1,721,007 research outputs found

    Peningkatan kinerja relawan berdasarkan motivasi kerja, lingkungan kerja, tunjangan kinerja melalui kepuasan kerja sebagai variabel intervening (studi kasus pada relawan badan penanggulangan bencana daerah kabupaten rembang)

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untu menganalisis pengaruh motivasi kerja, lingkungan kerjam, tunjangan kinerja terhadap kinerja relawan melalui kepuasan kerja BPBD dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana di Kabupaten Rembang. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan metode kuesioner. Teknik analisis menggunakan Structural Equation Model (SEM) dengan software AMOS. Sampel penelitian sebanyak 111 responden. Metode penentuan sampel menggunakan Proposional Sampling. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa tunjangan memiliki pengaruh yang paling besar terhadap variabel kepuasan kerja. Relawan di BPBD dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana Kabupaten Rembang dibandingkan dengan lingkungan dan motivasi, hal ini menunjukkan bahwa tunjangan kinerja yang diberikan selama ini sudah diraskan baik karena relawan tidak semata-mata untuk mendapatkan tunjangan. Sedangkan jika dilihat dari variabel kinerja variabel tunjangan kinerja relawan yang mempengaruhi paling besar dibandingkan dengan motivasi, lingkungan dan kepuasan kerja

    MODEL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO DAN HASIL PENILAIAN DALAM BIDANG STUDI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR PANGGANG GIRIHARJO KECAMATANPANGGANG GUNUNG KIDUL

    Full text link
    Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Model pembelajaran portofolio dan hasil penilaian dalam bidang studi Pendidikan Kewarganegaraan siswa kelas V SD Negeri Panggang I Giriharjo Gunung Kidul. Dalam penelitian ini yang menjadi subyek adalah guru dan siswa kelas V SD Negeri Panggang I Giriharjo Gunung Kidul. Untuk mendapatkan data digunakan metode wawancara obervasi dan dokumentasi. Sedangkan untuk menganalisa data digunakan analisa data kualitatif dan kuantitatif. Analisa data kuantitatif digunakan untuk menganilasa data yang berupa keterangan-keterangan, dan analisis data kuantitatif digunakan untuk menganalisa data perubahan jumlah atau frekuensi dari hasil pekerjaan siswa, selanjutnya dianalisa dengan rumus presentase. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pembelajaran dan penilaian portopolio bagi guru merupakan model yanh efektif, tidak membebani dan dapat dilaksanakan secara baik. Bagi siswa merasa diperhatikan oleh guru dan hubungan guru dengan siswa terjalin secara baik

    HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PRAKTEK TENTANG PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK DENGAN ADA TIDAKNYA JENTIK DI KECAMATAN PURWOKERTO TIMUR KABUPATEN BANYUMAS

    Full text link
    Pemberantasan sarang nyamuk merupakan salah satu cara pencegahan yang mudah dan murah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian demam berdarah. Penelitian mengenai pemerantasan sarang nyamuk dilakukan di wilayah Kecamatan Purwokerto Timur Kabupaten Banyumas dengan tujuan untuk mengetahui tingkat kepadatan jentik dengan menggunakan parameter House index, Container Index dan Breteu Index untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ,sikap dan praktek tentang pemberantasan sarang nyamuk dengan ada tidaknya jentik. Jenis penelitian adalah Explanatory dengan pendekatan cross sectional. Hasil penelitian dilakukan terhadap 275 responden menggambarkan tingkat pengetahuan 66,5% dengan kategori baik dan sikap masyarakat terhadap pemberantasan sarang nyamuk sebanyak 67,3% dengan kategori baik. Dan praktek tentang pemberantasan sarang nyamuk dengan kategori baik 62,9%. kepadatan jentik di wilayah Purwokerto Timur dengan House Index 5,8%. uji Chi Square membuktikan tidak ada hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan ada tidaknya jentik. Dan ada hubungan antara praktek pemberantasan dengan ada tidaknya jentik. Hasil penelitian membuktikan masyarakat di wilayah Purwokerto Timur mempunyai pengetahuan sikap dan praktek yang baik terhadap pemberntasan sarang nyamuk. Tetapi beberapa hambatan masih dialami, sehingga ada wilayah di Kecamatan Purwokerto Timur yang masih peka terhadap resiko penularan penyakit demam berdarah. Ada hubungan antara praktek pemberantasan nyamuk dengan adatidaknya jentik mempunyai kecenderungan pada penurunan angka kepadatan jentik dan secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap penurunan angka kejadian penyakit demam berdarah. Disarankan agar gerakan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah makin lebih ditingkatkan dan dipantau secara rutin dalam rangka kewaspadaan dini dengan mengoptimalkan peran serta dan PIKET BERSAMA pemantauan jentik berkala. Kata Kunci: PENGETAHUAN, SIKAP, PRAKTEK PS

