209 research outputs found

    PERAN ELIT LOKAL TERHADAP KEMENANGAN GOLKAR DI KABUPATEN SRAGEN PADA PEMILU 1992 DAN 1997

    Get PDF
    Iis Sumarwati .K4407024. PERAN ELIT LOKAL TERHADAP KEMENANGAN GOLKAR DI KABUPATEN SRAGEN PADA PEMILU 1992 DAN 1997. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, Juni 2010. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan: (1) berdirinya Golkar di Kabupaten Sragen; (2) peran elit lokal terhadap kemenangan Golkar di Kabupaten Sragen Pemilu Tahun 1992 dan 1997; (3) pelaksanaan pemilu tahun 1992 dan 1997 di Kabupaten Sragen. Penelitian ini menggunakan metode historis. Langkah-langkah yang ditempuh dalam metode historis meliputi heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Sumber data yang digunakan oleh penulis terutama adalah sumber primer dan sumbet sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik studi pustaka dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis historis yaitu analisis yang mengutamakan ketajaman dalam menginterpretasikan fakta sejarah. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan: (1) berdasarkan Perpres No. 193 tahun 1964 pada tanggal 20 Oktober 1964 lahir Sekretaris Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar) begitu juga Sekber Golkar di Kabupaten Sragen, pada tanggal 17 Juli 1971 melalui musyawarah Sekber Golkar diubah menjadi Golkar; (2) Elit lokal sangat berperan dalam kemenangan Golkar tahun 1992 dan 1997 dikarenakan elit lokal memiliki kekuasaan yang diakui dan dihormati oleh masyarakat. Hal tersebut diperlukan untuk meyakinkan rakyat memilih Golkar, peran militer pada pemilu 1992 dan 1997 melakukan intervensi kepada rakyat untuk memilih Golkar, keterlibatan ulama dalam Golkar berpengaruh untuk mengendalikan massa yang sangat fanatik dan simpatik, kaum cendekiawan (mahasiswa, pengajar, tokoh politik, anggota organisasi) berperan dalam memperjuangkan dan memenangkan Golkar dengan bergabung dalam panitia pemungutan suara dan menjadi juru kampanye, bagi elit birokrat yang tidak bersedia memilih dan mendukung Golkar maka harus rela dikeluarkan dari pemerintahan, sedangkan pengusaha berperan sebagai penyokong dana dan panutan bagi masyarakat karena memiliki status sosial atas kekayaannya; (3) penurunan 12,17 % suara Golkar pada pemilu 1992 dikarenakan kegagalan para elit lokal dalam menyelesaikan isu-isu nasional yang menyebabkan ketidakpercayaan rakyat Sragen terhadap Golkar. Kenaikan perolehan 12,43 % suara Golkar tahun 1997 dikarenakan elit lokal melakukan kecurangan dengan mengintimidasi rakyat untuk memilih Golkar. Dan adanya kisruh PDI ditingkat pusat. Setelah Orde Baru, pemilu tahun 1999 Golkar mengalami kekalahan dan PDI P meraih kemenangan dikarenakan banyaknya elit lokal Golkar yang pindah ke partai lain

    PENGARUH LIKUIDITAS DAN RENTABILITAS TERHADAP KECUKUPAN MODAL PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN PERIODE 2015-2017

    Get PDF
    Abstrak Sumarwati, Triyas, 2019. Pengaruh Likuiditas Dan Rentabilitas Terhadap Rasio Kecukupan Modal Perusahaan Yang Terdaftar Di Bei (Bursa Efek Indonesia) Pada Periode Tahun 2015 – 2017. Skripsi/ tugas akhir, Program Studi Manajemen Keuangan, Fakultas ekonomi, Universitas Islam Majapahit (UNIM). Pembimbing I : DR.H. Imam Baidlowi,S.Pd.,SE.,MM Pembimbing II: Rini armin,SP.,SM.,MM Aspek permodalan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam dunia perusahaan, disamping dalam rangka mengembangkan usaha untuk menampung kerugian– kerugian. Dalam upaya menjaga agar permodalan perusahaan senantiasa sehat , perusahaaan selaku pemegang otoritas moneter di Indonesia menentukan aturan – aturan kesehatan permodalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana pengaruh likuiditas. Objek ini adalah semua perusahaan di sektor aneka industri yang terdaftar Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2017. Maksud dari penelitian ini adalah mengkaji dan analisis pengaruh antara Current Ratio (CR), Cash Ratio, Quick Ratio (QR), Retrun On Asset (ROA), Net Profit Margin (NPM), Return On Investasi (ROI), terhadap rasio modal (CAR). Maka dari itu peneliti menunjukkan Hasil penelitian bahwa Current Ratio (CR), Cash Ratio, Quick Ratio (QR), Retrun On Asset (ROA), Net Profit Margin (NPM), Return On Investasi (ROI) tidak memliki pengaruh secara signifikan terhadap CAR. . Dengan cara pungumpulan data yang di dapat dari internet www.idx.co.id dan dikumentasi. Penelitian diuji dengan menggunakan analisis regresi berganda dalam aplikasi SPSS.Hal ini membuktikan bahwa kecukupan modal tidak hanya berpengaruh pada ke enam faktor tersebut namun juga dipengaruh oleh variabel –variabel lain dan kondisi ekonomi

