1,721,645 research outputs found
SULUR-SULUR VISUAL DIMASA PANDEMI
Masa pandemic coronavirus membawa mindset baru dalam mengarungi kehidupan hari ini dan dimasa
mendatang. Masyarakat di imbau melakukan aktivitas daring dari rumah, kecuali mendesak masyarakat
disarankan tinggal di rumah dimasa pandemic ini. Tulisan ‘Sulur-Sulur Visual di Masa Pandem’
bertujuan menuliskan apa yang dilakukan penulis selama tinggal di rumah. Aktivitas di rumah yakni
mengajar daring, mendampingi anak-anak, membersihkan kebun dan lingkungan lainnya. Informasi
terkait covid-19 yang berlebihan tambahan psikis selama tinggal dirumah, menimbulkan persoalanpersoalan
tersendiri
yang
belum
mendapatkan
solusi.
Aktivitas
mendrawing
salah
satu
kegiatan
yang
digunakan
meredakan
ketegangan
mentas.
Menggunakan
metode
tiga
tindakan
berpikir
artistic
Sullivan
sebagai
landasan
konsep,
serta
pengalaman
dan
pengetahuan
penulis.
Ratusan
drawing
dihasilkan
selama
tiga
bulan
Maret,
April,
dan
Mei
2020.
Penulis
mencoba
menarasikan
temuan
visual
tersebut
yang
terbagi
menjadi
tiga
tematik.
Kata Kunci: Sulur-Sulur, Visual, Dimasa Pandemi
VIABILITAS RAGAM HIAS SULUR-GELUNG
Motive of ukel, lung or plant tendrils (forming like question mark) spiraling inside andoutside is named sulur gelung ornament. These ornaments are often found in Hinduism andBudhist temples even in the mosque with particular style. Sulur gelung ornament has to befondness for people when we look at the craft as visual art. Many artefacs of heritage oftenvisualized form of lung or ukel. In javanese fashion ukel as trendil of hair fastened by ukel konde.Ukel konde is used for make up on the face also for forming of puppet’s hair and isen-isen, evenfor forming of punokawan’s hair (Semar, Gareng, Petruk, and Bagong). Form like ukel is alsofound in the architecture of mosque especially on the mihrab or altar, we can also be found inthe architecture of javanese traditional house. The temples of Hinduism and Budhist in Javahave ornament of sulur gelung, for example Candi Gondosuli, Candi Gedongsongo, CandiKalasan, candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Lumbung, and many of temples in East Java.Is this ornament comes from India through the Hinduism or Hinduism-Budhist diffusionto Java? Or possibly this is an original local archetype of java or is this the result of aculturationof Hinduism-Budhist, Java, and Islam ? This reaserch will review the sulur gelung ornamentprovenience which is commonly using as fix pattern and the spirit or viability of javanese style.The sulur gelung ornament has evoluted since Hinduism-Budhist until Islamic diffusion asreception religion in the culture. Key wors : aculturation, ornament, sulur-gelun
Jumlah Sulur sebagai Penanda Diabetes Mellitus Tipe-2 Etnis Minangkabau
Abstrak. DMT-2 merupakan penyakit degeneratif yang sulit disembuhkan. Prevalensi diabetes di Indonesia menduduki peringkat ketujuh di dunia. Oleh karena itu upaya yang diperlukan untuk mencegah DMT-2 dengan mencari penanda genetik. Jumlah sulur ujung jari tangan dapat digunakan sebagai penanda genetik DMT2. Tujuan penelitian menemukan hubungan jumlah sulur  sebagai penanda genetik DMT-2. Metode penelitian case control dengan model cross sectional study dengan 66 DMT-2 dan 66 kontrol. Hasil penelitian jumlah sulur ujung jari tangan DMT2 adalah 104,85 dengan SD ±30,02, pada kontrol 122,06 dengan SD ±29,54. Hasil uji-t dengan nilai p<0,05. Jumlah  sulur ujung jari tangan kanan   DMT2 adalah 53,3 dengan SD ±15,4, sedangkan pada kontrol  63,2  dengan SD ±15,9. Jumlah  sulur ujung jari tangan kiri DMT2 adalah 51,6 dengan SD ±15,9, pada kontrol 58,9  dengan SD ±15,5. Hasil uji anava didapatkan p<0,05. Hasil uji anava jumlah sulur setiap jari diperoleh p<0,05, kecuali jari V/kelingking. Dengan demikian terdapat hubungan jumlah sulur total sidik jari(TRC), jumlah sulur tangan kanan dan kiri serta  jumlah sulur setiap sidik jari dengan penderita DMT2 etnis Minangkabau, kecuali kelingking.  Kata kunci: jumlah sulur, DMT2 dan etnis Minangkaba
Development of Video Tutorials for Solving Problems on Temperature and Heat Topic to Enhance Students' Cognitive Skills