    PERAN KORPS KEPOLISIAN PERAIRAN DAN UDARA (KORPOLAIRUD) DALAM MENJAGA KEAMANAN DI WILAYAH SELAT SUNDA

    Full text link
    Selat Sunda merupakan jalur pelayaran yang merupakan bagian dari Alur Laut Kepulauan Indonesia I (ALKI) yang dilalui oleh kapal barang, kapal tanker, kapal tunda, kapal penangkap ikan serta kapal dan kapal militer. Untuk mencegah dan menindak kejahatan atau tindak pidana yang terjadi di wilayah perairan tersebut, maka peran dan keberadaan kapal polisi dan pesawat polisi sangat diperlukan. Oleh karena itu, Korpolairud yang bertugas mengamankan perairan laut dan udara juga merupakan bagian penting dari kepolisian dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat atau disingkat kamtibmas yang berkaitan atau berkaitan dengan perairan laut dan udara. Kemudian penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif didukung dengan studi literatur sebagai metode dalam penelusuran data dan fakta, dimana berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Strategi Ditpolairud dalam meningkatkan perannya dalam mengamankan Selat Sunda Daerah melalui pemanfaatan teknologi untuk lebih memudahkan pelaksanaan patroli udara Polri. Strategi ini diimplementasikan melalui penggunaan kamera pengawas pada pesawat yang sudah dilengkapi dengan sensor termal. Kendala yang dihadapi adalah terbatasnya pesawat berteknologi tinggi untuk pelaksanaan patroli udara polisi dalam rangka pengamanan kawasan Selat Sunda

    Penerapan Pembelajaran Matematika dengan Menggunakan Teknik Probing untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pokok Bahasan Kubus dan Balok di Kelas VIII MTS Salafiyah Ii Randublatung Blora

    Full text link
    Tugas guru matematika adalah membimbing peserta didik agar memiliki pengetahuan dan keterampilan matematika, melaksanakan proses matematika, serta menumbuhkan rasa senang dan cinta belajar matematika. Hal ini sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika yang telah disebutkan dalam PERMENDIKNAS No. 22 Th. 2006. Salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan menerapkan metode yang dapat menarik minat siswa sehingga nantinya pembelajaran dapat berlangsung dengan baik dan melibatkan siswa secara aktif. Metode Teknik Probing merupakan cara agar siswa berpikir secara aktif menuju berpikir tingkat tinggi.Penelitian ini dilaksanakan di kelas VIII-A Madrasah Tsanawiyah II Randublatung Blora selama delapan jam pelajaran. Materi yang dipilih adalah bangun ruang (kubus dan balok). Penelitian yang dilakukan menngunakan pendekatan kuantitatif. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode test. Metode test digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa. Metode test yang digunakan berupa pre-test dan post-test. Pre-test digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa sebelum diberi perlakuan, dan post-test dilakukan untuk mengukur hasil belajar siswa setelah diberi perlakuan. Perlakuan yang diberikan berupa pembelajaran matematika dengan menggunakan teknik probing. Untuk menganalisis data berupa nilai pre-test dan post-test digunakan uji statistik data berpasangan.Setelah diuji dengan menggunakan uji statistik data berpasangan, diketahui bahwa nilai pre-test berbeda dengan nilai post-test. Rata-rata nilai post-test lebih baik dari pada nilai pre-test. Berdasar hal tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa hasil belajar siswa mengalami peningkatan setelah diterapkannya pembelajaran matematika dengan menggunakan teknik probing dalam kegiatan pembelajaran disekolah. Hal itu berarti pembelajaran matematika dengan menggunakan teknik probing dapat meningkatkan hasil belajar siswa

