1,721,955 research outputs found
Performance at school and family climate 1966
Achievements at school / family climate / data on social background and family life / development as a young child / opinion on parent-child relationship, especially regarding achievements at school and the stimulation of such achievements / perception of child's development in general / perception of children's playing behaviour, of child's behaviour after school-hours / contact with school / training in independence / patterns of discussion with child / leisure activities. Background variables: household characteristics/ occupation/employment/ education/ readership, mass media, and 'cultural' exposur
Ketoprak Siswo Budoyo
Perkumpulan ketoprak siswo budoyo merupakan perkumpulan ketoprak profesional yang pentasnya diselenggarakan tiap malam, oleh sebab itu cara penyajiannya lain dengan ketoprak amatir yang pentasnya tidak tiap malam, tetapi kadang kala saja. Kebrehasilan pementasan ketoprak siswo budoyo terletak pada penyutradaraan yang baik, tata teknik pentas dan kekompakan para pemain. Setiap pementasan sutradara selalu dipegang oleh bapak Siswo Hs
Tembang Pambuka Kobro Siswo Budi Siswo Sebagai Ide Penciptaan Komposisi Kaeawitan On To Wiryo
Tembang menjadi salah satu bagian penting dalam sebuah sajian pertunjukan Kobro Siswo karena setiap tarian selalu diiringi dengan nyanyian khas yang terdapat pada kesenian itu sendiri. Namun, seiring berjalannya waktu tembang asli pada kesenian Kobro Siswo mulai tergantikan dengan lagu yang sedang populer saat ini, sehingga perlunya perhatian khusus pada tembang tersebut. Ketertarikan penulis pada tembang asli Kobro Siswo menjadi rangsangan awal sebagai ide penciptaan komposisi karawitan. Penulis mendapat sebuah inspirasi untuk menciptakan komposisi karawitan yang berpijak dari tembang pambuka Kobro Siswo Budi Siswo dengan mengusung nilai-nilai yang terkandung didalamnya dan mengembangkan pola musikalnya
Tembang Pambuka Kobro Siswo Budi Siswo Sebagai Ide Penciptaan Komposisi Karawitan "On To Wiryo"
Tembang menjadi salah satu bagian penting dalam sebuah sajian pertunjukan Kobro Siswo karena setiap tarian selalu diiringi dengan nyanyian khas yang terdapat pada kesenian itu sendiri. Namun, Seiring berjalannya waktu tembang asli pada kesenian Kobro Siswo mulai tergantikan dengan lagu yang sedang populer saat ini, sehingga perlunya perhatian khusus pada tembang tersebut. Ketertarikan penulis pada tembang asli Kobro Siswo menjadi rangsangan awal sebagai ide penciptaan komposisi karawitan. Penulis mendapat sebuah inspirasi untuk menciptakan komposisi karawitan yang berpijak dari tembang pambuka Kobro Siswo Budi Siswo dengan mengusung nilai-nilai yang terkandung didalamnya dan mengembangkan pola musikalnya.
Penelitian ini merupakan practice based research dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Tahapan penelitian ini terdiri dari pra garap (observasi, wawancara, studi pustaka, dan diskografi), penggarapan (aransemen, menentukan bagian karya, pemilihan ricikan, penotasian, latihan, dan evaluasi), dan pasca garap melalui penyajian karya komposisi karawitan berjudul ON TO WIRYO. Hasil dari penelitian ini adalah pengembangan tembang Kobro Siswo secara umum yang ditranformasikan ke dalam komposisi karawitan. Komposisi karawitan ON TO WIRYO memberikan warna baru secara wujud karya dan bentuk kontribusi dalam pengembangan tembang Kobro Siswo
Ketoprak Siswo Budoyo
Kesenian ketoprak merupakan kesenian rakyat yang masih muda usianya, akan tetapi sampai sekarang masih digemari oleh sebagian masyarakat. Perkumpulan Ketoprak Siswo Budoyo didirikan tanggal 19 Juni 1958 di Kalangbret Kabupaten Tulungagung, dipimpin Bapak Siswondo HS. Mereka berkeliling dari kota satu pindah ke kota yang lain, dan sangat digemari masyarakat. Berhasilnya pementasan terletak pada cara sutradara mengkoordinir para pemain, tata tehnik pementasan, serta kekompakan anggotanya.