The recent transformation into online learning has reduced students’ cognitive abilities, as indicated by their difficulty in solving problems, including physics questions. Teachers tend to give assignments to work on questions without examples to solve those problems. Based on interview questionnaires, students have difficulty working on physics questions. The purpose of this research is to develop a video tutorial product to solve question items and to find out the products’ feasibility and readability from the students’ perspective. This study used Research and Development with a 4D research design. The video tutorial product was then validated by expert lecturers and resulted in an average score of 3.79 (valid). After being declared valid, then a trial was carried out on class XI students of the 2020/2021 academic year to determine the feasibility and readability of the product. The results of the limited trial showed a feasibility value of 85.0% and the readability value of 90.76%. Since the obtained feasibility and readability scores were above 80%, so the video tutorial product is categorized as successful and can be used as a learning companion media.Keywords: Video Tutorial, Cognitive Skills, Problem Solving ABSTRAKPerubahan pembelajaran secara daring membuat kemampuan kognitif peserta didik mengalami penurunan, yang ditunjukkan oleh kesulitan dalam memecahkan permasalahan salah satunya yaitu soal-soal fisika. Guru cenderung memberikan tugas untuk mengerjakan soal-soal, tetapi tanpa disertai contoh untuk menyelesaikan soal. Berdasarkan angket wawancara, peserta didik mengalami kesulitan mengerjakan soal-soal fisika. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengembangkan produk video tutorial penyelesaian soal dan mengetahui kelayakan dan keterbacaan produk oleh peserta didik. Metode yang digunakan adalah Penelitian dan Pengembangan dengan desain penelitian 4D. Produk video tutorial kemudian dilakukan uji validasi oleh dosen ahli dan menghasilkan nilai rata-rata 3,79 (valid). Setelah dinyatakan valid, kemudian dilakukan uji coba kepada peserta didik kelas XI tahun ajaran 2020/2021 untuk mengetahui kelayakan dan keterbacaan produk. Hasil yang diperoleh dari uji coba terbatas yaitu nilai kelayakan sebesar 85,0% dan nilai keterbacaan sebesar 90,76%. Hasil uji kelayakan dan keterbacaan yang diperoleh mendapt hasil di atas 80%, maka produk video tutorial sudah dapat dikatakan berhasil dan dapat digunakan sebagai media pendamping belajar
EFEKTIVITAS BERBAGAI JENIS SULUR DAN PEMBERIAN KONSENTRASI ZPT AUKSIN PADA PERTUMBUHAN CABE JAWA (Piper retrofractum Vahl.)
Cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) merupakan salah satu tanaman obat yang
memiliki nilai ekonomis tinggi dan sangat diminati di pasar internasional karena memilki
banyak manfaat. Oleh karena itu perlu dikembangkan budidaya cabe jawa yang baik untuk
meningkatkan produktifitas tanaman cabe jawa diantara dengan memperbaiki pembibitan
tanaman cabe jawa secara vegetatif dengan menggunakan jenis sulur dan didukung dengan
penggunaan zat pengatur tumbuh. Pemilihan jenis sulur dan penggunaan zat pengatur
tumbuh perlu dilakukan untuk meningkatkan persentase pertumbuhan terbaik cabe jawa
yang unggul. Penelitian ini bertujuan menentukan interaksi jenis sulur dengan konsentrasi
zat pengatur tumbuh yang terbaik terhahadap pertumbuhan cabe jawa, menentukan jenis
sulur yang terbaik terhadap pertumbuhan cabe jawa, dan menentukan konsentrasi terbaik
terhadap pertumbuhan cabe jawa.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2020 sampai September 2020, bertempat
di Medan Baru, Kelurahan Kandang Limun, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota
Bengkulu pada ketinggian ± 10 mdpl. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak
Kelompok Lengkap (RAKL) yang terdiri dari dua faktor perlakuan. Faktor pertama yaitu
jenis sulur cabe jawa yang terdiri dari sulur tanah, sulur panjat, sulur produktif dan faktor
kedua konsentrasi zat pengatur tumbuh auksin yang terdiri dari 0 mg/L, 100 mg/L, 200
mg/L, 300 mg/L.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi antara kombinasi jenis sulur dan
pemberian konsentrasi zat pengatur tumbuh pada variabel jumlah tunas. Zat pengatur
tumbuh tidak berpengaruh nyata terhadap sulur tanah, sulur panjat dan sulur produktif.