    Algoritma karmarkar dasar dalam penyelesaian permasalahan program linear

    Full text link
    Algoritma- Karmarkar merupakan perkembangan barn dalam program linear yang didesain 'untuk memecahkan permasalahan program linear berskala besar (ratusan bahkan ribuan kendala fungsional). Algoritma Karmarkar mencapai pemecahan optimum pada harga pendekatan dengan menem. bus rnelalui titik dalam daerah fisibel dan bergerak s"epanjang Arah 'yang dinyatakan oleh gradien yang diproyeksikan dari fungsi tujuan (gradien yang diproyeksikan pada daerah fisibel). Algoritma Karmarkar ditujukan untuk menyelesaikan permasalahan program linear yang berbentuk : Meminimumkan Z = CX Dengan Kendala AX = 0 Karmarkar Algorithm is a new development in linear programming which designed. for solving huge linear programming problems (many hundreds or thousands of functional constraints). Karmarkar Algorithm achieves optimum solution in approached value by shotting, through the interior point of the feasible region and moves along the direction which defined by projected gradient of the objective function (the gradient projected onto the feasible region). Karmarkar Algorithm addressed to solved Linear Programming problems of the form : Minimize Z = CX Subject to AX = xi= I i=1

    ANALISIS PELAKSANAAN MANAJEMEN PEMBERANTASAN MALARIA DAN CAKUPAN PROGRAM DI KECAMATAN KEMRANJEN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2002

