8 research outputs found
HUBUNGAN KUALITAS HIDUP LANSIA DENGAN USIA LANSIA DI POSYANDU WILAYAH KERJA PUSKESMAS MANO, KABUPATEN MANGGARAI TIMUR, NUSA TENGGARA TIMUR
Indonesia sebagai salah satu negara yang mempunyai angka harapan hidup yang tinggi, panjangnya harapan hidup masyarakat Indonesia akan menyebabkan peningkatan populasi lanjut usia (lansia) , semakin bertambah tuanya umur akan terjadi penurunan fungsi tubuh yang merupakan salah satu proses penuaan. Proses penuanan merupakan hal yang normal yang tidak bisa dihindari, ini merupakan hal alami yang dialami setiap manusia yang berusia diatas 60 tahun. Harapan setiap lansia, di usia tuanya para lansia tetap bisa hidup bahagia, damai dan bahagia menikmati masa pensiun bersama anak dan cucunya.
Penelitian ini mengunakan desain penelitian deskriptif, penelitian ini mendiskusikan tentang kualitas hidup lansia. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat gambaran kualitas hidup lansia yang dihubungakan dengan personal karakteristik lansia (Usia).
Populasi dalam penelitian ini berjumlah 100 lansia, dari posyandu wilayah kerja puskesmas Mano. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner yang terdiri dari 8 dimensi kualitas hidup lansia. Penelitian ini menggunakan uji statistik ANOVA.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan sebagaian besar domain kualitas hidup lansia tidak ada hubungan yang bermakna dengan karakteri usia lansia tapi ada dua domain yang berdasarkan hasil analisa statistik ada hubungan yang bermakna antara domain kesehatan dan domain kemandirian, pengendalian hidup dan kebeasan dengan usia lansia. Kata kunci: Kualitas Hidup, Lansia, Puskesmas Man
The Correlation of Food and Physical Activity with Diabetes Incidence Among Older-Adult
Introduction: Diabetes in older adults is associated with higher mortality, reduced functional status, and increased risk of institutionalization. Older adult with Diabetes type 2 additionally have high risk for both intense and constant microvascular and cardiovascular disease. The purpose of this study is to analyze the correlation of food and physical activity with diabetes incidence among older adults in Pasir Panjang public health community, Kupang. Methods: The research used observational analytic design with cross-sectional approach. The sampling technique taken was convenience sampling. The samples were 120 respondents. To analyze food and physical activity with DM incidence, the researchers used a statistical chi square. To measure activity, the instrument used was the Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) from the WHO and to measure food it used the Indonesian Family Life Survey (IFLS) from Indonesia’s health ministry. Results: This study showed that there was a correlation between food and type 2 DM incidence for the older adults in Pasir Panjang public health community Kupang (p = 0.008 0.05). Conclusion: Nurses need to create suitable health education regarding food consumed for older adult with type 2 diabetes, and involve their family to support patients to consume the diet
Contraceptive Use in East Timorese Ex-Refugee Women in Indonesia: Determinants and Barriers
Background: Poor access to contraceptive services is a global health problem, especially in the marginal community order. Refugee camps and areas with weak community order are the groups with the lowest prevalence of contraceptive use. This study aimed to determine the factors affecting contraceptive use in East Timorese ex-refugee women.Subjects and Method: This was a cross-sectional study conducted at 3 ex-refugee settlements in Noelbaki village, Kupang, East Nusa Tenggara, Indonesia, from April to May 2019. A total of 76 women of reproductive age were selected by fixed disease sampling. The dependent variable was contraceptive use. The independent variables were education, family income, accessibility, and sociocultural. The data were collected by a set of questionnaire and analyzed by a multiple logistic regression.Results: The likelihood of contraceptive use increased with high education (OR= 7.05; 95% CI= 1.16 to 42.76; p= 0.034), family income (OR= 9.36; 95% CI= 0.88 to 99.01; p= 0.063), good accessibility (OR= 27.53; 95% CI= 2.62 to 288.88; p=0.006), and supportive sociocultural (OR= 14.15; 95% CI= 2.14 to 83.63; p= 0.006).Conclusion: The likelihood of contraceptive use increases with high education, high family income, good accessibility, and supportive socioculturalKeywords: contraceptive, reproductive age, ex-refugee womenCorrespondence: Maria Paula Marla Nahak. Nursing Study Program, Universitas Citra Bangsa, Kupang, East Nusa Tenggara, Indonesia. Email: marlanahak[email protected]. Mobile: +6282328282282.Journal of Maternal and Child Health (2020), 05(04): 365-375https://doi.org/10.26911/thejmch.2020.05.04.0
