197 research outputs found

    BENTUK TARI PASIHAN ASMARA HASTUNGKARA KARYA SLAMET

    No full text
    Penelitian Bentuk Tari Pasihan Asmara Hastungkara Karya Slamet bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan struktur Tari Pasihan Asmara Hastungkara Karya Slamet. Tari ini dianggap menarik karena berada di Surakarta tetapi dengan gaya gerak Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi, wawancara dan studi pustaka. Hal ini bertujuan untuk memperoleh data sebanyak-banyakya, kemudian dianalisis dan dideskripsikan secara mendalam, sehingga dapat menjawab permasalahan baik bentuk maupun struktur Tari Pasihan Asmara Hastungkara Karya Slamet. Analisis bentuk menggunakan landasan teori dari Suzane K. Langer, kemudian secara teoritis dijelaskan menggunakan pendapat Slamet untuk mengungkapkan elemen-elemen pembentuk nya. Selanjutnya untuk menganalisis struktur, menggunakan teori dari Anya Peterson Royce, kemudian secara gramatikal diuraikan susunan geraknya berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh Ben Suharto. Hasil penelitian diperoleh penjelasan mengenai bentuk serta struktur Tari Pasihan Asmara Hastungkara Karya Slamet. Bentuk Tari Pasihan Asmara Hastungkara Karya Slamet tidak lepas dari beberapa elemen-elemen pembentuk nya yaitu penari, gerak, irama, ekspresi, tata rias dan busana serta tempat pementasan. Secara struktural, gerak tari ini terdiri dari motif gerak, frase gerak, kalimat gerak, dan gugus kalimat gerak. Secara keseluruhan baik kostum, ragam, gerak, iringan dan struktur bentuk sajiannya, bahwa Tari Asmara Hastungkara adalah karya tari dengan gaya Yogyakarta. Namun dalam sajiannya kesan yang hadir adalah tari pasihan gaya Surakarta dikarenakan kemampuan penari yang berlatar belakang tari gaya Surakarta. Pada bagian muryani busana dan beksan jogedan mengadopsi gerak-gerak gaya Surakarta, hal ini yang menjadi ciri tersendiri bagi Tari Pasihan Asmara Hastungkara Karya Slamet

    Petrology and Geochemical Comparation of Pumice and Scoria Rocks of Slamet Volcano, Central Java

    No full text
    Slamet Volcano is one of Indonesia Quaternary Stratovolcanoes in Central Java Province. Slamet volcano is divided into two parts, Old Slamet in the western part and Young Slamet. The author examined a comparation data of pyroclastic rock of Slamet Volcano, the pyroclastic rocks are pumice from Old Slamet, the scoria fall, and scoria cones are from Young Slamet. They have different geochemical and petrology features, pumice rock has higher SiO2 from 60 to 64 wt.%, scoria fall has SiO2 49.81 to 50.56 wt. %, and scoria cone has SiO2 49.26 wt. %. Petrographic observation showed that pumice is vesicular and contains of phenocryst pyroxene, plagioclase and biotite, scoria fall, and scoria cones have similar petrographic characteristic they have phenocryst of plagioclase, olivine, and pyroxene with hyalopilitic texture. The contrast of major element combined with petrographic features suggest that pyroclastic rock in Slamet Volcano formed by different magma and the magma has differentiation process of Slamet magma is generally caused by magma mixing.</jats:p

    Creating political capital to promote devolution in the forestry sector a case study of the forest communities in Banyumas district, Central Java, Indonesia

    No full text
    Devolution has become a major policy trend in the forestry sector of developing countries. Using the case of Banyumas district in Central Java as an example, we examine the challenges of implementing devolution policies at the local level. Applying a theoretical framework based on the concepts of social and political capital, we analyze the strategies used by proponents supporting implementing a community-based forestry system in this district and opponents against it. The proponents include the forest communities, a local non-governmental organization (NGO) and national NGOs. Our analysis showed that they effectively combined their social capital with other resources to create political capital, e.g. by mobilizing the villagers and by lobbying. As a consequence, the central level State Forest Corporation (SFC) approved the implementation of a community-based forest system that met the interests of the local communities. Representatives of the SFC at the district level and members of an illegal logging network opposed this approval and also created political capital to avoid the loss of authority and income opportunities. Assessing the influence of the political frame conditions, we find that the reformation policies implemented after the fall of the Suharto regime increased the possibilities of the proponents to create political capital while depreciating the traditional political capital of the opponents due to, for example, the decline of the military's influence in the political arena. (C) 2003 Elsevier B.V. All rights reserved