    TEKNIK PEER-CORRECTION DALAM PEMBELAJARAN MENULIS UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KAIDAH BAHASA INDONESIA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

    No full text
    This study's purpose is to improve the editing activity and grammar mastery in the learning of writing on junior high school students by implementing peer-correction technique. The strategy chosen is classroom action research that is done in 3 cycles. The subjects are students of class VIII A in Penda Mojogedang Junior High School in Karanganyar regency, which is one of schools in the village. The study result shows that the implementation of peer-correction technique could improve the quality of the learning process of writing, especially in the grammar mistakes editing activity and bahasa Indonesia grammar mastery. This is indicated by the increase in the number of students getting motivated and becoming active during the grammar mistakes editing process of their peers' essay. The increase in number of students who are getting better in their bahasa Indonesia writing grammar, which is indicated by the decrease in the number of mistakes of the next essay, also shows that the implementation of peer-correction works in coping with the problem. The method of how this peer-correction technique is done, is as followed: (1) after finished developing the out line into an essay draft, students swap their draft with one of their classmates, (2) students together with the teacher choose one of the grammar rule intended to be discussed in editing, (3) teacher shows examples of the mistakes on the chosen aspects and how to mark it, (4) student identifies and marks the mistakes found, (5) student corrects the grammar mistakes found, (6) student returns the corrected essay to the essay owner, (7) student learns the correction done on the essay by his/her classmate so that when he/she finds a problem related to the correction, he/she could discuss it with the teacher, and (8) student re-writes the essay to be displayed in the wall magazine

    STRUKTUR SEMANTIK SOAL CERITA MATEMATIKA UNTUK SISWA KELAS RENDAH SEKOLAH DASAR

    No full text
    Abstrak Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan: (1) tipe struktur semantik soal cerita matematika kelas rendah di sekolah dasar, dan (2) sumber kesulitan siswa di kawasan pedesaan dalam memahami soal cerita. Sumber data adalah buku teks Matematika untuk siswa kelas rendah. Informan meliputi 821 siswa dan 36 guru di kawasan pedesaan Kabupaten Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali, dan Klaten. Pengumpulan data dengan analisis dokumen, wawancara, dan tes memahami soal cerita. Data dianalisis dengan teknik deskriptif kuantiatif, induksi analitis, perbandingan konstan, dan analisis tipologis. Hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, tipe struktur semantik mencakup empat penunjuk operasi hitung, yakni: (a) penjumlahan, berupa: penggabungan, penyatuan, dan perbandingan; (b) pengurangan, berupa: pemindahan, pemisahan, dan perbandingan; (c) perkalian, berupa: penggandaan, kelipatan, dan penyamaan; dan (d) pembagian, berupa: pengelompokan, penyebaran, dan penyamaan. Kedua, sumber kesulitan siswa, yakni: (a) kata tidak berantonim sebagai penunjuk operasi hitung penjumlahan dan pengurangan, (b) frase lebih tua/besar, lebih muda/banyak, dan (c) kata jumlah. Kata kunci: soal cerita matematika, struktur semantik, operasi hitung matematik

    SOAL CERITA MATEMATIKA UNTUK SISWA KELAS RENDAH SEKOLAH DASAR DI KAWASAN PEDESAAN: ANALISIS STRUKTUR SEMANTIK

    Get PDF
    The semantic structure types that refer to the addition operation in word problems for students of grade 1,2, and 3 consist of duplication, unification, and comparison. Those that refer to subtraction operation are trasfer, separation, and comparison. The ones that refer to multiplication operation cover duplication, multiples, and equalization. Those who refer to division operation are categorization, distribution, and equalization. Semantic structures that are hard for students to understand are the ones using words without antonym to refer to both addition and subtraction operation in one problem, like phrares “more than”, “less than”, and word “sum

