48 research outputs found
THE CIVIC ENGAGEMENT AND RELIGIOUS HOSPITALITY IN OPEN DAG PPME AL IKHLASH AMSTERDAM
This article describes and analyses the Open dag event held by PPME Al Ikhlas Amsterdam. It is an annual event and a form of religious hospitality in which the members of PPME Al Ikhlas Amsterdam warmly welcome the guests or strangers. This study uses a perspective of hospitality from either scriptural or theoretical basis. In terms of scripture, religious hospitality is highly commended by Islamic and Christian scriptures. While in terms of theoretical perspective, there are many scholars who discussed the theme based on various approaches; theology, sociology, ethics. I found that Open Dag allows people from various backgrounds to meet in person and to become aquianted with the existence of PPME Al Ikhlas Amsterdam. The civic engagement which is gained through religious hospitality practiced by PPME Al Ikhlas Amsterdam leads to peace building among communitie
ABDURRAHMAN WAHID’S CONCEPT OF NON-VIOLENT APPROACH TO BUILDING PEACE
Abdurrahman Wahid is a prominent moslem scholar in Indonesia and Indonesia’s fourth president (and the first president voted by people’s representative council). He was born from traditionalist muslim family. His grand father is Hasyim Asy’ary, the founder of Nahdlatul Ulama’, the biggest islamic organization in theworld with 25 million member. His father, Wahid Hasyim, is the first minister of religious affairs. He was also the chairman of Nahdlatul Ulama’ for several periods.His contribution to create peace is countless. He is well known as the father of pluralism in Indonesia. After his death, many people started to fund organizations learning about his thoughts of pluralism, culture and religion, protecting minorities, respecting diversities, creating peace, etc.This article is attempting to explain his non-violance approach to create peace, in the case of terrorism prefention. Firstly, the writer define the term terrorism in general and Abdurrahman Wahid’s version. Secondly, it is explained three backgrounds of the emergence of terrorism; (1). the feeling of inferiority (2). Superficial understanding towards religion (3) the weak system of Indonesia government. And the third is the solution of those three causes; (1). Dialogue (2). Islamic Education (3). Improving the system of the government.</jats:p
Javanese Abangan World Viewand Practices in Imogiri Cemetery Yogyakarta
Penelitian ini fokus pada isu bagaimana “pandangan hidup” dan juga praktek Jawa abangan di makam Imogiri. Terdapat 3 isu utama yang didiskusikan, yaitu (1) konteks istilah abangan untuk masyarakat Jawa saat ini, (2) para abdi dalem, peziarah dan pengunjung yang dikategorikan sebagai praktisi abangan, dan (3) “pandangan hidup” Jawa abangan dalam memahami praktek ritual mereka di makam Imogiri. Penelitian ini menggunakan metode etnography dalam pengumpulan data di lapangan. Sedangkan proses analisisnya menggunakan teori Clifford Geertz (1976), Andrew Beatty (2004), Robert Hefner (1987) M. C. Recklefs (2007), Koentjaraningrat (1985), Neils Mulder (1983) Robert Wessing (2006), dan Irving Hallowell (1960). Dengan menggunakan pendekatan deskriptif interpretatif, penelitian ini menyimpulkan 3 hal: (1) Saat ini, istilah abangan oleh Geertz dan Ricklefs sudah tidak relevan. Berdasarkan fenomena para peziarah dan pengunjung makam Imogiri bahwa banyak santri, priyayi dan non-muslim juga mempraktekkan ritual dan upacara abangan. Fenomena ini menolak definisi Geertz yang mengklaim bahwa abangan hanyalah kelompok petani dan masyarakat Jawa desa (Geertz, 1960:4-5), point ini pun sekaligus membantah pernyataan Ricklefs yang menyatakan bahwa abangan adalah kelompok Muslim yang tidak menerapkan ajaran-ajaran Islam (Ricklefs, 2007:84). Ditambah lagi, pengelompokan antara santri, abangan dan priyayi saat ini bersifat lebih relatif. (2) Beberapa ritual dan upacara di makam Imogiri sebagian besar berhubungan dengan semua kategori yang masuk dalam istilah abangan yang sampai saat ini masih eksis. (3) “Pandangan hidup” Jawa abangan dalam praktek ritual dan upacara di makam Imogiri merupakan bentuk usaha untuk melestarikan dan mempertahankan hubungan antara manusia dan bukan manusia
IMPLEMENTASI FUZZY INFRENCE SYSTEM METODE MAMDANI MOM ( MEAN OF MAXIMUM METHOD ) UNTUK KLASIFIKASI KELOMPOK BELAJAR SISWA BARU ( STUDI KASUS : MTs N 2 LAMONGAN )
Setiap tahun ajaran baru MTs N 2 Lamongan mengadakan penerimaan siswa baru. Kegiatan ini menimbulkan masalah dalam mengelompokkan kelompok belajar siswa yang sesuai dengan kemampuan mereka. Keputusan dalam mengelompokkan kelompok belajar harus segera ditangani. Salah satu dengan aplikasi logika fuzzy yaitu sistem inferensi fuzzy mamdani.