    Festival Gunung Slamet sebagai Interreligious Engagement di Desa Serang Kabupaten Purbalingga

    No full text
    Tulisan ini menjelaskan tentang Festival Gunung Slamet sebagai interreligious engagement yang dapat menjadi sarana memperkuat solidaritas antarumat beragama di kaki Gunung Slamet. Festival ini merupakan tradisi rutin satu tahun sekali pada bulan Suro yang dilakukan oleh masyarakat Desa Serang di Kabupaten Purbalingga. Dalam Festival Gunung Slamet inilah terjadi perjumpaan dan kerja sama antaranggota masyarakat dari berbagai latar belakang agama. Festival Gunung Slamet terus dilestarikan di tengah masyarakat yang semakin modern sebagai upaya melestarikan budaya, mengembangkan pariwisata, dan meningkatkan ekonomi masyarakat, sekaligus untuk memperkuat solidaritas antarumat beragama di daerah setempat. Tulisan ini bertujuan untuk melihat keterlibatan antarumat beragama dalam Festival Gunung Slamet yang dapat memperkuat solidaritas di masyarakat dengan menggunakan kajian teori interreligious engagement dan teori solidaritas sosial. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi realis. Teknik pengumpulan data dalam tulisan ini adalah teknik wawancara, observasi, dan studi pustaka. Kemudian teori interreligious engagement dan solidaritas sosial digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh, sehingga memperoleh kesimpulan. Dari studi yang dilakukan, penulis menyimpulkan bahwa interreligious engagement dalam Festival Gunung Slamet menyadarkan masyarakat Desa Serang tentang adanya suatu ikatan yang menyatukan mereka sebagai satu keluarga besar masyarakat Desa Serang berdasarkan memori kolektif masa lalu berupa ikatan sedulur (saudara). Hal inilah yang menggerakkan masyarakat untuk terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan baik dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam rangkaian acara Festival Gunung Slamet. Dengan demikian, keterlibatan antarumat beragama yang dilakukan dalam melaksanakan berbagai rangkaian acara Festival Gunung Slamet menjadi sarana untuk memperkuat solidaritas sosial masyarakat di Desa Serang.This article explains about the Mount Slamet Festival as an interreligious engagement that can be a means of strengthening solidarity between religious communities at the foot of Mount Slamet. This festival is a routine tradition carried out once a year in the month of Suro by the people of Serang Village in Purbalingga Regency. In the Mount Slamet Festival, there is a meeting and cooperation between community members from various religious backgrounds. The Mount Slamet Festival continues to be preserved in the midst of an increasingly modern society as an effort to preserve culture, develop tourism, and improve the community's economy, as well as to strengthen solidarity between religious communities in the local area. This article aims to see the interreligious engagement in the Mount Slamet Festival which can strengthen solidarity in society by using the study of interreligious engagement theory and social solidarity theory. The method used in this study is a qualitative method with a realist ethnographic approach. Data collection techniques in this article are interview techniques, observation, and literature studies. Then the theory of interreligious engagement and social solidarity is used to analyze the data obtained, to obtain conclusions. From the study conducted, the author concludes that interreligious engagement in the Mount Slamet Festival makes the people of Serang Village aware of the existence of a bond that unites them as one big family of the Serang Village community based on collective memories of the past in the form of sedulur (brotherhood) ties. This is what drives the community to be involved in various social activities both in daily life and in the series of events of the Mount Slamet Festival. Thus, the involvement of interfaith communities carried out in implementing various series of events of the Mount Slamet Festival becomes a means to strengthen social solidarity in the Serang Village community