Sulur tanah menghasilkan rata-rata lebih unggul dibandingkan dengan sulur panjat dan
sulur produktif
Pengaruh Jenis Sulur dan Jumlah Ruas Terhadap Pertumbuhan Bibit Tanaman Lada (Piper nigrum L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) pengaruh jenis sulur terhadap pertumbuhan bibit tanaman lada, (2) pengaruh jumlah ruas terhadap pertumbuhan bibit tanaman lada (3) pengaruh interaksi jenis sulur dan jumlah ruas terhadap pertumbuhan bibit tanaman lada. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus 2022 bertempat dikebun percobaan Program Studi Agroteknologi Kelurahan Ngkari-Ngkari Kecamatan Bungi Kota Baubau.Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial terdiri dari 3 ulangan. Faktor pertama jenis sulur yaitu: sulur gantung (S1), sulur panjat (S2) dan sulur cacing (S3). Faktor kedua jumlah ruas yaitu : ruas 3 (R1), ruas 5 (R2), ruas 7 (R3). Analisis data yang digunakan adalah analisis of varians (ANOVA) dengan uji lanjut BNJ pada taraf 5%.Parameter penelitian meliputi jumlah tuas, jumlah daun, diameter tunas (cm), dan panjang sulur (cm).Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan jenis sulur berpengaruh terhadap parameter jumlah tunas, jumlah daun, diameter tunas (cm) dan panjang sulur (cm).Jumlah ruas berpengaruh terhadap parameter jumlah tunas, jumlah daun, diameter tunas (mm) dan panjang sulur (cm).Terdapat pengaruh interaksi terhadap parameter jumlah tunas, jumlah daun, diameter tunas (cm), dan panjang sulur (cm).Perlakuan sulur panjat yang dikombinasikan dengan ruas 5(R2) serta ruas 7 (R3) merupakan perlakuan yang terbaik pada penelitian ini
KAJIAN JENIS DAN BAGIAN SULUR PADA PERTUMBUHAN STEK CABE JAMU (Piper retrofractum Vahl.)
Produksi tanaman cabe jamu (Piper retrofractum Vahl.) di Indonesia tergolong rendah dibandingkan dengan potensi produksinya. Potensi produksi tanaman cabe jamu pada tahun 2012 sebesar 3,45 ton ha-1, sedangkan rata-rata produksi masih mencapai 0,47 ton ha-1 (Direktorat Jendral Perkebunan, 2013). Rata-rata produksi yang rendah dan kegiatan eks-plorasi yang dilakukan menjadikan komoditas ini memiliki peluang yang cukup bagus untuk dikembangkan di Indonesia. Kegiatan eksplorasi tanpa adanya budidaya secara intensif dapat mengakibatkan ke-punahan. Keberhasilan budidaya ditentukan oleh bahan tanam. Tanaman cabe jamu biasa diperbanyak dengan stek sulur, yaitu sulur panjat dan sulur tanah.  Bahan tanam yang digunakan, masing-masing memiliki keunggulan yang berbeda sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan awal tanaman. Penelitian bertujuan untuk (1) mem-bandingkan pertumbuhan stek tanaman cabe jamu yang berasal dari sulur panjat dan tanah serta bagian sulur yang berbeda dan (2) mendapatkan bahan tanam cabe jamu yang unggul (daya hidup tinggi dan cepat tumbuh). Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli-Oktober 2014, di Desa Banjarsari, Selorejo Blitar. Penelitian meng-gunakan rancangan acak kelompok (RAK), yang di-ulang 4 kali. Hasil penelitian me-nunjukkan bahwa bahan tanam yang di-gunakan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Stek sulur tanah menunjukkan pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan dengan stek sulur panjat yang ditunjukkan oleh persentase tanaman hidup, jumlah daun, jumlah akar dan panjang akar. Sulur tanah bagian tengah (STT) dan atas (STA) menunjukkan pertumbuhan paling cepat. Sulur tanah bagian tengah (STT) me-nunjukkan pertumbuhan lebih cepat pada persentase tanaman hidup. Sulur tanah bagian atas (STA) menunjukkan jumlah daun lebih banyak
