1,079 research outputs found
PERANAN DINAS PENDIDIKAN DALAM PENINGKATAN KUALITAS PENDIDIKAN
Penyelenggaraan pendidikan menjadi sangat penting dan strategis dalam menentukan masa depan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Untuk itu sejalan dengan peradigma baru penyelenggaraan otonomi daerah dengan tujuan memungkinkan daerah yang bersangkutan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri berdasarkan perundang-undangan yang berlaku, maka daerah memiliki kewenangan untuk mengelola urusan pemerintahan di daerah atas prakarsa sendiri, termasuk di dalamnya pengelolaan penyelenggaraan di bidang pendidikan. Dengan adanya permasalahan pendidikan yang dihadapi daerahnya, yaitu rendahnya kualitas pendidikan pada setiap jenjang, maka daerah diharapkan mampu menunjukkan peranannya dalam mengupayakan peningkatan kualitas pendidikan.Permasalahan yang diambil dalam penelitian ini adalah peranan yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Daerah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peranan yang dilakukan Dinas Pendidikan Daerah dalam peningkatan kualitas pendidikan meliputi bidang, mewujudkan peningkatan mutu berbasis sekolah, melakukan pembinaan pendidikan dan melaksanakan program-program peningkatan kualitas pendidikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik penentuan sampling adalah purposive sampling, sedangkan tipe yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara, observasi dan dokumentasi.Sesuai dengan hasil penelitian, menunjukkan bahwa Dinas Pendidikan Daerah dalam peranannya mengupayakan peningkatan kualitas pendidikan di berbagai bidang antara lain; pelimpahan kewenangan menagemen peningkatan mutu berbasis sekolah; sehingga sekolah dapat berpartisipasi aktif dalam peningkatan kualitas pendidikan, hal ini ditempuh melalui melaksanakan sosialisasi MPMBS di jajaran Dinas Pendidikan dan sekolah, membantu sekolah menyusun rencana dan program peningkatan kualitas pendidikan, disamping itu, juga melakukan monitoring dan evaluasi. Juga melalui peningkatan kemampuan dan profesionalisme jajaran Dinas Pendidikan, selain itu Dinas Pendidikan lebih meningkatkan upaya-upayanya yaitu melakukan program-program peningkatan kualitas pendidikan; melalui peningkatan mutu pendidikan dasar, peningkatan mutu pendidikan menengah, pemenuhan kebutuhan belajar mengajar dan penyediaan unit sekolah baru.Dari peranan yang dilakukan Dinas Pendidikan, melalui upaya-upaya yang dilakukan maka, sesuai dengan hasil data menunjukkan bahwa peranan Dinas Pendidikan dalam peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Sumenep sudah cukup baik. Dalam hal ini Dinas Pendidikan telah melakukan tugas dan fungsinya dalam mengelola penyelenggaraan kependidikan. Walau demikian Dinas Pendidikan harus lebih mengiatkan lagi upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, jajaran Dinas Pendidikan sebagai aparat pengelola bidang pendidikan di daerah. Perlu ditingkatkan lagi pelaksanaan pelatihan, peningkatan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang memenuhi semua kebutuhan peserta didik. Dengan demikian Dinas Pendidikan dapat menunjukkan eksistensinya dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai aparat pemerintah daerah yang mengelola bidang pendidikan, sehingga nantinya dapat mendukung ke arah tercapainya peningkatan kualitas pendidikan dan terwujudnya tujuan penyelenggaraan pendidikan
HUBUNGAN SIKAP DAN MOTIVASI DENGAN KINERJA KADER POSYANDU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TALUN KABUPATEN BLITAR
Sudarsono. S540809217. The Correlation Between Attitude and Motivation With The
Posyandu Cadre Performance in The Talun Public Health Service Regency of Blitar, 1
st
Counselor Prof. Dr. dr. Didik Tamtomo, PAK, MM, Mkes 2
nd
Counselor dr. Ir. Ruben
Darmawan. Phd.. Thesis: The Graduate Program in Family Medicine, Sebelas Maret
University Surakarta, 2010
Background: the different of posyandu cadre attitude and motivation on posyandu process
would impact on the posyandu service quality.
Objective : determining the correlation attitude and motivation with the Posyandu cadre
performance in The Talun Public Health Service Regency of Blitar.