    Pemanfaatan Cendawan Beauveria basslona Sebagai Pengendali flama cabai Thrips parvispinus Dalam Upaya Mengurangi Penggunaan Insektisida Sintetis

    No full text
    Info lebih lanjut hub: Lembaga Penelitian Universitas Jember Jl. Kalimantan No.37 Jember telp. 0331-339385 Fax. 0331-337818Pemanfaatan Cendawan Bequveria bassiana Sebagai Pengendali Hama Cabai Thrips parvispinus Dalam Upaya Mengurangi Penggunaan Insektisida Sintetis, oleh suharto, wagiyana dan S. Haryanto, Dosen Program studi Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Jember. Tahun 2009, 39 halaman. Hama Thrips parvispinus merupakan salah satu hama penting pada tanaman cabai. Hama T. Parvispint# menyerang menyerang daun, bunga dan buah cabai, kehilangan hasil akibat hama dapat mencapai 30 -50 persen dari total produksi. Pengendalian yang dilakukan saat ini masih mengandalkan insektisida sintetik. Penggunaan insektisida sintetik mempunyai dampak negatif seperti hama menjadi resisten, resurjensi ham4 timbulnya hama sekundeq residu insektisida. Dampak negatif yang sering terjadi akibat penggunaan insektisida sintetik pada tanaman cabai ialah resistensi hama. Oleh karena itu perlu adanya altematif pengendalian yang lain. Salah safunya menggunakan cendawan B. Bassiana. Penelitian ini bertujuan mendapatkan isolat cendawan entomopatogen B. bassiana yang terseleksi efektif untuk mengendalikan harna T. parvispinus pada tanaman cabai, untuk mengetahui fase hidup T. parvispinus yang paling peka terhadap B. bossiarn dan mengetahui LCso dan LT56 dari cendawan B. Bassiona hasil seleksi pada penelitian sebelumnya. Screening B. bassisna terhadap T. pamisvinus dilakukan di laboratorium pengendalian hayati. Enam isolat B. bassians diperoleh dari di laboratorium Hama Fakultas Pertanian Universitas Jember (empat isola$ dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember (dua isolat). Suspensi spora dari masing*masing isolat B. bassiana dengan kepekatan l0'spora/ml digunakan dalam penelitian screeing B. bassiana. Thrips dewasa yang baru keluar dari pupa disemprot suspensi spora dengan hand sprayer krsamaan dengan daunnya. Pathogenisitas B. bassiana didasarkan atas mortalitas dan nilai LTso Untuk uji LCso digunakan suspensi spora 103,104, IOs, 106, 107. Sebanyak l0 Larva dan r"*n[ga dewasa - disemprot suspensi spora dengan menggunakan hand sprayer yang mempunyai butiran semprot halus. Larva dan serangga dewasa yang telah diperlakukan selanjutnya dipindahkan ke potongan daun cabai dan dimasukkan ke dalam gelas plastk. Daun cabai diganti setiap hari. Sebagai kontrol larva dan serangga dewasa dicelupkan ke dalam larutan triton. Setiap perlakuan diulang tiga kali. Pengamatan dilakukan setiap hari terhadap mortalitas larva dan serangga dewasa untuk menentukan LCso dan LT5e. Hasil penetitian menuqiukkan bahwa Enam isolat B. Bassiana yang diuji terhadap T.parvispinus, mortalitas pada imago tidak menunjukkan beda nyata antar isolat yang berkisar antara 6A-n33 persen- Berdasarkan mortalitas dan LTso, dua isolat dinyatakan terbaik yaitu isolat BbUj4 dan BbAss725. Patogenitas B. bassiana isolat Bbuj4 terhadap imago T. parvispinus konsentrasi suspensi spora lOa sampai 107 spora/ml berkisar antara 40,00 - 76,67 persen, sedangkan pada isolat BbAss725 berkisar antara 30-73,33 persen. Pada konsentrasi tertinggi (107 spora/mt) lv mortalitas larva T. ryryiyr"ry mencapai 96,6T pada isolat isolat BbAss725. Bbuj4 dan 93,33 pada Padaisolat BbUj+ UiiaiLCso paialarv"-lOrf"f, 2,3 xl1aspora/ml sedangkan pada imago 3,9 x rOa spora/mr. pada isorat nra..zs Nilai LCso pada Iarva adalah 3,6 x lOa tersebut menuqiukkan :bryarhaw/ma l r"d"gk", pada imago 5,7 x r0* spora/mr. Dari hasil isotat duqa paring fi*ri*, t**"u"e T.parvispinus. LTso atau waktu yang dibutuhkan untuk *ip!*t! 50 p.o", oreh seranggo pada konsentrasi BbAss725. Efrirggi yaitu 2,16 ha* untuk isorat Bbuj4 dan 3,3 hari untuk isorat Gejara yang nampak pada rarva dan imago i. pil)irp*usynrrgterinfeksi B' bassiano dicirikan dengan aktivitas menurun, temas'dan akhirnya mati. crejala berikutrya munculaya miselia pada permukaan tubuh disertai terbentuknya spora yang menutupi permukaan tubuhHB_200