    SOAL CERITA MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR: ANALISIS DENGAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF (STUDI KASUS DI SURAKARTA DAN KARANGANYAR)

    Get PDF
    Bagi siswa sekolah dasar (SD), soal cerita dipandang lebih sulit dibandingkan noncerita sehingga mereka tidak suka pada soal cerita, bahkan pada pelajaran Matematika. Penyebabnya adalah siswa sering salah menerjemahkan soal ke notasi hitung sehingga hasil hitungan pun salah. Dari berbagai penelitian diidentifikasi “kunci kegagalan” siswa membuat terjemahan soal cerita secara tepat adalah kesulitan memahami bahasanya, mengingat soal cerita adalah soal matematika yang disampaikan melalui bahasa. Itu terjadi karena bahasa yang digunakan tidak disesuaikan dengan tingkat kompetensi berbahasa siswa sehingga penting dilakukan pengembangan model soal cerita yang mengakomodasi hal tersebut. Pendekatan berbahasa seperti itu disebut pendekatan komunikatif, yaitu yang menekankan fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi sehingga pemakaiannya antara lain harus memperhatikan kompetensi linguistik, sosiolinguistik, dan wacana pada siswa. Penelitian ini bertujuan untuk (1) memetakan tipe struktur semantik, struktur wacana, dan unsur narasi soal cerita dalam buku teks Matematika dan (2) mengidentifikasi struktur semantik, struktur wacana, dan unsur narasi yang menjadi sumber kesulitan siswa dalam memahami soal cerita. Selain itu, penelitian ini juga mengajukan usulan untuk mengatasi masalah kesulitan siswa dalam memahami soal cerita. Metode yang diterapkan adalah metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik analisis isi. Yang menjadi sumber data penelitian adalah soal cerita dalam buku teks Matematika serta siswa dan guru kelas 4, 5, dan 6 sekolah dasar di Surakarta dan Karanganyar. Hasil penelitian ini meliputi beberapa hal berikut. Ditinjau dari struktur semantiknya, tipe soal cerita dapat dibedakan sebagai berikut: (1) pada operasi hitung penjumlahan meliputi tipe penggabungan, penyatuan, perubahan, dan perbandingan, (2) operasi hitung pengurangan meliputi tipe pemindahan, pemisahan, perubahan, dan perbandingan, (3) operasi hitung perkalian meliputi tipe penggandaan, kelipatan, penyamaan, dan perbandingan, dan (4) operasi hitung pembagian meliputi tipe penyebaran, pengelompokan, penyamaan, dan perbandingan. Ditinjau dari struktur wacananya, soal cerita dalam buku teks Matenatika meliputi 6 tipe, yaitu (1) TIPE I adalah wacana soal cerita yang memiliki tiga komponen (pembuka, peristiwa, dan pertanyaan) secara terpisah dengan urutan linier, (2) TIPE II adalah wacana soal cerita yang memiliki tiga komponen dengan urutan linier, tetapi ada penggabungan komponen pembuka dan peristiwa, (3) TIPE III adalah wacana soal cerita yang memiliki tiga komponen dengan urutan linier, tetapi ada penggabungan komponen peristiwa dan pertanyaan, (4) TIPE IV adalah wacana soal cerita yang memiliki dua komponen (peristiwa dan pertanyaan) secara terpisah dengan urutan linier, (5) TIPE V adalah wacana soal cerita yang memiliki dua komponen (peristiwa dan pertanyaan) yang digabungkan dengan urutan linier, dan (6) TIPE VI adalah wacana soal cerita yang memiliki tiga atau dua komponen, baik secara terpisah maupun digabungkan, tetapi urutannya tidak linier. Ditinjau dari unsur narasinya, tipe soal cerita diklasifikasikan berdasarkan tema, aktor, dan latarnya. Berdasarkan temanya, soal cerita meliputi tipe soal dengan (1) subjek/objek konkret dan situasi faktual, (2) subjek/objek konkret dan situasi hipotetis, (3) subjek/objek abstrak dan situasi faktual, dan (4) subjek/objek abstrak dan situasi hipotetis. Berdasarkan aktornya, soal cerita meliputi tipe soal (1) dengan aktor tunggal, (2) dengan multiaktor, dan (3) tanpa aktor. Berdasarkan latarnya, tipe soal cerita dibedakan menjadi (1) soal dengan latar waktu dan tempat, (2) soal dengan latar waktu atau tempat, dan (3) soal tanpa latar waktu dan tempat. Ditinjau dari struktur semantiknya, soal cerita yang sulit dipahami siswa meliputi soal yang ditandai adanya (1) frase lebih banyak/besar, tetapi menunjuk operasi hitung pengurangan, (2) beberapa struktur semantik perbandingan, (3) kata ketinggian yang menunjuk bilangan negatif, dan (4) kata minta, hutang, atau pinjam, tetapi menunjuk operasi hitung penjumlahan. Ditinjau dari struktur wacananya, soal yang sulit dipahami siswa adalah soal-soal yang ditandai adanya (1) penggabungan antarkomponen dan (2) urutan komponen tidak linier. Ditinjau dari unsur narasinya, soal cerita yang sulit dipahami siswa adalah soal yang ditandai (1) adanya objek/subjek abstrak dan situasi hipotetis, (2) adanya multiaktor yang tidak memilki relasi familiar pada struktur semantik perbandingan, dan (3) tidak adanya latar yang sebenarnya berperan dalam pemecahan soal. Usulan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan mengadakan rambu-rambu model soal cerita yang dikembangkan dengan pendekatan komunikatif. Artinya, soal cerita harus memperhatikan faktor struktur semantik, struktur wacana, dan unsur narasi, antara lain menggunakan subjek/objek konkret, aktor-aktor dengan relasi familiar pada struktur semantik perbandingan, kalimat tunggal, komponen wacana secara lengkap dan linier urutannya, dan unsur narasi secara optimal. Model tersebut terbukti lebih berterima dibandingkan soal konvensional (dalam buku teks Matematika). Selain itu, model soal cerita ini juga lebih efektif meningkatkan pemahaman siswa sehingga dapat membuat persamaan matematika dengan benar. Kata kunci: soal cerita matematika, pendekatan komunikatif, struktur semantik, struktur wacana, unsur naras