Sistem inferensi fuzzy mamdani membutuhkan empat tahapan untuk memperoleh suatu output, yaitu pembentukan himpunan fuzzy, pembentukan relasi, aplikasi fungsi implikasi dan inferensi aturan serta defuzifikasi. Tulisan ini membangun sistem inferensi fuzzy mamdani dalam menentukan kelompok belajar siswa baru di MTs N 2 Lamongan. Variabel inputnya adalah nilai Bahasa Indonesia, nilai matematika, nilai IPA, dan nilai tes. Variabel outputnya adalah kelas rendah, kelas sedang, dan kelas tinggi.
Dari percobaan yang dilakukan terhadap data siswa kelas VII tahun ajaran 2015/2016 yang telah diproses pada sistem inferensi fuzzy setelah data-data nilai siswa dimasukkan. hasilnya dapat memberikan sebuah klasifikasi kelompok belajar siswa baru yang sesuai dengan kempampuan siswa
JAVANESE ABANGAN WORLD VIEW AND PRACTICES IN IMOGIRI CEMETERY YOGYAKARTA
Penelitian ini fokus pada isu bagaimana “pandangan hidup†dan juga praktek Jawa abangan di makam Imogiri. Terdapat 3 isu utama yang didiskusikan, yaitu (1) konteks istilah abangan untuk masyarakat Jawa saat ini, (2) para abdidalem, peziarah dan pengunjung yang dikategorikan sebagai praktisi abangan, dan (3) “pandangan hidup†Jawa abangan dalam memahami praktek ritual mereka di makam Imogiri. Penelitian ini menggunakan metode etnography dalam pengumpulan data di lapangan. Sedangkan proses analisisnya menggunakan teori Clifford Geertz (1976), Andrew Beatty (2004), Robert Hefner (1987) M. C. Recklefs (2007), Koentjaraningrat (1985), Neils Mulder (1983) Robert Wessing (2006), dan Irving Hallowell (1960). Dengan menggunakan pendekatan deskriptif interpretatif, penelitian ini menyimpulkan 3 hal: (1) Saat ini, istilah abangan oleh Geertz dan Ricklefs sudah tidak relevan. Berdasarkan fenomena para peziarah dan pengunjung makam Imogiri bahwa banyak santri, priyayi dan non-muslim juga mempraktekkan ritual dan upacara abangan. Fenomena ini menolak definisi Geertz yang mengklaim bahwa abangan hanyalah kelompok petani dan masyarakat Jawa desa (Geertz, 1960:4-5), point ini pun sekaligus membantah pernyataan Ricklefs yang menyatakan bahwa abangan adalah kelompok Muslim yang tidak menerapkan ajaran-ajaran Islam (Ricklefs, 2007:84). Ditambah lagi, pengelompokan antara santri, abangan dan priyayi saat ini bersifat lebih relatif. (2) Beberapa ritual dan upacara di makam Imogiri sebagian besar berhubungan dengan semua kategori yang masuk dalam istilah abangan yang sampai saat ini masih eksis. (3) “Pandangan hidup†Jawa abangan dalam praktek ritual dan upacara di makam Imogiri merupakan bentuk usaha untuk melestarikan dan mempertahankan hubungan antara manusia dan bukan manusia
The Critical Analysis of Competence Development of Head of State Madrasah