    STRATEGI PEMASARAN DALAM MENINGKATKAN JUMLAH NASABAH DEPOSITO PADA PT. BANK BUKOPIN CABANG SLAMET RIYADI SURAKARTA

    No full text
    ABSTRACT MARKETING STRATEGY IN IMPROVING THE NUMBER OF DEPOSITS IN PT. BANK BUKOPIN BRANCH SLAMET RIYADI SURAKARTA In this era of globalization competition in the field of banking is very tight. Lots of products are offered to customers of a bank with a program program with a view to profit. One of them is deposit products. This product almost all banks have with different interest rates. It needs a strategy to get many customers from this product. Writing This Final Project is to know the marketing strategy applied by PT. Bukopin Bank Branch Slamet Riyadi Surakarta to get a lot of deposit customers and know the most effective strategy in increasing the number of deposit customers are also constraints that often faced in implementing these strategies. In this Final Project research using research methods through direct interviews to certain sections of the PT. Bank Bukopin Branch Slamet Riyadi Surakarta, the collection of data in the form of primary and secondary data and using library methods through books relating to this Final Project. This is done to obtain valid results as well as a real analysis of marketing strategies implemented by PT. Bank Bukopin Branch Slamet Riyadi Surakarta. From the results of this research PT. Bukopin Bank Branch Slamet Riyadi Surakarta has done many marketing strategies to increase the number of customers. One of them is by implementing a program called ' Total Marketing ' in which all employees from the branch leadership to the lowest employees to introduce the bank products to the masyarat. But there are also many obstacles in implementing the strategy that is in terms of marketing environment and external environment of the company. As for suggestions from the author to increase the number of deposit customers PT. Bank Bukopin Branch Slamet Riyadi Surakarta is the bank must maximize the quality of human resources and technology is more advanced, and communication promotion to the community should be improved. Keywords: Deposit, Marketing Strategy, Total Marketin

    Upaya Meningkatkan Kemampuan Lompat Jauh Gaya Jongkok Menggunakan Metode Permainan

    No full text
    Hasil observasi menunjukkan bahwa nilai peserta didik masih banyak yang belum mencapai KKM sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan lompat jauh mata pelajaran pendidikan jasmani dengan menggunakan permainan kotak kardus, tali dan rotan. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan 2 siklus dengan tahapan perncanaan, peelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Populasi kelas VIII sebanyak 32 siswa dan teknik penarikan sampel menggunakan total sampling, sehingga 32 siswa dijadikan sebagai sampel peneitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada peningkatan dari prasiklus 9 siswa yang tuntas naik mejadi siklus I ada 24 siswa yang tuntas dengan rata-rata 77,22 dan siklus II ada 31 siswa yang tuntas dengan rata-rata 82,5. Dapat disimpulkan bahwa metode permainan menggunakan kotak kardus, tali dan rotan dapat meningkatkan kemampuan lompat jauh gaya jongko

    Evaluasi Pelatihan Manajemen Bencana Berbasis Komunitas.