Method: correlation research with cross sectional approach. The population was all cadre in
The Territory of Talun Public Health Service Regency of Blitar, amount 246 cadre. The
sampling technique was proportionate random sampling to get 153 respondents. Thevariable
instruments were questioner. The Data analysis method was multiple linear regressions.
Result: there was correlation attitude and motivation with the Posyandu cadre performance
simultaneously was determined by calculated F with 0,00 P-Value less than α = 0,05, its mean
there was correlation attitude and motivation with the Posyandu cadre performance in The
Talun Public Health Service Regency of Blitar. The correlation strength was determining R
square was 97,1%, its mean he attitude (X1) and motivation (X2) has influence toward the
Posyandu cadre performance by 97,1% and the rest 2,9% was influenced by another factors.
Conclussion: there was correlation attitude and motivation with the Posyandu cadre
performance in The Talun Public Health Service Regency of Blitar. Base on those results it
was suggested to the Regency Health Authority to improve the cadre training for generates the
cadre motivation and push the cadre in positive attitude. The cadres were suggested for
keeping their attitude, motivation and performance on Posyandu process, because those three
factors were also as the factors of cadre self actualization
PENERAPAN METODE SOCRATES TERHADAP KEMAMPUAN LITERASI MATEMATIS DITINJAU DARI KREATIVITAS BELAJAR PESERTA DIDIK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Perbedaan kemampuan literasi matematis antara peserta didik yang diberi penerapan metode Socrates dengan metode konvensional, (2) perbedaan kemampuan iterasi matematis antara peserta didik yang memiliki kreativitas belajar matematika tinggi, sedang, dan rendah, (3) interaksi antara metode pembelajaran dengan kreativitas belajar matematika terhadap kemampuan literasi matematis pada pokok bahasan kaidah pencacahan. Jenis penelitian ini yaitu quasy eksperiment dengan desain faktorial 2×3. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh peserta didik kelas XI SMK Nurul Islam Lampung Selatan, dengan teknik simple random sampling terpilih kelas XI TKJ A sebagai kelas kontrol dan XI TKJ B sebagai kelas eksperimen. Data hasil angket dan tes kemampuan literasi matematis dianalisis menggunakan uji analisa varians dua jalur berbantuan software SPSS 17.0.
Bedasarkan analisis data ditenukan hasil-hasil sebagai berikut. Pertama, terdapat perbedaan kemampuan literasi matematis antara peserta didik yang diberi perlakuan metode konvansional dan metode Socrates. Kemampuan literasi matematis peserta didik dengan perlakuan metode Socrates lebih baik dibandingngkan dengan peserta didik dengan perlakuan metode konvensional. Kedua, terdapat perbedaan kemampuan literasi matematis antara peserta didik dengan kreativitas belajar tinggi, sedang, dan rendah. Kemampuan literasi matematis peserta didik yang memiliki kreativitas tinggi lebih bai dibandingkan dengan peserta didik yang memiliki kreativitas sedang dan rendah serta kreativitas belajar sedang lebih baik dibandingkan kreativitas belajar rendah. Ketiga, tidak terdapat interaksi antara metode pembelajaran dengan kreativitas belajar matematika terhadap kemampuan literasi matematis.