The existence and contribution of Madrasas to Education In Indonesia there is no doubt, Madrasas are one of the concerns of Muslims for the importance of developing quality human resources through Islamic-based education. That the conditions of learning and management in Madrasahs still need monitoring, guidance and assistance in implementing national education standards. This needs to be done because people still doubt the quality of their learning. Madrasah principals must continue to improve their competence in order to carry out their duties and functions both academically and managerially in madrasas through regular and continuous professional development activities. In this research method using descriptive qualitative research methods, the purpose of this study is to determine the extent to which school principals in the Madrasah environment of the Jakarta area office with critical analysis because there are still many assumptions about the community that madrasas are often considered. Educational institutions whose quality is below other public schools. Therefore, madrasas still cannot be used as the main choice in learning
Penerapan marketing syari’ah dalam meningkatkan minat nasabah menggunakan produk Saja’ah di BMT (Baitul Māl wat Tamwīl) Mitra Hasanah Semarang
Permasalahan yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah :(1)Bagaimana penerapan marketing syari’ah dalam meningkatkan minat nasabah. (2) Bagaimana strategi marketing syari’ah yang efektif dan efisien dalam meningkatkan minat nasabah menggunakan produk sajaah yang ada di BMT Mitra Hasanah Semarang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) Cara penerapan marketing syari’ah yang tepat dalam meningkatkan minat nasabah menggunakan produk saja’ah yang ada di BMT Mitra Hasanah. (2) Strategi yang tepat untuk menarik minat nasabah secara umum menggunakan produk saja’ah yang ada di BMT Mitra Hasanah.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang menggunakan analisis deskriptis, yaitu mendeskripsikan data-data yang peneliti kumpulkan baik dari hasil wawancara, observasi maupun dokumentasi, selama mengadakan penelitian di BMT Mitra Hasanah Semarang tentang Analisis Penerapan Marketing Syari’ah Dalam Meningkatkan Minat Nasabah Menggunakan Produk Saja’ah Di Bmt (Baitul Mal Wat Tamwil) Mitra Hasanah.
Hasil penelitian menunjukkan pertama, bahwa penerapan marketing syari’ah sangat mempengaruhi meningkatnya minat nasabah menggunakan produk yang ada di BMT Mitra Hasanah dan di BMT maupun bank syari’ah yang lainnya. Kedua,bahwa penerapan marketing syari’ah tidak akan maksimal tanpa adanya stategi khusus yang ada di BMT tersebut, dan strategi yang digunakan harus syar’iah tidak boleh keluar dari prinsip-prinsip dasar marketing syari’ah
Tinjauan Fenomenologi terhadap Pernikahan Lintas Iman di Dusun Kalibago Desa Kalipang Kecamatan Grogol Kabupaten Kediri
Abstract
This research tries to describe a phenomenon of interreligious marriage in Kalibago-Kalipang village-Grogol district-Kediri regency. using phenomenology method this project is conducted. This papers is arraged Basend on observation and interview more or less 7 days among several Muslim, Chatolic and Hindus people in there. Finally, the conclution of this research is finding the interesting phenomenon that the harmony relation among some religions while interreligion marriage happen in there. Interreligious marriage does note become a problem and source of conflict. In fact, peope of Kalibago can built an harmony culture on the plurality of religion.