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan: (1) latar belakang dilakukannya pelatihan manajemen bencana berbasis komunitas, (2) proses penyelenggaraan pelatihan manajemen bencana di komunitas, dan (3) keterlibatan masyarakat dalam perencanaan sampai dengan penyelenggaraan pelatihan. Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi yang mengevaluasi input, process, output, dan purpose sesuai dengan model Logical Framework. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Klaten dan Kabupaten Manggarai Barat. Sampel sejumlah 15 responden ditentukan menggunakan teknik snow ball sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Uji keabsahan data menggunakan triangulasi teknik. Data penelitian dianalisis mengunakan analisis Logical Framework yang meliputi analisis situasi (hubungan antara goals, objective, output dan activities), kemudian analisis permasalahan (logika vertical dan horizontal), indikator, serta asumsi dan risiko yang perlu diidentifikasikan pada tahap penyusunan program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan manajemen bencana berbasis komunitas diselenggarakan karena potensi ancanaman bencana yang terdapat di Kabupaten Klaten dan Kabupaten Manggarai Barat, dengan demikian pelatihan bertujuan untuk mengurangi kerentanan dan meningkatkan kapasitas masyarakat guna menghadapi bencana alam yang terjadi di kemudian hari. Adapun pelatihan yang diselenggarakan oleh masyarakat murni berasal dari pemikiran masyarakat setempat mengingat tempat tinggal mereka yang memiliki potensi bencana. Pelatihan yang diadakan tersebut menggunakan anggaran dana desa yang dialokasikan untuk pengurangan risiko bencana dan direncanakan hingga proses pelaksanaannya memberikan dampak positif terhadap masyarakatnya karena dengan dilakukannya pelatihan masyarakat menjadi lebih waspada ketika menghadapi bencana alam yang melanda tempat tinggal mereka. Temuan utama penelitian adalah belum dilakukannya evaluasi dengan model evaluasi tertentu pada setiap pelatihan manajemen bencana berbasis komunitas, sehingga penulis menawarkan model evaluasi yang dapat digunakan berbagai komunitas ketika melakukan pelatihan manajemen bencana yang dinamakan SEM (Self Evaluation Model) atau model evaluasi mandiri

    Penentuan jadwal waktu salat di objek wisata gunung Jawa Tengah : studi pemikiran Slamet Hambali tentang koreksi ketinggian tempat

