarya, maka Selasar Seni Sunaryo di Bandung masih memerlukan perencanaan dan pengmbangan selanjutnya, maka direncanakanlah pembangunan Selasar Seni Sunaryo di Semarang. Table 1. Jumlah Pengunjung Objek Wisata di Semarang Tahun Jumlah Pengunjung 1996 152.448 orang 1997 196.949 orang 1998 211.265 orang Sumber : Dinas Pariwisata Kotamadya Dati II Kegiatan apresisasi seni di Semarang seolah padam karena masyarakatnya senderung berorientasi ke sektor bisnis dan ekonomi. Banyak upaya telah dilakukan, seperti diadakannya pameran seni rupa dengan judul Introspeksi di Graha Santika Semarang yang memamerkan karya perupa Prof. Drs. Suwaji Bastomi, dengan misi menggairahkan apresiasi seni di Semarang yang masih sangat kurang, pameran ini cukup banyak pemintanya dilihat dari sisi pengunjung. Perencanaan Selasar Seni Instalasi Sunaryo Semarang adalah dengan memandang minat pengunjung terhadap objek wisata yang berhubungan dengan seni dan budaya yang cukup tinggi, (lihat table 1). Table diatas menunjukan peningkatan jumlah penunjung di Kotamadya Dati II Semarang dalam tigatahun terakhir. Maka Semarang dapat menjadi objek untuk digairahkannya kegiatan seni dan budaya oleh adanya Selasar Seni Instalasi Sunaryo Semarang. Selasar Seni ini diharapkan dapat menampung berbagai kegiatan apresiasi seni yang belum ada, bagi perupa yang ada di kota Semarang dan perupa Indonesia pada umumnya. B. TUJUAN DAN SASARAN Pembahasan Landasan Program Perencanaan dan Perncangan Arsitektur (LP3A) ini bertujuan untuk merencanakan Selasar Seni Instalasi Sunaryo Semarang agar sesuai dengan pertimbangan dan persyaratan yang akan diuraikan lebih lanjut. Sedangkan sasaran yang akan dicapai adalah ditemukannya konsep – konsep perencanaan dan perancangan arsitektur untuk bangunan Selasar Seni Instalasi Sunaryo Semarang. C. RUANG LINGKUP Pembahasan LP3A dilakukan penekanan pembahasan pada perwujudan Selasar Seni Instalasi Sunaryo Semarang baik secara konseptual maupun secara kontekstual serta dibatasi kepada Selasar Seni Sunaryo sebagai wadah karya seni instalasi dengan menggunakn penekanan desain arsitektur post modern. D. METODE PEMBAHASAN LP3A ini dalam pembahasannya dilakukan dengan metode deskriptif dokumentatif dengan cara mengumpulkan data dengan cara : 1. Data Primer Data primer diperoleh dengan menlakukan wawancara langsung terhadap pihak – pihak terkait dan melakukan observasi/pengamatan secara langsung terhadp pihak Selasar Seni Sunaryo di Bandung. 2. Data Sekunder Diperoleh dengan melakukan studi terhadap literatur – literatur yang digunakan sebagai acuan perencanaan dan perancangan Selasar Seni Sunaryo Semarang. Data – data tersebut diatas telah dibahas secara lengkap dalam prolog LP3A – Seminar dengan judul Penerapan Arsitektur Lokal pada Selasar Seni Sunaryo – yang nantinya data – data tersebut akan diulas kembali secara global ataupun disisipkan secara langsung pada pembahasan Selasar Seni Instalasi Sunaryo Semarang. E. SISTEMATIKA PEMBAHASAN Pembahasan ini digunakan sistematika sebagai berikut : Bab I Pendahuluan Berisi aktualisasi, origanalitas serrta urgensi terhadap Selasar Seni Instalsi Sunaryo Semarang yang dituangkan dalam latar belakang, tujuan dan sasaran, ruang lingkup, metode pembahasan, dan sistematika pembahasan. Bab II Tinjaun Selasar Seni Melalui Pendekatan Museum dan Galeri Seni Berisi yinjauan mengenai Selasar Seni Sunaryo dari sudut pandang museum dan galeri seni, selain itu berisi pula teori – teori, persyaratan serta aspek perencanaan ruang sbuah Selasar Seni. Bab III Sunaryo dalam karya Instalasi Berisi tentang landasan teori seni instalasi, profil Sunaryo sebagai perupa beserta, tinjauan karya seni Sunaryo khususnya karya instalasi dan data – data Selasar Seni Sunaryo di Bandung. Bab IV Tinjauan Kotamadya Semarang Berisi mengenai gambaran umum kota Semarang dan potensi pendukung di kota Semarang, serta penggambaran tentang arsitektur local Semarang. Bab V Batasan dan Anggapan Berisi mengenai batasan serta anggapan yang akan digunakan dalam perencanaan dan perancangan Selasar Seni Instalasi Sunaryo Semarang. Bab VI Pendekatan Perencanaan dan Perancangan Berisi pendekatan perencanaan dan perancangan berdasarkan annalisa tentang kajian – kajian yang telah dibahas pada bab – bab sebelumnya. Bab VII Konsep dan Program Dasar Perancangan Diuraikan mengenai hasil dari analisa program perancangan yang meliputi tujuan perancangan, penekanan desain, program ruang dan perancangan tapak