    Full text link
    Nowadays, Malaria is one of the community health problems at Banyumas district. Based on the report of the Banyumas District Social Welfare and Health Office in 2001, it showed that malaria cases were going up sharply ( 5.409 clinical malaria sufferers and 1.127 malaria positive sufferers, SPR = 20,84 % ) with the number of the death was three persons. Ketnranjen sub district at Banyumas district was the highest of the occurrence of malaria. It was 653 cases. The first operational policy of malaria eradication was giving of radical treatment with SP / Fansidar. Malaria cases went down in the early months. Then, malaria cases went up and spread to other sub districts. Therefore, it needs to analyze further more about management of malaria eradication based on the following management processes ; planning, implementation, controling, and establishment. The aim of this research is to describe the implementation of malaria eradication management at Kemranjen. I Health Center and to describe the effects to the coverage of the implementation program ( output) of malaria eradication. This is qualitative research using case study method. The number of samples were 12 persons that were taken purposively. The subjects of this research were the Head of the Health Center, the Head Coordinator of Malaria Department, the Head of Village Malaria Officer, the Village Malaria Officer, and the Microscope Officer, and Co Assistant Entomologist. Data was collected by in-depth interview using questioners. Content Analysis was done to analyze the qualitative data. The steps of Content Analysis were : arranging, classification, reducing data, and taking a conclusion. The implementation of malaria eradication management as in the following actions : First, the planning has not been used for taking decision in the implementation of malaria eradication. Second, the implementation of malaria eradication has not referred to the operational policy of malaria eradication in Pelita VI that concern to the Global Strategy of Malaria Eradication based on the agreement of the Health Ministries from the countries of WHO member in 1992 about Malaria Surveillance Program. The number of field officers are not enough, and they have double tasks. While field officers do the program of malaria eradication, they have not been supported by the knowledge and the understanding of main task. Controlling to supprot achievement of program hasbeen done. Coverage of the implementation program of malaria eradication has not agreed with the target, and it has not achieved the target based on infected areas ( < 30 % from the total number of citizens at their areas ). The implementation of malaria eradication management quantitatively needs to wacth the invention target of sufferer based on the target at each village. This is to detect the spreading of malaria to other areas and the epidemic. Therefore, it needs to increase the quality and the number of field officers. Finally, they can understand the application of malaria survaillance program and main task for each field officer, and the application of decentralization at Health Center level and District level, primarily in taking a decision for intervention of malaria based on flow chart, SKD form. Penyakit malaria akhir-alchir ini menjadi salah sate masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Banyumas. Basil laporan Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kabupaten Banyumas tahun 2001 menunjukan bahwa penyakit malaria mengalami peningkatan yang cukup tajam yaitu 5.409 penderita malaria klinis dan sebanyak 1.127 positif malaria ( SPR = 20,84 % ), dengan kematian sebanyak 3 orang. Kejadian malaria tertinggi berada di wilayah Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas yaitu sebanyak 653 kasus. Awal kebijaksanaan operasional pemberantasan malaria yang dilakukan untuk menekan perkembangan penyakit malaria adalah dengan pemberian pengobatan radikal dengan Sulfadoksin Pirimetamin / fansidar. Kasus malaria pada bulan-bulan pertama mengalami penurunan, namun selanjutnya berfluktuasi, bahkan cenderung telah menyebar ke wilayah kecamatan lain. Untuk itu perlu dilakukan analisis lebih lanjut mengenai manajemen pemberantasan malaria yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pembinaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan pelaksanaan manajemen pemberantasan malaria di Puskesmas Kemranjen I dan dampaknya terhadap cakupan program ( out-put) pelaksanaan pemberantasan malaria. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan metode studi kasus. Sampel / Subyek penelitian yang diambil berdasarkan Purposive sebanyak 12 orang yaitu Kepala Puskesmas, Kepala Koordinator Urusan Malaria, Kepala Juru Malaria Desa, Juru Malaria Desa, milcroskopis dan co.ass entomologis. Pengambilan data dengan cara wawancara mendalam menggunakan kuesioner terstruktur. Analisa data kualitatif dilakukan dengan cara content analisis yaitu menyusun, mengklasifikasi, mereduksi data dan penarikan kesimpulan. Pelaksanaan manajemen pemberantasan malaria yang meliputi ; pertama, perencanaan belum dimanfaatkan untuk proses tindak lanjut pengambilan keputusan dalam pelaksanaan pemberantasan malaria. Kedua, pelaksanaan pemberantasan malaria belum mengacu pada kebijaksanaan operasional pemberantasan malaria Pelita VI yang menyangkut Startegi Global Pemberantasan Malaria hasil kesepakatan Menteri Kesehatan negara-negara anggota WHO tahun 1992 tentang Program Surveilans Malaria. Kebutuhan tenaga lapangan masih belum memadai dan adanya tugas rangkap. Petugas lapangandalam melaksanakan program pemberantasan malaria belum didukung dengan pengetahuan dan pemahaman tugas pokok yang baik. Pengawasan sudah dilakukan untuk pencapaian program, akan tetapi cakupan program pelaksanaan pemberantasan malaria belum sesuai dengan sasaran yang diharapkan dan belum tercapai sesuai kondisi kriteria desa yang teijangkit yaitu inasih < 30 % dari jumlah penduduk di wilayahnya. Pelaksanaan manajemen pemberantasan malaria secara kuantitas perlu memperhatikan target penemuan penderita sesuai target yang ditetapkan di tiap¬tiap desa. Hal ini untuk lebih dapat mendeteksi dini kemungkinan terjadinya penyebaran penyakit malaria ke daerah lain dan Kejadian Luar Biasa. Oleh karena itu perlu ditingkatkan lagi kualitas dan jumlah petugas lapangan, sehingga dapat lebih memahami penerapan program surveilans malaria dan tugas pokok masing¬masing petugas lapangan dan penerapan desentralisasi di tingkat puskesmas dan juga Kabupaten, terutama desentralisasi dalam pengambilan keputusan untuk penanggulangan malaria sesuai dengan bagan alur, form SKD

    Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Motivasi Kerja, dan Disiplin Guru terhadap Kinerja Guru

    Full text link
    Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja dan disiplin guru terhadap kinerja guru Sekolah Dasar Negeri Di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu. Penelitian ini merupakan penelitian ex-post facto dengan metode kuantitatif. Populasi penelitian adalah semua guru SD Negeri di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu. Teknik pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 182 guru. Validasi instrumen menggunakan validitas isi dan konstruk. Reliabilitas instrumen menggunakan Cronbach’s Alpha. Teknik analisis data menggunakan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru; (2) terdapat pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Pagelaran Kabupaten Pringsewu; (3) terdapat pengaruh disiplin guru terhadap kinerja guru; dan (4) terdapat pengaruh kepemimpinan kepala sekolah, motivasi kerja, dan disiplin guru secara bersama-sama terhadap kinerja guru

    Efektivitas manajemen praktik kerja industri di Sekolah Menengah Kejuruan Kota Yogyakarta

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan: (1) mengevaluasi keefektifan manajemen praktik kerja industri di SMK, (2) menganalisis kendala yang ada pada manajemen praktik kerja industri di SMK. Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi dengan pendekatan kuantitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan angket. Analisis data menggunakan teknik persentase. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aspek perencanaan pada manajemen praktik kerja industri (prakerin) memiliki kriteria sangat efektif. Aspek pelaksanaan pada manajemen prakerin memiliki kriteria sangat efektif. Aspek evaluasi pada manajemen prakerin memiliki kriteria sangat efektif. Secara keseluruhan efektivitas manajemen prakerin di SMK Kota Yogyakarta memiliki kriteria sangat efektif. Analisis kendala pada penelitian ini menunjukkan bahwa pada aspek perencanaan dan pelaksanaan terdapat poin yang memiliki kesenjangan tinggi, yaitu: (1) pengurus pokja prakerin di sekolah berjumlah kurang dari empat orang, (2) dunia usaha dan dunia industry (DU/DI) yang berada di sekitar sekolah tidak selalu relevan dengan program keahlian di sekolah, (3) masih ada siswa yang mencari tempat prakerin sendiri, (4) relevansi program keahlian guru pembimbing dengan siswa yang dibimbing kurang diperhatikan, (5) pelaksanaan pembekalaan masih sering terkendala kedisiplinan siswa, (6) kelompok kerja (pokja) masih menemukan peserta prakerin yang menyelesaikan kegiatan prakerinnya tidak sesuai alokasi waktu. Kata kunci: efektivitas, manajemen, praktik kerja industri   EFFECTIVENESS OF THE WORK-BASED LEARNING MANAGEMENT IN VOCATIONAL HIGH SCHOOLS IN YOGYAKARTA MUNICIPALITY Abstract This research aims to: (1) evaluate the effectiveness of the work-based learning (WBL) management in vocational high schools, and (2) analyze the existing constraints on the work-based learning (WBL) management in vocational high school. This study is an evaluation using a quantitative approach. The technique of collecting data using questionnaires. Data analysis using percentage technique. The results show that the aspects of the planning on the WBL management has a very effective criteria. On the implementation aspects, WBL management has very effective criteria. On the evaluation aspecs, WBL management has a very effective criteria. Overall, the effectiveness of WBL management in vocational high school in Yogyakarta Municipality has a very effective criteria. The constraints analysis in this study indicates that the aspects of the planning and implementation have points that have high discrepancy. Those points are: (1) member of the working group at the school less than four people, (2) industries/companies around the school is not always relevant with skills program at school, (3) there are students who are still looking for WBL place on their own, (4) relevance of teachers and students skills program did not affect the selection of WBL tutor, (5) preparatory program implementation is still often constrained with students discipline, and (6) working group still finds WBL participants who completed their activities not in accordance with the allocation of time. Keywoords: constraints analysis, management, work-based learnin
    corecore