Kata kunci: ketoprak, Siswo Budoy
Pelestarian Kesenian Kubro Siswo Di Desa Ledoklempong Turi Sleman
Tulisan ini mengupas tentang Pelestarian kesenian Kubro Siswo di Desa Ledok Lempong Turi Sleman. Kesenian Kubro Siswo di Desa Ledok Lempong berdiri dan diresmikan pada tahun 1993. Kesenian Kubro Siswo merupakan salah satu jenis kesenian Shalawatan yang diiringi syair Islam. Kesenian Kubro Siswo hadir dalam Upacara Merti Dusun, memperingati hari besar Nasional, dan memperingati hari jadi Kabupaten. Penelitian ini difokuskan pada upaya pelestarian kesenian Kubro Siswo yang dilakukan oleh pemerintah dan pengurus kesenian Kubro Siswo. Pendekatan yang digunakan untuk membedah penelitian ini menggunakan pendekatan konsep sosiologi dan koreografi yang ditulis oleh Y. Sumandiyo Hadi. Konsep sosiologi digunakan untuk membedah keberadaan kesenian Kubro Siswo dalam masyarakat serta hubungan kesenian Kubro Siswo dengan agama Islam. Konsep koreografi digunakan untuk membedah perkembangan bentuk penyajian kesenian Kubro Siswo yang dilestarikan oleh seniman dan pengurus kesenian Kubro Siswo. Pelestarian kesenian Kubro Siswo dilihat dari sisi yang nampak yakni sisi pertunjukan yang terdiri dari penari, gerak, dan busana. Dari sisi yang tidak nampak yakni nilai-nilai agama, pendidikan dan ekonomi. Kesenian Kubro Siswo merupakan kesenian satu-satunya yang dimiliki oleh warga Desa Ledok Lempong dan menjadi icon kesenian pada Desa Ledok Lempong. Masyarakat Desa Ledok Lempong selalu menghadirkan kesenian Kubro Siswo pada setiap upacara adat dan memperingati hari besar agama Islam merupakan upaya dalam melestarikan dan mempertahankan kesenian Kubro Siswo agar tetap dapat dinikmati oleh masyaraka
NILAI ESTETIKA TARI KUBRO SISWO MAGELANG
Penelitian ini berjudul “Nilai Estetika Tari Kubro Siswo Magelang” yang
akan banyak mengeksplorasi kesenian tari Kubro Siswo dengan menggunakan
pendekatan nilai estetika Max Scheler. Tari Kubro Siswo merupakan kesenian
tradisional masyarakat lokal Magelang sekitar candi Mendut yang sudah ada
setengah abad yang lalu. Dengan durasi waktu tersebut, kesenian ini telah
mengalami banyak perubahan dengan banyak mengadaptasi nilai-nilai lokal
kemasyarakatan setempat. Nilai lokal ini, pada akhirnya, mengendap secara
akulturatif dengan kesenian tari Kubro Siswo dalam bentuk, salah satunya, lirik
dan tarian yang dipertontonkan dalam pertunjukan. Di sisi yang lain, kesenian tari
yang akan penulis teliti ini merupakan bagian dari ratusan kesenian yang serupa
yang ada di kabupaten Magelang. Hal tersebut akan menentukan kekhususan
penelitian karena memang kesenian ini memiliki ciri dan karakter tertentu yang
tidak dimiliki oleh kesenian lainnya.
Jenis penelitian ini berbentuk field research (penelitian lapangan) yang
akan banyak berpatokan pada data-data observasi terkait subjek penelitian, yakni
kesenian tari Kubro Siswo. untuk mendapatkan data-data di lapangan, penulis
menggunakan beberapa teknik seperti wawancara, observasi, dan dokumentasi
yang dalam analisnya menggunakan teknik pengolahan data interpretasi,
deskripsi, dan kesinambungan historis. Beberapa teknik dan metodologi di muka
akan penulis narasikan dengan menggunakan teori daripada Max Scheler yang
mana nilai akan dijadikan sebagai tumpuan analisisnya.