KOMPOSISI EFEK SPONTAN CAT AIR DENGAN SULUR TRADISIONAL YOGYAKARTA PADA PENCIPTAAN LUKISAN
Penelitian “Komposisi Efek Spontan Cat Air dengan Sulur Tradisional Yogyakarta pada Penciptaan Lukisan” ini paling tidak memiliki tiga urgensi untuk pendidikan seni lukis maupun dunia seni lukis pada umumnya. Pertama, perpaduan efek spontan cat air yang terjadi dengan sendirinya dengan sulur tradisional Yogyakarta yang memiliki pakem akan menghasilkan dinamika bentuk yang diperlukan untuk penciptaan seni lukis. Kedua, sulur biasanya menjadi penghias barang fungsional, dan dalam penelitian ini ia diangkat sebagai pembangkit pengalaman estetis itu sendiri; dengan kata lain ‘sulur dihadirkan sebagai sulur itu sendiri’, bukan sekedar penghias yang menempatkannya sebagai aspek kedua setelah barang yang dihiasi. Ketiga, penelitian ini menerapkan kaidah langgam seni postmodern shock of the old, bukan shock of the new. Rumusan penciptaan dalam penelitian ini adalah bagaimana mengomposisi efek spontan cat air di kertas dengan bentuk sulur tradisional Yogyakarta untuk penciptaan lukisan. Data sulur diperoleh dengan kajian pustaka maupun observasi, yaitu di Keraton Kasultanan Yogyakarta, Makam Raja-Raja Mataram Kotagede, Makam Raja-Raja Imogiri, Museum Sonobudoyo, Taman Sari, Museum Kereta Keraton, dan Benteng Vredeburg. Hasil penciptaan lukisan kombinasi efek spontan cat air dengan sulur tradisional ini dikerjakan dengan dua cara yang berbeda. Cara pertama adalah menentukan bentuk sulur lalu diberi efek spontan cat air. Sebaliknya, cara kedua adalah membuat efek spontan cat air terlebih dahulu kemudian direspon dengan sulur. Kata Kunci: lukisan, sulur, efek spontan cat air, Yogyakarta This research, “Compositions between Watercolor Effects and Yogyakarta Traditional Sulurs for Painting Creations”, has at least three urgencies for painting educations and art worlds generally. First, on the one hand, watercolor effects give spontaneous forms; on the other hand, Yogyakarta traditional Sulurs (spiral forms of floral ornamens) have certain patterns. Combinations of both of them produce dynamic compositions needed for creating paintings. Second, the function of sulurs usually are for decorating things, such as ornamens on buidings, furniture, or book illuminations; in this case, sulur is as the second thing. Meanwhile, in this research, sulurs are used for arousing aesthetic experiences; it is as itself. Third, this study applies the postmodern art value ‘shock of the old’, not ‘shock of the new’. The research question is how to compose the spontaneous watercolor effects with Yogyakarta traditional sulurs for painting creations. Sulur data is obtained by literature review and observations at Yogyakarta Sultanate Palace, Tomb of the Kings of Mataram Kotagede, Tomb of the Kings of Imogiri, Sonobudoyo Museum, Taman Sari, Keraton Carriage Museum, and Vredeburg Fort. The result of this research is, the combinations of watercolor effects and sulur can be created in two different ways. The first way is determining the shape of the sulurs then given with watercolor effects. Instead, the second way is creating watercolor effects first then responded with sulurs. Keywords: painting, sulur, spontaneous watercolor effect, Yogyakart
Kajian Jenis Dan Bagian Sulur Pada Pertumbuhan Stek Cabe Jamu (Piper Retrofractum Vahl.).