Edukasi Menu Dashyat (Dapur Sehat Atasi Stunting) dan Keterlibatan Mahasiswa Penting (Peduli Stunting) di Desa Dimpong
ABSTRAK Stunting merupakan masalah gizi utama yang sering terjadi dengan angka kejadian global sekitar 22,9%. Provinsi dengan angka stunting tertinggi di Indonesia adalah Nusa Tenggara Timur, dengan jumlah 269.658 (42,7%) anak stunting dari 633.000 total anak di bawah 5 tahun. Angka stunting di Nusa Tenggara Timur mengalami penurunan dari 50,2% pada tahun 2013. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menberikan penyuluhan tentang makanan sehat untuk atasi stunting serta keterlibatan mahasiswa dalam mencegah stunting Kegiatan pengabdian ini dilakukan di desa Dimpong, Kegiatan ini dibagi dalam beberapa bagian, yang pertama akan dilakukan Fokus Group Discusion (FGD) Bersama Masyarakat dan perangkat desa serta melibatkan pihak puskesmas, mengajarkan memasak makanan menu DASHYAT, monitoring evaluasi Bersama masyarakat. Adapun hasil dari kegiatan ini serta masyarakat dan mendapatkan hasil, Jumlah anak stunting berkurang 9 dari total 20 menjadi 11 orang. 80 % catin, ibu hamil dan ibu balita mengerti tentang gizi seimbang dalam 1000 hari kehidupan, 100% anak stunting berhasil dilakukan pengukuran ulang, 80% ibu dengan anak stunting serta kader antusias mengikuti kegiatan demo menu dasyat. Semua anak stunting menyukai menu dasyat yang disiapkan oleh mahasiswa. Kegiatan ini mendapatkan antusias dari perangkat Desa, serta masyarakat dan mendapatkan hasil, Jumlah anak stunting berkurang 9 dari total 20 menjadi 11 orang. Kata Kunci: Stunting, Penting, Dashyat ABSTRACT Stunting is a major nutritional problem that often occurs with a global incidence rate of around 22.9%. The province with the highest stunting rate in Indonesia is East Nusa Tenggara, with a total of 269,658 (42.7%) stunted children out of a total of 633,000 children under 5 years old. The stunting rate in East Nusa Tenggara has decreased from 50.2% in 2013. The purpose of this activity is to provide counseling on healthy food to overcome stunting and student involvement in preventing stunting. This service activity is carried out in Dimpong village, This activity is divided into several parts, the first will be carried out a Focus Group Discussion (FGD) with the community and village officials and involving the health center, teaching cooking DASHYAT menu food, monitoring the evaluation with the community. As for the results of this activity as well as the community and getting the results, the number of stunted children decreased by 9 from a total of 20 to 11 people. 80% of pregnant women and mothers of toddlers understood about balanced nutrition in 1000 days of life, 100% of stunted children were successfully re-measured, 80% of mothers with stunted children and cadres were enthusiastic about participating in the Dasyat menu demonstration activity. All stunted children love the great menu prepared by students. This activity received enthusiasm from the village apparatus, as well as the community and obtained results, the number of stunted children decreased by 9 from a total of 20 to 11 people. Keywords: Stunting, Penting, Dashya
Pengetahuan dan Perilaku Diet Purin dengan Kadar Asam Urat pada Masyarakat Dewasa
This research aims to determine the relationship between knowledge and behavior of purine diets and uric acid levels in adults in Ranging Hamlet, North Satarmese District. The method used is quantitative research with a cross sectional design. The research results showed that the majority of respondents\u27 age distribution was 20-49 years, namely 48.8%, female gender was 56.1%, BMI status was normal 78.0% and knowledge about the purine diet was in the poor category 56.9%, negative behavior regarding the purine diet, it was 58.5% and most of the respondents\u27 uric acid levels were in the high category, namely 56.9%. The results of statistical analysis show that there is a significant relationship between knowledge and behavior about the purine diet and uric acid levels in adults in Ranging Hamlet, North Satarmese District (p=0.000). The better the level of public knowledge and behavior regarding the purine diet, the more it can prevent an increase in uric acid levels in the body.