    No full text
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh belum adanya jadwal salat di objek wisata gunung Jawa Tengah. Berdasarkan pra-riset yang dilakukan Penulis diketahui bahwa penentuan waktu salat oleh pendaki Muslim di daerah gunung hanyalah berpatokan pada jadwal yang digunakan sehari-hari ketika tidak mendaki, ataupun dari suara azan yang didengar dari mesjid sekitar. Penentuan waktu salat yang demikian tentu tidak sepenuhnya tepat. Terlebih pada waktu salat yang dipengaruhi oleh ketinggian tempat, yaitu waktu salat Subuh, Maghrib, dan Isya. Ditambah lagi tidak sedikit pendaki muslim dari berbagai daerah yang datang untuk mendaki. Mengingat salat adalah kewajiban yang waktunya bersifat lokal, maka peru adanya suatu panduan ataupun pedoman jadwal salat yang bisa digunakan untuk daerah dengan ketinggian ekstrim, seperti pada objek wisata gunung ini. Slamet Hambali merupakan salah satu tokoh dan ulama falak yang memiliki pandangan bahwa koreksi ketinggian tempat diperlukan dalam menghasilkan jadwal salat yang lebih presisi, maka dalam penelitian ini penulis bermaksud untuk mengetahui bagaimana penentuan waktu salat di objek wisata gunung Jawa Tengah berdasarkan pemikiran Slamet Hambali dan melihat urgensitas dari pemikiran beliau yang terkait dengan koreksi ketinggian tempat dengan cara mengkomparasi. Adapun objek wisata gunung yang dimaksud dalam penelitian ini adalah gunung-gunung yang populer di kalangan pendaki. Dalam hal ini Penulis membatasi pada 12 gunung saja. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pustaka menggunakan pendekatan ilmu falak dan astronomi. Adapun sumber primer dalam penelitian ini ialah didapatkan dari wawancara langsung dengan Slamet Hambali dan Buku Ilmu Falak I karya beliau. Pada pra-riset, wawancara juga dilakukan dengan beberapa komunitas pendaki untuk mengetahui bagaimana realita dalam penentuan waktu salat di wilayah gunung. adapun data sekunder yang digunakan ialah data-data geografis dan topografis dari gunung yang diaksud, serta data-data matahari. data geografis dan topografis didapat dari software Google Earth dan Peta Rupa Bumi dari Badan Informasi Geospasial. Sementara untuk data-data matahari penulis diambil dari Ephemeris Jean Meus. Data-data yang ada kemudian diolah secara deskriptif matematis dan komparatif menggunakan bantuan software Visual BasicMicrosoft Excel. Penentuan waktu salat di objek gunung Jawa Tengah berdasarkan pemikiran Slamet Hambali adalah dengan berpatokan kepada ufuk yang terlihat. Caranya ialah dengan mengurangi ketinggian gunung dengan krtinggian daerah datar yang terlihat dari gunung tersebut. Setelah dilakukan perhitungan dan pengolahan data, maka didapatkan hasil bahwa terdapat variasi waktu salat pada masing-masing objek wisata gunung Jawa Tengah, dimana setiap bertambahnya ketinggian 300 mdpl akan mengakibatkan perbedaan waktu salat satu menit. Kemudian setelah dilakukan komparasi dan pendekatan nilai ih}tiya>t} (+ 2 menit), disimpulkan bahwa koreksi ketinggian tempat sangat urgent dalam penentuan waktu salat di objek wisata gunung Jawa Tengah, karena nilai ih}tiya>t} oleh Kemenag belum mampu mengover waktu salat di semua variasi ketinggian gunung Jawa Tengah. Kata kunci: Koreksi ketinggian tempat Slamet Hambali, jadwal waktu salat, urgensi ABSTRACT: This research was motivated by the absence of a prayer schedule at the Central Java mountain tourist attraction. Based on pre-research conducted by the author, it is known that determining prayer times by Muslim climbers in mountain areas is only based on the daily schedule used when not climbing, or from the sound of the call to prayer heard from nearby mosques. Determining prayer times like this is certainly not completely accurate. Moreover, prayer times are influenced by altitude, namely the times of Fajr, Maghrib and Isha prayers. Plus, quite a few Muslim climbers from various regions come to climb. Considering that prayer is an obligation whose timing is local, there is a need for a guide or prayer schedule guideline that can be used for areas with extreme heights, such as this mountain tourist attraction. Slamet Hambali is one of the figures and falak scholars who has the view that height correction is needed to produce a more precise prayer schedule, so in this research the author intends to find out how prayer times are determined at Central Java mountain tourist attractions based on Slamet Hamabli's thoughts and looking at urgency. From his thoughts related to height correction by means of comparison. The mountain tourist attractions referred to in this research are mountains that are popular among climbers. In this case the author limits it to only 12 mountains. This research is a type of library research using astronomy and astronomy approaches. The primary sources in this research were obtained from direct interviews with Slamet Hambali and his book Ilmu Falak I. In pre-research, interviews were also conducted with several climbing communities to find out the reality of determining prayer times in mountain areas. The secondary data used is geographic and topographic data from the mountain in question, as well as solar data. Geographic and topographic data were obtained from Google Earth software and Earth Maps from the Geospatial Information Agency. Meanwhile, the author's solar data was taken from Jean Meus's Ephemeris. The existing data was then processed descriptively mathematically and comparatively using Visual Basic Microsoft Excel software. Based on Slamet Hambali's thoughts, determining prayer times on mountain objects in Central Java is based on the visible horizon. The method is to reduce the height of the mountain by the height of the flat area visible from the mountain. After carrying out calculations and data processing, the results were obtained that there were variations in prayer times at each mountain tourist attraction in Central Java, where every increase in height of 300 meters above sea level would result in a difference in prayer times of one minute. Then, after a comparison and approach to the ihtiyat value (+ 2 minutes), it was concluded that height correction was very urgent in determining prayer times at Central Java mountain tourist attractions, because the ihtiyat value by the Ministry of Religion had not been able to cover it. prayer times at all variations in mountain heights in Central Java. Keywords: Slamet Hambali altitude correction, prayer time schedule, urgenc