    Peningkatan Kompetensi Menyusun dan Mengajarkan Soal Cerita Matematika bagi Guru SD Pedesaan

    Get PDF
    Masalah yang dihadapi guru sekolah dasar di Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali yang termasuk pedesaan adalah siswa sulit memahami isi soal cerita dalam buku  Matematika karena bahasa dan konteksnya tidak sesuai dengan kompetensi mereka. Sementara itu, guru  kesulitan menyusun soal cerita yang sesuai dengan karakteristik kebahasan  siswanya serta mengajarkannya dengan metode  komunikatif. Tujuan pengabdian  (IbM) ini untuk meningkatkan kompetensi guru dalam (1)  menyusun soal cerita yang sesuai dengan karakteristik bahasa dan konteks siswanya serta (2) mengajarkan soal cerita dengan metode komunikatif sehingga membantu siswa untuk  memahami isi soal cerita. Yang menjadi subjek (mitra) adalah 30 guru kelas 1, 2, 3. Pendekatan yang diterapkan adalah pendekatan partisipatif dengan teknik modelling, simulasi, dan praktik kelas. Hasil  pelatihan dan pendampingan penyusunan soal cerita  menunjukkan lebih dari 70% guru dapat membuat soal cerita Matematika yang sesuai kriteria, sedangkan  pada guru yang lain, sebagian soal cerita buatannya tidak sesuai kriteria, misalnya kalimat terlalu panjang, tidak menggunakan aktor dan setting, serta tidak memuat nilai karakter positif. Hasil pelatihan dan pendampingan praktik mengajarkan soal cerita menunjukkan lebih dari 60% guru dapat mengajarkan soal cerita buatannya secara komunikatif dengan teknik menerjemahkan (dalam bahasa Jawa) dan menceritakan sehingga siswa dapat memahami isi soal soal dan membuat persamaan Matematika secara benar.  Kata kunci: penyusunan dan pengajaran; soal cerita Matematika; sekolah dasar; pedesaanThe Improvement of Composing and Teaching Word Problem Competencies for Rural Elementary School TeachersABSTRACT The problem faced by primary school teachers in Cepogo Subdistrict, Boyolali District which is rural area, is that it is difficult for students to understand  word problems in the Mathematics book because the language and context are not in line with their competencies. Meanwhile, the teacher has difficulty creating word problem that are appropriate to the students' language characteristics and teaching them using communicative methods. The purpose of this devotion (IbM) is to improve teacher competence in (1) ccomposing word problem that are in accordance with the characteristics of the language and context of the students and (2) teaching word problems with communicative methods so that it helps students to understand the content of problems. The subjects (partners) were 30 teachers in grades 1, 2, 3. The approach applied was a participatory approach with modeling techniques, simulations and classroom practices. The results of the training and mentoring for the preparation of word problems showed that more than  70% of the teachers could compose Mathematics word problems that were in accordance with the criteria, whereas in other teachers, some of the stories they made were not in accordance with the signs, ie the sentences were too long, not use actors and settings, and do not contain positive character. The results of training and practical assistance teaching word problems show that more than 60% of teachers can teach the word problems that she made communicatively by translating techniques (in Javanese) and telling stories so students can make mathematical equations correctly.Keywords: composing and teaching; mathematics word problems; primary school; rural.Â