Kata kunci : Konvensional; Kreativitas; Literasi; Socrates
Upaya Manajerial Pengembangan Kurikulum Program Unggulan Di Madrasah Aliyah
Bahasa Indonesia:Peningkatan mutu pendidikan melalui program unggulan yang diselenggarakan di Madrasah Aliyah turut serta meningkatkan kualitas output pendidikan nasional untuk merespon krisis dalam dimensi kualitas sumber daya manusia maupun krisis dalam bidang identitas dan moralitas manusia Indonesia. Tulisan ini berupaya untuk menyampaikan pandangan tentang upaya manajerial pengembangan kurikulum untuk program-program unggulan dalam konteks Madrasah Aliyah. Manajemen pengembangan kurikulum program unggulan meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum. Perencanaan kurikulum yang dilakukan dalam mencapai tujuan kurikulum adalah kurikulum yang digunakan adalah kurikulum “SNP Plus X Adaptif Cambridge”, sehingga siswanya dapat mengikuti ujian Cambridge, sukses ujian nasional dan sukses OSN (olimpiade sains nasional). Dalam pelaksanaan kurikulum mengacu pada silabus dan RPP yang telah dirancang awal ajaran melalui workshop. Evaluasi kurikulum program unggulan dilaksanakan dalam bentuk evaluasi formatif dan evaluasi sumatif untuk mengukur keberhasilan peserta didik dan digunakan sebagai umpan Balik bagi peserta didik. English:Quality of education improvement via special quality program in higher Islamic school has been participating in increasing the national education quality to respond multi-dimensional crisis, such as human resource quality and identity-morality issues. This paper attempts to provide opinion about managerial efforts in curriculum development for the special quality program in higher Islamic schools. The management involves planning, implementing, and evaluating curriculum. The planning is managed to under the framework of “SNP Plus X Adaptif Cambridge” curriculum so that the students are expected to pass The National Examination and National Science Olympiade. The implementation of curriculum refers to syllabus and lesson plans as a workshop product in the beginning of semester. The evaluation of curriculum makes use both formative and summative curriculum to maeasure students' achievement and to provide feedbacks for them
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY-PROJECT�EVALUATION (DPjE) BERNUANSA STEM BERBASIS KARAKTER BUDAYA LOKAL BIMA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH GEOMETRI
Pemanfaatan karakter budaya lokal Bima dalam pengembangan model
pembelajaran DPjE-STEM diharapkan dapat memberikan solusi terhadap
rendahnya kemampuan pemecahan masalah geometri peserta didik. Adapun tujuan
dari penelitian pengembangan ini adalah untuk mengkaji secara komprehensif
faktor-faktor penyebab rendahnya tingkat kemampuan pemecahan masalah
geometri yang terjadi sampai saat ini, serta mengkaji secara komprehensif proses
dan hasil pengembangan model yang memenuhi kriteria untuk meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah geometri. Metode penelitian yang digunakan
adalah penelitian pengembangan atau Research & Development (R & D) dengan
desain model ADDIE meliputi: (1). Analysis, (2). Design, (3). Develop, (4).
Implementation, dan (5). Evaluation. Subjek penelitian merupakan peserta didik di
sekolah menengah pertama. Adapun hasil penelitian pengembangan yaitu (1) tahap
Analysis dilakukan analisis kebutuhan, kurikulum, karakteristik peserta didik. (2)
tahap Design menghasilkan draf I buku model pembelajaran DPjE bernuansa
STEM berbasis KBLB, perangkat pembelajaran dan isntrumen penelitian. (3) tahap
Develop, para ahli matematika memberikan penelaian kelayakan rancangan produk
yang telah dikembangkan sehingga menghasilkan buku model dan perangkat (draft
I). (4) tahap Implementation melakukan revisi atas hasil penilaian ahli Draft II
digunakan uji coba terbatas memerlukan revisi. revisi buku model dan perangkat
(Draft II) menghasilkan draft III dan produk final memenuhi kriteria valid, praktis
dan efektif. Uji kepratisan data menunjukan model pembelajaran DPjE bernuansa
STEM berbasis KBLB terlaksana dengan baik dan memenuhi respon positif peserta
didik. Uji keefektifan data menunjukkan kemampuan pemecahan masalah geometri
peserta didik menggunakan model pembelajaran DPjE bernuansa STEM berbasis
KBLB adanya peningkatan dan perbedaan. (5) tahap evaluation menghasilkan
langkah penerapan model pembelajaran DPjE bernuansa STEM berbasis KBLB
yang telah valid, praktis dan efektif untuk peningkatan kemampuan pemecahan
masalah geometri peserta didik memiliki sintak dengan fase pembelajaran adalah
stimulasi, indentifikasi masalah, desain project, Menyusun jadwal pembuatan,
pengumpulan data, pengolahan data dan evaluasi. Komponen model pembelajaran
dirancang secara spesifik yang menuhi unsur antara lain sintak pembelajaran,