    Komposisi lukisan Edi Sunaryo

    No full text
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prinsip-prinsip komposisi yang ada pada lukisan Edi Sunaryo. Lukisan-lukisan yang dijadikan sumber data adalah karya Edi Sunaryo yang dibuat antara tahun 1977-1988 sebanyak 29 lukisan. metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, metode interview & metode dokumentasi. Kesimpulan hasil analisa terhadap prinsip-prinsip komposisi yang banyak digunakan adalah kontras, balans & proporsi. Sedangkan hasil penelitian terhadap lingkungan masyarakat & lingkungan pendidikan menunjukkan bahwa kedua lingkungan tersebut banyak berperan di dalam pertumbuhan & perkembangan maupun kreativitas Edi Sunaryo dalam berkarya

    Warna lukisan Edi Sunaryo

    No full text
    Melukis bagi Edi Sunaryo merupakan perwujudan nilai estetis, ide, maupun gagasan yang dirasakan. Lukisan Edi Sunaryo sering menggunakan warna - warna gelap seperti coklat, hitam, hijau . Tetapi tidak menutu kemungkinan warna - warna cerah juga perna sesekali beliau gunakan. Hal ini dikarenakan semangatnya untuk menggali sesuatu yang baru tetapi tetap dalam satu kerangka pemikiran, ide, maupun gagasan

    Kebijakan Pembangunan Destinasi Pariwisata: Konsep dan Aplikasinya di Indonesia

    No full text
    Buku ini pada awalnya disusun atas dasar pertimbangan untuk memenuhi kebutuhan yang sangat mendesak yang dirasakan oleh penyusun sebagai tenaga pendidik yang mengampu berbagai mata kuliah yang terkait dengan kepariwisataan di Universitas Gadjahmada Yogyakarta, khususnya dalam rangka melengkapi kelangkaan referensi dan bahan bacaan bagi para mahasiswa yang sedang mengambil matakuliah yang terkait dengan pembangunan kepariwisataan. Dalam perkembanganya ada keinginan yang lebih luas dari sekedar pemenuhan kebutuhan perkuliahan, sehingga buku ini juga diharapkan dapat dimanfaatkan bagi para pemangku kepentingan dan pelaku usaha yang terkait dengan kepariwisataan termasuk masyarakat luas yang mempunyai keterkaitan dan minat terhadap kepariwisataan. Hal ini dilandasi oleh pemikiran bahwa pembangunan kepariwisataan mempunyai karakter yang sangat bersifat lintas sektor, lintas wilayah dan lintas pelaku dalam suatu pemahaman yang komprehensi