Produksi Tanaman Cabe Jamu (Piper Retrofractum Vahl.) Di Indonesia Masih Rendah Dibandingkan Dengan Potensi Produksinya. Potensi Produksi Tanaman Cabe Jamu Pada Tahun 2012 Adalah Sebesar 3,45 Ton Ha-1, Sedangkan Rata-Rata Produksi Tanaman Cabe Jamu Di Indonesia Pada Tahun 2012 Masih Mencapai 0,47 Ton Ha-1 (Direktorat Jendral Perkebunan, 2013). Berdasarkan Data Diatas Menunjukkan Bahwa Peluang Pengembangan Cabe Jamu Cukup Bagus. Selama Ini Masyarakat Indonesia Melakukan Eksplorasi Untuk Memenuhi Kebutuhan Cabe Jamu. Eksplorasi Yang Dilakukan Secara Terus Menerus Tanpa Diimbangi Dengan Budidaya Secara Intensif, Akan Mengakibatkan Kepunahan. Salah Satu Faktor Yang Menentukan Keberhasilan Budidaya Adalah Bahan Tanam. Tanaman Cabe Jamu Biasa Diperbanyak Dengan Stek Sulur, Yaitu Sulur Panjat Dan Sulur Tanah. Bahan Tanam Yang Digunakan, Masing-Masing Memiliki Keunggulan Sehingga Dapat Mempengaruhi Pertumbuhan Awal Tanaman. Selain Jenis, Bagian Sulur Yang Digunakan Juga Akan Mempengaruhi Kecepatan Pertumbuhan Tanaman. Penelitian Ini Bertujuan Untuk (1) Membandingkan Pertumbuhan Stek Tanaman Cabe Jamu Yang Berasal Dari Sulur Panjat Dan Tanah Serta Bagian Sulur Yang Berbeda Dan (2) Mendapatkan Bahan Tanam Cabe Jamu Yang Unggul (Daya Hidup Tinggi Dan Cepat Tumbuh). Hipotesis Yang Diajukan Adalah (1) Stek Yang Berasal Dari Sulur Panjat Bagian Atas Lebih Cepat Tumbuh Dibandingkan Dengan Sulur Tanah Dan Bagian Stek Yang Lain Dan (2) Stek Yang Berasal Dari Sulur Panjat Bagian Atas Merupakan Bahan Tanam Cabe Jamu Yang Unggul (Daya Hidup Tinggi Dan Cepat Tumbuh). Penelitian Dilaksanakan Pada Bulan Juli-Oktober 2014, Di Desa Banjarsari, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar. Alat Dan Bahan Yang Digunakan Pada Penelitian Adalah Polybag, Plastik, Gembor, Sulur Tanah, Sulur Panjat, Zpt, Tanah, Sekam Dan Pupuk Organik Dengan Perbandingan 2:1:1. Bahan Tanam Sulur Dibedakan Menjadi 4 Bagian Yaitu Bagian Pucuk, Atas, Tengah Dan Bawah. Rancangan Yang Digunakan Adalah Rancangan Acak Kelompok (Rak), Yang Diulang 4 Kali. Perlakuan Yang Diberikan Adalah: Spp (Sulur Panjat Bagian Pucuk), Spa (Sulur Panjat Bagian Atas), Spt (Sulur Panjat Bagian Tengah), Spb (Sulur Panjat Bagian Bawah), Stp (Sulur Tanah Bagian Pucuk), Sta (Sulur Tanah Bagian Atas), Stt (Sulur Tanah Bagian Tengah), Stb (Sulur Tanah Bagian Bawah). Pengamatan Dilakukan Mulai 14 Hst Hingga 84 Hst. Pengamatan Non Destruktif Meliputi Saat Muncul Tunas, Persentase Tanaman Hidup, Jumlah Daun, Dan Pertambahan Tinggi Tanaman. Pengamatan Destruktif Terdiri Atas Jumlah Akar, Dan Panjang Akar. Data Yang Diperoleh Dianalisis Dengan Menggunakan Analisis Ragam Atau Uji F 5% Untuk Mengetahui Pengaruh Perlakuan. Apabila Terdapat Pengaruh Nyata Maka Dilanjutkan Dengan Menggunakan Uji Beda Nyata Jujur (Bnj) 5%. Hasil Penelitian Menunjukkan Bahwa Bahan Tanam Yang Digunakan Mempengaruhi Pertumbuhan Tanaman. Stek Yang Berasal Dari Sulur Tanah Menunjukkan Pertumbuhan Lebih