system sosial, prinsip reaksi, system pendukung, dampak instruksional atau
pengiring untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah geometri. Karakter
model pembelajaran DPjE yaitu (1) pembelajaran berpusat pada peserta didik; (2)
peserta didik belajar aktif sebagai ilmuwan; (3) peran guru sebagai pendamping dan
pembimbing; (4) memusatkan masalah; dan (5) munculnya sikap diri dan sosial
UPAYA MANAJERIAL PENGEMBANGAN KURIKULUM PROGRAM UNGGULAN DI MADRASAH ALIYAH
<p><strong>Bahasa Indonesia:</strong></p><p>Peningkatan mutu pendidikan melalui program unggulan yang diselenggarakan di Madrasah Aliyah turut serta meningkatkan kualitas output pendidikan nasional untuk merespon krisis dalam dimensi kualitas sumber daya manusia maupun krisis dalam bidang identitas dan moralitas manusia Indonesia. Tulisan ini berupaya untuk menyampaikan pandangan tentang upaya manajerial pengembangan kurikulum untuk program-program unggulan dalam konteks Madrasah Aliyah. Manajemen pengembangan kurikulum program unggulan meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum. Perencanaan kurikulum yang dilakukan dalam mencapai tujuan kurikulum adalah kurikulum yang digunakan adalah kurikulum “SNP Plus X Adaptif <em>Cambridge”, </em>sehingga siswanya dapat mengikuti ujian <em>Cambridge, </em>sukses ujian nasional dan sukses OSN (olimpiade sains nasional). Dalam pelaksanaan kurikulum mengacu pada silabus dan RPP yang telah dirancang awal ajaran melalui workshop. Evaluasi kurikulum program unggulan dilaksanakan dalam bentuk evaluasi formatif dan evaluasi sumatif untuk mengukur keberhasilan peserta didik dan digunakan sebagai umpan balik bagi peserta didik.</p><p> </p><p><strong>English:</strong></p><p>Quality of education improvement via special quality program in higher Islamic school has been participating in increasing the national education quality to respond multi-dimensional crisis, such as human resource quality and identity-morality issues. This paper attempts to provide opinion about managerial efforts in curriculum development for the special quality program in higher Islamic schools. The management involves planning, implementing, and evaluating curriculum. The planning is managed to under the framework of “SNP Plus X Adaptif Cambridge” curriculum so that the students are expected to pass The National Examination and National Science Olympiade. The implementation of curriculum refers to syllabus and lesson plans as a workshop product in the beginning of semester. The evaluation of curriculum makes use both formative and summative curriculum to maeasure students’ achievement and to provide feedbacks for them.</p></jats:p
UPAYA MANAJERIAL PENGEMBANGAN KURIKULUM PROGRAM UNGGULAN DI MADRASAH ALIYAH
<p><strong>Bahasa Indonesia:</strong></p><p>Peningkatan mutu pendidikan melalui program unggulan yang diselenggarakan di Madrasah Aliyah turut serta meningkatkan kualitas output pendidikan nasional untuk merespon krisis dalam dimensi kualitas sumber daya manusia maupun krisis dalam bidang identitas dan moralitas manusia Indonesia. Tulisan ini berupaya untuk menyampaikan pandangan tentang upaya manajerial pengembangan kurikulum untuk program-program unggulan dalam konteks Madrasah Aliyah. Manajemen pengembangan kurikulum program unggulan meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum. Perencanaan kurikulum yang dilakukan dalam mencapai tujuan kurikulum adalah kurikulum yang digunakan adalah kurikulum “SNP Plus X Adaptif <em>Cambridge”, </em>sehingga siswanya dapat mengikuti ujian <em>Cambridge, </em>sukses ujian nasional dan sukses OSN (olimpiade sains nasional). Dalam pelaksanaan kurikulum mengacu pada silabus dan RPP yang telah dirancang awal ajaran melalui workshop. Evaluasi kurikulum program unggulan dilaksanakan dalam bentuk evaluasi formatif dan evaluasi sumatif untuk mengukur keberhasilan peserta didik dan digunakan sebagai umpan balik bagi peserta didik.</p><p> </p><p><strong>English:</strong></p><p>Quality of education improvement via special quality program in higher Islamic school has been participating in increasing the national education quality to respond multi-dimensional crisis, such as human resource quality and identity-morality issues. This paper attempts to provide opinion about managerial efforts in curriculum development for the special quality program in higher Islamic schools. The management involves planning, implementing, and evaluating curriculum. The planning is managed to under the framework of “SNP Plus X Adaptif Cambridge” curriculum so that the students are expected to pass The National Examination and National Science Olympiade. The implementation of curriculum refers to syllabus and lesson plans as a workshop product in the beginning of semester. The evaluation of curriculum makes use both formative and summative curriculum to maeasure students’ achievement and to provide feedbacks for them.</p></jats:p