Keywords: Uric acid, Purine Diet, Knowledge, Purine Diet Behavio
ANALISIS PERBEDAAN PERSEPSI PASIEN HIPERTENSI TENTANG PENGGUNAAN OBAT ANTIHIPERTENSI PADA LANSIA
Hipertensi masih menjadi tantangan besar permasalahan kesehatan di Indonesia, di mana penyakit ini masih sering ditemukan pada pelayanan kesehatan primer. . Saat ini penggunaan obat antihipertensi sebagai terapi pengendalian tekanan darah pada penderita hipertensi belum terlaksana secara optimal. Pada kenyataannya, obat antihipertensi belum digunakan oleh semua pasien penderita hipertensi. Menurut data Riskesdas (2018), di provinsi NTT terdapat beberapa alasan pasien tidak menggunakan obat antihipertensi adalah ketidakterjangkauan pasien terhadap akses mendapatkan obat dan pasien lebih memilih untuk menggunakan obat tradisional (terapi komplementer). Tujuan penelitian ini adalah menganalisa perbedaan persepsi penggunaan antihipertensi berdasarkan kelompok umur lansia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan tingkat pengetahuan. Metode penelitan yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode kuantitatif dengan pendekatan uji komparatif menggunakan analisa statistik sign test . Sampel dalam penelitian sejumlah 50 orang lansia denga teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini terdapat perbedaan signifikan antara persepsi penggunaan antihipertensi berdasarkan karakteristik variabel kelompok umur 0.000 (Ï<0.05), jenis kelamin 0.011 (Ï<0.05), tingkat pendidikan 0.000 (Ï<0.05), tingkat pendidikan (Ï<0.05) dan tingkat pengetahuan 0.000 (Ï<0.05)
EDUKASI SADARI SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN KANKER PAYUDARA PADA KELOMPOK KHUSUS: SEBUAH TINDAK LANJUT HASIL RISET
Semua kalangan masyarakat memiliki hal yang sama untuk mendapatkan tambahan pengetahuan, demikian pula kaum biarawati yang merupakan sekelompok perempuan yang memilih untuk menjalani kehidupannya didalam biara. Pengetahuan yang baik tentang proses terjadinya kanker sangat penting diketahui termasuk oleh golongan nulliparitas karena juga memiliki resiko mengalami kanker payudara. Hasil penelitian sebelumnya tentang pemahaman para biarawati tentang kanker payudara, menyebutkan bahwa salah satu masalah yang di hadapi para biarawati adalah kurangnya pengetahuan akan masalah reproduksi khususnya kanker payudara. Mereka sangat membutuhkan sosialisasi tentang kanker payudara karena selama ini mereka beranggapan bahwa kondisi mereka yang tidak kawin dan memiliki anak tidak beresiko terkena kanker payudara. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan edukasi dan pelatihan kepada para biarawati dalam kelompok kecil untuk menjadi kader promosi kesehatan payudara kepada komunitas-komunitas lainnya terutama pada komunitas biara lain. Sebanyak 20 orang biarawati terlibat dalam kegiatan ini. Metode kegiatan berupa ceramah, diskusi, melakukan demonstrasi pemeriksaan payudara sendiri dan tahap evaluasi. Metode sharing pengetahuan yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini menunjukkan peningkatan pengetahuan para biarawati dalam kategori tinggi sebesar 73,6%, sehingga kegiatan ini berdampak pada perubahan pola pikir dan perilaku para biarawati dalam menjaga kesehatan reproduksi</jats:p
Live experience of people with diabetes mellitus on selfmanagement during COVID-19 in remote area of Indonesia
Introduction: People with Diabetes Mellitus (DM) are vulnerable to COVID-19. Therefore, it’s important to maintain good self-management (diet, exercise, medicine, and health care visitations) during pandemics. Unfortunately, during the COVID-19 pandemic, it’s difficult for them to maintain adequate self-management. Therefore, this study aimed to explore the self-management of people with DM during the pandemic, especially in a remote area of Indonesia