    STUDI TENTANG KARYA LUKIS MORRY SUNARYO TAHUN 2012-2013

    No full text
    ABSTRAK   Santi, Dewi Friska Nur. 2013. Studi Tentang Karya Lukis Morry Sunaryo Tahun 2012-2013. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Tjitjik Sriwardani, M.Pd, (II) Fenny Rochbeind, S.Pd, M.Sn.   Kata Kunci: karya lukis, Morry Sunaryo, Malang.   Morry Sunaryo adalah pelukis dari kota Malang yang memiliki banyak pengalaman dalam melukis. Karya lukis Morry Sunaryo banyak mengangkat tema alam, sehingga Sunaryo dapat digolongkan sebagai seniman bergaya naturalistik. Sunaryo menggunakan pisau palet yang membuat lukisannya bertekstur nyata. Sunaryo memiliki kreatifitas, produktifitas dan eksistensi dalam berkarya seni.Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan latar belakang penciptaan, karakteristik, dan faktor-faktor yang mempengaruhi proses penciptaan karya lukis Morry Sunaryo. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, sedangkan jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Sumber data yang digunakan adalah narasumber, peristiwa, tempat/lokasi, dokumen dan arsip, serta gambar/foto. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan untuk menjaga keabsahan data, dilakukan trianggulasi sumber/data. Berdasarkan hasil analisis tersebut maka diperoleh kesimpulan. Pertama, latar belakang penciptaan karya lukis Morry Sunaryo dipengaruhi oleh faktor psikologis, sensitivitas, imajinasi, tujuan, dan pengalamannya di mana ia tinggal sejak kecil hingga dewasa. Kedua, karakteristik karya lukis Morry Sunaryo dilihat dari visualisasi karyanya yaitu ide/gagasan dalam penciptaannya adalah segala bentuk yang ada di alam, konsepnya adalah lingkungan dan kehidupan, temanya adalah alam. Perwujudan gaya dalam lukisan Morry Sunaryo adalah naturalistik, dilihat dari perwujudan objeknya termasuk ke dalam lukisan figuratif. Secara keseluruhan Sunaryo menggunakan warna primer, sekunder, intermediat, tersier, dan kuarter. Dari perwujuduan permukaan tekstur pada lukisan Morry Sunaryo, teksturnya tergolong tekstur nyata. Dilihat dari teknik perwujudan karyanya melalui tiga tahapan yaitu tahap permulaan, pemantapan gagasan, dan mewujudkan pada bentuk visual. Ketiga, faktor-faktor yang mempengaruhi proses penciptaan karya lukis Morry Sunaryo yaitu faktor intern dan ekstern. Faktor Intern meliputi bakat, minat, tujuan, dan motivasinya dalam berkarya. Sedangkan Faktor ekstern adalah lingkungan fisik Sunaryo yaitu lingkungan keluarga, kerabat, masyarakat sekitar, danpengalaman. Dari penulisan ini,kepada insan pendidikan khususnya pendidikan seni rupamampu memetik pembelajaran yang bermanfaat tentang karya seni lukis baik proses, teknik, ataupun keterkaitan antara karya seni dan senimannya. Pada hakikatnya, pendidikan seni mempunyai tujuan membentuk pribadi seseorang yang berkarakter. Oleh karena itu, sudah selayaknya penghargaan terhadap pendidikan seni mulai diperhatikan baik bagi kalangan insan seni itu sendiri ataupun masyarakat luas yang bertugas menjadi apresian seni.