MENINGKATKAN KEMAMPUAN OPERASI HITUNG PERKALIAN SATU ANGKA MELALUI MEDIA PAPAN STICK PADA PESERTA DIDIK CEREBRAL PALSY KELAS V DI SLB D-D1 YPAC JAKARTA
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan operasi hitung perkalian satu angka bagi peserta didik cerebral palsy dengan menerapkan penggunaan media papan stick. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan desain rencana tindakan adaptasi dari model Kemmis dan Mc. Taggart. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif-kualitatif dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian data keseluruhan diolah dengan teknik analisis data kualitatif melalui proses reduksi data, penyajian data kemudian dilakukan penarikan kesimpulan. Subjek dalam penelitian ini adalah peserta didik cerebral palsy tipe spastik berjumlah 3 orang dengan masing-masing peserta didik memiliki karakteristik kemampuan matematika yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga peserta didik cerebral palsy kelas V mengalami peningkatan keterampilan operasi hitung perkalian satu angka secara signifikan setelah diterapkannya penggunaan media papan stick, hasil peningkatan tersebut berdasarkan analisis dari observasi kemampuan awal, pengamatan setiap siklus, dan refleksi serta data hasil evaluasi tes siklus peserta didik. Penggunaan media pembelajaran papan stick telah terbukti membantu peserta didik dalam meningkatkan kemampuan operasi hitung perkalian satu angka. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk terkait penggunaan media papan stick pada tingkatan kemampuan operasi hitung perkalian yang lebih tinggi dari kemampuan operasi hitung perkalian satu angka.
*****
The purpose of this study was to improve the ability of one-digit multiplication calculation operation for cerebral palsy students by applying the use of stick board media. This research uses the Classroom Action Research (PTK) method with an adapted action plan design from the Kemmis and Mc. Taggart model. This research is quantitative-qualitative research with data collection techniques are carried out through observation, interviews, and documentation, then the overall data is processed with qualitative data analysis techniques through the process of data reduction, data presentation and then drawing conclusions. The subjects in this study were 3 spastic type cerebral palsy students with each student having different characteristics of mathematical ability. The results showed that three fifth grade cerebral palsy learners experienced a significant increase in one-digit multiplication calculation skills after the implementation of the use of stick board media, the results of the increase were based on analysis of initial ability observations, observations of each cycle, and reflections as well as data from the evaluation of students' cycle tests. The use of stick board learning media has been proven to help students in improving the ability of one-digit multiplication counting operations. Further research is needed on the use of stick board media at higher levels of multiplication calculation skills than one-digit multiplication calculation skills
Evaluasi Persepsi dan Praktek Para Guru Bahasa Inggris SMAN se Kabupaten Jember Tentang Pembelajar Mandiri
Pembelajar otonomi atau mandiri (PM) masih menjadi topik yang menarik dan tren untuk
praktisi Bahasa Inggris, baik guru atau peneliti. Mempromosikan pembelajar mandiri harus
dimulai lebih awal pada semua tingkatan umur di sekolah atau di rumah. Makalah penelitian
ini melaporkan temuan-temuan tentang bagaimana guru bahasa Inggris sekolah menengah
atas mempersepsi konsep PM dan sejauh mana praktik mengajar bahasa Inggris untuk
mempromosikan PM. Pesertanya adalah 33 guru Bahasa Inggris SMA dan swasta negeri
yang bergabung dengan program MGMP. Data, dikumpulkan melalui kuesioner dan
wawancara, dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Temuan mengungkapkan bahwa
97% peserta setuju atau tidak setuju bahwa studi independen di perpustakaan adalah
kegiatan yang mengembangkan pembelajar mandiri; 94% dari peserta setuju atau sangat
setuju bahwa pembelajar mandiri dipromosikan ketika peserta didik memiliki beberapa
pilihan dalam jenis kegiatan yang mereka lakukan; 88% dari peserta setuju atau sangat
setuju bahwa pelajar bahasa dari segala usia dapat mengembangkan pembelajar mandiri;
82% peserta sering atau selalu melakukan kegiatan untuk mempromosikan pembelajar
mandiri seperti mendorong siswa untuk tidak takut membuat kesalahan dan meminta siswa
untuk melakukan kerja sama dan pembelajaran sebaya jika memungkinkan. Implikasi dari
penelitian ini adalah untuk pengembangan profesional guru dan untuk mempromosikan
pembelajar mandiri di tingkat sekolah menengah atas
- …