    Pemberian Corrective Feedback dalam Pembimbingan Menulis Karya Ilmiah pada Siswa SMA

    Get PDF
    Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan mengenai (1) bentuk-bentuk corrective feedback yang diberikan kepada siswa dalam pembelajaran menulis karya ilmiah; (2) alasan pemberian corrective feedback; dan (3) dampak pemberian corrective feedback dalam pembelajaran menulis karya ilmiah. Teknik pengambilan subjek penelitian dengan teknik purposive sampling. Hasil dari penelitian ini adalah: (1) bentuk-bentuk corrective feedback yang diberikan dalam karya ilmiah antara lain, corrective feedback langsung: eksplisit feedback, masukan metalinguistik, dan elisitasi feedback, serta corrective feedback tak langsung. Corrective feedback langsung adalah feedback yang dominan diberikan guru, (2) faktor yang melatarbelakangi diberikannya corrective feedback langsung adalah untuk memudahkan siswa dalam menemukan kesalahan yang pertama kali dilakukan,  diperikirakan siswa benar-benar tidak tahu bentuk yang benar,  dan  guru kesulitan memberi penanda feedback tak langsung pada jenis kesalahan tertentu. Adapun alasan yang memengaruhi pemberian corrective feedback tak langsung, yaitu lebih mengefisienkan waktu guru, kesalahan penulisan kata yang diulang-ulang, guru mempercayai siswa memahami maksud pemberian tanda, dan mengukur pemahaman siswa, (3) dampak pemberian corrective feedback langsung yaitu siswa segera mengetahui letak kesalahannya sekaligus membetulkannya, pelaksanaan koreksi lebih terfokus, dan menghindari kesalahan selanjutnya. Dampak dari feedback tak langsung adalah siswa termotivasi melakukan diskusi, waktu koreksi lebih efisien, dan pemahaman siswa dalam menulis dapat diukur. Kata kunci: corrective feedback, langsung dan tak langsung, menulis, karya ilmiah   Abstract The aims of this research is to describes and explains about (1) corrective feedback forms that given to the students in a scientific writing study; (2) the reasons in corrective feedback provision on scientific writing learning; (3) the impact that given from corrective feedback provision on scientific writing learning. Technique of research subject is purposive sampling. The result of this study are (1) corrective feedback forms that provided by the teacher to students in scientific writing learning are direct corrective feedback: explicit feedback, metalinguistik feedback, elicitasi feedback, and indirect corrective feedback. Direct corrective feedback is the dominant feedback given by teacher, (2) the factors underlying the direct corrective feedback are to make it easier for students to find mistakes that were first made, it is thought that students really do not know the correct form, and teachers have difficulty giving markers of indirect feedback on certain types of errors The reasons that influence of indirect feedback, which is more efficient time, repetition of mistakes, teacher believe that the students understand the purpose of sign, and measure the understanding of learners, (3) the impact of providing direct corrective feedback is that students immediately find out where their mistakes are at the same time correcting them, implementing more focused corrections, and avoiding further mistakes. The impact of indirect feedback is that students are motivated to have discussions, correction time is more efficient, and student understanding in writing can be measured. Keywords: corrective feedback, direct and indirect, writing, scientific text

    PEMBUATAN PETA SEMANTIK PADA KEGIATAN PRABACA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI BACAAN SISWA SEKOLAH MENENGAH

    Get PDF
    Abstract: This study aims to improve the reading ability through thue use of semantics mapping. This study was an classroom action research and conducted in three cycles. The participants were nineth studets of class E of SMP Negeri 27 Surakarta. The result showed that there was an improvement in the percentace of formulating the semantics mapping, reading activity and ability. The effective learning procedure was as follows. The students surveyed the text, formulated semantics mapping with questions word 5W + 1 H which organized on the board underheadings, memorized the semantics mapping, read the text intensively that they could use their maps as a review of information gained, stated the information about topics in the semantics mapping, and answered the questions (take a test). The conclusion of this research is when students have a purpose for reading a selection, they find that purpose not only directs their reading towards a goal, but helps to focus their attention. Keywords: semantics mapping, intensive reading, reading ability, reading process, pre-readin
    corecore