    Pameran Lukisan Lintas Waktu

    No full text
    Katalog pameran ini terbit menyertai pameran tunggal Edi Sunaryo di Moom Gallery dari tanggal 7-17 Juli 2000. Pada awal mulanya Edi Sunaryo dikenal sebagai pelukis dekoratif yang khas. Namun dalam perkembangannya terkini, ia tidak ingin terjebak dengan pola dekoratif saja. Dengan gabungan teknik seni grafis dan seni lukis ia mampu menghadirkan suatu perkembangan yang unik serta kreatif dengan abstraksi obyek yang esensial dalam ruang kosong. Penghayatannya terhadap ruang kosong adalah ungkapan keheningan dalam makna yang simbolik. Ruang kosong sebagai ruang imaji Edi Sunaryo adalah obsesi kreatifnya. Babakan baru ini telah dibuka olehnya melalui perkembangan konsep estetik dan artistik karyanya. Moom gallery saat ini, memahami penilaian di atas merupakan manifestasi kreatif atas perjalanan kesenian Edi Sunaryo sebagai seniman lukis. Agus Dermawan T., menegaskan bahwa Edi Sunaryo bukan tipologi seniman yang pseudo progresif hingga menjunjung loncatan-loncatan artifisial. Langkahnya perlahan namun membekas jejak yang dalam. Bagi Moom gallery, ini adalah Lintas Waktu dari sebuah perjalan kreatif yang penting untuk diapresiasi serta ditandai dengan pameran tunggal Edi Sunaryo

    Protocol for screening and expression studies of T-DNA and tagging-based insertional knox mutants in Arabidopsis thaliana

    No full text
    KNOTTED1-like homeobox (KNOX) genes serve important roles in meristem function and many developmental processes in all higher plants. In Arabidopsis, studies of KNOX genes especially among members of class II KNOX genes remain limited and functional data are largely lacking. In the present study, we established a reproducible protocol that is important for genetic studies of KNOX genes using Arabidopsis insertional mutants. This protocol contains a reproducible and serial procedure containing detailed and step-by-step laboratory and field works covering all experiment steps from the screening of homozygous mutant lines to the KNOX expression analysis using qRT-PCR in a single paper. The troubleshooting and challenges that might occur are also presented and discussed. T-DNA insertion mutants for all Arabidopsis KNOX genes (except for knat4) were isolated based on kanamycin screening, phenotype selection, and PCR genotyping. Surprisingly, the insertions resulted in strong repression of the respective KNOX genes. However, no gene suppression was observed for the positively selected knat5 mutant. Moreover, qRT-PCR was effective for transcript analysis among the knox mutant samples. The use of different relative expression quantification produces a similar indication of expression level. Overall, the proposed procedure is highly effective for expression studies of KNOX genes in Arabidopsis mutants and will serve as a fundamental work protocol to open opportunities for genetic studies of genes involving insertional mutants in Arabidopsis. SUPPLEMENTARY INFORMATION: The online version contains supplementary material available at 10.1007/s13205-021-02868-8

    INTERPRETASI LEBENSWELT  SENIMAN SUNARYO OLEH MASYARAKAT DALAM WOT BATU

    Full text link
    Wot Batu merupakan karya seni instalasi dalam skala ruang yang diciptakan oleh Sunaryo pada tahun 2015 di Ciburial, Bandung. Konsep Lebenswelt (dunia kehidupan), sebagaimana dikemukakan oleh Edmund Husserl, hadir dalam karya ini melalui fenomena lingkungan sekitar, intuisi, emosi, serta pengalaman dan ingatan pribadi Sunaryo. Lebenswelt tersebut diwujudkan dalam suasana, bentuk, tekstur batu, dan tapak Wot Batu, yang merefleksikan pandangan pribadi dan spiritualitas Sunaryo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis untuk memahami bagaimana makna Lebenswelt dalam Wot Batu diterima oleh masyarakat. Data dikumpulkan melalui kajian literatur untuk memahami latar belakang Sunaryo serta observasi langsung terhadap elemen fisik Wot Batu. Wawancara mendalam dilakukan dengan staf dan pengunjung guna menggali perspektif mereka. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengalaman spiritual Sunaryo dalam Wot Batu dapat terbaca oleh orang lain, meskipun dengan tingkat pemahaman yang berbeda

    Pakeliran Padat"Bismo Gugur"

    No full text
    Pakeliran Padat"Bismo Gugur" Penyaji: Sunaryo, Ujian penyajian tugas akhir jur. pedalangan, Pendopo ISI Surakart
    corecore