    Pemanfaatan Cendawan Beauveria Bassiana Sebagai Pengendali Hama Cabai Thrips Parvispinus Dalam Upaya Mengurangi Penggunaan Insektisida Sintesis

    No full text
    Info lebih lanjut hub: Lembaga Penelitian Universitas Jember Jl. Kalimantan No.37 Jember telp. 0331-339385 Fax. 0331-337818Hama Thrips parvipinus merupakan salah satu hama penting pada tanaman cabai. Hama T. parvipinus menyerang daun, bunga dan buah cabai, kehilangan hasil akibat hama dapat mencapai 30-50 persen dari total produksi. Pengendalian yang dilakukan saat ini masih mengendalikan insektisida sintetik. Penggunaan insektisida sintetik mempunyai dampak negates seperti hama menjadi resisten, resurjensi hama, timbulnya hama sekunder, residu insektisida. Dampak negatif yang sering terjadi akibat penggunaan insektisida sintetik pada tanaman cabai ialah resistensi hama. Oleh karena itu perlu adanya alternative pengendalian yang lain.Salah satunya menggunakan cendawan B. bassiana. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik pembiakan missal cendawan entomopatogen B. bassiana yang murah dan dapat diadopsi oleh pusat pembiakanagens hayati (PPAH dan kelompok tani, untuk mengetahui daya simpan spora yang dihasilkan dari berbagai sumber inokulum dan tempat penyimnpanan, dan uji lapang untuk mengetahui efektivitas pengendalian dengan menggunakan dua formulasi cendawan B.Bassiana. Empat inokulum yaitu PDA (Potatoe Dektrose Agar), SDA (Sabbouroud Dektose Agar), Outmet + agar batang + yeast) digunakan untuk pembiakan missal. Pembuatan media PDA dan SDA adalah ditambah air kemudian dipanaskan dibuat agar miring. Untuk pembuatan media dari outmeal + agar miring adalah sebagi berikut 20 gram outmeal dalam 1 liter aquadws dipanaskan sampai mendidih ditunggu sampai 10 menit. Setelah dingin disaring dengan kain saring halus. Hasil saringan ditambah dengan agar batang, selanjutnya dipanaskan lagi sampai agar batang meleleh. Setelah agak dingin atau pada suku sekitar 600C Media dimasukkan ke dalam tabung reaksi untuk dibuat media agar miring. Untuk perlakuan keempat sama dengan outmeal + agar batang hanya ditambah 2 gram yeast, selanjutnya dinokulasi dengan spora B. bassiana. Sediaan isolate tersebut kemudian dipelihara sampai miselia jamur menutupi permukaan agar, selanjutnya siap digunakan sebagai sumber inokulum. Tahapan pembiakan selanjutnya yaitu inokulum isolate ditumbuhkan pada media padat berupa jagung dalam tabung kultur. Sopra dalam media jagung dalam tabung reaksi selanjutnya dibiakkan pada jaguing pecah dalam plastic popypropilen. Media diinkubasikan selama 10 hari dan selanjutnya plastic dibuka dikeringanginkan selama 7 hari. Spora diajak dengan ayakan dua sisi tertutup. Berat spora yang dihasilkan pada masing-masing sumber inokulum ditimbang untuk menetukan sumber inokulum terbaik. Bubuk spora kering yang dihasilkan dari berbagai sumber inokulum disimpan dalam suhu ruangan, refrigerator dan freezer selama 30,45, 60, 75, 90, dan 105 hari. Dari masing lama penyimpanan diuji vabilitas sporanya.HB-201
    corecore