Hasil daripada penelitian ini diperoleh bahwa pelaksanaan tari Kubro
Siswo menggunakan beberapa proses seperti latihan, persiapan, dan pertunjukan.
Ketiga latihan ini menjadi tumpuan utama kesenian tari Kubro Siswo saat akan
melakukan sebuah pertunjukan. Adapun nilai-nilai estetikan kesenian tari Kubro
Siswo dalam perspektif Max Scheler menjadi empat tingkatan hierarkis: pertama
nilai kesenangan berupa apresiasi tinggi penonton atas pertunjukan; nilai vitalitas
berarti peka terhadap isu-isu sosial seperti memakmurkan masjid,
menyejahterakan internal, vitalitas tubuh, dan pelestarian kebudayaan; nilai
spiritualitas yang terdiri dari nilai estetis dari sekian komponen music, gerak
tarian, dan kostum, nilai benar-salah dari nilai baik dan luhur kelompok, nilai
pengetahuan murni berupa ungkapan rasa syukur, perilaku baik atas nama agama,
dan peningkatan sisi religiusitas; dan nilai kesucian bersifat universal seperti
dalam persoalan surga-neraka
Students evaluating teaching and study 1968
Relation between students and teachers / evaluation of the organization of the study / perception of the causes of success in study / stimulating versus inhibiting factors. Background variables: basic characteristics/ educatio
Dinamika Seni Pertunjukan Kethoprak Siswo Budoyo Tulungagung Tahun 1958-1999
ABSTRACT Wicaksono, Firman Nur. 2016. Dinamika Seni Pertunjukan Kethoprak Siswo Budoyo Tulungagung Tahun 1958-1999. Skripsi, Program Studi Sejarah. Jurusan Sejarah. Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: Drs. I Wayan Legawa, M.Si.Kata Kunci: dinamika, seni pertunjukan, kethoprak, tulungagung Perubahan jaman membuat generasi muda lebih senang dengan hal-hal luar negeri daripada asli Indonesia, apalagi terhadap budaya tradisional. Masyarakat sekarang lebih menyukai menonton film televisi daripada menonton kethoprak. Terlebih generasi sudah tidak mengerti apa itu kethoprak apalagi memainkannya sehingga membuat kethoprak menjadi hilang.Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui sejarah dan dinamika seni pertunjukan Kethoprak Siswo Budoyo Tulungagung tahun 1958-1999, (2) mengetahui karakteristik seni pertunjukan Kethoprak Siswo Budoyo Tulungagung tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah. Metode penelitian ini terdiri dari (1) pemilihan topik, (2) pengumpulan sumber, (3) verifikasi, (4) interpretasi, (5) penulisan.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terbentuknya Kethoprak Siswo Budoyo pada tahun 1958 dipengaruhi oleh kesenian Wayang Orang. Pertama pentas Kethoprak Siswo Budoyo hanya mengadakan pertunjukan keliling di sekitar desa, semakin lama Kethoprak Siswo Budoyo berkembang hingga keluar kota, bahkan sampai ke daerah-daerah lain Pulau Jawa. Pada masa transisi di dalam tubuh organisasi Kethoprak Siswo Budoyo mulai terjadi suatu kejenuhan. Kurangnya ide-ide baru, dan anggota yang susah diatur, ditambah meninggalnya Ki Siswondho membuat keadaan kethoprak ini mulai surut. Keadaan ekonomi dan perkembangan seni tradisi yang semakin menurun membuat Siswo Budoyo akhirnya diberhentikan. Kethoprak Siswo Budoyo memiliki karakteristik yang berbeda daripada kethoprak yang lain. Kethoprak lain pada umumnya memperbanyak tembang daripada adegan, sedangkan kethoprak Siswo Budoyo lebih memperbanyak adegan daripada tembangnya. Berdasarkan hasil penelitian mengenai dinamika seni pertunjukan Kethoprak Siswo Budoyo Tulungagung 1958-1999, maka dapat dikemukakan saran bagi Pemerintah Kabupaten Tulungagung untuk lebih memperhatikan dan melestarikan potensi kesenian yang ada di Kabupaten Tulungagung. Bagi masyarakat diharapkan berperan serta dalam melestarikan seni pertunjukan Kethoprak Siswo Budoyo di Kabupaten Tulungagung
- …