Key Words: Interreligious marriage, harmony, culture and tolerance
NAGHAM BAYATI SEBAGAI ALTERNATIF MODEL PEMBELAJARAN QUR’AN HADIS DI MADRASAH KELAS DASAR
ABSTRAK Nagham bayati merupakan salah satu dari konstruksi model pelantunan lagu dalam membaca al-Qur’an. Membaca al-Qur’an selain harus menggunakan tajwid sebagai kaidah membaca(fardlu ‘ain), juga dianjurkan memperindahnya dengan lagu atau nagham(sunnah). Tajwid dan nagham bayati adalah dua fakta bunyi lisan yang mampu menuangkan dan menumbuhkan rasa hingga mampu menggetarkan hati agartermotivasi untuk mempelajari, menghayati dan meresapi isi kandungan al-Qur’an. Penelitian ini mengajukan dua pertanyaan, pertama; Apakah yang dimaksud dengan nagham bayati dalam kaidah tilawah al-Qur’an?Kedua; Bagaimana implementasi nagham bayati dalam pembelajaran Qur’an Hadis? Pertanyaan tersebut menjadi pijakan dasar mengapa penelitian ini dilakukan. Hipotesa yang diajukan adalah bagaimana guru dalam mengimplementasikan nagham bayati dalam materi pembelajaran Qur’an Hadis dan pengaruh dari penerapan nagham bayati terhadap motivasi siswa dalam proses pembelajaran Qur’an Hadis. Data yang digunakan yakni data kualitatif dan audio.Data kualitatif diperoleh dari wawancara, observasi, dan peninjauan pustaka. Data audio diperoleh melalui proses perekaman. Analisis data dipaparkan secara deskriptif analisis. Sedangkan aktivitas analisis implementasi nagham bayati dikaitkan dengan proses pengolahan material pokok lagu yang menyertainya. Hasil penelitian yang diperoleh, nagham bayati adalah deretan irama atau lagu dalam tilawah al-Qur’an yang paling luas interval nadanya dan merupakan lagu induk dari ketujuh lagu pokok dalam tilawah al-Qur’an. Implementasi nagham bayati mampu meningkatkan motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran Qur’an Hadis di Madrasah.Kata Kunci: Nagham Bayati – Alternatif – Pembelajaran Qur’an Hadis ABSTRACT Nagham bayati is one of the constructs of the song singing model in reading the al-Qur'an. Reading al-Qur'an besides having to use tajwid as a reading rule (fardlu 'ain), it is also recommended to beautify it with songs or nagham (sunnah). Tajweed and nagham bayati are two facts of oral sounds that are capable of pouring out and cultivating a taste to be able to thrill the heart in order to be motivated to learn, appreciate and absorb the contents of the Qur'an. This study asks two questions, first; What is meant by nagham bayati in the rules of recitation of al-Qur'an? Second; How is the implementation of nagham bayati in learning the Qur'anic Hadith? This question becomes the basic basis for why this research was conducted. The hypothesis proposed is how the teacher implements nagham bayati in the Qur'anic Hadith learning material and the influence of the application of nagham bayati on student motivation in the learning process of the Qur'anic Hadith. The data used were qualitative and audio data. Qualitative data were obtained from interviews, observations, and literature reviews. Audio data is obtained through the recording process. The data analysis was presented descriptively. Meanwhile, the analysis of the implementation of Nagham Bayati is related to the processing of the main material for the accompanying songs. The result of this research shows that nagham bayati is a series of rhythms or songs in the recitations of the Qur'an with the widest range of notes and is the main song of the seven main songs in the recitation of the Qur'an. The implementation of nagham bayati can increase students' motivation in participating in the learning process of the Qur'anic Hadith in Madrasah. Keywords: Nagham Bayati - Alternative - Learning the Qur'an, Hadit
MEMAHAMI TRADISI SPIRITUALITAS PESANTREN (SEBUAH ANALISIS SOSIO-HISTORIS TERHADAP SPIRITUALITAS PESANTREN
This project involves discovering how the spiritually tradition is exist in the pesantren in Indonesia. The goal of this research proves the phenomenon that pesantren and spirituality tradition are strongly linked and connected between each other. Several spiritualities in pesantren are; thoriqoh, tirakat, ijazahan, and others. This article is arranged based on library research and comparing several references by some books, articles and jurnals. Furthermore this research also takes some of experiences of some people who ever study, live, and experience the pesantren tradition in Indonesia (especially in Java). In conclusion, this acticle tries to explore
the argumentation historically and socially that Pesantren and spiritualism have strong correlation from the beginning of Islamic spreading in Indonesia.
Key word: Pesantren, spiritualism, tarika