Tinggi Dibandingkan Dengan Stek Dari Sulur Panjat, Yang Ditunjukkan Oleh Persentase Tanaman Hidup (46,5 - 63,5%), Pertambahan Tinggi (0,88 - 1,65 Cm), Jumlah Daun (0,82 - 9,6), Jumlah Akar (2,5 - 3,5) Dan Panjang Akar (6,73 - 7,88 Cm). Adapun Sulur Tanah Yang Menunjukkan Pertumbuhan Paling Cepat Adalah Bagian Tengah Dan Atas. Sulur Tanah Bagian Tengah (Stt) Menunjukkan Pertumbuhan Lebih Cepat Pada Persentase Tanaman Hidup, Dan Pertambahan Tinggi Tanaman Dibandingkan Sulur Panjat. Sulur Tanah Bagian Atas (Sta) Menunjukkan Jumlah Daun Lebih Banyak Dibandingkan Dengan Bahan Tanam Yang Lain
Penciptaan Perhiasan Perak Kotagede Motif Sulur Gelung
Kotagede Yogyakarta merupakan salah satu bekas pusat peradaban Kesultanan Mataram Islam. Kotagede memiliki banyak aset cagar budaya seperti gaya arsitektur yang memiliki filosofi dan mencerminkan sejarah lokal [1]. Memiliki keunggulan kompetitif sebagai tujuan wisata. Memiliki komunitas lokal yang berkontribusi dalam melestarikan struktur lama dan mendorong pertumbuhan ekonomi [2]. Disamping itu produk perak Kotagede berhasil memberi ciri identitas khas Yogyakarta.
Krisis ekonomi tahun 1990-an berdampak buruk pada produk perak Kotagede, yaitu masalah bahan baku dan pemasaran. Mahalnya harga bahan baku tidak diimbangi dengan banyaknya permintaan, mengakibatkan pendapatan berkurang. Wisatawan mancanegara yang menjadi konsumen utama juga berkurang kuantitasnya. Hal ini memicu terjadinya ketidakseimbangan permintaan dan penawaran. Di samping itu generasi mudanya tidak lagi berminat menekuni usaha perak, desain produk perak tidak berkembang, buruknya manajemen pemasaran dan timbulnya konflik antar pedagang perak.
Oleh karena itu perlu diciptakan kriya berbasis kebangsaan karena dapat memberi kesegaran dalam menafsir produk yang berbasis pada identitas budaya. Langkah strategis agar perak Kotagede dapat adaptif dan relevan dengan budaya kekinian, dapat ditempuh dengan mengawinkan ornamen sulur gelung yang menjadi penciri identitas budaya atau inti jiwa seni Nusantara ke dalam produk perhiasan perak.
Berdasarkan riset penulis ada ornamen yang menjadi kelangenan atau candu yang terus menerus diperagakan dan diulang-ulang polanya yaitu motif ukel. Motif ukel selalu muncul sejak masuknya pengaruh Hindu India sampai pada masa Kesultanan Islam. Dalam fesyen misalnya terdapat ukel konde, lengkung ukel menjadi riasan wajah, riasan ujung rambut Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Motif ukel dalam arsitektur berupa umpak dan berbagai ukiran pada kaki dan dinding candi. Motif ukel ini digubah atau sumber inspirasinya adalah teratai, bentuknya dibuat bergulung-gulung. Gulungan teratai ini kemudian disebut ornamen sulur gelung. Sulur gelung teratai inilah yang menjadi monad inti jiwa seni Nusantara. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana ide dan konsep perancangan perak kontemporer Kotagede menggunakan motif sulur gelung teratai sebagai identitas budaya
- …
